Analisis Kadar Fe pada Lemiding Tua dan Muda di Wilayah Kubu Raya Kalimantan Barat

Penulis

  • Gervacia Jenny Ratnawati Jurusan Analis Kesehatan, Poltekkes Kemenkes Pontianak, Indonesia
  • Ratih Indrawati Jurusan Analis Kesehatan, Poltekkes Kemenkes Pontianak, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.36990/hijp.v11i1.121

Kata Kunci:

Lemiding, Fe Levels, Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)

Abstrak

Lemiding (Stenochlaena palustris) merupakan salah satu jenis sayuran yang tumbuh di lahan gambut, yaitu jenis tumbuhan paku atau pakis yang termasuk dalam kerajaan plantae dan pteridophyta divisi (tumbuhan paku) yang banyak ditemukan di hutan Kalimantan khususnya Barat. Kalimantan. Lemiding merupakan salah satu tanaman yang mudah dan cepat beradaptasi dengan alam, sehingga dapat tumbuh dimana saja seperti di batang pohon, kayu lapuk atau lahan kering, padahal sayuran lokal ini akan tumbuh subur di lahan gambut karena intensitas air yang cukup memudahkan perkembangbiakan. Di wilayah Kalimantan Barat, tanaman lemiding biasanya dikonsumsi dalam dua jenis, yaitu lemiding muda (putih) dan lemiding tua (merah). Lemiding merah merupakan lemiding hijau dengan warna kemerahan, sedangkan lemiding putih merupakan lemiding hijau dengan warna pucat. Lemiding pada masyarakat Kalimantan diolah menjadi sayuran atau ditambahkan sebagai sayuran utama pada makanan khas Kalimantan Barat yaitu bubur pedas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar Fe pada Stenochlaena Palustris muda dan tua di Kabupaten Kubu Raya. Metodologi pemeriksaan yang akan digunakan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata kadar Fe pada kukang muda 0,39 mg / L dan kukang tua 0,48 mg / L. Hasil uji statistik diperoleh pengolahan data terkomputerisasi melalui uji Mann Whitney U diperoleh p value 0,038 p <0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yang berarti terdapat perbedaan kadar Fe pada lemid muda dan lemiding tua.

Referensi

Borah, S., A.M. Baruah, A.K. Das, dan J. Borah. 2008. Determination of Mineral Content in Commonly Consumed Leafy Vegetables. Food Analytical Method. Springer Science 2(3) : 226-230.

Dent.D, 1986, Acid Sulphate Soils : a Baseline for Research And Development. International Institute for Land Reclamation and Improvement/ILRI P.O. Box 45,6700 AA Wageningen, Netherlands.

Gibson, R.S. 1994. Zinc Nutrition in Developing Countries. Nutrition Research Review 7:151-173. Di dalam : Borah, S., A.M.

Baruah, A.K. Das, dan J. Borah. 2008. Determination of Mineral Content in Commonly Consumed Leafy Vegetables. Food Analytical Method Springer Science 2(3) : 226-230.

Ho, R., T. Teai, J.-P. Bianchini, R. Lafont, and P. Rahariveloma-nana. 2010. Ferns: From traditional uses to pharmaceutical development, chemical identification of active principles. In H. Fernández,

Irawan, D., C.H. Wijaya. S.H. Limin, Y. Hashidoko, M. Osaki, dan I.P. Kulu. 2006. Ethnobotanical Study and Nurient Potency of Some Local Traditional Vegetable in Central Kalimantan. Di dalam : Mitsuru Osaki et al. (Ed). Prosiding of The International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia. Bali, Indonesia, 17-20 September 2002. Tropics Journal 15 (4) : 441-448.

Indrawati, V., I. N. Suartha, A. A. S. Kendran, & I. G. N. Sudisma. 2013. Gambaran Total Eritrosit, Hemoglobin, dan Packed Cell Volume Tikus Putih Jantan Selama Pemberian Ekstrak Pegagan. Buletin Veteriner Udayana. 5: 23-29.

Iswanto, S. 2005. Perubahan Sifat Fisik dan Kimia Gambut pada Lahan Bekas Terbakar di Tegakan Acacia crassicarpa PT. Budidaya Hutan [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Meiri D, E. 2005. Mempelajari Kandungan Mineral dan Ketersediaan Biologis (Bioavailabilitas) Fe secara In Vitro pada Sayuran Lokal Daerah Palangkaraya dan Sekitarnya [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Cahaya N, Aulia, R, & Nurlely. 2016. Efek Daun Kelakai (Stenochlaena palustris) terhadap jumlah eritrosit, bentuk eritrosit dan kadar hemoglobin (Hb) pada tikus putih. (Jurnal) Program Studi Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Notoatmodjo. S, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Sutomo, R.Y dan Arnida. 2010. Skrining Farmakologi Ekstrak Metanol Herba Lemiding (Stenochlaena Palustris) Terhadap Aktivitasnya Sebagai Antidiare. Jurnal Farmasi Universitas Lambung Mangkurat

Widjaja-Adhi, I.P.G. 1984. Masalah Tanaman di Tanah Gambut. Dalam Prosiding

Pertemuan teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. Deptan. BPPT. Bogor. Hal 49-58

##submission.downloads##

Diterbitkan

2019-06-01

Cara Mengutip

Ratnawati, G. J., & Indrawati, R. (2019). Analisis Kadar Fe pada Lemiding Tua dan Muda di Wilayah Kubu Raya Kalimantan Barat. Health Information : Jurnal Penelitian, 11(1), 8–12. https://doi.org/10.36990/hijp.v11i1.121

Terbitan

Bagian

Artikel