Analisis Sistem Pengelolaan Rekam Medis di Puskesmas Sri Padang Tebing Tinggi
Keywords:
Management system, Medical record, Tebing TinggiAbstract
To create good medical record services, it is necessary to manage good medical records in accordance with procedures and guidelines from Permenkes No. 24 of 2022 concerning Medical Records. However, based on an initial survey research, the Sri Padang Health Center did not use electronic medical records, and according to information from the Tebing Tinggi Health Office’s Data Recording and Reporting Unit, the Sri Padang Health Center was still experiencing delays in data entry and annual data reporting. This study aims to find out how the medical record management system is at the Sri Padang Tebing Tinggi Health Center. The type of qualitative research is descriptive. The research informantsconsisted of 3 main informants: namely the head of medical records, the executor of medical records, and general practitioners, the triangulation informant was 1 person, namely the head of the puskesmas. Informant selection technique with purposive sampling. Data collection techniques with interviews and observation. Research instruments with interview guidelines. The results showed that the medical record management system at the Sri Padang Health Center had not fully used the electronic medical record system, the distribution, coding, indexing, storage, and retention activities were still not optimal, especially the placement of officers, and there were obstacles in the management process, namely inadequate storage support facilities, lack of accuracy of doctors and nurses in filling out medical records, there is no skill development for substitute medical record officers and the confidentiality of medical-records is not maintained because there is no special medical record officer.
PENDAHULUAN
Rekam medis merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan bagi pasien saat ini dan di masa yang akan datang. Penelitian medis, statistik tentang pelayanan kesehatan, dan pengelolaan dan pemrograman fasilitas dan pelayanan untuk pelayanan kesehatan semuanya menggunakan rekam medis. (WHO, 2006).
Rekam medis yang baik bukan merupakan prasyarat untuk pelayanan kesehatan yang prima. Agar pengelolaan rekam medis menjadi efektif, anggota staf harus ditempatkan pada posisi otoritas berdasarkan kemampuannya. Dalam layanan pendukung, selain kompetensi, jumlah tenaga juga penting. Ini berlaku dalam hal berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyediakan file rekam medis atau seberapa baik karyawan melakukan pekerjaannya. (Suryanto, 2020a).
Sistem pengelolaan rekam medis di Tempat kesejahteraan pada dasarnya setara dengan administrasi rekam medis klinik darurat. Bagian pendaftaran, pengolahan data, dan penyimpanan sertifikat arsip rekam medis merupakan tiga komponen yang membentuk prinsip pemeliharaan rekam medis rumah sakit. Terdapat sistem pendaftaran, sistem ranking, sistem nickname, dan sistem KIUP (Kartu Indikator Penting Bagi Penderita) dalam sistem pendaftaran. Selain itu, ada beberapa kegiatan yang terlibat dalam pengolahan informasi, antara lain assembling (menempatkan antrian untuk lapisan sertifikat rekam medis kosong), menganalisis (memeriksa semua sertifikat rekam medis), coding (penandatanganan), pengindeksan (tabulasi), penahanan dan pemusnahan, serta pelaporan rekam medis (Latarisa, 2020).
Sri Padang terletak di Jalan Taman Bahagia, Kelurahan Sri Padang, Wilayah kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi. Secara otoritatif, kegiatan Balai Kesejahteraan Sri Padang meliputi 2 sub wilayah, yaitusub wilayah Sri Padang dan sub wilayah Tanjung Marulak Hilir. KomunitasKesejahteraan Umum Sri Padang dipilih peneliti karena didasarkan pada pertimbangan yaitu pada survey awal peneliti menemukan beberapa permasalahan terkait rekam medis di Puskesmas tersebut, dimana terjadinya penurunan jumlah pasien yang berkunjung, pada tahun 2020jumlah pasien laki-laki sebanyak 2.998 dokumen dan pasien perempuanberjumlah sebanyak 4.176 dokumen. Sedangkan pada tahun 2021 jumlahpasien yang berkunjung laki-laki sebanyak 2.967 dokumen dan pasienperempuan berjumlah sebanyak 4.104 dokumen.
Sistem pelaksana rekam medis yang tidak diambil sesuai dengan teknik dan standar akan memberikan dampak buruk salah satunya yaitu terjadinya missfile atau kesalahan penempatan berkas rekam medis sehingga menyebabkan memo rekam medis kehilangan data apapun. Untuk mendukung mutu pelayanan yang diberikan oleh perangkat pelayanan kesehatan khususnya Puskesmas, setiap puskesmas memerlukan sistem pengelolaan rekam medis yang handal.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul ”Analisis Sistem Pengelolaan Rekam Medis Di Puskesmas Sri Padang Tebing Tinggi”.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Lokasi penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sri Padang, Kecamatan Rambutan Kota Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2022 sampai bulan Februari tahun 2023.
Informan dalam penelitian ini sebanyak 4 orang yaitu terdiri dari 3 orang informan utama (kepala rekam medis, pelaksana rekam medis, dan dokter puskesmas sri padang) dan 1 orang informan triangulasi (Kepala Puskesmas Sri Padang). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi. Analisa data menggunakan reduksi data, penyajian data, serta kesimpulan dan verifikasi.
HASIL
|
Kode Informan |
Umur | Jenis Kelamin | Pendidikan | Jabatan | Masa Kerja |
|---|---|---|---|---|---|
| IT | 51 tahun | Pr | S1 Kebidanan | Kepala Puskesmas Sri Padang | 31 Tahun |
| IU-1 | 53 Tahun | Pr | DIII Kebidanan | Kepala Rekam Medis | 14 Tahun 7 bulan |
| IU-2 | 41 Tahun | Pr | DIII Keperawatan | Pelaksana Rekam Medis | 9 Tahun |
| IU-3 | 39 Tahun | Pr | S1 Kedokteran Umum | Dokter Poli | 14 Tahun |
Jumlah Informan Utama (IU) dalam penelitian ini ada 3 orang, adapun informan tersebut yaitu 1 orang Kepala Rekam Medis, 1 orang Pelaksana Rekam Medis, dan 1 orang Dokter. Adapun Informan Triangulasi (IT) dalam penelitian ini yaitu, 1 orang Kepala Puskesmas Sri Padang Kota Tebing Tinggi.
| Informan | Pernyataan |
|---|---|
| IU-1 | “Pendistribusian rekam medis ya penyalurannya kan, yaudah pertama itukan si pasien daftar di pendaftarannya ambil nomor, isi identitas di kartu formulir baru di cek berat badan, tinggi badan sama keluhannya di meja vital sign namanya. Barulah nanti lanjut diantar ke poli yang ditujunya dan dikembalikan lagi ke kita kalau sudah siap”. |
| IU-2 | “Pendistribusian itu yah yang dari ruang rekam medis di antarkan ke ruangan yang dituju ke poli-poli kan. Kan itu pasien daftar isi kartu formulir baru kami cek cari nomor rekam medisnya, BPJS nya dan cek-cek di meja vital sign dulu, udah gitu barulah ke poli diantarkan. Terus nanti kalau sudah siap berobat si pasiennya ya berkasnya dikembalikan lagi ke kami, itulah kami simpan lagi ke rak lemari penyimpanannya”. |
Dari hasil pemeriksaan dan jawaban di atas, terbukti bahwa petugasrekam medis tersebut dapat menjelaskan dengan baik terkait alur daripendistribusian berkas rekam medis pasien. Yang dimana tahap awalnyaadalah pasien mengisi kartu formulir berisikan catatan mengenaiidentitas diri, keluhan penyakit dan poli yang ingin dituju, kemudiandilakukan pengecekan nomor rekam medisnya dan metode pembiayaannya,apakah menggunakan BPJS pemerintah atau mandiri, selanjutnya pasiendiharuskan melakukan pengecekan vital sign terlebih dahulu kemudianberkas yang sudah di isi pencatatannya diantar ke poli yang dituju untukdiisi oleh dokter dan perawat terkait apa saja tindakan yang akandiberikan kepada pasien.
| Informan | Pernyataan |
|---|---|
| IU-1 | “Itu di apa tuh namanya di Primary Care, enggak bagian kami itu. Yang buat pengkodean, mengentry ya orang itulah. |
| IU-2 | “Kalau pengkodean dia biasanya ya sesuai tempat tinggal. Misalnya dia di kelurahan Tanjung Marulak Hilir gitu kan jadikan kami buatnya TMH, baru huruf inilah kepala keluarga misalnya Beni, TMH B gitu, huruf pertama B kan yaudah TMH B, urutan keberapa di B itu. Kalau dia di Sri Padang kodenya SP”. |
Dari hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa petugas rekam medis tidak bertanggung jawab terhadap pengkodean dan penginputan data rekam medis pasien, tetapi pengkodean dan entry data tersebut dilakukan oleh Pcare atau disebut juga dengan bagian Primary Care, dimana terdapat satu orang petugas yang khusus bertanggung jawab terhadap tugas tersebut.
| Informan | Pernyataan |
|---|---|
| IU-1 | “Apa itu indeksing? oh kode penyakit itu ya yang seperti kartu berobat pasien, kartu indeks penyakit rawat jalannya, sama kartu indeks tindakannya itu kan”. |
| IU-2 | “Oh yang seperti kode penyakitnya apa, terus ada identitas dokter apa yang menangani kan. itu udah ada tertera didalam formulir kartunya, sama orang bagian pengkodean dan entry itu lah nanti yang mengisinya apa aja tindakan yang udah didapatkan si pasien”. |
| IU-3 | “Iya indeksing itu tertera dia didalam berkas formulir sama nanti dibagian pengkodean dan entry ada itu dimasukkan. Kan dokter mengisi itu di berkas rekam medisnya, ada dia namanya indeks penyakit isinya kode penyakit, dan lain-lain, kemudian ada indeks pasien isinya identitas pasiennya dan siapa dokter yang menanganinya”. |
Dari hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa petugas rekam medis dan dokter dapat menjelaskan dengan baik terkait indeksing dalam kronik rekam medis. Di mana penunjuk rekam medis ini terdiri dari indeks pasien dan indeks tindakan. Indeksing merupakan suatu susunan ringkasan daftar data riwayat penyakit pasien selama berobat yang dibuat berdasarkan sistem klasifikasi kode penomoran.
| Informan | Pernyataan |
|---|---|
| IU-1 | “Yah pokoknya dipilah pilahlah, misalnya kami kan dua wilayah Tanjung Marulak Hilir sama Sri Padang, yaudah dibagi dulu mana dimana wilayah Tanjung Marulak Hilir kesitu masuknya, Sri Padang ya ke Sri Padang masuknya. Ada yang luar wilayah LW gitulah”. |
| IU-2 | “Pertama kali kan dikutip dulu tu di poli-poli kan, udah dikutip di entry dulu nanti sama petugas entry nya. Terus nanti petugas entry nya menyerahkan atau mengembalikan lagi ke petugas rekam medis. Barulah kami tinggal mengelompokkan sesuai wilayah kan ya barulah disimpan di lemari rak nya gitu dek”. |
Dari hasil wawancara di atas, menunjukkan bahwa alat rekam medistelah mampu memahami dengan baik mengenai tata cara penyimpanan dokumenrekam medis, dimulai dengan mengutip kronik rekam medis. yang ada diPoli kemudian di coding dan entry olehpetugas Primary Care yang selanjutnya dikembalikan lagikebagian rekam medis untuk disimpan dalam rak file.
| Informan | Pernyataan |
|---|---|
| IU-1 | “Retensi itu apa, penghapusan kan pemusnahan berkasnya kan, iya tau lah kan ada itu masa berlaku nya sampai kapan disimpan berkas rekam medisnya”. |
| IU-2 | “Kalau pemusnahan kami ini misalnya gini untuk pasien yang udah dua tahun sesuai SOP lah, SOP kami seperti itu. Pasien yang udah dua tahun gak datang jadi kami ambil dari penyimpanan, kami simpan di gudang, kalau udah lima tahun memang gak datang lagi barulah dimusnahkan. Pokoknya kalau udah dua tahun ditarik lah itu dokumennya kan dari rak penyimpanan rekam medisnya”. |
| IU-3 | “Iya retensi itu penghapusan kan, di musnahkan berkas rekam medisnya berdasarkan waktu yang ditentukan di dalam Permenkesnya kan ada itu di rumah sakit berapa tahun di Puskesmas berapa tahun gitu kan”. |
| IT | “Iya taulah retensi itukan sama dengan pemusnahan dokumen rekam medis pasien yang sudah tidak berobat-berobat kembali dalam jangka waktu yang lama. Disini itu biasanya disimpan mau kadang lima sampai sepuluh tahunan baru di musnahkan”. |
Dari hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa semua informan dapat menjelaskan dengan baik terkait retensi berkas rekam medis. Retensi disebut juga dengan pemusnahan atau penghapusan kronik rekam medis pasien sesuai dengan lama waktu yang telah diformalkan dalam teknik kerja standar. Pengurungan tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah berkas rekam medis yang terus bertambah dan memberikan fasilitas yang memadai untuk aksesibilitas otentikasi rekam medis terbaru.
PEMBAHASAN
Pendistribusian Berkas Rekam Medis
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwapetugas rekam medis Puskesmas Sri Padang dapat menjelaskan dengan cukupbaik terkait bagaimana pendistribusian berkas rekam medis di PuskesmasSri Padang, namun petugas rekam medis tersebut belum dapat menjelaskansecara lengkap isi dari standar operasional prosedur rekam medis yangberlaku hal ini dikarenakan petugas belum hafal isi dari standaroperasional prosedur tersebut. Selain itu, Puskesmas Sri Padang belummenyediakan salah satu sarana dalam proses pengangkutan berkas danproses pencarian berkas rekam medis yaitu seperti troli dan tracer,dokumen rekam medis hanya ditumpukkan dalam map-map yang sudah diberinomor sehingga petugas rekam medis mencari dokumen secara manual denganmemilah satu-satu map di rak penyimpanan, serta tidak adanya dilakukanpencatatan pengeluaran berkas rekam medis di buku ekspedisi oleh petugasrekam medis.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Maliang, 2019)yang hasil pemeriksaannya mengungkapkan bahwa kerangka penyampaian ataupengiriman rekam medis di Puskesmas Tamalate Makassar selesai dengancara yang berat, dengan asumsi jumlah rekam medis yang begitu banyak,maka petugas biasanya menggunakan trem atau boks untuk menyampaikankronik rekam medis. Hal ini juga sesuai dengan penjajakan yang dilakukanoleh Pramudya et al., 2022, yang hasil pemeriksaannya merinci bahwaBalai Kesejahteraan Petahan tidak menggunakan tracerdikarenakan keterbatasan waktu saat pelayanan dan kurangnya tenagakesehatan, juga jarang menggunakan buku ekspedisi karena kurangnyasosialisasi pemberitahuan tentang adanya buku ekspedisi. Padahal sangatpentingnya melakukan pencatatan pengeluaran berkas rekam medis sebelumdidistribusikan ke masing-masing poli, hal ini dilakukan untukmenghindari terjadinya missfile atau kehilangan berkasrekam medis.
Pengkodean Berkas Rekam Medas
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa petugas pada bagian rekam medis merupakan petugas pengganti atau petugassementara yang mengisi kekosongan posisi petugas rekam medis diPuskesmas Sri Padang. Hal ini disebabkan Karena tidak ada pejabat yangmemiliki dasar pembelajaran untuk rekam medis, maka posisi tersebutdiisi oleh otoritas kesejahteraan dengan landasan pembelajaran untukpengasuhan tanpa henti.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh(Suryanto, 2020b) yang hasil penelitiannya merinci bahwa PusatKesejahteraan Kota Wilayah Utara hanya memiliki satu pejabat denganlandasan pembelajaran rekam medis dan 4 pejabat lainnya bukan lulusancatatan klinis, perwakilan rekam medis di Pusat Kesejahteraan belummemiliki klarifikasi untuk masing-masing bagian mereka pekerjaan yangmenghasilkan tingkat tindakan pekerja yang lebih tinggi. Demikian jugasesuai dengan pemeriksaan yang diusahakan oleh (Kartika Dewi &Farmani, 2021) yang hasil penelitiannya menyatakan bahwa petugas rekammedis di Rumah Sakit Dharma Kerti tidak memiliki informasi untukmelakukan pengkodean atau pemesanan, hal ini bertentangan dengan posisidan kemampuan alat rekam medis, khususnya sebagai dokter dan pencatatgejala penyakit yang dilihat dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokterdalam akun klinis persisten.
Indeksing Berkas Rekam Medis
Berdasarkan hasil eksplorasi yang telah diupayakan, diketahui bahwa semua narasumber adalah petugas rekam medis, dokter spesialis danpimpinan Puskesmas dapat memahami dengan baik petunjuk-petunjuk yangdigunakan dalam pembuatan rekam medis di Sri Padang Wellbeing Center.Maka jenis penanda yang digunakan adalah penunjuk pasien sebagai kartuklinis, serta penanda penyakit berupa lembar formulir tindakan rawatjalan pasien. Informan menyatakan bahwa kegunaan indeks penyakit dalamberkas rekam medis adalah sebagai sumber data terkait kasus-kasuspenyakit yang ada diwilayah kerja Puskesmas Sri Padang, sebagai bahanuntuk membuat perencanaan kebutuhan obat dan alat medis, serta sebagaisumber data dalam membuat laporan tahunan yang akan dilaporkan setiaptahunnya ke Dinas Kesehatan.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dipimpin oleh (Agustina, 2022) yang hasil eksplorasinya merinci bahwa kurangnya pengesahan rekam medis pada kunjungan jangka pendek terjadi karena kesalahan petugas kesehatan dalam membedakan data pasien, petugas belum memahami konsep ruang. secara total, keterbatasan waktu dalam menyusun surat wasiat pengobatan, banyaknya kegiatan dokter spesialis dan petugas, serta tidak adanya korespondensi antara dokter spesialis dan petugas.
Penyimpanan Berkas Rekam Medis
Dari hasil penelitian juga diperoleh bahwa jenis penyimpanan berkasrekam medis di Puskesmas Sri Padang menggunakan tipe Concentrated,tepatnya menyimpan di satu tempat hanya untuk catatan medis untukmemantaunya, menggunakan penomoran dengan jaminan 7 digit no.Sentralisasi adalah kapasitas rekam medis pasien dalam satu kesatuan,baik pengingat kunjungan poliklinik maupun pemberitahuan saat pasiensedang ditangani, yang diatur dalam satu tempat, khususnya segmen rekammedis. Ada juga keuntungan dari penimbunan terkonsentrasi, yaitu tidaksulit untuk mensinkronkan pedoman latihan, pedoman dan peralatan yangdigunakan, permintaan rekam medis dengan mudah dilayani kapan saja., danefisiensi kerja petugas (Dr. H. Mukhsen Sarake, 2019).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Pramudya etal., 2022) yang hasil pemeriksaannya melaporkan bahwa permasalahan yangsering terjadi di bagian rekam medis Balai Kesejahteraan Petahananadalah misfiles, misfiles adalah kesalahan dalam aturan posisikapasitas, yang menyebabkan pengaturan misfiles, khususnya petugas yangtidak hati-hati dalam memasukkan kronik rekam medis ke dalam rakkapasitas. Tidak hanya itu, penelitian (Mudika et al., 2022) melaporkanbahwa kapasitas berkas rekam medis di Balai Kesejahteraan Karangpandandiatur dalam ruang ekstra, keamanan ruangan tidak dilengkapi dengantanda pemberitahuan terlebih dahulu untuk mendapatkan untuk hak istimewadan semua tenaga kerja Puskesmas bisa mendapatkan ruang ekstra. Itu. Halini mempengaruhi misteri wasiat rekam medis melalui penggunaan ataupenggunaan oleh pihak yang tidak berwenang.
Retensi Berkas Rekam Medis
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa masa retensi berkas rekam medis yang diberlakukan di Puskesmas Sri Padang adalah selama 5 sampai 10 tahun. Alat rekam medis menghasilkan dokumen rekam medis dari lemari kapasitas apabila pasien tidak pernah kembali berobat selama dua tahun terakhir, yang kemudian dokumen tersebut dipindahkan ke gudang, dokumen tersebut dimusnahkan apabila sudah mencapai 5-10 tahun terakhir.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Irpansyah & Hidayati, 2022) yang hasil penelitiannya menyatakan bahwa di Puskesmas Haurngombong pemusnahan Berkas rekam medis pasien diadili seperti jarum jam, pemusnahan selesai dengan mengkonsumsi, berkas rekam medis yang hangus adalah kronik yang dikunjungi orang dalam waktu yang sangat lama sebelum dimasukkan ke dalam struktur dalam waktu yang cukup lama dan sesudahnya sampai berkas rekam medis hangus. Berkas yang disembunyikan di rak kapasitas adalah riwayat pasien yang sedang berkunjung ke Wellbeing Place.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Analisis Sistem Pengelolaan Rekam Medis di Puskesmas Sri Padang Tebing Tinggi dapat disimpulkan bahwa Proses pendistribusian berkas rekam medis di Puskesmas Sri Padang belum sesuai dengan permenkes, tidak dilakukannya pencatatan pengeluaran berkas rekam medis di buku ekspedisi. Proses pengkodean berkas rekam medis di Puskesmas Sri Padang cukup baik, coding dilakukan oleh petugas Primary Care yang sudah mendapatkan pelatihan. Proses indeksing berkas rekam medis di Puskesmas Sri Padang masih belum optimal, masih ditemukan ketidaklengkapan isi formulir indeks penyakit. Proses penyimpanan berkas rekam medis di Puskesmas Sri Padang belum sepenuhnya maksimal sebab penyimpanan masih dilakukan secara manual dan belum menggunakan penyimpanan sistem rekam medis elektronik. Proses retensi berkas rekam medis di Puskesmas Sri Padang sudah sesuai dengan Permenkes yaitu dimusnahkan dalam jangka waktu 10 tahun.
Untuk Dinas Kesehatan Tebing Tinggi agar melakukan sosialisasi, monitoring/ evaluasi, dan bimbingan teknis untuk setiap puskesmas diwilayah kerjanya pada kegiatan lokakarya mini bulanan dan lokakarya mini triwulan lintas sektoral terkait penggunaan sistem rekam medis elektronik. Untuk dapat menjalankan Permenkes No. 24 Tahun 2022 terkait rekam medis elektronik serta mengajukan perekrutan tenaga rekam medis sesuai bidang demi menunjang pelaksanaan pendistribusian, pengkodean, dan penyimpanan rekam medis, dan melakukan pendisiplinan pada pegawai dalam mengisi formulir indeks penyakit, juga melibatkan petugas rekam medis dalam pelaksanaan pemusnahan berkas rekam medis. Untuk dapat mengembangkan penelitian terkait topik rekam medis dengan lingkup yang lebih luas dan mendalam.
DAFTAR PUSTAKA
Adiningsih, L. Y., Romansyah, D. E., & Kanaya, I. G. A. K. Y.(2021). Evaluasi SPO Penggunaan Tracer Untuk Mengendalikan MissfileBerkas Rekam Medis di Bagian Filing UPTD Puskesmas I Denpasar Selatan.Bali Medika Jurnal, 8(1), 27–34.https://doi.org/10.36376/bmj.v8i1.164
Agustina, E. A. (2022). Faktor Penyebab Ketidaklengkapan PengisianDokumen Rekam Medis Rawat Inap di Rumah Sakit: Literature Review.Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia,10(1), 104.https://doi.org/10.33560/jmiki.v10i1.403
Badan Penjamin Mutu. (2019). Pedoman Pembuatan Standar Operasional (SPO). Universitas Al Azhar Indonesia.
Cahayati, M. D., Doni Jepisah, & Zulhenry. (2022). TinjauanPelaksanaan Retensi Rekam Medis Aktif Menjadi Inaktif di PuskesmasTanjung Balai Karimun Tahun 2021. Jurnal Rekam Medis (MedicalRecord Journal), 2(1), 56–71.https://doi.org/10.25311/jrm.vol2.iss1.386
Di, M., Mondokan, P., & Sragen, K. (2021). IndonesianJournal of Health Information Management Service ( IJHIMS ) BimbinganTeknik Penyusunan Standar Operasional Prosedur Penyelenggaran RekamIndonesian Journal of Health Information Management Service ( IJHIMS )Pelaksanaan kegiatan Pengabdian Pad. 1(1).
Dr. H. Mukhsen Sarake, M. . (2019). Buku Ajar Rekam Medis.Buku Ajar Rekam Medis, 1–147.
Handayuni, L., & Handayani, L. F. (2020). Analisis PelaksanaanPengelolaan Rekam Medis di Puskesmas Muara Madras Kecamatan JangkatProvinsi Jambi. Administration & Health Information ofJournal, 1(1), 1–9.
Irpansyah, F., & Hidayati, M. (2022). Analisis Pemusnahan RekamMedis Rawat Jalan Puskesmas Haurngombong Sumedang Tahun 2021.Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia,2(1), 125–132.https://doi.org/10.36418/cerdika.v2i1.303
Isra, L., Studi, P., Dan, P., Informasi, S., Budaya, F. I., &Utara, U. S. (2020). Pengelolaan rekam medis di rumah sakit umumdaerah (rsud) h. sahudin kutacane.
Kapau, D. I. P., & Kamang, K. T. (2013). Program DatabaseElektronik Rekam Medis Pasien. September,259–266.
Karolinus Ade Kurniawan, L. H. (2021). Studi Literatur Review TentangAnalisis Pengolahan Rekam Medis Rawat Inap Di Fasilitas PelayananKesehatan. Administrasi & Health Information ofJournal, 2(2), 373–377.
Kartika Dewi, N. M. U., & Farmani, P. I. (2021). Evaluasi SistemPenyelenggaraan Rekam Medis Di Rumah Sakit Dharma Kerti. JurnalManajemen Informasi Kesehatan Indonesia, 9(1),81. https://doi.org/10.33560/jmiki.v9i1.296
Latarisa, R. N. (2020). Literature Review Analisis ManajemenPengelolaan Sistem Rekam Medis Di Puskesmas.
Maliang, M. I. D. (2019). Sistem Pengelolaan Rekam Medis Di PuskesmasTemalate Makassar. Jurnal Kesehatan,2(4), 315–328.
Mudika, R. P., Pujihastuti, A., Brigjen, J., Barat, K., Indah, G. P.,Tasikmadu, P. K., Karanganyar, K., & Tengah, J. (2022).Indonesian Journal of Health Information Management ( IJHIM )Vol . 2 No . 3 ( 2022 ), 1 Pengelolaan Ruang Filing Rawat Jalan Di UPTPuskesmas Outpatient Filing Room Management at UPT Puskesmas 2 |Indonesian Journal of Health Information Management ( IJH.2(3), 1–7.
Murdiyanto Eko. (2020). Metode Penelitian Kualitatif (Teori danAplikasi disertai Contoh Proposal). In Lembaga Penelitian danPengabdian Pada Masyarakat UPN ”Veteran” Yogyakarta Press.
Pengelolaan, A., Medis, R., Rumah, D. I., Umum, S., Sanggamele, C.,Kolibu, F. K., Maramis, F. R. R., Kesehatan, F., Universitas, M., &Ratulangi, S. (n.d.). PERMENKES RI No 269/MENKES/PER/III/2008. (2008).permenkes ri 269/MENKES/PER/III/2008. In Permenkes Ri No269/Menkes/Per/Iii/2008 (Vol. 2008, p. 7).
PERMENKES RI No 269/MENKES/PER/III/2008. (2008). permenkes ri269/MENKES/PER/III/2008. In Permenkes Ri No269/Menkes/Per/Iii/2008 (Vol. 2008, p. 7).
Pramono, W. H., & Maryani, F. (2022). Pelaksanaan PenyusutanBerkas Rekam Medis Inaktif Terhadap Efektivitas Rak Penyimpanan DiPuskesmas Pejagoan. JMeRS (Journal of Medical Record …,1, 56–64.http://www.journal.piksi.ac.id/index.php/jmers/article/view/902http://www.journal.piksi.ac.id/index.php/jmers/article/download/902/540
Pramudya, D., Maryani, F., & Piksiganesha, P. (2022).Analisis Sistem Filling Terhadap Efektivitas PuskesmasPetanahan. 1, 38–44.
Ramadani, N., & Heltiani, N. (2019). Perancangan Sistem InformasiRekam Medis Puskesmas Sukamerindu. Edik Informatika,6(1), 55–64.https://doi.org/10.22202/ei.2019.v6i1.3694
Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2014tentang Tenaga Kesehatan. In Presiden RepublikIndonesia (pp. 1–78).
Rumpa, F. J. A., Korompis, G. E. C., Kolibu, F. K., Kesehatan, F.,Universitas, M., & Ratulangi, S. (2020). Sistem Manajemen RekamMedis di Puskesmas Terakreditasi Madya dan Terakreditasi Dasar KotaManado. Jurnal KESMAS, 9(4),181–187.
Shofari Bambang, Enny, R., Retno, A. S., & Sylvia, A. (2018).Dasar Pengelolaan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.Pengelolaan Rekam Medis Pada Fasilitas PelayananKesehatan, 4, 62–71.https://repository.dinus.ac.id/docs/ajar/modul_mik1.pdf
Sinaga, Y. (2019). Pengelolaan rekam medis di instalasi rekammedis rumah sakit umum daerah doloksanggul tahun 2018skripsi.
Siti Thomas Z. (2017). Administrasi dan Manajemen Puskesmas.Fakultas Unissula Semarang.
Sugiyono. (2015). Metode penelitian & pengembangan research anddevelopment. Bandung?: Alfabeta. Journal of Chemical Informationand Modeling, 53(9), 1689–1699.
Suhartina, I. (2019). Analisis Efektivitas SOP PelaksanaanPenyimpanan Berkas Rekam Medis Di Puskesmas Lawang. JurnalManajemen Informasi Kesehatan Indonesia, 7(2),128. https://doi.org/10.33560/jmiki.v7i2.226
Suraja, Y., & Sekretari, P. (2019). PENGELOLAAN REKAMMEDIS. 4, 62–71.
Suryanto, H. (2020a). Analisis Beban Kerja dan Kebutuhan Sumber DayaManusia Petugas Rekam Medis Puskesmas Adan-adan Kabupaten Kediri.Jurnal Rekam Medis Dan Informasi Kesehatan,3(1), 29–35.https://doi.org/10.31983/jrmik.v3i1.5514
Suryanto, H. (2020b). Analisis Sistem Penyelenggaraan Rekam Medis diUnit Rekam Medis Puskesmas Kota Wilayah Utara Kota Kediri.Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia,8(2), 113. https://doi.org/10.33560/jmiki.v8i2.267
Suyoko. (2020). Macam-macam Indeks.
Yuliawati, F. (2018). Pengaruh Motivasi Perawat TerhadapKetepatan Waktu Pengembalian Berkas Rekam Medis Rawat Inap Di RSUD KotaMadiun Tahun 2017. 1, 117.
Zahara, N. U. (2018). Sistem pengelolaan rekam medis rawatinap di rumah sakit umum madani medan tahun 2018 skripsi.
Downloads
Published
Versions
- 2023-08-31 (2)
- 2023-08-31 (1)
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Amalia Cyndiandari, Dewi Agustina (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









