Factors Affecting Compliance with Fluid Restrictions in Patients with Chronic Kidney Failure
DOI:
https://doi.org/10.36990/hijp.v15i2.950Keywords:
Adherence, Fluid restriction, Chronic kidney diseaseAbstract
Patients with chronic kidney disease need to change their lifestyle, especially focusing on fluid intake. Non-compliance with recommended fluid intake restrictions leads to rapid deterioration of the condition. This study aims to analyze the factors that influence compliance with fluid intake restrictions in patients with chronic kidney failure. This research is a descriptive correlation study with a sample size of 65 people undergoing hemodialysis at Islamic Hospital Semarang City. Participants filled out a questionnaire adapted from the ESRD-AQ questionnaire which was analyzed by simple linear regression test. The results of the study showed that 63.1% of the respondents who did not comply with limiting fluid intake were 63.1%. Knowledge (r=2.94, p-value=0.018) and family support (r=3.15, p-value=0.01) are significantly related to compliance with fluid intake restrictions. Meanwhile, age, gender, education, and length of time undergoing hemodialysis had no relationship with adherence to fluid intake restrictions. Knowledge and family support are factors that influence compliance with fluid intake restrictions in patients with chronic kidney failure, therefore it is necessary to increase family knowledge to help limit excess fluids in patients with chronic kidney disease.
PENDAHULUAN
Penyakit Gagal Ginjal Kronis merupakan permasalahan besar di dunia yang disebabkan oleh perubahan gaya hidup. Penderita penyakit gagal ginjal kronis sering tidak merasakan gejala, saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut dan fungsi ginjal sudah menurun atau disebut the silent killer. Berdasarkan data di Amerika Serikat terdapat 746.557 kasus gagal ginjal kronis yang terjadi yang meningkat 2,6% sejak 2016, secara keseluruhan prevalensi GGK meningkat 1,7% tiap tahunnya sejak 2016 (United State Renal Data System (USRDS), 2021). Hal ini didukung dengan data Riskesdas terjadi peningkatan dari 0,3 % di tahun 2013 menjadi 0,42 % di tahun 2018. Penderita gagal ginjal kronik akan mengalami gangguan faal ginjal serta endokrin yang di sebabkan oleh penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR) (Ramelan et al., 2016). Penyakit gagal ginjal kronik didiagnosis berdasarkan adanya kerusakan ginjal (albuminuria) atau penurunan fungsi ginjal (laju filtrasi glomerulus <60 mL/menit per 1,73 m² selama 3 bulan atau lebih (Levey & Coresh, 2012).
Hemodialisis merupakan salah satu terapi pada penderita gagal ginjal kronis untuk mempertahankan hidupnya (Hang et al., 2021). Hemodialisa telah berkembang menjadi metode yang aman dan efisien untuk klien dengan penyakit gagal ginjal kronis, meskipun tidak memulihkan penyakit gagal ginjal kronis, namun prosedur ini mengharuskan pasien untuk mematuhi pembatasan asupan cairan (Rahayu et al., 2018). Kepatuhan pasien dalam menjalani hemodialisis dipengaruh oleh faktor umur, pendapatan, motivasi dan dukungan keluarga (Simanjuntak & Halawa, 2019). Sebagian besar pasien pasien dengan gagal ginjal kronik ditemukan tidak patuh dalam program pembatasan cairan dan sekitar 53,6% mengalami kelebihan cairan (Melianna & Wiarsih, 2019).
Masalah umum yang dialami pasien hemodialisa adalah kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan. Ada enam faktor yang berkontribusi dalam ketidakpatuhan pada pasien gagal ginjal kronis, hal ini didukung hasil studi sebelumnya bahwa faktor terkait pasien meliputi umur, tingkat pendidikan, pengetahuan, keyakinan dan budaya kesehatan, faktor sosial dan ekonomi, faktor psikologis, faktor terkait sistem perawatan kesehatan, faktor terkait terapi, faktor yang berhubungan dengan penyakit (Chironda & Bhengu, 2016). Studi sebelumnya melaporkan bahwa faktor yang mempengaruhi kepatuhan pembatasan cairan pada gagal ginjal kronis antara lain umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama menjalani hemodialisia (Chris et al., 2020). Selain itu, kepatuhan pembatasan asupan cairan dipengaruhi oleh pengetahuan, dukungan keluarga, dukungan sosial dan motivasi (Nadi et al., 2018; Zahroh & Giyartini, 2018).
Beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronis, namun belum diketahui secara pasti penyebab dari kepatuhan pembatasan asupan cairan. Gagal ginjal kronik menyebabkan pasien menjalani hemodialisa yang cukup lama dan berisiko terhadap kualitas hidup pasien (Wati et al., 2019). Oleh karena itu, manajemen kelebihan cairan melalui pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik merupakan cara yang efektif untuk mengatasi kelebihan cairan (Dahrizal et al., 2022).
Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pembatasan asupan cairan pada gagal ginjal kronis.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi, dengan rancangan potong lintang. Penelitian ini berlokasi di salah satu Rumah Sakit Islam di Kota Semarang dan dilaksanakan pada bulan Januari - Mei 2022.
Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang menjalani hemodialisis di RSI Sultan Agung Semarang. Sampel penelitian ini dihitung menggunakan rumus Isaac dan Michael adalah sebanyak 65 responden. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu telah bersedia menjadi responden dalam penelitian sampai selesai, menjalani hemodialisis minimal 1 tahun, dapat berkomunikasi dengan baik dan didampingi keluarga. Sedangkan kriteria inklusi yaitu responden yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik, responden dengan penyakit kronik lainnya dan tidak didampingi keluarga.
Pengumpulan Data
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan non probabability sampling dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner pengetahuan FCHPS (Fluid Control in Hemodialyis Patients Scale) diadopsi dari penelitian (Cosar & Pakyuz, 2016) dengan nilai (r cronbach’s alpha = 0,855). Instrumen ESRD-AQ (The End-Stage Renal Disease Adherence Questionnaire) oleh (Kim et al., 2011) dan telah dimodifikasi oleh (Wulan, 2016) menunjukkan nilai (r cronbach’s alpha = 0,974).
Kuesioner FCHPS digunakan untuk mengumpulkan data Skala Kontrol Cairan Pada Pasien Hemodialisis. Kuesioner ESRD-AQ digunakan untuk mengumpulkan data kepatuhan pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir. Data dikumpulkan oleh mahasiswa Diploma Empat Keperawatan diasistensi oleh peneliti.
Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data menggunakan perangkat lunak, selanjutnya data di analisis secara univariat, bivariat menggunakan uji regresi linier sederhana untuk mengetahui korelasi antara umur, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan, lama menjalani hemodialisa, dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan.
Penelitian ini telah dinyatakan layak etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan RSI Sultan Agung Semarang dengan no sertifikat: 27/KEPK-RSISA/III 2022. Peneliti juga berupaya menjaga kerahasiaan data ini dengan menyebutkan inisial tempat penelitian.
HASIL
| Variabel | Jumlah | |
|---|---|---|
| n | % | |
|
Umur 25-35 tahun 36-45 tahun 46 – 55 tahun 56 – 65 tahun ? 65 tahun |
9 12 28 11 5 |
13,8 18,5 43,1 16,9 7,7 |
|
Jenis Kelamin Pria Wanita |
34 31 |
52,3 47,7 |
|
Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMP Perguruan Tinggi |
4 28 9 18 6 |
6,2 43,1 13,8 27,7 9,2 |
| Total | 65 | 100 |
Hasil analisis menujukkan bahwa mayoritas pasien dengan kelompok umur 25-35 tahun yaitu 28 orang (43,1%), dan jenis kelamin pada laki-laki lebih banyak yaitu 34 orang (52,3%) dibandingkan perempuan, serta mayoritas bendidikan SD yaitu 28 orang (43,1%).
| Variabel | Jumlah | |
|---|---|---|
| n | % | |
| Lama Menjalani Hemodialisis | ||
| 1 tahun | 17 | 26,2 |
| 2 tahun | 10 | 15,4 |
| 3 tahun | 13 | 20,0 |
| 4 tahun | 9 | 13,8 |
| 5 tahun | 6 | 9,2 |
| 6 tahun | 5 | 7,7 |
| 7 tahun | 2 | 3,1 |
| 8 tahun | 1 | 1,5 |
| 9 tahun | 2 | 3,1 |
| Pengetahuan | ||
| Baik (>21) | 36 | 55,4 |
| Sedang (16-20) | 24 | 36,9 |
| Rendah (< 15) | 5 | 7,7 |
| Dukungan Keluarga | ||
| Baik (> 34) | 48 | 73,8 |
| Kurang (< 33) | 17 | 26,2 |
| Kepatuhan Pembatasan Cairan | ||
| Tidak patuh (< 45) | 41 | 63,1 |
| Patuh (> 46) | 24 | 36,9 |
Berdasarkan Tabel 2 ditemukan responden dengan lama menjalani hemodialisa paling banyak yaitu selama 1 tahun sebanyak 26,2%, dan 8 tahun sebanyak 3,1%. Responden dengan pengetahuan baik sebanyak 36 orang (55,4%), yang mendapat dukungan keluarga yang baik lebih banyak yaitu 48 orang (73,8%), dan yang patuh dalam pembatasan asupan cairan sebanyak 24 oarang (36,9%).
| Variabel | r | R2 | Persamaan Garis | p-value |
|---|---|---|---|---|
| Umur | 0,096 | 0,009 |
Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan = 42,08-0,01*x |
0,448 |
| Pengetahuan | 0,293 | 0,086 | Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan = 23,64+0,06*x | 0,018 |
| Dukungan Keluarga | 0,315 | 0,099 | Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan = 16,15+0,53*x | 0,011 |
Berdasarkan Tabel 3 diperoleh bahwa umur tidak berkorelasi dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik (r=0,096, p-value=0,448). Sedangkan pengetahuan dan dukungan keluarga berkorelasi dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien GGK.
| Variabel | f | Mean±SD | SE | F | p-value |
|---|---|---|---|---|---|
| Jenis Kelamin | |||||
| Laki-laki | 34 | 39,53±11,492 | 1,971 | 2,742 | 0,103 |
| Perempuan | 31 | 34,74±11,804 | 2,120 | ||
| Pendidikan | |||||
| Tidak Sekolah | 4 | 39,75±6,602 | 3,301 | 0,932 | 0,452 |
| SD | 28 | 34,04±11,777 | 2,226 | ||
| SMP | 9 | 39,67±11,969 | 3,990 | ||
| SMA | 18 | 39,22±12,675 | 2,988 | ||
| PT (Perguruan Tinggi | 6 | 41,00±11,278 | 4,604 |
Berdasarkan Tabel 4 diperoleh bahwa rata-rata kepatuhan pembatasan asupan cairan pada laki-laki lebih tinggi (39,53). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Sedangkan rata-rata kepatuhan pembatasan asupan cairan yang paling rendah adalah pendidikan SD (34,04), dan secara statistik, maka disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi antara pendidikan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan.
| Variabel | Mean | SD | r | R2 | Persamaan Garis | p-value |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Lama Menjalani HD | 37,25 | 0,121 | 0,010 | 0,000 | Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan = 37,43,64-0,06*x | 0,935 |
Berdasarkan Tabel 5 diperoleh bahwa tidak ada korelasi antara lama menjalani hemodialisa dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas responden berumur antara 46-55 tahun. Bertambahnya umur menyebabkan penurunan progresif Glomerular Filtrasion Rate (GFR) dan Renal Blood Flow (RBF), dimana penurunan terjadi sekitar 8 ml/menit/1,73m2 setiap dekadenya sejak umur 40 tahun (Engla et al., 2019). Sesuai hasil studi bahwa mayoritas penyakit gagal ginjal didiagnosis pada umur lansia awal, hal ini disebabkan penyakit gagal ginjal oleh pola hidup yang tidak baik dalam jangka waktu lama (Hang et al., 2021). Hasil studi diperoleh bahwa tidak ditemukan korelasi antara umur dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Sesuai studi sebelumnya bahwa umur tidak berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam membatasi asupan cairan, ini disebabkan setelah umur 40 tahun akan terjadi terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus secara progresif sampai umur 70 tahun, kurang lebih 50% (Hang et al., 2021). Mayoritas pasien terdeteksi menderita gagal ginjal setelah berumur lebih dari 40 tahun. Namun demikian pada umur tua tidak dapat dipastikan memiliki pengetahuan yang baik jika tidak memiliki pengalaman menjalani hemodialisa. Sedangkan pada pasien yang tidak patuh dianggap sebagai seorang yang lalai dan akan lebih cepat mengalami depresi ditandai dengan kurangnya kemampuan untuk mengendalikan diri (Herlina & Rosaline, 2021b).
Hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas pasien gagal ginjal ditemukan pada responden pria. Sesuai studi sebelumnya bahwa kecenderungan pria lebih rentan mengalami gagal ginjal kronik, ini disebabkan oleh pekerjaan pria lebih berat dibandingkan wanita. Hal ini sesuai dengan hasil studi di PKU Muhamadiyah Yogyakarta bahwa mayoritas pasien yang menjalani hemodialisis denagn jenis kelamin pria (Anita & Novitasari, 2017; Herlina & Rosaline, 2021a). Kondisi ini disebabkan perempuan mempunyai hormon estrogen lebih banyak yang dapat mempengaruhi kadar kalsium dalam tubuh melalui proses penghambatan pembentukan sitokin yang menjadi penyebab terbentuknya batu ginjal sebagai salah satu penyebab terjadinya gagal ginjal kronik.
Hasil studi diperoleh bahwa mayoritas pasien yang menjalani hemodialisa berpendidikan sekolah dasar. Sesuai studi sebelumnya bahwa pasien yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki pengetahuan lebih baik sehingga dapat mengendalikan dirinya untuk mengantisipasi penyakit yang dideritanya dan memiliki perencanaan yang tepat untuk mengatasi penyakit yang dialaminya, dibandingkan dengan pasien yang berpendidikan rendah (Siam et al., 2019). Hasil studi diperoleh bahwa tidak ada korelasi antara pendidikan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Sesuai hasil penelitian bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan (Wijaya & Padila, 2019). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh yang menyatakan bahwa kepatuhan pembatasan diet cairan tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Hal ini disebabkan responden dengan pendidikan dasar memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap saran dari dokter/perawat untuk membatasi asupan cairan agar tidak terjadi komplikasi akibat kelebihan cairan (Chan et al., 2012). Tingkat pendidikan tidak terlalu berperan terhadap kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan karena meskipun tingkat pendidikan yang tinggi tanpa di dukung oleh adanya pengetahuan atau pemberian informasi terkait tata cara atau standar operasional prosedur dari tindakan pembatasan asupan cairan secara terus menerus dan berkelanjutan serta didukung oleh pengalaman yang mencukupi tentang dampak dari ketidakpatuhan dalam pembatasan asupan cairan seperti munculnya kondisi peningkatan tekanan darah, sesak napas, edema, kelemahan, gangguan tidur, pruritus atau gatal-gatal maka kepatuhan terhadap pembatasan asupan cairan tersebut tidak akan dilakukan dengan baik dan optimal peneliti (Wijaya & Padila, 2019).
Hasil studi menunjukkan bahwa pasien yang menjalani hemodialisa ditemukan mayoritas selama 1 tahun menjalani hemodialisis. Sesuai hasil studi bahwa lamanya menjalani hemodialisa lebih dari 1 tahun berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap dan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa lama menjalani hemodialisa tidak berhubungan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Hal ini sesuia dengan hasil studi yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lama menjalani terapi hemodialisa dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien penyakit ginjal kronik (Fitriani et al., 2017). Pasien yang melakukan hemodialisis jangka panjang tidak merasa khawatir terhadap perkembangan kondisi sakitnya (Anita & Novitasari, 2017; Wati et al., 2019).
Hasil studi diperoleh bahwa mayoritas pasien memiliki pengetahuan baik dan sebagian kecil berpengetahuan rendah. Hasil ini disebabkan oleh informasi yang diterima pasien mengenai asupan cairan dan cara pembatasan cairan yang baik yang harus dipatuhi dalam menjalani hemodialisis, pengetahuan juga terbentuk dari pengalaman dan pendidikan non formal seperti membaca dan mendapatkan penyuluhan. Pengetahuan yang adekuat memudahkan pasien menerima informasi sehingga menimbulkan pemikiran yang positif untuk patuh pada terapi yang dianjurkan terutama dalam pembatasan asupan cairan pada pasien yang menjalani hemodialisa (Anggraini & Nurvinanda, 2021). Hasil analisis statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Sesuai hasil studi sebelumnya bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan pada pasiengagal ginjal kronik dengan hemodialisia (Ramelan et al., 2016). Pengetahuan merupakan suatu hal yang mendasari sikap atau perbuatan seseorang, sehingga saat seorang pasien GGK mengetahui tentang kondisi kesehatannya saat ini, perjalanan penyakit yang ia derita, faktor yang dapat meringankan dan memperberat, serta bagaimana pengobatan/solusi terbaik untuk mendapat penyembuhan dan meningkatkan derajat kesehatan maka pasien akan lebihpatuh (Ernawati & Ismansyah, 2016).
Hasil studi diperoleh bahwa mayoritas pasien mendapat dukungan keluarga baik. Dukungan keluarga merupakan kombinasi sikap, tindakan, dan penerimaan penyakit melalui perhatian dan dorongan yang diberikan oleh hubungan interpersonal terapeutik (Husna et al., 2019). Dukungan tersebut juga dapat ditunjukkan dengan pemberian motivasi, perhatian, dan pengingat untuk membatasi asupan cairan sesuai dengan saran dari penyedia layanan kesehatan. Sesuai hasil studi bahwa kepatuhan pembatasan asupan cairan sangat tergantung dengan dukungan keluarga dan dukungan sosial (Astuti et al., 2017; Susilawati et al., 2018). Hasil analisis statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Sesuai hasil penelitian sebelumnya menunjukkan ada hubungan antara dukungan keluarga kepatuhan pasienh emodialisa dalam melakukan pembatasan asupan cairan (Wijaya & Padila, 2019). Dukungan dari keluarga dapat mempengaruhi tingkah laku pasien dan tingkah laku ini memberi hasil kesehatan seperti yang diinginkan. Dukungan keluarga merupakan proses terpenting dalam memberikan dukungan kepada pasien yang mengalami penyakit gagal ginjal kronik untuk melakukan pembatasan cairan, sehingga dukungan keluarga yang baik dapat memberikan semangat hidup, merasa lebih dihargai dan diperhatikan oleh keluarga walaupun mereka mengalami penyakit gagal ginjal kronik (Ningrum et al., 2020).
Hasil studi diperoleh bahwa mayoritas pasien tidak patuh dalam pembatasan asupan cairan. Sesuia studi sebelumnya menunjukkan bahwa sebanyak 62,4% pasien rumah sakit tidak patuh dalam pembatasan asupan cairan ((Wulan & Emaliyawati, 2018). Hal ini disebabkan karena adanya efikasi diri rendah pada penderita gagal ginjal kronik, sebagai pemicu respon maladaptif secara psikologis (depresi) (Susilawati et al., 2018). Aspek psikologis tersebut kemungkinan dapat mempengaruhi perilaku patuh dalam membatasi asupan cairan. Jumlah asupan cairan dibatasi sesuai dengan jumlah urin yang ada ditambah dengan insensible water loss, yaitu sekitar 200-250 cc/hari (Pranoto, 2010).
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa berumur antara 46-55 tahun, dengan jenis kelamin pria, berpendidikan sekolah dasar, dengan lama menjalani hemodialisa selama 1 tahun, pengetahuan baik, dukungan keluarga baik, dan tidak patuh dalam pembatasan asupan cairan. Kepatuhan membatasi asupan cairan dipengaruhi oleh pengetahuan dan dukungan keluarga pasien gagal ginjal kronis.
Oleh karena itu disarankan agar rumah sakit membuat program manajemen kelebihan cairan dengan tujuan untuk pemberian informasi kepada pasien selama menjalani hemodialisis di rumah sakit. Perlu adanya penerapan terkait behavior therapy dengan adanya penerapan terapi perilaku tersebut responden diharapkan dapat mengalami peningkatan kepatuhan mengenai pembatasan asupan cairan.
Kekurangan Penelitian
Keterbatasan dalam studi ini adalah pengukuran asupan cairan yang dilakukan pasien di rumah tidak dapat diamati oleh penulis karena keterbatasan waktu, serta tidak disertai dengan menimbang berat badan. Jumlah sampel yang terlibat hanya pada satu rumah sakit, untuk selanjutnya sangat diperlukan penelitian selanjutnya yang dilakukan pada beberapa rumah sakit lainnya.
PERNYATAAN
Penelitian belum pernah di publikasikan di jurnal manapun dan penulis menyatakan tidak ada konflict of interest.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak manajemen RSI Sultan Agung Semarang yang telah memfasilitasi sampai penelitian ini selesai.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, R. B., & Nurvinanda, R. (2021). Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga Dalam Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan Pasien Hemodialisa Di RSBT Pangkalpinang. Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA, 4(2), 357–366. https://doi.org/10.32524/jksp.v4i2.280
Anita, D. C., & Novitasari, D. (2017). Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan terhadap lama menjalani hemodialisa. Prosiding Seminar Nasional & Internasional, 1(1).
Astuti, P., Ghofar, A., & Suwandi, E. W. (2017). Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisa. Jurnal EDUNursing, 1(2), 89–99.
Chan, Y. M., Zalilah, M. S., & Hii, S. Z. (2012). Determinants of Compliance Behaviours among Patients Undergoing Hemodialysis in Malaysia. PLOS ONE, 7(8), 1–7. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0041362
Chironda, G., & Bhengu, B. (2016). Contributing factors to non-adherence among chronic kidney disease (CKD) patients: a systematic review of literature. Medical & Clinical Reviews, 02(04), 1–9. https://doi.org/10.21767/2471-299x.1000038
Chris, E., Gultom, V., & Kariasa, I. M. (2020). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pembatasan cairan pasien gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisis di satu rumah sakit swasta di indonesia barat. Nursing Current, 8(1), 56–70.
Cosar, A. A., & Pakyuz, S. C. (2016). Scale development study?: The Fluid Control in Hemodialysis Patients. 174–182. https://doi.org/10.1111/jjns.12083
Dahrizal, D., Mardiani, M., & Maksuk, M. (2022). Efektifitas Manajemen Kelebihan Cairan Terhadap Status Hidrasi Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Di Rumah Sakit. Journal of Health and Cardiovascular Nursing, 2(1), 28–35.
Engla, Z. S., Bayhaki, & Hasanah, O. (2019). Hubungan Interdialityc Weight Gain (Idwg) Dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis: Literature Review. 27–36.
Ernawati, R., & Ismansyah. (2016). Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan Pasien Hemodialisis. Mahakam Nursing Journal, 1(2), 70–79.
Fitriani, E., Krisnansari, D., & Winarsi, H. (2017). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Asupan Cairan Dan Natrium Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Gizi Dan Pangan Soedirman, 1(November). https://doi.org/https://doi.org/10.20884/1.jgps.2017.1.01.344
Hang, S., Tanjungpinang, T., Baru, J., & Tanjungpinang, K. M. (2021). Analisa faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan pasien hemodialisa. Jurnal Menara Medika, 4(1), 71–80.
Herlina, S., & Rosaline, M. D. (2021a). Kepatuhan Pembatasan Cairan Pada Pasien Hemodialisis. Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan, 9(1), 46–54.
Herlina, S., & Rosaline, M. D. (2021b). Kepatuhan Pembatasan Cairan Pada Pasien Hemodialisis. Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan, December 2020, 46–54. https://doi.org/10.20527/dk.v9i1.9631
Husna, C. H. Al, Yetti, K., & Sukmarini, L. (2019). Determinant of fluid adherence among hemodialysis patients in Malang , Indonesia. Enfermeria Clinica, 29, 18–23. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.enfcli.2019.04.018
Kim, Y., Evangelista, L. S., Phillips, L. R., Pavlish, C., & Kopple, J. D. (2011). The End-Stage Renal Disease Adherence Questionnaire (ESRD- AQ): Testing The Psychometric Properties in Patients Receiving In-Center Hemodialysis. Nephro Nurs, 37(4), 377–393.
Levey, A. S., & Coresh, J. (2012). Chronic kidney disease. The Lancet, 379(9811), 165–180. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(11)60178-5
Melianna, R., & Wiarsih, W. (2019). Hubungan kepatuhan pembatasan cairan terhadap terjadinya overload pada pasien gagal ginjal kronik post hemodialisa di rumah sakit umum pusat fatmawati. JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthopedi), 3(1), 37–46. https://doi.org/10.46749/jiko.v3i1.28
Nadi, H. I. K., Kurniawati, N. D., & Maryanti, H. (2018). Dukungan Sosial dan Motivasi Berhubungan dengan Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis. Crit Med Surg Nurs J, 6, 8–14.
Ningrum, W. A. C., Drajat, M. R., & Imardiani. (2020). Dukungan Keluarga Dan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan Pasien Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Masker Medika, 8, 146–156. https://doi.org/https://doi.org/10.52523/maskermedika.v8i1.387
Rahayu, F., Ramlis, R., & Fernando, T. (2018). Hubungan frekuensi hemodialisis dengan tingkat stres pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Jurnal Keperawatan Silampari, 1(2), 139–153.
Ramelan, M. I., Ismonah, & Hendrajaya. (2016). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pembatasan asupan cairan pada klien dengan chronic kidney disease yang menjalani hemodialisis di smc rs telogorejo. Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan, 8(3), 1–14.
Siam, P. A., Isro’in, L., & Nurhidayat, S. (2019). Hubungan Interdialytic Weight Gain(IDWG) Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis. Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 0(0), 212–222.
Simanjuntak, E. Y., & Halawa, B. A. S. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Gunungsitoli Nias. Indonesian Trust Health Journal, 1(2), 25–37.
Susilawati, E., Latief, K., & Khomarudin, K. (2018). Efikasi Diri Dan Dukungan Sosial Pasien Hemodialisa Dalam Meningkatkan Kepatuhan Pembatasan Cairan. Faletehan Health Journal, 5(1), 39–48.
United State Renal Data System (USRDS). (2021). National Institut of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. https://www.niddk.nih.gov/health-information/health-statistics/kidney-disease
Wati, S., Azwaldi, A., & Maksuk, M. (2019). Faktor Risiko Kualitas Hidup Klien Chronic Kidney Disease Di Ruang Hemodialisis Rumah Sakit Kota Palembang. JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang), 14(2), 101–106.
Wijaya, A. K., & Padila. (2019). Hubungan Dukungan Keluarga, Tingkat Pendidikan Dan Usia Dengan Kepatuhan Dalam Pembatasan Asupan Cairan Pada Klien ESRD Yang Menjalani Terapi Hemodialisa. Jurnal Keperawatan Silampari, 3, 393–404. https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.31539/jks.v3i1.883
Wulan, S. N. (2016). Gambaran Kepatuhan Pembatasan Cairan Dan Diet Rendah Garam (Natrium) Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Rutin Di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Padjadjaran.
Wulan, S. N., & Emaliyawati, E. (2018). Kepatuhan Pembatasan Cairan dan Diet Rendah Garam (Natrium) pada Pasien GGK yang Menjalani Hemodialisa; Perspektif Health Belief Model. Faletehan Health Journal, 5(3), 99–106. https://doi.org/https://doi.org/10.33746/fhj.v5i3.15
Zahroh, R., & Giyartini. (2018). Identifikasi faktor yang mempengaruhi kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Journal of Ners Community, 09, 76–84.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Wenny Trisnaningtyas, Nina Indriyawati, Sri Utami Dwiningsih, Elisa, Novita Ambar Ariyanti, Maksuk (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









