Analisis Perbedaan Jumlah Nyamuk Aedes sp. yang Terperangkap pada Ovitrap Standar dan Ovitrap Bambu

Penulis

  • Askrening Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Kendari, Indonesia
  • Reni Yunus Jurusan Analis Kesehatan, Poltekkes Kemenkes Kendari, Indonesia https://orcid.org/0000-0001-7907-0746
  • Susilawati Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes Pontianak, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.36990/hijp.vi.149

Kata Kunci:

Aedes sp., Bambu, Nyamuk, Perangkap telur

Abstrak

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang terjadi akibat infeksi virus dengue, yang dibawa oleh vektor Aedes sp. Kota Kendari merupakan salah satu daerah endemis DBD di Provinsi Sulawesi tenggara. Beberapa program pengendalian Aedes sp. sejauh ini kurang berhasil, karena lebih menekankan pada pengasapan untuk nyamuk dewasa. Terdapat metode pengendalian Aedes sp. tanpa insekstisida yang sejauh ini berhasil menurunkan densitas vektor dibeberapa negara yaitu penggunaan perangkap telur (ovitrap). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah telur yang terperangkap dalam perangkap telur standar dan perangkap telur bambu. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode cross-sectional.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p-value 0,6168 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan antara telur nyamuk yang terperangkap pada perangkap telur standar dan perangkap telur bambu.

Referensi

Barrera, R., MacKay, A. J., & Amador, M. (2013). A novel autocidal ovitrap for the surveillance and control of aedes aegypti. Journal of the American Mosquito Control Association, 29(3), 293–296. https://doi.org/10.2987/13-6345R.1

Beech, C. J., Nagaraju, Vasan, S. ., Rose, R. I., Othman, R. Y., Pillai, V., & Saraswathy, T. . (2009). Risk analysis of a hypothetical open field release of a self-limiting transgenic Aedes aegypti mosquito strain to combat dengue. Asia Pacific Journal of Molecular Biology and Biotechnology, 17(3), 99–111.

Boewono, Barodji, D., Ristiyanto, S., Widyastuti, W., Traspsilowati, U., Blondine, W., Suskamdani, C., Errytrina, A., Zuraidah, K., & Soenarto, N. (2006). Studi komprehensif penanggulangan dan analisis spatial transmisi demam berdarah dengue di wilayah kota Salatiga. Prosiding Seminar Sehari “Strategi Pengendalian Vektor Dan Reservoir Pada Kedaruratan Bencana Alam Di Era Desentralisasi", 98–115.

de Resende, M. C., Silva, I. M., Ellis, B. R., & Eiras, Á. E. (2013). A comparison of larval, ovitrap and MosquiTRAP surveillance for Aedes (Stegomyia) aegypti. Memorias Do Instituto Oswaldo Cruz, 108(8), 1024–1030. https://doi.org/10.1590/0074-0276130128

Indonesia, K. (2018). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017.

Mackay, A. ., Amador, M., & Barrera, R. (2013). An improved autocidal gravid ovitrap for the control and surveillance of Aedes aegypti. Parasites Vector, 6(225). https://doi.org/https://doi.org/10.1186/1756-3305-6-225

Mumpuni, Y., & Lestari, W. (2015). Cekal (cegah & tangkal) sampai tuntas demam berdarah (A. Sahala (ed.)). Rapha Publishing.

Nadhiroh, S. A., Cahyati, W. H., & Siwiendrayanti, A. (2018). Perbandingan Modifikasi Ovitrap Tempurung Kelapa dan Ovitrap Standar dalam Memerangkap Telur Aedes sp. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 2(1), 137–148.

Norzahira, R., Hidayatulfathi, O., Wong, H. M., Cheryl, A., Chew, H. S., Lim, K. W., Sing, K. W., Nazni, W. A., Lee, H. L., Mckemey, A., & Lacroix, R. (2011). Ovitrap surveillance of the dengue vectors, Aedes (Stegomyia) aegypti (L.) and Aedes (Stegomyia) albopictus Skuse in selected areas in Bentong, Pahang, Malaysia. Tropical Biomedicine, 28(1), 48–54.

Polson, K. A., Curtis, C., Moh Seng, C., Olson, J. G., Chantha, N., & Rawlins, S. C. (2002). The Use of Ovitraps Baited with Hay Infusion as a Surveillance Tool for Aedes aegypti Mosquitoes in Cambodia. Dengue Bulletin, 26, 178–184.

Rozilawati, H., Tanaselvi, K., Nazni, W. ., Mohd Masri, S., Zairi, J., Adanan, C. ., & Lee, H. . (2015). Surveillance of Aedes albopictus Skuse breeding preference in selected dengue outbreak localities, peninsular Malaysia. Tropical Biomedicine, 32(1), 49–64.

Satoto, T. B. T., Alvira, N., Wibawa, T., & Diptyanusa, A. (2017). Controlling factors that potentially against transmission of dengue hemorrhagic fever at state elementary schools in Yogyakarta. Kesmas: National Public Health, 11(4), 178–184. https://doi.org/10.21109/kesmas.v11i4.1248

Soedarto. (2012). Demam Berdarah Dengue. Sagung Seto.

Syarifah, N., Rusmatini, T., Djatie, T., & Huda, F. (2008). Ovitrap Ratio of Aedes aegypti Larvae collected inside and outside Houses in a Community Survey to Prevent Dengue Outbreak, Bandung, Indonesia, 2007. The 3rd ASEAN Congress of Tropical Medicine and Parasitology. Parasites: A Hidden Threat to Global Health, 116–120.

Teng, T. B. (2001). New Initiatives in Dengue Control in Singapore. Dengue Bulletin, 25, 1–6.

WHO. (2004). Pencegahan dan pengendalian dengue dan demam berdarah. EGC.

Wijayanti, S. P. M., Anandari, D., & Maghfiroh, A. F. A. (2017). Pengukuran ovitrap index (OI) sebagai gambaran kepadatan nyamuk di daerah endemis demam berdarah dengue (DBD) kabupaten Banyumas. Jurnal Kesmas Indonesia, 9(1), 56–63.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2020-06-30 — Diperbaharui pada 2021-04-13

Versi

Cara Mengutip

Askrening, Yunus, R., & Susilawati. (2021). Analisis Perbedaan Jumlah Nyamuk Aedes sp. yang Terperangkap pada Ovitrap Standar dan Ovitrap Bambu. Health Information : Jurnal Penelitian, 12(1), 1–7. https://doi.org/10.36990/hijp.vi.149 (Original work published 30 Juni 2020)

Terbitan

Bagian

Artikel