Efektifitas Pelatihan Skrining Stunting Terhadap Kemampuan Deteksi Dini Orang Tua pada Anak Usia 1-3 Tahun di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo

Authors

  • Dewi Modjo Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indonesia
  • Ani Retni Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.36990/hijp.v15i2.1082

Keywords:

Deteksi dini, skrining, stunting

Abstract

Stunting atau perawakan pendek masih menjadi masalah yang belum terpecahkan, baik di dunia maupun di Indonesia. Hal ini tentu berdampak pada terhambatnya proses pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. Untuk prevalensi balita stunting di Kota Gorontalo sebesar (26,5%). Balita yang sehat terhindar dari masalah stunting, wasting maupun underweight tumbuh dan berkembang secara normal. Deteksi dini pencegahan stunting dilakukan pengukuran secara berkala yaitu dari berat badan dan tinggi badan sesuai umur, dapat membantu upaya pencegahan stunting dan harus dilaksanakan dengan sunguh-sunguh. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis Efektifitas Pelatihan Skrining Stunting dengan Kemampuan Deteksi Dini Orang Tua Pada Anak Usia 1-3 Tahun. Adapun tujuan atau target khusus pada penelitian ini adalah untuk melatih orang tua dilihat dari kemampuan untuk mendeteksi dini anak usia 1-3 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen, pada kelompok ibu di RSA Siti Khadijah pada penentuan sampel dengan metode kuantitatif sehingga total sampel penelitian 30 responden, kelompok intervensi yang diberikan pelatihan Skrining Stunting dengan Kemampuan Deteksi Dini Orang Tua Pada Anak Usia 1-3 Tahun dan kelompok kontrol yang memberikan perlakuan atau intervensi kepada subjek penelitian. Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan desain pre post testgroup design.

PENDAHULUAN

Stunting atau gagal tumbuh merupakan suatu kondisi yang menggambarkan status gizi kurang yang memiliki sifat jangka panjang pada masa pertumbuhan dan perkembangan balita sejak awal masa kehidupan yang dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur <-2 Standar Deviasi (SD) berdasarkan standar pertumbuhan menurut WHO (Kemenkes). Kondisi stunting dapat dilihat sejak balita berusia dua tahun. Stunting merupakan keadaan kondisi kurangnya asupan zat gizi pada masa periode emas (Teja, 2019).

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) 2020, prevalensi balita pendek diseluruh dunia pada tahun 2019 sebesar 21,3% atau sebanyak 144 juta, kemudian naik menjadi 22% atau sebanyak 149,2 juta pada tahun 2020. Prevalensi balita stunting usia di bawah lima tahun (balita) di Asia Tenggara Timor Leste menempati urutan pertama sebesar 48,8% dan Indonesia menempati urutan kedua sebesar 31,8%. Kemudian, Kamboja sebesar 29,9% dan Filipina 28,7%. Adapun tingkat prevalensi stunting terendah yaitu Singapura sebesar 2,8% (WHO, 2021).

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, Prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Angka stuntingsecara nasional mengalami penurunan sebesar 3,3% dari 27,7% atau 6,53 juta pada tahun 2019 turun menjadi 24,4% atau 5,33 juta pada tahun 2021. Hampir sebagian besar dari 34 provinsi di Indonesia menunjukkan hasil bahwa angka stunting mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2019. Beberapa Provinsi yang memiliki prevalensi balita stunting tertinggi yakni Nusa Tenggara Timur (37,8%), Aceh (33,2%), Nusa Tenggara Barat (31,4%), Sulawesi Tenggara (30,2%), Kalimantan Barat (29,8) dan Gorontalo (29%) (Kemenkes RI, 2021).

Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 Provinsi Gorontalo menempati urutan ke 10 yang tertinggi prevalensi stuntingsebesar 29%. Angka ini mengalami penurunan sebesar 5,9% dibandingkan pada tahun 2019 sebesar 34,89%. Untuk prevalensi balita stunting di Kabupaten/Kota di Provinsi tahun 2021 yakni Kabupaten Pohuwato menempati urutan pertama sebesar (34,6%), disusul oleh Kabupaten Boalemo (29,8%), Kabupaten Gorontalo Utara (29,5%), Kabupaten Gorontalo (28,3%) dan Kota Gorontalo (26,5%). Sedangkan yang menempati urutan terendah yaitu Kabupaten Bone Bolango sebesar (25,1%) (Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, 2021).

Stunting berhubungan dengan resiko kesakitan serta kematian, hambatan perkembangan motorik dan mental sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak menimbulkan resiko yang dapat merugikan hasil akhir tumbuh kembang anak saat dewasa nanti.Maka pantauan TB dan BB balita harus diperhatikan sejak bayi.Deteksi awal adanya penyimpangan sangat dibutuhkan untuk memberikan penanganan dini sehingga harapannya akan memiliki hasil yang lebih baik dan resiko yang dapat merugikan anak seperti masalah mental, kurang dalam kemampuan motorik dan lemah fisik dapat diatasi lebih dini. Pengukuran panjang dan tinggi badan perlu diukur secara berkala, (Izah et al., 2021).

Orang tua berperan dalam kematangan pertumbuhan dan perkembangan anak dan penting untuk perkembangan awal seorang anak dengan melakukan stimulasi perkembangan anak sejak dini. Stimulasi dini efektif dilakukan pada anak usia 2-3 tahun.  (Santi Kresni Anggarwati, Yuli Kusumawati, 2018).

METODE

Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain quasi dan pendekatan pra-pasca test. Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan desain pre post testgroup design. Desain ini digunakan untuk membandingkan hasil intervensi pelatihan Skrining Stunting dengan Kemampuan Deteksi Dini Orang Tua Pada Anak Usia 1-3 Tahun di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo.

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian  direncanakan  dilaksanakan  kurang lebih  selama  satu  tahun  yaitu pada bulan September 2022 – Agustus 2023 yang meliputi tahapan yang diberikan dari Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah berupa persiapan, pengusulan, proses penelitian, pengolahan data,  penyusunan laporan, dan publikasi. Lokasi penelitian ini akan dilaksanakan di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo.

Definisi Operasional

Variabel yang terkait dalam penelitian ini adalah skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua melalui pelatihan yang di evaluasi berdasarkan lembar pengisian angket. Indikator keberhasilan tingkat pengetahuan sasaran menunjukkan adanya peningkatan sebelum dan sesudah diberikan pelatihan. Adapun Prosedur pada penelitian ini :

  1. Menjelaskan cara menghitung umur anak
  2. Menjelaskan cara pengukuran panjang badan (PB) dengan menggunakan Centimeter dan tinggi badan (TB) menggunakan microtoise, serta mendeteksi cara penyipangan pertumbuhan berdasarkan (PB/U atau TB/U) untuk menentukan stunting pada anak
  3. Menjelaskana cara pengukuran berat badan (BB) anak dengan menggunakan timbangan digital, serta mendeteksi penyimpangan pertumbuhan berdasarkan (BB/PB atau BB/TB) untuk menentukan status gizi pada anak.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua yang memiliki anak usia 1-3 tahun di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo. Sampel penelitian ini adalah orang tua yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan oleh peneliti. Dengan teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini adalah dengan teknik probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Pengembilan sampel dilakukan dengan menentukan kriteria inklusi: 1) ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun, 2) ibu yang melakukan kunjungan rawat jalan dan rawat inap pada anak di RSIA Sitti Khadijah Kota Gorontalo, 3) ibu yang bersedia menjadi responden. Adapun kriteria esklusi: 1) ibu yang tidak bersedia menjadi responden, dan 2) ibu yang memiliki anak dengan gangguan mental dan cacat fisik.

HASIL

Penelitian ini telah menyelesaikan tahapan pengumpulan data melalui kuesioner pada rsponden sebelum dan setelah terkait Efektifitas pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak usia 1-3 tahun di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo. Dalam proses penyelesaian analisis data terkait pengaruh sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pada orang tua.

No. Usia F %
1 17-25 (dewasa awal) 26 86.7
2 26-35 (dewasa akhir) 4 13.3
Total 30 100
Table 1. Karakteristik Responden berdasarkan Umur

Berdasarkan tabel 1 dapat di ketahui bahwa umur responden sebagian besar berada pada kategori 17-25 tahun yaitu sebanyak 26 responden (86.7%), dan responden berada pada kategori 26-35 tahun yaitu berjumlah 4 responden (13.3%).

No. Pendidikan F %
1 SD 1 3.3
2 SMP 1 3.3
3 SMA 23 76.7
4 Perguruan Tinggi 16 16.7
Total 30 100
Table 2. Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan

Berdasarkan tabel 2 diketahui tingkat pendidikan dasar berjumlah 1 responden (3.3%), dan tingkat pendidikan menengah pertama berjumlah 1 responden (3.3%), tingkat yang paling dominan dengan pendidikan menengah atas sebanyak 23 responden (76.7%), dan tingkat pendidikan perguruan tinggi berjumlah 5 responden (16.7%).

Penelitian ini  bertujuan untuk menganalisis efektifitas pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak usia 1-3 tahun di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo. Penelitian ini akan menyajikan analisis data distribusi frekuensi variabel (kemampuan orang tua sebelum dan sesusah diberikan pelatihan deteksi dini tumbuh kembang), serta analisis hubungan antara variabel.

Pre test F %
Kurang 24 80
Cukup 6 20
Total 30 100.0
Table 3. Kemampuan deteksi dini pada orang tua sebelum (pre test) diberikan pelatihan skrining stunting

Berdasarkan keterangan tabel 3 dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan kurang berjumlah 24 responden dengan presentase 80%, tingkat pengetahuan responden cukup berjumlah 6 responden dengan presentase 20%.

Post test F %
Cukup 11 36.7
Baik 19 63.3
Total 30 100
Table 4. Kemampuan deteksi dini pada orang tua sesudah (post test) diberikan pelatihan skrining stunting

Berdasarkan keterangan tabel 4 dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan cukup berjumlah 11 responden dengan presentase 36.7%, dan berpengetahuan baik berjumlah 19 responden dengan presentase 63.3%.

No. Variabel Mean

Standar

Deviasi

1 Kemampuan Deteksi Dini Orang Tua Sebelum Pelatihan Skrining Stunting
Sebelum 1.20 1,00
Sesudah 2.63 3.00
Table 5. Distribusi Nilai Rata-Rata Kemampuan Deteksi Dini Orang Tua Sebelum dan Sesudah diberikan Pelatihan Skrining Stunting

Dari hasil uji statistik pada pengetahuan orang tua terdapat peningkatan pengetahuan sebelum di berikan pelatihan skrining stunting dengan perbedaan nilai mean 1.20 dan setelah di berikan pelatihan skrining stunting adalah 2.63 sedangkan nilai median sebelum di berikan pelatihan skrining stunting 1.00, dan setelah di berikan pelatihan skrining stunting di dapatkan nilai median 3.00. Sehingga dapat disimpulkan terdapat peningkatan bahwa orang tua yang berpengetahuan baik meningkat.

Pada analisis ini digunakan Uji T Dependen Test (Paired Sample T-Test) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel independen dan dependen.

No Variabel Mean SD SE P value n
1 Silmulasi Pertumbuhan Anak Usia Prasekolah
Sebelum 1.33 479 088 0,001 30
Sesudah 1,83 699 128
Table 6. Hasil Analisis Pengaruh Efektifitas Pelatihan Skrining Stunting dengan Kemampuan Deteksi Dini Orang Tua Pada Anak Usia 1-3 Tahun Di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo

Dari hasil uji statistik pada variabel simulasi pertumbuhan anak usia prasekolah didapatkan nilai p-value 0,001 dan terlihat nilai mean perbedaan rata-rata adalah 1.83 dengan standar deviasi 699. Sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh bermakna dan signifikan pelatihan deteksi tumbuh kembangan terhadap kemampuan orang tua tentang simulasi pertumbuhan anak.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian (Pre Test) diketahui tingkat pengetahuan kurang berjumlah 24 responden dengan presentase 80% dengan uji statistic di dapatkan nilai mean 1.20 sedangkan nilai median pre test 1.00. Saat penelitian dilaksanakan peneliti mengumpulkan ibu balita dalam satu ruangan kemudian diberikan penyuluhan dan diberikan kuesioner pre test untuk melihat pengetahuan ibu terkait status gizi balita. Setelah kuesioner pre test  diisi dan di kembalikan kapada peneliti, selanjutnya ibu balita diberikan penyuluhan. Penyuluhan tersebut dilakukan dengan menggunakan alat bantu atau media yang berupa lcd dan leaflet serta demonstrasi. Setelah penyuluhan selesai diberikan lagi kuesioner yang berisi pertanyaan yang sama (post test) untuk mengukur nilai pengetahuan ibu setelah diberikan pelatihan.

Dari hasil penelitian mengenai Efektifitas pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak usia 1-3 tahun, sebelum diberikan edukasi di dapatkan bahwa rata-rata orang tua belum mengetahui dan memahami terkait stunting. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan ‘’what” . pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu (Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan yang dimiliki dari seseorang tidak lepas dari pengalaman yang telah didapatkan khususnya stunting, karena sebagian besar responden mengungkapkan belum mengetahui tentang stunting secara mendalam. Stunting pada masa anak-anak berhubungan dengan keterlambatan perkembangan motorik dan tingkat kecerdasan yang lebih rendah, stunting juga dapat menyebabkan depresi fungsi imun, perubahan metabolik, rendahnya nilai kognitif dan rendahnya nilai akademik.

Menurut Dwitama et al.,(2018) permasalahan balita dengan stunting atau pendek disebabkan karena beberapa faktor, faktor utama yang menyebabkan balita stunting atau pendek adalah asupan ASI (Air Susu Ibu) dan asupan pelengkap yang tidak optimal, infeksi berulang dan kekurangan zat gizi mikro. Peneliti berpendapat bahwa pemahaman mengenai stunting yang di ukur pada penelitian ini diantaranya yaitu pengertian, pemicu, tanda serta gejala, dampak, upaya pencegahan dan penatalaksanaan yang dilakukan jika anak menagalami stunting. Hal ini sejalan dengan penelitian menurut Rahmawati (2019) pengetahuan tentang stunting yang di ukur dalam penelitian melalui kuesioner meliputi pengertian pemicu, tanda gejala, pencegahan dan faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting.

Faktor-faktor dari pengetahuan meliputi, umur seseorang, sebab umur seseorang dapat sangat erat hubunganya dengan pengetahuan seseorang, kemudian pendidikan yang semakin tinggi diharapkan dapat menjadi modal manusia (pengetahuan) akan semakin baik. Selanjutnya adalah sumber informasi, pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber informasi apapun, bukan hanya di lembaga pendidikan saja, tetapi pengetahuan juga dapat diperoleh dari media cetak, media elektronik,bahkan keluarga dan teman-teman. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Edwin et al yang menunjukan bahwa pengetahuan ibu tentang stunting pada kategori cukup sebanyak 113 orang (48,7%), kategori baik sebanyak 59 orang (25,4%), kategori kurang sebanyak 60 orang (25,9%).

Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa semakin baik pengetahuan seseorang tentang stunting maka semakin kecil kemungkinan orang tersebut memiliki balita dengan kejadian stunting, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik memiliki resiko besar mempunyai balita yang mengalami stunting dikarenakan ibu sulit untuk mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi stunting pada balita.

Berdasarkan hasil penelitian (Post Test) diketahui bahwa tingkat pengetahuan baik berjumlah 19 responden dengan presentase 63.3%, dan berpengetahuan cukup 11 responden dengan presentase 36.7 Selain itu di dapatkan hasil uji statistik nilai mean 2.63 dan nilai median post test 3.00. Dari hasil penelitian mengenai Efektifitas pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak, setelah diberikan edukasi di dapatkan bahwa rata-rata orang tua sebagian besar telah mengetahui dan memahami terkait stunting. Sehingga dapat disimpulkan terdapat peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak.

Tingkat pengetahuan ibu berdasarkan sumber informasi melalui edukasi yang merupakan hal penting untuk meningkatkan pengetahuan ibu terkait penguatan fungsi keluarga. Edukasi dilakukan melalui penyuluhan atau pelatihan dan demonstrasi. Penelitian yang dilakukan oleh Herawati (2020) melalui pengabdian masyarakat yang melibatkan kader posyandu,tenaga kesehatan dan masyarakat memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang penguatan fungsi keluarga dan pengasuh 1000 hari pertama kelahiran.

Hasil penelitian ini menunjukan ada perbedaan signifikan tingkat pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberikan pelatihan tentang skrining stunting melalui media. Media yang di gunakan berupa lcd, leaflet dan demonstrasi skrining stunting yang memiliki banyak keunggulan, salah satunya adalah dapat diterima karena mengaitkan langsung dengan indera penglihatan dan pendengarannya.

Dari hasil penelitian mengenai Efektifitas pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak usia 1-3 tahun. Sebelum (pre-test) diberikan pelatihan kesehatan skirining stunting di dapatkan bahwa rata-rata orang tua anak belum mengetahui dan memahami stunting dengan nilai mean 1.20 . Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Risna Sewa (2019) dengan judul pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan stunting oleh kader posyandu di wilayah kerja puskesmas bailing kota manado. Berdasarkan uraian di atas peneliti menganalisis bahwa secara keseluruhan responden sebelum diberikan edukasi kesehatan belum mampu memahami stunting dengan benar, dimana responden belum bisa menjawab pertanyaan melalui lembar kuesioner dengan tepat.

Pengetahuan menurut Reber (2016) dalam makna kolektifnya, pengetahuan adalah kumpulan informasi yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok, atau budaya tertentu. Sedangkan secara umum pengetahuan adalah komponen-komponen mental yang dihasilkan dari semua proses apapun, entah lahir dari bawaan atau di capai lewat pengalaman . Hal ini sejalan dengan penelitian Paskalia Tri Kurniati (2021) dengan judul hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap kejadian stunting pada balita di puskesmas sungai durian kabupaten sintang.

Berdasarkan pembahasan di atas sebelum pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak di ketahui bahwa keseluruhan responden yaitu orang tua anak, dimana sebagian besar responden belum mampu memahami stunting yang di dapatkan tingkat pengetahuan melalui alat ukur lembar kuesioner.

Sedangkan dari hasil penelitian mengenai Efektifitas pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak usia 1-3 tahun . Sesudah (post-test) diberikan pelatihan kesehatan skirining stunting di dapatkan bahwa rata-rata orang tua anak telah mengetahui dan memahami stunting  dengan nilai mean 2.63. Sehingga dapat disimpulkan terdapat peningkatan antara pengetahuan sebelum diberikan pelatihan dan setelah diberikan pelatihan skrining stunting dengan kemampuan deteksi dini orang tua pada anak usia 1-3 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian setelah dilakukan pelatihan, tingkat pengetahuan orang tua meningkat. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu tanggungjawab keperawatan. Pendidikan kesehatan yang paling efektif untuk orang tua adalah dengan memberitahu pada orang tua balita tentang anaknya yang sangat beresiko dengan kejadian stunting, sehingga orang tua dapat berfikir mana yang baik dan mana yang buruk untuk anak mereka sendiri. Pemberian pelatihan kesehatan ini dapat meningkatkan pengetahuan orang tua apabila dalam penyampaianya menggunakan media ataupun metode yang tepat. Salah satu media pelatihan yang digunakan yakni dengan menggunakan media demonstrasi skrining stunting yaitu dengan menggunakan Centimeter,timbangan bayi dan tinggi badan (TB) menggunakan microtoise. Hal ini sejalan dengan penelitian khoiriyah isni (2019) dengan judul pelatihan pengukuran status gii balita sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini pada ibu di dusun randugunting,sileman,DIY.

Pemberian Pelatihan kesehatan dengan metode demonstrasi menjadi lebih berkesan yang lebih signifikan jika dibandingkan dengan metode seperti ceramah dan menampilkan gambar. Selain itu penggunaan metode ini juga akan menciptakan suasana belajar (promosi kesehatan) menjadi lebih menarik dan dapat mampu menyita perhatian. Maka dengan pemberian promosi kesehatan dengan metode ceramah dan demonstrasi menjadi lebih berkesan dan mampu member kesan yang lebih signifikan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil penelitian ini menunjukan ada peningkatan tingkat pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberikan pelatihan tentang skrining stunting melalui media. Media yang di gunakan berupa lcd, leaflet dan demonstrasi skrining stunting yang memiliki banyak keunggulan, salah satunya adalah dapat diterima karena mengaitkan langsung dengan indera penglihatan dan pendengarannya.

PERNYATAAN

Ucapan Terimakasih

Thanks you risetmu for support and funding

Pendanaan

Risetmu PP Muhammadiyah

DAFTAR PUSTAKA

Atikah, Rahayu,  dkk. (2018). Stunting dan Upaya Pencegahannya. In Buku stunting dan upaya pencegahannya.

Blora, J. K. (2022). Perbedaan Penggunaan Lingkaran Gizi Antropometri-Suprihatin (LIGA-SPH) dan Grafik TB/U Buku KIA Terhadap Kecepatan Ketepatan Skrining Stunting. 13, 154–159.

Izah, N., Hidayah, S. N., & Maulida, I. (2021). Upaya Skrining Dini Stunting Melalui Pemberdayaan Kader Dan Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Balita. Jurnal PkM Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 48. https://doi.org/10.30998/jurnalpkm.v4i1.5859

Kemenkes RI. (2018). Buletin Stunting. Kementerian Kesehatan RI, 301(5), 1163–1178.

Kemenkes RI. (2020). Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI Direktoral Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.

Latief, S., & Al, J. P. (2021). Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 12-59 bulan. 01(1), 7–12.

Nim, S. (2019). Oleh: SUSMIYATI NIM?: P1337424418098.

Oktaviani, N. P. W., Lusiana, S. A., Sinaga, T. R., Simanjuntak, R. R., Louis, S. L., Andriani, R., Putri, N. R., Mirania, A. N., Rokhmah, L. N., Kusumawati, I., & others. (2022). Siaga Stunting di Indonesia. Yayasan Kita Menulis. https://books.google.co.id/books?id=yPVcEAAAQBAJ

Paskalia Tri Kurniati, S. S. T. M. K. S. S. K. M. M. K. (2020). STUNTING DAN PENCEGAHANNYA. Penerbit Lakeisha. https://books.google.co.id/books?id=980OEAAAQBAJ

Purnamasari, M., & Rahmawati, T. (2021). Literature Review Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian Stunting Pada Balita Umur 24-59 Bulan Pendahuluan. 10.

Santi Kresni Anggarwati, Yuli Kusumawati, K. E. W. (2018). Quality Time Ibu Bekerja dan Perkembangan Bahasa Anak Usia Toddler Di Day Care Kota Surakarta. The 7th University Research Colloqium 2018, 9–21.

Tahun, U., Wahyuni, C., & Kes, M. (n.d.). TUMBUH KEMBANG ANAK (pp. 1–56).

Teja, M. (2019). Stunting Balita Indonesia Dan Penanggulangannya. Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI, XI(22), 13–18.

Yuliani, E., Khaerianti, M., Harli, K., & Barat, U. S. (n.d.). SKRINING STUNTING DAN PERKEMBANGAN PADA ANAK. 102–106.

Yuliani, E., Yunding, J., & Haerianti, M. (n.d.). PELATIHAN KADER KESEHATAN DETEKSI DINI STUNTING PADA BALITA DI DESA BETTENG ( Health Cadre Training About Early Detection Of Stunting Toddler In Betteng Village ). 41–46.

References

Atikah, Rahayu, dkk. (2018). Stunting dan Upaya Pencegahannya. In Buku stunting dan upaya pencegahannya.

Blora, J. K. (2022). Perbedaan Penggunaan Lingkaran Gizi Antropometri-Suprihatin (LIGA-SPH) dan Grafik TB/U

Buku KIA Terhadap Kecepatan Ketepatan Skrining Stunting. 13, 154–159.

Izah, N., Hidayah, S. N., & Maulida, I. (2021). Upaya Skrining Dini Stunting Melalui Pemberdayaan Kader Dan

Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Balita. Jurnal PkM Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1),

https://doi.org/10.30998/jurnalpkm.v4i1.5859

Kemenkes RI. (2018). Buletin Stunting. Kementerian Kesehatan RI, 301(5), 1163–1178.

Kemenkes RI. (2020). Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Direktoral Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.

Latief, S., & Al, J. P. (2021). Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 12-59 bulan.

(1), 7–12.

Nim, S. (2019). Oleh: SUSMIYATI NIM?: P1337424418098.

Oktaviani, N. P. W., Lusiana, S. A., Sinaga, T. R., Simanjuntak, R. R., Louis, S. L., Andriani, R., Putri, N. R., Mirania,

A. N., Rokhmah, L. N., Kusumawati, I., & others. (2022). Siaga Stunting di Indonesia. Yayasan Kita

Menulis. https://books.google.co.id/books?id=yPVcEAAAQBAJ

Paskalia Tri Kurniati, S. S. T. M. K. S. S. K. M. M. K. (2020). STUNTING DAN PENCEGAHANNYA. Penerbit

Lakeisha. https://books.google.co.id/books?id=980OEAAAQBAJ

Purnamasari, M., & Rahmawati, T. (2021). Literature Review Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian

Stunting Pada Balita Umur 24-59 Bulan Pendahuluan. 10.

Santi Kresni Anggarwati, Yuli Kusumawati, K. E. W. (2018). Quality Time Ibu Bekerja dan Perkembangan Bahasa

Anak Usia Toddler Di Day Care Kota Surakarta. The 7th University Research Colloqium 2018, 9–21.

Tahun, U., Wahyuni, C., & Kes, M. (n.d.). TUMBUH KEMBANG ANAK (pp. 1–56).

Teja, M. (2019). Stunting Balita Indonesia Dan Penanggulangannya. Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI, XI(22),

–18.

Yuliani, E., Khaerianti, M., Harli, K., & Barat, U. S. (n.d.). SKRINING STUNTING DAN PERKEMBANGAN

PADA ANAK. 102–106.

Yuliani, E., Yunding, J., & Haerianti, M. (n.d.). PELATIHAN KADER KESEHATAN DETEKSI DINI

STUNTING PADA BALITA DI DESA BETTENG ( Health Cadre Training About Early Detection

Of Stunting Toddler In Betteng Village ). 41–46.

Published

2023-08-28

How to Cite

Modjo, D., & Retni, A. (2023). Efektifitas Pelatihan Skrining Stunting Terhadap Kemampuan Deteksi Dini Orang Tua pada Anak Usia 1-3 Tahun di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo . Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), e1082. https://doi.org/10.36990/hijp.v15i2.1082

Issue

Section

Original Research

Citation Check