ANALISIS KESIAPAN MASYARAKAT DALAM MEMANFAATKAN APLIKASI PELAYANAN KESEHATAN DI ERA DIGITALISASI KABUPATEN GORONTALO
DOI:
https://doi.org/10.36990/hijp.v15i2.1084Keywords:
Kognitif, Afektif, Psikomotor, Kesiapan MasyarakatAbstract
The use of technology brings many advantages. The open exchange of medical in-formation between a person and health workers through the use of electronic tech-nology will lead to an increase in health services and patient health status. One of the government and private breakthroughs is to create health applications. Howev-er, the problem that occurs is that not all people use the application. The purpose of this study is to analyze community readiness in utilizing health applications in the digital era. This research is a quantitative research with cross sectional analytic study. The population in this study is the community in the working area of the puskesmas in Gorontalo district. The sampling technique uses probability sampling with cluster sampling techniques. The number of samples used were 97 respond-ents. Data analysis using chi square. The results of this study obtained a p value of 0.0001 at the cognitive level of the community with community readiness in utiliz-ing health applications, a p value of 0.0001 in affective with community readiness in utilizing health applications, a p value of 0.026 at cognitive level with readiness in utilizing health applications. The need for support from the government in so-cializing the importance of utilizing health applications in today's digital era. Lack of exposure to information is one of the reasons people don't take advantage of ex-isting applications.
PENDAHULUAN
Dalam era digitalisasi, perkembangan dunia informasi menjadi semakin cepat. Komponen penting dalam mewujudkan transformasi digital yakni mejadikan integritas data yang rutin dan berkualitas. Kemajuan teknologi informasi mulai merambah pada bidang kesehatan seperti kedokteran. Banyaknya temuan-temuan yang di dapatkan di bidang kesehatan dengan bantuan teknologi informasi yang membuat kemajuan dalam bidang kesehatan saat ini. Salah satunya terkait pengobatan, informasi pengoranisasian Rumah Sakit, maupun penelitian yang sifatnya terkait pengembangan ilmu kesehatan itu sediri. Pelayanan kesehatan berbasis teknologi informasi tengah mendapat banyak perhatian dunia. Dimana penggunaan telekesehatan terus meningkat dari tahun ke tahun (Yani, 2018)
Penggunaan telekesehatan membawa banyak keuntungan. Pertukaran informasi medis yang terbuka antara seseorang dengan tenaga kesehatan melalui penggunaan teknologi elektronik akan menyebabkan peningkatan layanan kesehatan dan status kesehatan pasien. Akses yang cepat terhadap tenaga kesehatan berkualitas juga akan menurunkan jumlah diagnosis differential, komplikasi dan meningkatkan manajemen kesehatan. Akses kesehatan yang lebih baik, efisien, berkualitas dan cost effective merupakan keuntungan utama penggunaan telekesehatan. Selain itu, keuntungan lainnya yaitu keuntungan sosial ekonomi yang didapat pasien, keluarga, tenaga kesehatan dan sistem kesehatan. Penggunaan telekesehatan juga dapat digunakan untuk edukasi dan komunikasi dua arah antara dokter-pasien. Penggunaan telekesehatan telah ditemukan dapat mengurangi secara langsung maupun tidak langsung jumlah rujukan dan mengurangi kebutuhan pasien untuk dipindah selain itu ada juga terdapat permasalahan-permasalahan yang di dapatkan (abigail.,dkk 2020).
Permasalahaan yang sering terjadi di dapatkan di lapangan yakni sulitnya akses ke tenaga kesehatan di daerah terpencil. Sehingga wajib Penggunaan telekesehatan untuk dapat menjembatani akses dan penanganan pasien di daerah terpenci terutama dalam layanan kesehatan promotif dan preventif. Telekesehatan ini telah dilaporkan dalam membantu melakukan promosi kesehatan reproduksi, mengontrol obesitas, mendorong peningkatan aktifitas fisik, diet sehat, berhenti merokok, mengontrol minum beralkohol dan lain- lain. Selain iu, ada beberapa aplikasi yang justru menimbulkan masalah baru yang seharusnya dapat memudahkan dan meningkatkan pelayanan kesehatan (abigail.,dkk 2020). Maka dari itu perlu di identifikasi untuk mengetahui seberapa pentingnya kesiapan masyarakat dalam menangapi hal tersebut (Sunjaya, 2019)
Beberapa penelitian terkait dengan perkembangan teknologi seperti penelitian yang dilakukan oleh Manganello, Jennifer, et al. (2017) menyebutkan pelayanan kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi penggunaan teknologi digital, penerapan intervensi kesehatan dalam pengembangan teknlogi digital sangat efektif dalam melayani masyarakat. Hal yang serupa juga yang disampaikan oleh Moller, Arlen C., et al. (2017) dalam artikelnya bahwa penerapan intervensi kesehatan berbasis teknologi digital dinilai sangat menguntungkan. Pertama, dapat memperlancar akses pelayanan, mempermudah jangkauan pelayanan terhadap masyarakat. Kedua, dapat memindahkan intervensi kesehatan ke platform digital dan menghadirkan riset dengan peluang baru untuk memajukan teori dan konsep pelayanan kesehatan. (Manganello et al., 2017). Mary Ann (Edwards et.al, 2000) menyederhanakan kesiapan masyarakat ke dalam tiga tingkatan, yaitu: Belum Siap (tiadanya community awareness sekaligus belum memadainya informasi), Dukungan Kolektif (mulai disadarinya peran kolektivitas, leadership, forum komunitas, serta kearifan lokal, namun channelchannel komunikasi dan network masih belum dioptimalkan untuk mendukung pembangunan), hingga Proaktif (dimana masyarakat bersama pengelola proyek mengevaluasi dan memodifikasi kegiatan pembangunan demi efektivitas program selanjutnya). Setiap tingkatan memiliki strategi/pendekatan penanganan yang berbeda, mulai dari: pendekatan personal yang cukup intensif, memanfaatkan media informasi lokal untuk advokasi sekaligus menyampaikan informasi pembangunan, mengoptimalkan sumber daya lokal (baik dari sisikelembagaan, tokoh, media, dsb) dalam rangka menjembatani pihak pemerintah sebagai owner dan masyarakat sebagai user, dan lain-lain. Kesiapan masyarakat ke dalam lima dimensi kesiapan masyarakat, yaitu: Upaya yang dilakukan masyarakat, Pengetahuan masyarakat tentang isu, Kepemimpinan, dan Keterlibatan masyarakat. Serta dalam menilai kesiapan masyarakat secara kognitif, afektif maupun psikomotor (Kadarsih et al., 2020). Oleh karena itu, pemerintah perlu melihat kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan dalam bentuk digital sesuai dengan perkembangan zaman.
METODE
Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey analisis deskriptif “ Crossectional” . Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Gorontalo yang terdiri dari 4 Wilayah kerja Puskesmas yaitu Pusekesmas Limboto, Puskesmas Limboto Barat, Puskesmas Telaga dan Puskesmas Telaga Biru. Penelitian dilaksanakan selama satu tahun mulai bulan September 2022 – Juni 2023 yang meliputi tahap pengusulan, persiapan, proses penelitian, pengolahan data, dan penyusunan laporan. Lokasi penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Sekabupaten Gorontalo. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kesiapan masyarakat secara kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini pemanfaatan aplikasi pelayanan kesehatan di era digitalisasi sesuai perkembangan zaman. Populasi yang digunakan adalah Masyarakat yang ada dalam wilayah kerja puskesmas sekabupaten gorontalo.
Tekhnik pengambilan sampel digunakan tekhnik probability sampling dengan jenis sampling cluster sampling. Sampel diambil secara acak disetiap wilayah kerja Puskesmas. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 97 responden. Rumus sampel yang digunakan adalah rumus estimasi proporsi dengan proporsi 50% dan derajat penyimpangan 10%. Adapun Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : Berusia Dewasa, Dapat menggakses berbagai aplikasi kesehatan, Memiliki kualitas signal yang baik. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang di peroleh dari kuesioner, wawancara dan observasi. Sedangkan data sekunder di peroleh dari data yang di dapatkan di Puskesmas di Kabupaten Gorontalo terkait aplikasi pelayanan berbasis digital. Alat yang digunakan dalam pengumpulan data instrumen dalam mengukur kesiapan masyarakat dengan melihat secara kognitif, afektif dan psikomotor. Kuesioner ini sudah diuji secara validitas sebelumnya dan dinyatakan valid, dengan nilai r = 0,902. Sedangkan untuk pemanfaatannya yaitu dengan melihat penggunaan aplikasi layanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitaif. Uji statistic yang digunakan adalah chi square.
HASIL
Berikut akan disajikan analisis data distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik demografi meliputi ; Usia, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan, dan Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Kognitif, Psikomotor dan afektif dalam kesiapan dalam pemanfaatan aplikasi layanan kesehatan.
| Variabel | Frekuensi | Persentase (%) |
|---|---|---|
|
Usia Dewasa awal (26-35 tahun) Dewasa akhir (36-45 tahun) Lansia awal (46-55 tahun) Lansia akhir (55-65 tahun) |
54 34 9 0 |
55,67 35,67 9,28 0 |
|
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan |
62 35 |
63,92 36,08 |
|
Tingkat Pendidikan Tinggi ( SMA/SMK, Sarjana ) Rendah (TS, SD, SMP ) |
56 41 |
57,73 42,27 |
|
Kognitif Baik Cukup Kurang |
38 30 29 |
39,18 30,93 29,90 |
|
Afektif Baik Cukup Kurang |
40 20 37 |
41,24 20,62 38,14 |
|
Psikomotor Baik Cukup Kurang |
47 35 15 |
48,45 36,08 15,46 |
|
Pemanfaatan Aplikasi Kesehatan Baik Cukup Kurang |
40 37 20 |
41,2 38,1 20,6 |
Tabel 1 menunjukkan kaateristik responden dari 97 orang berdasarkan jenis kelamin usia terbanyak dewasa awal dengan 54 orang (55,67%), jenis kelamin didominasi oleh laki-laki sebesar 62 orang ( 63,92 %), Tingkat pendidikan terbanyak dengan pendidikan tinggi sebesar 56 orang ( 57,73 %). Tingkat kognitif masyarakat kategori baik dengan 38 orang ( 39,18%) dan kurang, Tingkat afektif masyarakat kategori baik sebanyak 40 orang ( 41,24%), tingkat psikomotor kategori baik sebanyak 59 orang ( 60,82) serta masyarakat yang memanfaatkan aplikasi kesehatan dengan kategori baik sebanyak 40 orang (41,2%).
| Kognitif | Kesiapan Pemanfaatan Aplikasi Kesehatan | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Baik | Cukup | Rendah | Total | P value | |||||
| N | % | N | % | N | % | n | % | ||
| Baik | 29 | 76,3 | 5 | 13,2 | 4 | 10,5 | 38 | 100 | 0,0001* |
| Cukup | 5 | 16,7 | 17 | 56,7 | 8 | 26,7 | 30 | 100 | |
| Kurang | 6 | 20,7 | 15 | 51,7 | 8 | 26,7 | 29 | 100 | |
| Jumlah | 40 | 41,2 | 37 | 38,1 | 20 | 20,6 | 97 | 100 | |
Hasil analisis hubungan antara kognitif dengan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan diperoleh sebanyak 29 orang (76,3%) memiliki kognitif yang baik dan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan yang baik pula. Sedangkan yang memiliki kognitif kurang terhadap kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan yang rendah sebesar 8 orang ( 20,7%). Hasil uji statistic diperoleh nilai p = 0,0001 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan antara masyarakat yang memiliki kognitif yang baik, cukup dan kurang ( ada hubungan yang signifikan antara kognitif dengan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan.
| Afektif | Pemanfaatan Aplikasi Kesehatan | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Baik | Cukup | Rendah | Total | P value | |||||
| N | % | N | % | N | % | N | % | ||
| Baik | 29 | 72,5 | 7 | 17,5 | 4 | 10,0 | 40 | 100 | 0,0001* |
| Cukup | 7 | 35,0 | 10 | 50,0 | 3 | 15,0 | 20 | 100 | |
| Kurang | 4 | 15,3 | 20 | 54,1 | 13 | 35,1 | 37 | 100 | |
| Jumlah | 40 | 41,2 | 37 | 38,1 | 20 | 20,6 | 97 | 100 | |
Hasil analisis hubungan antara afektif dengan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan diperoleh sebanyak 29 orang (72,5%) memiliki afektif yang baik dan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan yang baik pula. Sedangkan yang memiliki afektif 13 terhadap kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan yang rendah sebesar 13 orang ( 35,1%). Hasil uji statistic diperoleh nilai p = 0,0001 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan antara masyarakat yang memiliki afektif yang baik, cukup dan kurang ( ada hubungan yang signifikan antara afektif dengan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan ).
| Psikomotor | Pemanfaatan Aplikasi Kesehatan | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Baik | Cukup | Rendah | Total | P value | |||||
| N | % | N | % | N | % | N | % | ||
| Baik | 22 | 46,8 | 21 | 44,7 | 4 | 8,5 | 47 | 100 | 0,026* |
| Cukup | 14 | 40,0 | 12 | 34,3 | 9 | 25,7 | 35 | 100 | |
| Kurang | 4 | 26,7 | 4 | 26,7 | 7 | 46,7 | 15 | 100 | |
| Jumlah | 40 | 41,2 | 37 | 38,1 | 20 | 20,6 | 97 | 100 | |
Hasil analisis hubungan antara psikomotor dengan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan diperoleh sebanyak 22 orang (46,8%) memiliki psikomotor yang baik dan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan yang baik pula. Sedangkan yang memiliki psikomotor terhadap kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan yang rendah sebesar 13 orang ( 46,7%). Hasil uji statistic diperoleh nilai p = 0,0001 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan antara masyarakat yang memiliki psikomotor yang baik, cukup dan kurang (ada hubungan yang signifikan antara psikomotor dengan kesiapan pemanfaatan aplikasi kesehatan).
PEMBAHASAN
Tolak ukur yang digunakan dalam kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan dilihat dari factor kognitif. Dari hasil kuesioner yang dibagikan memperlihatkan bahwa 29 orang (73%) koresponden masyarakat di kecamatan Limboto mengetahui bahwa pentingnya memanfaatkan aplikasi kesehatan di era digital saat ini.
Menurut (Hartanti 1999 dalam Sawitri 2004b) Pengetahuan dan Keterampilan merupakan bekal untuk bertindak dan mencerminkan perwujudan kepribadian, sikap, tingkah laku, dan tindakan. Manusia memiliki potensi berharga sebagai modal untuk terlibat dalam proses pembangunan. Potensi tersebut adalah potensi fisik dan potensi insani. Potensi fisik merupakan wujud fisik manusia, sedangkan potensi insani dipahami sebagai sesuatu yang tidak tampak secara fisik. Potensi insani diantaranya adalah kemampuan intelektual yang mencakup kemampuan dan keterampilan sebagai kesatuan kompetensi. Perkembangan intelektual akan menghasilkan sesuatu yang inovatif sebagai hasil dari proses pendidikan, pelatihan dan pengalaman, serta interaksi dengan lingkungan.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) dalam penerimaan sikap dan perilaku baru bagi diri seseorang melalui tahap-tahap kesadaran, merasa tertarik menilai dan mencoba serta mengadopsi sikap dan perilaku yang didasari atas pengetahuan kesadaran dan sikap positif, maka perilaku tersebut akan bersifat menetap (Notoatmodjo, dalam Chandra, Fauzan, & Aquarista, 2017)
Responden yang memiliki pengetahuan baik dan cukup memiliki informasi dan pengalaman yang banyak, semakin banyak informasi yang didapat maka pengetahuan seseorang akan bertambah baik dengan semakin banyaknya infomasi yang didapat maka pola pikirnya seseorang akan semakin terbuka dan dapat mencari solusi dari suatu masalah, semakin banyak pengalaman seseorang maka pengetahuannya akan menjadi baik (Carolina et al., 2016).
Semakin baik pengetahuan seseorang, maka semakin baik kesiapan dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan. Banyaknya aplikasi kesehatan yang dikembangkan mempunyai banyak keunggulan. Salah satunya yaitu memudahkan akses pelayanan kesehatan hanya dengan menggunakan smartphone yang terkoneksi internet dimanapun dan kapanpun oleh siapa saja. Aplikasi mobile sistem informasi pelayanan kesehatan dalam penelitian ini dirancang dan dibangun agar masyarakat pengguna fasilitas kesehatan dapat dengan mudah mengetahui informasi apa saja berkaitan dengan tempat-tempat pelayanan kesehatan yang tersedia di wilayahnya dari perangkat smartphone yang dimilikinya setiap saat. Saat ini banyak tempat pelayanan kesehatan berdiri baik milik pemerintah atau swasta mulai dari rumah sakit, puskesmas, atau klinik disetiap wilayah. Sehingga memerlukan pengetahuan yang baik agar bisa memanfaatkan dan menggunakan aplikasi kesehatan tersebut (Santoso et al., 2012) Hal ini didukung oleh penelitian (Sunjaya, 2019) bahwa Pemanfaatan teknologi terutama dalam bidang medis dalam bentuk digital health perlu dikembangkan agar dapat lebih berguna bagi orang banyak. Sehingga diperlukan pengetahuan yang baik untuk dapat mempersiapkan dan memanfaatkan berrbagai macam aplikasi kesehatan.
Dari segi factor afektif masyarakat memiliki kesiapan yang baik dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan sebesar 29 orang (72,5%). Sikap dibentuk dan dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, kebudayaan, dan orang lain yang dianggap penting. Pembentukan sikap tidak terjadi begitu saja, melainkan sikap melalui proses dan tahapan secara terus-menerus, demikian pula dalam mengambil keputusan kesehatan (Fordgilboe, 2002).
Menurut Notoadmodjo, (2017), seseorang memiliki sikap yang tidak mendukung (negatif) akan cenderung memiliki tingkatan hanya sebatas menerima dan merespon saja, sedangkan seseorang dikatakan telah memilki sikap mendukung (positif) akan mencapai tingkatan menghargai atau bertanggungjawab karena sikap yang ditunjukkan seseorang merupakan respon bathin dari stimulus berupa materi atau objek.
Sikap menggambarkan suka atau tidak sukanya seseorang terhadap obyek. Sikap sering diperoleh dari pengalam sendiri atau dari orang lain. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi obyek. Cara seseorang bersikap terhadap nilai-nilai kesehatan, tidak terlalu terwujud dalam suatu tindakan nyata (Notoatmodjo, dalam Daulay, 2018).
Teori Green (dalam Azinar et al., 2011), menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku yaitu faktor penentu (predisposing factors) yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai seseorang menjadi dasar motivasi untuk bertindak, faktor pendukung (enabling factors) yang meliputi sumber daya dan keterampilan yang diperlukan seperti fasilitas dan petugas kesehatan, sarana dan prasarana, faktor pendorong (reinforcing factors) yang meliputi perubahan karena adanya motivasi sikap dan perilaku yang lain.
Sikap yang ditunjukan responden dalam penelitian ini cenderung baik, dibandingkan dengan yang memiliki sikap kurang yang cenderung memiliki sikap negative. Salah satu factor yang menyebabkan hal tersebut terjadinya karena sumber infomasi yang didapat sedikit serta pengalaman diperoleh yang sedikit berpengaruh terhadap sikap yang cenderung negatif. Munculnya sikap negatif dalam hal ini dikarenakan persepsi negatif dari masyarakat yang beragam tentang manfaat aplikasi kesehatan diantaranya adalah adanya sulitnya menggunakan aplikasi kesehatan, kurangnya sosialisasi dan kurang terpaparnya masyarakat terkait penggunaan aplikasi kesehatan yang banyak dikembangkan oleh pemerintah maupun swasta.
Pengambilan sikap masyarakat yang baik juga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Lestari, 2022) masyarakat yang merespon baik aplikasi kesehatan seperti pada ibu hamil dalam memonitoring pemeriksaan kehamilannya dengan perangkat mobile dipelayanan kesehatan dapat memfasilitasi pengumpulan data klinis, meningkatkan kepatuhan ibu hamil untuk rutin memeriksakan kehamilan, meningkatkan kualitas pelayanan antenatal care, memberikan informasi tentang manajemen serta identifikasi resiko pada kehamilan dan meningkatkan kepuasan ibu hamil.
Ditinjau dari factor psikomotor dengan kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan sebanyak 22 orang (46,8%). Faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku seseorang, menurut Green (1980 dalam Notoadmodjo, 2010) yaitu Predisposing Factors, faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap terhadap kesehatan, tradisi, dan kepercayaan masyarakat terhadap hal yang berkaitan dengan kesehatan dan sebagainya. Enambling Factors, faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, lingkungan fisik misalnya: air bersih, tempat pembuangan sampah dan sebagainya. Reinforcing factors, faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh dan para petugas kesehatan. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior) (Notoadmodjo, 2010).
Menurut Skinner (dalam (Notoadmodjo, 2010) menyebutkan bahwa perilaku kesehatan diartikan sebagai respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan seperti lingkungan, makanan, minuman, pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable) yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan (MacAbasco-O’Connell & Fry-Bowers, 2011). Menurut Grand Theories Psychology (Fadhilah, 2015), menggunakan teori gestalt menyebutkan bahwa segala perbuatan dan tingkah laku manusia disebabkan oleh proses persepsi-persepsi, yang berarti bahwa perbuatan dan tingkah laku manusia ditentukan oleh faktor lingkungan tempat seseorang dominan hidup.
Masyarakat yang memiliki psikomotor yang baik juga meningkatkan peluang dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang kurang terlayani, sehingga dibutuhkan respon yang baik dari masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya. Penelitian yang dilakukan oleh (Eprilianto et al., 2019) dengan Kemajuan dalam perangkat lunak dan perangkat keras ponsel cerdas ditambah dengan meningkatnya ketersediaan perangkat baik di Indonesia maupun global, menghasilkan pertumbuhan eksponensial di pasar aplikasi kesehatan. mHealth mengacu pada konsep perawatan mandiri seluler-teknologi konsumen seperti aplikasi smartphone dan tablet yang memungkinkan konsumen untuk menangkap data kesehatan sendiri, tanpa bantuan atau interpretasi dokter.
Dengan adanya kemudahan tersebut bukan tidak memungkinkan masyarakat dapat mengontrol perawatan dirinya masing-masing. Teknologi aplikasi berbasis kesehatan mampu meraih pelayanan konsultasi secara daring terkait kesehatan, menyediakan pelayanan perawatan di rumah, menunjang pemeriksaan laboratorium, menunjang kemudahan dalam pemesanan obat bahkan menyediakan informasi kesehatan yang dipercaya. Beragam aplikasi dapat dimanfaat kan seperti : (Live Chat), artikel kesehatan, Fasilitas Yankes atau Pelayanan Kesehatan, autan pendaftaran rawat jalan di rumah sakit, dan E- Policy. Dalam fitur Live chat, masyarakat bisa melakukan konsultasi dengan dokter yang di pilih sesuai dengan kebutuhan informasi dalam kesehatan seperti halnya keluhan penyakit, tips kesehatan, dan konsultasi medis lainnya (Prasasti, 2019).
KESIMPULAN DAN SARAN
Faktor kognitif, sikap dan psikomotor berhubungan dengan kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan. Pemanfaatan aplikasi kesehatan dapat memberikan keuntungan dinataranya yaitu pemberian pelayanan kesehatan jarak jauh oleh profesional kesehatan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, meliputi pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit dan cedera, penelitian dan evaluasi, dan pendidikan berkelanjutan penyedia layanan kesehatan untuk kepentingan peningkatan kesehatan individu dan masyarakat.
Perlunya dukungan dari pemerintah dalam mensosialisasikan pentingnya memanfaatkan aplikasi kesehatan di era digital saat ini. Kurangnya paparan informasi merupakan salah satu alasan masyarakat tidak memanfaatkan aplikasi yang sudah tersedia. memberikan informasi yang dikelola dengan baik dan aman, sehingga dibutuhkan suatu sistem yang aman dan lancar agar seluruh informasi yang didapatkan dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan lebih optimal dan dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Disarankan perlu adanya kajian lebih lanjut karena penelitian ini memiliki kekurangan dari segi banyaknya data respondennya dan juga metode yang digunakan perlu diperkuat dengan beberapa metode dengan basic teknologi informasi.
PERNYATAAN
Ucapan Terimakasih
Terima kasih kepada Risetmu atas hibah penelitiannya
Pendanaan
Risetmu PP Muhammadiyah
DAFTAR PUSTAKA
Abigael, N. F., & Ernawaty. (2020). Literature Review : Readiness Assessment of Health Workers to Accept Telehealth and Telemedicine between Develope. Jurnal Kesehatan, 11(2), 302–310.
Carolina, P., Tingkat, H., Kesehatan, D., & Juli, V. N. (2016). HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP KELUARGA Putria Carolina et al Hubungan Tingkat … .. 7(1), 230–235.
Eprilianto, D. F., Sari, Y. E. K., & Saputra, B. (2019). Mewujudkan Integrasi Data Melalui Implementasi Inovasi Pelayanan Kesehatan Berbasis Teknologi Digital. JPSI (Journal of Public Sector Innovations), 4(1), 30. https://doi.org/10.26740/jpsi.v4n1.p30-37
Kadarsih, S., Bayuardi, G., & Equanty, D. (2020). Identifikasi Kesiapan Masyarakat Dusun Mulia Menuju Desa Mandiri Tahun 2019 (Studi Kasus Dusun Mulia Desa Persiapan Permata Jaya). Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial, 7(1), 37. https://doi.org/10.31571/sosial.v7i1.1636
Lestari, W. (2022). APLIKASI MONITORING ANTENATAL CARE IBU HAMIL DENGAN PERANGKAT MOBILE DI PELAYANAN KESEHATAN?: LITERATUR REVIEW. May, 45–50.
Manganello, J., Gerstner, G., Pergolino, K., Graham, Y., Falisi, A., & Strogatz, D. (2017). The relationship of health literacy with use of digital technology for health information: implications for public health practice. Journal of Public Health Management and Practice, 23(4), 380–387.
Santoso, M. H., Anggara, E. D., Informasi, S., Selatan, P., & Tengah, J. (2012). RANCANG BANGUN APLIKASI MOBILE SISTEM INFORMASI. 235–244.
Sunjaya, A. P. (2019). 63-Editorial-270-1-10-20191002. Potensi, Aplikasi Dan Perkembangan Digital Health Di Indonesia, April, 167–169.
Yani, A. (2018). Utilization of Technology in the Health of Community Health. PROMOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(1), 97. https://doi.org/10.31934/promotif.v8i1.235
References
Abigael, N. F., & Ernawaty. (2020). Literature Review : Readiness Assessment of Health Workers to Accept
Telehealth and Telemedicine between Develope. Jurnal Kesehatan, 11(2), 302–310.
Carolina, P., Tingkat, H., Kesehatan, D., & Juli, V. N. (2016). HUBUNGAN TINGKAT
PENGETAHUAN DENGAN SIKAP KELUARGA Putria Carolina et al Hubungan
Tingkat … .. 7(1), 230–235.
Eprilianto, D. F., Sari, Y. E. K., & Saputra, B. (2019). Mewujudkan Integrasi Data Melalui Implementasi
Inovasi Pelayanan Kesehatan Berbasis Teknologi Digital. JPSI (Journal of Public Sector
Innovations), 4(1), 30. https://doi.org/10.26740/jpsi.v4n1.p30-37
Kadarsih, S., Bayuardi, G., & Equanty, D. (2020). Identifikasi Kesiapan Masyarakat Dusun Mulia Menuju
Desa Mandiri Tahun 2019 (Studi Kasus Dusun Mulia Desa Persiapan Permata Jaya). Sosial
Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial, 7(1), 37. https://doi.org/10.31571/sosial.v7i1.1636
Lestari, W. (2022). APLIKASI MONITORING ANTENATAL CARE IBU HAMIL DENGAN
PERANGKAT MOBILE DI PELAYANAN KESEHATAN?: LITERATUR REVIEW.
May, 45–50.
Manganello, J., Gerstner, G., Pergolino, K., Graham, Y., Falisi, A., & Strogatz, D. (2017). The relationship
of health literacy with use of digital technology for health information: implications for public
health practice. Journal of Public Health Management and Practice, 23(4), 380–387.
Santoso, M. H., Anggara, E. D., Informasi, S., Selatan, P., & Tengah, J. (2012). RANCANG BANGUN
APLIKASI MOBILE SISTEM INFORMASI. 235–244.
Sunjaya, A. P. (2019). 63-Editorial-270-1-10-20191002. Potensi, Aplikasi Dan Perkembangan Digital
Health Di Indonesia, April, 167–169.
Yani, A. (2018). Utilization of Technology in the Health of Community Health. PROMOTIF: Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 8(1), 97. https://doi.org/10.31934/promotif.v8i1.235
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Categories
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Firmawati, Andi Nur Aina Sudirman (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









