PEMBERDAYAAN KELUARGA DAN KADER POSYANDU MELALUI KIE TENTANG PIJAT OKSITOSIN DAN PENANGANAN MASALAH MENYUSUI DI DESA ATOWATU KECAMATAN SOROPIA

Nurmiaty1, Aswita1,Hesti Wulandari1

1Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Kendari, Indoensia

(Korespondensi Penulis E-mail: nurmiaty1908@gmail.com)

PENDAHULUAN

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mendukung gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Presiden (PP) mengenai Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi, dan bentuk dukung tersebut adalah program pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif pada bayi umur 0-6 bulan yang aturan pelaksanaannya diatur dalam Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Pasal 128, 129, dan PP No. 33 Tahun 2012 yang menyatakan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan ASI eksklusif (Kementerian Kesehatan, 2012).

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012, secara nasional bayi umur 0-6 bulan yang mendapat ASI eksklusif adalah 61.1%, sedangkan bayi berusia 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif 38.5%, dan di propinsi Sulawesi Tenggara, pemberian ASI eksklusif adalah 32.45% (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional et al., 2013). Rendahnya cakupan pemberian ASI akan mempengaruhi pertumbuhan anak yang ditandai dengan berat badan dan panjang badan di bawah standar dan kerentanan terhadap infeksi. Juga masalah gangguan pertumbuhan (growth faltering) dapat dialami hampir semua anak sejak umur 2-6 bulan. Hasil penelitian di beberapa negara berkembang menemukan bahwa yang menjadi penyebab utama kekurangan gizi dan keterlambatan pertumbuhan yang dialami bayi berumur 3-15 bulan adalah rendahnya pemberian ASI dan buruknya pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) (Shrimpton et al., 2001).

Faktor lingkungan yang berperan dalam pertumbuhan bayi salah satunya adalah asupan gizi. Ibu berperan penting dalam pemberian asupan gizi melalui proses menyusui. Menurut Soetjiningsih & Gde Ranuh (2014), menyusui merupakan suatu periode ekstragestasi, yang mana payudara ibu diumpamakan sebagai 'plasenta eksternal' yang memberikan asupan gizi bagi bayi. Hal ini menyerupai keadaan bayi di dalam rahim yang mana plasenta berfungsi sebagai media untuk menghantarkan makanan dari ibu ke janin. ASI memiliki kandungan zat kekebalan tubuh yang mampu melindungi bayi dari penyakit gastrointestinal, otitis media, infeksi saluran pernapasan, neonatal necrotizing enterocolitis, dan selain itu, proses menyusui dapat mencegah kanker payudara dan ovarium (Allen & Hector, 2005). Hak seorang anak yang salah satunya mendapatkan ASI agar dapat melewati fase tumbuh kembang secara optimal. Olehnya itu, tenaga kesehatan dan keluarga senantiasa harus mendukung ibu agar dapat menyusui bayinya, baik secara langsung maupun tidak langsung utamanya saat masa pandemi.

Agar para ibu yang baru melahirkan dapat berhasil menyusui, maka diperlukan bantuan moril berupa dukungan dari keluarga, kader Posyandu dan tenaga kesehatan. Melibatkan suami dalam pemberian ASI dapat melalui pelaksanaan pijat oksitosin.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan peran keluarga dan kader Posyandu dalam pelaksanaan pijat oksitosin dan penanganan masalah menyusui di Desa Atowatu, Kecamatan Soropia.

METODE

Pengabdian masyarakat (Pengabmas) dilaksanakan pada bulan November tahun 2020, dan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu tanggal 5 dan 10 November 2020, di Desa Atowatu, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Penetapan wilayah kegiatan Pengabmas berdasarkan pada visi dan misi Poltekkes Kemenkes Kedari yang berwawasan kemaritiman, dan Kecamatan Soropia merupakan salah satu Desa binaan Poltekkes Kemenkes Kendari.

Sebelum penyuluhan, diberikan prates menggunakan kuesioner pengetahuan yang berisi pertanyaan seputar ASI dan pijat oksitosin.

Komunikasi, informasi dan edukasi melalui penyuluhan tentang pentingnya ASI, upaya memperbanyak ASI dengan pijat oksitosin dan masalah menyusui serta penanganannya. Media bantu yang digunakan adalah modul.

Simulasi dan demonstrasi pijat oksitosin menggunakan phantom, minyak pijat, air hangat, dan handuk. Setelah demosntrasi, dilanjutkan dengan uji pascates menggunakan kuesioner yang sama dengan uji prates.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan Pengabmas diawali oleh pembukaan dan sambutan dari kepala Desa Atowatu. Kemudian pembagian kuesioner kepada peserta untuk dilakukan prates pengetahuan peserta sebelum diberikan materi tentang ASI dan Pijat Oksitosin. Dalam kuesioner juga terdapat karakteristik responden berupa umur ibu dan pendidikan.

Usia ibu yang terendah adalah 16 tahun dan tertinggi 60 tahun. Rerata usia peserta adalah 37.9 tahun. Jika dikelompokkan berdasarkan usia reproduksi sehat, mayoritas berusia lebih dari 36 tahun (53.3%), usia antara 20-35 tahun (43.3%), dan kurang dari usia 20 tahun (3.3%). Hal ini menunjukkan bahwa peserta yang berusia mua sangat sedikit (Figure 1).

Pendidikan formal terakhir peserta yang mengikuti Pengabmas adalah pendidikan menengah pertama (46.7%), pendidikan dasar (36.7% ) dan pendidikan menengah atas/kejuruan (16.7%) (Figure 2).

Hasil analisis data dari isian kuesioner pengetahuan, total poin terendah uji prates adalah 2 poin, dan poin tertingginya 10 poin. Rerata poin skor prates adalah 7.2. Setelah diberikan penyuluhan dan simulasi, poin hasil uji pascates terendah 7, dan tertinggi 10 dengan poin rata-rata 9.1.

Penyuluhan tentang ASI dan pijat oksitosin dengan modul yang dimodifikasi meningkatkan pengetahuan ibu (Figure 3). Peningkatan pengetahuan peserta dilihat dari perolehan total poin hasil uji pra-pascates kuesioner pengetahuan. Perubahan pengetahun dipengaruhi oleh bermacam faktor, salah satunya yaitu intensitas intervensi, yaitu frekuensi kontak antara ibu dengan tenaga kesehatan (pemberi pendidikan) dan adanya pengulangan informasi. Pemberian informasi atau pengetahuan yang lebih sering dapat meningkatkan retensi pengetahuan karena adanya konfirmasi serta pemahaman pada materi yang disampaikan (Notoatmodjo, 2003).

Penggunaan alat bantu berupa modul dalam penyuluhan, dapat meningkatkan atensi dan retensi ibu tentang materi pijat oksitosin dan penanganan masalah dalam menyusui, pemberian modul akan membantu meningkatkan pengetahuan peserta (Setiawan, 2003; Tini et al., 2016). Penggunaan media belajar dalam proses penyuluhan akan memudahkan penerimaan pesan kesehatan kepada masyarakat (Notoatmodjo, 2010).

Penyuluhan dilakukan dengan ceramah-diskusi, dan demonstrasi. Alat bantu yang digunakan yaitu LCD, phantom, dan model payudara. Perhitungan presentasi retensi yang ditimbulkan dari penggunaan beberapa metode tersebut adalah 5% dari mendengar, 10 dari membaca, 30% demonstrasi dan diskusi kelompok 50% sehingga total retensi dapat mencapai 95%. Presentasi retensi yang besar tersebut dapat terjadi karena ibu menggunakan hampir seluruh indranya. Penggunaan indra secara terintegritas pada suatu objek akan memberikan hasil terhadap pemahaman materi secara efektif (Notoatmodjo, 2010).

Faktor penting lainnya adalah penggunaan metode pembelajaran orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa adalah adanya persepsi bahaya yang mengharuskan perubahan perilaku, nilai atau kepercayaan (Emilia, 2008). Melalui pengetahuan dan persepsi terhadap suatu hal, perubahan perilaku akan terjadi secara bertahap. Tahap-tahap perubahan tersebut pada mulanya pemenuhan informasi, peserta akan mempersepsilkan informasi sesuai dengan predisposisi psikologisnya, apakah memilih atau membuang informasi yang tidak dikehendaki. Setelah penerimaan stimulus, interpretasi sesuai dengan pengalaman terdahulu akan terjadi, tahap ini respons yang muncul akan bergantung pada latar belakang dan pengalaman pribadi tersebut, dan pada tahap akhir, peserta hanya akan menerima dan menganalisis input yang memiliki makna tersendiri bagi dirinya sehingga terjadi tindakan yang dikehendaki (Fishbein & Ajzen, 1977).

Perubahan pengetahuan yang dinilai menggunkaan poin hasil pra-pascates, didukung oleh hasil penelitian Lin et al (2008) yang melakukan penelitian terhadap efektifitas program pendidikan prenatal terhadap pemberian ASI. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa para ibu pada kelompok intervensi memiliki skor yang tinggi tentang pengetahuan pemberian ASI dan sikap terhadap pemberian ASI pada hari ketiga postpartum (Lin et al., 2008).

(TABEL ISIAN KUESIONER TENTANG PERSEPSI IBU)

Pengetahuan ibu tentang hal berikut bersumber dari isian kuesioner pengetahuan. Jika bayi mengalami bingung puting susu dan tidak mau menyusu, bayi boleh diberikan ASI melalui botol (Tabel ....). Hal ini adalah persepsi yang kurang tepat karena untuk keberhasilan menyusui, ibu perlu menghindari penggunaan dot maupun empeng agar bayi tidak bingung puting susu atau menolak menyusu melalui payudara ibu. Solusinya adalah mencoba memberikan ASI perah dengan menggunakan sendok, sambil terus memperkenalkan payudara ke bayi dan memposisikan bayi sesuai dengan posisi dan perlekatan yang benar.

Peserta juga beranggapan bahwa jika ibu menderita batuk, pilek, demam, diare atau penyakit ringan lainnya maka tidak boleh menyusui (Tabel ....). Anggapan ini adalah pendapat yang kurang tepat, dalam kondisi tersebut seorang ibu masih tetap harus menyusui bayinya. Jika dikaitkan dengan kondisi pandemi penyakit COVID-19, ibu bisa menyusui bayi dengan menggunakan masker dan mencuci tangan.

Peserta belum memahami bahwa kebutuhan ASI untuk bayi baru lahir hanya berkisar 2-20 mL setiap kali bayi menyusui (Tabel ....). Sehingga hari-hari pertama setelah melahirkan, produksi ASI masih sedikit, dan ibu tidak perlu langsung memberikan asupan gizi tambahan selain ASI, tetapi tetaplah merangsang payudara ibu dengan lebih sering menyusukan bayinya, dan melakukan pijat oksitosin.

KESIMPULAN

Penyuluhan tentang ASI dan demonstrasi pijat oksitosin meningkatkan pengetahuan peserta tentang pemberian ASI, pijat oksitosin, dan tatalaksana masalah-masalah dalam menyusui.

UCAPAN TERIMA KASIH

Tim Pelaksana mengucapkan terimakasih kepada Poltekkes Kemenkes Kendari, yang telah menyiapkan dana PKM bagi dosen jurusan kebidanan, kepada pemerintah Desa Atowatu Kecamatan Soropia yang telah menfasilitasi pelaksanaan kegiatan dan mengarahkan masyarakat dan kader untuk berpartisipasi dalam kegiatan PKM ini.

PEMBERI DANA

Pengabmas ini terlaksana atas pendanaan DIPA Poltekkes Kemenkes Kendari No. ......

DAFTAR PUSTAKA

Allen, J., & Hector, D. (2005). Benefits of breastfeeding. New South Wales Public Health Bulletin, 16(3–4), 42–46. https://doi.org/10.1071/nb05011

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik, Kementerian Kesehatan, & ICF International. (2013). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Badan Pusat Statistik.

Emilia, O. (2008). Promosi kesehatan dalam lingkup kesehatan reproduksi (Cetakan I). Pustaka Cendekia Press.

Fishbein, M., & Ajzen, I. (1977). Belief, attitude, intention, and behavior: An introduction to theory and research. Philosophy and Rhetoric, 10(2), 130–132.

Kementerian Kesehatan. (2012). Rencana aksi akselerasi pemberian asi ekslusif 2012-2014. Kementerian Kesehatan.