Hubungan antara Status Gizi dan Persen Lemak Tubuh dengan Kebugaran Jasmani pada Atlet Bola Basket Universitas Muhammadiyah Surakarta
Keywords:
Kebugaran jasmani, Persen lemak tubuh, Status giziAbstract
Background: Basketball is an intense, rigid sport because it requires a good combination of speed, strength, agility, skill, endurance, and tactics, so it takes a good physical fitness to do the game. Nutritional status and body fat percentage are assessed as an important part to pay attention to for a good physical fitness. Objective: To find out the relationship between nutritional status and body fat percentage and physical fitness of a basketball athlete at Muhammadiyah University of Surakarta. Methods: This type of research is observational with a cross-sectional approach. The sample of this research is a basketball athlete of Muhammadiyah University of Surakarta with a total of 43 samples. Measurement of nutritional status and body fat percentage was done using the Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) omron Hbf 375. Physical fitness measurement using the 12-minute cooper test method. Relationship of nutritional status and body fat percentage to physical fitness using spearman and pearson correlation tests. Results:bivariate analysis using spearman correlation showed that there was a relationship between nutritional status and physical fitness in basketball athletes with a p=0,003 value and a r=-0,442 value which means a negative relationship with the direction of moderation. The bivariate analysis using the Pearson correlation test showed that there was a relationship between body fat percentage and basketball athlete's physical fitness with a p=0,000 value and a r=-0,635 value, which means a negative relationship with the direction of strong correlations. Conclusion: nutritional status and body fat percentage have a negative relationship with the physical fitness of a basketball athlete at the Muhammadiyah University of Surakarta.
Yumna Sayyidah Titis Nastiti1, Firmansyah2
1 yumnatitis19@gmail.com
2 fir790@ums.ac.id
PENDAHULUAN
Performa yang baik menjadi salah satu tuntutan yang harus dipenuhi oleh para atlet. Performa ini salah satunya dipengaruhi oleh kebugaran jasmani. Kebugaran merupakan suatu kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas fisik tanpa adanya kelelahan yang berarti. Bagi seorang atlet, memiliki kebugaran jasmani yang baik menjadi suatu aspek yang dapat memberikan pengaruh positif dalam setiap kegiatannya (Zulaekah, 2018). Bagi seorang atlet bola basket, adanya kombinasi baik antara kecepatan, kekuatan, kelincahan, keterampilan, daya tahan serta taktik menjadikan olahraga bola basket sebagai olahraga yang intens sehingga untuk dapat memiliki kombinasi yang baik, diperlukan pula kebugaran yang baik (Esen, 2022). Atlet bola basket yang memiliki kebugaran jasmani yang baik dapat menunjang keterampilan dalam permainannya.
Selain memiliki tingkat kebugaran yang baik, indicator lain yang perlu dimiliki oleh seorang atlet bola basket adalah derajat kesehatan. Derajat kesehatan dapat digambarkan melalui berat badan ideal. Berat badan ideal pada seorang atlet salah satunya dapat dilihat dari nilai status gizi melalui Indeks Massa Tubuh (IMT). Agar seorang atlet dapat memiliki status gizi yang ideal, lemak tubuh seorang atlet harus berada dalam kategori normal yang berarti tidak berlebih maupun kurang. Seseorang dengan indeks berat badan yang berlebih akan lebih sering merasa kehabisan napas. Hal ini menjadi suatu peringatan bahwa dengan adanya pengaturan makan yang baik menjadi salah satu hal penting yang harus dijalankan untuk dapat menunjang aktivitasnya. Seorang atlet membutuhkan energi yang cukup baik untuk dapat menunjang berbagai aktivitas fisiknya. Kaitannya dengan kebugaran jasmani terletak pada status gizi dan persen lemak sebagai bentuk hasil dari pola makan yang kemudian dapat berpengaruh pada komposisi tubuhnya untuk mendapatkan kebugaran jasmani (Budayati, 2011).
IMT sebagai indikator status gizi seseorang didaparkan dari ketepatan jumlah asupan makan dan kecukupan zat gizi terutama zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak untuk menunjang berbagai aktivitas fisiknya (Kemenkes. 2021). Salah satu perubahan komposisi tubuh yang dapat terjadi akibat kurangnya ketersediaan energi adalah jumlah massa lemak dalam tubuh. Lemak merupakan salah satu zat gizi yang juga dibutuhkan oleh tubuh untuk menghasilkan energi. Namun kelebihan lemak dalam tubuh juga tidak baik bagi tubuh terutama pada atlet, karena hal ini dapat menghambat kebebasan atlet dalam bergerak. Massa lemak yang berlebih pada tubuh dapat menurunkan curah jantung sehingga pompa darah dari jantung ke seluruh tubuh juga berkurang. Hal ini dapat menyebabkan penurunan VO2max pada tubuh atlet karena kurangnya suplai oksigen bagi tubuh (Latifah, 2019)
Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui tingkat kebugaran yang baik pada mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan. Berdasarkan perolehan data penelitian yang dilakukan oleh Budayati (2011) untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani mahasiswa Ikora FIK UNY menggunakan metode Tes Cooper 12 menit menyebutkan bahwa kategori kebugaran jasmani mahasiswa sebanyak 12,72% mahasiswa masuk dalam kategori sangat buruk, 40,00% mahasiswa masuk dalam kategori sedang, 14,54% mahasiswa masuk dalam kategori baik, 12,72% mahasiswa masuk dalam kategori baik sekali. Berdasarkan data tersebut, tingkat kebugaran baik dan sangat baik sekali yang dimiliki mahasiswa Ikora FIK UNY masih tergolong rendah (<30%) sehingga diperlukan adanya peningkatan kebugaran jasmani terutama kepada pelaku olahraga demi meningkatkan performa yang baik. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ekoparman (2015) yang menyebutkan bahwa kebugaran jasmani di Indonesia dikatakan masih sangat rendah
Penelitian yang dilakukan oleh Yusuf (2020) menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dengan kebugaran jasmani. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai status gizi maka kebugaran jasmani akan semakin rendah. Seseorang dengan status gizi yang baik cenderung mempunyai kekuatan otot yang besar, kondisi ini tentunya menjadi hal yang diperulakn dalam berolahraga (Zulaekah, 2018). Seorang atlet bola basket memerlukan kebugaran jasmani yang baik untuk dapat melakukan segala aktivitasnya. Tingginya berat badan pada seorang atlet dapat menjadikan tubuh seorang atlet lebih berat sehingga mudah mengalami kelelahan. Penelitian lain yang dilakukan Yunitasari (2019) menunjukkan terdapat hubungan antara persen lemak tubuh dengan tingkat kebugaaran tubuh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tingginya nilai persen lemak tubuh maka kebugaran jasmani akan semakin rendah. Tingginya persen lemak tubuh pada seseorang dapat menurunkan curah jantung sehingga pompa darah keseluruh tubuh akan berkurang. Hal ini dapat menyebabkan pada penurunan nilai VO2max pada atlet karena konsumsi oksigen oleh otot yang yang sedang berkontraksi akan berkurang sehingga atlet cenderung merasa lebih mudah lelah dan kehabisan napas(Arum, 2014)
Kebugaran jasmani yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kemampuan tubuh atlet bola basket untuk melakukan segala kegiatannya secara efisien tanpa adanya kelelahan berlebih yang ditandai dengan kemampuan tubuh untuk dapat menerima dan mengkonsumsi oksigen melalui tes kebugaran jasmani metode tes cooper 12 menit pada atlet (Budayati, 2011). Tes ini digunakan untuk mencari keterkaitannya dengan status gizi dan persen lemak tubuh pada atlet bola basket Universitas Muhammadiyah Surakarta.
METODE
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Gedung Olahraga Universitas Muhammadiyah Surakarta pada bulan Oktober 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah atlet bola basket Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berjumlah 80 atlet. Sampel yang digunakan adalah atlet bola basket memiliki kondisi fisik yang sehat, dapat berkomunikasi dengan baik dan rutin melakukan latihan bola basket sebanyak 43 atlet yang terdiri dari 29 atlet laki-laki dan 14 atlet perempuan. Teknik yang digunakan untuk mengambil sampel adalah teknik system random sampling.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan menggunakan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoice, pengukuran status gizi dan persen lemak tubuh menggunakan alat karada scan, serta pengukuran kebugaran jasmani menggunakan metode tes cooper 12 menit, dimana prinsip dari metode ini para responden diminta untuk lari selama 12 menit tanpa ditentukan jaraknya (Siti Zulaekah, 2018).
Pengolahan dan Analisis Data
Hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis univariate dan analisis bivariate. Analisis univariate digunakan untuk mendesktipsikan karakteristik variable yang diteliti dan menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase tiap variable yaitu status gizi, persen lemak tubuh dan kebugaran jasmani dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Tabel disajikan berdasarkan masing-masing variable. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistic dengan software SPSS versi 2.6. Analisis bivariate digunakan untuk menguji hubungan antara status gizi dan persen lemak tubuh dengan kebugaran jasmani adalah korelasi pearson untuk data yang berdistribusi normal dan spearman untuk data yang tidak berdistribusi normal dengan skala data adalah rasio. Penelitian telah lulus uji etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan dan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan Nomor 5081/B.1/KEPK-FKUMS/X/2023.
HASIL
| Karakteristik Responden | Jumlah | |
|---|---|---|
| n | % | |
| Jenis Kelamin | ||
| Laki-laki | 29 | 67,44 |
| Perempuan | 14 | 32,56 |
| Total | 43 | 100 |
| Usia | ||
| 16 – 18 tahun | 14 | 32,56 |
| 19 – 29 tahun | 29 | 67,44 |
| Total | 43 | 100 |
| Periode Bergabung | ||
| 1 tahun | 32 | 74,42 |
| 2 tahun | 8 | 18,60 |
| ? 3 tahun | 3 | 6,98 |
| Total | 43 | 100 |
| Status Gizi | ||
| Kurus tingkat berat | 1 | 2,3 |
| Kurus tingkat rendah | 2 | 4,7 |
| Normal | 30 | 69,8 |
| Berat badan berlebih | 3 | 7 |
| Obesitas | 7 | 16,3 |
| Total | 43 | 100 |
| Persen Lemak Tubuh | ||
| Rendah | 3 | 7 |
| Normal | 31 | 72,1 |
| Tinggi | 6 | 14 |
| Sangat Tinggi | 3 | 7 |
| Total | 43 | 100 |
| Kebugaran Jasmani (m) | ||
| Sangat Buruk | 16 | 37,2 |
| Buruk | 10 | 23,3 |
| Sedang | 14 | 32,6 |
| Baik | 1 | 2,3 |
| Baik Sekali | 1 | 2,3 |
| Istimewa | 1 | 2,3 |
| Total | 43 | 100 |
Tabel 1 menunjukkan sebaran distribusi frekuensi karakteristik responden. Berdasarkan jenis kelamin responden, jenis kelamin tertinggi yaitu laki-laki sebanyak 67,44% dan distribusi terendah yaitu perempuan sebanyak 32,56%. Kelompok usia distribusi tertinggi yaitu kelompok usia 19 – 29 tahun sebanyak 67,44% dan distribusi terendah yaitu kelompok usia 16 – 18 tahun sebanyak 32,56%. Periode bergabung distribusi tertinggi yaitu responden dengan periode bergabung selama satu tahun sebanyak 74,42% dan distribusi terendah yaitu periode bergabung lebih dari sama dengan tiga tahun sebanyak 6,98%. Status gizi distribusi tertinggi yaitu status gizi normal sebanyak 69,8%, dan distribusi terendah yaitu status gizi kurus tingkat berat sebanyak 2,3%. Persen lemak tubuh distribusi tertinggi yaitu normal sebanyak 72,1%, dan distribusi terendah yaitu persen lemak tubuh rendah dan sangat tinggi sebanyak masing-masing 7%. Kebugaran jasmani distribusi tertinggi yaitu sangat buruk sebanyak 37,2%, dan distribusi terendah yaitu baik, baik sekali dan istimewa sebanyak masing-masing 2,3%.
| Variabel | Sig. | Keterangan |
|---|---|---|
| Status Gizi | 0.001 | Tidak normal |
| Persen Lemak | 0.097 | Normal |
| Kebugaran | 0.099 | Normal |
Tabel 2 menunjukkan uji normalitas yang dilakukan menggunakan uji Saphiro-Wilk didapatkan hasil variable status gizi berdistribusi tidak normal dengan nilai p=0,001, variable persen lemak tubuh berdistribusi normal dengan nilai p=0,097, dan variable kebugaran jasmani berdistribusi normal dengan nilai p=0,099.
| Status Gizi | Kebugaran jasmani | Total | p | r | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Sangat buruk | buruk | Sedang | Baik | Baik sekali | Istimewa | |||||||||||
| n | % | n | % | n | % | n | % | n | % | n | % | n | % | |||
| Kurus tingkat berat | 0 | 0 | 1 | 2,3 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 2,3 | 0,003 | -0,442 |
| Kurus tingkat rendah | 1 | 2,3 | 0 | 0 | 1 | 2,3 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 2 | 4,7 | ||
| Normal | 6 | 14 | 8 | 18,6 | 13 | 30,2 | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 30 | 69,8 | ||
| Berat badan berlebih | 2 | 4,7 | 1 | 2,3 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 3 | 7 | ||
| Obesitas | 7 | 16,3 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 7 | 16,3 | ||
| Total | 16 | 37,2 | 10 | 23,3 | 14 | 32,6 | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 43 | 100 | ||
Tabel 3 menunjukkan atlet dengan kebugaran jasmani baik, baik sekali dan istimewa yaitu atlet dengan status gizi normal yaitu masing-masing hanya 1 atlet (2,3%). Atlet dengan kebugaran jasmani sedang, jumlah yang paling banyak yaitu atlet dengan status gizi normal sebanyak 13 atlet (30,2%). Atlet dengan kebugaran jasmani buruk, jumlah yang paling banyak yaitu dengan status gizi normal sebanyak 8 atlet (18,6%). Sedangkan atlet dengan kebugaran jasmani sangat buruk, jumlah yang paling banyak yaitu atlet dengan status gizi obesitas yaitu 7 atlet (16,3%).
Hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji spearman menunjukkan nilai p= 0,003 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan antara status gizi dengan kebugaran jasmani atlet. Semakin tinggi nilai status gizi maka semakin rendah kebugaran jasmani atlet.
| Persen Lemak | Kebugaran jasmani | Total | p | r | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Sangat buruk | buruk | Sedang | Baik | Baik sekali | Istimewa | |||||||||||
| n | % | n | % | n | % | n | % | n | % | n | % | n | % | |||
| Rendah | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 2,3 | 3 | 7 | 0,000 | -0,635 |
| Normal | 8 | 18,6 | 8 | 18,6 | 13 | 30,2 | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 0 | 0 | 31 | 72,1 | ||
| Tinggi | 4 | 9,3 | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 6 | 14 | ||
| Sangat Tinggi | 3 | 7 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 3 | 7 | ||
| Total | 16 | 37,2 | 10 | 23,3 | 14 | 32,6 | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 1 | 2,3 | 43 | 100 | ||
Tabel 4 menunjukkan atlet dengan persen lemak tubuh normal yaitu masing-masing hanya 1 atlet (2,3%). Atlet dengan kebugaran jasmani istimewa memiliki persen lemak rendah sebanyak 1 atlet (2,3%). Atlet dengan kebugaran jasmani sedang paling banyak memiliki persen lemak tubuh normal yaitu sebanyak 13 atlet (30,2%). Atlet dengan kebugaran jasmani buruk, paling banyak memiliki persen lemak tubuh normal yaitu sebanyak 8 atlet (18,6%). Sedangkan atlet dengan kebugaran jasmani sangat buruk, paling banyak memiliki persen lemak normal, yaitu sebanyak 8 atlet (18,6%).
Hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji pearson menunjukkan nilai p= 0,000 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan antara persen lemak tubuh dengan kebugaran jasmani atlet. Semakin tinggi nilai persen lemak tubuh maka semakin rendah kebugaran jasmani atlet.
PEMBAHASAN
Hubungan Antara Status Gizi dengan Kebugaran Jasmani Atlet Bola Basket
Bola basket merupakan olahraga beregu yang dilakukan dengan tujuan memasukkan bola kedalam keranjang lawan. Dalam mencapai performa terbaik setiap atlet bola basket, maka setiap atlet diharapkan memiliki ketahanan tubuh dan kebugaran jasmani yang baik. Kebugaran jasmani merupakan suatu kegiatan aktivitas fisik yang dilakukan oleh seseorang tanpa adanya kelelahan yang berarti bagi para pelakunya. Zulaekah (2018) menyatakan bahwa status gizi merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi kebugaran jasmani seseorang. Status gizi pada atlet dapat ditentukan salah satunya menggunakan parameter Indeks Massa Tubuh (IMT). Status gizi atlet didapatkan dari ketepatan jumlah asupan makan dan kecukupan zat gizi (Kemenkes. 2021).
Tabel 3 menunjukkan analisis hubungan status gizi dengan kebugaran jasmani pada atlet bola basket Universitas Muhammadiyah Surakarta. Berdasarkan hasil uji statistic menggunakan uji korelasi spearman didapatkan nilai P=0,003 (p value <0,05) maka Ha diterima yang mana terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kebugaran jasmani. Nilai r= -0,442 berarti bahwa terdapat korelasi sedang dengan arah hubungan negative antara status gizi dengan kebugaran jasmani. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi status gizi atlet, maka semakin rendah kebugaran jasmani.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Septin (2015) menyatakan terdapat hubungan signifikan antara status gizi dengan kebugaran jasmani. Penelitian ini juga sejalan dengan Rizqi (2016) menyatakan terdapat hubungan negative antara status gizi dengan tingkat kebugaran jasmani. Muizzah (2013) menyatakan bahwa semakin tinggi nilai IMT seseorang maka akan semakin bertambah denyut nadinya sehingga tingkat kebugaran semakin berkurang akibat adanya kelelahan.
Apabila zat gizi yang dikonsumsi seorang atlet baik dan sesuai dengan kebutuhannya, maka kesehatan dan kebugaran jasmani atlet tersebut berada dalam keadaan maksimal dengan status gizi yang baik. Didalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari terdapat berbagai jenis kandungan zat gizi yang dapat memberikan dampak baik bagi tubuh. Pola makan dan status gizi yang baik sangat menentukan tingkat kebugaran jasmani seorang atlet (Muharram, 2019). Maka dengan ini, hubungan status gizi dengan kebugaran jasmani dapat terjadi karena status gizi diperlukan untuk mempertahankan derajat kesehatan, kebugaran serta menunjang prestasi atlet. Kebugaran jasmani yang baik selain didapatkan dari latihan fisik yang baik, juga diperlukan dari status gizi yang baik (Septin, 2015).
Hubungan Antara Status Gizi dengan Kebugaran Jasmani Atlet Bola Basket
Kebugaran jasmani merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan berbagai aktivitasnya tanpa mengalami keleahan yang berarti. Kebugaran jasmani menjadi suatu kebutuhan yang harus selalu dipenuhi untuk dapat melakukan berbagai kegiatan sehari-hari (Gumantan, 2020). Kebugaran jasmani terutama kepada pada atlet yang membutuhkan kebugaran jasmani lebih baik untuk melaksanakan berbagai aktivitas fisiknya.. Kebugaran jasmani yang kurang dapat dioptimalkan dengan pengaturan gizi yang diatur dan dipelihara dengan baik. Pengetahuan gizi terkait pengaturan makan sangat berguna dalam memberikan pengetahuan mengenai besar porsi dan kebutuhan tubuh atas makanan untuk menjaga kondisi fisik tetap bugar (Kurnia, 2020). Persen lemak tubuh salah satunya dapat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi makanan dan minuman seseorang.
Tabel 4 menunjukkan analisis hubungan persen lemak tubuh dengan kebugaran jasmani pada atlet bola basket Universitas Muhammadiyah Surakarta. Berdasarkan hasil uji statistic menggunakan uji korelasi pearson didapatkan nilai P=0,000 (p value <0,05) maka Ha diterima yang mana terdapat hubungan yang signifikan antara persen lemak tubuh dengan kebugaran jasmani. Nilai r= -0,635 berarti bahwa terdapat korelasi kuat dengan arah hubungan negative antara persen lemak tubuh dengan kebugaran jasmani. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persen lemak tubuh atlet, maka semakin rendah kebugaran jasmani. Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian yang menyatakan bahwa tingginya persen lemak tubuh atlet dapat menghambat gerak aktivitas fisik atlet sehingga atlet tidak dapat melakukan aktivitas fisiknya secara maksimal.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Vania (2018) yang menyatakan ada hubungan antara persen lemak tubuh dengan tingkat kesegaran jasmani, penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Kurnia (2020), yang menyatakan terdapat hubungan antara persen lemak tubuh dengan kebugaran jasmani.
Bagi seorang atlet, lemak tubuh memiliki pengaruh terhadap performa yang akan dihasilkan (Amrinanto, 2016). Tingginya persen lemak tubuh seorang atlet dapat menghambat pergerakan sehingga tubuh menjadi mudah mengalami kelelahan dan kehabisan nafas. Volume oksigen maksimal sebagai salah stau indicator pengukuran kebugaran jasmani dapat dipengaruhi oleh komposisi tubuh. Persen lemak tubuh merupakan salah satu pengukuran komposisi tubuh yang umum digunakan. Tubuh seseorang pada dasarnya tetap memerlukan lemak sebagai simpanan energi apabila berada dalam batas normal. Massa lemak tubuh yang baik dapat memberikan pengaruh yang baik pula terhadap kebugaran jasmani seseorang, terutama daya tahan kardiorespirasi yang merupakan komponen terpenting dalam kebugaran jasmani (Murbawani, 2017).
Pada umumnya lemak tubuh yang berlebih kurang memiliki manfaat yang baik bagi tubuh karena hal ini dapat menyebabkan penurunan kebugaran jasmani akibat dari banyaknya lemak yang tersimpan dalam jaringan adiposa. Namun, apabila persen lemak tubuh seseorang terlalu rendah juga tidak terlalu baik karena hal ini dapat menyebabkan jumlah kerusakan jaringan yang ditimbulkan menjadi lebih besar pada seseorang dengan persen lemak rendah dibandingkan seseorang dengan persen lemak tinggi (Kurnia, 2020). Putri (2018) menyebutkan bahwa hubungan persen lemak tubuh dengan kebugaran jasmani dapat terjadi karena, apabila seseorang memiliki persen lemak tubuh tinggi, maka dapat meningkatkan massa tubuh sehingga pergerakan tubuh menjadi menurun. Hal ini juga dapat menyebabkan kelelahan yang yang lebih cepat sehingga suhu tubuh akan cepat mengalami peningkatan sehingga dapat berpengaruh terhadap kebugaran jasmani.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan negative antara status gizi dengan kebugaran jasmani dan ada hubungan negative antara persen lemak tubuh dengan kebugaran jasmani. Maknanya, semakin tinggi status gizi dan persen lemak tubuh atlet, maka semakin rendah kebugaran jasmani pada atlet bola basket Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada penelitian ini diberikan saran kepada para atlet untuk dapat meningkatkan kebugaran jasmani dan menjaga pola makan teratur.
KEKURANGAN KAJIAN
Dalam dilakukannya penulisan artikel ini, peneliti menyadari masih banyak adanya kekurangan. Kekurangan dalam penelitian ini, sampel yang digunakan hanya berasal dari satu institusi yaitu atlet basket Universitas Muhammadiyah Surakarta sehingga hasil yang didapatkan apabila dilakukan penelitian lain ditempat yang berbeda bisa menimbulkan perbedaan hasil penelitian. Selain itu, variable terikat yang digunakan dalam penelitian ini belum mewakili semua factor-faktor yang dapat mempengaruhi baiknya kebugaran jasmani seseorang.
PERNYATAAN
Ucapan Terimakasih
- Allah SWT yang selalu memberikan kemudahan, petunjuk, serta kekuatan untuk dapat menyelesaikan penelitian ini.
- Bapak Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si selaku Rektor UMS
- Ibu Dr. Umi Budi Rahayu, S.Fis., Ftr., M.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMS
- Bapak Pramudya Kurnia, S.TP., M.Agr, selaku Ketua Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan UMS
- Bapak Firmansyah, S.ST., M.Gz selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan memberi masukan
- Pihak Komisi Etik Penelitian Kesehatan dan Kedokteran FK UMS yang telah memberikan kode etik penelitian
- Bapak/Ibu Dosen dan Staf di Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan UMS
- Pihak manager, ketua serta pelatih Bola Basket Universitas Muhammadiyah Surakarta
- Para atlet bola basket UMS yang telah bersedia menjadi responden
- Kedua orang tua yang paling hebat, keluarga serta sahabat yang selalu memberikan dukungan dan do’a yang tidak pernah berhenti.
- Semua pihak yang telah terlibat dan ikut serta membantu dalam penyusunan artikel penelitian ini.
Kontribusi Setiap Penulis
| Conceptualization | Yumna Sayyidah Titis Nastiti, Firmansyah |
|---|---|
| Data Curation | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Formal Analysis | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Funding Acquisition | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Investigation | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Methodology | Yumna Sayyidah Titis Nastiti, Firmansyah |
| Project Administration | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Resource | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Software | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Validation | Yumna Sayyidah Titis Nastiti, Firmansyah |
| Visualization | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Writing-Original Draft | Yumna Sayyidah Titis Nastiti |
| Writing-Review&Editing | Yumna Sayyidah Titis Nastiti, Firmansyah |
DAFTAR PUSTAKA
Amrinanto, A. H. (2016). Analisis Perbedaan status gizi, persen lemak tubuh, dan massa otot atlet di SMP/SMA negeri olahraga ragunan Jakarta. Bogor: Repository IPB.
Arum, V. M. (2014). Hubungan Intensitas latihan, persen lemak tubuh, dan kadar hemoglobin dengan ketahanan kardiorespirasi atlet sepak bola. Journal of nutrition college, 179-183.
Budayati, E. (2011). Kebugaran Jasmani dan Indek Masa Tubuh Mahasiswa Program Studi IKORA FIK UNY. Medikora, 65-76.
Ekoparman, B. &. (2015). Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dengan Tingkat Kebugaran Jasmani Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Tadulako Tahun Masuk 2012. Media Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, 55-56.
Esen, O. R. (2022). Practical Nutrition Strategies to Support Basketball Performance during International Short-Term Tournaments: A Narrative Review. Nutrients, 4909.
Gumantan, A. I. (2020). Pengembangan Aplikasi Pengukuran Tes Kebugaran Jasmani Berbasis Android. Jurnal Ilmu Keolahragaan, 196-205.
Kemenkes. Panduan Pendampingan Gizi pada Atlet.
Kurnia, D. I. (2020). Pengetahuan pengaturan makan atlet dan persen lemak tubuh terhadap kebugaran jasmani atlet. Sport and Nutritional Journal, 56-64.
Latifah, N. M. (2019). Hubungan Komposisi Tubuh dengan Kesegaran Jasmani pada Atlet Hockey. Jurnal Keolahragaan, 146-154.
Muharram, R. R. (2019). Hubungan antara pola makan dan status gizi dengan tingkat kebugaran atlet dayung. JOSSAE (Journal of Sport Science and Education), 14-20.
Muizzah, L. (2013). Hubungan antara kebugaran dengan status gizi dan aktivitas fisik pada mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013. Jakarta: Repository UIN Jakarta.
Murbawani, E. A. (2017). Hubungan persen lemak tubuh dan aktivitas fisik dengan tingkat kesegaran jasmani remaja putri. Journal of Nutrition and Health, 69-84.
Putri, N. T. (2018). Hubungan asupan zat gizi makro dan persen lemak tubuh dengan nilai kebugaran jasmani atlet di UPTD keberbakatan olahraga Sumatera Barat tahun 2018. Sumatera Barat: e-Skripsi Universitas Andalas.
Rizqi, H. &. (2018). Hubungan asupan karbohidrat dan status gizi dengan tingkat kebugaran jasmani pada atlet basket remaja siswa sekolah menengah pertama. Media Gizi Indonesia, 182-188.
Septin, D. P. (2015). Hubungan antara status gizi dengan kebugaran jasmani atlet pada cabang olahraga atletik di UPT SMA negeri olahraga Jawa Timur. Surabaya: Poltekkes Kemenkes Surabaya.
Siti Zulaekah, N. L. (2018). Gizi Olahraga. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Vania, E. R. (2018). Hubungan gaya hidup, status gizi dan aktivitas fisik dengan tingkat kesegaran jasmani (studi pada atlet softball perguruan tinggi di Semarang tahun 2017. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 449-457.
Yunitasari, A. S. (2019). Asupan Gizi, Aktivitas Fisik, Pengetahuan Gizi, Status Gizi dan Kebugaran Jasmani Guru Olahraga Sekolah Dasar. Media Gizi Indonesia, 197-206.
Yusuf, K. A. (2020). Hubungan Status Gizi dan Asupan Energi dengan Tingkat Kebugaran Jasmani. Jurnal Ilmu Keolahragaan, 76-83
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Yumna Sayyidah Titis Nastiti, Firmansyah (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









