Hubungan Postur Kerja dan Masa Kerja dengan Keluhan Myalgia Upper Trapezius pada Perawat Rawat Inap Puskesmas di Kabupaten Ngawi

Authors

  • Ayu Rusdiana Dewi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Indonesia
  • Sri Darnoto Universitas Muhammadiyah Surakarta, Indonesia

Abstract

Introduction: Puskesmas is an important part of facilitating the implementation of changes in conditions. people's health for the sake of improving the health condition of the best. One of the most common work disorders in Health Center nurses is when nurses work in a sitting or standing posture for a long time, with their bodies bent and lowered, so that such a working posture can increase the likelihood of complaints of neck discomfort in the upper trapezius muscle. Therefore, it is necessary to conduct in-depth research on the relationship of working posture and length of service with complaints of myalgia in the upper trapezius in inpatient nurses at the Ngawi District Health Center. Methods: the type of research used in this study is quantitative with observational design and cross-sectional approach in which researchers look for the relationship between the independent variable with the dependent variable by making instantaneous measurements. The population in this study was 91 people taken from inpatient health centers in Ngawi Regency. The number of samples in this study amounted to 47 people. Data collection techniques in this study is by filling out a questionnaire NDI or direct interviews with nurses at this time. Result: data analysis technique using bivariate analysis with Chi-square test. Obtained p value= 0.012 in chi-square test complaints with working posture and p value= 0.013 in chi-square test, where p value<0.05. Conclusion: it can be concluded that there is a relationship between working posture (p-value = 0.012) and working period (p-value =0.013) with complaints of upper trapezius myalgia in inpatient nurses of Puskesmas in Ngawi Regency.

PENDAHULUAN

Puskesmas merupakan fasilititas pelayanan kesehatan utama pertama diIndonesia. Puskesmas merupakan bagian penting untuk memfasilitasiterselenggaranya perubahan kondisi kesehatan masyarakat demi peningkatankondisi kesehatan yang sebaik-baiknya. Untuk mencapai derajat kesehatanyang setinggi-tingginya diperlukan upaya menciptakan sistem pelayanankesehatan dasar yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sebagaikonsumen pelayanan kesehatan. Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatanpertama dan tertinggi dalam sistem pelayanan kesehatan akanmenyelenggarakan upaya kesehatan wajib dan berbagai upaya kesehatanpilihan yang disesuaikan dengan situasi, kebutuhan, persyaratan,kemampuan dan perubahan kebijakan pemerintah daerah. Puskesmas danorganisasi melakukan upaya kesehatan yang menyeluruh dan terpadu melaluipromosi pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi yang dipadukan dengandukungan yang diperlukan. Ketersediaan sumber daya dari segi kualitasdan kuantitas sangat berpengaruh terhadap proyek (Syifani, 2018).

Setiap pekerjaan mempunyai peluang untuk mengalami resiko berupakecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang disebabkan olehkombinasi berbagai faktor seperti tenaga kerja, peralatan kerja, danlingkungan kerja. Penyakit akibat kerja merupakan penyakit yangdisebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, material, proses dan lingkungankerja (Sucipto, 2014). Salah satunya yaitu penyakit pada uppertrapezius.

Salah satu gangguan kerja yang paling sering terjadi pada perawatPuskesmas yaitu ketika perawat bekerja dengan postur kerja duduk atauberdiri dalam waktu yang lama, dengan tubuh membungkuk dan menunduk,sehingga postur kerja seperti itu dapat meningkatkan kemungkinan keluhanketidaknyamanan leher pada otot upper trapezius. 84%titik nyeri pada leher terjadi pada otot upper trapezius,levator scapula, infraspinatus dan scalenus(Makmuriyah, 2013).

Nyeri spasme serviks dan nyeri upper trapeziusmerupakan salah satu gangguan nyeri otot yang paling umum, mempengaruhi30% hingga 50% populasi setiap tahun (Khan et al., 2015). Di Indonesia,kejadian ketidaknyamanan leher merupakan sampai 10% dalam satu bulan dan40% dalam satu tahun. Ketidaknyamanan leher mempengaruhi 6-67% karyawandan lebih sering terjadi pada wanita (Falah, 2019), dengan pekerjatekstil menyumbang 49% dari semua kasus (Wayan, 2015) dan nyeri leheratas dirasakan oleh perawat dengan prevelensi sebesar 60% (Wuriani,2017). Tidak hanya postur kerja yang lama tetapi masa kerja yang lamadapat menyebabkan myalgia upper trapezius.Myalgia upper trapezius ini dapat menyebabkanpengurangan fungsi psikologis dan fisoiologi yang dapat dihilangkandengan upaya pemulihan. Myalgia upper trapezius dapatterjadi pada saat bekerja, baik itu dalam waktu yang singkat maupundalam jangka waktu yang lama.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal 2 Januari 2023 diPuskesmas Paron, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa perawatrawat inap di Puskesmas Paron, Terdapat adanya keluhan myalgiaupper trapezius pada perawat faktor yang paling mempengaruhiyaitu postur kerja Ketika menjahit luka ataupun memasang infus, apalagiKetika banyaknya pasien membuat perawat merasakan keluhan tersebut.Rawat inap di puskesmas paron memiliki 12 kamar dengan 4 ruang anak dan8 ruang dewasa. Masa kerja yang lama juga mempengaruhi adanya keluhantersebut. Rata-rata perawat bagian rawat inap memiliki masa kerja 5- 30tahun dengan rentang usia perawat 28-55 tahun.

Peran perawat dalam sistem kesehatan sangatlah penting, terutama diPuskesmas Kabupaten Ngawi. Sebagai garda terdepan dalam memberikanpelayanan kesehatan kepada masyarakat, perawat rawat inap di Puskesmasmemiliki tanggung jawab besar dalam merawat pasien dan memastikankesehatan mereka terjaga dengan baik.

Namun, pekerjaan sebagai perawat rawat inap juga membawa risikokesehatan dan keluhan terkait kondisi kerja. Salah satu keluhan yangsering dialami oleh perawat adalah myalgia pada ototupper trapezius. Otot ini berfungsi penting dalamgerakan bahu dan kepala, dan menjadi rentan mengalami keteganganberlebih akibat postur kerja yang tidak ergonomis dan beban kerja yangberat.

Masa kerja yang panjang dan tuntutan pekerjaan yang tinggi bisamenyebabkan perawat mengalami kelelahan fisik dan mental. Postur kerjayang tidak tepat, seperti duduk atau berdiri dalam waktu lama,mengangkat pasien dengan teknik yang salah, atau berinteraksi denganalat-alat medis dalam posisi yang kurang ergonomis, dapat meningkatkanrisiko keluhan myalgia pada uppertrapezius.

Ketika perawat mengalami keluhan myalgia, hal inidapat mempengaruhi kualitas kerja mereka, produktivitas, dan kualitashidup secara keseluruhan. Nyeri dan ketidaknyamanan pada ototupper trapezius dapat mengganggu aktivitas sehari-hariperawat, bahkan menghambat mereka dalam melaksanakan tugas-tugasnyasecara efektif. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, keluhan inibisa menjadi kronis dan berdampak negatif pada kesehatan jangka panjangperawat.

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang mendalam mengenaihubungan postur kerja dan masa kerja dengan keluhanmyalgia pada upper trapezius padaperawat rawat inap di Puskesmas Kabupaten Ngawi. Dengan memahamifaktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap keluhan ini,langkah-langkah pencegahan dan intervensi yang tepat dapat diambil untukmeningkatkan kondisi kerja dan kesejahteraan perawat.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentangmasalah kesehatan yang dihadapi oleh perawat rawat inap Puskesmas diKabupaten Ngawi. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikanmasukan bagi pihak manajemen Puskesmas untuk merancang program-programkesehatan kerja yang lebih baik dan menjaga kesejahteraan para perawat.Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi sumbangan penting bagipengembangan ilmu pengetahuan di bidang ergonomi dan kesehatan kerjasecara keseluruhan.

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan masalah keluhanmyalgia pada upper trapezius dapatdiminimalkan, dan para perawat dapat menjalankan tugas-tugas merekadengan lebih optimal, sehingga kualitas pelayanan kesehatan kepadamasyarakat dapat tetap terjaga dengan baik.

METODE

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalahkuantitatif dengan desain observasional serta pendekatan cross-sectionalyang mana peneliti mencari hubungan antara variabel bebas denganvariabel terikat dengan melakukan pengukuran sesaat. Variabel bebasdalam penelitian ini adalah postur kerja dan masa kerja sedangkanvariabel terikatnya adalah keluhan myalgia uppertrapezius. Dengan menggunakan uji analisis statistik yaitu,menggunakan uji chi-square dengantingkat kepercayaan (CI) 95% dan tingkat signifikan ????- 0,05,memungkinkan untuk mengetahui adanya hubungan yang signifikan atautidak.

Populasi dalam penelitian ini yaitu 91 orang yang diambil dariPuskesmas Rawat Inap di Kabupaten Ngawi. Sementara jumlah sampel dalampenelitian ini yaitu berjumlah 47 orang.

Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah Kamera untukmangambil foto atau rekaman saat penelitian berlangsung, Kuisioner yangberisi identitas responden, jenis kelamin, usia, Pendidikan terakhir danmasa kerja, Penilaian kuisioner dengan NDI Skala Ndi digunakan untukmenentukan tingkat nyeri leher pada perawat dengan skor, Lembarpenilaian metode RULA Lembar penilaian RULA merupakan lembar pedomanobservasi yang akan digunakan peneliti untuk menilai postur kerja dengancara mengambil foto/video (kegiatan perawat yang sedang dilakukan) yangdiambil peneliti dengan menggunakan kamera. Setelah itu penelitimelakukan penilaian bagian lengan, pergelangan lengan, leher, badan, dankaki kemudian ditransfer dalam bentuk skor menggunakan skala ordinalyang terdiri dari skor 0 untuk risiko rendah, skor 1 risiko sedang, skor2 untuk risiko tinggi dan skor 3 untuk risiko sangat tinggi, dan AlatTulisUntuk mencatat hasil dari pengukuran.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan caramengisi kuesioner atau wawancara langsung dengan perawat pada saat ini,peneliti lapangan akan menanyakan kepada perawat apakah bersedia menjadiresponden lalu responden mengisi kuisioner NDI selanjutnya penelitimelakukan penelitian dengan metode RULA pada postur kerja, penelitimengambil foto atau video menggunakan kamera. Data lapangan dikumpulkan,kemudian diperiksa dan dianalisis kelengkapannya, data diolahmenggunakan software SPSS

HASIL

Variabel Frekuensi (n) Persentase(%)
Usia (tahun)
<25 10 21.3
25-35 21 44.7
>35 16 34.0
Jenis kelamin
Laki-Laki 19 40.4
Perempuan 28 59.6
Pendidikan
D3 42 89.4
S1 5 10.6
Masa kerja
Baru (?5 tahun) 25 53.2
Lama (>5 tahun) 22 46.8
Postur kerja
Risiko sedang 21 44.7
Risiko tinggi 26 55.3
Keluhan myalgia upper trapezius
Ada keluhan 24 51.1
Tidak ada keluhan 23 48.9
Table 1. Karakteristik Responden

Berdasarkan Tabel 1. dari 47 sampel responden diketahui sampel umur< 25 tahun mencapai 10 orang (21,3%), 25-35 tahun mencapai 21 orang(44,7%) dan >35 tahun mencapai 16 orang (34,0%) dan dalam penelitianini diperoleh sampel jenis kelamin perempuan sebanyak 28 orang (59,6%)pendidikan terbanyak yang diambil responden adalah D3 yang berjumlah 42orang (89,4%), dengan kategori masa kerja baru lebih banyak dibandingkandengan masa kerja lama sebanyak 22 orang (53,2%). Responden denganpostur kerja kategori risiko tinggi lebih banyak dari postur kerjakategori risiko sedang sebanyak 26 orang (55,3%), responden mengalamikeluhan Myalgia upper trapezius lebih banyakdibandingkan pekerja yang tidak mengalami keluhan sebanyak 24 orang(51,1%).

Keluhan Myalgia upper trapezius P
Ada Keluhan Tidak ada keluhan Jumlah
N % N % N %
Postur kerja
Risiko sedang 15 71.4 6 28.6 21 100 0.012
Risiko tinggi 9 34.6 17 65.4 26 100
Masa kerja
Baru 17 68 8 32 25 100 0.013
Lama 7 31.8 15 68.2 22 100
Table 2. Hubungan Postur Kerja dan Masa Kerja dengan KeluhanMyalgia upper trapezius Menggunakan UjiChi Square Tests

Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa nilai signfikansi 0.012.Hasil uji frekuensi postur kerja menunjukkan data dari sebuah penelitianyang melibatkan 47 responden. Penelitian ini bertujuan untukmengevaluasi dan mengklasifikasikan hubungan postur kerja Dengan KeluhanMyalgia upper trapezius yang dihadapi oleh responden.Hasilnya menunjukkan bahwa dari total 47 responden dengan klasifikasiterdapat 15 responden dengan postur kerja berada pada tingkat risikosedang terdapat keluhan Myalgia upper trapezius danterdapat 6 responden dengan postur kerja berada pada tingkat risikosedang tidak terdapat keluhan Myalgia upper trapezius,lalu 9 responden dengan masa postur kerja berada pada tingkat risikotinggi terdapat adanya keluhan Myalgia upper trapeziusdan 17 responden mengalami postur kerja pada tingkat risiko tinggi namuntidak ada keluhan Myalgia upper trapezius

Karena nilai signifikansi yang diperoleh kurang dari 0.05, maka dapatdisimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara postur kerjaresponden dengan keluhan Myalgia upper trapezius.Selain itu, terlihat bahwa nilai Pearson ChiSquare yang didapatkan sebesar 6.131 dengan nilaisignfikansi 0.013. Hasil uji frekuensi postur kerja menunjukkan datadari sebuah penelitian yang melibatkan 47 responden. Penelitian inibertujuan untuk mengevaluasi dan mengklasifikasikan hubungan masa kerjaDengan Keluhan Myalgia upper trapezius yang dihadapioleh responden. Hasilnya menunjukkan bahwa dari total 47 respondendengan klasifikasi terdapat 17 responden dengan masa kerja barumengalami keluhan Myalgia upper trapezius dan terdapat8 responden dengan masa kerja yang baru tidak mengalami keluhanMyalgia upper trapezius, lalu 7 responden dengan masakerja lama terdapat adanya keluhan Myalgia uppertrapezius dan 15 responden dengan masa kerja yang lama tidakmengalami keluhan Myalgia upper trapezius

Karena nilai signifikansi yang diperoleh kurang dari 0.05, maka dapatdisimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerjaresponden dengan keluhan Myalgia upper trapezius.

PEMBAHASAN

Penelitian ini menghasilkan data yang sangat menarik terkait hubunganantara masa kerja responden dengan keluhan Myalgia uppertrapezius pada perawat rawat inap Puskesmas di Kabupaten Ngawi.Hasil uji signifikansi diperoleh dengan nilai signifikansi sebesar 0.013hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut. Inimenandakan bahwa hubungan antara masa kerja dan keluhan Myalgiaupper trapezius memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi karenakurang dari 0.05 Nilai ini mengindikasikan tingkat kepercayaan bahwahubungan antara masa kerja responden dengan keluhan Myalgiaupper trapezius bukanlah hasil kebetulan semata, melainkanbenar-benar ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut.Berdasarkan Pasal 50 UU Ketenagakerjaan, lamanya masa kerja disebabkanadanya hubungan kerja, oleh karena itu total masa kerja dihitung sejaksaat terjadinya hubungan antara pengusaha tersebut dan pekerja atausejak mulai bekerja pada perusahaan pertama kali.

Dengan demikian, hasil analisis ini adalah bahwa terdapat hubunganyang signifikan antara masa kerja responden dengan keluhanMyalgia upper trapezius pada perawat rawat inapPuskesmas di Kabupaten Ngawi. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin lamaseorang perawat bekerja, semakin besar risiko mereka untuk mengalamikeluhan Myalgia upper trapezius. Kajian terhadap hasilpenelitian ini mengindikasikan pentingnya perhatian terhadap kondisikerja perawat rawat inap, terutama bagi mereka yang telah bekerja dalamjangka waktu yang cukup lama. Dengan adanya hubungan yang signifikanantara masa kerja dan keluhan Myalgia upper trapezius,perlu diambil tindakan preventif dan intervensi yang tepat gunamengurangi risiko keluhan tersebut. Penelitian ini dapat menjadi dasarbagi pihak manajemen rumah sakit atau Puskesmas untukmengimplementasikan program kesehatan dan keselamatan kerja yang lebihbaik. Upaya pencegahan seperti pengaturan ulang jadwal kerja, pengenalanteknik ergonomi, dan pelatihan postur kerja yang baik dapat membantumengurangi risiko keluhan Myalgia upper trapezius padaperawat. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran paraperawat tentang pentingnya menjaga postur tubuh yang benar saat bekerjauntuk mengurangi tekanan dan ketegangan pada otot-otot trapezius.Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman tentangfaktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dan kualitas kerja perawat.Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara masa kerja dankeluhan Myalgia upper trapezius, diharapkan akan adaupaya lebih lanjut untuk meningkatkan kondisi kerja dan kesejahteraanpara perawat, sehingga dapat berdampak positif pada kualitas pelayanankesehatan yang diberikan kepada pasien.n

Kajian hasil pengaruh postur kerja terhadap keluhan Myalgiaupper trapezius bertujuan untuk menginvestigasi hubungan antarapostur kerja dan keluhan Myalgia upper trapezius padaresponden. Setelah melaksanakan analisis data, diperoleh hasil bahwanilai Pearson Chi Square yangdihasilkan adalah sebesar 6.300, dan nilai signifikansi yang terkaitadalah 0.012.

Analisis ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikanantara postur kerja responden dengan keluhan Myalgia uppertrapezius. Untuk memahami hasil ini, perlu dijelaskan bahwanilai signifikansi sebesar 0.012, yang lebih rendah dari tingkatsignifikansi yang telah ditentukan sebelumnya (0.05). Ini menandakanbahwa hasil penelitian ini memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi danmemberikan bukti yang cukup kuat bahwa hubungan antara postur kerja dankeluhan Myalgia upper trapezius bukanlah kejadiankebetulan. Postur kerja mengacu pada posisi yang berbeda dari anggotatubuh pekerja selama bekerja. Pembagian postur kerja dan ergonomididasarkan pada posisi tubuh dan gerakan. Postur kerja yang tidakergonomis merupakan postur kerja yang menyebabkan postur tubuhmenyimpang dari posisi yang alamiah, seperti mengangkat tangan, terlalubanyak menekuk punggung, mengangkat kepala,kepala menunduk, dll. (Utamiet al., 2017)

Hasil penelitian ini memberikan sumbangan penting bagi pemahamanmengenai keluhan Myalgia upper trapezius pada respondenyang bekerja dengan postur tertentu. Dengan adanya hubungan yangsignifikan antara postur kerja dan keluhan ini, dapat disimpulkan bahwapostur kerja yang buruk atau tidak ergonomis berkontribusi padamunculnya keluhan Myalgia upper trapezius padaresponden.

Kajian terhadap hasil penelitian ini menunjukkan perlunya perhatianlebih terhadap ergonomi postur kerja bagi para pekerja, khususnya bagiperawat rawat inap Puskesmas di Kabupaten Ngawi. Langkah-langkahpencegahan dan intervensi yang tepat harus diambil untuk mengurangirisiko keluhan Myalgia upper trapezius akibat posturkerja yang tidak optimal. Pelatihan tentang ergonomi kerja, penggunaanperalatan bantu, dan penyesuaian lingkungan kerja harus menjadi bagiandari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan para perawat.Selain itu, hasil penelitian ini juga memberikan pemahaman yang lebihmendalam tentang pentingnya pengawasan dan pemantauan secara rutinterhadap kondisi kesehatan para perawat. Dengan adanya hubungan yangsignifikan antara postur kerja dan keluhan Myalgia uppertrapezius, penting bagi manajemen dan pihak berwenang untukmelakukan evaluasi rutin terhadap kondisi ergonomi di tempat kerja danmemberikan dukungan serta fasilitas yang memadai untuk mengurangi risikokeluhan tersebut.

Ada empat faktor yang mempengaruhi kebiasaan kerja, yaitu (Bridger,2008):

1. Ciri-ciri fisik, seperti umur, jenis kelamin, ukuran antropometri,berat badan, kondisi fisik, kemampuan menggerakkan persendian, strukturfisik, ketajaman penglihatan, masalah obesitas, riwayat kesehatan, danlain-lain;

2. jenis persyaratan pekerjaan, seperti pekerjaan yang menggunakanketelitian, persyaratan tenaga kerja manual, kerja shift, waktuistirahat, dan lain-lain;

3. Desain tempat kerja, seperti tempat duduk, landasan kerja,ketinggian atau posisi kerja, dan faktor lingkungan; dan

4. Lingkungan kerja (environment): penerangan, suhu, kelembaban,kecepatan angin, kebisingan, debu dan getaran.

Namun, penelitian ini juga memiliki batasan, seperti jumlah sampelyang terbatas dan fokus penelitian hanya pada satu jenis keluhan. Olehkarena itu, direkomendasikan untuk melakukan penelitian lebih lanjutdengan jumlah sampel yang lebih besar dan melibatkan keluhan-keluhanlainnya, sehingga dapat memberikan pandangan yang lebih komprehensifmengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keluhan kesehatanpada perawat dan tenaga medis lainnya. Dengan demikian, hasil penelitianini dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia kesehatan dankeselamatan kerja.

Penelitian ini melibatkan 47 responden yang memberikan jawabanterhadap pertanyaan-pertanyaan terkait dengan postur kerja, masa kerja,dan keluhan myalgia upper trapezius. Dari hasilpenelitian ini, dapat dilihat bahwa sebanyak 21 responden (44,68% daritotal responden) diklasifikasikan memiliki postur kerja berada padatingkat risiko sedang, sementara 26 responden lainnya (55,32% dari totalresponden) diklasifikasikan berada pada tingkat risiko tinggi. Hal inimenunjukkan bahwa mayoritas responden cenderung mengalami risiko tinggiterhadap keluhan myalgia upper trapezius karena posturkerja yang kurang ergonomis.

Selanjutnya, dalam mengkaji hubungan antara masa kerja dan keluhanmyalgia upper trapezius, responden dibagi menjadi duakelompok, yaitu masa kerja baru yang terdiri dari 25 responden (53,19%dari total responden) dan masa kerja lama yang melibatkan 22 responden(46,81% dari total responden). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara masa kerja responden dengan keluhanmyalgia upper trapezius. Dari 47 responden, 23responden (48,94% dari total responden) melaporkan adanya keluhan selamamasa penelitian, sementara 24 responden (51,06% dari total responden)tidak mengalami keluhan selama masa penelitian. Temuan inimengindikasikan bahwa masa kerja dapat terjadi pada responden yangmemiliki masa kerja baru maupun lama.

Menariknya, hasil penelitian ini memberikan informasi yang relevantentang adanya hubungan antara postur kerja dan keluhan myalgiaupper trapezius, serta masa kerja dan keluhan tersebut padaperawat rawat inap Puskesmas di Kabupaten Ngawi. Fakta bahwa sebagianbesar responden berada pada tingkat risiko tinggi postur kerjamenunjukkan perlunya upaya untuk meningkatkan kesadaran dan implementasipraktik kerja yang ergonomis dalam lingkungan kerja perawat. Selain itu,temuan mengenai hubungan antara masa kerja dan keluhan myalgiaupper trapezius juga menekankan pentingnya memperhatikan aspekkesehatan dan kenyamanan kerja perawat yang telah berpengalaman dalampekerjaan mereka.

Walaupun hasil penelitian ini memberikan wawasan yang berharga,penelitian ini memiliki beberapa batasan. Pertama, jumlah responden yangterlibat relatif kecil, sehingga generalisasi hasil penelitian ini perludilakukan dengan hati-hati. Selain itu, penelitian ini juga hanyadilakukan di enam lokasi (Puskesmas Kabupaten Ngawi) dan mengambil hanyabagian kerja rawat inap, sehingga hasilnya mungkin tidak sepenuhnyamewakili kondisi di tempat lain. Oleh karena itu, penelitian lebihlanjut dengan skala yang lebih besar dan inklusi lokasi yang beragamdapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang hubunganantara postur kerja, masa kerja, dan keluhan myalgia uppertrapezius pada perawat rawat inap secara keseluruhan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwaada hubungan antara postur kerja (p-value = 0.012) dan masa kerja(p-value = 0.013) dengan keluhan myalgia uppertrapezius pada perawat rawat inap puskesmas di KabupatenNgawi.

DAFTAR PUSTAKA

Allan, I. (2017) „Neckpain?, ClinEvid (Online) Physical TherapyDepartment Staff of University Health Services, (4), p. 1103.

Amaliah Usman, R. R. (2022). Analisa Posisi Kerja Terhadap ResikoKejadian Low Back Pain Pada Pengrajin Keramik Dinoyo. PhysioHS,4(Juni).

Assessing the viscoelastic properties of upper trapezius muscle:Intra-and inter-tester reliability and the effect of shoulder elevation.Journal of Electromyography and Kinesiology, 43, 226-229.

Atthariq, A. &. (2018). Faktor – Faktor yang Berhubungandengan Kejadian Myalgia pada Nelayan di Desa Batukaras Pangandaran JawaBarat. Retrieved from Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 14(1),74.: https://doi.org/10.24853/jkk.14.1.74-82

Bridger, R. S. (2008). Introduction To Ergonomics,International Edition. In Singapore: McGraw-Hill Bookco. Cael,C. (2017). Functional Anatomy.

Dewi, N. L. (2022). Tightness Otot Upper trapezius DenganKualitas Tidur Pada Pekerja Kantor.

Farid, B. (2015). Hubungan Posisi Kerja Angkat Dengan KeluhanMusculoskeletal Disorder Pada Nelayan Tangkap Di Muara Angke PluitJakarta Utara. Retrieved from Forum Ilmiah, 12(1), 23– 32.

Hutasuhut, R. O. (2021). Hubungan Lama Duduk Terhadap KeluhanNyeri Punggung Bawah. . Retrieved from Jurnal E-Biomedik, 9(2),160–165.: https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31808

Keller, K. &. (2016). Age and strength loss Correspondingauthor?: izi o In te na. January. Retrieved fromhttps://doi.org/10.11138/mltj/2013.3.4.346

Khan, A., Farooqui, S., Sumble, S., & Khan, M. (2015). Efficacyof deep friction massage and ultrasound in the treatment of uppertrapezius spasm- A randomized control trail. Journal Of Medical AndDental Science Research, 2(12), 30-34.

Koesyanto, H. (2013). Masa kerja dan sikap kerja dudukterhadap nyeri punggung. KEMAS. Retrieved from Jurnal KesehatanMasyarakat, 9(1), 9-14.

Kurniawati, I. D. (2014). MASA KERJA DENGAN JOBENGAGEMENTPADA KARYAWAN Irma. 02(02), 311–324.

Liu, C. L., Feng, Y. N., Zhang, H. Q., Li, Y. P., Zhu, Y., &Zhang, Z. J. (2018).

Makmuriyah, &. S. (2013). Iontophoresis Diclofenac LebihEfektif Dibandingkan Ultrasound Terhadap Pengurangan Nyeri PadaMyofascial. Retrieved from Jurnal Fisioterapi, 13(April 2013),17–32.

Nicoletti, C., Spengler, C. M., & Läubli, T. (2014). Physicalworkload, trapezius muscle activity, and neck pain in nurses' night andday shifts: A physiological evaluation. Applied ergonomics, 45(3),741-746.

Rangel, T. L. (2022). Exercise, diet, and sleep habits ofnurses working full-time during the COVID-19.

Santoso, G. (2015). Otot Vertebralis(Trapezius, Rhomboidius,Latissimus Dorsi) Dan Otot Tibia-Fibula (Otot Tibialis, Otot FlexsorLongus) Operator Spbu Kerja Posisi Berdiri Terbebani. .Retrieved from J Statistika: Jurnal Ilmiah Teori Dan AplikasiStatistika, 7(1).: https://doi.org/10.36456/jstat.vol7.no1.a181

Saputra, A. (2020). Sikap Kerja, Masa Kerja, dan Usiaterhadap Keluhan Low Back Pain pada Pengrajin Batik. Retrievedfrom Higeia Journal of Public Health Research and Development, 1(3),625–634.

Sari, E. N. (2017). Hubungan Antara Umur dan Masa Kerja denganKeluhan Musculoskeletal Disorders ( MSDs ) pada Pekerja LaundryCorrelation Between Age and Working Periods with MusculoskeletalDisorders ( MSDs ) in Laundry Workers. 9, 183–194.

Suharto, N. S. (2014). Perbaikaostur kerja, musculoskeletaldisorders, Ovako Work Analysis System (OWAS). Retrieved fromJurnal Teknik Industri, 3(2).

Sukamdani, H. B. (2016). Analisa Ergonomi BerdasarkanPraktikum Laboratorium di Teknik Industri- Usahid dan Penerapan Ergonomidi Industri Garmen “AB.”. Retrieved from Gaung Informatika,9(3), 174–186.

Sumardiyono, S. L. (2017). Kejadian Myalgia pada LansiaPasien Rawat Jalan. Retrieved from Jrst: Jurnal Riset Sains DanTeknologi, 1(2), 59.: https://doi.org/10.30595/jrst.v1i2.1442

Syifani, D. &. (2018). Aplikasi Sistem Rekam Medis diPuskesmas Kelurahan Gunung. Retrieved from JUST IT: JurnalSistem Informasi, Teknologi Informasi dan Komputer, 9(1), 22-31.

Syukron, A. &. (2015). Perancangan sistem informasi rawatjalan berbasis web pada Puskesmas Winong.

Utami, U. K. (2017). Hubungan Lama Kerja, Sikap Kerja danBeban Kerja Dengan Muskuloskeletal Disorders (MSDs) pada Petani Padi DiDesa Ahuhu Kecamatan Meluhu Kabupaten Konawe Tahun 2017.Retrieved from Jimkesmas: Jurnal Ilmah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat,2(6), 1– 10.

Wayan, N. I. (2015). Auto stretching lebih menurunkan intensitasnyeri otot upper trapezius daripada neck cailliet exercise pada penjahitpayung bali di desa.

Wuriani, W. R. (2017). Pengaruh Perbaikan Postur Kerjaterhadap Nyeri Muskuloskeletal pada Perawat di Klinik KitamuraPontianak. Mutiara Medika. Retrieved from Jurnal Kedokteran danKesehatan, 17(1), 22-28.

Published

2023-09-04

How to Cite

Dewi, A. R., & Darnoto, S. (2023). Hubungan Postur Kerja dan Masa Kerja dengan Keluhan Myalgia Upper Trapezius pada Perawat Rawat Inap Puskesmas di Kabupaten Ngawi. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2). Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/1086

Issue

Section

Journal Supplement

Citation Check