Faktor – Faktor Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif 0-6 Bulan Di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023
Keywords:
Pendidikan, Pekerjaan, Penghasilan, Jarak anak sebelumnya, Kegagal ASI eksklusifAbstract
Latar Belakang Pemberian ASI Eksklusif pada bayi merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting untukmenjaga kesehatan dan pertumbuhan optimal bayi. Namun, masih banyak ibu yang belum memberikan ASI Eksklusif pada bayinya karena adanya beberapa faktor penghambat. Tujuan Penulisaan : untuk mengetahui faktor-faktor kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk-Tangerang Tahun 2023. Metode Penelitian : Desain penelitian secara cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengolahan data mengggunakan SPSS. Hasil Penelitian Pada hasil penelitian Pada 4 variabel yang meliputi pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jarak anak sebelumnya terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di dapatkan hasil bahwa yang semua variabel tidak ada hubungan dalam kegagalan pemberian ASI Eksklusif.P value > 0,05. Kesimpulan dan Saran : Hasil penelitian ini dapat di sarankan bahwa kegagalan asi ekskulif tidak pada pendidikan, pekerjaan, penghasilan serta jarak anak sebelumnya, kegagalan juga dapat disebabkan dengan kurang lancar produksi ASI, maka perlu di sampaikan bahwa dalam memperlacar ASI.
PENDAHULUAN
Pemberian ASI Eksklusif merupakan suatu hal yang diharapkan kepada semua ibu nifas atau ibu menyusui dengan tidak memberikan makanan pendamping atau makanan yang lain selain ASI walaupun hal tersebut dalam bentuk susu formula. Berdasarkan undang – undang no. 36 tahun 2009 tentang kesehatan pada pasal 128 ayat (1) Eksklusif merupakan salah satu program pemerintahan yang menyatakan setiap bayi berhak mendapat Air Susu Ibu (ASI) sejak lahir selama 6 bulan kecuali atasindikasi medis.
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan program pemerintah yang memiliki tujuan untuk menanggulangi beberapa masalah kesehatan. Salah satu program yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan cara meningkatkan presentase bayi umur kurang dari 6 bulan untuk mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Menyusui adalah langkah pertama untuk bayi agar mendapatkan kehidupan yang sehat, sejahtera dan tangguh (UNICEF, 2019).
Pemerintah Indonesia menaruh perhatian yang cukup tinggi, karena begitu pentingnya pemberian ASI Eksklusif bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pada tahun 2012 telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 33 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. PP tersebut menyatakan bahwa ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. Disebutkan jugabahwa setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya, terkecuali ada hambatanyang dibenarkan. Tujuannya adalah untuk menjamin pemenuhan hak bayi agar mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan berusia 6 bulan. Agar program pemberian ASI Eksklusif dapat berhasil diperlukan dukungan seluruh elemen baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat ( Hakim, 2020).
Pada Negara Indonesia, pemerintah telah menetapkan target untuk mencapai tingkat ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2025 dan mengadopsi berbagai inisiatif dan program untuk mencapai target tersebut, seperti pemberian dukungan kepada ibu selama kehamilan, persalinan dan setelah melahirkan, serta memberikan dukungan dalam memberikan ASI kepada bayi. Namun, capaian ini akan dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk kondisi sosial dan ekonomi masyarakat serrta aksebilitas layanan kesehatan yang memadai.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2021, 52,5 persen – atau hanya setengah dari 2,3 juta bayi berusia kurang dari enam bulan- yang mendapat ASI eksklusif di Indonesia, atau menurun 12 persen dari angka di tahun 2019. Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) yang menyebutkan persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif khusunya pada Provinsi Banten tahun 2020 – 2022 yaitu pada tahun 2020 di dapatkan hasil 68,84%, pada tahun 2021di dapatkan hasil 71,17% dan pada tahun 2022 didapatkan hasil 71,70%, sehingga dapat di simpulkan persentase pemberian ASIEksklusif masih dinyatakan masih kurang pada wilayah provinsi Banten
Menurut pendapat Dwi sunar prasetyono, (2021) yang menyebutkan bahwa masih rendahnya pemahaman ibu, keluarga, dan masyarakat mengenai pentingnya ASI bagi bayi. Akibatnya, program pemberian ASI Eksklusif tidak berlangsung secara optimal. Kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI eksklusif dipengaruhi oleh promosi produk-produk makanantambahan dan formula. Kemajuan teknologi dan canggihnya komunikasi, serta gencarnya promosi susu formula sebagaipengganti ASI, membuat masyarakat kurang mempercayai kehebatan ASI, sehingga akhirnya memilih susu formula.
Perlunya pemahaman terhadap ibu menyusui sehingga dapat tercapainya dalam pemberian ASI Eksklusif di sampaikan berdasarkan hasil penelitian Prasetyono, (2021) Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan. Semakin tinggi pendidikan maka semakin baik pengetahuannya, Makin tinggi pendidikan seseorang, kemampuan dalam menerima informasi akan semakin baik, sehingga dapat berfikir secara rasional. Tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dapat mendukung keberhasilan ASI eksklusif pada bayi. Seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah untuk memahami perubahan yang terjadi dilingkungannya. Pemahaman ibu dalam pemberian ASI tidak lepas dari berbagai faktor seperti tingkat pendidikan, umur dan paritas ( Dewi Andriani,2019). Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, semakin mudah pula menerima informasi sehingga semakin banyak pengetahuan yang dimiliki. Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang, semakin matang usia ibu, semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya.
Menurut Ningsih (2018) dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif”, menyatakan bahwa kecenderungan sebagian ibu tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya semakin besar. Berdasarkan data hasil penelitiannya, semakin banyak ibu yang memberikan makanan pendamping ASI sebelum waktunya. Faktor-faktor yang menjadi fokus penelitian Ningsih terkait pemberian ASI Eksklusif diantaranya adalah usia, paritas, pendidikan, pekerjaan, dukungan petugas kesehatan, dukungan keluarga, tempat bersalin.
Adapun menurut Kusumawardani et al. (2018) faktor penghambat pemberian ASI Eksklusif antara lain Kurangnya pengetahuan dan dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar, Kurangnya pengetahuan dan keterampilan praktik pemberian ASI oleh ibu dan keluarganya, Ketersediaan susu formula yang mudah dijangkau dan dipromosikan secara agresif, Kurangnya dukungan dan fasilitas untuk pemberian ASI di tempat kerja, Masalah kesehatan pada ibu seperti infeksi payudara atau masalah lain yang mempengaruhi produksi ASI. Pelayanan kesehatan yang tidak optimal, termasuk kurangnya dukungan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan nasihat dan dukungan ASI.
Survey awal yang dilakukan di Desa Banyuasih pada tanggal 4 Maret 2023, tepatnya pada saat pelaksanaan posyandu di Desa Banyuasih ditemukan ibu yang memiliki usia 0-6 bulan tidak memberikan ASI Eksklusif diantara 10 ibu yang dilakukukan dengan memberikan pertanyaan alasan tidak memberikan ASI Eksklusif didapatkan jawaban 8 orang (80%) di antaranya kurang produksi ASI dan 2 (20%) orang menjawab karena bekerja sehingga tidak dapatmemberikan ASI Eksklusif. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian tentang faktor –faktor kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di desa Banyu Asih Tahun 2023.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif. dikarenakan masih rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan di desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang .Penelitian ini dilakukan pada Maret sampai Juni 2023 dengan responden penelitian ibu bayi 6 – 12 bulan di desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang.Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut Bersedia menjadi responden, Bayi yang lahir dalam keadaan normal atau tidak cacat fisik, Ibu melahirkan normal untuk menilai dilakukan IMD. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Sedang mengalami sakit saat dilakukan penelitian. Ibu tidak berada di desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan wawancara menggunakan angket. Dalam penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner sebagai panduan wawancara untuk mengumpulkan data dari subjek penelitian atau responden , peneliti menggunakan angket dalam pertanyaan pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jarak anak.. Desain penelitian secara cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengolahan data mengggunakan SPSS.
HASIL PENELITIAN
| Karakteristik Responden | Jumlah (n=65) | Prosentase (%) |
|---|---|---|
| Pendidikan | ||
| Pendidikan Rendah | 38 | 58,5 |
| Pendidikan Menengah Atas | 26 | 40,0 |
| Pendidikan Tinggi | 1 | 1,5 |
| Pekerjaan | ||
| Tidak Bekerja | 57 | 87,7 |
| Bekerja | 8 | 12,3 |
| Penghasilan | ||
| Kurang dari UMR | 15 | 23,1 |
| Sesuai UMR | 42 | 64,6 |
| Lebih dari UMR | 8 | 12,3 |
| Jarak Anak Sebelumnya | ||
| 1-2 tahun | 15 | 23,1 |
| 3-5 tahun | 42 | 64,6 |
| > 5 tahun | 8 | 12,3 |
| Pemberian ASI Eksklusif | ||
| Tidak ASI Eksklusif | 52 | 80 |
| ASI Eksklusif | 13 | 20 |
Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan bahwa dari 65 responden ibu menyusui di Desa Banyu Asih di dapat mayoritas pendidikan rendah sebanyak 38 responden (58,2%), Mayoritas tidak bekerja sebanyak 57 responden (87,7%), Mayoritas penghasilan sesuai UMR sebanyak 42 responden (64,6%), Mayoritas jarak anak sebelumnya 3-5 tahun sebanyak 42 responden (64,6%) dan Mayoritas tidak pemberian ASI Eksklusif sebanyak 52 responden (80%).
| Pendidikan | Pemberian ASI Eksklusif |
Asymp.sign (2 – sided) |
|||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tidak ASI Eksklusif | ASI Eksklusif | Total | |||||
| n | % | n | % | n | % | 0,100 | |
| Rendah | 27 | 41,5 | 11 | 16,9 | 38 | 58,5 | |
| Menengah Atas | 24 | 36,9 | 2 | 3,1 | 26 | 40,0 | |
| Tinggi | 1 | 1,5 | 0 | 0,0 | 1 | 3,3 | |
| Total | 52 | 80,0 | 13 | 20,0 | 65 | 100 | |
| Pekerjaan | Pemberian ASI Eksklusif |
Asymp.sign (2 – sided) |
|||||
| Tidak ASI Eksklusif | ASI Eksklusif | Total | |||||
| n | % | n | % | n | % | 0,186 | |
| Bekerja | 47 | 72,3 | 10 | 15,4 | 57 | 46,7 | |
| Tidak Bekerja | 5 | 7,7 | 3 | 4,6 | 8 | 53,3 | |
| Total | 52 | 80,0 | 13 | 20,0 | 65 | 100 | |
| Penghasilan | Pemberian ASI Eksklusif |
Asymp.sign (2 – sided) |
|||||
| Tidak ASI Eksklusif | ASI Eksklusif | Total | |||||
| n | % | n | % | n | % | 0,337 | |
| Kurang UMR | 14 | 21,5 | 1 | 1,5 | 15 | 23,1 | |
| Sesuai UMR | 32 | 49,2 | 10 | 15,4 | 42 | 64,6 | |
| Lebih UMR | 6 | 9,2 | 2 | 3,1 | 8 | 12,3 | |
| Total | 52 | 80,0 | 13 | 20,0 | 65 | 100 | |
| Jarak Anak Sebelumnya | Pemberian ASI Eksklusif |
Asymp.sign (2 – sided) |
|||||
| Tidak ASI Eksklusif | ASI Eksklusif | Total | |||||
| n | % | n | % | n | % | 0,337 | |
| 1-2 tahun | 14 | 21,5 | 1 | 1,5 | 15 | 23,1 | |
| 3-5 tahun | 32 | 49,2 | 10 | 15,4 | 42 | 64,6 | |
| >5 tahun | 6 | 9,2 | 2 | 3,1 | 8 | 12,3 | |
| Total | 52 | 80,0 | 13 | 20,0 | 65 | 100 | |
Hasil analisis pendidikan ibu menyusui 0-6 bulan menggunakan Chi-square didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,100, karena p-value > ? (p-value>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan pendidikan terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023. Hasil analisis pekerjaan ibu menyusui 0-6 bulan menggunakan Chi-square didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,186, karena p-value > ? (p-value>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan pekerjaan terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023. Hasil analisis penghasilan ibu menyusui 0-6 bulan menggunakan Chi-square didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,337, karena p-value > ? (p-value>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan penghasilan terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023. Hasil analisis jarak anak sebelumnya ibu menyusui 0-6 bulan menggunakan Chi-square didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,100, karena p-value > ? (p-value>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan jarak anak sebelumnya terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk-Tangerang Tahun 2023. Maka dapat di simpulkan dari 4 variabel yang meliputi pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jarak anak sebelumnya terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di dapatkan hasil bahwa yang semua variabel tidak ada hubungan dalam kegagalan pemberian ASI Eksklusif.
PEMBAHASAN
Hubungan Antara Pendidikan Dengan Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif
Dilihat karakteristik responden yang mempunyai bayi 6-12 bulan mayoritas pendidikan rendah sebanyak 38 responden (58,2%) dan Hasil analisis pendidikan ibu menyusui 0-6 bulan menggunakan Chi-square didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,100, karena p-value > ? (p-value>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan pendidikan terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023
Hasil penelitian ini senada dengan Raj, J. F (2020) yang menyatakan penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara Pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif (p = 0,578).
Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan. Semakin tinggi pendidikan maka semakin baik pengetahuannya, Makin tinggi pendidikan seseorang, kemampuan dalam menerima informasi akan semakin baik, sehingga dapat berfikir secara rasional. Tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dapat mendukung keberhasilan ASI eksklusif pada bayi. Seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah untuk memahami perubahan yang terjadi dilingkungannya (Prasetyono, 2021).
Menurut asumsi peneliti bahwa pendidikan seseorang tidak berpengaruh terhadap pemberian ASI Eksklusif di lihat berdasarkan karakteristik responden dalam pemberian ASI Eksklusif terlihat bahwa antara pendidikan menengah atas dengan perguruan tinggi sama dalam memberikan ASI Eksklusif, hal ini karena pada masa sekarang dengan ilmu teknologi yang semakin canggih dan memudahkan para responden untuk mengakses tentang ASI Eksklusif sehingga permasalahan yang ada dapat di ketahui melalui media internet. Peningkatan informasi saat ini sangat mudah di dapatkan dengan mengkases media sosial internet seperti youtube tentang edukasi asi eksklusif sehingga responden dapat menerima informasi dengan cepat dan mudah.
Hal ini di buktikan melalui penelitian Arham, M. (2020) yang menjelaskan YouTube adalah sebuah situs website media sharing video online terbesar dan paling populer di dunia internet. Saat ini pengguna youtube tersebar di seluruh dunia dari berbagai kalangan usia, dari tingkat anak-anak sampai dewasa. Para pengguna youtube dapat mengupload video, search video, menonton video, diskusi/tanya jawab tentang video dan sekaligus berbagi klip video secara gratis. Setiap hari ada jutaan orang yang mengakses youtube sehingga tidak salah jika Youtube sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Serta saat ini para pengguna youtube banyak yang mengupload vidio tentang pelajaran dan banyak pendidik yang juga menyediakan vidio tentang pembelajaran sehingga tidak salah jika youtube menjadi media pembelajaran bagi peserta didik.
Oleh karena itu dapat di analisa oleh peneliti tidak terdapatnya pendidikan dengan pemberian ASI Eksklusif di karenakan zaman yang semakin modern sehingga segala informasi dapat ditemukan melalui internet di tambah dengan media audo visual dalam bentuk youtube sebagai gudang pengetahuan sehingga semua kalnagan dapat mengakses informasi yang tertuang pada media internet tersebut.
Hubungan Antara Pekerjaan Dengan Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif
Dilihat karakteristik responden yang mempunyai bayi 6-12 bulan Mayoritas tidak bekerja sebanyak 57 responden (87,7%) dan Hasil analisis pekerjaan ibu menyusui 0-6 bulan menggunakan Chi-square didapatkan nilai signifikasisebesar 0,186, karena p-value > ? (p-value>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan pekerjaan terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023
Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya Raj, J. F., et al (2020). yang emnejelaskan disimpulkan secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ibu yang bekerja dan tidak bekerja dalam pemberian ASI eksklusif.
Hal yang sama dengan peneliti sebelumnya Simanungkalit, H. M. (2018). yang menjelaskan menunjukkan bahwa 73.3% responden yang tidak bekerja memberikan ASI eksklusif. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,976karena nilai p>0,05 maka H0 diterima
Menurut asumsi peneliti tidak adanya hubungan antara pekerjaan dengan pemberian ASI Eksklusif dapat di sebabkan tingkat stress yang alami oleh ibu menyusui, ibu bekerja dengan ibu tidak bekerja ( ibu rumah tangga) sama- sama memiliki tingkat kelelahan. Adapun perbedaan antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga Bagi ibu bekerja sebaiknya dapat memberi kesempatan untuk menyusui bayinya secara langsung apabila ibu mendapat cuti melahirkan hanyan 3 bulan yang mana cuti dapat di ambil 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Artinya ibu dapat memberikan ASI dalam waktu 1,5 bulan atau 3 bulan karena sebagian ibu ada yang mengambil cuti setelah melahirkan yan mana setelah itu ibu harus kembali bekerja dan menyebabkan ibu terpaksa berhenti menyusu. Hal ini sesuai dengan Undang – undang No 13 Tahun 2013 Tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan pekerja perempuan berhak memperoleh jatah cuti selama 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan sesudah melahirkan dan dapat gaji penuh.
Sedangkan ibu rumah tangga adalah wanita yang telah menikah dan tidak bekerja, menghabiskan sebagian waktunya untuk mengurus rumah tangga dan mau tidak mau setiap hari akan menjumpai suasana yang sama serta tugas–tugas rutin. Menuurt Putri, & Sudhana (2013). Melakukan pekerjaan rumah tangga yang kompleks dapat menyita sebagian besar waktu dari ibu rumah tangga itu sendiri. Utamanya jika ibu rumah tangga tidak menggunakan jasa pembantu rumah tangga dalam membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Total waktu yang dihabiskan oleh wanita rumah tangga dalam menyelesaikan pekerjaan rumah yang tidak dibayar adalah tinggi, dengan beberapa perkiraan berkisar dari 30 hingga 60 jam per minggu, bila pengasuhan anak dimasukkan (Handoko, 2007). Oleh sebab itu, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga seorang diri sebagai kewajiban seorang ibu rumah tangga dan hal tersebut dilakukan setiap hari tentu membutuhkan kesiapan baik secara fisik maupun mental karena sangat berpotensi dalam menyebabkan timbulnya stresor.
Maka dari itu, pekerjaan antara ibu rumah tangga ( tidak bekerja) dengan ibu bekerja yang kesehariannya di kantor sama-sama memiliki peluang tidak memberikan ASI Eksklusif sehingga dengan teori tersebut tidak ada kesenjangan dengan menyejelaskan tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan kegagalan pemberian ASI Eksklusif.
Hubungan Antara Penghasilan Dengan Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif
Dilihat karakteristik responden yang mempunyai bayi 6-12 bulan Mayoritas penghasilan sesuai UMR sebanyak 42 responden (64,6%), dan Hasil analisis penghasilan ibu menyusui 0-6 bulan menggunakan Chi-square didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,337, karena p-value > ? (p-value>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan penghasilan terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023
Hasil penelitian ini sejalan sama dengan penelitian yang dilkukan oleh Nelly Mayulu (2017) tentang Hubungan status sosial ekonomi orangtua dengan pemberian ASI Eksklusif di Kota Manado yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan tingkat ekonomi keluarga dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan dengan P Value = (0,705) >0,05. PadaMenurut Dalam penelitiannya berpendapat tidak ada hubungan Tingkat pendapatan keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif. Pendapatan yang rendah seharusnya lebih berpeluang memberikan ASI Eksklusif kepada bayi nya, akan tetapi dalam penelitian ini responden yang berpendapatan rendah justru lebih banyak tidak memberikan ASI Eksklusif.
Menurut asumsi peneliti tidak adanya hubungan antara penghasilan dengan kegagalan pemberian ASI eksklusif di temukan di ibu yang mempunyai penghasilan rendah tidak memberikan ASI Ekskluif . Hal ini menurut peneliti di sebabkan beberapa faktor seperti produksi ASI yang tidak lancar sehingga kebutuhan anak tidak tercukup yang akhirnya memberikan susu formula.
Hubungan Antara Jarak Anak Sebelumnya Dengan Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif
Dilihat karakteristik responden yang mempunyai bayi 6-12 bulan Mayoritas jarak anak sebelumnya 3-5 tahun sebanyak 42 responden (64,6%), dan Hasil analisis jarak anak sebelumnya ibu menyusui 0-6 bulan menggunakan Chi-square didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,100, karena p-value > ? (p-value>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan jarak anak sebelumnya terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa BanyuAsih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023
Hasil penelitian ini sejalan dengan Untari, J. (2017). dengan tidak ada hubungan jarak kelahiran dengan anak terakhir sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif adalah > 1 tahun yaitu 27 orang (67,5%). Berdasarkan hasil uji Chi Square diketahui nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,217, nilai p-value > 0,05 yang berarti H0 diterima, sehingga dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara jarak kelahiran dengan anak terakhir dengan pemberian Asi eksklusif.
Menurut asumsi peneliti tidak ada nya hubungan jarak anak sebelumnya dengan pemberian ASI eksklusif di lihat berdasarkan jarak anak sebelumnya mayoritas 3-5 tahun yang mana tidak ada jarak yang dekat dengan anak sebelumnya, namun pada penelitian ini mayoritas 49,4 % yang tidak memberikan ASI eksklusif dan hanya sebagian kecil yang memberikan ASI Eksklusif. Tidak memberikan ASI Eksklusif dapat disebabkan beberapa faktor yaitu jumlah produksi ASI, Tingkat Stres yang dapat mempengaruhi pengeluaran ASI.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini adalah penelitian ini masih terbatas dalam mengetahui faktor- faktor yang memungkinkan salah satu kegagagalan dalam produksi ASI, yang mana pada hasil penelitian tidak di temuakan ada hubungan dari pendidikan, pekerjaan, penghasilan serta jarak anak sebelumnya, dan masih kurang dalam jumlah variabel seperti jumlah produksi ASI, tingkat stress yang mana hal yang sangat berpengaruh dengan pemberian ASI Eksklusif
KESIMPULAN
dari 65 responden ibu menyusui di Desa Banyu Asih di dapat mayoritas pendidikan rendah sebanyak 38 responden (58,2%), Mayoritas tidak bekerja sebanyak 57 responden (87,7%), Mayoritas penghasilan sesuai UMR sebanyak 42 responden (64,6%), Mayoritas jarak anak sebelumnya 3-5 tahun sebanyak 42 responden (64,6%) dan Mayoritas tidak pemberian ASI Eksklusif sebanyak 52 responden (80%). Pada 4 variabel yang meliputi pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jarak anak sebelumnya terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di dapatkan hasil bahwa yang semua variabel tidak ada hubungan dalam kegagalan pemberian ASI Eksklusif.P value > 0,05
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, H. H., Wulandari, N. A., Lestari, A., & Bur, N. (2020). Hubungan Riwayat Pola Menyusui , Usia Penyapihan dan Emotional bonding terhadap Status Gizi pada Balita Article history?: Accepted 19 Maret 2020 Address?: Available online 25 April 2020 Email?: Phone?: PENDAHULUAN yang sehat , cerdas , dan produktif . Pen. 3(2), 116–122.
Abd. Hakim, A. H. (2020). Hubungan Karakteristik Ibu Dengan Pemberian Asi Eksklusif. Journal of Healthcare Technology and Medicine, 6(2), 767. https://doi.org/10.33143/jhtm.v6i2.984
Ampu, M. N. (2018). Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Di Puskesmas Neomuti Tahun 2018. Intelektif?: Jurnal Ekonomi, Sosial & Humaniora, 2(12), 9–19. https://www.jurnalintelektiva.com/index.php/jurnal/article/view/503
Andriani, D., & Olivia, E. (2019). Pendidikan, Umur Dan Paritas Terhadap Pemberian Asi Eksklusif Di Bkia Puskesmas Sidotopo Wetan Surabaya. Adi Husada Nursing Journal, 5(1), 1–5.
Bahriyah, F., Jaelani, A. K., & Putri, M. (2017). Hubungan Pekerjaan Ibu Terhadap Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Sipayung. Jurnal Endurance, 2(2), 113. https://doi.org/10.22216/jen.v2i2.1699
Ervina, A. (2018). Hubungan Paritas dengan ASIEksklusif pada Bayi Usia 7-12 Bulan. Jurnal Obstretika Scienta, 6(1), 170–178.
Imas Masturoh, SKM., M.Kes. (Epid)Nauri Anggita T, SKM, M. K. (2018). METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN(BAHAN AJAR). KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA.
Indonesia, K. kesehatan republik. (2019). PEDOMAN PEKAN ASI SEDUNIA. ASI eksklusif yaitu pemberian ASI tanpa diberikan makanan tambahan lain dari umur 0-6 bulan.
Notoatmodjo, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta.
Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis. (P. P. Lestari, Ed.) (4th ed.). Jakarta: Salemba Medika
Polwandari, F., & Wulandari, S. (2021). Gambaran Usia, Paritas, Tingkat Pendidikan, Status Pekerjaan, Dukungan Suami dan Tingkat Pengetahuan Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif. Faletehan Health Journal, 8(01), 58–64. https://doi.org/10.33746/fhj.v8i01.236
Prasetyono, D. S. (2021). Buku Pintar ASI Eksklusif Pengenalan, Praktik, dan Kemanfaatan-kemanfaatannya. DIVA Press.
Rahmadani, L. R. L. (2019). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Dan Status Pekerjaan Ibu Terhadap Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Usia 0-6 Bulan Di Wilayah Kerja Pusekesmas Muara Labuh Tahun 2019. http://repo.stikesperintis.ac.id/450/
Rozani, H., Gz, L. R. R. S., & Gz, M. (2021). Perbedaan Karakteristik Ibu Yang Tidak Memberikan ASI Eksklusif Di Perkotaan Dan Pedesaan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2018 (RISKESDAS 2018). 2018(Riskesdas 2018).
Saraswati, C. (2017). Hubungan Jarak Kehamilan Dengan Kejadian BBLR Di RSUD Dr. Wahidin Sudrio Husodo Kab. Mojokerto. Skripsi STIKES Insan Cendekia Medika, 1–65.
Tahun, O. D. (2022). Statistik untuk ilmu kesehatan (Cetakan 2). WahResolusi.
Yamaeka, F. (2017). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu yang Mempunyai Bayi Umur 6-11 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Rawang Padang Tahun 2017. Skripsi. https://pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository.pdf
Ni’mah, N. L. (2017). Faktor-faktor yang mempengaruhi ke
berhasilan pemberian Asi Eksklusif pada ibu bekerja. Jurnal Kedokteran Umum, 6(2), 12–16.
BKKBN. (2018). Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2017.
Humune, H. F., Nugroho, K. P. ., & Tampubolon, R. (2020). Gambaran pemberian ASI esklusif dan susu formula terhadap kejadian obesitas balita di Salatiga. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, Edisi Khus, 24–29. http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/JKM/article/view/4240
Fakhidah, L. N., & Palupi, F. H. (2018). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Asi Eksklusif. Jurnal Kebidanan, 10(02), 181. https://doi.org/10.35872/jurkeb.v10i02.291
Efriani, R., & Astuti, D. A. (2020). Hubungan umur dan pekerjaan ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif. Jurnal Kebidanan, 9(2), 153. https://doi.org/10.26714/jk.9.2.2020.153-162
Faizzah, H., Kurniawati, D., & Juliningrum, P. P. (2022). Gambaran Faktor yang Mempengaruhi Ibu Tidak Memberikan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Cakru , Kencong ( The Factor Influencing Mother not to Provide Exclusive Breastfeeding at the Cakru Public Health Service ). 10(1), 32–38.
Sumarni, D. T., & Ratnasari, F. (2021). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pengeluaran ASI Pada Ibu Postpartum?: Literatur Review. 4(1), 18–20. https://doi.org/10.30994/jqwh.v4i1.100
Raj, J. F., Fara, Y. D., Mayasari, A. T., & Abdullah, A. (2020). Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Wellness And Healthy Magazine, 2(2), 283–291. https://doi.org/10.30604/well.022.82000115
Arham, M. (2020). Efektivitas Penggunaan Youtube Sebagai Media Pembelajaran Mutmainnah Arham. Academia Education, 1–13
Nilam Sari, P. (2017). MENINGKATKAN KESUKSESAN PROGRAM ASI EKSKLUSIF PADA IBU BEKERJA SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN MDGs. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 9(2), 93. https://doi.org/10.24893/jkma.v9i2.19
Andriani, D., & Olivia, E. (2019). Pendidikan, Umur Dan Paritas Terhadap Pemberian Asi Eksklusif Di Bkia Puskesmas Sidotopo Wetan Surabaya. Adi Husada Nursing Journal, 5(1), 1–5.
Villela, L. M. (2017). Konsep Dasar Pengalaman. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Lubis, E. S. (2020). Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Jarak Kehamilan pada Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Mencirim Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Ilmiah Binalita Sudama Medan, 5(1), 25–29. http://ojs.bsm.ac.id/index.php/bsmejurnal/article/view/9
Sukmawati. (2019). skripsi Analisis dampak psikis jarak kelahiran yang berdekatan pada anak usia dini di posyandu tiga serangkai sekip palembang skripsi.
Saraswati, C. (2017). Hubungan Jarak Kehamilan Dengan Kejadian BBLR Di RSUD Dr. Wahidin Sudrio Husodo Kab. Mojokerto. Skripsi STIKES Insan Cendekia Medika, 1–65.
Salamah, U., & Prasetya, P. H. (2019). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kegagalan Ibu Dalam Pemberian Asi Eksklusif. Jurnal Kebidanan Malahayati, 5(3), 199–204. https://doi.org/10.33024/jkm.v5i3.1418
Oktalina, O., Muniroh, L., & Adiningsih, S. (2016). Hubungan Dukungan Suami dan Dukungan Keluarga dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu. Media Gizi Indonesia, 10(1), 64–70. https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/3128/2285
Wuri Utami1, Gita Cinthia Nopiana2, Umi Laelatul Qomar3 (2022). Hubungan pengetahuan tentang asi eksklusif terhadap pemberian asi pada mahasiswa keperawatan di universitas muhammadiyah gombong. 1773–1779.
Raj, J. F., Fara, Y. D., Mayasari, A. T., & Abdullah, A. (2020). Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Wellness And Healthy Magazine, 2(2), 283–291. https://doi.org/10.30604/well.022.82000115
Simanungkalit, H. M. (2018). Status Pekerjaan Dan Pengetahuan Ibu Menyusui Terhadap Pemberian ASI Eksklusif.Jurnal Info Kesehatan, 16(2), 236–244. https://doi.org/10.31965/infokes.vol16.iss2.222
Putri, K. A. K., & Sudhana, H. (2013). Perbedaan Tingkat Stres Pada Ibu Rumah Tangga yang Menggunakan dan Tidak Menggunakan Pembantu Rumah Tangga. Jurnal Psikologi Udayana, 1(1), 94–105. https://doi.org/10.24843/jpu.2013.v01.i01.p10
Untari, J. (2017). Hubungan Antara Karakteristik Ibu Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Minggir Kabupaten Sleman. Jurnal Formil (Forum Ilmiah) KesMas Respati, 2(1), 17–23. http://formilkesmas.respati.ac.id/index.php/formil/article/view/58/31
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









