Fire Prevention and Preparedness Training in Wani Dua Village, Tanantovea Donggala District, Central Sulawesi

Authors

  • Supirno Poltekkes Kemenkes Palu, Indonesia https://orcid.org/0009-0004-5862-4833
  • Nurlailah Umar Poltekkes Kemenkes Palu, Indonesia
  • Azizah Saleh Poltekkes Kemenkes Palu, Indonesia

Keywords:

Prevention, Preparadness, Fire accident

Abstract

Fires are prone to occur in densely populated residential areas, one of the densely populated areas is Wani Dua Village, Tanantovea sub-district, Donggala Regency. Villages with densely populated settlements with houses close together and located far from the fire engine post, if a fire occurs, it will easily spread to other residents' houses which will increase the risk of loss and psychological impact. This area is the capital of the Tanantovea sub-district with an area of ??302.64 km2 located 50 km from the district capital of Donggala. The purpose of the activity is to increase the capacity of the community to prevent and control fires in settlements. The method used is socialization and simulation to the community. The activity partners of the Wani Health Center, the Police, the Head of Wani Dua Village. The Health Poltekkes Pemenkes Palu as the initiator and facilitator of the activity. The activity begins with participant identification, informed consent, pre-test then training (socialization & simulation) is carried out and then post-test is carried out to determine changes in community behavior. The number of participants was 36 people, consisting of representatives of community leaders, youth, PKK and health cadres. The results of the socialization and simulation participants were followed by 18 disaster volunteers, 5 health cadres and 1 student from the Wani Health Center staff, 3 people from the Labuan Sector Police, 3 community leaders. The number of participants 36 people who took part in the discussion and simulation lectures showed that the participants' knowledge had increased as seen from the average pre-test score of 83.3 and the post-test average value of 85.5. Conclusion Younger participants with secondary and higher education levels experienced the greatest increase. Suggestions to do with more participants by involving the younger generation.

Keywords: Prevention, Fire Preparedness

Pendahuluan

Kejadian kebakaran di perumahan merupakan masalah yang kronik dan susah dicegah. Pada perumahan yang berpenduduk padat, kejadian kebakaran lebih tinggi, (Nasution Y 2012) Kepadatan penduduk yang kurang seimbang dengan dukungan lingkungan yang memadai menjadikan suatu daerah menjadi padat dan mudah terjadi kejadian kebakaran(Sutanti. 2020). Kejadian kebakaran menjadi salah satu bentuk bencana, Kebakaran menyebabkan kerugian harta benda dan berisiko menimbulkan kematian sehingga perhatian akan keselamatan penghuni kawasan pemukiman perlu diperhatikan,(Rahmawati. 2020).

Penangulagan kebakaran memerlukan keterlibatan beberapa instansi seperti Pemadam kebakaran, Kepolisian dan kesehatan. Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan kebakaran diperlukan untuk mencegah atau mengurangi risiko akan kerugian akibat kebakaran. Mengurangi kemungkinan kebakaran pada masyarakat yang rawan dibutuhkan perencanaan program mitigasi dan kesiapsiagaan. Untuk kesiapsiagaan terhadap kejadian ini, peningkatan partisipasi aktif masyarakat berperan penting,(Pradika 2018).

Mengingat kebakaran rawan terjadi di kawasan padat perumahan, salah satu wilayah yang padat adalah Desa Wani kecamatan Tanantovea Kabupaten Donggala, dimana wilayah ini merupakan ibukota kecamatan Tanantovea dengan luas wilayah 302,64 km2 jarak 50 km dari ibu kota kabupaten.Profil Kabupaten Donggala (2019). Desa dengan pemukiman padat penduduk dengan jarak rumah berdekatan dan letaknya jauh dari pos mobil pemadam kebakaran ini bila terjadi kebakaran akan dengan mudah menjalar ke rumah warga lain yang akan memperbesar risiko kerugian dan dampak psikologis. Risiko ini bertambah besar dimana letak desa Wani jauh dari jangkauan pos mobil pemadam kebakaran.

Tujuan meningkatkat kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mengenal risiko dan penanggulangan kebakaran di lingkungan perumahan yang selanjutkan akan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam penanggulangan kebakaran di desa Wani Dua.

Metode

Kegiatan pelatihan dengan metode sosialisasi tentang risiko kebakaran di lingkungan perumahan, upaya pencegahan kebakaran dan pengenaan alat/ bahan yang dapat digunakan untuk memadamkan api selagi api masih kecil, kemudian dilanjutkan simulasi/ praktik memadamkan api menggunakan alat/ bahan sederhana yang ada disekitar, cara meminta bantuan petugas pemadam kebakaran serta penanganan bila ada korban cedera. Waktu di Desa Wani Dua, khalayak sasaran masyarakat Desa Wani Dua bersama Puskesmas Wani dan Kepolisian Sektor Labuan, Program kemitraan masyarakat (PKM)

Hasil dan Pembahasan

Kegiatan dilaksanakan tanggal 23 sampai 25 Oktober 2020, diikuti oleh 36 orang dengan karekteristik seperti dalam table berikut:

Karakteristik Peserta Jumlah
Jenis Kelamin Laki-Laki 18
Perempuan 18
Golongan Umur 20-30 11
31-40 5
>41 10
Pekerjaan PNS 3
Swasta 8
IRT 15
Mahasiswa 10
Perwakilan Kader Kesehatan 5
Relawan Bencana 18
Tokoh Masyarakat 3
PKM Wani 1
Kepolisian 3
Pemuda 4
Table 1. Distribusi Frekuensi Peserta pelatihan pencegahan dan kesiapsiagaan penanganan kebakaran di Desa Wani Dua Tanantovea Kabupaten Donggala

Peserta terbanyak adalah perwakilan relawan bencana, ada perwakilan Kader Kesehtan dan tokoh masyarakat, perwakilan Puskesmas Wani dan kepolisian.

Figure 1. Dokumentasi pelaksanaan pelatihan pencegahan dan kesiapsiagaan penanganan kebakaran

Hasil analisa data pengabdian masyarakat diperoleh gambaran bahwa dari 36 orang yang mengikuti kegiatan mengalami peningkatan kemampuan ditinjau dai rerata pre test 83,3 dan rerata post test 85,5. 3 dari antara 36 orang nilai pre tes dan post test tidak mengalami perubahan. Evaluasi selama proses selama penyampaian materi, peserta ini mereka duduk paling belakang dan kadang kurang memperhatikan, saat simulasi bersikap pasif dan cenderung menanti arahan dari temannya.

Peserta yang nilainya meningkat didukung oleh keaktifan selama sosialisasi dan simulasi, ketika dapat menyatakan pendapat dan menceritakan pengalamannya dengan baik. Mayoritas dari mereka adalah anggota satgas bencana desa Wani Dua dan kader kesehatan dengan usia lebih muda dengan tingkat pendidikan menengah dan sarjana.

Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Nasution Y, 2012, dimana masyarakat dalam mencegah kebakaran, mengikutkan anak muda dan petugas keamanan dalam pelatihan ditingkat kelurahan, menyiapkan kelompok anak muda menjadi pelopor penggerak memadamkan api, mempraktikkan tindakan yang aman saat mempergunakan alat listrik dan kompor.

Kelompok masyarakat yang terdiri dari para ibu, para anak muda, bapak-bapak, tokoh masyarakat, RT, dan RW perlu terlibat dalam pencegahan kebakaran dilingkungan pemukiman untuk kepentingan bersama. Usaha pencegahan tersebut perlu mendapat perhatian dari mitra terkait dari aparat kelurahan, kecamatan, Tim/ Dimas pemadam kebakaran untuk memudahkan koordinasi dan saling mengingatkan jika terdapat kekurangan.

Di permukiman padat penduduk, kejadian kebakaran meningkat. Di DKI Jakarta misalnya, tahun 2011 terjadi 948 kasus kebakaran, jumlah korban jiwa 18 orang.(Wardhana. et al 2018). Dibanding tahun 2010, jumlah kebakaran ini meningkat 26% dan jumlah korban jiwa meningkat pula. Mitigasi kesiapsiagaan kebakaran dibutuhkan untuk mencegah atau meminimalkan potensi dampak kebakaran. Untuk mengeliminasi risiko kebakaran pada populasi yang rentan, diperlukan perencanaan program-program mitigasi dan kesiapsiagaan. Lingkup mitigasi meliputi eliminasi risiko, reduksi risiko, dan transmisi tanggung jawab.(Nasution Y 2012)

Mitigasi berfokus pada meredam atau membatasi kemungkinan bencana dan mengurangi kerentanan masyarakat.(Rahmawati. 2020). Salah satu cara untuk mengurangi kerentanan penduduk adalah dengan meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana (Sunarti. 2014).

. Kesiapsiagaan mencakup kemampuan untuk merespon secara efektif terhadap ancaman dan dampak bencana dan pulih dengan cepat dari dampak jangka panjangnya. Partisipasi aktif penduduk memainkan peran paling penting dalam pencegahan bencana. Idealnya, penanggulangan bencana yang efektif harus melalui tiga tahapan: 2. Pertama, pencegahan atau penanggulangan dan persiapan sebelum bencana terjadi. Kedua: penyelamatan jika terjadi bencana. Ketiga, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana .

Penanggulangan bencana di Indonesia umumnya kurang efektif. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain paradigma penanggulangan bencana yang bersifat sepotong-sepotong, sektoral dan kurang terpadu, yang masih terfokus pada upaya pemerintah sebatas pemberian bantuan fisik dan hanya dilaksanakan pada saat krisis,(Nasution Y 2012).

Kegiatan sosialisasi dan simulasi pencegahan dan penanganan kebakaran di desa Wani, menjadi pelengkap upaya peningkatan kapasitas masyarakat desa dimana dari hasil analisis desa Wani Dua terdapat risiko bencana yang rawan terjadi yang pertama adalah Gempa Bumi dan masyarakat telah mendapatkan pelatihan dan peningkatan kapasitas dari LSM, yang kedua adalah banjir juga sudah pernah memperoleh pendampingan dan pelatihan penanganan banjir dan yang ketiga adalah kebakaran.

Kesimpulan

Setelah dilakukan sosialisasi terdapat peningkatan pengetahuan peserta, sebagian besar peserta aktif dari awal sampai akhir kegiatan. Saran untuk kegiatan serupa sebaiknya dengan melibatkan peserta pemuda lebih banyak

Implikasi

Implikasi ke masyarakat: semakin banyak masyarakat yang memahami tentang pencegahan kebakaran akan turut berupaya dalam mencegah terjadinya kebakaran dilingkungan sekitarnya dan dapat berespon secara tepat keika kebakaran terjadi sehingga dapat meminimalisir jumlah korban dan kerugian material.

Implikasi dalam pengembangan keilmuan: Pelatihan dengan metode sosialisasi dan simulasi ini meningkatkan pengetahuan masyarakat.

Kekurangan

Pada kegiatan ini belum bisa menghadirkan Tim Mobil Pemadam Kebakaran jadi belum bisa menetahui respon time penanganan kebakaran di pemukiman di Desa Wani Dua.

Pernyataan

Tim Pengabmas menyatakan bahwa, kegiatan ini telah benar dilakukan dan dibuat laporan sesuai dengan yang semesetinya, bila suatu saat terdapat informasi yang tidak sesuai maka tim bersedia menerima saksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Ucapan terima kasih

Terima kasih kepada Direktur Poltekkes Palu dan Kepala Pusat Penelitian & Pengabmas juga kepada Kepala Desa Wani Dua yang memfasilitasi kegiatan pengabmas ini.

Sumber dana

Dana kegiatan ini bersumber dari DIPA Poltekkes Kemenkes Palu.

Daftar Pustaka

Nasution Y. 2012. “Mitigasi Kebakaran Melalui Masyarakat.” Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional 6.

Pradika, et al. 2018. “Peran Pemuda Dalam Pengurangan Risiko Bencana Dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Wilayah Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.” Jurnal Ketahanan Nasional 24(2):261. doi: 10.22146/jkn.35311.

Rahmawati., et al. 2020. “Simulasi Bencana Pada Mahasiswa Keperawatan Dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan Penanggulangan Bencana Kebakaran.” Journal of Nursing Invention E-ISSN 2828-481X 1(1):32–37. doi: 10.33859/jni.v1i1.19.

Sunarti., et al. 2014. “Peranan Pendidikan Luar Sekolah Dalam Rangka Mitigasi Bencana.” SPEKTRUM: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) 2(2). doi: 10.24036/spektrumpls.v2i2.5044.

Sutanti., et al. 2020. “Analisis Risiko Bencana Kebakaran Di Kecamatan Tambora Kota Administrasi Jakarta Barat.” Tataloka 22(2):162–74. doi: 10.14710/tataloka.22.2.162-174.

Wardhana. et al. 2018. “Optimalisasi Kinerja Satuan Relawan Kebakaran (Satwankar) Di Kota Bandung.” Jurnal Ilmiah Magister Ilmu Administrasi (JIMIA) (1):49–63.

Published

2023-05-27

How to Cite

Supirno, S., Umar, N., & Saleh, A. (2023). Fire Prevention and Preparedness Training in Wani Dua Village, Tanantovea Donggala District, Central Sulawesi. Jurnal Inovasi, Pemberdayaan Dan Pengabdian Masyarakat, 3(1), e861. Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/jippm/article/view/861

Issue

Section

Articles

Citation Check