Peningkatan Kualitas Pelayanan KIA Melalui Sosialisasi Pijat Oksitosin

Terhadap Kelancaran Pengeluaran ASI



Kata Kunci:

Pijat oksitosin;

Wanita usia subur; ASI.


Abstrak

Sekitar 30 ribu kematian bayi di Indonesia menurut UNICEF dapat dihindari dengan pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif. Pemberian ASI esklusif dapat menyelamatkan 1,3 juta jiwa penduduk dunia. Pijat oksitosin pada ibu nifas akan merangsang produksi hormon oksitosin yang bermanfaat dalam memperlancar ASI. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan wanita usia subur (WUS) agar memahami tentang manfaat pijat oksitosin yang efektif terhadap kelancaran pengeluaran ASI. Metode yang digunakan adalah ceramah dan simulasi. Kegiatan ini melibatkan bidan Puskesmas Soropia dan 15 WUS di Desa Atowatu Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. Hasil kegiatan menunjukkan mayoritas peserta memiliki skor pengetahuan pre-test kategori kurang (86,7%) dan setelah diberikan sosialisasi sebagian besar peserta memiliki skor pengetahuan post-test baik (93,3%). Hasil pengabdian memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan WUS setelah mendapatkan sosialisasi pijat oksitosin. Kegiatan ini bermanfaat untuk meningkatkan pelayanan KIA terkait kesehatan ibu nifas dan bayi dalam mendukung pemberian ASI melalui pijat oksitosin yang efektif dalam melancarkan produksi ASI.



Keywords:

Oxytocin massage;

women of childbearing age; breast milk.

Abstract

According to UNICEF, around 30 thousand infant deaths in Indonesia can be avoided by giving exclusive breastfeeding. Exclusive breastfeeding can save 1.3 million people in the world. Oxytocin massage in postpartum mothers will stimulate the production of the hormone oxytocin which is useful in facilitating breastfeeding. The aim of the activity is to increase the knowledge of women of childbearing age (WUS) in order to understand about the benefits of oxytocin massage which is effective for the smooth expulsion of breast milk. The methods used are lectures and simulations. This activity involved midwives from the Soropia Public Health Center and 15 WUS in Atowatu Village, Soropia District, Konawe Regency. The results of the activity showed that the majority of participants had a poor pre-test knowledge score (86.7%) and after being given socialization most of the participants had a good post-test knowledge score (93.3%). The results of the dedication showed that there was an increase in WUS knowledge after receiving the oxytocin massage socialization. This activity is useful for improving MCH services related to the health of postpartum mothers and babies in supporting breastfeeding through oxytocin massage which is effective in promoting breast milk production.

PENDAHULUAN

Salah satu indikator kesehatan suatu bangsa terlihat dari tinggi rendahnya angka kematian bayi. angka kematian bayi (AKB) berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 sebesar 22,23 kematian per 1.000 kelahiran hidup (BKKBN et al., 2018). Angka kesakitan dan kematian bayi dapat dicegah dengan pemberian ASI ekslusif. Pemberian ASI eksklusif dilakukan selama 6 bulan sejak bayi lahir tanpa tambahan makanan pendamping ASI (PASI). Manfaat ASI sangat besar peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi (Indrasari, 2019). Kandungan ASI terdiri dari zat-zat yang diperlukan bayi yaitu air, asam amino, laktosa, alfa-laktoalbumin, kasein, antibodi terhadap kuman, virus, dan jamur.

Cakupan ASI eksklusif di dunia berdasarkan data World Health Organization (WHO) dan UNICEF tahun 2018 adalah 41% dan ditargetkan pada tahun 2030 akan mencapai 70% (Scorecard, 2018). Standar yang ditetapkan WHO tahun 2016 terkait pertumbuhan anak yaitu menekankan pemberian ASI ekslusif kemudian dilanjutkan dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan pendamping ASI sampai anak usia 2 tahun dan tetap menyusui (Indrasari, 2019).

Proses persalinan merupakan pengalaman pertama ibu postpartum primipara yang dapat menyebabkan stress/ cemas. Kondisi stres pada ibu primipara dapat merangsang peningkatan hormon kortisol sehingga dapat memicu penurunan kadar hormon oksitosin sehingga ASI tidak lancar dan proses laktasi tidak terjadi (Astutik, 2017).

Banyak ibu yang kecewa karena ASInya tidak lancar atau tidak keluar sehingga banyak orang tua yang terpaksa memberikan susu formula. Faktor isapan bayi dan reseptor pada duktus sangat mempengaruhi pengeluaran hormon oksitosin. Hipofisis secara refleks akan mengeluarkan oksitosin apabila duktus melebar dan lunak sehingga air susu akan diperas dari alveoli (Wulandari, 2011).

Bidan dapat melakukan beberapa upaya dalam memfasilitasi ibu dalam meningkatkan produksi ASI. Perawatan payudara dan pijat oksitosin merupakan upaya yang terbukti efektif dalam peningkatan ASI. Hal tersebut dapat merangsang pengeluaran oksitosin. Produksi hormon tersebut merangsang kontraksi sel-sel alveoli di kelenjar payudara sehingga ASI keluar (Kemenkes RI, 2020).

dr. H. M. Daris Raharjo, Akp menyatakan bahwa pada tubuh manusia seperti payudara terdapat tiga titik yang dapat memperlancar ASI yaitu titik di atas puting, titik di bawah puting, dan titik tepat pada puting. Terdapat juga titik pada punggung yang dapat merangsang pengeluaran oksitosin. Pemijatan yang dilakukan pada titik-titik di punggung yang diskenal dengan pijat oksitosin pada ibu menyusui bermanfaat untuk memperlancar keluarnya ASI.  Pemijatan tersebut juga akan memberi kenyamanan pada ibu menyusui (Astutik, 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh Hotmaria dan Wasis menunjukkan bahwa pijat oksitosin dapat memperlancar produksi ASI (Saribu & Pujiati, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Ika Nur Saputri dkk. pada ibu postpartum bahwa terdapat peluang 11,667 kali produksi ASInya cukup pada ibu yang diberikan pijat oksitosin daripada ibu yang tidak mendapatkan pemijatan tersebut (Saputri et al., 2019). Berdasarkan hal tersebut maka penting diadakan pelatihan pijat oksitosin kepada ibu dalam rangka meningkatkan cakupan ASI ekslusif sehingga terjadi peningkatan kualitas pelayanan KIA.


METODE

Metode dalam kegiatan sosialisasi ini adalah ceramah, curah pendapat, tanya jawab, praktik dan demonstrasi tentang pijat oksitosin. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) diselenggarakan oleh Tim PKM Prodi D-IV Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kendari yang didukung oleh institusi Poltekkes Kemenkes Kendari khususnya unit PPM bekerjasama dengan Kecamatan Soropia Khususnya Desa Atowatu dan Puskesmas Soropia dalam hal ini bidan koordinator Puskesmas Soropia dan bidan yang bertanggung jawab di Desa Atowatu. Sasaran kegiatan PKM adalah wanita usia subur (WUS) di Desa Atowatu yang berjumlah 15 orang. Adapun tahapan kegiatan adalah sebagai berikut:

  1. Pre-test

Peserta kegiatan yaitu WUS diminta mengisi kuesioner untuk mengukur pengetahuan awalnya tentang pijat oksitosin, mitos – mitos selama menyusui, penyebab produksi ASI rendah, upaya memperbanyak ASI

  1. Penyajian Materi

Tim pengabdian memberikan sosialisasi tentang pijat oksitosin kepada WUS. Sosialisasi diberikan berupa teori dan praktik

  1. Post Test

Pada tahap ini, peserta diminta untuk mengisi kuesioner untuk mengukur kembali pengetahuannya tentang pijat oksitosin.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2020 di Rumah Kepala Desa Atowatu dan tanggal 4 November 2020 di Balai Desa Atowatu melibatkan 15 orang peserta. Pelaksanaan kegiatan dihadiri oleh Ibu Desa Atowatu sebagai perwakilan pemerintah setempat, bidan, dan para WUS.

Kegiatan pertemuan I tanggal 27 Oktober 2020 dimulai dengan pengisian kuesioner pre-test untuk mengukur pengetahuan awal WUS tentang pijat oksitosin. Kegiatan selanjutnya adalah penyampaian materi oleh Tim Pengabdi tentang teori pijat oksitosin kemudian dilanjutkan dengan proses tanya jawab/ curah pendapat (Gambar 1). Materi dilanjutkan dengan praktik pijat oksitosin yang didemontasikan oleh Tim pengabdi dengan melibatkan mahasiswa dan bidan, setelah itu peserta diminta untuk mempraktikkan masing-masing (Gambar 2).

Gambar 1. Pemaparan Materi Pijat Oksitosin


Gambar 2. Praktik Pijat Oksitosin


Pada pertemuan II tanggal 4 November 2020, Tim pengabdi melakukan evaluasi dari hasil kegiatan pada pertemuan I dengan membagikan kuesioner post test (Gambar 3). Hal tersebut untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta terkait pijat oksitosin.


Gambar 3. Tahap Evaluasi Kegiatan

Terdapat peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam melakukan pijat oksitosin pada WUS setelah diberikan sosialisasi oleh pemateri, seperti yang terlihat pada tabel berikut:


Tabel 1. Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Sosialisasi

Pengetahuan

Baik

Kurang


Sebelum sosialisasi

2

13


Setelah sosialisasi

14

1



Gambar 4. Grafik Pengetahuan Peserta Sebelum dan Sesudah Sosialisasi


Pada tabel 1 dan gambar 4 menunjukkan bahwa mayoritas pengetahuan peserta sebelum penyuluhan/sosialisasi adalah kategori kurang. Pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi (post-test) adalah pada kategori baik. Hasil tersebut terlihat peningkatan pengetahuan peserta.

Pada hasil pengabdian menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti sosialisasi/ penyuluhan. Hasil tersebut sejalan dengan pengabdian yang dilakukan oleh Lia, Yusro dan Putri pada ibu menyusui di Poskeskel Yosorejo bahwa terdapat peningkatan pengetahuan ibu menyusui dari rata-rata 65 dan setelah diberikan penyuluhan menjadi rata-rata 95 (Andini & Wijaya, 2021).

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, peserta diajarkan cara perawatan payudara dan pemijatan oksitosin untuk meningkatkan produksi ASI. Proses pemijatan tersebut akan memicu neurotransmitter sehingga medulla oblongata merangsang hipotalamus di hipofisis posterior untuk mengeluarkan oksitosin. Pengeluaran hormon ini bermanfaat dalam memperlancar keluarnya ASI melalui kontraksi pada sel-sel alveoli di payudara (Rahayuningsih, 2020). Pijatan ini juga bermanfaat memberikan kenyamanan/ rileks kepada ibu.

Sosialisasi dalam bentuk penyuluhan/ pelatihan perawatan payudara dan pijat oksitosin dimaksudkan agar pengetahuan ibu meningkat terkait Teknik yang benar sehingga berdampak juga dalam peningkatan motivasi ibu untuk pemberian ASI ekslusif. Sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan tentang metode pijat oksitosin masih kurang, Informasi tentang pijat oksitosin dapat diperoleh melalui media cetak maupun media elektronik, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal dikarenakan terbatasnya akses untuk fasilitas tersebut mengingat Desa Atowatu Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe termasuk daerah pesisir dengan akses informasi dan jaringan Internet yang masih terbatas, Informasi pendidikan kesehatan khususnya pijat oksitosin ini hanya diperoleh dari tenaga kesehatan seperti Bidan desa.

Kegiatan pengabdian masyarakat mengenai Peningkatan Kualitas Pelayanan KIA melalui Sosialisasi Pijat Oksitosin Terhadap Kelancaran Pengeluaran ASI di Desa Atowatu Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe Propinsi Sulawesi Tenggara di Desa Atowatu Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe memberikan tambahan informasi penting pada ibu hamil dan menyusui. Semakin banyak sumber informasi yang terakses maka akan terjadi peningkatan pengetahuan yang dimiliki. Setelah diberikan sosialisasi dalam bentuk penyuluhan/ pelatiahan oleh pemateri memperlihatkan peningkatan pemahaman dan keterampilan dapat melakukan pijat oksitosin oleh WUS.


KESIMPULAN

Hasil yang telah dicapai pada saat terselenggaranya kegiatan ini adalah peningkatkan pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang efektivitas pijat oksitosin terhadap kelancaran pengeluaran ASI. Peningkatan pengetahuan setelah kegiatan diharapkan dapat meningkatkan cakupan ASI ekslusif sehingga berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan KIA.



DAFTAR PUSTAKA

Andini, L. F., & Wijaya, P. B. (2021). Penyuluhan Pijat Oksitosin Pada Ibu Menyusui di Poskeskel Yosorejo Tahun 2018. Prosiding Penelitian Pendidikan Dan Pengabdian 2021, 1(1).

Astutik, R. Y. (2017). Payudara dan Laktasi (2nd ed.). Salemba Medika.

BKKBN, Badan Pusat Statistik, Kementerian Kesehatan, & USAID. (2018). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. https://archive.org/details/LaporanSDKI2017/page/n1/mode/2up

Indrasari, N. (2019). Meningkatkan Kelancaran ASI dengan Metode Pijat Oksitoksin pada Ibu Post Partum. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, 15(1), 48–53.

Kemenkes RI. (2020). Pedoman pelayanan antenatal, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir.

Rahayuningsih, T. (2020). Perawatan Payudara dan Pijat Oksitosin (D. Dermawan (ed.)). Gosyen Publishing.

Saputri, I. N., Ginting, D. Y., & Zendato, I. C. (2019). Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Postpartum. JURNAL KEBIDANAN KESTRA (JKK), 2(1), 68–73.

Saribu, H. J. D., & Pujiati, W. (2017). Pijat Oksitosin dan Perawatan Payudara terhadap Kelancaran Pengeluaran ASI Pada Ibu Nifas. MEDISAINS, 13(1). http://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/medisains/article/view/1821

Scorecard, G. B. (2018). Enabling Women to Breastfeed through Better Policies and Programmes.

Wulandari, S. R. (2011). Asuhan Kebidanan Ibu Masa Nifas. Gosyen Publishing.