Kembali ke Rincian Artikel Pemberdayaan Keluarga dalam Pendampingan Minum Obat Pasien Tuberkulosis Paru di Wilayah Pesisir Kecamatan Soropia

Pemberdayaan Keluarga dalam Pendampingan Minum Obat Pasien Tuberkulosis Paru di Wilayah Pesisir Kecamatan Soropia

Sitti Rachmi Misbah1*, Lena Atoy1, Muhaimin Saranani1, Nurfantri1, Dewi Sartiya Rini1*
Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Kendari, Indonesia
* Pos elektronik koresponden dewi.sartiya@gmail.com 

DOI: https://doi.org/10.36990/jippm.v1i1.257

Pendahuluan

Data World Health Organization (WHO) tahun 2016 menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke 8 dari 27 negara dengan beban penderita tuberculosis mulitdrug resistant (TB-MDR) terbanyak di dunia. Distribusi kasus TB Paru per kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara tahun 2018 dengan kasus tertinggi TB paru bakteri tahan asam (BTA) positif terjadi di kabupaten Muna sebanyak 829 kasus dari 279.928 penduduk pada prevalensi sebesar 296 per 100.000 penduduk, kabupaten Konawe 607 kasus dari 223.727 (271:100.000), kota Kendari 551 kasus dari 335.889 penduduk (164:100.000). Kecamatan Soropia merupakan salah satu daerah di Kabupaten Konawe dengan prevalensi kejadian TB paru yang meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan hasil survey awal diketahui bahwa masyarakat yang bertempat tinggal di pesisir kecamatan Soropia minim pengetahuan tentang perawatan dan pencegahan TB paru sehingga penularan masih cukup meningkat pada wilayah tersebut.

Pemberantasan TB di Indonesia tentunya tidak lepas dari faktor kedisiplinan pasien dalam menjalankan pengobatan. Penderita TB paru wajib minum obat secara teratur selama enam bulan dan jika terputus dalam masa tersebut,  dapat terjadi kekambuhan berulang dan kuman penyebab TB paru menjadi resisten. Pengobatan yang terputus ataupun tidak sesuai dengan standar DOTS juga dapat mengakibatkan munculnya MDR terhadap obat anti TBDalam proses pengobatan pasien TB Paru, keluarga memegang peranan penting. Lamanya jangka waktu meminum obat tentunya menimbulkan kejenuhan pada pasien sehingga diperlukan anggota keluarga sebagai orang terdekat dalam mengawasi keteraturan minum obat pasien TB Paru. Pentingnya peran keluarga sebagai pengawas menelan obat (PMO) dalam pengobatan pasien tentunya perlu dibarengi dengan peningkatan pengetahuan keluarga yang meliputi pendampingan perawatan dan pengawasan minum obat (Alfiana & Korib, 2013; Badar et al., 2019).

Dukungan dan perawatan dari keluarga memberikan kontribusi besar dalam proses penyembuhan pasien TB paru. Kehadiran keluarga dalam mengawasi kepatuhan minum obat sangat membantu dalam mencegah terjadinya kegagalan pengobatan. Selain itu, dukungan emosional dari keluarga menjadi sumber motivasi bagi pasien TB paru dalam menyelesaikan pengobatan (Firdaus & Widodo, 2012; R Puspitha et al., 2020).

Metode

Pengabdian masyarakat (Pengabmas) ini dilakukan selama 2 hari mulai tanggal 2-3 November 2021 pada 20 peserta yang merupakan keluarga pasien yang sedang menjalani pengobatan TB paru di wilayah kerja Puskesmas Soropia. Adapun kriteria penentuan peserta adalah merupakan anggota keluarga terdekat dari pasien TB paru yang sedang menjalani pengobatan, dan bersedia mengikuti pelatihan PMO. Pada pelatihan PMO, selain penyampaian meteri menggunakan presentasi (Supplemen 1) dan peserta juga diberikan booklet. Terdapat pra dan pasca tes untuk mengetahui profil pengetahuan peserta tentang TB paru (Supplemen 2).

Hasil dan Pembahasan

Pada hari pertama Pengabmas, sebelum pemberian materi diawali dengan prates pada 20 peserta pelatihan PMO dan dilanjutkan dengan presentasi materi dan pembagian booklet. Pada hari kedua, dilakukan evaluasi terhadap pengetahuan tentang TB paru menggunakan kuesioner pascates.

Sebelum pemberian materi pelatihan, dari total peserta sebanyak 20 orang, mayoritas peserta (60%) memiliki pengetahuan yang baik tentang TB paru (Tabel 1).

Sedangkan pemberian kuesioner yang sama dengan prates pada hari kedua Pengabmas (pascates), dari keseluruhan peserta, hampir semua responden meningkat pengetahuannya tentang TB paru (90%) dan 10 persennya masih memiliki pengetahuan kurang (Tabel 2).

Proses pengobatan TB paru memerlukan waktu minimal 6 bulan sehingga memerlukan kedisplinan penderita TB dalam minum obat sampai dengan selesai masa pengobatan, peran PMO sangat penting dalam mengawasi pengobatan dan memastikan konsumsi obat secara benar (Hernawan et al., 2019).

Keluarga yang bertugas sebagai PMO tidak hanya mengawasi pasien dalam minum obat tapi juga seharusnya mampu memberikan edukasi tentang penyakit TB Paru pada anggota keluarganya yang lain sehingga rantai penularan dapat diputus. Peningkatan pengetahuan PMO dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. jenjang pendidikan dikaitkan dengan kemampuan dalam menerima informasi yang tentunya lebih baik (Atmojo, 2017; Pratama et al., 2018).

Hal ini sejalan dengan hasil pendidikan peserta Pengabmas di Kecamatan Soropia. Adapun 3 orang peserta (15%) merupakan lulusan Diploma/S1, 14 orang peserta (70%) adalah lulusan SMA, dan 3 orang peserta (15%) hanya menamatkan pendidikan akhir SMP dan SD .

Kesimpulan

Ada perubahan pengetahuan peserta pelatihan PMO sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan ditandai dengan peningkatan jumlah peserta yang memiliki pengetahuan baik saat pascates yaitu 18 peserta (90%) dari 20 peserta pelatihan.

Daftar Pustaka

Alfiana, L., & Korib, M. (2013). Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Tuberkulosis Multidrug Resistant ( TB-MDR ) di RSUP Persahabatan Tahun 2013 [Universitas Indonesia]. http://lib.ui.ac.id/detail?id=20345373

Atmojo, J. T. (2017). Hubungan Tingkat Pengetahuan Pengawas Menelan Obat Dengan Keberhasilan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru Di Kabupaten Klaten. Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan, 6(1), 388–391. https://doi.org/10.37341/interest.v6i1.73

Badar, B., Amiruddin, A., Setiadi, R., & Rahman, G. (2019). Pelatihan Dengan Metode Role Play Efektif Terhadap Kader PMO-TB Tentang Penemuan Kasus Baru TB Paru. Husada Mahakam: Jurnal Kesehatan, 4(7), 419. https://doi.org/10.35963/hmjk.v4i7.148

Firdaus, K. M. Z., & Widodo, A. (2012). Pengaruh Peranan Pengawas Menelan Obat Terhadap Keberhasilan Pengobatan TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Baki Sukoharjo. Universitas Muhamadiyah Surakarta, 1–13.

Hernawan, A. D., Erlina, L., & Biatmojo, B. A. (2019). Intervensi TB-Paru Melalui Edukasi dan Konseling di Desa Pasir Panjang Wilayah Binaan Puskesmas Antibar Kabupaten Mempawah. Jurnal Buletin Al-Ribaath, 16(2), 65. https://doi.org/10.29406/br.v16i2.1814

Misbah, S. R., Atoy, L., Saranani, M., Nurfantri, N., & Rini, D. S.. (2021). Presentasi Penyuluhan PMO TB Paru (Version 5). figshare. https://doi.org/10.6084/m9.figshare.16641001.v5

Pratama, A. N. W., Aliong, A. P. R., Sufianti, N., & Rachmawati, E. (2018). Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Pasien dan Pengawas Menelan Obat (PMO) dengan Kepatuhan Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Kabupaten Jember. Pustaka Kesehatan, 6(2), 218. https://doi.org/10.19184/pk.v6i2.7570

R Puspitha, A., Erika, K. A., & Saleh, U. (2020). Pemberdayaan Keluarga dalam Perawatan Tuberkulosis. Media Karya Kesehatan, 3(1), 50–58. http://jurnal.unpad.ac.id/mkk/article/view/24040

Pernyataan

Ucapatan terima kasih

Tim Pengabdian Masyarakat Jurusan Keperawatan mengucapkan terima kasih kepada aparat Desa Mekar yang telah memfasilitasi tempat dan perizinan untuk dilaksanakannya kegiatan ini. Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada pihak Puskesmas Soropia yang telah membantu dalam mengidentifikasi keluarga yang ikut serta dalam kegiatan pelatihan serta sumbangsihnya dalam pemberian edukasi pada peserta pelatihan.

Sumber dana

Sumber dana Pengabmas ini berasal dari DIPA Poltekkes Kemenkes Kendari.