Persebaran Ketahanan Rumah Tangga Balita Stunting: Studi Kasus pada Daerah Stunting Di Kelurahan Bakung, Kota Makassar
DOI:
https://doi.org/10.36990/hijp.v14i2.737Abstract
Latar Belakang : Kota Makassar sebagai pusat berbagai aktivitas di wilayah Indonesia Timur sudah tentu akan memiliki pendapatan daerah yang tinggi. Walaupun demikian ternyata di Kota Makassar masih terdapat penduduk miskin. Terlebih lagi di era pandemik covid ini banyaknya terjadi PHK ataupun perusuhan yang gulung tikar. Pendapatan rendah ini adalah salah satu faktor penyebab terjadi rawan pangan. Pendapatan yang rendah tidak saja menyebabkan terjadinya rawan pangan, tetapi dapat menyebabkan terjadinya stunting. Kenyataanya masih ada jumlah kasus stunting pada setiap kecamatan di Kota Makassar
dan mengalami peningkatan. Kelurahan Bakung adalah salah satu wilayah di Kota Makassar yang memiliki kasus stunting di atas 100 kasus. Kelurahan Bakung terletak pada daerah peralihan antara urban (Kota Makassar) dan sub urban (Kabupaten Maros), yang mana wilayah sub urban merupakan wilayah ditinggali oleh masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah dan wilayah migrasi bagi masyarakat desa yang ingin tinggal di kota.
Tujuan : Untuk mengetahui persebaran ketahanan pangan pada rumah tangga yang memiliki balita stunting di tengah pandemi covid
Metode Penelitian : Metode dasar penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Analisis spasial. Jenis penelitan deskriptif ini menggunakan metode Case Study yaitu penelitan yang menggambarkan secara mendetail tentang latar belakang, sifat maupun karakter khas dari suatu kasus terutama pada rumah tanggah balita stunting di Kelurahan Bakung. Penelitian ini akan menyebarkan sebanyak 130 kuesioner, dimana isi kuesioner berisi karakteristik rumah tangga, pendapatan dan pengeluaran pangan. Kemudian dilakukan food recall 24 jam untuk mengetahui tingkat energi dan protein dari suatu rumah tangga.
Hasil Penelitian : Secara garis besar, sebanyak 6 RW yang memiliki tingkat ketahanan pangan pada kategori tahan pangan dan 3 RW memiliki tingkat ketahanan pangan pada kategori kurang pangan. Kurang pangan ini disebabkan kurangnya asupan energi dan protein yang dikonsumsi oleh suami dan istri pada RW 3, RW 4 dan RW 6. Untuk balitanya sendiri memiliki asupan energi dan protein pada kategori kurang dan defisit yaitu dibawah 70%. Hal inilah yang menyebabkan balita pada Kelurahan Bakung mengalami stunting.
Downloads
Published
Versions
- 2022-12-30 (2)
- 2022-12-11 (1)
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2022 Fatmawaty Suaib, Hikmawati Mas'ud, Rusneni, Ghinia Anastasia Muhtar (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









