Knowledge about HIV is Associated with Interest in Participating in Voluntary Counseling and Testing in Reproductive Age Couples: An Observational Research
DOI:
https://doi.org/10.36990/hijp.v15i3.1116Keywords:
Gender, Knowledge, HIV screening, Voluntary counselling and testing, Couples of reproductive ageAbstract
Every year there are 5,100 new Human Immunodeficiency Virus (HIV) infections among housewives, 33% of whom are infected by their partners who engage in risky sexual behavior. Therefore, utilization of HIV screening through voluntary counselling and testing (VCT) services is important especially for those with high risk. This study was conducted to determine the relationship between knowledge of couples of childbearing age in Garut Regency, especially in Ciwalen Village with interest in participating in HIV screening through VCT. This study is a quantitative study with a cross sectional approach. Data collection was carried out on May 2-June 2, 2023 and was located in one of the Ciwalen Villages in Garut Regency, West Java. The study population was one of the couples of childbearing age who lived permanently in one of the villages in Garut Regency with purposive sampling technique totaling 121 married men or women of childbearing age. Data collection was conducted using a questionnaire that included information on respondent characteristics, questions related to interest in attending VCT combined with the HIV-KQ-18 questionnaire to assess respondents' knowledge about HIV/AIDS. Data were collected using a questionnaire that included information on respondents' characteristics, questions related to interest in attending VCT combined with the HIV-KQ-18 questionnaire to assess respondents' knowledge about HIV/AIDS. Data were analyzed using SPSS software (Version 21), frequency distribution analysis and chi-square test. The results showed that the majority of couples of childbearing age (78 people, 64.5%) had poor knowledge about HIV/AIDS and only a few (26.4%) of them were interested in following HIV screening through VCT. Interest in VCT was more prevalent among couples of childbearing age who had good knowledge about HIV/AIDS (P < 0.05). To increase the interest of couples of childbearing age in HIV screening, efforts should be made to increase their knowledge about HIV/AIDS.
PENDAHULUAN
Kasus infeksi Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) masih menjadi permasalahan serius dunia. HIV adalah infeksi yang menyerang sistem kekebalan tubuh sedangkan AIDS adalah stadium penyakit yang paling lanjut dari infeksi HIV (WHO, 2023). United Nations Program on HIV and AIDS (UNAIDS) melaporkan bahwa orang yang terinfeksi HIV pada akhir tahun 2022 mencapai 1,7 juta jiwa. Indonesia sebagai bagian negara di Asia Tenggara juga tidak luput dari permasalahan HIV/ AIDS. Sistem Informasi HIV/AIDS Indonesia dan IMS (SIHA) tahun 2022 melaporkan terdapat 338.760 jumlah penderita HIV/AIDS per September 2022 dan 140.024 diantaranya menderita AIDS (Kemenkes, 2022).
Penyebaran infeksi HIV di Indonesia sudah meluas pada kelompok populasi umum, salah satunya adalah pada ibu rumah tangga. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengungkapkan setiap tahunnya terdapat 5.100 infeksi HIV baru dari kelompok ibu rumah tangga. Kemenkes mencatat bahwa lebih kurang 33% ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV tertular dari pasangannya yang melakukan tindakan seks berisiko di luar rumah (Kemenkes, 2023). Oleh sebab itu, diperlukan upaya pengendalian infeksi HIV pada ibu rumah tangga diantaranya dengan melakukan skrining HIV melalui pendekatan Voluntary Counseling and Testing (VCT) pada pasangan usia subur. Voluntary Counseling and Testing (VCT) adalah tes yang dilakukan untuk mengetahui status HIV dan dilakukan secara sukarela serta melalui proses konseling terlebih dahulu. Namun target pencapaian VCT masih rendah di berbagai provinsi salah satunya di Jawa Barat.
Jawa Barat merupakan merupakan satu dari empat provinsi dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Salah satu Kabupaten di Jawa Barat yang memiliki angka kejadian HIV tinggi adalah Kabupaten Garut. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut (Garut, 2023), estimasi orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Garut adalah sebesar 1.681. Namun jumlah ODHIV yang sudah ditemukan sampai dengan Januari 2023 hanya 1.286 kasus, sehingga masih diprediksi terdapat 38% yang belum ditemukan atau belum mengikuti tes HIV. Begitu juga target pencapaian skrining HIV/ VCT pada ibu hamil baru mencapai 74%.
Keinginan untuk melakukan tes HIV harus datang dari kesadaran sendiri, siapapun tidak boleh melakukan tes HIV tanpa sepengetahuan yang bersangkutan (Aidha & Aprilina, 2020). Banyak faktor yang mempengaruhi masyarakat maupun orang dengan risiko tinggi dalam mengakses layanan VCT (Setiawan & Ad, 2020). Penelitian di rural Uganda menemukan bahwa pemanfaatan VCT di masyarakat pedesaan masih rendah, dan faktor sosio-ekonomi, perilaku, dan layanan kesehatan mempengaruhi pemanfaatannya. Penelitian lain di Mozambik, negara Afrika Sub Sahara, memaparkan bahwa laki-laki memiliki tingkat penggunaan tes HIV yang lebih rendah di jika dibandingkan dengan perempuan (Ha et al., 2019). Hasil penelitian lain di Uganda, menunjukkan bahwa persepsi stigma HIV di tingkat masyarakat mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap tes bagi perempuan dan laki-laki (Kalichman et al., 2020).
Pemanfaatan layanan VCT dapat ditingkatkan melalui peningkatan pengetahuan terkait HIV/AIDS, khususnya dengan menyasar kelompok beresiko dan populasi umum yang berpendidikan rendah, perempuan, keluarga miskin dan petani. Sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia di kota Bali menunjukan sebagian besar ibu hamil yang memiliki pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS juga memiliki minat yang tinggi untuk melakukan VCT (Wahyuni et al., 2023). Sedangkan hasil penelitian di Kabupaten Cilacap pada wanita pekerja seksual (WPS) menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap WPS dengan partisipasi mengikuti pemeriksaan VCT (Aidha & Aprilina, 2020). Sejalan dengan ini, banyak penelitian yang menunjukan bahwa kurangnya pengetahuan dapat menjadi hambatan masyarakat dalam memanfaatkan layanan VCT (Setiawan & Ad, 2020). Meskipun demikian, belum ditemukan publikasi yang melihat secara spesifik pengetahuan pasangan usia subur pada populasi umum di daerah beresiko dikaitkan dengan ketertarikan mereka mengikuti VCT. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan pasangan usia subur di Kabupaten Garut khususnya di Kelurahan Ciwalen dengan ketertarikan mengikuti skrining HIV melalui voluntary counselling and testing.
METODE
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilaksanakan pada 2 Mei–2 Juli 2023 dan berlokasi di Kelurahan Ciwalen Kabupaten Garut Jawa Barat. Populasi penelitian adalah salah satu dari pasangan usia subur yang tinggal menetap di salah satu di Kelurahan Ciwalen Kabupaten Garut dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling sejumlah 121 laki-laki atau perempuan usia subur yang sudah menikah.
Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang meliputi informasi karakteristik responden, pertanyaan terkait ketertarikan mengikuti VCT yang digabungkan dengan kuesioner HIV-KQ-18 untuk mengkaji pengetahuan responden tentang HIV/ AIDS. Karakteristik responden meliputi jenis kelamin (perempuan, laki-laki), umur (dalam tahun), pendidikan (Tidak sekolah, TK, SD, SMP, SMA, Universitas) dan pekerjaan (PNS, Pedagang, Karyawan, Buruh Harian, Wirausaha, Tidak Bekerja, lain-lain). Pertanyaan tentang ketertarikan mengikuti VCT adalah berupa pertanyaan tertutup dengan pilihan jawaban “ya/ sudah pernah melakukan VCT” dan “tidak”. Sedangkan kuesioner HIV KQ-18 versi Bahasa Indonesia yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya (Arifin et al., 2022) dengan nilai validitas/reliabilitas r-tabel 0,112/Cronbach’s Alpha 0,763 meliputi HIV-KQ-18 item pertanyaan dengan pilihan jawaban terdiri dari dua skor yaitu skor 1 jika benar dan skor 0 jika jawaban salah. Peneliti memberikan mendatangi seluruh responden ke rumah mereka masing-masing dan membagikan kuesioner. Setelah mendapatkan penjelasan tentang tujuan penelitian, responden yang bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani lembar kesepakatan mengisi langsung kuesioner dihadapan peneliti.
Analisis Data
Data diperoleh dengan memperhatikan etika penelitian. upaya peneliti dalam mengontrol isu etik dilakukan dengan mengurus izin pengambilan penelitian di tingkat Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Puskesmas, Kelurahan dan mendapatkan persetujuan setiap responden setelah peneliti melakukan penjelasan secara menyeluruh terkait tujuan pengambilan data. Etika penelitian yang diberlakukan menggunakan pendekatan deontologi (deontology approach). Padapendekatan ini, prinsip etika diterapkan pada seluruh proses. Dengan pendekatan ini peneliti lakukan untuk menghindari kejadian yang secara potensial merugikan responden, dengan menerapkan strategi yang tepat. Berdasarkan pendekatan deontologi, terdapat empat prinsip dalam penelitian kesehatan yaitu, menghargai otonomi partisipan, mengutamakan keadilan, memastikan kemanfaatan, dan memastikan tidak terjadi kecelakaan.
Analisis data dilakukan menggunakan software SPSS (Versi 21). Data karakteristik responden dan variabel ketertarikan dipresentasikan dalam bentuk distribusi frekuensi (persentase). Sedangkan data pengetahuan dianalisis berdasarkan nilai total responden dan dikategorikan menjadi pengetahuan baik dan kurang dengan cut of point responden dikatakan berpengetahuan baik apabila memperoleh skor 75%. Selanjutnya hubungan antara pengetahuan dan ketertarikan mengikuti VCT dianalisis menggunakan Uji Chi-square.
HASIL
Tabel 1 menunjukan hasil penelitian bahwa mayoritas responden berada pada tahap usia dewasa awal yaitu sebanyak 69 orang (57,0%). Ketertarikan mengikuti skrining HIV tertinggi adalah pada kelompok usia dewasa akhir (n=18 orang, 14,9%). Mayoritas pendidikan responden terbanyak lulusan SMP (n=52 orang, 43,0% ) dan 16 orang diantaranya tertarik untuk mengikuti VCT. Mayoritas pekerjaan responden adalah wirausaha (n=42 orang, 34,7%) dan 12 orang diantaranya tertarik untuk mengikuti VCT. Sementara dari segi pengetahuan diketahui mayoritas responden (n=78 orang, 64,5%) memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang HIV/ AIDS dan dengan ketertarikan mengikuti skrining HIV tertinggi pada kategori pengetahuan baik sebanyak 18 orang (14,9%).
Tabel 2bahwa melalui Uji chi- square diketahui terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan tentang HIV dengan ketertarikan mengikuti skrining HIV melalui voluntary counselling and testing dengan nilai P = 0,004, (P< 0.05).
PEMBAHASAN
Penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan pengetahuan tentang HIV/ AIDS dengan ketertarikan mengikuti skrining HIV ini dilakukan di salah satu wilayah di Kabupaten Garut yang memiliki angka kejadian HIV/ AIDS tinggi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner melibatkan 121 pasangan usia subur yang ditangi secara langsung ke rumah mereka masing-masing. Sebagian besar responden berada pada usia dewasa awal dan ketertarikan terbesar untuk tes HIV ada pada usia dewasa akhir. Mayoritas responden adalah lulusan SMP dan bekerja sebagai wirausaha. Responden yang paling berminat mengikuti tes HIV adalah kalangan wirausaha dan pedagang. Sedangkan untuk pengetahuan diketahui bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang baik tentang HIV/ AIDS dan pengetahuan memiliki hubungan signifikan dengan ketertarikan mengikuti skrining HIV. Ketertarikan mengikuti tes HIV lebih banyak ditemui pada responden yang memiliki pengetahuan lebih baik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan di RW 2 Desa Kuripan kidul Kabupaten Cilacap yang juga menemukan terdapat hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan minat WUS dalam melakukan VCT di RW 2 Desa Kuripan Kidul Kabupaten Cilacap. Voluntary Counselling and Testing (VCT) adalah tes yang dilakukan oleh seseorang untuk mengetahui status HIV secara sukarela. Kegiatan VCT menjadi skrining awal yang dapat dilakukan wanita usia subur (WUS) sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS (Gilang & Puspitasari, 2022). Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa selain pengetahuan, faktor lain seperti demografi, faktor social, orang terdekat, pendidikan kesehatan, ketakutan, dan stigma terkait HIV mempengaruhi kesediaan mengikuti VCT di kalangan Health sciences university students (HSUS) (Sari & Parut, 2018). Hasil penelitian lain memperkuat bahwa pengetahuan memiliki peranan dalam ketertarikan mengikuti Skrining HIV/VCT, berdasarkan hasil penelitian lainnya menunjukan bahwa hambatan-hambatan dalam pelaksanaan VCT yaitu berupa kurangnya pengetahuan (Setiawan & Ad, 2020).
HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di dunia. Konseling dan tes sukarela (VCT) adalah salah satu strategi penting untuk pencegahannya dan merupakan pintu masuk ke perawatan AIDS. Hasil penelitian di Ethiopia mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap VCT, namun pemanfaatannya masih rendah. pengetahuan yang baik dan sikap positif terhadap VCT secara signifikan berhubungan dengan pemanfaatan VCT (Abdissa et al., 2020). Hasil penelitian lain di Ethiopian pemanfaatan layanan konseling dan tes sukarela (VCT) di kalangan orang dewasa sangat rendah, secara keseluruhan prevalensi yang pernah dites HIV adalah 53%, usia 20-44 tahun, pernah menikah, dan memiliki perilaku seksual berisiko merupakan faktor yang berhubungan positif dengan pemanfaatan VCT (Erena et al., 2019). Penelitian lain di Ethiopian mengemukakan konseling dan tes sukarela (VCT) adalah komponen integral dari strategi pencegahan dan perawatan HIV di seluruh dunia. VCT dianggap sebagai strategi yang efektif dalam pengurangan risiko di kalangan usia muda yang aktif secara seksual pada penelitian ini menunjukkan 87,4% responden memiliki pengetahuan yang baik dan 78% responden memiliki sikap yang positif terhadap VCT. Sementara itu, 67,7% responden mengetahui pernah melakukan VCT HIV di masa lalu (Derebew et al., 2023).
Menurut teori Social Cognitive Theory dan Information Motivation Behavioral Skills (IMB). Teori Kognitif Sosial yang merupakan bentuk lanjutan dari teori pembelajaran sosial Bandura, menyajikan prinsip paling komprehensif untuk memahami perubahan perilaku. Teori ini menekankan bahwa memperoleh pengetahuan tentang penyakit, yaitu apa itu penyakit, bagaimana cara penularannya dan bagaimana cara mencegahnya, mengarah pada perubahan perilaku, ditambah dengan niat untuk melakukan tindakan pencegahan dan mencapai hasil yang diinginkan (perlindungan dari penyakit). Hal ini menunjukkan persepsi individu terhadap tingkat keparahan risiko dan kemampuan untuk melakukan perilaku tertentu untuk menghindari sikap negatif, akibat ketakutan akan stigma (Teklehaimanot et al., 2016). Demikian pula, teori IMB, yang awalnya dikembangkan untuk mengeksplorasi faktor-faktor penentu risiko HIV dan perilaku pencegahan, mendukung bahwa informasi terkait kesehatan, motivasi dan keterampilan perilaku sangat penting untuk melakukan perilaku Kesehatan (Joorbonyan et al., 2022).
Teori IMB juga menyatakan bahwa persepsi risiko HIV tidak hanya mendorong individu untuk memperoleh pengetahuan HIV yang akurat, namun juga memotivasi untuk membekali dengan keterampilan yang diperlukan untuk perilaku pencegahan HIV. Secara keseluruhan, kelengkapan teori-teori ini menjadi sebagai fasilitator perubahan perilaku yang paling signifikan, sehingga digunakan dalam berbagai penelitian dan terbukti cukup efektif dalam pencegahan HIV. Oleh karena itu, dengan menyadari pentingnya teori-teori ini, penelitian ini menunjukkan pentingnya pengetahuan dengan meningkatkan ketertarikan mengikuti skrining HIV (Joorbonyan et al., 2022). Layanan konseling dan tes sukarela (VCT) memainkan peran penting dalam pencegahan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penting untuk memperluas layanan VCT untuk meningkatkan tingkat deteksi HIV, yang dapat mencegah penularan HIV secara efektif (Xu et al., 2020). Diperlukan strategi gabungan untuk mempromosikan pemanfaatan layanan VCT (Zhang et al., 2020)
Penelitian ini didukung dengan hasil penelitian sebelumnya yang memberikan bukti yang menunjukkan bahwa menciptakan kesadaran di antara anggota masyarakat tentang layanan VCT untuk HIV dapat berkontribusi pada peningkatan penggunaan layanan tersebut di antara anggota masyarakat setempat. di sisi lain, kurangnya pengetahuan dapat mengakibatkan masyarakat tidak menggunakan layanan tersebut meskipun layanan tersebut tersedia dan dapat diakses. Selain itu, jika masyarakat mempunyai keinginan untuk mengetahui status HIV mereka, dan petugas kesehatan berupaya secara sadar untuk merujuk klien mereka ke pusat layanan VCT, hal ini dapat berkontribusi pada peningkatan penggunaan VCT, pencegahan HIV, membantu mengurangi stigma dan meningkatkan pemanfaatan layanan VCT (Kalichman, et al., 2020). Selain variabel pengetahuan yang diteliti dalam penelitian ini dengan hasil memiliki hubungan dengan ketertarikan mengikuti skrining HIV melalui voluntary counselling and testing, masih terdapat faktor lain yang juga bisa menjadi predictor ketertarikan dan hambatan dalam mengikuti Voluntary Counselling and Testing (VCT).
KESIMPULAN DAN SARAN
Terdapat hubungan pengetahuan tentang HIV dengan ketertarikan mengikuti voluntary counselling and testing (VCT) pada pasangan usia subur. Untuk meningkatkan ketertarikan pasangan usia subur melakukan skrining HIV perlu dilakukan upaya-upaya peningkatan pengetahuan mereka tentang HIV/ AIDS dan VCT.
Kekurangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan di satu wilayah di Kabupaten Garut. Perbedaan karakteristik demografi responden dengan wilayah lain dapat memberikan hasil yang berbeda, sehingga hasil penelitian ini tidak dapat dijeneralisir secara luas.
References
Abdissa, D., Tazebew, M., & Gerbi, A. (2020). Prevalence of Voluntary Counseling and Testing Utilization and Its Associated Factors Among Merawi Preparatory School Students in Merawi Town, West Gojjam, Ethiopia. HIV AIDS (Auckl), 12, 923-930. doi:10.2147/hiv.S281955
Aidha, E. N., & Aprilina, H. D. (2020). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Voluntary Counseling And Testing (Vct) Dengan Partisipasi Mengikuti Vct Pada Wanita Pekerja Seksual. Jurnal Kesehatan, 13(2). Doi: 10.23917/Jk.V13i2.11734
Arifin, B., Rokhman, M. R., Zulkarnain, Z., Perwitasari, D. A., Manggau, M., Rauf, S., . . . Van Der Schans, J. (2022). Adaptation And Validation Of The HIV Knowledge Questionnaire-18 For The General Population Of Indonesia. Health Qual Life Outcomes, 20(1), 55. Doi:10.1186/S12955-022-01963-5
Derebew, B., Mola, M., Kalyankar, V. B., Padwal, N. D., Chauhan, N. M., Humbe, A. S., & Hajare, S. T. (2023). Determination of knowledge, attitude and practice of voluntary counseling testing on HIV among youths from Tepi Town, Ethiopia. PEC Innov, 2, 100102. doi:10.1016/j.pecinn.2022.100102
Erena, A. N., Shen, G., & Lei, P. (2019). Factors affecting HIV counselling and testing among Ethiopian women aged 15-49. BMC Infect Dis, 19(1), 1076. doi:10.1186/s12879-019-4701-0
Garut, D. K. (2023). Evaluasi Program HIV / Aids & Ims Di Kabupaten Garut Tahun 2022 – Maret 2023.
Gilang, D., & Puspitasari. (2022). Hubungan Pengetahuan Tentang HIV/Aids Dengan Minat Wanita Usia Subur Dalam Melakukan Voluntary Counseling And Testing (Vct) Di Rw 2 Desa Kuripan Kidul Kabupaten Cilacap. Universitas Al-Irsyad Cilacap.
Ha, J. H., Lith, L. M. V., Mallalieu, E. C., Chidassicua, J., Pinho, M. D., Devos, P., & Wirtz, A. L. (2019). Gendered Relationship Between HIV Stigma And HIV Testing Among Men And Women In Mozambique: A Cross-Sectional Study To Inform A Stigma Reduction And Male-Targeted HIV Testing Intervention. BMJ Open 2019(9), E029748. Doi:10.1136/ Bmjopen-2019-029748
Joorbonyan, H., Ghaffari, M., & Rakhshanderou, S. (2022). Peer-Led Theoretically Desinged HIV/Aids Prevention Intervention Among Students: A Case Of Health Belief Model. BMC Public Health, 22(8). Doi: 10.1186/S12889-021-12445-6
Kalichman, S. C., Shkembi, B., Wanyenze, R. K., Naigino, R., Bateganya, M. H., Menzies, N. A., . . . Kiene, S. M. (2020). Perceived HIV Stigma And HIV Testing Among Men And Women In Rural Uganda: A Population-Based Study. The Lancet HIV. Doi: 10.1016/S2352-3018(20)30198-3
Kemenkes. ( 2022). Laporan Sistem Informasi HIV/Aids Dan Ims (Siha).
Sari, N. P. W. P., & Parut, A. A. (2018). HIV/Aids-Related Knowledge And Willingness To Participate In Voluntary Counseling And Testing Among Health Sciences University Students. Jurnal Ners, 13(2). Doi:10.20473/Jn.V13i2.6716
Setiawan, N. A. P. H., & Ad, M. S. (2020). Faktor Penghambat Dalam Pelaksanaan Program Vct (Voluntary Counselling And Testing): A Literature Review. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, 11(4). Doi: 10.33846/Sf11404
Teklehaimanot, H. D., Teklehaimanot, A., Yohannes, M., & Biratu, D. (2016). Factors Influencing The Uptake Of Voluntary HIV Counseling And Testing In Rural Ethiopia: A Cross Sectional Study. BMC Public Health, 16, 239. Doi:10.1186/S12889-016-2918-Z
Wahyuni, N. W. S., Negara, I. M. K., & Putra, I. B. A. (2023) Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang HIV/Aids Dengan Minat Ibu Hamil Melakukan Voluntary Counselling And Testing (Vct) Di Puskesmas Ubud II. Jurnal Riset Kesehatan Nasional, 7(1). Doi:10.37294/Jrkn.V7i1.441
WHO. (2023). HIV And Aids. Retrieved From Https://Www.Who.Int/News-Room/Fact-Sheets/Detail/HIV-Aids
Xu, Z., Ma, P., Chu, M., Chen, Y., Miao, J., Xia, H., & Zhuang, X. (2020). Understanding the Role of Voluntary Counseling and Testing (VCT) in HIV Prevention in Nantong, China. Biomed Res Int, 2020, 5740654. doi:10.1155/2020/5740654
Zhang, Q., Fu, Y. S., Liu, X. M., Ding, Z. Q., Li, M. Q., & Fan, Y. G. (2020). HIV Prevalence and Factors Influencing the Uptake of Voluntary HIV Counseling and Testing among Older Clients of Female Sex Workers in Liuzhou and Fuyang Cities, China, 2016-2017: A Cross-Sectional Study. Biomed Res Int, 2020, 9634328. doi:10.1155/2020/9634328
Downloads
Additional Files
Published
Versions
- 2023-12-31 (2)
- 2023-12-31 (1)
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Wahyuni Maria Prasetyo Hutomo, Iqbal Pramukti, Sheizi Prista Sari (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









