Hubungan Pendidikan dan Masa Kerja dengan Pengetahuan Perawat tentang Triase di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Monokwari

Authors

  • Kistan Akademi Keperawatan Batari Toja, Indonesia
  • Irfandi Rahman Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Papua, Indonesia
  • Asmawi Akademi Keperawatan RS Marthen Indey, Indonesia

Keywords:

Knowledge, Nurse, Triage

Abstract

Triage is an activity of patient screening, where they areprioritized for immediate treatment in the emergency room. This studyaims to determine the relationship between education and work experiencewith nurses' knowledge of triage in the Emergency Room of the MonokwariRegional General Hospital. The research method used was quantitativewith an analytical descriptive design and a cross-sectional approach.The sampling technique used was total sampling, with 35 samples. Theresearch results showed that through the Chi-Square test, a value of(p=0.010) ?=<0.05 was obtained. This means that there is asignificant relationship between education and nurses' knowledge oftriage in the Emergency Room of the Monokwari Regional General Hospital.However, the variable of work experience and nurses' knowledge of triageobtained a value of (p=0.194) ?=<0.05, indicating that there is norelationship between work experience and nurses' knowledge of triage inthe Emergency Room of the Monokwari Regional General Hospital. Inconclusion, nurses' knowledge in the Emergency Room about triage iscrucial for decision-making and improving patient care. Education playsa vital role in this knowledge acquisition, whether obtained throughformal or informal education.

PENDAHULUAN

Proses triase di Unit Gawat Darurat (UGD) adalah metode pengelompokan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan dan kebutuhan medis mereka. Triase membantu memastikan bahwa pasien dengan kondisi paling serius atau mendesak mendapatkan perawatan segera, sementara pasien dengan kondisi ringan mungkin harus menunggu lebih lama. Pasien yang datang ke unit gawat darurat diprioritaskan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan. Biasanya, ada sistem penilaian warna atau skor yang digunakan untuk memilah pasien, seperti warna merah untuk kondisi darurat, kuning untuk kondisi serius, hijau untuk kondisi yang stabil, dan abu-abu untuk kondisi ringan

Kehidupan pasien yang datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) dapat terancam, jika penerapan triase tidak memadai. Jika pasien diberikan perawatan berdasarkan urutan kedatangan tanpa dilakukan penilaian sebelumnya untuk menentukan tingkat kegawatan penyakit atau tanpa melalui triase terlebih dahulu, hal ini dapat menyebabkan penundaan intervensi pada pasien dengan kondisi kritis yang berpotensi berakibat fatal

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) kematian di rumah sakit sering terjadi dalam 24 jam setelah masuk. Banyak dari kematian ini dapat dicegah jika segera teridentifikasi setelah mereka tiba di fasilitas kesehatan dan pengobatan segera dimulai . Penerapan sistem triase dapat bervariasi di berbagai negara atau rumah sakit. Penggunaan sistem triase yang tepat membantu mengoptimalkan pelayanan di UGD dengan memastikan prioritas perawatan sesuai dengan tingkat kegawatdaruratan pasien

Di Indonesia sebagai Negara berkembang, belum ada standar nasional mengenai sistem triase, sehingga setiap rumah sakit mungkin memiliki pendekatan yang berbeda dalam menerapkannya Menurut data Kementerian Kesehatan RI (2018), menyebutkan bahwa kunjungan pasien di Instalasi gawat darurat di Instalasi Gawat Daurat (IGD) meningkat tiap tahunnya, peningkatan terjadi sekitar 30% di seluruh Instalasi Gawat Daurat (IGD) rumah sakit dunia. Berdasarkan data kunjungan pasien masuk di Instalasi Gawat darurat (IGD) di Indonesia sebanyak 4.402.205 pasien (13,3%) dari total kunjungan di Rumah Sakit Umum dengan jumlah kunjungan 12% dari kunjungan berasal dari rujukan .

Data yang biasanya diambil selama proses triase meliputi jumlah pasien yang mendapat setiap kode warna, waktu tunggu untuk pelayanan medis, jumlah pasien yang dievaluasi dalam periode tertentu, dan hasil akhir pasien (rawat inap, pulang, atau dirujuk ke fasilitas lain .

Berdasarkan hasil penelitian , di dapatkan bahwa penerapan triase kurang baik sebanyak 60%. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentang hubungan tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan triase di IGD RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar menunjukkan bahwa sebanyak 72,7% penerapan triase pada perawat di IGD bedah dengan tingkat pengetahuan rendah dan penerapan triase tidak sesuai

Menurut , factor-faktor yang mempengaruhi akurasi pengambilan keputusan perawat dalam pelaksanaan triage dibagi menjadi dua factor yaitu factor internal yang terdiri dari pengetahuan, pengalaman kerja dan pelatihan dan factor eksternal seperti lingkungan kerja dan beban kerja. Faktor paling dominan yang mempengaruhi peningkatan akurasi pengambilan keputusan perawat adalah pengetahuan tentang triase. sehingga untuk meningkatkan hal dengan menempuh pendidikan dan pelatihan triase. sedangkan pendapat lainnya menyebutkan tingkat pengetahuan perawat ketepatan dalam penerapan triase juga dipengaruhi oleh beban kerja, pelatihan, dan lama masa kerja atau pengalaman yang dimiliki oleh perawat Instalasi Gawat Darurat .

Hasil observasi awal yang dilakukan di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Manokwari, menunjukan bahwa triase selama ini tidak dilaksanakan secara maksimal karena kurangnya pengetahuan perawat terhadap pelaksanaan triase. Selain itu, peneliti juga menemukan pelaksanaan triasedi Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum BLUD Manokwari tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP), hubungan pengetahuan triase dimana pasien masuk tidak sesuai triase, langsung melalui prioritas 1,2 dan 3. Maka, terjadi kesalahan dalam menentukan prioritas mana yang harus didahulukan.

Penelitian ini dapat memberikan informasi dan edukasi bagi Perawat serta menjadikan dasar bagi Rumah Sakit untuk membuat kebijakan terkait dengan peningkatan pengetahuan terutama bagi perawat di Ruang Instalasi gawat darurat. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan antara Tingkat pendidikan dan lama kerja dengan Pengetahuan perawat tentang triase. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Pendidikan dan Masa Kerja dengan Pengetahuan Perawat tentang Triase di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Monokwari”.

METODE

Desain penelitian yang digunakan yakni jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dengan menjelaskan hubungan antar Variabel Independen yaitu tingkat pendidikan dan masa kerja dengan variabel dependen yaitu pengetahuan perawat tentang triase di ruang Instalasi Gawat Darurat. Kategori dalam tiap variabel di bagi menjadi dua kategori seperti pada variabel Tingkat pendidikan dikatakan tingkat pendidikan rendah jika dibawah Diploma III dan dikatakan tinggi jika Diatas Sarjana, untuk variabel masa kerja dikatakan Singkat jika dibawah lima tahun dan dikatakan lama jika diatas lima tahun. Sedangkan untuk variabel dependen yaitu pengetahuan dikatakan baik tentang triase jika hasil diatas nilai median dan dikatakan kurang jika hasil dibawah nilai median.

Penelitian ini dilakukan di Ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Monokwari yang terletak di Jl. Bhayangkara no.1 kecamatan Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Waktu Penelitian pada bulan Januari – Maret 2023. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perawat yang bertugas di Ruang Instalasi Gawat Darurat di buktikan dengan SK Penugasan. Sebanyak 35 perawat yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan univariat pada tiap-tiap variabel untuk mengetahui distribusi masing-masing variabel dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel independen dengan variabel dependen. Uji statistic SPSS Versi 20.0 yang digunakan adalah uji Chi-square.

HASIL

No. Pendidikan ? %
1 Rendah 27 77,1
2 Tinggi 8 22,9
Jumlah 35 100
Table 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan perawat di Ruang Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Monokwari

Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulkan bahwa dari 35 respondenterdapat 27 (77,1%) responden yang memiliki pendidikan rendah danterdapat 8 (22,9%) responden yang memiliki pendidikan tinggi.

No. Masa Kerja ? %
1 Singkat 17 51,4
2 Lama 18 48,6
Jumlah 35 100
Table 2. Distribusi Frekuensi Masa kerja perawat di Ruang Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Monokwari

Berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan bahwa dari 35 respondenterdapat 17 (51,4,1%) responden yang memiliki masa kerja kategorisingkat dan terdapat 18 (48,6%) responden yang memiliki Masa kerjalama.

No. Pengetahuan ? %
1 Kurang 19 54,3
2 Baik 16 45,7
Jumlah 35 100
Table 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan perawattentang triase di Ruang Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Monokwari

Berdasarkan tabel 3 dapat disimpulkan bahwa dari 35 respondenterdapat 19 (54,3%) responden yang memiliki pengetahuan tentang triasedengan kategori kurang dan terdapat 16 (45,7%) responden yang memilikipengetahuan tentang triase dengan kategori baik.

Tingkat Pendidikan Pengetahuan p value
Baik Kurang Total
n % n % n %
Rendah 9 25,7 18 51,4 27 77,1 0,010
Tinggi 7 20 1 2,9 9 22,9
Total 16 45,7 19 54,3 35 100
Table 4. Distribusi Uji Chi-square hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan perawat tentang triase Ruang Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Monokwari

Berdasarkan tabel 4 hasil uji statistic menggunakan Chi-square, antara variabel Pendidikan dan variabel Pengetahuan perawat diperoleh nilai p=0,010 ?<0.05 yang berarti bahwa terdapat hubungan antara Pendidikan dengan Pengetahuan tentang Triase di Ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Monokwari.

Hasil Penelitian ini sejalan dengan Penelitian oleh Saeedi et al. (2019) di Iran menemukan bahwa petugas triase di unit gawat darurat yang memiliki tingkat pendidikan formal yang lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang sistem triase. Artinya, petugas triase yang memiliki gelar sarjana atau pendidikan lanjutan cenderung memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang penilaian triase dan langkah-langkah pengelolaan kasus darurat .

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Kim et al. (2018), ditemukan bahwa tingkat pendidikan petugas triase berhubungan dengan keputusan triase yang diambil dan akibatnya pada disposisi pasien. Petugas triase dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung membuat keputusan triase yang lebih tepat dan memprioritaskan pasien dengan tingkat kegawatdaruratan yang lebih tinggi dengan lebih efisien.

Pendidikan berhubungan dengan tingkat pengetahuan tentang triase karena melalui pendidikan formal dan pelatihan khusus, petugas triase mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memahami dan mengaplikasikan sistem triase dengan baik di unit gawat darurat. Seperti Kemampuan Analisis dan Pemikiran Kritis, Petugas triase dengan pendidikan formal dan pelatihan tambahan yang lebih tinggi cenderung lebih terampil dalam menganalisis kasus-kasus darurat secara komprehensif dan dengan cepat mengambil keputusan yang tepat.

Menurut pendapat Nursalam (2018), Pendidikan merupakan salah satu unsur yang berhubungan dengan perilaku aseretif seseorang. Rendahnya tingkat pendidikan seorang perawat akan mempengaruhi perilaku serta kemampuannya dalam mengambil keputusan, pengemabngan kratifitas dan pemecahan masalah khususnya terhadap penanganan pasien yang membutuhkan tindakan atau pertolongan.

Menurut asumsi peneliti menjelaskan bahwa pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan, maka seseorang yang berpendidikan tinggi akan semakin luas pengetahuannya, namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah, hal ini dapat disebabkan karena pengetahuan bukan saja diperoleh pada pendidikan formal saja, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan informal

Masa Kerja Pengetahuan p value
Baik Kurang Total
n % n % n %
Singkat 6 17,1 11 31,4 17 48,6 0,194
Lama 10 28,6 8 22,9 18 51,4
Total 16 45,7 19 54,3 35 100
Table 5. Distribusi Uji Chi-square hubungan Masa kerja dengan pengetahuan perawat tentang triase Ruang Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Monokwari

Berdasarkan tabel 5 hasil uji statistic menggunakan Chi-square, antara variabel masa kerjadan variabel Pengetahuan perawat diperoleh nilai p=0,194 ?>0.05 yang berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara Masa kerja dengan Pengetahuan tentang Triase di Ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Monokwari. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya lama bekerja (p=0,772) dengan pengetahuan perawat tentang sistem triase (p>0,05).

Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh menyatakan bahwa dari 25 responden yang memiliki lama kerja lebih dari 2 tahun sebanyak 12 (48%) responden, dengan hasik uji Rank Spearman’s didapatkan nilai 0,802 > 0,05 dengan demikian disimpulkan bahwa tidak ada bukti statistic yang cukup untuk mendukung bahwa masa kerja memiliki hubungan yang bermakna dengan pengetahuan tentang triase . Hal ini di dukung oleh teori Robin (2007) yang mengatakan bahwa tidak ada alasan yang meyakinkan bahwa orang-orang yang lebih masa kerjanya lebih broduktif dalam bekerja dan memiliki motivasi tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja singkat.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara masa kerja dengan pelaksanaan triase di IGD RSUD dr. Abdul Rivai Berau, dengan nilai 0,565 > 0,05. Hal ini di jelaskan bahwa Masa kerja memungkinkan berkembanganya pengetahuan perawat karena beragam kasus pasien ditemui semasa kerja di rumah sakit. Masa kerja juga salah satu faktor mempengaruhi pengetahuan perawat dimana masih rendahnya pengetahuan perawat meskipun masih bergantung dari beragamnya kasus yang sering ditanganin oleh perawat dalam menggunakan pengalamannya sebagai proses belajar dan perbaikan pelaksanaan triase.

Menurut menjelaskan bahwa masa kerja perawat sebagian sudah memiliki masa kerja yang relative lama yaitu di atas lima tahun. Petugas triase yang telah bekerja dalam jangka waktu tertentu mungkin telah mengikuti pelatihan atau workshop tertentu pada awal karier mereka. Namun, siklus pelatihan tersebut mungkin berlangsung dalam rentang waktu tertentu, sehingga tidak ada kenaikan pengetahuan yang signifikan di antara petugas triase yang telah bekerja dalam waktu yang lebih lama

Hal ini menguatkan asumsi peneliti bahwa petugas triase mungkin mengalami rotasi pekerjaan di unit gawat darurat atau di ruangan lain selama masa kerja mereka. Sehingga lama kerja tidak menjadi factor yang mempengaruhi pengetahuan secara signifikan. Selain itu, kemampuan belajar dan motivasi untuk terus meningkatkan pengetahuan tentang triase mungkin beragam diantara petugas triase dan hal ini dapat menyebabkan variasi dalam pengetahuan mereka, terlepas dari lama kerja serta tidak semua petugas di Unit gawat darurat memeliki peran sebagai petugas triase dengan intensitas yang sama. Perbedaan dalam tanggung jawab dapat mempengaruhi fokus dan tingkat pengetahuan tentang triase.

KESIMPULAN DAN SARAN

Adanya hubungan antara pendidikan dan pengetahuan perawat tentang triase. Pengetahuan perawat di Ruang Instalasi Gawat Darurat tentang triase sangat penting untuk pengambilan keputusan sehingga dapat meningkatkan pelayanan Pendidikan sangat erat kaitannya dengan pengetahuan, Pendidkan tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pendidiikan informal.

Diharapkan Penelitian ini dapat memberikan informasi dan kesadaranbagi Perawat serta menjadikan dasar bagi Rumah Sakit untuk membuatkebijakan terkait dengan peningkatan pengetahuan melalui pendidikanformal dan pelatihan bagi perawat di Ruang Instalasi gawat darurat.

DAFTAR PUSTAKA

Gilboy N, Tanabe P, Travers D, Rosenau A. Emergency severity index(ESI): a triage tool for emergency department care. Version 4. Rockville, MD: Agency for Healthcare Research and Quality; 2011.2019.

Hinson JS, Martinez DA, Cabral S, et al. Triage performance in emergency medicine: a systematic review. Annals of emergency medicine. 2019;74(1):140-152.

WHO. Managing epidemics: key facts about major deadly diseases: World Health Organization; 2018.

Smith SW, Dodd KW, Henry TD, Dvorak DM, Pearce LA. Diagnosis of ST-elevation myocardial infarction in the presence of left bundle branch block with the ST-elevation to S-wave ratio in a modified Sgarbossarule. Annals of emergency medicine.2012;60(6):766-776.

Kemenkes. Pedoman Penyelenggaraan Instalasi GawatDarurat. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan: KementerianKesehatan Republik Indonesia; 2018.

Fernandes CM, Tanabe P, Gilboy N, et al. Five-level triage: a report from the ACEP/ENA Five-level Triage Task Force. Journal of Emergency Nursing. 2005;31(1):39-50.

Sari MP, Rasyid TA, Lita L. Gambaran Pelaksanaan Triase di InstalasiGawat Darurat (IGD) RSUD Raja Musa Sungai Guntung Kabupaten IndragiriHilir. Jurnal Keperawatan Hang Tuah (Hang Tuah NursingJournal). 2022;2(2):194-204.

Asrullah, Nurhaeni. Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat DenganPenerapan Triage di IGD RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR.Jurnal STIKES Panakkukang Makasar. 2019.

Arianto, Sugeng P. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi AkurasiPengambilan Keputusan Perawat Dalam Pelaksanaan Triage Di InstalasiGawat Darurat Rsud Dr. Saiful Anwar Malang. RepositoryUniversitas Brawijaya. 2015.

Andriana AD, Hidayah N, Margono M. Analisis Tingkat Pengetahuan PerawatTerhadap Penggunaan Triase Emergency Severity Index (ESI) Di InstalasiGawat Darurat RSUD Temanggung. Paper presented at: Prosiding UniversityResearch Colloquium, 2023.

Saeedi M, al e. Knowledge of triage among emergency department staff in a public teaching hospital in Iran. World Journal of Emergency Medicine. 2019; 10 (2):115-121.

Kim JH, al e. Factors affecting triage decision and its association with patient disposition in emergency department. PLoS ONE.2018;13 (9:e0203410.

Barry D, al. e. Assessment of Knowledge and Practice of Triageamong Nurses in Emergency Departments of Selected Hospitals of AddisAbaba, Ethiopia. Nursing Research and Practice, 2017, 7649315.Ethiopia: Nursing Research and Practice, 2017, 7649315.; 2017.

Nursalam. Aplikasi dalam Praktik KeperawatanProfesional. Jakarta: Salemba Medika.; 2013.

Rosita I. Faktor Faktor yang Berhubungan dengan TingkatPengetahuan Perawat Tentang Sistem Triase di UGD RS Swasta XBekasi, STIK Sint Carolus; 2018.

Zulfikriyah T. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Masa KerjaPerawat Terhadap Pelaksanaan Triage Di Instalasi Gawat Darurat RumahSakit Umum Kabupaten Jombang, Universitas Brawijaya; 2016.

Baso KA, Andrianur F. Factors Associated with the Implementation of Triage by Nurses in the Emergency Room at Dr. Abdul Rivai Berau.Formosa Journal of Applied Sciences.2023;2(5):681-692.

Hardy A, Calleja P. Triage education in rural remote settings: A scoping review. International emergency nursing.2019;43:119-125.

Published

2023-08-31

How to Cite

Kistan, K., Rahman, I., & Asmawi, A. (2023). Hubungan Pendidikan dan Masa Kerja dengan Pengetahuan Perawat tentang Triase di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Monokwari. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), e1031. Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/1031

Issue

Section

Original Research

Citation Check