Pengaruh Pendidikan Terpadu Cegah Stunting (Pantau) terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Guru Paud di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Kota Gorontalo

Authors

  • Andi Akifa Sudirman Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indonesia
  • Haslinda Damansyah Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indonesia
  • Sofiyah Tri Indrianingsih Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.36990/hijp.v15i2.1083

Keywords:

pendidikan terpadu cegah stunting, guru PAUD, Pengetahuan, Keterampilan

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur adanya pengaruh pendidikan terpadu pencegahan stunting (PANTAU) terhadap pengetahuan dan keterampilan guru paud di TK Aisyiyah Bustanul Atfal Gorontalo. Intervensi yang dilakukan yakni peserta mengisi 25 item kuesioner tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam pencegahan stunting, setelah itu diberikan intervensi PANTAU kemudian peserta peserta dimin-ta mengisi kembali kuesioner yang sama. Outcome yang dinilai yakni pengetahuan dan keterampilan Guru PAUD dalam pencegahan stunting pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan rerata selisih pengetahuan dan keterampilan guru PAUD sebelum dan sesudah intervensi yang diberikan (p<0,05). Studi ini adalah langkah awal dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Guru PAUD dalam pencegahan stunting. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi hasil saat ini yang kemungkinan akan digunakan untuk menerapkan program pendidikan yang sama dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka.

PENDAHULUAN

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada dibawah standar yang ditentukan (Perpres no. 72 Tahun 2021). Anak-anak yang menderita stunting mungkin tidak akan mencapai tinggi badan yang optimal dan potensi kognitif dari otak mereka yang mungkin tidak pernah mengembang secara penuh. Secara global sekitar 144,0 juta anak balita menderita stunting dengan kemungkinan bahwa anak-anak ini memulai hidup mereka dengan kesulitan : kesulitan belajar disekolah, penghasilan lebih sedikit sebagai orang dewasa, dan menghadapi hambatan untuk berpartisipasi dalam komunitas mereka (Kemenkes, 2020).

Berdasarkan hasil studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, rerata prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2021 adalah 24,4%. Beberapa provinsi yang memiliki prevalensi balita stunting tertinggi yakni Nusa Tenggara Timur (37,8%), Aceh (33,2%), Nusa Tenggara Barat (31,4%), Sulawesi Tenggara (30,2%), Kalimantan Barat (29,8%) dan Gorontalo (29%)(Kementerian Kesehatan, 2021). Hasil studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 Provinsi Gorontalo menempati urutan ke 10 untuk provinsi yang memiliki angka stunting di Indonesia. Prevalensi balita stunting tertinggi di Kabupaten dan kota di provinsi Gorontalo umur 0 – 59 bulan tahun 2021 yaitu kabupaten Pohuwato sebesar 34,6%, Kabupaten Boalemo (29,8%), Kabupaten Gorontalo Utara (29,5%), Kabupaten Gorontalo (28,3%), dan Kota Gorontalo (26,5%)  (Dikes. Provinsi Gorontalo).

Penurunan prevalensi balita pendek (stunting) menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional yang tercantum dalam sasaran pokok Rencana Pembangunan Jangka Menengah tahun 2015-2019(Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 2017). Penurunan angka stunting atau postur tubuh pendek juga menjadi salah satu output bidang kesehatan dari Sustainable Developmet Goals (SDGs), yang merupakan program kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) (Unicef & Kementrian PPN/Bappenas, 2017).

Sebagai upaya pencegahan stunting pemerintah provinsi Gorontalo mengadakan berbagai program di antaranya adalah Gebyar PSIA/Pekan Sehat, PAKDOK, Gema Penting, dan Pemantauan Posyandu. Kegiatan tersebut berfokuskan pada pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita (Dikes. Provinsi Gorontalo). Namun, keterbatasan akses wilayah, keterbatasan sumber daya manusia baik kader kesehatan, tenaga kesehatan, serta  kesadaran dan pemahaman masyarakat menjadi bagian dari alasan program – program pemerintah belum dapat terlaksana dengan maksimal . Penanganan masalah stunting harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan banyak elemen, termasuk guru sebagai kader kesehatan baik untuk pencegahan, pemenuhan zat gizi dan mengoptimalkan kesehatan anak (Badan kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik, Kementerian Kesehatan, 2017).

Pencegahan serta pendeteksian stunting dapat dilakukan satuan PAUD (Sasmita, Jumadewi, & Maria, 2020). PAUD merupakan jenjang pendidikan yang memiliki ragam program layanan antara lain: TPA (Taman Penitipan Anak)/ Daycare , KB (Kelompok Bermain)/ Playgroup, TK (Taman Kanak-kanak), dan sebagainya. Semua program tersebut merupakan program yang sangat mungkin untuk dapat menerima layanan bagi anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun (Mahmudah & Yuliati, 2021). Pemilihan program pencegahan stunting ini dilakukan pada pendidik PAUD karena PAUD memiliki peran penting dalam berkontribusi mengantisipasi dan menurunkan tingkat stunting pada anak balita. Selama ini beberapa pendidik PAUD ada yang belum mengerti mengenai stunting, beserta dampaknya, bagaimana cara pendeteksian stunting, sedangkan hal tersebut harus diketahui oleh pendidik PAUD guna menurunkan angka kejadian stunting .

Peran guru atau kader kesehatan di sekolah khususnya dalam pelayanan gizi adalah melakukan pemantauan pertumbuhan balita melalui penimbangan dan pemantauan tumbuh kembang anak(Yuliani, Yunding, & Haerianti, n.d, 2018). Apabila ditemukan adanya masalah pada anak, maka kader bertugas memberikan edukasi kepada orangtua sehingga medapatkan penanganan medis yang tepat. (Sasmita et al., 2020) dalam melaksanakan pemantauan tumbuh kembang anak pada masa adaptasi kebiasaan baru, diperlukan keterampilan orang tua untuk memantau di rumah. Sehubungan hal tersebut maka perlu diadakannya pelatihan bagi guru PAUD untuk selanjutnya dapat mendampingi orang tua dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang di rumah.

Pendidikan Terpadu Cegah Stunting (Pantau) merupakan kegiatan yag dikembangkan bagi guru PAUD yang mengintegrasikan konsep PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) serta optimalisasi pertumbuhan dan perkebangan bayi dan balita melalui pengukuran dan deteksi intervensi dini tumbuh kembang anak. Pantau merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru PAUD sebagai kader kesehatan dalam pencegahan stunting pada anak. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Izah, Hidayah, & Maulida (2021)edukasi kepada kader kesehatan yang dikembangkan sesuai dengan budaya daerah tempat tinggal mereka mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam skrining dan pemantauan Penelitian ini menggali alternatif intervensi yaitu Pengaruh Pendidikan Terpadu Cegah Stunting (Pantau) terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Guru PAUD di TK Aisyiyah Bustanul Atfal Gorontalo dalam pencegahan stunting pada Anak yang belum banyak diteliti dan dikembangkan, khususnya di Provinsi Gorontalo. Dengan adanya kerjasama/kemitraan antara tenaga kesehatan dan kerjasama guru PAUD di TK Aisyiyah Bustanul Atfal Gorontalo  selaku kader kesehatan di sekolah diharapkan masalah stunting pada anak dapat dicegah dengan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan.

METODE

Peserta

Sampel di dalam penelitian ini adalah guru PAUD di TK Aisyiyah Bustanul Atfal Gorontalo. Adapun tortal peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah 15 guru PAUD.

Kuesioner

Instrumen penilaian tingkat pengetahuan dan keterampilan Guru PAUD  digunakan untuk pengambilan data di dalam penelitian ini. Kuesioner ini dikembangkan oleh Akifa Syahrir pada tahun 2020. Intrumen ini terdiri dari 25 item pertanyaan multiple choice.

Pendidikan Terpadu Cegah Stunting (PANTAU)

Pendidikan Terpadu Cegah Stunting (Pantau) adalah pemberian edukasi dan pelatihan mengenai keterampilan penecgahan stunting yang diberikan oleh perawat terlatih kepada guru PAUD. Pendidikan ini menggunakan metode ceramah, diskusi dan role play. Media yang digunakan berupa modul pelatihan Pantau, serta Pantau kit.

HASIL

No Variabel Intervensi (n=15) Total

Mean±SD

(min-max)

N % N %
1

Usia (Tahun)

25 – 30

31 – 35

36 – 40

41 – 45

2

10

2

1

13,3

66,7

13,3

6,7

15 100,0
2

Lama Kerja

< 5 Tahun

10. Tahun

>10 Tahun

1

5

9

6,7

33,3

60,0

15 100,0
3 Tingkat pendidikan D3 Sarjana

8

7

53,3

46,7

15 100,0
10. Distribusi Responden Menurut Karakteristik

Tabel 1 menunjukkan karakteristik responden dari 15 responden  berdasarkan  usia terbanyak  berada pada kelompok umur  31 – 35 tahun  yakni 10 orang (66,7%), lama  kerja  >10 tahun sebanyak 9 orang (60%), sebagian besar memiliki tingkat pendidikan  Diploma  yakni 8 orang (53,3%).

Klasifikasi pengetahuan dan keterampilan Total

Kurang

n     %

Sedang

n     %

Baik

 n      %

N             %
Pre test 3      20 10     66,7 2    13,3
Post test 1       6,7 2     13,3 12   80
15          100
Table 2. Gambaran pengetahuan dan keterampilan Guru PAUD  dalam pencegahan stunting sebelum dan setelah intervensi

Berdasarkan tabel 2, mayoritas pengetahuan dan keterampilan responden pada kedua kelompok sebelum diberikan intervensi termasuk dalam kategori sedang, yaitu 66,7. Mayoritas pengetahuan dan keterampilan Guru PAUD  pada kelompok intervensi setelah diberikan PANTAU termasuk dalam kategori baik yaitu 80% responden.

Intervensi p-value

Pre

 (n=15)

Mean (SD)

Post

(n=15)

Mean (SD)

Pengetahuan dan keterampilan guru PAUD  dalam pencegahan stunting 8,20(2.597) 17,60(3.043) <0,001
Table 3. Hasil Uji Pengaruh PANTAU terhadap pengetahuan dan keterampilan Guru PAUD  dalam pencegahan stunting

Tabel 3 menunjukkan secara statistic terdapat pengaruh pengetahuan dan keterampilan guru PAUD setelah dilakukan intervensi pendidikan terpadu cegah stunting (PANTAU) (p<0,05).

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik,  intervensi pendidikan terpadu cegah stunting (PANTAU) berpengaruh terhadap pengetahuan dan keterampilan guru PAUD  dalam pencegahan stunting. Efevbera et al., (2017) menyatakan  bahwa pendidikan kesehatan merupakan kombinasi pengalaman belajar yang direncanakan berdasarkan teori yang memberikan kesempatan bagi individu, kelompok, dan masyarakat untuk memperoleh informasi dan keterampilan yang diperlukan dalam membuat keputusan perilaku kesehatan yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan penenlitian yang dilakukan oleh Efevbera et al., (2017) yang mengemukakan bahwa terjadi perubahan pengetahuan dan keterampilan yang signifikan setelah dilakukan program edukasi manajemen kesehatan anak dimana meliputi cara merawat ketika sakit, dan tata laksana gizi sehat.  Penelitian lain yang dilakukan oleh Sulistyawati Rizka (2016) menyatakan bahwa conseling care for child development yang dilakukan oleh kader berpengaruh terhadap pengasuhan anak di Kota Yogyakarta.

Dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan  kesehatan yang dikembangkan sesuai dengan karakteristik masayarakat seperti PANTAU merupakan salah satu program yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan seseorang. Suarez & WHO (2014) menyatakan bahwa pendidikan kesehatan dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan, seperti guru di sekolah anak terutama jika masalahnya berhubungan dengan terbatasnya informasi dan pengetahuan mereka serta kepercayaan diri untuk dapat melakukan praktek yang optimal.

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan di dalam penelitian ini dikembangkan melalui penggunaan media menarik yang mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru PAUD. Media yang digunakan berupa modul PANTAU untuk kader, serta poster, video, dan paper flip. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prawesti Indah (2017) penggunaan media poster dan video dalam edukasi kesehatan yang dilakukan mampu meningkatkan literasi kesehatan ibu. Menurut Bieri et al., (2013) menggunakan video sebagai media edukasi kesehatan mampu meningkatkan pengetahuan dan perbaikan pada praktik kesehatan hingga 50%. Selain itu Sulaeman (1998) menambahkan bahwa poster edukasi berperan penting dalam pencapaian tujuan komunikasi, yaitu berupa adanya perubahan sikap (attitude change), pendapat (opinion change), perilaku (behavior change), dan perubahan social (social change).

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan juga dikembangkan melalui edukasi dan diskusi terkait materi pencegahan stunting meliputi tiga hal yaitu pemantauan pertumbuhan, asupan makanan sehat dan hygiene. Metode ceramah, diskusi, praktik, dan role play yang digunakan di dalam PANTAU membantu guru PAUD  dalam memahami dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam melakukan aktifitas pencegahan stunting yang diajarkan. Menurut Saleh et al., (2013) pendidikan kesehatan menggunakan berbagai metode bervariasi agar proses belajar mengajar atau pengajaran berjalan tidak membosankan, tetapi bagaimana memikat perhatian peserta didik/ sasaran. Susilowati (2016) menambahkan bahwa diskusi kelompok, curah pendapat, bola salju, role play, dan permainan simulasi adalah metode yang tepat untuk digunakan apabila jumlah anggota kelompok kurang dari 15 orang.

KESIMPULAN DAN SARAN

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa program Pendidikan Terpadu Cegah Stunting (PANTAU) dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru PAUD dalam pencegahan stunting. Studi ini dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru PAUD  dalam pencegahan stunting. Penelitian selanjutnya dapat memvalidasi hasil penelitian ini atau melakukan penelitian serupa yang telah dimodifikasi dari segi proses pelaksanaan yaitu penggunaan bahasa pada media dan penyampaian edukasi yang disesuaikan dengan bahasa daerah setempat.

PERNYATAAN

Ucapan Terimakasih

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada responden yang berpartisipasi dalam sampel penelitian, Kepala PAUD dan TK Aisyiyah Bustanul Atfal Gorontalo, Universitas Muhammadiyah Gorontalo dan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian Dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah  yang berkontribusi pada penelitian ini.

Pendanaan

Risetmu PP Muhammadiyah

DAFTAR PUSTAKA

Ali, P. B. (2018). Strategi Nasional dalam Penanggulangan Pangan, Gizi, dan Stunting. Mataram.

Badan kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik, Kementerian Kesehatan,  dan U. (2017). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. Jakarta.

Direktorat Promosi Kesehatan dan Pmberdayaan Masyarakat. (2018). Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku. Jakarta.

Efevbera, Y., Sc, M., Bhabha, J., Sc, M., Farmer, P. E., D, M., … A, M. (2017). Social Science & Medicine Girl child marriage as a risk factor for early childhood development and stunting. Social Science & Medicine, 185, 91–101. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2017.05.027

Izah, N., Hidayah, S. N., & Maulida, I. (2021). Upaya Skrining Dini Stunting Melalui Pemberdayaan Kader Dan Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Balita. Jurnal PkM Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 48. https://doi.org/10.30998/jurnalpkm.v4i1.5859

Jahari, A. B. (2018). Penurunan masalah balita stunting. Tanggerang.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. (2017). Buku Saku Desa dalam Penanganan Stunting. (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Ed.) (1st ed.). Jakarta: Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Kementerian Kesehatan republik Indonesia. (2018). Cegah Stunting itu Penting. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Warta Kesmas, 1–27.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.

Mahmudah, U., & Yuliati, E. (2021). Peningkatan Kualitas Pendidik PAUD sebagai Upaya dalam Pencegahan Stunting di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul. Jurnal Warta LPM, 24(4), 719–728.

Puspita, S. (2016). Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi dengan Status Gizi Balita Usia 2-4 Tahun di Puskesmas Banguntapan 1 Kabupaten Bantul. Universitas gadjah Mada.

Sasmita, Y., Jumadewi, A., & Maria, K. (2020). Hubungan Pengetahuan tentang Stunting dengan Akurasi Hasi Deteksi Dini Kasus Stunting pada Anak Oleh Guru PAUD di Wilayah Kerja Puskesmas Samadua Kabupaten Aceh Selatan. Serambi Akademica, 8(4), 546–554.

Satriawan, E. (2018). Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Jakarta.

Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia/ Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). (2018). Gerakan Nasional Pencegahan Stunting dan Kemitraan Multi Sektor. Jakarta.

Unicef, & Kementrian PPN/Bappenas. (2017). Laporan Baseline SDG tentang Anak - Anak di Indonesia. Jakarta.

World health Organization Geneva. (2013). CHILDHOOD STUNTING?: Challenges and opportunities. Geneva.

Yuliani, E., Yunding, J., & Haerianti, M. (n.d.). PELATIHAN KADER KESEHATAN DETEKSI DINI STUNTING PADA BALITA DI DESA BETTENG ( Health Cadre Training About Early Detection Of Stunting Toddler In Betteng Village ), 41–46.

Zogara, A. U. (2013). Riawayat Pemberian ASI Eksklusif dan MPASI DINI sebagai Prediktor Terjadinya Stunting pada BADUTA di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Universitas gadjah mada.

References

Ali, P. B. (2018). Strategi Nasional dalam Penanggulangan Pangan, Gizi, dan Stunting. Mataram.

Badan kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik, Kementerian Kesehatan, dan U.

(2017). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. Jakarta.

Direktorat Promosi Kesehatan dan Pmberdayaan Masyarakat. (2018). Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku.

Jakarta.

Efevbera, Y., Sc, M., Bhabha, J., Sc, M., Farmer, P. E., D, M., … A, M. (2017). Social Science & Medicine Girl child

marriage as a risk factor for early childhood development and stunting. Social Science & Medicine,

, 91–101. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2017.05.027

Izah, N., Hidayah, S. N., & Maulida, I. (2021). Upaya Skrining Dini Stunting Melalui Pemberdayaan Kader Dan

Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Balita. Jurnal PkM Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1),

https://doi.org/10.30998/jurnalpkm.v4i1.5859

Jahari, A. B. (2018). Penurunan masalah balita stunting. Tanggerang.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. (2017). Buku Saku Desa dalam Penanganan

Stunting. (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Ed.) (1st ed.).

Jakarta: Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Kementerian Kesehatan republik Indonesia. (2018). Cegah Stunting itu Penting. Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia Warta Kesmas, 1–27.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.

Mahmudah, U., & Yuliati, E. (2021). Peningkatan Kualitas Pendidik PAUD sebagai Upaya dalam Pencegahan

Stunting di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul. Jurnal Warta LPM, 24(4), 719–728.

Puspita, S. (2016). Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi dengan Status Gizi Balita

Usia 2-4 Tahun di Puskesmas Banguntapan 1 Kabupaten Bantul. Universitas gadjah Mada.

Sasmita, Y., Jumadewi, A., & Maria, K. (2020). Hubungan Pengetahuan tentang Stunting dengan Akurasi Hasi Deteksi

Dini Kasus Stunting pada Anak Oleh Guru PAUD di Wilayah Kerja Puskesmas Samadua Kabupaten

Aceh Selatan. Serambi Akademica, 8(4), 546–554.

Satriawan, E. (2018). Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Jakarta.

Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia/ Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

(2018). Gerakan Nasional Pencegahan Stunting dan Kemitraan Multi Sektor. Jakarta.

Unicef, & Kementrian PPN/Bappenas. (2017). Laporan Baseline SDG tentang Anak - Anak di Indonesia. Jakarta.

World health Organization Geneva. (2013). CHILDHOOD STUNTING?: Challenges and opportunities. Geneva.

Yuliani, E., Yunding, J., & Haerianti, M. (n.d.). PELATIHAN KADER KESEHATAN DETEKSI DINI

STUNTING PADA BALITA DI DESA BETTENG ( Health Cadre Training About Early Detection

Of Stunting Toddler In Betteng Village ), 41–46.

Zogara, A. U. (2013). Riawayat Pemberian ASI Eksklusif dan MPASI DINI sebagai Prediktor Terjadinya Stunting

pada BADUTA di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Universitas

gadjah mada.

Published

2023-08-28

How to Cite

Sudirman, A. A., Damansyah, H., & Indrianingsih, S. T. (2023). Pengaruh Pendidikan Terpadu Cegah Stunting (Pantau) terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Guru Paud di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Kota Gorontalo. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), e1083. https://doi.org/10.36990/hijp.v15i2.1083

Issue

Section

Original Research

Citation Check