Kembali ke Rincian Artikel Pembinaan Kader Posyandu tentang Perawatan Masa Nifas

Pembinaan Kader Posyandu tentang Perawatan Masa Nifas

Khalidatul Khair Anwar1*, Syahrianti1, Sultina Sarita1, Nurnasari Patongai1
Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Kendari, Indonesia
* Pos elektronik Koresponden khalidatul.megarezky@gmail.com

DOI: https://doi.org/10.36990/jippm.v1i1.278

Pendahuluan

Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan Angka Kematian Ibu (AKI) Prop. Sultra mengalami peningkatan dari 117/100.000 KH pada tahun 2018 menjadi 128/ 100.000 KH pada tahun 2019. Kasus kematian Ibu terbanyak adalah kasus kematian Ibu bersalin 32 kasus, kematian Ibu nifas 20 kasus dan kematian Ibu hamil 8 kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, 2020). Berdasarkan data tersebut, kasus kematian ibu pada masa nifas di provinsi Sulawesi Tenggara menempati posisi kedua. Lebih dari 60% kematian ibu terjadi di masa nifas, 45% diantaranya dalam waktu 1 hari, 65% dalam 1 minggu, dan lebih dari 80% dalam 2 minggu dari persalinan (Rini & Kumala, 2017).

Tingginya kasus kematian ibu disebabkan oleh beberapa faktor utama seperti kualitas pelayanan yang tidak optimal. Faktor lain yang dapat meningkatkan kematian ibu adalah rendahnya akses dan kualitas pelayanan ibu dan anak, kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat, ketidaksetaraan gender, nilai budaya, rendahnya perekonomian, rendahnya perhatian suami terhadap ibu hamil dan melahirkan, tinggal di daerah pedesaan, pengangguran, dan tidak tersedianya perawatan kehamilan. Faktor sosial pada periode nifas juga dapat menimbulkan masalah kesehatan dan potensi komplikasi (Windarti & Dewi, 2018).

Periode nifas adalah salah satu periode krisis dalam proses kehidupan seorang perempuan dan merupakan masa sulit, khususnya pada persalinan pertama. Sebab hal ini menjadi pengalaman baru, baik bagi istri maupun suami, sehingga yang dirasakan adalah kebingungan. Khususnya istri yang akan merasakan perasaan cemas, takut, yang bercampur dengan rasa bahagia (Nuryati, 2017). Hal ini menunjukkan asuhan pada masa ini sangat penting. Namun apabila dilihat pada kondisi lapangan, perawatan nifas menjadi aspek yang diabaikan dari perawatan kesehatan wanita. Masa transisi ini sering dianggap sementara atau tidak penting (Yuliana & Hakim, 2020).

Permasalah-permasalahan yang timbul di atas dikarenakan terdapatnya kekeliruan informasi dan kurangnya pengetahuan yang terjadi terutama pada ibu yang pertama kali melahirkan (primipara). Pengalaman ibu dalam perawatan bayi baru lahir, kondisi selama sebelum persalinan dan pendidikan sebelum persalinan penting untuk kesiapan perawatan diri dan bayi baru lahir (Nurrahmaton & Sartika, 2018; Rini & Kumala, 2017).

Berdasarkan survei awal di Puskesmas Soropia, bidan desa membutuhkan dukungan masyarakat untuk membantu memberikan edukasi dan mendukung ibu melewati masa nifas. Kader posyandu sebagai wakil masyarakat sangat diharapkan perannya dalam membantu bidan. Kader posyandu selama ini hanya dapat memberitahu yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan belum membahas pada perawatan ibu masa nifas.

Kader sangat berperan penting dalam penyebarluasan informasi kesehatan. Hasil penelitian Susanto dkk menggambarkan peran kader adalah sebagai seorang motivator Kesehatan yang mampu mengidentifikasi kebutuhan, hambatan serta berkoordinasi dalam memberikan pelayanan kesehatan bersama dengan petugas medis dan penyuluh kesehatan (Susanto et al., 2017). Kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh Rodiah dkk di Kecamatan Jatinagor menunjukkan terdapat kesamaan persepsi pada kader bahwa derajat kesehatan akan meningkat melalui penyebarluasan informasi kesehatan dan penguatan peran dari kader itu sendiri (Rodiah et al., 2017). Pemberdayaan kader yang dilaksanakan oleh Nurhidayah dkk di Desa Cibeber dan Desa Panyiaran memperlihatkan peningkatan pengetahuan kader (Nurhidayah et al., 2019). Berdasarkan hal tersebut, pentingnya penguatan peran kader dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pembinaan terutama yang berkaitan dengan perawatan masa nifas sehingga diharapkan dapat menunjang penurunan AKI di Indonesia.

Metode

Metode Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) melalui ceramah, simulasi dan pemberian booklet. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kendari bekerjasama dengan Kecamatan Soropia dan Puskesmas Soropia. Sasaran Pengabmas adalah kader posyandu Kecamatan Soropia pada lima desa (Desa Mekar, Desa Bajo Indah, Desa Leppe, Desa Samajaya, dan Desa Bokori) dengan masing-masing kader perdesa berjumlah 6 orang, sehingga total keseluruhan 30 orang. Adapun tahapan kegiatan adalah sebagai berikut:

  1. Prates. Kader posyandu diminta mengisi kuesioner untuk mengukur pengetahuan awalnya tentang perawatan masa nifas.

  2. Penyajian Materi dan pemberian booklet. Tim pengabdian memberikan materi tentang perawatan masa nifas yaitu nutrisi pada ibu nifas dan metode kebersihan personal pada masa nifas. Tim pengabdi dengan melibatkan mahasiswa dan bidan mensimulasikan cara yang benar dalam perawatan payudara dan perawatan luka perineum.

  3. Pascates. Pada tahap ini, kader diminta untuk mengisi kuesioner yang sama dengan prates. Kader juga diminta untuk memperagakan perawatan payudara dan luka perineum.

Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2019 di posko Maritim Desa Mekar, Kecamatan Soropia, melibatkan 30 orang yang terdiri oleh Sekretaris Desa Mekar sebagai perwakilan pemerintah setempat, bidan, dan para kader.

Kegiatan dimulai dengan pengisian kuesioner pre-test untuk mengetahui pengetahuan awal kader sebelum pemaparan materi. Kegiatan selanjutnya adalah penyampaian materi oleh Tim Pengabdi tentang pola nutrisi pada ibu nifas, termasuk takaran konsumsi harian dan cara menjaga kebersihan personal.

Pada kegiatan ini juga diberikan simulasi tentang perawatan payudara dan perawatan luka perineum pada ibu nifas. Peserta Pengabmas diberikan booklet tentang perawatan masa nifas yang mereka jadikan sebagai acuan dalam mengedukasi masyarakat sekitarnya.

Tabel 1. Karakteristik Peserta Pengabmas

PID: https://purl.org/10.36990/jippm.v1i1.278.t001

Karakteristik peserta Pengabmas berdasarkan usia dan riwayat pendidikannya adalah mayoritas peserta berada pada rentan usia 25-35 tahun (73%) dan Pendidikan terakhir mayoritas adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) (90%) (Tabel 1).

Grafik Rerata Skor Pengetahuan Peserta
Grafik 1. Grafik Rerata Skor Pengetahuan Peserta
PID: https://purl.org/10.36990/jippm.v1i1.278.g001

Rerata skor pengetahuan peserta sebelum mendapatkan diberikan edukasi perawatan masa nifas adalah 58,52 dari rentan 0-100. Dan rerata skor kuesioner pengetahuannya setelah diberikan edukasi adalah 85,93 dari rentan nilai 0-100. Skor rata-rata tersebut memperlihatkan terjadi peningkatan pengetahuan tentang perawatan masa nifas dengan selisih skor prates dan pascates adalah 27,41 (Grafik 1).

Perawatan masa nifas adalah perawatan terhadap ibu yang baru melahirkan sampai organ kandungan kembali sediakala seperti sebelum hamil. Fungsi perawatan masa nifas yakni memberikan fasilitas agar proses penyembuhan fisik dan psikis berlangsung dengan baik, mengamati proses kembalinya rahim ke ukuran normal, membantu ibu untuk dapat memberikan ASI dan memberi petunjuk kepada ibu dalam merawat bayinya (Wulandari, 2011). Pada tahap ini sangat penting dukungan petugas kesehatan dan keluarga agar masa nifas berjalan dengan sukses.

Kader adalah setiap orang yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perorangan atau masyarakat serta bekerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2014). Kader Kesehatan yang berada di masyarakat wajib memiliki pengetahuan yang memadai terhadap masalah kesehatan yang terjadi di lingkungan masyarakatnya. Kader kesehatan merupakan sasaran yang tepat dalam pelaksanaan program kesehatan seperti pelatihan dan pemberian edukasi karena dianggap sebagai tempat rujukan pertama pelayanan Kesehatan. Edukasi yang dilakukan dapat meningkatkan pengetahuan kader tentang perawatan masa nifas (Grafik 1).

Pengetahuan yang memadai dapat mempengaruhi kader dalam memberikan konseling kepada masyarakat guna meningkatkan atau mengoptimalisasi derajat kesehatan masyarakat. Pemberian edukasi kepada kader sangat penting. Peningkatan pengetahuan dapat terjadi karena adanya suatu informasi baru yang disampaikan kepada kader melalui pelatihan, dimana informasi baru yang didapat merupakan pengganti pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya atau merupakan penyempurnaan dari informasi sebelumnya (Lubis, 2015).

Kesimpulan

Edukasi melalui ceramah, pemberian booklet, dan simulasi meningkatkan pengetahuan kader tentang perawatan masa nifas. Meningkatnya pengetahuan kader diharapkan dapat memberikan timbal balik dengan maksimalnya peran sebagai agen informasi dalam mengedukasi masyarakat, khususnya ibu terkait perawatan masa nifas yang baik dan benar.

Daftar Pustaka

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. (2020). Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara Tahun 2019. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kementerian Kesehatan. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak.

Lubis, Z. (2015). PENGETAHUAN DAN TINDAKAN KADER POSYANDU DALAM PEMANTAUAN PERTUMBUHAN ANAK BALITA. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(1), 65. https://doi.org/10.15294/kemas.v11i1.3473

Nurhidayah, I., Hidayati, N. O., & Nuraeni, A. (2019). Revitalisasi Posyandu melalui Pemberdayaan Kader Kesehatan. Media Karya Kesehatan, 2(2). https://doi.org/10.24198/mkk.v2i2.22703

Nurrahmaton, N., & Sartika, D. (2018). Hubungan Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Luka Perineum dengan Proses Penyembuhan Luka di Klinik Bersalin Hj. Nirmala Sapni, Amkeb Medan. Jurnal Bidan Komunitas, 1(1), 20. https://doi.org/10.33085/jbk.v1i1.3911

Nuryati, R. D. Y. S. (2017). Efektivitas Penggunaan Media Sosial terhadap Peningkatan Pengetahuan Perawatan Nifas dan Kepatuhan Kunjungan Ulang pada Ibu Nifas di Kota Bogor. Jurnal Bidan, 3(1), 234037.

Rini, S., & Kumala, F. (2017). Panduan Asuhan Nifas dan Evidence Based Practice. Deepublish.

Rodiah, S., Lusiana, E., & Agustine, M. (2017). PEMBERDAYAAN KADER PKK DALAM USAHA PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN DI KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG. Dharmakarya, 5(1). https://doi.org/10.24198/dharmakarya.v5i1.9923

Susanto, F., Claramita, M., & Handayani, S. (2017). Peran kader posyandu dalam memberdayakan masyarakat Bintan. Berita Kedokteran Masyarakat, 33(1), 13. https://doi.org/10.22146/bkm.11911

Windarti, Y., & Dewi, U. M. (2018). PENGARUH PARITAS DAN MEDIA KONSELING MASA NIFAS TERHADAP KEMAMPUAN PERAWATAN MANDIRI IBU POST PARTUM DI BPM VIVI SURABAYA. Journal of Health Sciences, 11(1). https://doi.org/10.33086/jhs.v11i1.547

Wulandari, S. R. (2011). Asuhan Kebidanan Ibu Masa Nifas. Gosyen Publishing.Yuliana, W., & Hakim, B. N. (2020). Emodemo Dalam Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia.

Pernyataan

Ucapan terima kasih

 

Terima kasih kami ucapkan kepada Poltekkes Kemenkes Kendari yang telah mensponsori dana. Terima Kasih juga kepada Pemerintah Kecamatan Soropia, Puskesmas Soropia dan Bidan Yusnita yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Pendanaan

Pengabmas didanai oleh DIPA Poltekkes Kemenkes Kendari.