Inisiasi Pengembangan Metode Asuhan Keperawatan Primer di Ruang Rawat inap Rumah Sakit X Depok
Keywords:
Asuhan keperawatan primer, Inisiasi pengembangan metode, Perubahan perencana Lewin'sAbstract
Background: Nursing care is an indicator in determining the quality of service. The primary nursing care method is a comprehensive professional care, in nursing practice in hospitals the implementation of the primary nursing method is not optimal. Objective: the case report aims to design the implementation of planned changes in the initiation of the development of primary nursing care methods in inpatient rooms. Method: using the Case Report, collecting data through questionnaires, interviews, and observations, then analyzing through the approaches of strengths, weaknesses, opportunities, threats (SWOT) and Fishbone, then formulated a Plan of Action (POA) so that it can be implemented and evaluated Results: Based on the results of data collection it can be obtained that the implementation of the Primary Nursing Care method in the inpatient room is not yet optimal, so that in the planning function there is a guideline for care methods primary nursing which will use the change planning approach to Lewin's three step model theory. Recommendation: Lewin's three step model change planning approach can be used and continued by hospital inpatients with the development of primary nursing care methods
PENDAHULUAN
Pelayanan keperawatan profesional adalah bagian integral dari pelayanan kesehatan yang berdasarkan pada ilmu, serta kiat keperawatan menunjukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit yang tercakup seluruh proses kehidupan manusia (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2019). Untuk memberikan pelayanan keperawatan yang profesional, diperlukan adanya penataan sistem pemberian asuhan keperawatan yang profesional dan komprehensif.
Model praktik keperawatan profesional adalah model untuk meningkatkan standar mutu pelayanan di rumah sakit dengan menerapkan suatu sistem, struktur, proses, nilai yang berlaku. Penerapan MAKP di rumah sakit akan dilakukan apabila terdapat kebijakan pada sisi manajerial sesuai kebutuhan MAKP (Setiawati et al., 2019).
Pelaksanaan manajemen asuhan di keperawatan akan di dukung dengan adanya sistem pengorganisasian asuhan keperawatan melalui metode pemberian dalam asuhan keperawatan sebagai bagian dalam fungsi pengorganisasian (Marquis & Huston, 2010). Untuk itu metode pemberian asuhan dalam keperawatan termasuk bagian dari fungsi pengorganisasian. Metode keperawatan primer merupakan metode dalam pemberian asuhan keperawatan ditujukan pada nilai professional, dengan adaptif dan kompetitif serta model asuhan dalam keperawatan yang efektif yang selalu mempertimbangkan standar kualitas serta patient safety. Perawat harus meningkatkan kualitas kinerjanya dibuktikan dengan hasil penelitian bahwa sikap keselamatan pasien dipengaruhi oleh sasaran keselamatan pasien (Gallleryzki et al., 2021). Di Negara Indonesia, metode asuhan keperawatan primer merupakan salah satu metode pengembangan praktik keperawatan profesional (MPKP) yang mulai diperkenalkan oleh ibu Ratna Sitorus pada tahun 1997. Metode ini memiliki empat unsur yang menjadi karakteristik model, ialah jumlah tenaga, jenis tenaga, standar asuhan keperawatan, dan metode modifikasi keperawatan primer, perawat primer bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan.
Implementasi asuhan dalam keperawatan primer pada ruangan-ruangan yang perawatan jangka pendek dapat mencapai tujuan yang diharapkan melalui kontak yang sering dan lama, meningkatkan komunikasi antar perawat, pasien serta keluarga, pasien akan menilai saat dirawat melalui pendekatan holistik, selalu terlibat dalam pengambilan keputusan selama mereka dirawat di rumah sakit, meningkatkan pengalaman pasien selama dirawat sehingga pasien mengetahui apa yang harus dilakukannya setelah di rumah (Baynton, 2015).
Dengan demikian maka perlu dilakukan Inisiasi Pengembangan Metode Asuhan Keperawatan Primer di Rumah Sakit.
METODE
Adapun metode yang akan digunakan adalah Case Report dengan pendekatan metode perubahan berencana, yaitu teori Lewin’s three step model. melakukan analisis masalah dengan pengumpulan data dan terdapat tahapan seperti wawancara dan observasi serta kuesioner. kemudian dilakukan analisis melalui pendekatan strength, weakness, opportunity, threats (SWOT) dan Fishbone, selanjutkan akan dirumuskan Plan of Action (POA) sehingga dapat dilakukan implementasi dan evaluasi.
HASIL
Berdasarkan Survei kuesioner di 5 ruangan perawatan inap pada rumah sakit X, terdapat 51 responden. dari hasil tersebut kriteria untuk menjadi seorang perawat primer untuk tingkat pendidikan mayoritas S1 Ners. Berikut tabel terkait karakteristik petugas ruang rawat inap rumah sakit X:
| Variabel | Jumlah (n=51) | Persentase (100%) |
|---|---|---|
| Jenis Kelamin | ||
| Laki-laki | 4 | 7 |
| Perempuan | 47 | 93 |
| Tingkat Pendidikan | ||
| DIII Keperawatan | 2 | 4 |
| S1 Keperawatan – Ners | 48 | 94 |
| S2 Keperawatan/Spesialis | 1 | 2 |
| Jabatan | ||
| AN | 38 | 74 |
| PN | 7 | 14 |
| HN | 5 | 10 |
| CCM | 1 | 2 |
Analysis selanjutnya adalah pendekatan SWOT yang isi menggunakan setiap fungsi keperawatan, bila dilihat dari fungsi perencanaan merupakan belum adaanya panduan metode asuhan keperawatan primer.
Figure 1. Analisa SWOT
Berdasarkan data tersebut diatas, maka dapat di analisis masalah dengan menggunakan Fishbone yang menggunakan pendekatan POSAC yaitu Planning, Organizing, Staffing, Actuating serta Controlling. Analisis sebab akibat yang akan digunakan adalah diagram fishbone menunjukkan dimana belum optimalnya pelaksanaan metode asuhan pada keperawatan primer Seperti tergambar dalam diagram dibawah ini:
Figure 2. Analisa Fishbone
PEMBAHASAN
Rumah Sakit merupakan, suatu lembaga pelayanan kesehatan dimana dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi individual secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, gawat darurat (Undang-Undang No.44 thn 2009 tentang Rumah Sakit). Fasilitas di layanan kesehatan memiliki tugas utama dalam pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas serta aman bagi masyarakat. Perawat telah memberikan kontribusi sangat besar terhadap keberhasilan pemberian pelayanan kesehatan paripurna kepada pasien.
Manajemen Asuhan dalam Keperawatan menekankan pada penggunaan proses keperawatan. Manajemen asuhan keperawatan juga berfokus pada pelayanan keperawatan Patient Centered Care dengan memperhatikan kode etik dan juga standar praktik keperawatan (Haryati, 2019). Manajemen tersebut dibagi dalam 2 hal, manajemen sistem asuhan dalam keperawatan dan manajemen sistem pelayanan keperawatan. Kedua hal tersebut wajib diimplementasikan oleh pimpinan keperawatan dengan optimal sehingga dapat meningkatkan dan menjamin mutu kualitas asuhan serta keselamatan pasien di Rumah Sakit. Pimpinan keperawatan harus mampu mengaplikasikan lima fungsi manajemen, yang terdiri dari Planning, Organizing, Staffing, Actuating, Controlling (Marquis & Huston,2017) dan peran Interpersonal, Informational, Decisional (Weiss, 2019).
Metode penugasan dalam asuhan keperawatan, merupakan suatu sistem yang meliputi struktur, proses serta nilai-nilai professional, dimana perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk pengelolaan lingkungan, untuk memastikan pemberian perawatan yang efektif (Hoffart & Woods, 1996).
Keperawatan primer yaitu suatu pendekatan dalam memberikan asuhan keperawatan secara kontinu dan berkelanjutan antara seorang pasien dan seorang perawat yang ditetapkan. Perawat memiliki tanggung jawab dalam perencanaan, pelaksanaan, dan koordinasi asuhan keperawatan pasien selama periode perawatan (Gillies, 1989).
Primary nurse adalah perawat yang memiliki tugas menyeluruh, mengkoordinasikan secara berkelanjutan untuk pelayanan pasien individu, dilakukan oleh perawat profesional yang memiliki otonomi, tanggung jawab dan kemandirian selama perawatan pasien selama 24 jam (Primary Nurse Convention 1977 dalam Campbell, 1985).
Primary Nurse yaitu metode penugasan bagi satu orang perawat diberikan tugas dan tanggung jawab penuh selama dua puluh empat jam terhadap layanan asuhan keperawatan pasien, dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit (Gillies, 1989). Sistem ini menggunakan satu orang perawat primer bekerja selama dua puluh empat jam serta bertanggung jawab untuk planning perawatan 5-6 pasien. Selama bertugas jika perawat tersebut berhalangan dan tidak bertugas maka perawatan pasien dilanjutkan oleh perawat pelaksana sesuai dengan planning yang telah dibuat oleh perawat primer (Marquiz & Huston, 2000).
Perawat primer “Primary Nurse” merupakan perawat yang akan bertanggung jawab terhadap pemberian asuhan keperawatan (Sitorus, 2006). Perawat akan melakukan pengkajian secara komprehensif, merencanakan asuhan keperawatan. Perawat primer bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan pasien serta menginformasikan keadaan pasien kepada kepala ruangan, dokter, staf keperawatan (Sitorus, 2006).
Interprofessional Collaborative Practice (ICP) atau Kolaborasi interprofesional adalah kerjasama antara perawat dan tenaga kesehatan lainya dalam melakukan kolaborasi, komunikasi yang terkoordinasi dalam pengambilan keputusan terkait masalah kesehatan dengan tujuan agar memastikan pemberian perawatan yang handal dan berkelanjutan (WHO, 2010).
Interprofessional Collaborative Practice menekankan adanya kolaborasi interprofesi, dengan harapan dapat menurunkan kejadian komplikasi, lama perawatan pasien di rumah sakit, meminimalkan ketegangan dan konflik diantara tim kesehatan, menurunkan tingkat kematian, mengurangi biaya perawatan dan durasi pengobatan, serta dapat meningkatkan kepuasan pasien dan tim kesehatan. Integrated Clinical Pathway (ICPy) merupakan instrumen yang dipakai untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan mencegah adanya variasi pelayanan yang tidak perlu. Pengembangan serta penerapan Integrated Clinical Pathway sangat diperlukan.
Pelaksanaan manajemen pelayanan pada keperawatan di dukung oleh pengelolaan asuhan keperawatan melalui metode pemberian pelayanan asuhan keperawatan sebagai bagian dari fungsi pengelolaan (Marquis & Huston, 2010). Dengan demikian metode tersebut merupakan bagian dari fungsi pengorganisasian.
Kepala ruangan merupakan manajer asuhan dan pelayanan keperawatan memiliki peranan penting dalam penanganan komplain. Pelaksanaan pengelolaan komplain kepala ruangan tidak terlepas dari kemampuannya dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai manajer secara efektif. Fungsi manajemen dalam keperawatan yang meliputi Planning, Organizing, Staffing, Actuating, Controlling sangat penting. Berikut penjelasan mengenai peran, fungsi kepala ruangan dalam pengelolaan asuhan dalam keperawatan:
Peran Kepala Ruangan dalam pengelolaan asuhan keperawatan:
- Peran Interpersonal
Kepala Ruangan, orang yang paling berperan sebagai manajer operasional yang menghubungkan antara atasan dan bawah serta menjadi representasi instansi dan jabatan, menyelesaikan konflik antara karyawan, pasien, dan administrasi, bertanggung jawab untuk menyediakan pembelajaran berkelanjutan dan peningkatan keterampilan staf, berbagi pengalaman dan keahlian mereka dengan staf lainnya, menghargai hasil kerja staff dan memberikan hukuman untuk pembelajaran.
- Peran informasional
Kepala ruangan berperan sebagai penyampai informasi baik dari atas maupun dari bawah, melakukan monitor aktifitas dan layanan di unit kerja serta berbagi informasi kepada pasien, perawat dan pihak lain.
- Peran sebagai pengambil keputusan
Kepala ruangan membuat kebijakan-kebijakan dan menggerakan staf keperawatan untuk mencapai tujuan, melakukan penilaian kinerja resmi , mengalokasikan sumber daya di ruangannya dengan bijak, mengatur ketenagaan mengatur ketenagaan diruangannya , melakukan rekrutmen dan pemecatan atau pengurangan terhadap stafnya dengan cara yang adil berdasarkan penilaian kinerja, membuat rencana untuk kemajuan atau pengembangan dirinya dan unit kerjanya, menganalisa dan membuat membuat rancang ulang terhadap unit kerjanya untuk meningkatkan efisiensi biaya.
Fungsi kepala ruangan dalam pengelolaan asuhan keperawatan
- Perencanaan
Menurut Robin & Judge (2017) kepala ruangan berperan sebagai pembuat tujuan, menetapkan strategi, mengembangkan rencana untuk mengkordinasikan kegiatan. Sedangkan Marquis & Huston (2017), menjelaskan perencanaan merupakan pendekatan untuk membuat strategi. Perencanaan berorientasi pada masa kini dan masa mendatang, aktifitas perencanaan meliputi membuat, menulis dan melakukan kaji ulang filosofi unit, tujuan umum dan khusus, kebijakan, prosedur dan aturan unit.
- Pengorganisasian
Robin & Judge (2017) menjelaskan kepala ruangan menentukan tugas yang harus dilakukan, siapa yang melakukan, bagaimana tugas dikelompokkan, siapa yang akan melaporkan kesiapa serta dimana keputusan dilaksanakan. Kepala Ruangan membuat, mengatur jadwal dinas perawat sesuai kebutuhan, sesuai ketentuan yang berlaku. Kepala Ruangan melakukan koordinasi kegiatan yang ada dengan cara bekerja sama dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pelayanan pelayanan. Setiap hari mengadakan pre dan post conference, selain itu membuat jadwal pertemuan berkala dengan pelaksana perawatan yang berada jajarannya. Kepala ruangan saling berkoordinasi baik sesama kepala ruang lain, kepala bidang, kepala bagian, kepala instalasi serta kepala unit di lingkungan rumah sakit. Kepala ruangan menciptakan, memelihara suasana kerja yang baik dan kondusif antara petugas, pasien dan keluarganya, sehingga memberikan ketenangan.
- Ketenagaan
Kepala Ruangan terlibat dalam perekrutan, wawancara, dan pemilihan pegawai (Marquis & Huston, 2017). Rencana analisis kebutuhan tenaga perawat setiap shif, dalam pemberian asuhan keperawatan dilakukan oleh kepala ruangan, selain itu Kepala ruangan bertanggung jawab melakukan penjadwalan, pengembangan perawat, sosialisasi, pengadaan pelatihan untuk stafnya. Kepala ruangan meningkatkan kompetensi perawat dalam pemberian asuhan keperawatan melalui zoominar, workshop, pelatihan atau lokakarya, dan sebagainya.
- Pengarahan
Marquis & Huston, (2017) menjelaskan kepala ruangan mampu memberikan suasana yang selalu memotivasi, membina komunikasi dalam organisasi, menangani konflik, memfasilitasi kerjasama, negoasiasi, membangun lingkungan yang kondusif, memberikan pembinaan, dukungan dan bimbingan. Kepala ruangan memberikan program orientasi kepada tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan agar dalam memberikan pelayanan sesuai dengan standar.
- Pengendalian
Kepala ruangan melakukan pengawasan untuk memastikan capaian sesuai perencanaan dan memperbaiki penyimpangan (Robin & Judge, 2017). Evaluasi filosofi, misi, dan tujuan organisasi, serta menetapkan standar kinerja, memantau biaya, dan mengawasi penggunaan sumber daya dilakukan oleh kepala ruangan sehingga dapat mengendalikan mutu pelayanan. Membuat standar asuhan yang dapat diukur serta mudah dipahami dan menentukan metode evaluasi yang tepat (Marquis & Huston, (2017). Membuat laporan harian dan bulanan, mengenai pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan, serta kegiatan lain di pelayanan. Kepala ruangan melakukan pengawasan dan mengevaluasi Implementasi asuhan keperawatanyang telah ditetapkan, serta melakukan penilaian terhadap upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan di keperawatan. Kepala ruangan memonitor dan mengendalikan pengoperasian peralatan keperawatan serta obat obatan secara efektif dan efisien, selain itu mengawasi pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan asuhan keperawatan serta mencatat kegiatan lain di ruang rawat. Kepala ruangan melaksanakan audit dokumentasi proses keperawatan bulanan, melakukan surveykepuasan klien setiap kali pulang, melakukan survey kepuasan perawat tiap enam bulan. Serta melakukan survey kepuasan tenaga kesehatan lain, dan perhitungan lama hari rawat klien. Kepala ruangan melakukan perbaikan mutu dengan memperhitungkan standar yang di tetapkan
Survei dengan kuisioner ke perawat di ruang rawat memperlihatkan perawat memiliki persepsi yang sangat positif terhadap kompetensi, sikap dan praktek implementasi interkolaborasi professional dalam asuhan keperawatan ke pasien. Sehingga, untuk meningkatkan peran perawat dalam melaksanakan metode asuhan keperawatan primer.
Permasalahan yang ditemukan didapatkan dari wawancara, observasi yaitu belum optimal pelaksanaan metode asuhan keperawatan primer dan belum adanya panduan metode tersebut.
Sesuai dengan analisis yang dilakukan, dapat diperoleh masalah sumber masalahnya terletak pada fungsi perencanaan. Adapun analisa masalah sebagai berikut:
- Ketidaktersediaan pedoman dan Standar Prosedur Operasional, Walter et al (2016) dalam Warashati dkk (2020), mengatakan bahwa Perawat menekankan pentingnya pembuatan standar prosedur operasional, sebagai suatu regulasi di rumah sakit karena dapat berkontribusi pada pengurangan masalah dalam perawatan pasien dan menempatkan fokus pada peningkatan kualitas asuhan keperawatan. Hal ini didukung oleh penelitian Ashoor 2013, menjelaskan bahwa saat bekerja seorang perawat dituntut untuk mengikuti langkah-langkah sesuai dengan yang tertulis dalam regulasi dan standar prosedur operasional yang telah ditetapkan, tujuan menjaga konsistensi kinerja dibutuhkan, serta kepatuhan ketat terhadap standar prosedur operasional dan analisis data terpusat menghasilkan reproduktivitas yang lebih tinggi.
- Belum optimalnya pelaksanaan metode asuhan dalam keperawatan primer di perawatan.
Fungsi Pengelolaan asuhan dalam keperawatan primer (POSAC)
| Primary Nurse (PN), Associate Nurse (AN) | Clinical Care Manager (CCM) | Head nurse (HN), NIC |
|---|---|---|
| Merencanakan asuhan keperawatan sesuai hasil asesmen (luaran: renpra) | Merencanakan asuhan keperawatan lanjut sesuai hasil asesmen yang dirujuk oleh PN | Memastikan renpra lengkap dan sesuai |
| Memimpin dan mengkoordinir ICP pelaksanaan asuhan keperawatan sesuai renpra |
Memimpin dan mengkoordinir pelaksanaan asuhan keperawatan lanjut sesuai renpra dan ICP |
Memastikan koordinasi dan komunikasi pelaksanaan ICP sesuai dengan SPO |
| Menentukan kebutuhan asuhan sesuai tingkat ketergantungan pasien/ EWS | Menentukan kebutuhan asuhan keperawatan lanjut sesuai tingkat ketergantungan pasien/ EWS | Memastikan ketenagaan yang dibutuhkan dalam pengelolaan asuhan |
| Memenuhi indikator mutu asuhan keperawatan sensitif* | Memenuhi indikator mutu asuhan keperawatan sensitif | Memenuhi indikator mutu asuhan keperawatan sensitif* |
KESIMPULAN
Fungsi manajer keperawatan dalam asuhan keperawatan adalah bentuk metode asuhan keperawatan primer di pelayanan rawat inap. optimalisasi pelaksanaan Berdasarkan analisis fishbone dengan pengelompokan dari POSAC, ada sebagian masalah yang terjadi pada fungsi kepala ruangan yang meliputi, belum adanya prosedur metode asuhan keperawatan primer di pelayanan rawat inap. Untuk dapat meningkatkan hal tersebut perlu optimalisasi fungsi kepala ruangan sebagai pemimpin dalam pelayanan dan manajer asuhan keperawatan.
Berdasarkan analisis masalah dan pembahasan yang telah diuraikan diatas maka terdapat rekomendasi yang diberikan untuk mengatasi masalah tentang rencana tindak lanjut draft panduan yaitu inisisasi pengembangan metode asuhan keperawatan primer, antara lain:
- Menganjurkan dilakukannya penyusunan panduan serta Standar Prosedur Operasional metode asuhan keperawatan primer.
- Menganjurkan dilakukannya sosialisasi Panduan serta Standar Prosedur Operasional metode asuhan keperawatan primer.
- Menganjurkan adanya monitoring dan evaluasi terhadap metode asuhan keperawatan primer.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, 2013. Hubungan Beban Kerja Dan Motivasi Kerja Dengan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Pada Perawat Pelaksana Di Ruang Rawat Inap Rsud Dr Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016. Tesis
Dawn, W., & Janice, P. (2022). Organizational factors that promote error reporting in healthcare: A scoping review. Journal of Healthcare Management, 67(4), 283-301. doi:https://doi.org/10.1097/JHM-D-21-00166
Fuseini, A. G., Bayi, R., Alhassan, A., & Atomlana, J. A. (2022). Satisfaction with the quality of nursing care among older adults during acute hospitalization in Ghana. Nursing Open, 9(2), 1286–1293. https://doi.org/10.1002/nop2.1169
Haryati, Rr Tutik. (2014). Manajemen resiko bagi manajer keperawatan dalam meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Depok.
Hariyati, R. T. S., Fujinami, Y., & Susilaningsih, F. J. I. J. o. C. S. (2017). Correlation between career ladder, continuing professional development and nurse satisfaction: A case study in Indonesia. 10(3), 1490-1497.
Hartono, B., Jakri, J., & Sari, K. J. J. K. G. (2019). Coaching Dan Kinerja Perawat (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). 4(1), 1-11.
Huang, Y., Zhu, P., Chen, L., Wang, X., & Valentijn, P. (2020). Validation Of The Care Providers Version Of The Rainbow Model Of Integrated Care-Measurement Tool In Chinese Primary Care Systems. Bmc Health Services Research, 20(1), 1–11. Https://Doi.Org/10.1186/S12913-020-05562-2
Huber, D. (2017). Leadership and nursing care management-e-book: Elsevier Health Sciences.
Hulu, V. T., & Sinaga, T. R. (2019). Analisis Data Statistik Parametrik Aplikasi SPSS dan Statcal: Sebuah Pengantar Untuk Kesehatan: Yayasan Kita Menulis.
Ismael, S. J. C. S. S. J. (2014). Sastroasmoro S. Dasar-dasar metodologi Penelitian Klinis; Edisi ke-5.
Isnainy, U. C. A. S., & Nugraha, A. J. H. J. K. (2018). Pengaruh Reward Dan Kepuasan Kerja Terhadap Motivasi Dan Kinerja Perawat. 12(4), 235-243.
Jeong, S. Y., & Kim, K. M. (2016). Influencing Factors On Hand Hygiene Behavior Of Nursing Students Based On Theory Of Planned Behavior: A Descriptive Survey Study. Nurse Education Today, 36, 159–164. Https://Doi.Org/10.1016/J.Nedt.2015.09.014
Kabir, S. M. S. J. C. B. Z. P.-t. (2016). Basic Guidelines for Research.
Kamil, H., Rachmah, R., & Wardani, E. (2018). What Is The Problem With Nursing Documentation? Perspective Of Indonesian. International Journal Of Africa Nursing Sciences. 111-114
Kannampallil, T. G., Goss, C. W., Evanoff, B. A., Strickland, J. R., McAlister, R. P., & Duncan, J. J. P. o. (2020). Exposure to COVID-19 patients increases physician trainee stress and burnout. 15(8), e0237301.
Kavoura, A., Kefallonitis, E., Theodoridis, P. J. S. P. i. B., & Economics, s. a. h. d. o.-.-.-.-. (2019). Strategic innovative marketing and tourism.
Kavoura, A., Sakas, D. P., & Tomaras, P. (2017). Strategic innovative marketing: Springer.
Kelly, L. A., Gee, P. M., & Butler, R. J. J. N. o. (2020). Impact of nurse burnout on organizational and position turnover.
Kim, Y.-J., Lee, S.-Y., & Cho, J.-H. J. S. (2020). A study on the job retention intention of nurses based on social support in the COVID-19 situation. 12(18), 7276.
Labrague, L. J., & de Los Santos, J. A. A. J. J. o. n. m. (2020). Fear of Covid?19, psychological distress, work satisfaction and turnover intention among frontline nurses.
Lageson, C. J. J. o. n. c. q. (2004). Quality focus of the first line nurse manager and relationship to unit outcomes. 19(4), 336-342.
Latifa, R. J. M. A. B. (2020). Relationship Coaching Sautu Pendek
Lee, C., & Hur, Y. (2019). Service quality and complaint management influence fan satisfaction and team identification. Social Behavior and Personality: An international journal, 47(2), e7566
Marquis, B. L., & Huston, C. J. (2017). Leadership Roles and Functions in Nursing?: Theory and Application: Ninth Edition. In Wolters Kluwer Health (Issue December).
O’Dowd, E., Lydon, S., Lambe, K., Rudland, C., Hilton, A., & O’Connor, P. (2022). Identifying hot spots for harm and blind spots across the care pathway from patient complaints about general practice. Family Practice, 39(4), 579–585. https://doi.org/10.1093/fampra/cmab109.
Martin, B., Jones, J., Miller, M., & Johnson-Koenke, R. (2020). Health Care Professionals’ Perceptions Of Pay-For-Performance In Practice: A Qualitative Metasynthesis. Inquiry (United States), 57. Https://Doi.Org/10.1177/0046958020917491
Mazurenko, et al., 2019. Examination ot the Relationship Between Management and Clinician Perception of Patient Safety Climate and Patient Satisfaction. Health Care Management Review doi: 10.1097/HMR.0000000000000156, LXIV(1), pp. 79-89.
Niglio de Figueiredo, M., Krippeit, L., Ihorst, G., Sattel, H., Bylund, C. L., Joos, A., . . . Wuensch, A. J. P. o. (2018). ComOn-Coaching: The effect of a varied number of coaching sessions on transfer into clinical practice following communication skills training in oncology: Results of a randomized controlled trial. 13(10), e0205315.
Nursalam. (2016). Manajemen Keperawatan?: Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional (4th Ed.). Jakarta: Salemba Medika
Nursalam. (2014). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Salemba.
Nursalam, 2016. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktik. Jakarta: Salemba Medika.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor 56 Tahun 2014. Tentang Klasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Polit, D. F., & Beck, C. T. (2018). Study guide for Essentials of nursing research : appraising evidence for nursing practice.
Qian, Y., Hou, Z., Wang, W., Zhang, D., & Yan, F. (2017). Integrated Care Reform In Urban China: A Qualitative Study On Design, Supporting Environment And Implementation. International Journal For Equity In Health, 16(1), 1–13.
Ratna.S. (2011). Manajemen keperawatan : Manajemen keperawatan di ruang rawat. Sagung Seto. Jakarta.
Riyanto, S., & Hatmawan, A. A. (2020). Metode Riset Penelitian Kuantitatif Penelitian Di Bidang Manajemen, Teknik, Pendidikan Dan Eksperimen: Deepublish
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2019). Organizational Behavior, Eighteenth Edition, Global Edition. In Journal of Chemical Information and Modeling (Vol. 53, Issue 9).
Suhariyanto, Achmad Djojo, Raju Kapadia, Yuniar Mansye Soeli, Tutik Sri Haryati, Hanny Handiyani. 2022. Peningkatan Asuhan Terintegrasi Melalui Peran Perawat Penanggung Jawab Asuhan. Jurnal Keperawatan Vol. 14 No 2, Hal 1 – 8
Wayan Sudarta Dkk. Manajemen keperawatan : Teori dan aplikasi praktek keperawatan (cetakan I). Gosyen Publishing. Jakarta.
Yusuf A. Muri. 2019. Metode Penelitian: Kuantitatif, kualitatif, dan Penelitian Gabungan. Jakarta: Prename Día.
Zulkarnain, Z. (2019). Analisis Pelaksanaan Fungsi Manajemen Pengarahan Kepala Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam Menerapakan Asuhan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap RSUD Bima. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan), 1(2). Https://Doi.Org/10.1186/S12939017-0686-8
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Arni Sunarti, Hanny Handiyani, Tuti Afriani, Masfuri Masfuri (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









