Karakteristik Klinik, Profil Pengobatan dan Outcome Klinik Pasien COVID-19 di Rumah Sakit Tarakan Jakarta
Keywords:
storage system, medical record service, outpatient servicesAbstract
The research aims to provide clearer information on the outpatient medical record file storage system for the effectiveness of medical record services at the Bandung City Regional Hospital. The research method uses quantitative along with descriptive methods. Collect data using observation, interviews and literature study techniques which are closely related to the core problem. The processing technique uses three analysis activities, namely reduction, presentation and data validation. Problems were found in the process of storing outpatient medical record files, consisting of (1). The shelves for storing medical record documents are full, because retention of medical records is rare; (2). There is incorrect storage of outpatient medical records; (3). There are still many medical records that have not been stored on storage shelves. Suggestions: (1). The officer proposes to amend the Decree on the Medical Record Retention Schedule so that retention activities are scheduled; (2). Filing officers focus more on keeping outpatient medical records; (3). Provide a large filing room so that medical records are not stored anywhere because this can cause medical records to be lost or damaged.
Pendahuluan
Pada akhir tahun 2019 di Wuhan provinsi Hubei telah terjadi penyakitradang paru-paru yang dikenal dengan Pneumonia telah menimbulkan wabahpertama yang masih belum diketahui pasti penyebabnya, akan tetapi kasuspertama ini dikaitkan dengan pasar ikan di Wuhan, yang pada awalnyaterdapat lima pasien yang dirawat dengan Acute Respiratory DistressSyndrome (ARDS). Sampel yang diteliti menunjukkan etiologi coronavirusbaru, awalnya penyakit ini dinamakan sementara sebagai 2019 NovelCoronavirus (2019-nCoV). Awal Januari 2020 kasus ini meningkat pesat,ditandai dengan dilaporkannya sebanyak 44 kasus, tidak sampai satubulan, penyakit ini telah menyebar diberbagai provinsi lain di China,Thailand, Jepang, dan Korea Selatan. Saat ini Wabah Coronavirus Disease(Covid-19) menjadi isu kesehatan yang paling menghebohkan seluruh dunia,termasuk Indonesia ketika berita terkait Virus corona pertama kaliterdengar. Bencana non alam ini tentu saja bukan pertama kalinyadihadapi negara-negara di dunia. Sejarah mencatat pernah ada sebelumnyabeberapa virus yang juga dapat mengancam nyawa jika tidak segeraditangani seperti virus Ebola, SARS, H5N1 atau Flu Burung, HIV, MERS,dan lain-lain.
Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia WHO, hingga saat ini telahterdeteksi di tujuh puluh enam (76) negara, dengan korban 3.162meninggal, 92.860 terinfeksi dan 48.252 bisa disembuhkan. Negaraterbanyak terjangkiti adalah Cina mencapai 95% (80.152 terjangkiti,2.945 meninggal). Negara berikutnya yang termasuk kedalam 10 besarterjangkiti Corona adalah Korea Selatan, Italia, Iran, Jepang,Perancis, Jerman, Spanyol, AS dan Singapura. Pada tanggal 30 Januari2020 WHO menyatakan wabah tersebut sebagai “darurat kesehatan masyarakatdari ikon perhatian internasional” (PHEIC).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, pemerintah mulaimengambil langkah-langkah strategis dalam upaya pencegahan munculnyasebaran baru berjalan maupun penanggulangan kasus wabah Corona Virusatau Covid 19. Data terbaru total jumlah kasus positif Corona Virus atauCovid 19 di Indonesia pada tanggal 20 April 2020 sebanyak 6.760 pasien.Angka tersebut terhitung sebagai berikut yaitu total jumlah pasiendirawat sebanyak 5.423 orang, total jumlah pasien sembuh sebanyak 747orang dan total jumlah pasien meninggal sebanyak 590 jiwa. Total jumlahPasien Dalam Pengawasan sebanyak 16.343 orang dan total jumlah OrangDalam Pengawasan sebanyak 181.770 orang
Pemerintah Republik Indonesia melalui Gugus Tugas PercepatanPenanganan COVID-19 (Gugus Tugas Nasional) mencatat penambahan kasusterkonfirmasi positif COVID-19 per hari ini Jumat (12/6) totalnyamenjadi 36.406 setelah ada penambahan sebanyak 577 orang., untuk kasusmeninggal menjadi 2.048 dengan penambahan 48 orang. Provinsi yang palingterdampak adalah mencakup 5 Provinsi, dengan penambahan kasus per hariini, Provinsi Jawa Timur menjadi yang tertinggi yakni 318 kasus baru,DKI Jakarta 93, Sumatera Utara 88, Sulawesi Utara 65, Kalimantan Selatan60.
RS Tarakan Jakarta menjadi salah satu Rumah Sakit Rujukan bagi PasienCovid 19 sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Gubernur DKI JakartaNomor 378 Tahun 2020 tentang Penetapan Rumah Sakit RujukanPenanggulangan Penyakit Corona virus Disease 2019 (Covid-19, selainRumah Sakit Umum Daerah Tarakan terdapat 13 rumah sakit lain yang jugatelah ditetapkan sebagai rujukan dalam penanganan pasien coronaatau Covid-19.
Pengobatan yang tepat untuk mengatasi COVID-19 sampai saat ini belumsepenuhnya ditetapkan, termasuk riset mengenai vaksin masih terusdikerjakan. Pengobatan yang ada masih ditujukan pada pengobatansimptomatis, pemberian suplemen untuk meningkatkan sistem imun,pengobatan dengan antivirus yang diduga mungkin juga bekerja pada virusini, serta pemberian antibiotik terutama pada kasus dengan infeksisekunder. Selain faktor pengobatan masih banyak factor lain yangmempengaruhi mortalitas dan morbiditas penyakit ini, seperti usia,faktor resiko, adanya penyakit penyerta, status imun, status gizi sertafaktor psikhis yang juga berdampak terhadap daya tahan tubuh seseoranguntuk mengatasi infeksi ini.
Sebagai penyakit baru sampai saat ini belum diketahui bagaimanaprofil klinis pasien Covid-19 di Indonesia, khususnya Jakarta, termasukbagaimana profil pengobatan, serta outcome klinik pasien tersebut.Adanya data terkait hal tersebut diatas akan menjadi dasar bagaimanapemerintah Indonesia dapat menganggulangi secara komperhensif penderitaCovid-19. RS Tarakan yang menjadi salah satu rujukan bagi penderitaCovid-19 di Wilayah Provinsi DKI Jakarta dapat menjadi tempat yang baikdalam melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan tersebutdiatas.
Metode
Desain penelitian kuantitatif, observational, potong lintang. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif, untuk melihatkarakteristik dan penggunaan obat pada pasien covid 19 dari rekam medik,data peresepan dari SIM-RS, unit farmasi RS. Tarakan Jakarta periodeMaret 2020 - Juni 2020.
Dengan kerangka konsep yang diawali dari pelaksanaan kegiatan protapkasus Covid 19, dimana karakteristik pasien sebagai variable yang akandi lakukan pendataan berdasarkan data dari rekam medis dan penunjangmedis. Penelitian ini di harapkan akan memberikan gambaran karakteristikpasien covid 19 dengan atau tanpa komorbid sekaligus menunjukkanvariable dominan yang berpengaruh terhadap tingkat kesembuhan atautingkat kematian pasien covid 19.
Dalam penelitian yang di lakukan ini mengunakan definisi variabledimana suatu besaran yang dapat diubah atau berubah sehinggamempengaruhi peristiwa atau hasil penelitian. Dengan menggunakanvariabel, kita akan memperoleh lebih mudah memahami permasalahan sesuatuyang menjadi pusat atau fokus perhatian yang memperikan pengaruh danmemiliki nilai sehingga dapat merubah yang mana Variabel merupakan objekpenelitian yang dapat menetukan hasil penelitian, sedangkanvariable-variabel tertesbut dapat di laksanakan dengan bantuanindikator-indikator sehingga variable tersebut lebih jelas hasilnya Pada penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui karakeristikpasien Covid 19 dan juga profil penggunaa antibiotic dengan menggunakanmetode Retrospektif
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien Covid 19 baik yangmasih pasien dalam pengawasan (PDP) maupun yang telah terkonfirmasi PCRpositif dengan swab pada ruang perawatan baik di ruang Covid 19 biasaataupun ruang ICU Covid 19. Data yang di peroleh pada penelitian iniperiode 1 Maret 2020 s/d 30 Juni 2020. Menggunakan total sampling,semua pasien PDP maupun terkonfirmasi PCR postif yang dirawat di RSTarakan.
Pengambilan sampel di lakukan dengan cara total sampling yang dapatmemenuhi kriteria inklusi atau eksklusi
Kriteria Inklusi
- Pasien Covid 19 baik yang PDP maupun terkonfirmasi PCR positif dengan metode swab.
- Pasien covid 19 dengan atau tanpa penyakit penyerta lainnya
- Pasien covid 19 dengan atau tanpa menggunakan ventilator
- Usia pasien > 20 tahun
Kriteria Eksklusi
- Pasien pulang paksa (dirawat kurang dari 2 hari)
- Catatan medis dan keuangan tidak lengkap
Tenik Pengumpulan Data
Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi kemudian dilakukantahapan sebagai berikut :
- Pengambilan data rekam medis
- Pengambilan data di bagian instalasi farmasi
- Pengambilan data di bagian Sipport ( IT )
Pengambilan data di lakukan di berbagai ruangan antara lain diambildari dari rekam medis ini adalah nomor rekam medis, identittas pasienterutama pada nama pasien, usia pasien, diagnosis, obat yangdiberikan.
Untuk pengambilan data yang terkait berupa penggunaan obat Azitromycin, Kloroquin dan Tamiflu yang diambil dari bagian InstalasiFarmasi.
Tata cara pengumpulan data sebagai berikut:
- Populasi terjangkau yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dari data seluruhnya untuk menentukan individu yang akan dijadikan sebagai subyek penelitian.
- Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini diambil secara langsung terhadap subyek terpilih dari data rekam medis (meliputi identitas pasien, diagnosa, obat yang digunakan, hasil laboratorium, atau hasil pemeriksaan penunjang lainnya) yang diperoleh dari bagian instalasi farmasi.
- Hasil yang diperoleh kemudian dicatat dan selanjutnya dilakukan analisis
Pengolahan data diawali dengan mengidentifikasi data demografi (usia,berat badan, tinggi badan dan pekerjaan) dan karakteristik klinis pasien(pasien Covid 19 dengan gejala.simptom komorbid). Analisa univariat :untuk melihat gambaran distribusi frekuensi, proporsi, nilai terbanyak(modus), nilai rata – rata (mean), dan nilai median (nilai tengah)masing – masing variabel. Hasil disajikan dalam bentuk tabel. Analisabivariat : analisa ini dilakukan jika lebih dari dua variabel dananalisa ini berfungsi untuk mengetahui hubungan antar variable
Hasil
Hasil penelitian yang di dapat menunjukkan bahwa demografi pasiensebanyak 353 0rang dapat di lihat bahwa paling banyak terpapar penyakitcovid-19 adalah pasien laki2 sebanyak 197 orang (55,8 %.). Berdasarkanusia, pasien paling banyak berusia > 60 tahun sebanyak 141 orang(39.9 %) hal ini memberikan pengertian bahwa usia > 60 tahunmemberikan resiko terpapar seperti kita ketahui bersama usia > 60tahun adalah usia lanjut yang sangat rentan terhadap penyakit , dimanapada uisa lanjut tersebut terjadi penurunan fungsi organ-organ tubuhmenyebabkan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan dan kemampuanbertahan hidup berkurang.
| VARIABEL | N | % |
|---|---|---|
| Jenis kelamin | ||
| LAKI-LAKI | 197 | 55.8 |
| PEREMPUAN | 156 | 44.2 |
| Usia | ||
| <= 20 TAHUN | 24 | 6.8 |
| 21-40 TAHUN | 68 | 19.3 |
| 41-60 TAHUN | 120 | 34.0 |
| =>61 TAHUN | 141 | 39.9 |
| Pekerjaan | ||
| PNS | 7 | 2.0 |
| KARYAWAN | 51 | 14.4 |
| PEDAGANG | 20 | 5.7 |
| LAINNYA | 275 | 77.9 |
| Riwayat Kontak | ||
| TIDAK | 333 | 94.3 |
| YA | 20 | 5.7 |
| Status Keluar | ||
| MENINGGAL | 187 | 53.0 |
| PULANG/SEMBUH | 166 | 47.0 |
Hasil penelitian yang di dapat menunjukkan bahwa demografi pasiensebanyak 353 0rang dapat di lihat bahwa paling banyak terpapar penyakitcovid-19 adalah pasien laki2 sebanyak 197 orang (55,8 %.). Berdasarkanusia, pasien paling banyak berusia > 60 tahun sebanyak 141 orang(39.9 %) hal ini memberikan pengertian bahwa usia > 60 tahunmemberikan resiko terpapar seperti kita ketahui bersama usia > 60tahun adalah usia lanjut yang sangat rentan terhadap penyakit , dimanapada uisa lanjut tersebut terjadi penurunan fungsi organ-organ tubuhmenyebabkan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan dan kemampuanbertahan hidup berkurang.
Responden 353 orang pasien di peroleh data Pasien yang menggunakanPengobatan Vitamin C sebanyak 191 orang (54,1%), Curcuma 117 orang(33,1%) , Obat Hipertensi 132 orang (37.4%), Obat Batuk 214 orang(60.6%), Obat Ginjal sebanyak 71 orang(20.1%), Kortiko Steroid sebanyak102 orang (28.9%), Obat Jantung sebanyak 114orang(32.3%), Obat DiabetesMelitus sebanyak 118 orang (33.4%), Obat TBC sebanyak 78 orang (22.1%),Obat Lambung sebanyak 187 orang (53.0%), Obat Stroke sebanyak 43orang(12.2%). Pada obat antibiotik di gunakan Azithromycin 500mg sebanyak 285 orang (80.7%), Levofloxacin inf. Sebanyak 88 orang (24.9%) ,Ceftriaxon inj. Sebanyak194 orang(55.0%), Meropenem inj. Sebanyak 74orang(21.0%) ,antibiotk yang di gunakan ada yang berdiri sendiri jugayang di gunakan secara kombinasi dimna tergantung tingkat keparahan darikomorbid nya.Pada variable Parasetamol tab 124 orang (35.1%), obatparasetamol digunakan pada pasien covid-19 yang mempunyai gejala panas ,demam dan pusing. Osetamivir tab sebanyak 71 orang (20.1%), digunakanpada pasien covid-19 sebagai anti virus sehingga pengobtan lebihmaksimal Chloroquin Hcl sebanyak 111 orang (31.4%), di gunakan untukmempermudah obat antivirus dan antibiotiknya menembus pertahan viruscovid-19 dalam darah.
Timbul Gejala dengan jumlah data (N) sebanyak 353 orang mempunyairata-rata 3,07 ± 4,8 hari dengan timbul gejala minimal 0 hari danmaksimal 30 hari. Untuk CI 95% rata-rata timbul gejala berada pada 2,57– 3,57 hari. Variabel LOS dengan jumlah data (N) sebanyak 353 orangmempunyai rata-rata 9,56 ± 6,6 hari dengan LOS minimal 1 hari danmaksimal 43 hari. Untuk CI 95% rata-rata LOS berada pada 8,67 – 10,05hari
Hubungan Karakteristik Demografi terhadap Outcome Pasien Laki-lakiada 89 orang (53,6%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan pasien laki-laki197 pasien 108 orang (57.8%) meninggal, dari 156 Pasien Perempuan ada 77orang (46,4%) yang Pulang / Sembuh. Dan 156 orang pasien perempuan 79orang (42,2%) meninggal. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAKADA hubungan yang bermakna antara Jenis Kelamin dengan Status OutcomePasien (p-value = 0,434).hasil penelitian dari 24 orang yang berusia>20 tahun yang MENINGGAL sebanyak 9 orang (4,8%), . dan15 orang(9,0 %) yang Pulang/Sembuh Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAKADA hubungan yang bermakna antara USIA dengan Status Outcome Pasien(p-value = 0.377 ). Hasil penelitian dari 68 orang (39.9%) yang berusia21-40 tahun yang MENINGGAL sebanyak34orang (18,2%), . dan34 orang(20.5 %) yang Pulang/Sembuh Hasil uji statistik menunjukkan bahwaTIDAK ADA hubungan yang bermakna antara USIA dengan Status OutcomePasien (p-value = 0.377 ).
Hasil penelitian dari 120 orang (39.9%) yang berusia 41-60 tahun tahun yang MENINGGAL sebanyak 67 orang (%), . dan 53 orang (31,9 %)yang Pulang/Sembuh Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADAhubungan yang bermakna antara USIA dengan Status Outcome Pasien (p-value= 0.377 ).
Hasil penelitian dari 141 orang (39.9%) yang berusia > 61 tahun ada yang MENINGGAL sebanyak 77 orang (41,2%), . dan 64 orang (38.6%)yang Pulang/Sembuh Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADAhubungan yang bermakna antara USIA dengan Status Outcome Pasien (p-value= 0.377 3.Hasil penelitian dari 7 orang(2.0%) PNS reponden 3 orang(1,8%) Pulang /Sembuh , dari 4 orang (2,1%) Meninggal, Hasil penelitiandari 51orang(14,4%) Karyawan reponden 26 orang (12,7%) Pulang /Sembuh ,dari 25 orang Karyawan (13,4%) Meninggal, Hasil penelitian dari 20orang (5,7%) Pedagang reponden 8 orang (4,8 %) Pulang /Sembuh , dari12 orang (6,4 %) Meninggal, Hasil penelitian dari 275 orang(77,9%)lain-lain reponden129 orang (77,7%) Pulang /Sembuh , dari 146 orang(78,1%) Meninggal Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADAhubungan yang bermakna antara PEKERJAAN dengan Status Outcome Pasien(p-value =0.857,
Hasil penelitian dari 333 orang (94.3%) diperoleh 153 orang ( 92.2%)adalah yang tidak memiliki Riwayat Kontak dan dapat PULANG/SEMBUHsedangkan 180 orang (96.3%) tidak ada Riwayat Kontak dan Meninggal ,Hasil penelitian dari 20 orang (5,7%) diperoleh 13 orang (7,8%) adalahyang memiliki Riwayat Kontak dan dapat PULANG/SEMBUH sedangkan 7 orang(3,7%) memiliki Riwayat Kontak dan Meninggal Hasil uji statistikmenunjukkan bahwa TIDAK ADA hubungan yang bermakna antara Riwayat Kontakdengan Status Outcome Pasien (p-value =0.000)
Hubungan Karakteristik Klinik terhadap Outcome Pasien bahwa 188pasien yang Tidak Demam ada 96 orang (57,8%) yang Pulang / Sembuh,sedangkan dari 188 Pasien yang Tidak Demam ada 92 orang (49,2%) yangMeninggal. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADA hubunganyang bermakna antara GEJALA TIDAK DEMAM dengan Status Outcome Pasien(p-value = 0,105). Dari 165 Pasien yang Demam ada 70 orang (42,2%) yangPulang / Sembuh, sedangkan dari 165 Pasien yang Demam ada 95orang (50,8%) yang Meninggal. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADAhubungan yang bermakna antara GEJALA DEMAM dengan Status Outtcome Pasien(p-value = 0,105)
Dari data diatas terlihat bahwa dari 151 Pasien yang Tidak SesakNafas ada 92 orang (55,4%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dar i151 Pasien yang Tidak Sesak Nafas ada 59 orang (31.6 %) yang Meninggal.Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antaraGEJALA SESAK NAFAS dengan Status Outcome Pasien (p-value = 0,000). Hasilpenelitian yang menunjukkan Tidak Sesak Nafas tetapi Boleh Pulang, halini di karena pada pasien tersebut dalam keadan lebih baik dan tidak adatanda-tanda kelanjutan dari gejala tersebut, sedangkan untuk hasilpenelitian yang menunjukan TIDAK danya sesak nafas dan pasienmeninggal ini terjadi karena tidak semua pasien dating ke rumah sakitmenunjukan gejala sesak nafas tetapi dalam kondsi yang lebih buruksehingga terjadi Perburukan dan menyebabkan kematian.
Data terlihat dari 202 pasien yang Sesak Nafas ada 74 orang(44.6%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 202 Pasien yang Sesak Nafasada128 orang (68.4%) yang Meninggal. Hasil uji statistik menunjukkanbahwa ADA hubungan yang bermakna antara GEJALA SESAK NAFAS dengan StatusOutcome Pasien (p-value = 0,000). Hasil penelitian yang menunjukkanadanya Sesak Nafas akan tetapi Boleh Pulang, hal ini di karena padapasien tersebut dalam keadan lebih baik dari sebelum di bawa ke rumahsakit dan tidak ada tanda-tanda kelanjutan dari gejala tersebut,sedangkan untuk hasil penelitian yang menunjukan TIDAK danya sesak nafas dan pasien meninggal ini terjadi karena tidak semua pasiendatiang ke rumah sakit menunjukan gejala sesak nafas tetapi dalamkondsi yang lebih buruk sehingga terjadi Perburukan dan menyebabkankematian.
Data terlihat dari 202 Pasien yang Tidak Batuk Kering 95 orang(57.2%) dapat Pulang , Sembuh, sedangkan dari 202 orang yang Tidak BatukKering ada 107 orang (52,7%) Meninggal , Hasil uji statistik menunjukkanbahwa TIDAK ADA hubungan yang bermakna antara Yang Tidak Batuk Keringdengan Status Outcome Pasien (p-value=0.999).
Dari data diatas terlihat bahwa dari 105 Pasien yang Batuk Kering 71orang (57.2%) dapat Pulang , Sembuh, sedangkan dari 151 orang BatukKering ada 80 orang (42,8%) Meninggal , Hasil uji statistik menunjukkanbahwa TIDAK ADA hubungan yang bermakna antara Yang Tidak Batuk Keringdengan Status Outcome Pasien (p-value=0.999).
Data diatas dapat terlihat dari 324 Pasien yang Tidak Diare 153 orang (92.2%) dapat Pulang /sembuh, sedangkan responden 324 orang yangTidak Diare ada 171 orang (91.4%) Meninggal , Dari data diatas terlihatbahwa dari 29 Pasien Diare 13 orang (7,8%) dapat Pulang /sembuh,sedangkan dari 29 orang yang Diare ada 16 orang (8,6 %) Meninggal.Hasiluji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADA hubungan yang bermakna antaraYang Tidak Batuk Kering dengan Status Outcome Pasien(p-value=0.999).
Hubungan Komorbid terhadap Outcome Pasien dari 151 pasien denganKomorbid Tidak Pneumonia memiliki 2 orang (1,2%) yang Pulang / Sembuh,sedangkan respondem 350 Pasien dengan Komorbid Pneumonia ada 164 orang(98,8%) yang Pulang / Sembuh. Hasil uji statistik menunjukkan bahwaTIDAK ADA hubungan yang bermakna antara Komorbid dengan status Outcomepasien (p-value = 0,494). Dari data diatas terlihat bahwa dari 222Pasien dengan Komorbid Tidak Hipertensi ada 89 orang (53,6%) yang Pulang/ Sembuh, sedangkan dari 131 Pasien dengan Komorbid Hipertensi ada 77orang (46,4%) yang Pulang / Sembuh. Hasil uji statistik menunjukkanbahwa ADA hubungan yang bermakna antara Komorbid Hipertensi denganstatus Outcome Pasien (p-value = 0,001). Dari data diatas terlihatbahwa dari 236 Pasien dengan Komorbid Tidak Diabetes Melitus ada126orang (75.9%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 236 Pasien denganKomorbid Tidak Diabetes Melitus ada 110 orang 58.8(%) yang Meninggal.Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antaraKomorbid Diabetes dengan status Outcome Pasien (p-value = 0,001). Daridata diatas terlihat bahwa dari117 Pasien dengan Komorbid DiabetesMelitus ada 40 orang (24.1%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari117Pasien dengan Komorbid Diabetes Melitus ada77 orang (41.2%)yangMeninggal. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yangbermakna antara Komorbid Diabetes dengan Status Outcome Pasien (p-value= 0,001). Dari data diatas terlihat bahwa dari 317 Pasien denganKomorbid Tidak Stroke ada 158 orang (95.2%) yang Pulang / Sembuh,sedangkan dari 317 Pasien dengan Komorbid Stroke ada 159 orang (85.0 %)yangMeninggal . Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yangbermakna antara Komorbid Stroke dengan Status Outcome Pasien (p-value =0,000). Dari data diatas terlihat bahwa dari36 Pasien dengan KomorbidStroke ada 8 orang 4.8%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 36 Pasiendengan Komorbid Stroke ada 28 orang (15%) yangMeninggal . Hasil ujistatistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antara Komorbid Stroke dengan Status Outcome Pasien (p-value = 0,001).
Data terlihat dengan Komorbid TBC memiliki 73 orang (%) 22 orangyang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 73 Pasien dengan Komorbid TBCterdapat 51orang 27.3 (%) yang Meninggal . Hasil uji statistikmenunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antara Komorbid TBC denganStatus Outcome Pasien (p-value = 0,002). Dari data diatas terlihatpasien dengan Komorbid Ginjal ada 64 orang (0.6 %)1orang yang Pulang /Sembuh, sedangkan dari 64 Pasien dengan Komorbid TBC ada 2orang 27.3(1,1%) yangMeninggal . Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADAhubungan yang bermakna antara Komorbid Ginjal dengan Status OutcomePasien (p-value = 0,589). Dari data diatas terlihat bahwa dariPasiendengan Komorbid Tidak Sakit Hati ada 350orang 99.2 (%)165 orang yangPulang / Sembuh, sedangkan dari 185 Pasien dengan Komorbid TIDAK SAKITHATI ada 350 orang (1,1%) 185 yang Meninggal .
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADA hubungan yangbermakna antara Komorbid Tidak Sakit Hati dengan Status Outcome Pasien(p-value =1,000). Dari data diatas terlihat pasien dengan Komorbid JANTUNG ada orang 115 orang (32.6%) 52 orang yang Pulang / Sembuh,sedangkan dari 115 Pasien dengan Komorbid SAKIT JANTUNG ada 115 orang(33.75%) 63 orang yang Meninggal . Hasil uji statistik menunjukkanbahwa TIDAK ADA hubungan yang bermakna antara Komorbid Tidak SakitJANTUNG dengan Status Outcome Pasien (p-value =0,636). Dari data diatasterlihat bahwa dariPasien dengan Komorbid Gastritis ada orang 156orang (44,2%)68 orang yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 156 Pasiendengan Komorbid SAKIT Gastritis ada 88 orang (47.1%) yang Meninggal.
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADA hubungan yangbermakna antara Komorbid Tidak Sakit Gastrits dengan Status OutcomePasien (p-value =0,250). Dari data diatas terlihat bahwa dariPasiendengan Pengguna Ventilator ada orang 165 orang (47.8%)18 orang(10,8%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 165 Pasien denganmenggunakan VENTILATOR 147 orang (78.6%) yang Meninggal . Hasil ujistatistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antaramenggunakan Ventilaor Tidak Sakit Gastrits dengan Status Outcome Pasien(p-value =0,000). Dari data diatas terlihat bahwa pasien dengan PenggunaOxygen Inhalasi ada orang 236 orang (66,9%) 97 orang (58.4%) yangPulang / Sembuh, sedangkan dari 236 Pasien dengan menggunakan OxygenInhalasi 139 orang (74.3%)yang Meninggal. Hasil uji statistikmenunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antara menggunakan OxygenInhalasi dengan Status Outcome Pasien (p-value =0,002).
Karakteristik Pemeriksaan terhadap Outcome Pasien
Dari data diatas diperoleh 319 pasien dengan pemeriksaan Rapid Testada 145 orang (87,3%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 319 Pasiendengan pemeriksaan Rapid Test ada 174 orang (93.0 %) yang Meninggal . Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADA hubungan yang bermaknaantara pemeriksaan Rapid dengan Status Outcome Pasien (p-value = 0,070).Dari 34 pasien dengan TIDAK Pemeriksaan Rapid Test ada 21 orang (12,7%)yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 34 Pasien dengan TIDAK PemeriksaanRapid Test ada 13 orang (7.0 %) yang Meninggal. Hasil uji statistikmenunjukkan bahwa TIDAK ADA hubungan yang bermakna antara PemeriksaanRapid dengan Status Outcome Pasien (p-value = 0,070). Dari 297 Pasiendengan Pemeriksaan SWAB TEST ada 151 orang (91,0%) yang pulang/ sembuh,sedangkan dari 56 pasien dengan Pemeriksaan SWAB Test ada 146 orang(78,1%) yang Meninggal. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ADAhubungan yang bermakna antara Pemeriksaan SWAB dengan Status OutcomePasien (p-value = 0,000). Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa :Jikapasien DENGAN melakukan UJI SWB DAN BISA Pulang / Sembuh di karenakondisi pasien pada saat di swab dalam keadaan BAIK dan tidakmenunjukkan gejala-gejala Covid-19. JIKA penelitian diatas menunjukanbahwa :Jika pasien DENGAN melakukan UJI Swab dan MENINGGAL di karenakankondisi pasien pada saat di swab dalam keadaan sudah ADA VRUSCovid-19 didalam Nasoparing dan Laringnya dan menunjukkan gejala-gejala Covid-19dan dalam kondsi yang parah dan diikuti adanya komorbid sehingga perludi lakukan tindakan lanjutan dalam penanganan penyulitan sampai dinyatakn GAGAL NAFAS DAN TERHENTI DETAK JANTUNG DAN DI NYATAKAN MENINGGALOLEH dokter. Dari 56 Pasien dengan PemeriksaanTIDAK SWAB TEST ada 15orang (9,0%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 56 Pasien denganPemeriksaan SWAB Test ada 41orang (21.9%) yang Meninggal . Hasil ujistatistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antaraPemeriksaan SWAB dengan Status Outcome Pasien (p-value = 0,000). Denganhasil penelitian diatas menunjukan bahwa :Jika pasien DENGAN TIDAKmelakukan UJI SWB DAN BISA Pulang / Sembuh di karena kondisi pasien padasaat di swab dalam keadaan BAIK dan tidak menunjukkan gejala-gejalaCovid-19. Dengan hasil penelitian diatas menunjukan bahwa :Jika pasienDENGAN TIDAK melakukan UJI SWAB DAN MENINGGAL karena kondisi pasienpada saat datang dalam keadann tidak sadar diri dan lama perawatan hanyaSATU HARI di ruang perawatan , mengalami perburukan dan menyebakankematian.
Dari data diatas terlihat bahwa dari 24 Pasien dengan TIDAK Pemeriksaan RONGET ada 11 orang (6,6%) yang Pulang / Sembuh, sedangkandari 24 Pasien dengan TIDAK Pemeriksaan RONGET ada 13 orang (7.6%)meninggal . Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADA hubunganyang bermakna antara Pemeriksaan Swab dengan Status Outcome Pasien(p-value = 0,904). Dari data diatas terlihat bahwa dari 329 Pasiendengan Pemeriksaan RONGET ada 155 orang (93,4%) yang Pulang / Sembuh,sedangkan dari 329 Pasien dengan Pemeriksaan RONGET ada 174 orang(93,4%) meninggal . Hasil uji statistik menunjukkan bahwa TIDAK ADAhubungan yang bermakna antara Pemeriksaan Swab dengan Status OutcomePasien (p-value = 0,904).
Dari data diatas terlihat bahwa 77 Pasien dengan Pemeriksaan LAB CRP22 orang (13.3%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 77 Pasien denganPemeriksaan LAB CRP ada 55 orang (29,4%) MENINGGAL , Hasil uji statistikmenunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antara Pemeriksaan LAB CRPdengan Status Outcome Pasien (p-value = 0,000). Pada pengujian hasildimana melakukan pemeriksaan LAB CRP dan pasien Boleh pulang inimenunjukan bahwa adanya virus dalam pasien tersebut akan tetapi karenaselama perawatan membaik dan tidak menunjukan gejala seperti awal masukrumah sakit sehingga tanda-tanda gejala seperti demam tidak terlihatlagi dan di nytakan sembuh. Sedangkan hasil menunujukan kalau di periksaLab CRP dan pasien meninggal ini menandakan adanya sejumlah Virus dalambadan pasien tersebut dan terlambat di bawa kerumah sakit sehinggaterjadi perburukan dalam masa perawatan dan pengobatan sehingga terjadigagal nafas dan berhenti jantung dan di nyatakan meninggal. atasterlihat bahwa 276 Pasien dengan TIDAK Pemeriksaan LAB CRP184 orang(46,7%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 276 pasien dengan TIDAKPemeriksaan LAB CRP ada 132 orang (70,6 %) MENINGGAL .
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermaknaantara TIDAK Pemeriksaan LAB CRP dengan Status Outcome Pasien (p-value= 0,000). Hasil penelitian menunjukkan pada pasien yang Tidak melakukanpemeriksaan LAB CRP tetapi boleh pulang ini menunjukaan ntidak adatanda-tanda yang mengarah pada penyakit covid19, sedangkan pada hasildimana Tidak melakukan test LAB CRP tetapi paien Meninggal inimenunjukkan adanya Kemungkinan sudah adanya tanda-tanda dari salah satugejala Covid-19 selama beberapa hari dari rumah atau dari faskes laindan di tandai degan adanya Perburukan pada pasien yang berujung padagagal nafas dan berhenti jantung sehingga di yatakan meninggal.
Pelaksanaan Swab
Berdasarkan hasil penelitian dari 353 pasien sampel penelitianterhadap 310 pasien dilakukan test Swab dan sisanya 43 pasien tidakdilakukan test Swab. Kecenderungan dari hasil test Swab I – VIIImenunjukkan trend pengurangan pasien yang terkonfirmasi positif. Hasiltersebut menunjukkan bahwa test Swab menjadi parameter keberhasilandidalam penanganan pasien Covid-19.
Profil Pengobatan terhadap Outcome Pasien diperoleh 162 Pasien denganPengobatan Vitamin C ada 191 orang (54,1%)100 orang (60,2%) yangPulang / Sembuh, sedangkan dari 191 Pasien dengan Pengobatan DenganVitamin C ada 98 orang (48.7%) yangMeninggal. Hasil uji statistikmenunjukkan bahwa TIDAK ADA hubungan yang bermakna antara dengan StatusOutcome Pasien (p-value = 0,029). Dari 162 Pasien dengan PengobatanCurcuma ada 191 orang (54,1%)100 orang (60,2%) yang Pulang / Sembuh,sedangkan dari 191 Pasien dengan Pengobatan Dengan Curcuma ada 98 orang(48.7%) yang Meninggal. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ADAhubungan yang bermakna antara Jenis Kelamin dengan Status Outcome Pasien(p-value = 0,029). Dari 162 Pasien dengan Pengobatan Vitamin C ada 117 orang (33,1%) 59 orang (35,5%) yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 117 Pasien dengan Pengobatan Dengancurcuma C ada 58 orang (31.0 %)yangMeninggal . Hasil uji statistik menunjukkan bahwa Tidak ADAhubungan yang bermakna antara Jenis Kelamin dengan Status Outcome Pasien(p-value = 0,367 ) dengan Outcome Pasien (p-value = 0,000 ).
Timbul Gejala terhadap Outcome Pasien memperlihatkan bahwa ada 166orang pasien Pulang/Sembuh dan mereka mempunyai rata-rata TIMBUL GEJALAsebesar 2,68 hari. Sedangkan 187 orang Meninggal dengan TIMBUL GEJALAyang lebih tinggi yakni rata-rata 3,41 hari. Dari hasil uji statistikdapat kita simpulkan bahwa ADA perbedaan yang bermakna antara rata-rataTimbul GEJALA dari populasi pasien Pulang/ Sembuh dibandingkan denganPasien MENINGGAL (nilai-p = 0.001). Hasil penelitian dengan VariebelTimbul Gejala dengan Outcome dalam hal ini pasien dinyataka SEMBUH/BOLEH PULANG di karena pada saat pasien datang kerumah sakit dalamkondisi yang masih stabil atau dengan gejala: demam, sesak nafas, batukkering dan diare masih dalam tahap AWAL Gejala sehingga pada saat pasiendating atau di rujuk kerumah sakit RUJUKAN Covid-19 dapat lebil awal diberikan perawatan dan penggunaan obat yang tgepat waktu dan dosisnyasehingga keselamatan jiwa dari pasien Covid-19 tertangani dengan baikartinya SEMBUH dan BOLEH PULANG .
LOS terhadap Outcome Pasien ada 166 orang PASIEN PULANG/SEMBUH danmereka mempunyai rata-rata LOS sebesar 11,57 hari. Sedangkan 187 orangMENINGGAL dengan LOS yang lebih rendah yakni rata-rata 7,4 hari. Darihasil uji statistik dapat kita simpulkan bahwa ADA perbedaan yangbermakna antara rata-rata LOS dari populasi PASIEN PULANG/SEMBUHdibandingkan dengan PASIEN MENINGGAL (nilai-p = 0.000).
Pembahasan
Dari 162 Pasien dengan Pengobatan adaorang (33,1%) 59 orang (35,5%)yang Pulang / Sembuh, sedangkan dari 132 Pasien dengan PengobatanDengan Obat Hipertensi ada 54 orang (28,9 %) yang Meninggal . Hasiluji statistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antaradengan Status Obat Hipertensi dengan Outcome Pasien (p-value = 0,000 ).Dari 162 Pasien dengan Pengobatan adaorang (33,1%) 59 orang (35,5%) yangPulang / Sembuh, sedangkan dari 132 Pasien dengan Pengobatan DenganObat Hipertensi ada 54 orang (28,9 %) yang Meninggal. Hasil ujistatistik menunjukkan bahwa ADA hubungan yang bermakna antara denganStatus Obat Hipertensi dengan Outcome Pasien (p-value = 0,000 ).
ADA perbedaan bermakna pada pasien dalam TIMBUL GEJALA denganOUTCOMENYA adalah MENINGGAL dikarenakan pada saat pasien dating ke rumahsakit rujukan atau di Rujuk dari faskesnya ke Rumah sakit Rujukan dalamkondisi dimana gejal-gejal tersebut dalam keadaan diatas normal atausudah dalam kondisi parah yang beberapa hari sebelumnya sudah dirasakan oleh pasien tersebut sehingga pada saat sudah di rs dalamkeadaan tidak sadarkan diri , Sesaknafas yang berat, Diare yang terusmenerus,atau demam yang sdh ada Oleh pihak rumah sakit di tangani denganTINGKAT PENYULITNYA dan jika kondisi parah di masukkan dalam ruanganintensif dan menggunakan alat bantu nafas dan Ventilator selama kondisipasien memerlukan, jika keaddan terjadi PERBURUKAN maka di lakukan tindakan-tindakan pertongan sampai batas tertentu konsis pasien gagalnafas dan berhenti detak jantung dan dinyatakan meninggal.
Adapun hasil uji statisik pada pasien yang di nyatakan SEMBUH /BOLEHPULANG mempunyai makna bahwa setiap pasien Covid-19 setelah mendapatperawatan yang baik dan pengobatan yang maksimal selama beberapa hariperawatan berada dirumah sakit dengan ada atau tidaknya komorbid daripasien tersebut, dapat sembuh dan diizinkan untuk pulang kerumah sertamelakukan Isolasi Mandiri selama 14 hari dilanjut dengan melakukankontrol kembali ke rumah sakit untuk mengecek keadaan pasien tersebutdengan cara pemeriksaan rapid atau swab. Adapun hasil dari uji statisticterhadap pasien yang out comenya adalah MENINGGAL dengan LOS yang diberikan kemungkinan dapat terjadi karena kondisi pasien covid19 tsbdatang ke rumah sakit rujukan dalam kondisi yang sudah parah yang dialami sebelum masuk rs, setelah beberapa sat atau beberapa hari berada dalam penanganganan di rumah sakit mengalami gagal nafas dan berlanjutpada penggunaan alat bantu juga di sertai dalam ruangan intensif tetapitidak dapat tertolong lagi sehingga di nyatakan gagal nafas serta berhenti nafas dan berhenti detak jantung serta di nyatakan meninggal.
Kesimpulan
Gambaran demografi serta karakteristik klinik pasien Covid-19 di RSTarakan Jakarta adalah terlihat pada variable jenis kelamin Laki-lakiSebagian besar responden adalah Laki-laki sebanyak 197 orang (55,8%),Variabel Usia sebagian besar responden adalah usia >60 tahun sebanyak141 orang (39.9 %), Variabel Pekerjaan lainnya sebagian besar sebanyak 275 orang (77.9%), Variabel Tidak Riwayat Kontak sebanyak 333 orang(94.3%), Variabel Timbul Gejala dengan jumlah data (N) sebanyak 353orang mempunyai rata-rata 3,07 ± 4,8 hari, dengan timbul gejala minimal0 hari dan maksimal 30 hari. Untuk CI 95% rata-rata timbul gejala beradapada 2,57 – 3,57 hari. Variabel LOS dengan jumlah data (N) sebanyak 353orang mempunyai rata-rata 9,56 ± 6,6 hari dengan LOS minimal 1 hari danmaksimal 43 hari. Untuk CI 95% rata-rata LOS berada pada 8,67 – 10,05hari.
Profil pengobatan Pasien Covid 19 adalah Pasien yang menggunakanPengobatan Vitamin C sebanyak 191 orang (54,1%), Curcuma 117 orang(33,1%) , Obat Hipertensi 132 orang (37.4%), Obat Batuk 214 orang(60.6%), Obat Ginjal sebanyak 71 orang(20.1%), Kortikosteroid sebanyak102 orang (28.9%), Obat Jantung sebanyak 114 orang(32.3%), Obat DiabetesMelitus sebanyak 118 orang (33.4%), Obat TBC sebanyak 78 orang (22.1%),Obat Lambung sebanyak 187 orang (53.0%), Obat Stroke sebanyak 43orang(12.2%),Pada obat antibiotik di gunakan Azithromycin 500mg sebanyak 285 orang (80.7%), Levofloxacin inf. Sebanyak 88 orang (24.9%) ,Ceftriaxon inj. Sebanyak194 orang(55.0%), Meropenem inj. Sebanyak 74orang(21.0%) ,antibiotik yang di gunakan ada yang berdiri sendiri jugayang di gunakan secara kombinasi dimana tergantung tingkat keparahandari komorbid nya. Pada variable Parasetamol tab 124 orang (35.1%),obat parasetamol digunakan pada pasien covid-19 yang mempunyai gejalapanas , demam dan pusing. Osetamivir tab sebanyak 71 orang (20.1%),digunakan pada pasien covid-19 sebagai anti virus sehingga pengobtanlebih maksimal. Chloroquin HCl sebanyak 111 orang (31.4%), di gunakanuntuk mempermudah obat antivirus dan antibiotiknya menembus pertahanvirus covid-19 dalam darah
Terdapat hubungan bermakna antara Gejala Sesak Nafas, KomorbidHipertensi, Diabetes, Stroke, TBC, Ginjal, Penggunaan Ventilator,penggunaan Oxygen Inhalasi, Pemeriksaan Swab, Pemeriksaan LabPengobatan Vitamin C, Obat Hipertensi, Kortiko Steroid, Obat DiabetesMelitus, Obat TBC, Obat Stroke, Antibiotik Levofloxacin inf., AntibiotikMerepenem inj., Obat Penurun Panas, Obat Antivirus, dengan outcomeklinis Pasien COVID 19,
Saran
Penelitian di lakukan untuk melihat karakteristik pasien Covid-19dengan berbagai variable dan bersifat general tanpa melakukan analisisyang lebih mendalam khususnya terkait dengan pengaruh komorbid terhadapoutcome. Untuk melihat pengaruh variable komorbid dan pengobatan yang diberikan pada pasien Covid-19 perlu dilakukan penelitian lebih lanjutagar terlihat korelasi dari karakteristik, komorbid sertapengobatannya
Daftar Pustaka
- Susilo. A, C. M. (2020). Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. | Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | Vol. 7, No. 1, 45-67.
- Zahrotunnimah (2020). Langkah Taktis Pemerintah Daerah Dalam Pencegahan Penyebaran Virus Corona Covid-19 di Indonesia. Jurnal Sosial & Budaya Syar-i. 247-260.
- Thorik, SH. (2020). Efektivitas Pembatasan Sosial Berskala Besar Di Indonesia Dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19.‘Adalah: Buletin Hukum dan Keadilan, 4(1), 115-120. Retrieved from Adalah: Buletin Hukum dan Keadilan, Vol. 4, No. 1:file:///C:/Users/HP/Downloads/15506-45353-1-PB.pdf
- BNPB. (2020). Update COVID-19 di RI 12 Juni, Positif 36.406, Meninggal 2.048, Sembuh 13.213. Retrieved from Covid19.go.id: https://cCovid19.go.id/p/berita/update-covid-19-di-ri-12-juni-positif-36406-meninggal-2048-sembuh-13213
- Wu, et al (2020). Wabah COVID-19. Jurnal Asosiasi Medis Cina.
- Nur RY. (2020). Kebijakan Pemberlakuan Lockdown Sebagai Antisipasi Penyebaran Corona Virus Covid-19;Jurnal Sosial & Budaya Syar-I, 227-238.
- PDPI. (2020). PNEUMONIA COVID-19 DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
- Safrizal ZAM. (2020). Buku Pedoman Umum Menghadapi Pandemi Covid-19 Bagi Pemerintah Daerah. Jakarta: https://www.kemendagri.go.id/documents/covid19/BUKU_PEDOMAN_COVID-19_KEMENDAGRI.pdf.
- DAP, DR (2010). PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA BAGI PENDERITA BALITA PNEUMONIA. CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY, 136-139.
- WHO. (2020). Pertanyaan dan jawaban terkait Coronavirus. Retrieved from WHO: https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-for-public
- Chaolin HYW. (2020). Clinical features of patients infected with 2019 novelcoronavirus in Wuhan, China. Published online January 24, 1-9.
- WHO. (2020). Tatalaksana klinis infeksi saluran pernapasan akut berat (SARI) suspek penyakit COVID-19. https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/tatalaksana-klinis-suspek-penyakit-covid19.
- Slamet, MD (2013). PEDOMAN UMUM KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI MERS-CoV. Jakarta: KEMKES R I DIRJEN PP DAN PL.
- DEPKES. (2008). PELAYANAN KEFARMASIAN UNTUK PENYAKIT MALARIA. Jakarta: DEPARTEMEN KESEHATAN RI.
- KEMENKES RI. (2009). PEDOMAN PENANGGULANGAN EPISENTER PANDEMI INFLUENZA. Retrieved from KEPMENKESNOMOR 300/MENKES/SK/IV/2009:KEPMENKES_300_2009_Pedoman_Penanggulangan_Episenter_Pandemi_Influenza (3)
- Muhamad, S & Anny, PV. (2007). PERSEDIAAN DAN DISTRIBUSI OBAT ANTI VIRUS KE DAERAH PANDEMIK. uslitbang Sistem dan kebijakan Kesehatan, 80-89.
- KEMENKES RI. (2011). PEDOMAN PELAYANAN KEFARMASIAN UNTUK TERAPI ANTIBIOTIK. Jakarta: file:///C:/Users/HP/Downloads/Pedoman-Pelayanan-Kefarmasian-untuk-terapi-antibiotik%20(2).pdf.
- Ardy, PU (2020). Studi Perancis: Gabungan Klorokuin dan Antibiotik Bisa KurangiDurasi Infeksi Virus Corona. Retrieved from 24/03/2020: https://www.kompas.com/global/read/2020/03/24/170323570/studi-perancis-gabungan-klorokuin-dan-antibiotik-bisa-kurangi-durasi?page=all
- Moh, KA. (2020). Studi: Obat Malaria Hadang COVID-19, Apalagi Kombinasi dengan . Retrieved from Tempo.com: https://tekno.tempo.co/read/1321998/studi-obat-malaria-hadang-covid-19-apalagi-kombinasi-dengan/full&view=ok
- RS Tarakan (2020). Tentang Kami. Retrieved from RStarakan.jakarta.go.id: https://RStarakan.jakarta.go.id/
- Ratnanirmala. (2020). Latar Belakang dan Perkembangan Virus Corona. Retrieved from Kompasiana: kompasiana.com/ratnanirmala/5e7617a3097f3676b41aebf2/latar-belakang-dan-perkembangan-virus-corona
- Badriah (2017). REVIEW PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIVIRUS EKSTRAK TANAMAN TERHADAP PENGHAMBATAN VIRUS INFLUENZA A H5N1 DENGAN METODEIN VITRO. FarmakaSuplemen Volume 14 Nomor 1, 165-174.
- Barmawi. (2018). PERAN AZITHROMYCIN PADA INFEKSI SALURAN NAFAS BAWA. FK-UGM, Yogyakarta, 31-44.
- Ikhsan, M. (2020). Enam Hasil Riset Soal Virus Corona SARS-Cov-2. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200320101711-199-485229/enam-hasil-riset-soal-virus-corona-sars-cov-2.
- Sugiarto, E. (2016). ANALISIS EMOSIONAL, KEBIJAKSANAAN PEMBELIANDANPERHATIAN SETELAH TRANSAKSI TERHADAP PEMBENTUKANDISONANSI KOGNITIF KONSUMEN PEMILIK SEPEDA MOTOR HONDAPADA UD. DIKA JAYA MOTOR LAMONGAN. Jurnal Penelitian Ilmu Manajemen, 34-47.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Dyah Lestari (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









