Pengaruh Animasi terhadap Pengetahuan dan Persepsi Mengenai COVID-19 dan Dampaknya terhadap Imunitas Determinan Kejadian Malaria

Authors

  • Ayu Yuliani Sekriptini Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia, Indonesia
  • Zaitun Zaitun Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia, Indonesia
  • Peni Cahyati Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia, Indonesia
  • Tetet Kartilah Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia, Indonesia
  • Meri Meri Universitas Bakti Tunas Husada, Tasikmalaya, Indonesia, Indonesia

Keywords:

Animasi, Pengetahuan, Persepsi, Imunitas

Abstract

There are many factors to prevent Covid-19 as early as possible. The first step that the government or health workers can take is to provide good knowledge and understanding about Covid-19. This is because good knowledge and perception can have a positive impact on a person's immunity. This study used a quantitative method with pre and post group design. A sample of 30 people through a random sampling technique. The research instrument consisted of knowledge and perception questionnaires, as well as anxiety. The data analysis technique used the Wilcoxon test to see the difference before and after the treatment given, namely the provision of the animation. The results of the processing and analysis carried out concluded that there were significant differences in knowledge and perceptions before and after being given animation. Another result is the result of good knowledge and anxiety about COVID-19 being able to control anxiety so that it affects a person's immunity during the COVID-19 pandemic.

PENDAHULUAN

Akhir 2019 dunia dikejutkan dengan adanya infeksi yang diakibatkan oleh Virus yang terjadi di Wuhan China (Pradana, Rubiyanti, et al., 2020; Olivia et al., 2020). Indonesia sendiri mengumumkan kasus pertamanya pada bulan Maret 2020 yang diduga terpapar karena berinteraksi dengan orang dari luar Indonesia di Jakarta (Syah, 2020;Buana, 2020). Sejak Indonesia mengumkan kasus pada bulan Maret setiap hari orang yang terpapar semakin banyak dan mengakibatkan tenaga medis yang menjadi garda terdepan banyak yang terpapar juga. Sampai dengan Februari 2021 kasus positif Indonesia mencapai lebih dari 1 juta orang, dengan tingkat kematian yang tinggi jika dibandingkan dengan negara yang berada di Wilayah Asia Tenggara.

Pemerintah tidak lantas diam dengan keadaan wabah yang hari ini dijadikan sebagai pandemic global oleh WHO (Tasri & Tasri, 2020;Olivia et al., 2020). Beberapa kebijakan dilakukan mulai dari pembatasan sosial di kota kota yang tingkat penyebaran Covidnya tinggi terutama di Ibu kota Provinsi. Sekolah yang daerahnya ada kasus positif terpaksa diliburkan, Jakarta menjadi ibu kota provinsi yang mengumumkan sekolah dan bekerja di lakukan di rumah saja (Rasmitadila et al., 2020;Syah, 2020). Sektor sektor umum yang vital mengalami kelumpuhan dikarenakan pandemic merubah jam kerja dan jam operasional beberapa pelayanan umum di batasi (Syah, 2020;Telaumbanua, 2020).

WHO memberikan peringatan bahwa angkat kematian akibat Covid-19 ini tinggi dengan tenaga kesehatan yang terpapar juga sangat tinggi (Olivia et al., 2020). Perlu langkah serius dari pemerintah Indonesia untuk memulihkan keadaan, dan jika melihat kondisi real di lapangan fasilitas kesehatan sangat terbatas dan penuh dengan kasus kasus Covid-19 yang silih berdatangan. Tempat isolasi pasien juga penuh, sehingga pemerintah Indonesia membuat kebijakan orang yang terpapar tanpa gejala bisa melakukan isolasi mandiri di rumah (Abdullah, 2020; Agustino, 2020; Buana, 2020;Suwantika et al., 2020).

Banyak faktor untuk dapat melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap Covid-19. Langkah awal yang dapat dilakukan pemerintah atau petugas kesehatan adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai Covid-19 dan bahaya yang dapat ditimbulkan dari Covid-19 tersebut (Ganing et al., 2020;Lake, 2020). Faktanya di kalangan masyarakat terutama daerah masih ada sekelompok masyarakat yang tidak memahami Covid-19 dengan baik, bahkan terkadang acuh dengan bahaya Covid-19. Hasil studi awal dari peneliti mengenai pengathuan Covid-19 ini adalah didapati kelompok masyarakat yang perlu diberikan pemahaman yang lebih mengenai Covid-19 ini sehingga kelompok ini benar-benar memahami dengan baik mengenai bahaya Covid-19.

Pengatahun pada dasarnya adalah kemampuan seseorang dalam menerima informasi yang berasal dari luar atau dengan kata lain dari lingkungan (Azlan et al., 2020; Utami et al., 2020). Pengetahuan mengenai Covid-19 bisa berasal dari berita yang dimuat oleh televisi atau media sosial yang justru lebih gencar memberikan informasi mengenai Covid-19. Namun permasalahannya adalah seering kali pengetahuan yang didapatkan tidak utuh sehingga membuat orang lebih cemas ketika mendengar Covid-19 dikarenakan informasi jumlah yang terpapar dan kematian karena Covid-19.

Pengatahuan yang baik mengenai Covid-19 ini perlu diberikan dengan cara memberikan pemahaman yang sesuai dengan kelompok masyarakat tersebut dan dilakukan secara sistematis dan menggunakan media yang baik sehingga pengetahuan masyarakat mengenai Covid-19 ini menjadi lebih sederhana dan membuat seseorang menjadi lebih waspada terhadap bahaya dari Covid-19 itu sendiri. Beberapa hal yang perlu diberikan agar masyaraka memahamai dengan baik mengenai Covid-19 ini adalah penyebaba Covid-19, karakteristik virus, tanda dan gejala yang dapat di terlihat jika seseorang terpapar oleh Covid-19 (Lake, 2020; Meng et al., 2020; Saputra & Simbolon, 2020).

Persepsi menjadi faktor penting disamping pengetahuan dalam memahami Covid-19 dengan baik (Heny Triyaningsih, 2020; Lopez et al., 2020). Persepsi sendiri merupakan keadaan psikologis sosial seseorang dalam memandang suatu hal. Arus informasi yang sangat deras dan tidak bisa dibentung terutama dari media sosial akan membuat persepsi seseorang terhadap Covid-19 bisa keliru bahkan lebih dari itu bisa membuat kecemasan yang tinggi terhadap seseorang mengenai Covid-19. Padahal kecemasan yang tinggi dapat menurunkan imunitas seseorang (Dryhurst et al., 2020; Fatmawati & Hendrayani, 2020).

Persepi timbul karena adanya pemberian makna terhadap informasi yang terlihat dan direspon oleh otak (Jiwandono et al., 2020). Informasi ini merupakan stimulus yang akan memberikan persepsi yang berbeda beda pada objek yang kita lihat. Beberapa orang akan memberikan persepsi dan pemahaman yang baik mengenai Covid-19 tetapi ada sebagian kelompok masyarakat yang bisa memberikan persepsi yang berlebihan terhadap Covid-19 sehingga perlu adanya edukasi agar masyarakat dapat teredukasi dengan baik mengenai Covid-19 ini.

Perlu disadari atau tidak pembentukan persepsi yang salah terhadap Covid-19 akan berdampak kurang baik terhadap orang terebut. Kita ambil contoh seseorang yang mempersepsikan Covid-19 sebagai sesuatu hal yang biasa maka di dalam dirinya dia kurang menghiraukan protokol kesehatan sehingga dia abai dan acuh terhadap protokol kesehatan ini. Berbeda dengan seseorang yang memandang dan berpersepsi bahwa Covid-19 ini adalah nyata dan bisa ditularkan dari manusia ke manusia maka dia dengan segala keyakinannya akan menjaga dirinya agar tidak tertular dari Covid-19 sehingga dia menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Oleh karena itu, persepsi menjadi bagian yang penting dalam pencegahan penularan Covid-19 terutama bagi masyarakat yang belum tersampaikan informasi Covid-19dengan baik (Barrios & Hochberg, 2020; Wuryaningrat et al., 2020).

Media menjadi bagian terpenting dalam pembentukan pengetahuan dan persepsi seseorang. Media dalam arti sederhana merupakan perantara yang bisa digunakan agar informasi yang diberikan menjadi lebih mudah dipahami (Andriany et al., 2016; Hoyek et al., 2014; Sinor, 2011). Media sebagai pengantar antara yang memberikan informasi atau infomran kepada yang mendapatkan informasi menjadi menarik dan penting dikarenakan media dapat digunakan kapan saja dan dimana saja. Media yang dirancang dengan baik akan memberikan kesan penyampaian materi menjadi mudah diterima bagi penerima informasi. Salah satu media informasi yang dapat digunakan dalam masa pandemic Covid-19 adalah media animasi (Shaheen et al., 2018; Vernon & Peckham, 2002).

Media Animasi adalah multimedia yang dirancang agar dapat di ulang ulang penggunaannya. Media animasi dapat dirancang dengan baik mulai dari materi yang telah disiapkan dengan animasi yang digunakan agar dapat menarik perhatian orang. Media animasi dalam penyampaian materi kesehatan banyak digunakan dan berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan seseorang dalam memahami materi yang disajikan (Fan et al., 2015; Levin et al., 2016). Animasi yang digunakan tentu harus memenuhi kriteria kelayakan sehingga benar benar dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang dalam memahami informasi tersebut.

Penelitian ini berfokus bagaimana pembuatan animasi dalam rangka memberikan pemahaman yang baik mengenai Covid-19 kepada masyarakat sehingga pengetahuan masyarakat persepsi masyarakat terhadap Covid-19 dapat dipahami dengan baik. Animasi dirancang dan dibuat secara online melalui website animake sehingga lebih mudah dalam penggunaannya dan dalam pembuatannya. Animasi yang ditampilkan dibuat sederhana dan materi yang ditampilkan juga dibuat semudah mungkin agar dapat dipahami pesan yang akan disampaikan.

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh (Hoyek et al., 2014; Wohl et al., 2010) menyimpulkan bahwa animasi yang dibuat dalam bentuk 2D dan 3D dapat memaksimalkan pengetahuan seseorang dalam memahami informasi yang didapat. Pemberian informasi ini menjadi penting agar tidak salah persepsi pemberi informasi kepada orang yang menerima informasi tersebut.

Pengetahuan dan persepsi yang diberikan melalui media animasi diharapkan mampu memberikan informasi yang baik sehingga pengetahuan dan persepsi terhadap Covid-19 dapat menjadi baik. Ketika pengetahuan dan persepsi sesorang menjadi baik tentu akan menurunkan tingkat kecemasan seseorang terhadap Covid-19 yang berakibat kepada daya tahan tubuh yang lebih baik dalam artian bahwa imunitas seseorang yang memiliki pengetahuan dan persepsi yang baik dapat memberikan imunitas yang baik. Melalui penelitian ini diharapkan pengetahuan dan persepsi seseorang dapat menjadi lebih baik terhadap Covid-19 dan berdampak terhadap imunitas seseorang agar tidak terpapar oleh Covid-19 tersebut.

METODE

Penelitian ini menggunakan metode kuantitaf dengan desain pre and post grup design. Masyarakat yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berada di wilayah Kecamatan Cikalang Kota Tasikmalaya. Total populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 250 orang remaja yang berusia antara 17-30 tahun, dan kemudian di ambil menjadi 30 sampel melalui random sampling. 30 orang ini akan mendapat perlakukan berupa pemberian animasi untuk memberikan informasi mengenai Covid-19 ini. Sebelum dilakukan perlakuan terlebih dahulu 30 orang ini diukur pengetahuan dan persepsi sehingga benar benar peneliti dapat melihat pengaruh dari media animasi ini setelah perlakuan yang diberikan yaitu pemberian animasi tersebut. Teknik analisis data menggunakan uji Wilcoxon untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan yang diberikan yaitu pemberian animasi tersebut. Setelah dilakukan analisis data terdpaat perbedaan yang signifikan maka dapat dikatakan bahwa itu merupakan dari pengaruh media animasi yang digunakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan penelitian ini diawali dengan pembuatan aniasi yang dibuat oleh tim peneliti. Media adnimasi dibuat secara online melalui website animaker. Pembuatan animasi ini bertujuan agar pengetahuan dan persespsi masyarakat terhadap Covid-19 dapat lebih baik sehingga masyarakat menjadi terpahamkan dengan baik mengenai Covid-19 dengan tujuan agar imunitasi masyarakat menjadi lebih baik karena tingkat kecemasan berkurang.

Figure 1. Tampilan Awal Media Animasi “Yuk KenaliCovid-19”

Tampilan awal merupakan deskripsi dari animasi yang dibuat, yaitu Yuk Kenali Covid-19 dengan pengembang adalah peneliti sendiri. Animasi dibuat secara online melalui website animaker desain menggunakan fasilitas yang disediakan oleh animaker yang dapat diakses oleh semua penggunaan. Yuk Kenali Covid-19 dibuat dengan harapan judulnya mudah dipahami dan isinya dibuat ringan dan sederhana sehingga orang bisa langsung memahami maksud dari animasi yang dibuat yaitu memberikan pemahaman yang baik mengenai Covid-19 sehingga menurunkan tingkat kecemasan seseorang akibat kesalahan dalam mendapatkan informasi mengenai Covid-19 ini. Berikut ini materi yang dibuat sederhana, sehingga dapat menarik pembaca untuk memahami dengan baik mengenai Covid-19 ini.

Figure 2. Isi Media Animasi “Yuk Kenali Covid-19”

Isi materi animasi diulai dengan sejarah mengenai Covid-19 ini yaitu terjadinya Covid-19 pada tahun 2019 di kota Wuhan Cina yang ditularkan dari binatang. Sejarah menjadi penting agar masyarakat tercerahkan dengan informasi Covid-19 yang benar dan mereka memahami sedikitnya mengenai sejarah Covid-19 ini. Kemudian tampilan animasi yang dibuat sederhana dapat terlihat pada tampilan sebagai berikut:

Figure 3. Isi Media Animasi “Yuk Kenali Covid-19”

Penularan dan gejala umum serta bagaimana pencegahan awal dari Covid-19 menjadi bagiant terpenting dalam menampilkan animasi ini. Penularan dapat memberikan pemahaman kenapa harus menjaga jarak dengan seseorang karena virus dapat ditularkan melalui dropet yaitu cairan dari mulut yang dipegang oleh orang lain sehingga dapat menularakannya ke orang lain (Abdullah, 2020; Pradana, Syahputra, et al., 2020; Tasri & Tasri, 2020). Gejala umum juga merupakan bagian dari isi animasi yang dianggap penting karena seseorang dapat melihat gejala umum orang yang terinfeksi oleh Covid-19. Terakhir adalah bagaimana cara pencegahan, mulai dari memakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan serta tidak berpergian jika tidak penting merupakan salah satu upaya agar terhindari dari penyebaran Covid-19. Animasi yang dibuat secara sederahana dapat memberikan kesan bahwa materi mudah dipahami dan sifatnya animasi dapat diulang ulang oleh orang yang memiliki animasi tersebut (Shaheen et al., 2018; Tandilangi et al., 2016). Sebelum melakukan penelitian mengenai pengetahuan dan persepsi Covid-19 melalui media animasi terlebih dahulu dilakukan pemberian kusioner melalui google form untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi awal sebelum diberikan media animasi. Hasil dari pre dan post pengetahuan setelah diberikan animasi adalah sebagai berikut:

Variabel Pre Pengetahuan Post Pengetahuan
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
Kurang 14 46.7 1 3.3
Cukup 14 46.7 17 56.7
Baik 2 6.7 12 40.0
Total 100 100
Table 1. Pre and Post Pengetahuan Mengenai Covid-19 Menggunakan Media Animasi

Tabel tersebut memberikan gambaran bahwa kriteria kurang pada pengetahuan sebelum diberikan animasi hampi mencapai 50% yaitu 46,7%, setelah diberikan animasi Covid-19 pengetahuan setelahnya berbeda sangat signifikan yaitu kriteria kurang hanya 1 orang atau 3,3%. Pada post pengathuan lebih besar berada pada kategori cukup yaitu 17 orang atau 56,7%. Data ini menujukan bahwa post pengetahuan mengalami perubahan yang signifikan akibat pemberian animasi oleh tim dengan demikian bahwa pemberian animasi dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang terhadap Covid-19. Data ini hanya bagian deskriptif dan perlu di uji secara statistik untuk menentukan apakah hipotesisnya ditolak atau diterima. Hasil mengenai pre persepsi dan post persepsi dapat tergambarkan sebagai berikut:

Variabel Pre Persepsi Post Persepsi
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
Kurang 20 66.7 1 3.3
Cukup 10 33.3 19 63.3
Baik 0 0 10 33.3
Total 100 100
Table 2. Pre and Post Persepsi Mengenai Covid-19 Menggunakan Media Animasi

Tabel 2 memberikan gambara persepsi sebelum dan sesudah diberikan animasi. Persepsi yang kurang baik terhadap Covid-19 sebanyak 20 orang atau 66,7% dari total keseluruhan sedangkan sesudah diberikan media animasi persepsi menjadi cukup sebanyak 19 orang atau 63,3%. Data tersebut menunjukan bahwa Media animasi jika disusun dengan baik dapat memberikan pengerauh terhadap pengetahuan dan persepsi seseorang terhadap objek tertentu dalam hal ini adalah Covid-19 (Adam et al., 2020; Tandilangi et al., 2016; Vernon & Peckham, 2002). Setelah dilakukan analisis deskriptif kemuadian dilakukan uji hipotesis menggunakan uji Wilcoxon dengan hasil sebagai berikut:

Variabel Uji Hipotesis
Pengetahuan Persepsi
Nilai Signifikansi 0,000 0,000
Table 3. Uji Hipotesis Pengetahuan dan Persepsi Menggunakan Media Animasi

Hasil analisis SPSS yang dilakukan oleh peneliti mendapatkan nilai signifikansi untuk pengetahuan sebesar 0,000 kemudian diikuti juga oelh persepsi nilai signifikansinya adalah 0,000. Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa telah terjadi perbedaan yang signifikan pengetahuan dan persepsi seseorang terhadap Covid-19 setelah penggunaan medi animasi. Penggunaan media animasi merupakan cara yang dapat dilakukan oleh sesorang dalam rangkan memberikan pemahaman yang baik dengan media yang tepat. Cara yang baik dikarenakan media animasi memiliki sifat fleksibel (Hoyek et al., 2014; Sinor, 2011). Fleksibel dalam artian dapat digunakan kapan saja dan dimana saja. Pengaruh animasi yang dibuat juga membuat ketertarikan seseorang ketika memahami dam mempelajari suatu hal. Animasi memberikan kesan yang berbeda bahwa materi dapat dipahami dengan baik melalui media android yang hampir sebagain orang sudah memilikinya. Media animasi yang dirancang dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman seseorang dapat memberikan kesan bahwa memahami Covid-19 bukanlah hal yang sulit dikarenakan materi yang ditampilkan sudah dibuat sesederhana mungkin.

Pengetahuan dan persepsi yang berbeda signifikan karena media animasi yang digunakan merupakan bukti bahwa media animasi cocok digunakan pada usia remaja yang dapat disampaikan melali gadget yang dimilikinya. Animasi jik diberikan terus menerus dapat berdampak terhadap pengetahuan dan persepsi yang baik sehingga membuat seseorang memahami dengan baik bahaya dari Covid-19 ini. Oleh karena itu, peneliti melakukan pengukuran kecemasan melalui google form setelah melakukan uji hipotesis keduanya. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Variabel Pre Persepsi
Frekuensi Persentase
Tidak Cemas 18 60.0
Sedikit Cemas 11 36.7
Cemas 1 3.3
Sangat Cemas 0 0
Table 4. Kecemasan Setelah Menggunakan Media Animasi

Tabel tersebut memberikan gambaran bahwa media animasi yang disusun dengan rapi membuat kecemasan menjadi lebih terkontrol. Kecemasan ini memberikan dampak yang baik agar imunitas sesorang dapat terjaga. Kecemasan yang berlebihan justru akan membuat orang tersebut malah menjadi turun kekebalannya. Hanya ada 1 orang yang cemas berdasarkan data pada tabel tersebut ini menunjukan bahwa animasi yang mempengaruhi pengetahuan dan persepsi dapat menurunkan kecemasan, sehingga imunitas seseorang dapat terjaga karena dia mampu mengenali Covid-19 dengan baik dan mampu menjaga dan mengontrol kecemasannya agar tetap normal dan tidak berlebihan (Djalante et al., 2020; Ifdil et al., 2020; Olivia et al., 2020). Kecemasan yang berlebihan akan dekan dengan tingkat stress yang berlebihan sehingga akan menurunkan tingkat kekebalan tubuh dari orang tersebut.

KESIMPULAN

Hasil dari pengolahan dan analisis yang dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pengetahuan dan persepsi sebelum dan sesudah diberikan animasi. Hasil lain adalah akibat dari pengeatahuan dan kecemasan yang baik mengenai Covid-19 dapat mengontrol kecemasannya sehingga berpengaruh terhadap imunitas seseorang dalam masa pandemic Covid-19.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, I. (2020). COVID-19: Threat and fear in Indonesia.Psychological Trauma: Theory, Research, Practice, andPolicy, 12(5), 488.

Adam, M., Bärnighausen, T., & McMahon, S. A. (2020). Design forextreme scalability: A wordless, globally scalable COVID-19 preventionanimation for rapid public health communication. Journal ofGlobal Health, 10(1), 1–4.https://doi.org/10.7189/JOGH.10.010343

Agustino, L. (2020). Analisis Kebijakan Penanganan Wabah Covid-19?:Pengalaman Indonesia Analysis Of Covid-19 Outbreak Handling Policy?: TheExperience Of Indonesia. Junal Borneo Administrator,16(2), 253–270.

Andriany, P., Novita, C. F., & Aqmaliya, S. (2016). PerbandinganEfektifitas Media Penyuluhan Poster Dan Kartun Animasi TerhadapPengetahuan kesehatan Mulut Dan Gigi. [Jds] Journal of SyiahKuala Dentistry Society, 1(1), 65–72.

Azlan, A. A., Hamzah, M. R., Sern, T. J., Ayub, S. H., & Mohamad,E. (2020). Public knowledge, attitudes and practices towards COVID-19: Across-sectional study in Malaysia. PLoS ONE,15(5), 1–15.https://doi.org/10.1371/journal.pone.0233668

Barrios, J. M., & Hochberg, Y. V. (2020). Risk Perception Throughthe Lens of Politics in the Time of the COVID-19 Pandemic. SSRNElectronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.3568766

Buana, D. R. (2020). Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalamMenghadapi Pandemi Virus Corona (Covid-19) dan Kiat MenjagaKesejahteraan Jiwa. SALAM: Jurnal Sosial Dan BudayaSyar-I, 7(3).https://doi.org/10.15408/sjsbs.v7i3.15082

Djalante, R., Lassa, J., Setiamarga, D., Sudjatma, A., Indrawan, M.,Haryanto, B., Mahfud, C., Sinapoy, M. S., Djalante, S., Rafliana, I.,Gunawan, L. A., Surtiari, G. A. K., & Warsilah, H. (2020). Reviewand analysis of current responses to COVID-19 in Indonesia: Period ofJanuary to March 2020. Progress in Disaster Science,6, 100091.https://doi.org/10.1016/j.pdisas.2020.100091

Dryhurst, S., Schneider, C. R., Kerr, J., Freeman, A. L. J., Recchia,G., van der Bles, A. M., Spiegelhalter, D., & van der Linden, S.(2020). Risk perceptions of COVID-19 around the world. Journalof Risk Research, 23(7–8), 994–1006.https://doi.org/10.1080/13669877.2020.1758193

Fan, K. K., Xiao, P. wei, & Su, C. H. (2015). The effects oflearning styles and meaningful learning on the learning achievement ofgamification health education curriculum. Eurasia Journal ofMathematics, Science and Technology Education,11(5), 1211–1229.https://doi.org/10.12973/eurasia.2015.1413a

Fatmawati, A., & Hendrayani, S. Y. (2020). the Risk Perception ofCovid-19 in Indonesia. Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK),3(2), 103–108.https://doi.org/10.33369/jvk.v3i2.11271

Ganing, A., Salim, A., Muslimin, I., Kesehatan, J., Poltekkes, L.,Mamuju, K., Gizi, J., Kemenkes, P., Keperawatan, J., & Kemenkes, P.(2020). Studi Literatur?: Pengetahuan Sebagai Salah Satu Faktor UtamaPencegahan Penularan Covid-19 Coronavirus Disease 2019 ( Covid-19 )Pernah Diidentifikasi Sebelumnya Pada Manusia . Menimbulkan Gejala BeratSeperti Middle East Respiratory Syndrome ( Mers ) Da. JurnalKesehatan Manarang, 6, 55–60.

Heny Triyaningsih. (2020). Efek Pemberitaan Media Massa TerhadapPersepsi Masyarakat Pamekasan Tentang Virus Corona.Meyarsa, 21(1), 1–9.

Hoyek, N., Collet, C., Di Rienzo, F., De Almeida, M., & Guillot,A. (2014). Effectiveness of three-dimensional digital animation inteaching human anatomy in an authentic classroom context.Anatomical Sciences Education, 7(6),430–437. https://doi.org/10.1002/ase.1446

Ifdil, I., Fadli, R. P., Gusmaliza, B., & Putri, Y. E. (2020).Mortality and psychological stress in pregnant and postnatal womenduring COVID-19 outbreak in West Sumatra, Indonesia. Journal ofPsychosomatic Obstetrics and Gynecology,41(4), 251–252.https://doi.org/10.1080/0167482X.2020.1779216

Jiwandono, I. S., Setiawan, H., & Oktaviyanti, I. (2020).Persepsi Mahasiswa Terhadap Politisasi Corona Virus Disease (Covid-19).Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, 4(2),286. https://doi.org/10.38043/jids.v4i2.2459

Lake, M. A. (2020). What we know so far: COVID-19 current clinicalknowledge and research. Clinical Medicine, Journal of the RoyalCollege of Physicians of London, 20(2),124–127. https://doi.org/10.7861/clinmed.2019-coron

Levin, M. E., Hayes, S. C., Pistorello, J., & Seeley, J. R.(2016). Web-Based Self-Help for Preventing Mental Health Problems inUniversities: Comparing Acceptance and Commitment Training to MentalHealth Education. Journal of Clinical Psychology,72(3), 207–225. https://doi.org/10.1002/jclp.22254

Lopez, C. E., Vasu, M., & Gallemore, C. (2020). Understanding thePerception of Covid-19 Policies By Mining a Multilanguage TwitterDataset. ArXiv, 1–4.

Meng, X., Deng, Y., Dai, Z., & Meng, Z. (2020). Since January2020 Elsevier has created a COVID-19 resource centre with freeinformation in English and Mandarin on the novel coronavirus COVID- 19 .The COVID-19 resource centre is hosted on Elsevier Connect , the company’ s public news and information.Www.Elsevier.Com/Locate/Amjoto,January, 1–6.

Olivia, S., Gibson, J., & Nasrudin, R. (2020). Indonesia in theTime of Covid-19. Bulletin of Indonesian EconomicStudies, 56(2), 143–174.https://doi.org/10.1080/00074918.2020.1798581

Pradana, M., Rubiyanti, N., S, W., Hasbi, I., & Utami, D. G.(2020). Indonesia’s fight against COVID-19: the roles of localgovernment units and community organisations. LocalEnvironment, 25(9), 741–743.https://doi.org/10.1080/13549839.2020.1811960

Pradana, M., Syahputra, S., Wardhana, A., Kartawinata, B. R., &Wijayangka, C. (2020). The Effects of Incriminating COVID-19 News on theReturning Indonesians’ Anxiety. Journal of Loss andTrauma, 0(0), 1–6.https://doi.org/10.1080/15325024.2020.1771825

Rasmitadila, R., Aliyyah, R. R., Rachmadtullah, R., Samsudin, A.,Syaodih, E., Nurtanto, M., & Tambunan, A. R. S. (2020). ThePerceptions of Primary School Teachers of Online Learning during theCOVID-19 Pandemic Period: A Case Study in Indonesia. Journal ofEthnic and Cultural Studies, 7(2), 90.https://doi.org/10.29333/ejecs/388

Saputra, A. W., & Simbolon, I. (2020). Hubungan TingkatPengetahuan tentang COVID-19 terhadap Kepatuhan Program Lockdown untukMengurangi Penyebaran COVID-19 di Kalangan Mahasiswa BerasramaUniversitas Advent Indonesia. Nutrix Jurnal,4(No. 2), 1–7.

Shaheen, M., Angeles, L., Hays, R. D., Fleming, E. S., Angeles, L.,Norris, K. C., Angeles, L., & Baker, R. S. (2018). ImprovingDiabetes Health Literacy by Animation José. HHS PublicAccess, 40(3), 361–372.https://doi.org/10.1177/0145721714527518.Improving

Sinor, M. Z. (2011). Comparison between Conventional Health Promotionand Use of Cartoon Animation in Delivering Oral Health Education.International Journal of Humanities and Social Science,1(3), 169–174.

Suwantika, A. A., Boersma, C., & Postma, M. J. (2020). Thepotential impact of COVID-19 pandemic on the immunization performance inIndonesia. Expert Review of Vaccines,19(8), 687–690.https://doi.org/10.1080/14760584.2020.1800461

Syah, R. H. (2020). Dampak Covid-19 pada Pendidikan di Indonesia:Sekolah, Keterampilan, dan Proses Pembelajaran. SALAM: JurnalSosial Dan Budaya Syar-I, 7(5).https://doi.org/10.15408/sjsbs.v7i5.15314

Tandilangi, M., Mintjelungan, C., & Wowor, V. N. S. (2016).Efektivitas dental health education dengan media animasi kartun terhadapperubahan perilaku kesehatan gigi dan mulut Siswa SD Advent 02 SarioManado. E-GIGI, 4(2).https://doi.org/10.35790/eg.4.2.2016.13503

Tasri, Y. D., & Tasri, E. S. (2020). Improving clinical records:their role in decision-making and healthcare management–COVID-19perspectives. International Journal of HealthcareManagement, 13(4), 325–336.https://doi.org/10.1080/20479700.2020.1803623

Telaumbanua, D. (2020). Urgensi Pembentukan Aturan Terkait PencegahanCovid-19 di Indonesia. QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, DanAgama, 12(01), 59–70.https://doi.org/10.37680/qalamuna.v12i01.290

Utami, R. A., Mose, R. E., & Martini, M. (2020). Pengetahuan,Sikap dan Keterampilan Masyarakat dalam Pencegahan COVID-19 di DKIJakarta. Jurnal Kesehatan Holistic,4(2), 68–77. https://doi.org/10.33377/jkh.v4i2.85

Vernon, T., & Peckham, D. (2002). The benefits of 3D modellingand animation in medical teaching. Journal of VisualCommunication in Medicine, 25(4), 142–148.https://doi.org/10.1080/0140511021000051117

Wohl, M. J. A., Christie, K. L., Matheson, K., & Anisman, H.(2010). Animation-Based Education as a Gambling Prevention Tool:Correcting Erroneous Cognitions and Reducing the Frequency of ExceedingLimits Among Slots Players. Journal of GamblingStudies, 26(3), 469–486.https://doi.org/10.1007/s10899-009-9155-7

Wuryaningrat, N. F., Pandowo, A., & Kumajas, L. I. (2020).Persepsi Sosial Masyarakat Sulawesi Utara Di Saat Pandemi Covid-19.INOBIS: Jurnal Inovasi Bisnis Dan Manajemen Indonesia,4(1), 20–35.https://doi.org/10.31842/jurnalinobis.v4i1.163

Author Biographies

Zaitun Zaitun, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia

Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia

Peni Cahyati, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia

Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia

Tetet Kartilah, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia

Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Kampus Cirebon, Indonesia

Meri Meri, Universitas Bakti Tunas Husada, Tasikmalaya, Indonesia

Universitas Bakti Tunas Husada, Tasikmalaya, Indonesia

Published

2023-08-24

How to Cite

Sekriptini, A. Y., Zaitun, Z., Cahyati, P., Kartilah, T., & Meri, M. (2023). Pengaruh Animasi terhadap Pengetahuan dan Persepsi Mengenai COVID-19 dan Dampaknya terhadap Imunitas Determinan Kejadian Malaria. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), e1060. Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/1060

Issue

Section

Journal Supplement

Citation Check