Description of the Level of Knowledge and Attitudes towards HIV/AIDS Prevention among Adolescents at State Junior High School 8 Cimahi

Authors

  • Wahidin Febriyanto Universitas Pasundan, Indonesia
  • Sophan Warnasouda Pasundan University, Indonesia
  • Pandith Arismunandar Pasundan University, Indonesia

Keywords:

Attitudes, Adolescents, HIV/AIDS, Knowledge

Abstract

Cimahi City reported a cumulative number of HIV positive cases of 479 in 2019, a significant increase to 621 cases in 2023. Based on age and gender in 2005 – January 2023, there were 154 cases consisting of 120 cases in men and 34 cases in women with an age range of 15-19 years. The aim of this research was to determine the level of knowledge and attitudes of adolescents towards HIV/AIDS prevention among students at State Junior High School 8 Cimahi. This research is descriptive observational, with a cross sectional design, using simple random sampling techniques with a sample size of 96 respondents at Cimahi 8 State Junior High School. The research instrument was a questionnaire and the data was analyzed univariately. The results of the research show a picture of the level of knowledge about HIV/AIDS in the good category, namely 78 respondents (81.3%), in the sufficient category, namely 3 respondents (3.1%) and in the poor category, namely 15 respondents (15.6%). Attitudes towards HIV/AIDS prevention were in the positive attitude category, namely 82 respondents (85.4%) while those in the negative attitude category were 14 respondents (14.6%). Based on this, it can be concluded that the highest level of knowledge about HIV/AIDS is in the good category, namely 78 respondents (81.3%). Attitudes towards HIV/AIDS prevention were highest in the positive attitude category, namely 82 respondents (85.4%).

PENDAHULUAN

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah agen infeksi yang menyerang sel darah putih, menyebabkan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh.(Kemenkes RI, 2020) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), pada dasarnya, adalah rangkaian tanda dan gejala yang muncul akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh akibat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Kemenkes RI, 2020). HIV adalah salah satu anggota keluarga retrovirus. Virus ini menargetkan sel darah putih, terutama limfosit T (CD4), yang berperan dalam menjaga sistem imun tubuh (Pudjiati et al., 2019).

Secara global, pada tahun 2019, terdapat sekitar 38 juta individu yang terinfeksi HIV/AIDS, dengan jumlah kematian akibat AIDS mencapai 690.000 jiwa (UNAIDS, 2020). Pada tahun 2020 sekitar 2,8 juta anak dan remaja terinfeksi HIV dan sekitar 120.000 di antaranya meninggal karena AIDS (Alhattab, 2021). Pada tahun 2019, Indonesia mencapai puncak tertinggi dalam jumlah kasus HIV/AIDS dengan 50.282 kasus yang dilaporkan (Kemenkes RI, 2020). Sementara itu, di Jawa Barat, berdasarkan data tahun 2021, terdapat 4.531 kasus HIV/AIDS, mengalami peningkatan sebanyak 2,94% dibandingkan tahun 2020 yang mencatat 4.398 kasus (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2022). Kota Cimahi melaporkan jumlah kumulatif kasus HIV positif sebanyak 479 pada tahun 2019, namun mengalami peningkatan yang signifikan hingga mencapai 621 kasus pada tahun 2023 (Dinkes Kota Cimahi, 2023). Kota Cimahi juga mengalami proporsi kasus HIV pada remaja yang signifikan. Didasari pada usia dan jenis kelamin, terdapat 154 kasus antara Januari 2005 - Januari 2023, dengan 34 kasus pada perempuan dan 120 kasus pada pria berusia antara 15-19 tahun (Dinkes Kota Cimahi, 2023).

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), rentan terhadap penyakit lain karena daya tahan tubuhnya lemah dan tubuhnya tidak mampu melawan kuman yang biasanya tidak menyebabkan penyakit.(Kemenkes RI, 2019) Risiko penularan HIVpada pasangan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perilaku, relasi gender, psikologis, dan sosial (Unika Atma Jaya, 2016). Ada beberapa cara penularan Human Immunodeficiency Virus, antara lain bisa melalui cairan tubuh seperti darah,  air susu ibu (ASI) serta cairan genitalia. Maka dari itu, HIV bisa menyebar melalui aktivitas hubungan seks homoseksualdan heteroseksual, menggunakan jarum suntik yang telah terkontaminasi HIV, transfusi darah, donor organ, dan prosedurmedis invasif (Wahyuny & Susanti, 2019). Seks bebas, seperti sering berganti pasangan, tidak memakai alat kontrasepsi, atau berhubungan seks saat masih di bawah umur, merupakan sumber utama penularan HIV. Akibatnya, peluang seseorang tertular virus HIV jauh lebih besar. Anak-anak atau mungkin remaja, harus mendapatkan pendidikan seks sejakusia dini. Dilihat dari jumlah kasus HIV yang terjadi, beberapa di antaranya sebab hubungan seks bebas (Nurmila et al., 2023).

Upaya untuk menghindari penyebaran HIV/AIDS dapat diterapkan melalui pendekatan ABCDE, dimana A yaitu “absistensia” atau menjauhi aktivitas seksual sebelum menikah, B yaitu “be faithful” atau hanya melakukan hubungan seks dengan pasangan setelah menikah, C yaitu “condom” yang diperlukan jika A dan B tidak dapat diterapkan, D yaitu “drug no” artinya menghindari penggunaan obat-obatan terlarang, dan E yaitu “education” yaitu memberikan informasi akurat tentang HIV, termasuk penularan, pencegahan, dan pengobatan (Tanjung et al., 2022).

Adapun dalam Al-Qur’an ayat 32 surah Al-Isra disebutkan bahwa:

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Demikian ayat tersebut memberikan peringatan dari Allah SWT untuk mencegah perzinahan (seks bebas). Dari ayat ini pun menjadikan salah satu metode yang digunakan dalam Islam untuk menghentikan penyebaran HIV dan AIDS. Remaja harus didorong untuk menunda melakukan aktivitas seksual sampai mereka memiliki pasangan syah berdasarkan perkawinan dengan menggunakan strategi pencegahan ini.

Masa remaja seseorang merupakan masa yang penting di dalam hidup seseorang. Remaja adalah peralihan darianak-anak ke dewasa. Pada masa remaja seringkali timbul keinginan untuk belajar dan mencoba hal baru gunamenemukan jati diri dan mencapai kedewasaan sesuai dengan tugas perkembangannya (Kemenkes RI, 2017). Siswa di Sekolah Menengah Pertama berusia antara 12-15 tahun, yang dianggap sebagai tahap remaja awal. Siswa pada usia ini sedang melalui masa pubertas, masa transisi dan perkembangan fisik, psikologis dan sosial (Wendari et al., 2016). Kejadian infeksi HIV/AIDS lebih tinggi pada masa remaja, karena ruang emosional pada remaja masih labil serta terdapat keinginan besar untuk mengeskplor hal baru, selain itu dipengaruhi juga oleh pola asuh orang tua, lingkungan pertemanan, pendidikan mengenai hubungan seksual, kurang pengetahuan mengenai pencegahan dan penularan HIV/AIDS, sehingga sangat mungkin untuk remaja mencoba sesuatu yang baru yang mengarah pada HIV/AIDS. Olehkarena itu, diperlukan banyak informasi bagi remaja untuk memahami virus HIV/AIDS dan cara pencegahannya (Pratiwi & Basuki, 2011).

Berdasarkan temuan penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja SMP Kristen Tobelo sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan kurang, sebanyak 48 (65,7%) responden. Responden memberikan sikap positif pada pencegahan HIV/AIDS yaitu sebanyak 73 responden dengan presentase (100%) (Ersyen et al., 2021).  Melihat berdasarkan prevalensi kejadian kasus HIV/AIDS pada remaja yang meningkat setiap tahunnya di Kota Cimahi dan setelah berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan Kota Cimahi, penulis di rekomendasikan untuk melakukan penelitian di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi di kelurahan Leuwigajah untuk menilai tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS, di karenakan Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi merupakan unit binaan yang langsung dipantau oleh Dinas Kesehatan. Setelah dilakukan wawancara dengan guru di sekolah, terlihat bahwa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi, belum pernah ada sosialisasi tentang HIV/AIDS sehingga siswa masih kurang memahami bahaya penyakit HIV/AIDS dan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi belum pernah dilakukan penelitian untuk mencari tahu mengenai gambaran tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti melakukan penelitian di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi yang merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri yang terletak di Kota Cimahi dan untuk mengangkat nilai keunggulan institusi Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan, yaitu Public Health Empowerment Program dan Keislaman.

Atas dasar tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian “Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap terhadap Pencegahan HIV/AIDS pada Remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi.” Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS pada siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi panduan untuk meningkatkan promosi kesehatan, khususnya di kalangan remaja dalam hal pencegahan HIV/AIDS.

METODE

Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan desain cross sectional. Objek penelitian diukur dalam waktu secara bersamaan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi. Penelitian ini diamati berdasarkan data primer dengan menyebarkan kuesioner secara langsung kepada responden.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Pertama 8 Cimahi yang beralamat di Jl. Kihapit Barat No. 320, Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat 40532. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2023.

Populasi dan Sampel

Populasi target penelitian ini mencakup semua siswa yang terdaftar di SMPN 8 Cimahi. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah siswa yang berada di kelas IX di SMPN 8 Cimahi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan probability sampling dengan jenis teknik simple random sampling, yaitu memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur dari seluruh siswa yang memiliki karakteristik sikap dan pengetahuan berbeda-beda, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel dipilih dari populasi terjangkau yaitu siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi yang duduk di bangku kelas IX. Tujuan penelitian ini adalah deskriptif kategorik menggunakan rumus estimasi proporsi adalah sebagai berikut:

Figure 1.

Kriteria inklusi adalah subjek penelitian yang memenuhi syarat untuk menjadi sampel, diantaranya 1) Siswa laki-laki atau perempuan kelas IX di SMPN 8 Cimahi; 2) Siswa yang berusia ? 15 tahun; 3) Bersedia melakukan serangkaian pengisian kuesioner secara langsung; dan 4) Terdaftar secara valid sebagai siswa dari SMPN 8 Cimahi. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi 1) Responden yang mengundurkan diri sebelum akhir penelitian; 2) Tidak bersedia melakukan wawancara; dan 3) Tidak melakukan pengisian kuesioner secara lengkap.

Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan merupakan data primer dengan menggunakan kuesioner melalui via google form. Pemilihan responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi merupakan langkah awal dalam proses pengumpulan data penelitian ini. Seleksi responden dilakukan secara acak dari populasi yang telah ditentukan sebagai sampel. Kemudian responden yang bersedia mulai mengisi identitas dan formulir persetujuan di bagian pertama kuesioner.

Data diperoleh dari responden melalui sejumlah pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner, yang terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama merupakan karakteristik responden, yaitu: nama, umur, jenis kelamin, kelas, dan alamat. Bagian kedua adalah isi dari kuesioner menggambarkan tingkat pengetahuan responden mengenai pencegahan HIV/AIDS remaja di SMP Negeri 8 Cimahi. Bagian ketiga yaitu kuesioner tentang sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi. Jika seluruh kuesioner telah terisi secara lengkap, responden memberikan tanggapan mereka kepada peneliti. Data yang terkumpul kemudian direkapitulasi, dan peneliti akan mengolah dan menganalisisnya

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang sudah terkumpul diubah menjadi informasi melalui serangkaian langkah-langkah: Pertama, editing, yaitu melakukan konfirmasi kebenaran informasi yang diminta dengan memeriksa kemungkinan kesalahan dalam kuesioner dan ketidaksesuaian data. Apabila data maupun informasi masih belum lengkap dan survey baru tidak memungkinkan, maka dikeluarkan (drop out) kuesioner tersebut. Kedua, transformasi data (Coding), yaitu mengubah data berupa kalimat menjadi data numerik dengan pengujian yang sesuai dengan analisis statistik yang dipakai. Ketiga, data entry, yaitu melengkapi kolom kode dengan informasi dari setiap respons terhadap pertanyaan.  Keempat, tabulasi data, yaitu penyajian data didasari pada kebutuhan penelitian. Kelima, cleaning, yaitu pengecekan ulang setelah memasukan data untuk mencari kesalahan pengkodean, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian memperbaiki yang ditemukan. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dengan tujuan untuk menggambarkan karakteristik dari responden dengan penyajian data dalam bentuk jumlah dan persentase serta dianalisis secara deskriptif. Analisis data dilakukan menggunakan program Statistical Product and Service Solution atau SPSS.

HASIL

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi. Pengumpulan data dilakukan mulai pada hari Kamis, tanggal 10 Agustus 2023. Sampel penelitian ini adalah siswa SMPN 8 Cimahi yang duduk di bangku kelas IX, memenuhi kriteria inklusi serta ekslusi. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri dari sepuluh pertanyaan mengenai pengetahuan mengenai pencegahan HIV/AIDS serta sepuluh pertanyaan tentang sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan data primer dengan mendistribusikan kuesioner secara langsung kepada responden.

Uji Validitas dan Reliabilitas

Variabel Pernyataan r Hitung r Tabel Keterangan
Pengetahuan P1 0.818 0.200 Valid
P2 0.838 0.200 Valid
P3 0.524 0.200 Valid
P4 0.728 0.200 Valid
P5 0.454 0.200 Valid
P6 0.679 0.200 Valid
P7 0.440 0.200 Valid
P8 0.786 0.200 Valid
P9 0.849 0.200 Valid
P10 0.484 0.200 Valid
Sikap S1 0.806 0.200 Valid
S2 0.726 0.200 Valid
S3 0.711 0.200 Valid
S4 0.744 0.200 Valid
S5 0.689 0.200 Valid
S6 0.668 0.200 Valid
S7 0.914 0.200 Valid
S8 0.694 0.200 Valid
S9 0.648 0.200 Valid
S10 0.879 0.200 Valid
Table 1. Uji Validitas Variabel Pengetahuan dan Sikap

Pertanyaan-pertanyaa tersebut ditetapkan signifikan dan mempunyai validitas yang baik karena nilai r korelasi hitung yang diperoleh dari pertanyaan pada indikator berada di atas 0,200.

Variabel Nilai Cronbach’s Alpha Keputusan
Pengetahuan 0.844 Reliabel
Sikap 0.912 Reliabel
Table 2. Uji Reliabilitas Variabel Pengetahuan dan Sikap

Berdasarkan perhitungan yang penulis buat untuk uji reliabilitas. Diketahui variabel kualitas produk memiliki nilai cronbach’s alpha di atas 0,7, yaitu sebesar 0,823 dan 0,908. Hal ini memperlihatkan bahwa instrumen tersebut mempunyai hasil yang reliabel sehingga instrumen (kuesioner) ini termasuk kepada instrumen reliabel dan juga konsisten.

Subjek penelitian adalah siswa dan siswi kelas IX di SMP Negeri 8 Cimahi yang memenuhi kriteria inklusi, dengan berjumlah 96 orang sebagai subjek penelitian. Tabel 3 merupakan rekapitulasi gambaran karakteristik subjek penelitian berdasarkan 96 orang responden.

Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)
Laki-laki 46 47.9%
Perempuan 50 52.1%
Total 96 100.0%
Table 3. Distribusi Frekuensi Karakteristik Subjek Penelitian

Dari tabel di atas, dapat diamati distribusi frekuensi subjek penelitian didasari jenis kelamin. Mayoritas subjek penelitian adalah perempuan dengan jumlah 50 responden (52.1%), sementara subjek berjenis kelamin laki-laki berjumlah 46 responden (47.9%).

Tabel 4 merupakan gambaran tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi.

Pengetahuan Jumlah (n) Persentase (%)
Baik 78 81.3%
Cukup 3 3.1%
Kurang 15 15.6%
Total 96 100.0%
Table 4. Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Dari tabel di atas, terdapat tiga kategori pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja di SMPN 8 Cimahi, yaitu tingkat pengetahuan baik, cukup, dan kurang. Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, yaitu sebanyak 78 responden (81.3%), sementara tingkat pengetahuan cukup hanya dimiliki oleh 3 responden (3.1%), dan tingkat pengetahuan kurang dimiliki oleh 15 responden (15.6%).

Tabel 5 merupakan gambaran sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi.

Sikap Jumlah (n) Persentase (%)
Positif 82 85.4%
Negatif 14 14.6%
Total 96 100.0%
Table 5. Gambaran Sikap terhadap Pencegahan HIV/AIDS

Dari tabel di atas, dapat diketahui gambaran sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu sikap positif dan sikap negatif. Pada penelitian ini gambaran sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi terhadap pencegahan HIV/IIDS,  yang masuk kategori sikap positif yaitu 82 responden (85.4%) sedangkan yang masuk kategori sikap negatif yaitu 14 responden (14.6%).

Tabel 6 dan Tabel 7 merupakan gambaran tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pencagahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi berdasarkan jenis kelamin.

Jenis Kelamin Pengetahuan Total
Baik Cukup Kurang
Laki-Laki n 38 2 6 46
% 82.6% 4.3% 13.0% 100.0%
Perempuan n 40 1 9 50
% 80.0% 3.0% 18.0% 100.0%
Total n 78 3 15 96
% 81.3% 3.1% 15.6% 100.0%
Table 6. Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS berdasarkan Jenis Kelamin

Dari tabel di atas, dapat diketahui gambaran tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi berdasarkan jenis kelamin. Tingkat pengetahuan ini dibagi menjadi tiga kategori: tingkat pengetahuan baik, cukup, dan kurang. Berdasarkan jenis kelamin laki-laki dengan total 46 responden (100%) yang masuk kategori tingkat pengetahuan baik yaitu 38 responden (82.6%), kemudian pengetahuan cukup yaitu 2 responden (4.3%), dan yang masuk pengetahuan kurang yaitu 6 responden (13.0%). Kemudian berdasarkan jenis kelamin perempuan dengan total 50 responden (100%) yang masuk kategori tingkat pengetahuan baik syaitu 40 responden (80.0%), kemudian pengetahuan cukup yaitu 1 responden (3.0%), dan yang masuk pengetahuan kurang yaitu 9 responden (18.0%).

Jenis Kelamin Sikap Total
Positif Negatif
Laki-Laki n 39 7 46
% 84.8% 15.2% 100.0%
Perempuan n 43 7 50
% 86.0% 14.0% 100.0%
Total n 82 14 100
% 85.4% 14.6% 100.0%
Table 7. Gambaran Sikap terhadap Pencegahan HIV/AIDS berdasarkan Jenis Kelamin

Dari Tabel 9, dapat diketahui gambaran sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi berdasarkan jenis kelamin. Sikap ini dibagi menjadi dua katgori: sikap positif dan sikap negatif. Pada kelompok jenis kelamin laki-laki dengan total 46 responden (100%) yang masuk kategori sikap positif yaitu 39 responden (84.8%) dan yang masuk kategori sikap negatif yaitu 7 responden (15.2%). Kemudian berdasarkan kelompok jenis kelamin perempuan dengan total 50 responden (100%) seluruh responden masuk pada sikap positif yang masuk kategori sikap positif yaitu 43 responden (86.0%) dan yang masuk kategori sikap negatif yaitu 7 responden (14.0%).

PEMBAHASAN

Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Penelitian ini dilakukan pada 96 siswa SMP Negeri 8 Cimahi, sebagian besar berpengetahuan baik yaitu 78 responden (81.3%). Temuan ini memperlihatkan bahwa sebagian besar populasi siswa memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memiliki pemahaman dasar tentang HIV/AIDS. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Febrianti (2019) yang melaporkan bahwa sebagian besar responden (83,0%) menunjukkan tingkat pengetahuan HIV/AIDS yang baik (Febrianti & Wahidin, 2019). Mayoritas dari 64 responden (72,7%) pada penelitian Oktavia (2021) memiliki pengetahuan yang baik (Oktavia et al., 2022). Menurut teori Notoatmodjo (2014), Pengetahuan merupakan hasil persepsi manusia, atau ketika seseorang mengetahui sesuatu melalui indranya (mata, hidung, pendengaran, dan sebagainya). Dengan sendirinya, tingkat perhatian dan persepsi objek mempunyai pengaruh signifikan pada waktu yang diperlukan untuk merasakan sesuatu guna mengembangkan pengetahuan. Indra pendengaran (telinga) dan penglihatan (mata) merupakan tempat sebagian besar pengetahuan seseorang berasal. Intensitas atau tingkatan yang berbeda-beda ada pada pengetahuan seseorang terhadap berbagai objek(Notoadmodjo, 2014).

Pengetahuan yang baik, merujuk kepada responden yang secara aktif mengakses informasi tentang HIV/AIDS, termasuk pemahaman tentang pengertian, gejala, penyebab, tanda, cara penularan, serta langkah-langkah pencegahan. Ini didukung oleh fakta bahwa responden ini mencari informasi dari berbagai sumber, termasuk sumber informasi elektronik, pengalaman pribadi, dan konteks pembelajaran. Pengetahuan yang cukup, merujuk kepada responden yang memiliki pemahaman dasar tentang beberapa aspek HIV/AIDS, seperti pengertian, gejala, cara penularan, serta langkah-langkah pencegahan. Responden ini juga mencari informasi dari sumber informasi elektronik, pengalaman pribadi, dan pembelajaran. Pengetahuan yang kurang, merujuk kepada responden yang memiliki pemahaman terbatas tentang HIV/AIDS, termasuk kurangnya pemahaman tentang penyebab, pengertian, tanda dan gejala, cara penularan, serta langkah-langkah pencegahan. Faktor yang mempengaruhi ini adalah kurangnya akses atau minat dalam mencari informasi dari sumber-sumber seperti sumber informasi elektronik, pengalaman pribadi, dan pembelajaran, sehingga hasilnya adalah pengetahuan yang terbatas (Oktavia et al., 2022).

Kemudian hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan cukup yaitu 3 responden (3.1%), dan tingkat pengetahuan kurang yaitu 15 responden (15.6%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ersyen dkk (2021) dengan judul “Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap Terhadap Pencegahan HIV/AIDS di SMP Kristen Tobelo Halmehera Utara Tahun 2020”. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja SMP Kristen Tobelo, memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 48 (65,7%) responden, dan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 21 (28,8%) responden. Hal ini disebabkan karena masih minimnya informasi mengenai HIV/AIDS yang diperoleh dan kurangnya kesadaran serta minat yang tinggi untuk mendapatkan sumber informasi tentang HIV/AIDS, sehingga menyebabkan kurangnya pengetahuan HIV/AIDS pada remaja.

Menurut peneliti, tingkat pengetahuan yang baik ini disebabkan oleh pemahaman responden mengenai HIV/AIDSyang diperoleh dari berbagai sumber informasi seperti media massa, sosial media, teman, guru, dan keluarga. Responden yang yang memiliki pengetahuan baik akan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, mencari informasi lebih banyak lagi mengenai HIV/AIDS, dan mampu memberikan informasi kepada keluarga dan teman. Bagi responden yang memiliki pengetahuan kurang terhadap HIV/AIDS, karena kurangnya  kesadaran, minat yang tinggi untuk mendapatkan sumber informasi terhadap HIV/AIDS dan Sebagian besar dari responden yang memiliki pengetahuan kurang tidak dapat memberikan jawaban yang benar pada pertanyaan pengetahuan nomor 6 daninomor 10, yang berkaitan dengan cara penularan HIV/AIDS. Pengetahuan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia. Usia mencerminkan tingkat kematangan fisik, psikologis, dan sosial, yang secara signifikan memengaruhi proses pembelajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa usia merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pemahaman individu terhadap informasi, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pengetahuan seseorang, termasuk pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Gambaran Sikap terhadap Pencegahan HIV/AIDS

Hasil penelitian mengenai sikap siswa kelas IX di SMPN 8 Cimahi terhadap pencegahan HIV/AIDS menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka memiliki sikap yang positif, dengan jumlah sebanyak 82 responden (85,4%). Sementara itu, responden yang memiliki sikap negatif berjumlah 14 responden (14,6%). Sikap responden Sebagian besar bersifat positif, karena sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan yang baik sehingga dapat mempengaruhi sikapnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Setyarini et al. (2016), tentang hubungan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dengan sikap pencegahan HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Gurah Kabupaten Kediri, yang menyatakan bahwa Sebagian besar reponden mempunyai sikap pencegahan HIV/AIDS yang positif, yaitu sebesar 88,60%. Penelitian Dewi (2019) menunjukkan bahwa sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS sebagian besar positif kerena siswa menerima atau menanggapi pernyataan pandangan, perasaan dan kecenderungan tindakan dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Azwar (2013) mendefinisikan sikap sebagai perasaan yang mendukung dan tidak. Pembentukan sikap juga memerlukan dukungan dari orang lain. Pembentukan sikap juga tergantung pada dukungan yang diberikan oleh individu lain. Dalam konteks penelitian ini, teman dan guru adalah individu yang paling dekat dengan remaja dan berperan dalam mendukung sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS. Teori Azwar (2013), juga menekankan bahwa orang lain dalam lingkungan sosial kita memiliki peran penting dalam membentuk sikap seseorang terhadap suatu hal.

Peneliti berpendapat bahwa remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi memiliki sikap positif terhadap pencegahan HIV/AIDS, yang mungkin disebabkan oleh informasi yang mereka terima yang sangat baik tentang pencegahan HIV/AIDS. Dalam konteks ini, semakin positif sikap seseorang, semakin baik pula perilakunya dalam hal pencegahan HIV/AIDS. Meskipun demikian, masih ada sejumlah responden yang belum sepenuhnya yakin atau sadar tentang pentingnya pencegahan HIV/AIDS, yang mungkin mengakibatkan tanggapan mereka menjadi negatif atau kurang responsif terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS. Responden yang memberikan tanggapan negatif cenderung memberikan jawaban yang kurang baik pada pernyataan tentang sikap nomor 6, yang berhubungan dengan cara menghindari penularan HIV/AIDS. Sikap seseorang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk pengalaman pribadi, pengaruh individu yang dianggap penting, budaya, media, lembaga pendidikan, faktor keagamaan, dan aspek emosional. Pengalaman pribadi dapat berperan signifikan dalam membentuk sikap, karena sikap seseorang sering kali didasarkan pada pengalaman pribadi yang memberikan kesan mendalam. Selain itu, pengaruh dari individu yang dianggap penting, seperti orang tua, juga dapat memengaruhi sikap seseorang, karena individu cenderung memiliki sikap yang sejalan dengan sikap orang-orang yang dihormati dan dianggap penting dalam kehidupan mereka. Media massa dan media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk sikap seseorang. Individu sering kali terpengaruh oleh opini dan informasi yang mereka temui dalam media, termasuk apa yang mereka baca, lihat, dan dengar. Media memiliki kemampuan untuk membentuk persepsi dan sikap individu terhadap berbagai isu, termasuk HIV/AIDS.

KESIMPULAN DAN SARAN

Gambaran tingkat pengetahuan remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS di SMPN 8 Cimahi berada pada kategori baik, dengan 78 responden (81.3%). Kategori cukup, dengan 3 responden (3.1%). Kategori kurang dengan 15 responden (15.6%). Sedangkan sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS, berada pada kategori sikap positif yaitu 82 responden (85.4%), dan yang masuk kategori sikap negatif yaitu 14 responden (14.6%). Oleh karena itu, didapatkan hasil bahwa pengetahuan terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi berada pada kategori baik. Sementara itu, pengetahuan sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi berada pada kategori sikap positif.

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan agar siswa SMPN 8 Cimahi sebaiknya lebih proaktif dalam mengakses informasi mengenai HIV/AIDS dari berbagai sumber seperti media cetak, media elektronik, tenaga kesehatan, dan sumber-sumber lainnya. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang HIV/AIDS serta mengetahui cara-cara pencegahan yang tepat. Diharapkan dari pihak sekolah dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan HIV/AIDS dan sikap terhadap pencegahan kepada siswa dengan lebih dalam lagi agar siswa dapat bersikap positif terhadap HIV/AIDS yang berkaitan dengan resiko yang akan didapat dikemudian hari. Bagi penelitian selanjutnya dapat meneliti mengenai variabel-variabel lain yang mungkin berpengaruh.

KEKURANGAN KAJIAN

Berdasarkan observasi peneliti di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi, belum ada penelitian sebelumnya mengenai gambaran tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi, sehingga peneliti tidak bisa membandingkan hasil penelitian yang telah didapatkan sebelumnya. Pengumpulan responden dalam pembagian kuesioner mengalami hambatan karena waktu pengambilan data bertepatan dengan jam kegiatan belajar mengajar, sehingga peneliti harus menunggu waktu yang tepat untuk pembagian kuesioner. Kebanyakan siswa/siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi tidak membawa handphone (HP) untuk melakukan pengisian kuesioner via google form. Maka dari itu, peneliti telah mengambil langkah untuk mengatasi situasi ini dengan menyediakan kuesioner dalam bentuk manual yang dicetak pada kertas.

DAFTAR PUSTAKA

Alhattab, S. (2021, November 21). A child was infected with HIV every two minutes in 2020 – UNICEF. UNICEF, 1. https://www.unicef.org/eap/press-releases/child-was-infected-hiv-every-two-minutes-2020-unicef

Azwar, S. (2013). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya (Ed. 2). Pustaka Pelajar.

Dewi, Y. V. A. (2019). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Remaja Terhadap Pencegahan HIV/AIDS Di SMK Global Indonesia Kota Bogor Tahun 2017. Jurnal Kesehatan Karya Husada, 2(7), 259–265. https://doi.org/10.36577/jkkh.v7i2.443

Dinas Kesehatan Jawa Barat. (2022). Jumlah Kasus HIV Berdasarkan Kelompok Umur di Jawa Barat. Jabar Open Data. https://opendata.jabarprov.go.id/id/dataset/jumlah-kasus-hiv-berdasarkan-kelompok-umur-di-jawa-barat

Dinkes Kota Cimahi. (2023). Analisis Situasi HIV AIDS di Kota Cimahi. Open Data Cimahi. https://opendata.cimahikota.go.id/dataset/jumlah-kasus-baru-aids-menurut-jenis-kelamin-dan-kelompok-umur-di-kota-cimahi

Ersyen, M., Blandina, O. A., & Cabu, R. (2021). Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap Terhadap Pencegahan HIV/ AIDS di SMP Kristen Tobelo Halmahera Utara Tahun 2020. Keperawatan Dan Kesehatan, 1(1), 35–41. https://doi.org/10.55984/leleani.v1i1.60

Febrianti, R., & Wahidin, M. (2019). Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS Di SMK Negeri 3 Jambi Tahun 2018. Journal of Social and Economics Research, 4(1), 42–47. https://ojs.ekasakti.org/index.php/UJSCR/article/view/19

Kemenkes RI. (2017). Situasi Kesehatan Reproduksi Remaja. In Pusdatin (pp. 1–7).

Kemenkes RI. (2019). Pedoman Program Pencegahan Penularan HIV, Sifilis dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak (pp. 8–14).

Kemenkes RI. (2020). Infodatin HIV AIDS. In Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (pp. 1–8). https://doi.org/10.4324/9781315700724-16

Notoadmodjo, S. (2014). Promosi Kesehatan dan Prilaku Kesehatan. In Jakarta: EGC. Yayasan Kita Menulis.

Nurmila, N., Padad, A. T., Febriza, A., & Alamsyah, M. D. (2023). Edukasi HIV/AIDS Pada Siswa SMA Sebagai Wujud Peningkatan Awereness Terhadap Penyebaran Infeksi HIV/AIDS. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(9), 6489–6494. https://doi.org/10.53625/jabdi.v2i9.4944

Oktavia, C., Suheti, T., Husni, A., & Melianingsih, L. (2022). Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang Pencegahan HIV/AIDS. Jurnal Keperawatan Indonesia Florence Nightingale, 2(1), 37–43. https://jurnal.polkesban.ac.id/index.php/jkifn/article/view/97

Pratiwi, N. L., & Basuki, H. (2011). Hubungan Karakteristik Remaja Terkait Risiko Penularan HIV-AIDS dan Perilaku Seks Tidak Aman di Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 14(4), 346–357. https://www.neliti.com/publications/20975/hubungan-karakteristik-remaja-terkait-risiko-penularan-hiv-aids-dan-perilaku-sek#cite

Pudjiati, A. S. R., Imtihani, H., Luthfiandi, M. R., & Susetiati, D. A. (2019). Association between sexual orientation and sexual contact with the incidence of human immunodeficiency virus (HIV) infection in Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta. Journal of the Medical Sciences, 51(1), 36–43. https://doi.org/10.19106/JMedSci005101201905

Setyarini, A. I., Titisari, I., & Ramadhania, P. A. (2016). Hubungan Pengetahuan Remaja Tentang HIV/AIDS Dengan Sikap Pencegahan HIV/AIDS Di SMA Negeri 1 Gurah Kabupaten Kediri. Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(2), 25–33. https://doi.org/10.32831/jik.v4i2.87

Tanjung, T. N. P., Nurzannah, S., Munawarah, V. R., Damayanti, D., & Sitorus, R. A. (2022). Pencegahan Penularan HIV/AIDS dengan Metode “ABCDE” di SMK Gelora Jaya Nusantara Medan Tahun 2022. Kesehatan Masyarakat, 1(1), 63–68. https://doi.org/10.56211/pubhealth.v1i1.38

UNAIDS. (2020). United Nations Programme on HIV/AIDS Data 2020. In Programme on HIV/AIDS (pp. 1–436). https://www.unaids.org/sites/default/files/media_asset/2020_aids-data-book_en.pdf

Unika Atma Jaya. (2016). Faktor Risiko dan Perlindungan Penularan HIV Pada Pasangan Tetap Heteroseksual di Indonesia (Vol. 101). https://pph.atmajaya.ac.id/media/document/KM/publikasi/2016_Kajian_Lapangan_Faktor_Risiko_dan_Perlindungan_Penularan_HIV_pada_Pasangan_Tetap.pdf

Wahyuny, R., & Susanti, D. (2019). Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Tentang HIV/AIDS di Universitas Pasir Pengaraian Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Maternal Dan Neonatal, 2(6), 341–349. https://doi.org/https://e-journal.upp.ac.id/index.php/akbd/article/view/1721

Wendari, W. N., Badrujaman, A., & Sismiati S., A. (2016). Profil Permasalahan Siswa Sekolah Menengah PErtama (SMP) Negeri di Kota Bogor. Bimbingan Konseling, 5(1), 134. https://doi.org/10.21009/insight.051.19

Published

2023-10-30

How to Cite

Febriyanto, W., Warnasouda, S., & Arismunandar, P. (2023). Description of the Level of Knowledge and Attitudes towards HIV/AIDS Prevention among Adolescents at State Junior High School 8 Cimahi. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), e1171. Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/1171

Issue

Section

Journal Supplement

Citation Check