Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Persepsi Terhadap Perilaku Safety Riding pada Pengendara Ojek Online di Kota Palembang

Authors

  • Ida Berlicia Universitas Sriwijaya, Indonesia
  • Anita Camelia Universitas Sriwijaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.36990/hijp.v15i3.1328

Keywords:

Kecelakaan, Ojek online, Safety riding

Abstract

Knowledge and perception about safety riding in a company is very important to prevent work accidents, because knowledge and perception can influence safety riding behavior while working. The number of accidents in Palembang City involving motorbikes in January-September was 1,708 cases. Traffic accidents are also a risk for online motorcycle taxi drivers in Palembang City. This research aims to determine the relationship between knowledge, perception, gender, education, driving experience, age, personal protective equipment, salary system and online motorcycle taxi driving safety behavior in Palembang City. This type of research is an analytical survey with a cross-sectional design. This research was conducted on online motorcycle taxi workers in Palembang City with a sample of 104 people. The sampling method is Accidental Sampling. Data analysis used the chi square test. The research results showed that as many as 94.2% of online motorcycle taxi drivers had high knowledge and as many as 97.1% of online motorcycle taxi drivers in Palembang City had a positive perception of safety riding behavior. It is known that ? = 0.05 shows that there is a relationship between knowledge, perception, level of education, protective riding equipment and safety riding behavior.

Ida Berlicia1, Anita Camelia2

1 idaberliciiaa@gmail.com

2 anita_camelia@fkm.unsri.ac.id

PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi mendukung perkembangan transportasi yang begitu pesat. Perkembangan transportasi ini berdampak kepada peningkatan jumlah volume kendaraan yang terus meningkat setiap tahunnya. Kendaraan yang paling banyak mengalami peningkatan yaitu sepeda motor. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) terkait perkembangan jumlah kendaraan bermotor sampai tahun 2020 jumlah kendaraan bermotor mencapai 115. 023. 039. Terdapat peningkatan jumlah kendaraan bermotor dengan jumlah yang mendominasi setiap tahunnya dimana pada tahun 2021 dengan jumlah kendaraan sepeda bermotor sebanyak 120. 042. 298. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia termasuk di Sumatera selatan. Peningkatan jumlah kendaraan yang terjadi saat ini berdampak terhadap kemacetan lalu lintas serta bertambahnya kecelakaan lalu lintas.

Kecelakaan lalu lintas adalah kejadian yang tidak diinginkan dan direncanakan, kecelakaan terjadi apabila melibatkan setidaknya satu kendaraan atau lebih yang menimbulkan kerugian baik harta benda serta mengakibatkan cedera, kecacatan, trauma atau bahkan kematian. Berdasarkan data Global Status Report On Road Safety (GSRRS) 2018   yang dikeluarkan oleh WHO, setiap 24 detik 1 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Setiap tahun sebanyak 1,35 juta jiwa meninggal karena kecelakaan lalu lintas (Al-Madani, 2018). Berdasarkan data GSR RS tahun 2018, 74% kecelakaan meninggal dunia di Indonesia merupakan pengendara sepeda motor. Berdasarkan data Kepolisian Republik Indonesia daerah angka kecelakaan sementara di tahun 2020 sebanyak 4559 kejadian, angka ini diprediksi akan terus bertambah. Berdasarkan Data Kepolisian Negara Republik Indonesia daerah Sumatera Selatan Direktorat lalu lintas angka kecelakaan lalu lintas pada triwulan pertama bulan januari sampai maret 2023 sebanyak 564 kasus, pada triwulan kedua yaitu bulan April sampai juni 2023 sebanyak 601 kasus kecelakaan lalu lintas, pada triwulan tiga bulan juli sampai September 2023 sebanyak 583 kasus kecelakaan lalu lintas.

Tingginya angka kecelakaan lalu lintas salah satunya disebabkan oleh rendahnya pengawasan pada safety riding dan tidak adanya pelatihan secara berkala terkait safety riding. Pengemudi yang telah memenuhi standar kompetensi  mengikuti  pelatihan safety  riding akan  dapat  menyelenggarakan  lalu  lintas  dan mampu   mendukung   dalam   upaya   peningkatan   keselamatan   berkendara,   kedisiplinan berkendara, dan ketaatan peraturan lalu lintas (Pratama et al., 2020). Transportasi ojek online yang berkembang pesat saat ini sebagai salah satu strategi pengguna untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas, dalam hal ketidakpastian moda transportasi dengan berbagai ragam fitur teknologi yang mendukung media transpotasi tersebut. Meskipun ojek online dapat  dikatakan  sebagai  salah  satu  strategi  untuk  mengurangi  risiko  terjadinya kecelakaan  lalu  lintas,  hal  tersebut  akan  tetap  terjadi  apabila  pihak  pemberi  layanan  dan pengguna jasa ojek online tidak mengetahui dan mematuhi perilaku safety riding. Perilaku  pengendara  ojek online yang  kurang safety,  maka  perlu  adanya  upaya pencegahan  yakni  penerapan safety  riding  awareness atau  kesadaran  berkendara  aman  bagi pengendara  ojek online.  Namun  yang  disayangkan  selama  ini  banyaknya  pengendara  ojek online ternyata tidak adanya pelatihan atau pengetahuan safety riding terhadap pengendara ojek online dan pengendara ojek online hanya di bekali buku panduan dimana buku tersebut hanya pengetahuan  secara  singkat  mengenai safety  riding saat  berkendara  dan  selebihnya  panduan mengenai pemesanan dan lain-lain (Amajida, 2016).

Pengetahuan menjadi faktor yang sangat penting dalam proses terbentuknya tindakan seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih bertahan lama daripada perilaku tanpa didasari oleh pengetahuan.  Pengetahuan dan persepsi dari setiap orang berbeda-beda, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk umur dan jenis kelamin. Perempuan dan laki-laki biasanya memiliki pengetahuan dan persepsi yang berbeda-beda, pada laki-laki sifatnya lebih independen, agresif, ambisius, berani, dan kuat. Pada perempuan cenderung ditemukan kepekaan emosional dan sosial, kehangatan, ekspresif, dan orientasi interpersonal yang lebih tinggi dari laki-laki. Karakter lain yang dimiliki oleh seorang perempuan adalah bijaksana, lemah lembut, menyadari perasaan orang lain, tenang, mempunyai keinginan yang besar akan rasa aman.

Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan oleh peneliti kepada para pekerja ojek online ditemukan bahwa para pekerja masih memiliki pengetahuan yang rendah dan juga persepsi yang buruk mengenai Safety Riding. Sejumlah 5 dari 7 pekerja ojek online tidak mampu menjawab pertanyaan mengenai Safety Riding. Para pengemudi ojek online mengatakan bahwa mereka sering mengendarai sepeda motor melampaui batas kecepatan rata-rata, mereka juga sering mengendarai sepeda motor melawan arus dan sering menerobos lampu merah. Para pekerja ojek online mengaku bahwa mereka percaya hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan, pekerja cenderung menaruh perhatian untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan yang banyak. Hal ini menunjukkan bahwa para pekerja ojek online masih kurang memahami tentang Safety Riding.

Safety Riding berfungsi untuk menghindarkan pekerja dari bahaya selama melakukan pekerjaan. Oleh karena itu tingkat pengetahuan persepsi mengenai Safety Riding mempengaruhi perilaku seseorang saat berkendara (Simamora, 2019). Berdasarkan permasalahan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan persepsi terhadap perilaku berkendara yang aman (Safety Riding) pada pekerja ojek online di Kota Palembang.

METODE

Penelitian ini menggunakan penelitian jenis survey analytic dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja ojek online di Kota Palembang pada bulan Oktober - November tahun 2023. Populasi pada penelitian ini adalah semua pekerja ojek online di wilayah Kota Palembang. Sampel berjumlah 104 orang diperoleh dengan menggunakan rumus beda dua proporsi untuk menghitung besar sampel. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode accidental sampling. Pada variabel pengetahuan menentukan pengetahuan rendah dan tinggi menggunakan batas 66,7%, untuk variabel persepsi menentukan positif dan negatif menggunakan batas 75%, untuk variabel perilaku menentukan kategori aman dan tidak aman menggunakan batas 75% dan untuk variabel alat pelindung berkendara menggunakan batas 70%.

Pengumpulan dan Analisis Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner skala likert. Pernyataan pada kuesioner berupa pernyataan dengan empat pilihan jawaban yaitu skor 4 untuk pilihan jawaban sangat setuju, skor 3 untuk pilihan jawaban setuju, skor 2 untuk pilihan jawaban tidak setuju dan skor 1 untuk pilihan jawaban sangat tidak setuju.

Kuesioner diuji validitasnya dengan Korelasi Product Moment. Nilai r hitung dicocokkan dengan r tabel product moment pada taraf signifikan 5%. Jika r hitung lebih besar dari r tabel maka butir kuisioner dinyatakan valid. Kuesioner awal berjumlah 45 butir, setelah dilakukan uji validitas hanya 25 butir yang dinyatakan valid dan 20 butir dinyatakan tidak valid. Pernyataan yang tidak valid dikeluarkan dari daftar sebelum dilakukan uji reliabilitas. Uji reliabilitas dilakukan dengan Teknik Koefisien Cronbach’s Alpha. Uji reliabilitas dilakukan terhadap 25 butir dan berdasarkan hasil uji seluruh pernyataan dinyatakan reliabel dengan nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel.

Pengelompokan data dilakukan dengan membuat total skor masing-masing komponen penilaian untuk masing-masing variabel. Data selanjutnya dianalisis menggunakan Chi-Square dengan kepercayaan 95%. Jika p ? ? 0,05 maka Ho ditolak, berarti ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Jika p > ? 0,05 maka Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.

HASIL

Variabel N (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki 52 50%
Perempuan 52 50%
Pengalaman berkendara
Baru 72 69,2%
Lama 32 30,8%
Usia
< 30 Tahun 84 80,8%
? 30 Tahun 20 19,2%
Pendidikan
SMA 91 87,5%
Perguruan Tinggi 13 12,5%
Pengetahuan
Rendah 6 5,8%
Tinggi 98 94,2%
Persepsi
Negatif 3 2,9%
Positif 101 97,1%
Perilaku
Tidak aman 5 4,8%
Aman 99 95,2%
APD
Tidak lenkap 5 4,8%
Lengkap 99 95,2%
Sistem Penggajian
Setoran 26 25%
Komisi 78 75%
Table 1. Tabulasi Analisis Univariat

Berdasarkan hasil analisis pada variabel di atas diketahui sebanyak 52 pengemudi (50%) berjenis kelamin laki-laki dan 52 pengemudi (50%) berjenis kelamin perempuan. Dilihat dari variabel pengalaman berkendara, sebanyak 72 pengemudi (69,2) berpengalaman berkendara baru dan 32 pengemudi (30,8%) berpengalaman berkendara lama. 84 pengemudi (80,8%) berusia < 30 tahun dan 20 pengemudi (19,2%) berusia >30 tahun, 91 pengemudi (87,5) berlatar belakang pendidikan SMA dan 13 pengemudi (12,5%) pendidikan perguruan tinggi.

Selanjutnya dilihat dari variabel pengetahuan, sebanyak 6 pengemudi (5,8%) memiliki pengetahuan yang rendah dan 98 pengemudi (94,2%) memiliki pengetahuan yang tinggi. Pada variabel persepsi, sebanyak 3 pengemudi (2,9%) memiliki persepsi negatif tentang safety riding dan 101 pengemudi (97,1%) memiliki persepsi yang positif. Pada variabel perilaku, sebanyak 5 pengemudi (4,8%) memiliki perilaku yang tidak aman dan 99 pengemudi (95,2%) memiliki perilaku aman terhadap safety riding. Terdapat 5 pengemudi (4,8%) menggunakan APD yang tidak lengkap dan 99 pengemudi (95,2%) menggunakan APD yang lengkap. 26 pengemudi (25%) digaji dengan sistem setoran dan 78 pengemudi (75%) digaji dengan sistem komisi.

Variabel Independen Perilaku Safety Riding n P-Value OR (95% Cl)
Tidak aman Aman
Jenis Kelamin
Laki-laki 3 49 52 1,00 1.531 (0,245-9.561)
Perempuan 2 50 52
Pengalaman berkendara
Baru 3 69 72 0.642 0,652 (0,245-9,561)
Lama 2 30 32
Usia
< 30 Tahun 3 81 84 0.245 0,333 (0,052-2,143)
? 30 Tahun 2 18 20
Pendidikan
SMA 4 26 30 0.024 7 (1,200-105,132)
Perguruan Tinggi 1 73 74
Pengetahuan
Rendah 4 6 10 0 62 (5.962-644,706)
Tinggi 1 93 94
Persepsi
Negatif 3 3 6 0.001 48 (5,725-402,475)
Positif 2 96 98
APD
Tidak Lengkap 3 2 5 0.001 72.75 (7,502-705,518)
Lengkap 2 97 99
Sistem Penggajian
Setoran 2 24 26 0.597 2.083 (0,328-13,214)
Komisi 3 75 78
Table 2. Tabulasi Silang Analisis Bivariat

Berdasarkan hasil tabel 2 diketahui dari hasil uji chi-square didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin pengemudi ojek online dengan perilaku safety riding dengan p value = 1,00. Didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara pengalaman berkendara ojek online dengan perilaku safety riding dengan nilai p value = 0.642. Didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara usia ojek online dengan perilaku safety riding dengan nilai p value = 0.245. Didapatkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan ojek online dengan perilaku safety riding dengan nilai p value = 0.024. Dengan rentan CI (1,200-105,132) pada derajat kepercayaan 95% maka dapat disimpulkan bahwa pengemudi ojek online dengan pendidikan perguruan tinggi memiliki peluang berperilaku safety riding 7.000 kali lebih besar dibandingkan dengan pengemudi ojek online dengan pendidikan SMA. Didapatkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ojek online dengan perilaku safety riding dengan nilai p value = 0.000. Dengan rentan CI (5.962-644,706) pada derajat kepercayaan 95% maka dapat disimpulkan bahwa pengemudi ojek online dengan pengetahuan tinggi memiliki peluang berperilaku safety riding 62.000 kali lebih besar dibandingkan dengan pengemudi ojek online dengan pengetahuan yang rendah. Didapatkan bahwa ada hubungan antara persepsi ojek online dengan perilaku safety riding dengan nilai p value = 0.001. Dengan rentan CI (5,725-402,475) pada derajat kepercayaan 95% maka dapat disimpulkan bahwa dimana pengemudi ojek online dengan persepsi positif memiliki peluang berperilaku safety riding 48.000 kali lebih besar dibandingkan dengan pengemudi ojek online dengan persepsi ojek online negatif. Didapatkan bahwa ada hubungan antara penggunaan alat pelindung diri ojek online dengan perilaku safety riding dengan nilai p value =0.001. Dengan rentan CI (7,502-705,518) pada derajat kepercayaan 95% maka dapat disimpulkan bahwa dimana pengemudi ojek online yang menggunakan alat pelindung diri yang lengkap memiliki peluang berperilaku safety riding 72.750 kali lebih besar dibandingkan dengan pengemudi ojek online yang menggunakan alat pelindung diri yang tidak lengkap. Didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara sistem penggajian ojek online dengan perilaku safety riding dengan nilai p value = 0.597.

PEMBAHASAN

Hubungan Jenis Kelamin dengan Perilaku Safety Riding

Hasil analisis dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p value 1,00 (p >0,05). Hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku Safety Riding pada pekerja ojek online di Kota Palembang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sariwulan (2018) tentang pengaruh jenis kelamin dalam perilaku berkendara pelajar dan mahasiswa terhadap kecelakaan lalu lintas di kota Mataram yang mengatakan perbedaan gender tidak berpengaruh terhadap perilaku berkendara. Hall ini dikalrenalkaln balhwal perilalku berkendalral ojek online lebih berkalitaln dengaln falktor-falktor individu seperti pelaltihaln bukaln berdalsalrkaln jenis kelalmin. Pengemudi yalng telalh menerimal pelaltihaln berkendalral daln memiliki pengallalmaln yalng memaldali cenderung memiliki perilalku berkendalral yalng lebih balik.

Hubungan Pengalaman Berkendara dengan Perilaku Safety Riding

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p value 0,643 (p >0,05). Hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengalaman berkendara dengan perilaku Safety Riding pada pekerja ojek online di Kota Palembang. Hasil penelitian ini sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan Aeni (2016) bahwa tidak ada hubungan antara pengalaman dengan perilaku safety riding dengan nilai signifikansi p value 0,35 (p > 0,05). Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan pengalaman berkendara dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam berkendara. Hal ini dikarenakan walaupun masa berkendara pekerja ojek online merupakan faktor mempengaruhi perilaku safety riding tetapi masih ada faktor lain yang dapat menghambat seseorang seperti pengetahuan tentang safety riding yang masih kurang maupun kemampuan dalam mengendarai sepeda motor yang tidak baik.

Hubungan usia dengan perilaku safety riding

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p value 0,245 ( p >0,05) yang berarti tidak ada hubungan antara umur dengan perilaku Safety Riding pada ojek online di Kota Palembang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ariwibowo (2013) yang menunjukan tidak adanya hubungan antara umur dengan perilaku Safety Riding pada pengendara ojek motor dengan nilai p-value 0,514 (p > 0,05).

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori bahwa usia dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam berkendara yang aman, seharusnya jika pengendara yang berumur diatas 30 tahun lebih matang dan lebih pengalaman dalam berperilaku mengendarai sepeda motor dari pada pengendara yang berumur dibawah 30 tahun. Hal tersebut dikarenakan walaupun umur merupakan faktor untuk merubah perilaku seseorang. Jika seseorang yang memiliki umur yang matang akan berperilaku aman berkendara namun masih banyak faktor lain yang bisa menghambat perilaku seseorang seperti tingkat pendidikan seseorang sangat mempengaruhi dalam menerima informasi dan perubahan perilaku, sehingga umur yang matang jika tingkat pendidikannya kurang atau rendah sangat memungkinkan seseorang mengalami penghambatan dalam perubahan perilaku.

Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Safety Riding

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan Chi Square didapatkan P value 0,024 (P value < 0,05) maka didapatkan ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku safety riding. Hal ini sejalan dengan teori lawrence green yang menyatakan bahwa perilaku itu dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi yang salah satunya adalah pendidikan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik pula pola pikirnya dalam mencerna informasi-informasi yang dapat mendasari pola perilaku orang tersebut. Praktik safety riding merupakan suatu perilaku berkendara dengan aman dimana dalam berperilaku tersebut dibutuhkan pengetahuan tentang safety riding tersebut sedangkan pengetahuan didasari dengan pola pikir yang baik, walaupun tingkat pendidikan bukan merupakan satu-satunya faktor yang mendukung pola pikir seseorang namun dengan tingginya tingkat pendidikan seseorang maka seseorang tersebut cenderung lebih mudah menerima perubahan yang bersifat baik sedangkan seseorang yang tidak memiliki dasar tingkat pendidikan yang berkelanjutan akan bersifat tertutup dan sulit untuk menerima perubahan perilaku tersebut.

Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Safety Riding

Pengetahuan atau kognitif merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk tindakan atau perilaku seseorang. Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.

Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat pengetahuan yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p value = 0.000 (p value < 0,05) maka didapatkan ada hubungan antara pengetahuan ojek online dengan perilaku safety riding. Hal ini sejalan dengan teori lawrence green yang menyatakan bahwa perilaku itu dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi yang salah satunya adalah pengetahuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan Ourotulaeni (2016) hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku safety riding pada mahasiswa kesehatan masyarakat dengan nilai p = 0,903. Fenomena ini bisa disebabkan dikarenakan pengemudi yang memiliki pengetahuan baik mengenai Safety Riding lebih memahami serta tahu bagaimana dan apa saja yang dilakukan ketika hendak berkendara, selama berkendara dan setelah berkendara. Pengemudi yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang safety riding cenderung akan berperilaku yang aman karena mereka mengetahui apa saja komponen dari safety riding.

Hubungan Persepsi dengan Perilaku Safety Riding

Persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya. Persepsi adalah tentang bagaimana memahami kita menerima stimulus dari lingkungan dan bagaimana kita memproses stimulus tersebut. Secara singkat persepsi mengacu pada proses dimana informasi inderawi diterjemahkan menjadi sesuatu yang bermakna. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang yaitu, individu yang bersangkutan, sasaran dari persepsi, dan situasi.

Proses terbentuknya persepsi pada seorang individu dipengaruhi oleh tanggapan terhadap stimulus yang diterima oleh panca indera atau sudut pandang seorang individu pada sebuah objek. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi persepsi orang berbeda-beda yaitu faktor ekstern dan intern. Faktor ekstern mencakup intensitas, ukuran, berlawanan, pengulangan gerakan, hal-hal baru dan familiar, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebudayaan sekitar sedangkan faktor intern meliputi proses belajar, perasaan, sikap, kepribadian, individual, prasangka, keinginan, dan harapan.

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square yang didapatkan bahwa ada hubungan antara persepsi dengan perilaku safety riding pada ojek online dengan P-value= 0,001. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh dina astuti (2020) di SMAN 7 bengkulu yang menyimpulkan bahwa ada hubungan antara persepsi dengan perilaku safety riding. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh bahwa persepsi pengemudi ojek online di Kota Palembang sudah baik hal ini disebabkan karena ojek online lebih memilih untuk tetap patuh dan taat pada peraturan lalu lintas untuk menghindari kecelakaan saat mereka bekerja.

Hubungan Alat Pelindung Berkendara dengan Perilaku Safety Riding

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan Chi Square didapatkan P value 0,001 (P-Value < 0,05) maka didapatkan ada hubungan antara penggunaan alat pelindung berkendara dengan perilaku safety riding. Hal ini sejalan dengan teori lawrence green yang menyatakan bahwa perilaku itu dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung yang salah satunya adalah APD. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Prima, dkk (2015) yang menyatakan bahwa adanya hubungan antara alat pelindung berkendara terhadap perilaku safety riding (P Value = 0,024).

Hal ini dikarenakan pengendara ojek online yang memiliki Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap cenderung mempunyai berperilaku aman dibandingkan pengendara yang berperilaku tidak aman. Fenomena ini dikarena pengendara ojek online yang memiliki APD yang lengkap menunjukkan adanya kesadaran untuk menggunakan alat pelindung berkendara di samping karena peraturan juga karena fungsinya sebagai perlindungan diri meminimalisir risiko luka ketika terjadi kecelakaan lalu lintas.

Hubungan Sistem Penggajian dengan Perilaku Safety Riding

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan Chi Square didapatkan P value 0,597 (P-Value > 0,05) maka didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara sistem penggajian dengan perilaku safety riding pengemudi ojek online di Kota Palembang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati, D. (2018) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan antara sistem penggajian terhadap perilaku keselamatan berkendara (P-value 0,16).

Hal ini dikarenakan pekerja ojek online merasa bahwa pendapatan yang mereka peroleh dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dalam satu hari penghasilan pengemudi ojek online berkisar antara ? Rp.100.000,00- Rp. 200.000,00. Dengan pendapatan itu, pengemudi tidak dihinggapi rasa cemas bila tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari karena pendapatan yang diperoleh dalam satu hari sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga mereka dapat mengemudi dengan tenang dan penuh konsentrasi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 94,2% pengemudi ojek online mempunyai pengetahuan tinggi dan sebanyak 97,1% pengemudi ojek online di Kota Palembang mempunyai persepsi positif terhadap perilaku safety riding. Dengan ? = 0,05 diketahui bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan, persepsi, tingkat pendidikan, alat pelindung berkendara dengan perilaku safety riding.

Disarankan kepada ojek online di Kota Palembang seharusnya selalu mempraktikkan perilaku safety riding yang baik dan benar baik itu ketika perjalanan dekat maupun jauh untuk meminimalisir atau mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Perusahaan ojek online di Kota Palembang perlu memperhatikan pekerja dalam hal pelatihan safety riding dengan melakukan upaya promosi kesehatan yang sesuai.

KEKURANGAN KAJIAN

Tidak menganalisis variabel lain yang dapat mempengaruhi perilaku safety riding pada pengemudi ojek online di Kota Palembang. Selain jenis kelamin, pengalaman berkendara, usia, pendidikan, pengetahuan, persepsi, alat pelindung berkendara, dan sistem penggajian.

PERNYATAAN

Peneliti mengucapkan terimakasih kepada fakultas kesehatan masyarakat universitas sriwijaya yang sudah membimbing peneliti sampai menyelesaikan penelitian ini dan seluruh komunitas ojek online di Kota Palemabang yang telah bersedia menjadi responden penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Adinata, K., Camelia, A., Sitorus, R. J., Fakultas, A., Masyarakat, K., Sriwijaya, U., Pengajar, S., Kesehatan, F., & Universitas, M. (2013). Analyze the Determinants of Student Bus Driver Unsri Perception About the Risk of Traffic Accidents Pendahuluan. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 4(1), 39–47.

Amajida, F. D. (2016). Kreativitas Digital Dalam Masyarakat Risiko Perkotaan: Studi Tentang Ojek    Online    “Go-Jek”    Di    Jakarta.    Informasi,    46(1),    115.

Data Kepolisian Negara Republik Indonesia daerah Sumatera Selatan Direktorat lalu lintas, 2023. Laporan Bulanan Lantas, Satlantas Polda sumsel.

Dina,  et al. (2021). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Safety Riding Pada Remaja Di SMA Negeri 7 Kota Bengkulu. Nuevos Sistemas de Comunicación e Información, 2013–2015.

Prima, Dine Wahyu, dkk. 2015. Faktor-faktor yang Berhubungan terhadap Perilaku Safety Riding pada Mahasiswa Fakultas X Universitas Diponegoro.Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.3 No. 3 April 2015. FKM Universitas Diponegoro.

Green, L. 1980. Health Education Planning: A Diagnostic Approach. Mayfield Publication: CaliforniaKewohon, A. A., Ratu, J. M., & Landi, S. (2020). Studi Tingkat Pengetahuan dan Persepsi tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Berbasis Gender pada Pekerja Ojek Online di Kota Kupang. Media Kesehatan Masyarakat, 2(3), 1–7. https://doi.org/10.35508/mkm.v2i3.2887

Kubillawati, D. (2021). Perbedaan antara pengetahuan, sikap dan ketersediaan alat pelindung berkendara terhadap perilaku keselamatan berkendara sepeda motor. Jurnal Ilmiah Kesehatan Dan Kebidanan, 10(1), 1–16.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka CiptaOurotulaeni. 2016. Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Safety Riding Pada Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Sebagai Pengendara Sepeda Motor’ Jurnal UMS.

Pratama,  R.  Y.  A.,  &  Koesyanto,  H.  (2020).  Kejadian  Kecelakaan  pada  Pengemudi  Ojek Online. HIGEIA (Journal ofPublic Health Research and Development), 4(Special 1), 13–24. https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia/article/view/34997.

Rezki Ramadhani. (2020). Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, dan Masa Berkendara Dengan Perilaku Safety Riding Pada Pengemudi Ojek Online Di Kota Banjarbaru Tahun 2020. Kesehatan Masyarakat. http://eprints.uniska-bjm.ac.id/4137/1/ARTIKEL REZKI RAMADHANI.pdf

Rupman, F., & Sulistyorini, T. (2021). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Keselamatan Berkendara Pada Pengendara Ojek Online Di Kabupaten Bogor Tahun 2020. Environmental Occupational Health and Safety Journal, 2(1), 1–10.

Taroreh, Y. V., Pinontoan, O. R., & South, L. F. (2019). Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Dengan Tindakan Safety Riding Pada Komunitas Motor Honda CBR Manado Community (CMC). Jurnal KESMAS, 8(4), 37–42.

Undang-Undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Jakarta: DPR

WHO. 2018. Global Status Report On Road Safety 2018. WHO press. New York.

Widiyawati. 2018. Pengaruh faktor masa kerja, Kompensasi dan pendidikan terhadap motivasi kerja pegawai dinas bina warga prov. JATENG dengan produktivitas kerja sebagai variabel intervening. Jurnal Universitas pandanaran : semarang.

Published

2023-12-10

How to Cite

Berlicia, I., & Camelia, A. (2023). Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Persepsi Terhadap Perilaku Safety Riding pada Pengendara Ojek Online di Kota Palembang. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(3), e1328. https://doi.org/10.36990/hijp.v15i3.1328

Issue

Section

Original Research

Citation Check