PELAKSANAAN PROGRAM PEMERIKSAAN GIGI PADA IBU HAMIL SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI KOMPLIKASI PADA KEHAMILAN DI PUSKESMAS KALIWATES DAN PUSKESMAS BANJARSENGON TAHUN 2019

Nadia Dian Rosanti1*, Dinar Rizqi Perwitasari2

1Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana, Universitas Jember

2Program Studi Sarjana Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Universitas Jember

*Pos Elektronik Koresponden nadia.dian4@gmail.com


Kata Kunci:

Evaluasi Program, Periodontal pada ibu hamil, preeklampsia, komplikasi kehamilan

Abstrak

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 89 Tahun 2015 mengatur mengenai pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil. Namun, pada praktiknya pelaksanaan program ini masih belum terlaksana dengan maksimal karena kurangnya kesadaran dan kepedulian ibu hamil akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut pada masa kehamilan. Kondisi gigi dan mulut yang tidak terjaga selama masa kehamilan dapat meningkatkan resiko terjadinya komplikasi kehamilan yang berpengaruh kepada kesehatan ibu dan janin. Peneliti melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil sebagai upaya deteksi dini preeklampsia di Kabupaten Jember. Data didapatkan melalui wawancara mendalam (in-depth interviews), telaah dokumen dan observasi langsung menggunakan data rekam medis hasil pemeriksaan pasien di Poli KIA dan Poli Gigi di Puskesmas. Didapatkan hasil pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil pada tingkat Puskesmas di Kabupaten Jember sudah berjalan dengan baik. Terjadi peningkatan jumlah kasus preeklampsia di Puskesmas Kaliwater pada tahun 2018 dan 2019, sedangkan di Puskesmas Banjarsengon pada tahun 2018 dan 2019 terjadi penurunan jumlah kasus preeklampsia. Pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil di Kabupaten Jember secara keseluruhan masih belum maksimal dikarenakan masih terdapat beberapa Puskesmas yang belum melaksanakan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil akibat belum tersedianya tenaga kesehatan dokter gigi. Puskesmas Banjarsengon telah melaksanakan program ini dengan baik dan telah melaksanakan 1053 pemeriksaana dan melebih target 340 pemeriksaan. Puskesmas Kaliwates melaksanakan 770 pemeriksaan namun belum dapat memenuhi target 837 pemeriksaan. Dibutuhkan peningkatan kualitas pelayanan program pemeriksaan gigi dan mulut pada ibu hamil sehingga dapat menurunkan jumlah kasus kejadian preeklampsia di wilayah kerja Puskesmas Banjarsengon Kabupaten Jember.


Keywords:

Program Evaluation, Periodontal in pregnant women, Preeclampsia, Pregnancy complication

Abstract

Regulation of the Minister of Health Number 89 in 2015 has regulated dental and oral health service for pregnant women. But in practice, the implementation of the program has not been maximized due to lack of public awareness and attention on the importance of dental and oral health. Unsupervised dental and oral health have adverse effect not only to the mother but also to the fetus by increasing the risk of developing pregnancy complication. Researchers aim to evaluate the implementation of dental examination in pregnant women as an early detection effort of preeclampsia in Jember. Data are gathered from in-depth interviews, documents review, and direct observation using medical records of patient in maternal and child health ward and dental care ward in Kaliwates and Banjarsengon Public Health Center. The implementation of dental examination in pregnant woman in public health center in Jember has been well executed. The number of preeclampsia case in Kaliwates Public Health Center increased in 2018 and 2019 while the number of case in Banjarsengon Public Health Center has decreased. The implementation of program in Jember district has not met the maximum reach due to limitation of dental and public health facilities which have implement the program. Banjarsengon Public Health Center had well-implemented the program and exceeded the target of examinations with 1.053 examinations. Kaliwates Public Health Center completed 770 examinations which had not reached the target 837 examinations. The number of preeclampsia increased in Kaliwates Public Health Center from 4 cases in 2018 to 11 cases in 2019, contrary to Banjarsengon Public Health Center which has shown a decrease from 22 cases in 2018 to 19 cases in 2019.


Pendahuluan

Telah diamanatkan di dalam Undang Undang nomor 39 tahun 2007 yang berisi tentang kesehatan, dijelaskan bahwa kesehatan setiap masyarakat atau individu merupakan hak asasi yang perlu dilaksanakan guna menunjang kesejahteraan yang pelaksanaannya harus sesuai dengan prinsip non-diskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan demi pembangunan nasional (Pemerintah Indonesia, 2009).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membentuk sebuah program yang diharapkan mampu memberikan pelayanan pemeriksaan gigi pada ibu hamil yang bertujuan guna mencegah terjadinya masalah atau komplikasi yang dapat terjadi pada masa kehamilan dan menjadi sarana deteksi dini masalah masalah kehamilan yang disebabkan karena kondisi kesehatan gigi dan mulut yang kurang baik. (Kementerian Kesehatan RI, 2015). Peraturan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan janin di dalam kandungan dan mencegah terjadinya komplikasi pada ibu hamil, serta pelaksanaan program ini diharapkan mampu memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Namun, pada prakteknya program belum berjalan maksimal akibat kurangnya pengetahuan dan kesadaran dari ibu hamil dan masyarakat masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada masa kehamilan. Perubahan hormon esterogen dan progesterone pada masa kehamilan dapat memicu plak berlebih dan buruknya kondisi gigi dan mulut yang dapat sebabkan penyakit periodontal. Masuknya bakteri ke dalam aliran darah dapat meyebabkan komplikasi pada kehamilan (Soulissa Gani Abdul, 2014). Ibu hamil dengan masalah periodontal yang buruk beresiko menimbulkan masalah kehamilan, salah satunya adalah preeklampsia (Rani Anggraini; Peter Andreas, 2015)

Preeklamsia merupakan salah satu penyulit atau masalah dalam kehamilan yang hingga saat ini masih belum ditemukan penyebabnya (Trisnawaty, Salim and Yakub, 2017). Deteksi dini dengan pemeriksaan tekanan darah dan protein urin dapat dilakukan rutin selama masa kehamilan. Apabila tidak dideteksi segera maka dapat menimbulkan eklamsia yang dapat menyebabkan kematian. Jumlah kasus preeklamsia di Indonesia bahkan di dunia masih tinggi dan merupakan salah satu penyebab tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di angka 305 dari 100.000 kelahiran hidup. Dalam mewujudkan target SDGs, pemerintah berusaha untuk menurunkan AKI menjadi 70 kasus dari 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2018 di Provinsi Jawa Timur, tercatat sejumlah 154 kasus kematian ibu yang disebabkan oleh preeklamsia. Sedangkan di Kabupaten Jember pada tahun 2018 dilaporkan terdapat 41 kasus kematian ibu yang disebabkan preeklamsia dan perdarahan. Dari data 50 Puskesmas di Kabupaten Jember di tahun 2019 dari bulan Januari hingga Juni tercatat 765 kasus preeklamsia. Selain tingginya angka kejadian preeklamsia, didapatkan hasil pemeriksaan pada ibu hamil mengalami kondisi gigi dan mulut yang masih belum baik karena 80-100% ibu hamil mengalami gingivitis sehingga diperlukan screening lanjutan untuk mencegah terjadinya komplikasi pada masa kehamilan serta mencegah kondisi kesehatan ibu hamil semakin memburuk.

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program pemeriksanaan gigi pada ibu hamil sebagai upaya deteksi dini preeklamsia di Kabupaten Jember.

Metode

Desain penelitian pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) dengan rancangan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif menggunakan pendekatan fenomenologik. Data kualitatif didapatkan melalui wawancara mendalam (in-depth interviews), telaah dokumen dan observasi langsung. Penelitian dilakukan di 2 Puskesmas di Kabupaten Jember yaitu Puskesmas Kaliwates dan Puskesmas Banjarsengon yang dilaksanakan di bulan Desember 2019. Penentuan narasumber menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian menggunakan informasi dari 5 orang narasumber, di antara lainnya yaitu 1 orang Pengelola Program P2P bidang Kesehatan Gigi Mulut (Kesgilut) Dinas Kesehatan Kabupaten Jember sebagai informan kunci. 1 orang dokter gigi Puskesmas Kaliwates dan 1 orang dokter gigi Puskesmas Banjarsengon sebagai informan utama. 1 orang bidan di Puskesmas Kaliwates dan 1 orang bidan Puskesmas Banjarsengon sebagai informan tambahan

Untuk mencegah terjadinya masalah etik pada penelitian, peneliti melakukan perizinan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dengan nomor sertifikat Ethic Committee Approval: No.794/UN25.8/KEPK/DL/2019.

Hasil dan Pembahasan

Perencanaan Program Pemeriksaan Gigi pada Ibu Hamil

Keberhasilan suatu pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh mutu perencanaan dan penganggaran kesehatan. Perencanaan adalah suatu proses yang saling berkesinambungan, yang berarti suatu tahapan tidak dapat dilakukan apabila tahapan sebelumnya belum dilaksanakan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pengelola Kesehatan Gigi dan Mulut Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Pedoman perencanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil mengacu kepada Permenkes nomor 89 Tahun 2015 Bagian Kedua pasal 5 sampai dengan pasal 8. Pedoman tersebut berisi tentang pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil yang dijelaskan secara langsung oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur kepada seluruh perencana kesehatan gigi Dinas Kesehatan Kabupaten pada acara rapat koordinasi. Perencanaan program kesehatan ini mengacu pada Permenkes nomor 48 Tahun 2017 melalui pendekatan perencanaan atas bawah (top-down) perencanaan ini dilaksanakan oleh pemerintah sebagai pencetus gagasan. Pemerintah berperan banyak dalam mengatur terlaksananya program dari proses perencanaan hingga dilaksanakannya evaluasi. Perencanaan dengan menggunakan pendekatan top-down berpedoman pada Undang-Undang, Peraturan Menteri, RPJP bidang kesehatan, RPJMN, Renstra dan lain-lain (Kementerian Kesehatan RI, 2017).

Dalam proses perencanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil ini didapatkan dari hasil wawancara dengan informan Dinas Kesehatan Kabupaten Jember menggunakan sumber data dari Riskesdas Kementerian Kesehatan Tahun 2018, data laporan bulanan dari tiap kabupaten yang didapatkan dari hasil laporan dari setiap Puskesmas terhadap pelaksanaan UKP dan UKM . Karena kasus penyakit pada gigi dan mulut masih tinggi, kegiatan pemeriksaan dan pemeliharaan gigi dan mulut pada ibu merupakan salah satu upaya yang harus ditingkatkan melalui Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang menjadi salah satu kegiatan Puskesmas. Hal ini selaras dengan pernyataan dari dr. Debie K.R. Kalalo, MSc.Ph, selaku Kepala Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara menyatakan bahwa saat ini diperlukan kualitas sistem informasi kesehatan secara nasional hingga di pelayanan kesehatan dasar dan lanjutan. Guna mendapatkan laporan sesuai dari tingkat Puskesmas hingga tingkat Nasional.

Keberhasilan suatu perencanaan ditentukan dengan kemampuan dari team yang ada di dalamnya, Faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang didapatkan melalui pendidikan serta pelatihan yang diikuti. Berdasarkan pemaparan dari pengelola program Dinas Kesehatan Gigi dan Mulut Kabupaten Jember, hanya terdapat 1 orang pengelola program Kesehatan Gigi dan Mulut yang juga harus merangkap tugas sebagai pengelola program Kesehatan Indera di Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Pada proses perencanaan program di tingkat Provinsi, setiap kabupaten atau kota mengirim minimal satu delegasi untuk mengikuti rapat koordinasi tahunan guna membahas perencanaan program, penentuan prioritas masalah dan menentukan target atau indikator yang akan digunakan yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 dan jadwal kegiatan perencanaan dilakukan minimal satu tahun sekali. Sarana dan prasarana diberikan kepada pengelola program kesehatan gigi Dinas Kesehatan Kabupaten Jember berupa pembiayaan perjalanan dinas pada agenda rapat koordinasi menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau dana BOK (Bantuan Biaya Operasional Kesehatan). Sesuai yang tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 241/PMK.07/ tahun 2014 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Transfer ke Daerah dan Dana Desa dijelaskan bahwa pengalokasian dana di Dinas Kesehatan Kabupaten harus dilakukan dengan sebaik-baiknya berdasarkan kriteria kegiatan tetap berpedoman pada kebijakan perencanaan yang diatur oleh Sekretaris Jendral (Kementerian Keuangan, 2014).

Dalam menyusun perencanan program kesehatan harus mempertimbangkan langkah-langkah pelaksanaan dan jadwal yang harus sesuai dengan perencanaan kalender kegiatan. Pada perencanaan tingkat daerah harus mengikuti jadwal perencanaan dari Pusat yang mengacu pada Permendagri nomor 54 Tahun 2010. Informan menjelaskan bahwa setelah agenda rapat di tingkat Provinsi, dilakukan rapat koordinasi lanjutan oleh Dinas Kesehatan kabupaten kepada semua Puskesmas di Kabupaten Jember. Pemaparan hasil dari rapat koordinasi tingkat provinsi serta rapat koordinasi antara Dinas Kesehatan kabupaten dan Puskesmas dilakukan sekaligus dengan membahas seluruh laporan bulanan dari tiap Puskesmas, membahas kendala atau masalah yang terjadi dalam pelaksanaan program di Puskesmas serta dilakukan pembahasan lanjutan mengenai upaya penyelesaian masalah agar pelaksanaan program dapat berjalan dengan maksimal dan dapat dilakukan evaluasi pada akhir atau awal tahun selanjutnya guna mengetahui pencapaian target pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil. Kegiatan evaluasi dilakukan guna mengetahui hasil dari pelaksanaan program sehingga dapat diketahui sejauh mana program telah dilaksanaan, kegiatan evaluasi pelaksanaan program mengacu pada Peraturan Pemerintah nomor 39 tahun 2006.

Dokumen rencana kerja disusun guna melaksanakan kegiatan perencanaan satuan kerja pada perangkat daerah dalam periode satu tahun serta menggambarkan capaian kinerja yang digunakan dalam rencana kerja SKPD untuk mendeskripsikan prpgram prioritas yang akan dilaksanakan. Kementerian Kesehatan bersama dengan Pemerintah Daerah membuat target, output dan lokus yang menjadi hak dari daerah yang besumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU) yang bersumber dari APBN. Menurut Permendagri nomor 13 Tahun 2006, Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) memuat tentang belanja, pendapatan serta pembiayaan yang difungsikan sebagai dasar dari realisasi anggaran oleh pengunanya (Kementerian Dalam Negeri, 2006).

Pelaksanaan Program Pemeriksaan Gigi pada Ibu Hamil di Puskesmas

Tenaga Pelaksana program pemeriksaan gigi pada ibu hamil di Puskesmas Kaliwates dan Puskesmas Banjarsengon terdiri dari 2 orang tenaga dokter gigi, masing-maisng sebagai penanggung jawab UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) dan penanggung jawab UKP (Upaya Kesehatan Perorangan) serta dibantu 1 orang tenaga perawat umum untuk pengadministrasian. Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas telah memenuhi standar jumlah minimal dokter gigi pada Permenkes nomor 75 tahun 2014 yaitu Puskesmas minimal terdapat 1 orang tenaga Dokter Gigi. (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Untuk mecapai tujuan suatu program, diperlukan pertimbangan dana secara rasional terhadap kebuhutan biaya pelaksanaannya (Sukoco, 2007). Pendanaan program pemeriksaan gigi dan mulut pada ibu hamil di Puskesmas didanai oleh dana BOK (bantuan operasional kesehatan). Bantuan dana BOK ini bertujuan untuk memenuhi target pemeriksaan gigi pada ibu hamil di Posyandu. Jumlah anggaran terdapat pada dokumen Rencana Usulan Kegiatan (RUK) Puskesmas.

Puskesmas sebagai penyedia layanan kesehatan di tingkat dasar/wilayah harus mampu memenuhi sarana dan prasarana penunjang kegiatan untuk dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang lebih berkualitas, didasarkan pada Permenkes nomor 75 tahun 2014. Sarana dan prasarana media penyuluhan telah tersedia di Puskesmas Kaliwates dan Puskesmas Banjarsengon berupa lembar balik dari Dinas Kesehatan, phantom sebagai media peraga sikat gigi dan format pelaporan untuk penggandaan melalui dana JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

Sarana dan prasarana digunakan dalam memproses suatu masukan hingga keluaran (Input-Output) yang ditargetkan. Sarana dan prasarana merupakan penunjang guna memberikan kemudahan sehingga dapat memenuhi kebutuhan dari pengguna. Petunjuk teknis tercatat dalam Kerangka Acuan kegiatan (KAK), Standar Operasional Prosedur (SOP) UKGM Puskesmas yang mengacu pada Pedoman yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2012).

Berdasarkan hasil dari penelitian ini, Terdapat beberapa kendala pada saat pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil yang dilakukan di rumah kader Posyandu sehingga pelaksanaan tidak sesuai dengan pedoman 5 meja dan pemeriksaan gigi yang berada pada meja ke-5 apabila disesuaikan dengan SOP. Program dilakukan dengan pencatatan identitas, pemberian penyuluhan, dan melakukan pemeriksaana gigi yang lalu dicatat sesuai dengan format pencatatannya. Apabila terdapat masalah pada gigi dan mulutnya dokter gigi akan merujuk ke poli gigi di Puskesmas dengan surat pengantar. Sedangkan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil di Puskesmas Banjarsengon telah melaksanakan program sesuai dengan petunjuk teknis serta petunjuk pelaksanaan yang dilakukan melalui kegiatan ANC Terpadu di Puskesmas dengan melibatkan Poli KIA, Poli Gigi dan Laboratorium.

Kegiatan pemantauan pada berlangsungnya program dilakukan guna memastikan dan mengendalikan keterpaduan antara perencanaan dan pencapaian target yang telah ditentukan. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi di Puskesmas Kaliwates dan Puskesmas Banjarsengon dilakukan pelaporan jumlah cakupan pemeriksaan setiap 1 bulan yang disampaikan saat pelaksanaan Lokakarya Mini yang selanjutnya laporan bulanan tersebut dilaporkan setiap bulannya kepada Pengelola Program Kesehatan Gigi dan Mulut Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Irma dengan hasil yaitu pelaksanaan evaluasi dilakukan melalui pelaporan kepada Dinas Kesehatan mengenai jumlah cakupan dari Puskesmas yang dilaporkan setiap bulan (Irma, 2015).

Jumlah cakupan pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil di Puskesmas Kaliwates untuk kunjungan ke Posyandu telah memenuhi target, namun untuk jumlah kunjungan ibu hamil ke Poli Gigi Puskesmas masih kurang dengan jumlah cakupan sebesar 770 pemeriksaan dari target sebesar 837 pemeriksaan (tercapai 92% dari jumlah target), Jumlah cakupan pemeriksaan gigi pada ibu hamil di Puskesmas Banjarsengon telah melampaui target cakupan sebesar 678 pemeriksaan dengan jumlah sasaran 484 pemeriksaan (Tercapai 140% dari jumlah target).

Evaluasi Pasca Kegiatan Program Pemeriksaan Gigi pada Ibu Hamil

Berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan dengan informan, seluruhnya menjelaskan tentang pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil masih belum dirasakan dampak yang signifikan terutama terhadap upaya deteksi dini komplikasi pada masa kehamilan karena belum dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kaitannya antara kondisi gigi dan mulut dengan masalah pada kehamilan. Tenaga kesehatan yang saling terkait terhadap pelaksanaan program ini (Poli KIA dan Poli Gigi) masih kurangnya koordinasi satu dengan lainnya.

“Dampak dari pelaksanaan program pemeriksaan gigi dan mulut pada ibu hamil belum dapat dilihat di tingkat kabupaten dan Dinas Kesehatan karena untuk indikator pemeriksaan baru sebatas pemeriksaan saja” (Informan Dinas Kesehatan)

“Dampak dari pemeriksaan gigi pada ibu hamil masih belum dapat dirasakan karena pemeriksaan gigi masuk menjadi 1 bagian dari ANC Terpadu, dan yang dilakukan adalah evaluasi program ANC terpadu terhadap deteksi dini resiko kehamilah terutama preeklampsia dan perdarahan” (Informan Bidan Puskesmas Banjarsengon)

“Dampak yang dirasakan hanya pada pencapaian program yang terdapat peningkatan, namun belum dirasakan dampak yang signifikan dari pelaksanaan program.” (Informan Dokter Gigi Puskesmas Kaliwates)



“Dampak dari pelaksanaan program ini masih belum dirasakan karena belum pernah dilakukan penelitian lebih lanjut dan ditelusuri lebih dalam kaitannya antara permasalahan pada gigi dengan kaitannya dengan masalah pada kehamilan jadi belum dapat diketahui penyebabnya, sehingga hanya dapat dilakukan adalah dengan menjalankan program dengan harapan dapat mencegah rasa sakit yang nantinya dapat menaikkan tekanan darah, apabila gigi ibu hamil sakit juga dapat mempengaruhi nutrisi yang masuk sehingga asupan nutrisinya tidak maksimal.” (Informan Dokter Gigi Puskesmas Banjarsengon)

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan kepada informan, terdapat beberapa hambatan yang terjadi terhadap pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil.

“Program kesehatan gigi dan mulut bukan menjadi program prioritas yang semestinya menjadi 1 program terintegrasi dengan program KIA”

“Implementasi program diperburuk dengan pengetahuan ibu hamil yang masih rendah tentang kesehatan gigi dan mulut” (Informan Dinas Kesehatan)

“Kurangnya kesadaran ibu hamil dan tidak mau memeriksakan giginya ke Poli Gigi Puskesmas” (Informan Bidan Puskesmas Kaliwtaes)

“Pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil tidak dapat maksimal untuk dapat mengontrol kondisi ibu hamil yang giginya bermasalah dikarenakan setiap ibu hamil yang diberikan rujukan untuk datang ke Puskesmas dengan membawa kitir yang telah diberikan saaat posyandu, namun ibu hamil tersebut tidak datang ke Puskesmas, sedangkan untuk melakukan tindakan pemeriksaan gigi di Posyandu tidak memungkinkan dikarenakan keterbatasan alat. Peran Bidan dalam membantu pelaksanaan program masih kurang maksimal” (Informan Dokter Gigi Puskesmas Kaliwates)

“Belum adanya pelaporan khusus dari poli gigi kepada poli KIA terutama dari Dokter Gigi kepada bidan wilayah untuk memantau ibu hamil yang harus kontrol ulang ke poli gigi karena giginya bermasalah”

“Belum pernah menganalisa kejadian preeklampsia dengan kondisi gigi ibu hamil, karena selama ini untuk deteksi preeklampsia masih menggunakan pemeriksaan tekanan darah, protein urine dan odema.” (Informan Bidan Puskesmas Banjarsengon)

Seluruh informan belum merasakan dampak yang signifikan dari pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil serta masih terdapat hambatan dalam pelaksanaan program yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan gigi pada masa kehamilan serta koordinasi antara pengelola program Kesehatan Ibu dan Anak dan Pengelola Kesehatan Gigi dan Mulut di tingkat Dinas Kabupaten maupun di Puskesmas masih kurang.

Dalam upaya pencapaian indikator cakupan pemeriksaan gigi pada ibu hamil, Puskesmas Kaliwates dan Puskesmas Banjarsengon memiliki upaya yang berbeda. Puskesmas Kaliwates melakukan ANC Mobile yaitu dengan memberikan pelayanan dekat dengan rumah ibu hamil yang dilakukan di Puskesmas Pembantu.

“Mendekatkan sasaran dalam pemeriksaan gigi tersebut pada ibu hamil pada tingkat Pustu sehingga ibu hamil lebih mudah mengakses” (Informan Dokter Gigi Puskesmas Kaliwates)

Puskesmas Banjarsengon untuk mengoptimaklan pelaksanaan program dilakukan dengan ANC Terpadu yang rutin dilaksanakan setiap hari Kamis di Puskesmas Banjarsengon. Untuk ibu hamil yang kesulitan datang ke Puskesmas, dijemput menggunakan Ambulans Desa.

“Berkomitmen bahwa pemeriksaan gigi menjadi salah satu bagian dari ANC Terpadu yang rutin dilaksanakan setiap hari Kamis di Puskesmas Banjarsengon”

“Untuk ibu hamil yang kesulitan akses untuk dapat datang ke Puskesmas Banjarsengon dapat dibantu dengan menggunakan Ambulance Desa” (Informan Bidan Puskesmas Banjarsengon)

Pemeliharaan dan pemeriksaan gigi pada ibu hamil merupakan salah satu usaha yang perlu diperhatikan serta ditingkatkan pelaksanaannya melalui kegiatan UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) yang merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan di Puskesmas berdasarkan UU nomor 36 tahun 2009.

Angka kejadian preeklampsia di Kabupaten Jember masih tinggi dan merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang menjadi faktor penyebab tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa jumlah kasus preeklampsia di Puskesmas kaliwates mengalami peningkatan, pada tahun 2018 tecatat sejumlah 4 kasus dan pada tahun 2019 sejumlah 11 kasus. Sedangkan di Puskesmas Banjarsengon mengalami penurunan jumlah kasus dari tahun 2018 sejumlah 22 kasus dan tahun 2019 menurun menjadi 19 kasus. Preeklampsia menjadi salah satu komplikasi atau penyulit pada masa kehamilan yang beresiko menyebabkan kematian pada ibu hamil. Preeklampsia ditandai dengan adanya hipertensi, protein urine dan odema. Faktor penyebab dari preeklampsia masih belum diketahui penyebabnya secara pasti hingga saat ini (Botero and Beatriz, 2009).

Outcome Program Pemeriksaan Gigi pada Ibu Hamil terhadap Deteksi Dini Komplikasi pada Kehamilan

Penyakit periodontal merupakan suatu penyakit infeksi kronik atau peradangan yang menyerang jaringan periodontal yang paling banyak terjadi (Singh et al., 2015). Prevalensi gingivitis mencakup 10-60% dari jumlah total kasus penyakit periodontitis. Penyakit periodontal menjadi salah satu faktor pemicu penyebab peningkatan media inflamasi yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan endothelial (Kumar, et. al, 2012).

Di Indonesia, penyakit periodontal menempati urutan kedua permasalahan pada gigi dan mulut setelah penyakit karies gigi yag mencakup 96,58% pada semua kelompok umur (Boggess, et. al., 2003). Banyak faktor yang dapat menimbulkan penyakit periodontal, seperti efek merokok, penyakit sistemik seperti penyakit diabetes mellitus, penyakit ginjal dan penyakit jantung. Kondisi ini juga dapat ditumbulkan karena efek dari penggunaan obat-obatan seperti penggunaan steroid, obat anti epilepsy, penggunaan kontrasepsi secara oral dan kehamilan. Penyakit yang menyerang sistem pertahanan tubuh seperti HIV dan kelaisan neutrophil dapat menyebabkan penyakit periodontal (Boggess et al., 2003)

Salah satu instrument yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit periodontal menggunakan The Community Periodontal Index of Treamtment Needs (CPITN) karena mampu menyediakan sistem screening yang cepat dan mudah (WHO, 1997). Instrument ini dikembangkan pada 1982 dan revisi terbaru dilakukan pada 1997 oleh WHO (Maybodi et al., 2015). CPITN diguankan sebagai prosedur pengamatan primer yang membutuhkan pengkajian klinis untuk mengamati ada tidaknya kanting periodontal, kalkulus dan perdarahan gingivitis. Dari keempat tabulasi, CPITN menyediakan gambaran dari seluruh pola prevalensi, tingkat kerusakan dan kategori kebutuhan perawatan. Hasil dari CPITN dapat digunakan untuk perencanaan pelayanan kesehatan, memberikan dasar dan perkiraan kebutuhan perawatan seluruh populaisi dan tenaga medis yang dibutuhkan dalam pelayanan periodontal.

Pada ibu hamil, preeklampsia merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya edema pada ekstremitas bawah,, hipertensi serta proteinuria yang muncul akibat faktor yang terjadi selama masa kehamilan. Preeklampsia umumnya terjadi pada trimester ketiga namun dapat muncul sebelum trimester ketiga dengan kondisi tertentu seperti mola hidatidosa (Meadow, 2005). Preeklampsia juga merupakan komplikasi yang dapat timbul pada masa kehamilan yaitu pada usia kehamilan >20 minggu, pada saat bersalin dan pada masa nifas yang terjadi karena adanya tiga kondisi; edema, hipertensi serta proteinuria yang juga dapat disertai terjadinya kejang dan beresiko mengalami koma (Rukiyah, 2009).

Sampai saat ini penyebab utama preeclampsia masih belum dapat ditentukan dengan pasti namun terdapat beberapa faktor penyabab seperti disebabkan oleh gizi yang buruk pada ibu hamil, obesitas dan adanya gangguan atau gangguan aliran darah yang masuk ke dalam Rahim, kehamilan yang pertama (primagravida), kehamilan yang terjadi pada usia yang terlalu muda atau terlalu tua di atas usia 40 tahun. Memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi kronis sebelum terjadi kehamilan, memiliki riwayat terjadinya preeklampsia pada ibu kandung atau saudara perempuan sedarah, kehamilan kembar (gemeli), memiliki riwayat diabetes atau riwayat kencing manis, memiliki kelainan ginjal, rematoid artritis atau lupus (Rukiyah, 2009).

Preeklampsia terjadi akibat adanya vasokonstriksi yang menyebabkan peningkatan resistensi perifer total hingga terjadinya hipertensi. Vasokonstriksi juga menyebakan hipoksia pada endotel local yang dapat menyebabkan kerusakan. Kerusakan pada bagian arteriol dapat menyebabkan perdarahan mikro pada endotel. Hal ini juga dapat menyebabkan penurunan perfusi uteroplasenta yang berdampak pada maladaptasi plasenta. Karena adanya kekurangan oksigen pada jaringan (hipoksia atau anoksia), terjadi reaksi hiperoksidase lemak. Proses hiperoksidase lemak membutuhkan oksigen dalam jumlah tinggi sehingga dialihkan menjadi sel-sel lemak peroksidase. Peroksidase lemak merupakan salah satu radikal bebas sehingga apabila terjadi ketidak seimbangan atara peroksidase dan oksidan maka dapat terjadi stress oksidatif. Peroksidase lemak tersebut mencapai semua komponen sel yang dilaluinya termasuk ke sel-sel endotel.

Pada kehamilan normal, terjadi proses hypervolemia yang berguna untuk memenuhi kebutuhan janin yang umumnya ditandai dengan peningkatan tertinggi volume plasma yang normalnya terjadi di usia kehamilan 32-34 minggu. Pada kasus preeklampsia, ibu hamil mengalami penurunan plasma darah sebesar 30-40% dibandingkan dengan kondisi kehamilan yang normal yang disebut juga dengan hypovolemia. Kondisi ini diperparah dengan vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Volume plasma yang mengalami penurunan dapat berdampak luas terhadap organ tubuh ibu hamil. Keadaan preeklampsia juga sangat sensitive terhadap terapi pemberian cairan melalui intravena dalam waktu yang terlalu cepat dan dengan jumlah yang banyak serta terjadinya perdarahan yang terjadi saat persalinan.

Pada kasus preeklampsia, peningkatan reaktifitas vaskuler mulai terjadi pada usia kehamilan >20 minggu namun kondisi hipertensi dapat dideteksi sejak usia kehamilan memasuki trimester kedua. Hipertensi pada preeklampsia terjadi secara labil serta mengikuti sistem sirkadian normal di mana dapat kembali normal beberapa hari pasca persalinan. Pada kondisi preeklampsia berat, tekanan darah baru bisa kembali stabil atau normal 2-4 minggu pasca persalinan di mana tekanan darah sangat dipengaruhi oleh volume plasma, curah jantung, resistensi perifer dan viskositas darah (Prawirohardjo, 2009).

Menurunnya fungsi peredaran dan jumlah aliran darah juga berdampak pada fungsi ginjal. Kondisi hypovolemia dapat menyebabkan oliguria atau anuria pada ibu hamil. Kerusakan sel glomerulus dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas membrane basalis sehingga terjadinya kebocoran yang menyebabkan proteinuria (Tjiptaningrum and Hartanto, 2016). Kondisi hypovolemia juga dapat menyebabkan peningkatan kadar kreatinin plasma pada ibu hamil dengan preeklampsia. Aliran darah pada ginjal yang mengalami penurunan dapat menyebabkan berkurangnya filtrasi glomerulus yang berdampak pada terjadinya penurunan sekresi kreatinin yang disertai dengan peningkatan kreatinin pada plasma (Prawirohardjo, 2009).

Peningkatan faktor koagulasi dapat terjadi akibat disfungsi endotel yang dialami ibu hamil pada kondisi preeklampsia. Hal ini dapat menimbulkan perubahan patofisiologi terjadinya preeclampsia, seperti trjadinya vasokonstriksi yang maksimal pada sirkulasi kehamilan atau maternal yang disertai berkurangnya volume sirkulasi darah yang selanjutnya mengarah pada penurunan perfusi sistem organ dalam tubuh. Terjadinya aktivasi sistem koagulasi dan peningkatan permeabilitas endothelium dapat menyebabkan penurunan volume plasma (Tjiptaningrum and Hartanto, 2016).

Kadar esterogen dan progesterone dapat meningkat pada masa kehamilan yang mengakibatkan peningkatan volume darah ke rongga mulut sehingga dapat terjadi hipervaskularisasi pembuluh darah kapiler gusi yang menyebabkan edema atau pembengkakan dan hiperplastis, berkurangnya ketebalan dari epithelial yang menyebabkan gusi menjadi lebih rapuh. Rasa mual dan terjadinya muntah pada awal kehamilan berpengaruh terhadap kebersihan mulut yang dapat menyebabkan rasa asam dalam rongga mulut (Hani, 2010). Pemeriksaan gigi dan mulut pada masa kehamilan dilakukan minimal dua kali yaitu pada trimester pertama kehamilan dan trimester ketiga.

Penjadwalan pemeriksaan gigi yang dilakukan pada trimester pertama kehamilan berkaitan dengan kondisi mual dan muntah yang dialami oleh ibu hamil serti terjadinya produksi liur berlebihan menyababkan terganggunyya kebersihan rongga mulut pada ibu hamil. Pemeriksaan gigi pada trimester ketiga kehamilan, pemeriksaan gigi diperlukan karena adanya peningkatan kebutuhan terhadap kalsium pada tubuh untuk memaksimalkan pertumbuhan janin sehingga perlu diamati pengaruhnya terhadap kondisi pada gigi ibu hamil. Kebiasaan menyikat gigi yang dilakukan setelah makan sangat perlu dilakukan terutama pada masa kehamilan karena pada masa kehamilan ibu hamil mudah mengalami masalah yang terjadi pada gigi dan mulutnya seperti dapat menimbulkan karies gigi dan gingivitis (Prawirohardjo, 2009).

Peningkatan hormon esterogen pada aliran darah dan konsistennya jaringan lunak dapat menyebabkan gusi mejadi hiperemik, edema dan spongy menyebabkan gusi lebih mudah berdarah, lebih peka terhadap berbagai jenis makanan yang kasar atau keras serta cara menggosok gigi yang dilakukan kurang tepat atau menggosok gigi terlalu kuat. Gingivitis dan penyakit periodontal dapat dipengaruhi oleh kondisi kehamilan di mana kelenjar air liur yang lebih asam dengan sekresi yang tidak berubah. Kelainan ini dapat menjadi diagnosanya sendiri atau berkaitan dengan hyperemesis gravidarum ketika ibu hamil mual dan muntah yang disebabkan oleh tertelannya air liur atau jenis makanan dan minuman lain yang sensitif pada ibu hamil (Coad and Dunstall, 2001).

Menurut Sofian (2011) permasalah gigi dan mulut yang sering dialami oleh ibu hamil yaitu hipersalivasi, gingivitis dan epulis dan karies gigi. Gusi berdarah yang terjadi pada masa kehamilan harus lebih diwaspadai karena darah yang keluar dari gusi dapat menimbulkan masuknya bakteri ke dalam aliran darah. Bakteri yang berada dalam pembuluh darah dapat menimbulkan peradangan yang terjadi pada dinding pembuluh darah coroner sehingga menyebabkan terjadinya aterosklerosis yang disebabkan oleh inflamasi sistemuk melalui pelepasan protein dan endotoksin (Angeli et al., 2003). Penyakit periodontal menimbulkan infeksi bakteri kronik lokal yang terjadi di dalam rongga mulut, menimbulkan terjadinya disfungsi endotel dan menyebabkan timbulnya plak pada arteri karotis yang merupakan salah satu penyebab terjadinya preeklampsia (Taguchi, 2008)

Pemeliharaan dan perawatan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil bermanfaat guna menjaga dan mengoptimalkan tumbuh kembang janin secara optimal dan mencegah terjadinya Berat Badan Lhir Rendah (BBLR) atau kelahiran premature (Putra, 2012). Kondisi kebersihan dan kesehatan gigi harus selalu dijaga sehingga fungsi pengunyahan tetap baik yang didukung dengan asupan gizi yang baik untuk mendukung kesehatan ibu hamil serta mencegah terjadinya memburuknya kondisi penyakit gigi dan mulut. Oleh karena itu Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2012) melaksanakan program pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk mencegah terjadinya masalah selama masa kehamilan untuk mencegah kondisi yang semakin parah dan meningkatkan kesehatan ibu selama masa kehamilan.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan temuan dari hasil wawancara mendalam dengan informan, telaah dokumen dan analisa data pada penelitian ini yaitu pelaksanaan program pemeriksaan gigi pada ibu hamil belum terlaksana dengan optimal karena tenaga pengelola program kesehatan gigi dan mulut di Dinas Kesehatan Kabupaten Jember yang berjumlah 1 orang harus merangkap tugas sebagai pengelola program Kesehatan Indera. serta belum terintregasi dengan baik antara bidang KIA dan bidang Kesehatan Gigi dan Mulut di tingkat Kabupaten maupun di Puskesmas.

Jumlah Kasus preeklampsia di Puskesmas Kaliwates mengalami peningkatan sejumlah 63,6% dibandingkan tahun sebelumnya dan jumlah cakupan pemeriksaan gigi pada ibu hamil masih kurang dari target yang ditentukan. Jumlah kasus preeklampsia di Puskesmas Banjarsengon mengalami penurunan sejumlah 13,6% dari tahun sebelumnya, serta target pemeriksaan gigi pada ibu hamil telah memenuhi jumlah target yang ditetapkan.

Upaya yang dilakukan Puskesmas Kaliwates untuk memenuhi target cakupan menggunakan program ANC Mobile sedangkan Puskesmas Banjarsengon melalui program ANC Terpadu. Edukasi pada ibu hamil dilakukan melalui kegiatan penyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan gigi pada masa kehamilan serta dilakukan monitoring dan evaluasi rutin oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jember setiap tahun, dan Loka Karya Mini setiap 1,3 dan 6 bulan yang dilakukan di setiap Puskesmas.

Daftar Pustaka

Angeli, F., Verdecchia, P., Pellegrino, C., Pellegrino, R.G., Pellegrino, G., Prosciutti, L., Giannoni, C., Cianetti, S. and Bentivoglio, M., 2003. Association between periodontal disease and left ventricle mass in essential hypertension. Hypertension, 41(3 I), pp.488–492. DOI: https://doi.org/10.1161/01.HYP.0000056525.17476.D7

Boggess, K.A., Lieff, S., Murtha, A.P., Moss, K., Beck, J. and Offenbacher, S., 2003. Maternal periodontal disease is associated with an increased risk for preeclampsia. Obstetrics and Gynecology, 101(2), pp.227–231. DOI: https://doi.org/10.1016/S0029-7844(02)02314-1

Botero, J. and Beatriz, P., 2009. Periodontal intervention effects on pregnancy outcomes in women with preeclampsia Colombia Médica Periodontal intervention effects on pregnancy outcomes in women with preeclampsia .

Bustami, 2011. Penjaminan Mutu Pelayanan Kesehatan & Akseptabilitasnya. [online] Jakarta: Erlangga.

Coad, J. and Dunstall, M., 2001. Anatomy and physiology for midwives. Mosby.

DOI : 10.24198/jkg.v29i3.15959

Hani, U. [et. al], 2010. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologis. Salemba Medika.

Irma, A., 2015. Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa (Add) Di Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi. Katalogis, 3(1), pp.121–137.

Kementerian Dalam Negeri, 2006. Permendagri No.13/2006. pp.1–73.

Kementerian Kesehatan RI, 2015. Permenkes 89 tahun 2015 tentang Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut. Jurnal Teknosains.

Kementerian Kesehatan RI, 2017. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 48 Tahun 2017. Indonesia: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI, 2018. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017. Indonesia: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Keuangan, 2014. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 241/ PMK.07/2014 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa. Indonesia: Kementerian Keuangan.

Kumar, et al. 2012. Oral Manifestations in Hypertensive Patients: A Clinical Study. Journal of Oral and Maxillofacial Pathology. 16(2): 215-221 DOI: 10.4103/0973-029X.99069

Maybodi, F.R., Haerian-Ardakani, A., Vaziri, F., Khabbazian, A. and Mohammadi-Asl, S., 2015. CPITN changes during pregnancy and maternal demographic factors ‘impact on periodontal health. Iranian Journal of Reproductive Medicine, 13(2), pp.107–112.

Meadow, S.R., 2005. Lecture Notes Pediatrika. Erlangga.

Pemerintah Indonesia, 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Indonesia: Lembaran Negara RI Tahun 2009.

Pradnyanaputri, K.E., Kusumadewi, S. and Ari Susanti, D.N., 2018. Prevalensi Gingivitis Pada Ibu Hamil Berdasarkan Usia Kehamilan, Pekerjaan, Dan Pendidikan Di Rsud Klungkung Tahun 2017. ODONTO : Dental Journal, 5(2), p.97. DOI: http://dx.doi.org/10.30659/odj.5.2.97-101

Prawirohardjo, S., 2009. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Putra;, S.R., 2012. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita Untuk Keperawatan dan Kebidanan.

Rani Anggraini; Peter Andreas, 2015. Kesehatan Gigi Mulut dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi Mulut pada Ibu Hamil ( Studi Pendahuluan di Wilayah Puskesmas Serpong , Tangerang Selatan ). Maj Ked Gi Ind, 1 (2), pp.193–200. DOI: https://doi.org/10.22146/majkedgiind.9229

Rukiyah, A.Y., 2009. Asuhan Kebidanan I : Kehamilan. TIM.

Singh, M.B., Fotedar, R., Kumar, S.P. and Zinc, K., 2015. Zinc and Other Micronutrient Deficiencies , Under Nutrition and Morbidities in School Children of Desert Area of Rajasthan Chalga Scientist F & Deputy Director ( Sr . Gr .), Desert Medicine Research Centre ( ICMR ), New Pali. (2277), pp.4–7. DOI: 10.36106/ijsr

Sofian, A., 2011. Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi Jilid 1.

Soulissa Gani Abdul, 2014. Hubungan kehamilan dan penyakit periodontal. Jurnal PDGI, [online] 63(3), pp.71–77.

Sukoco, B., 2007. Manajemen administrasi perkantoran modern. [online] Jakarta: Erlangga.

Tjiptaningrum, A. and Hartanto, B.A., 2016. Dampak Proteinuria pada Anak. Majority, 5, pp.1–5.

Trisnawaty, T., Salim, E.M. and Yakub, K., 2017. Perbedaan kadar TNF-α saliva pada ibu hamil preeklamsia dan ibu hamil tidak preeklamsia. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, 29(3), pp.27–30.

World Health Organization. 1997. Oral Health Surveys : Basic Methods 4th Edition. England :WHO Press.