Efektivitas Aplikasi Roda Klop KB Sebagai Alat Bantu Pengambilan Keputusan Kontrasepsi Di TPMB Fany Mariska Tahun 2022

Authors

  • Nur Sitiyaroh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantara, Indonesia
  • Fany Mariska Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantara, Indonesia

Keywords:

Aplikasi, Roda Klop, Alat kontrasepsi, Alat bantu

Abstract

Latar Belakang : Roda MEC WHO akhirnya dimodifikasi menjadi Roda KLOP di Indonesia, yang merupakan singkatan dari Diagram Lingkaran dan Penerapan Kriteria Kelayakan Medis dalam Penggunaan Kontrasepsi. Tujuan Penulisaan : untuk mengetahui Efektivitas Aplikasi Roda Klop KB Sebagai Alat Bantu Pengambilan Keputusan Kontrasepsi Di TPMB Fany Mariska Tahun 2022 Metode Penelitian : Jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain exsperimental (quasi eksperimen) dengan rancangan The Nonrandomized Control Group Pretest Posttest Design. Dua kelompok dibuat untuk penelitian ini: kelompok intervensi dan kelompok yang menggunakan aplikasi roda klop sedangkan kelompok kontrol yaitu kelompok tidak penggunaan aplikasi roda klop. Sampel berjumlah 40 orang, dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 20 orang untuk kelompok intervensi dan 20 orang untuk kelompok kontrol. Metode pengambilan sampel yang digunakan dengan non-probability sampling dengan metode purposive sampling...Hasil Penelitian Hasil uji beda untuk Asymp, berbagai temuan tes diketahui. Diketahui Sig (2-Talled) = 0,000 sebab 0,000 < 0,05, maka hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan untuk kontrasepsi berbeda antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, sehingga dapat di simpulkan adanya efektivitas aplikasi roda klop KB sebagai alat bantu pengambilan keputusan kontrasepsi di TPMB Fany Mariska Tahun 2022 Kesimpulan dan Saran : penelitian ini bisa memberi suatu informasi pada tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan pemilihan kontraspsi sebaiknay perlu pengenalan aplikasi roda klop sebaga informasi aksepor KB untuk pemilihan kontrasepsi akseptor KB.

PENDAHULUAN

Penyebab utama penghentian seringkali adalah efek buruk penggunaan kontrasepsi. Angka putus kontrasepsi satu tahun yang sangat tinggi dilaporkan oleh Survei Kesehatan Demografi Indonesia (SDKI), dan naik dari 27% pada tahun 2012 menjadi 29% pada tahun 2017. Klien tidak tahu bagaimana menangani efek samping yang diakibatkan oleh kontrasepsi yang tidak tepat. keputusan.

Konseling merupakan salah satu kedok atau fase komunikasi informasi dan pendidikan (KIE). Konseling adalah jenis komunikasi yang dilakukan oleh penyedia layanan untuk pelanggan atau tim suami-istri yang membutuhkan bantuan KB. Klien menerima pengetahuan melalui komunikasi untuk lebih memahami kebutuhan mereka untuk mengontrol fertilitas, pilihan kontrasepsi mereka, dan status kesehatan mereka. Tujuan utama konseling adalah memberdayakan klien untuk membuat keputusan tentang jenis kontrasepsi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka dalam hal fertilitas dan kesehatan mereka, serta menyiapkan mereka untuk mengambil bagian dalam program keluarga berencana. (Nurhayati & Ratri (2013).

Pelayanan Keluarga Berencana (KB) yang berkualitas meliputi konseling kepada klien tentang cara memilih alat kontrasepsi. Tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan membantu pelanggan dalam memilih kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan fertilitas dan kesehatannya melalui konseling. (Nurhayati & Ratri (2013).

Pada tahun 1996, WHO mengeluarkan edisi pertama Kriteria Kelayakan Medis untuk Penggunaan Kontrasepsi (MEC). Standar ini dibuat berdasarkan temuan tinjauan studi klinis dan epidemiologi terbaru tentang layanan kontrasepsi yang dilakukan oleh WHO dan mitra. Selain itu, berdasarkan keadaan medis dan karakteristik unik, temuan review digunakan sebagai referensi dan rekomendasi untuk tingkat keamanan suatu teknik kontrasepsi. Roda MEC WHO akhirnya dimodifikasi menjadi Roda KLOP di Indonesia, yang merupakan singkatan dari Diagram Lingkaran dan Penerapan Kriteria Kelayakan Medis dalam Penggunaan Kontrasepsi.

Menurut Laporan Keluarga Berencana 2020, hampir 30% wanita Indonesia menerima konseling KB yang memadai pada tahun 2015 hingga 2017. Konseling yang baik dapat membantu ibu dalam memilih metode kontrasepsi yang paling efektif dan mengatasi potensi efek samping. Atau, dengan kata lain, konseling KB yang efektif dapat menurunkan angka putus sekolah. Melalui penerapan Alat Pengambil Keputusan Keluarga Berencana (ABPK) dan evaluasi persyaratan kelayakan medis penggunaan kontrasepsi, Modul Penyuluhan Keluarga Berencana ini menunjukkan bagaimana cara penyampaian penyuluhan KB yang efektif (Roda KLOP).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti mencari tahu apakah penggunaan aplikasi KB roda atau skrining kriteria kelayakan medis penggunaan kontrasepsi (roda KLOP) dalam memutuskan penggunaan KB lebih berhasil. Oleh sebab itu, peneliti termotivasi untuk mengklaim judul penelitian pada saat ini yaitu Efektivitas Aplikasi Roda Klop KB Sebagai Alat Bantu Pengambilan Keputusan Kontrasepsi Di TPMB Fany Mariska Tahun 2022.

METODE

Jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain exsperimental (quasi eksperimen) dengan rancangan The Nonrandomized Control Group Pretest Posttest Design. Dua kelompok dibuat untuk penelitian ini: kelompok intervensi dan kelompok yang menggunakan aplikasi roda klop sedangkan kelompok kontrol yaitu kelompok tidak penggunaan aplikasi roda klop. Sampel berjumlah 40 orang, dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 20 orang untuk kelompok intervensi dan 20 orang untuk kelompok kontrol. Metode pengambilan sampel yang digunakan dengan non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Tahap pelaksanaan pada tahap ini meliputi pengumpulan data primer sesuai dengan temuan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana aplikasi roda klop digunakan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

HASIL

Distribusi Frekuensi Pengambilan Keputusan Kontrasepsi Pada Kelompok Intervensi Dan Kelompok Kontrol Di TPMB Fany Mariska Tahun 2022.

Pengambilan Keputusan Kontrasepsi Intervensi Kontrol
(f) (%) (f) (%)
Cepat 20 100 12 60
Lambat 0 0 8 40
Table 1.

Berdasarkan Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa pada kelompok intervensi didapatkan mayoritas keseluruhan responden mengambil keputusan cepat sebanyak 20 orang (100%). Sedangkan bahwa pada kelompok kontrol didapatkan mayoritas keseluruhan responden mengambil keputusan cepat sebanyak 12 orang (60%) dan pengambilan keputusan lambat sebanyak 8 orang (40%).

Rata – Rata Penilaian Pengambilan Keputusan Kontrasepsi Pada Kelompok Intervensi Dan Kelompok Kontrol Di TPMB Fany Mariska Tahun 2022.

Pengambilan Keputusan Kontraseps N Mean standar deviasi Min Max
Intervensi 20 91,50 9,881 70 100
Kontrol 20 60,50 9,445 50 70
Table 2.

Pada Tabel 2 diketahui bahwa, dari 20 kelompok intervensi pengambilan keputusan kontrasepsi nilai rata – rata yaitu 91,50 , standar deviasi yaitu 9,881, dan penilaian hasil keputusan berdasarkan kuesioner dengan nilai minimal 70% dan maksimal 100%. Sedangkan kelompok intervensi pengambilan keputusan kontrasepsi nilai rata – rata yaitu 60,50 , standar deviasi yaitu 9,445, dan penilaian hasil keputusan berdasarkan kuesioner dengan nilai minimal 50% dan maksimal 70%.

Uji normalitas dilakukan terlebih dahulu, dilanjutkan dengan analisis bivariat pengukuran kelompok intervensi dan kontrol terhadap pengambilan keputusan pemilihan kontrasepsi Uji normalitas data dilakukan dengan uji Shapiro wilk. Selesai melakukan uji normalitas dilanjutkan dengan homogenitas yang dicoba dengan uji levene’s test.

Pengukuran Statistik Shapiro-Wilk Keterangan
Kelompok intervensi 0,789 0,001 Tidak normal
Kelompok kontrol 0,727 0,000 Tidak normal
Table 3.

Tabel 3 temuan menunjukkan bahwa uji normalitas pada kelompok intervensi (bengkak dengan pijat oksitosin) dan kelompok kontrol (bengkak tanpa pijat oksitosin) di Kolmogorov-Smirnova (p < 0,05) dan Shapiro-Wilk (p < 0,05) signifikan. . Jika angka sig lebih besar dari 0,05, semuanya dianggap normal; jika sig < 0,05 hal itu dianggap tidak normal. Oleh karena itu, data dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak terdistribusi secara normal berdasarkan temuan ini. Maka selanjutnya peneliti melakukan uji mann- whitney apabila di dapatkan hasil uji normalitas distribusi tidak normal.

Kelompk N Mean Ranks Sum Of Ranks Asymp. Sig (2 – Talled)
Kelompok intervensi 20 30,28 605,50 0,000
Kelompok Kontrol 20 10,72 214,50
Table 4.

Berdasarkan 5.4 Hasil Uji Mann- Whitney di dapatkan Mean Rank pada kelompok intervensi (menggunakan roda klop) merupakan tindakan dengan hasil keputusan lebih cepat dengan nilai 30,28 di bandingkan kelompok kontrol (tidak menggunakan roda klop) dengan nilai 10,72.

Untuk Asymp, berbagai temuan tes diketahui. Mengingat Sig (2-Talled) = 0,000 dan 0,000 < 0,05, maka hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan untuk kontrasepsi berbeda antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, sehingga dapat di simpulkan adanya efektivitas aplikasi roda klop KB sebagai alat bantu pengambilan keputusan kontrasepsi di TPMB Fany Mariska Tahun 2022

PEMBAHASAN

Pada penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Proses pengambilan keputusan untuk kontrasepsi bervariasi antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, sehingga dapat di simpulkan adanya efektivitas aplikasi roda klop KB sebagai alat bantu pengambilan keputusan kontrasepsi di TPMB Fany Mariska Tahun 2022.

Hasil penelitian ini sesuai teori Menurut Laporan Keluarga Berencana 2020, hanya 30% konseling KB di Indonesia antara tahun 2015 dan 2017 yang melebihi standar informasi teknik. Konseling yang baik dapat membantu ibu dalam memilih metode kontrasepsi yang paling efektif dan mengelola potensi efek samping. Atau, dengan kata lain, konseling KB yang efektif dapat menurunkan angka putus sekolah. Melalui penerapan Alat Pengambil Keputusan Keluarga Berencana (ABPK) dan evaluasi persyaratan kelayakan medis penggunaan kontrasepsi, Modul Penyuluhan Keluarga Berencana ini menunjukkan bagaimana cara penyampaian penyuluhan KB yang efektif (Roda KLOP).

Berdasarkan Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use, edisi ke-5 2015, salah satu rekomendasi WHO berdasarkan bukti ilmiah, pie chart ini mencantumkan prasyarat medis untuk memulai penggunaan metode kontrasepsi tertentu (evidence based). Lembar rekomendasi ini memberikan informasi kepada penyedia layanan KB yang dapat mereka gunakan untuk memberitahu pelamar dengan masalah medis tertentu atau karakteristik medis tentang pilihan kontrasepsi yang aman.

Pada tahun 1996, WHO mengeluarkan edisi pertama Kriteria Kelayakan Medis untuk Penggunaan Kontrasepsi (MEC). Standar ini dibuat setelah meninjau studi klinis dan epidemiologi terbaru tentang layanan kontrasepsi oleh WHO dan mitra. Lebih-lebih lagi, Berdasarkan keadaan medis dan karakteristik unik, temuan kajian ini digunakan sebagai panduan dan saran untuk tingkat keamanan suatu metode kontrasepsi. Roda MEC WHO kemudian dimodifikasi di Indonesia sebagai Penerapan Kriteria Kelayakan Medis untuk Penggunaan Kontrasepsi, atau Roda KLOP.

Upaya peningkatan mutu pelayanan KB meliputi penetapan standar kelayakan medis penggunaan alat kontrasepsi. Keamanan setiap metode kontrasepsi didasarkan pada sejumlah faktor yang berkaitan dengan kondisi medis atau karakteristik medis terkait lainnya, khususnya apakah metode tersebut memperburuk kondisi medis yang ada atau menimbulkan risiko kesehatan baru, serta apakah kondisi medis yang ada mengurangi kemanjuran metode tersebut. Keuntungan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan harus dievaluasi terhadap keamanan prosedur ini.

Menurut pendapat (Herlyssa et al., 2014) Cara pemberian nasehat tersebut tidak lepas dari keberhasilan KB di Indonesia. Dengan membiarkan klien memilih teknik kontrasepsi yang mereka rasa sesuai dengan kriteria mereka, konseling membantu menjaga konsistensi dalam penggunaan metode kontrasepsi. Dalam rangka membantu klien mengidentifikasi kebutuhan kontrasepsinya, memilih solusi yang terbaik, dan mengambil keputusan kontrasepsi yang akan digunakan dan paling sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapi oleh pasangan usia subur, konseling dalam Keluarga Berencana (KB) merupakan suatu proses informasi. pertukaran dan interaksi positif antara klien dan staf. Konseling KB memiliki dampak yang signifikan terhadap pilihan kontrasepsi seseorang.

Peneliti berpendapat bahwa informasi dan pendidikan bagi akseptor KB ini penting untuk mewujudkan pengambilan keputusan yang dapat diterima oleh akseptor KB, berdasarkan temuan penelitian dan teori. Pada saat pemberian informasi pemilihan kontrasepsi dengan menggunakan aplikasi roda klop perlu adanya pengetahuan dalam penggunaan aplikasi roda klop sehingga dengan aplikasi tersebut dapat memudahkan pasien untuk mengetahu dalam penggunaan KB yang layak digunakan oleh akseptor KB. Hal ini di dukung oleh teori . Nurhayati, Azwa, E. (2021) yang menyebutkan bahwa tujuan berikut dilayani oleh standar kelayakan medis pScreening untuk penggunaan kontrasepsi dengan Roda KLOP: 1. Membantu penyedia layanan memilih strategi keluarga berencana yang paling efektif untuk pelanggan mereka 2. Skrining klien berdasarkan persyaratan kualifikasi medis mereka 3. Cari tahu apakah Anda hamil sebelum menggunakan KB. 4. Jelaskan berbagai metode kontrasepsi menurut fitur masing-masing 5. Berikan ringkasan prosedur medis penting

KESIMPULAN

Menurut temuan investigasi, berikut ini dapat disimpulkan:

  1. Pada kelompok intervensi didapatkan mayoritas keseluruhan responden mengambil keputusan cepat sebanyak 20 orang (100%). Sedangkan bahwa pada kelompok kontrol didapatkan mayoritas keseluruhan responden mengambil keputusan cepat sebanyak 12 orang (60%) dan pengambilan keputusan lambat sebanyak 8 orang (40%).
  2. Dari 20 kelompok intervensi pengambilan keputusan kontrasepsi nilai rata – rata yaitu 91,50 , standar deviasi yaitu 9,881, dan penilaian hasil keputusan berdasarkan kuesioner dengan nilai minimal 70% dan maksimal 100%. Sedangkan kelompok intervensi pengambilan keputusan kontrasepsi nilai rata – rata yaitu 60,50 , standar deviasi yaitu 9,445, dan penilaian hasil keputusan berdasarkan kuesioner dengan nilai minimal 50% dan maksimal 70%.
  3. Hasil Uji Mann- Whitney di dapatkan Mean Rank pada kelompok intervensi (menggunakan roda klop) merupakan tindakan dengan hasil keputusan lebih cepat dengan nilai 30,28 di bandingkan kelompok kontrol (tidak menggunakan roda klop) dengan nilai 10,72.
  4. Hasil uji beda untuk Asymp, berbagai temuan tes diketahui. Diketahui Sig (2-Talled) = 0,000 sebab 0,000 < 0,05, maka hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan untuk kontrasepsi berbeda antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, sehingga dapat di simpulkan adanya efektivitas aplikasi roda klop KB sebagai alat bantu pengambilan keputusan kontrasepsi di TPMB Fany Mariska Tahun 2022

DAFTAR PUSTAKA

Nurhayati, Y., & Ratri, W. K. (2013). Konseling Keluarga Berencana. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699

Nurhayati, Azwa, E. (2021). … Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Metode Alat Kontrasepsi Suntik Oleh Wanita Usia Subur Di Masa Pandemi Covid–19 Wilayah Pmb …. 2020. http://repository.stikesrspadgs.ac.id/429/

Artikel: PENGAMBILAN KEPUTUSAN DENGAN MENGGUNAKAN AHP. (n.d.). http://azis-artikel.blogspot.com/2008/05/pengambilan-keputusan-dengan.html

Nurhayati, Y., & Ratri, W. K. (2013). Konseling Keluarga Berencana. Journal of

Putriningrum, R. (2012). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Dalam Pemilihan Kontrasepsi Kb Suntik Di Bps. Ruvina Surakarta. Jurnal Kesmadaska, 3(1), 1–11. http://www.jurnal.stikeskusumahusada.ac.id/index.php/JK/article/view/24/87

Resta Andriana Putri 18002176 (Artikel Pengambilan Keputusan). (n.d.).

Aryati, S., Sukamdi, S., & Widyastuti, D. (2019). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN METODE KONTRASEPSI (Kasus di Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang). Majalah Geografi Indonesia, 33(1), 79. https://doi.org/10.22146/mgi.35474

Untuk, D., Salah, M., & Persyaratan, S. (2009). PUSKESMAS I SUKOHARJO Diajukan Oleh?: SRI NURYANI FAKULTAS ILMU KESEHATAN.

Nurhayati, Azwa, E. (2021).Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Metode Alat Kontrasepsi Suntik Oleh Wanita Usia Subur Di Masa Pandemi Covid–19 Wilayah Pmb 2020. http://repository.stikesrspadgs.ac.id/429/

Nurfitri, ika nisa. (2019). Rasionalitas pengambilan keputusan PUS pengguna KB TUBEKTOMY pada masyarakat santri dikabupaten jombang. Ika Nisa Nurfitri, 2013–2015.

Nurcahyani, Lia.Widyastuti, D. (2020). Alat Bantu Pengembilan Keputusan (ABPK) Ber-KB Digital sebagai Inovasi Media Konseling Keluarga Berencana. Jurnal Ilmiah Bidan, 5(2), 10–23.

Wiwit Indawati1* , Nur Sitiyaroh2. (2022) Penggunaan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih Pada Tingkat Pendidikan Ibu Akseptor KBJurnal JKFT Diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan, Mk. (2022). Editorial Team Jurnal JKFT. 7.

Published

2023-06-17

How to Cite

Sitiyaroh, N., & Mariska, F. (2023). Efektivitas Aplikasi Roda Klop KB Sebagai Alat Bantu Pengambilan Keputusan Kontrasepsi Di TPMB Fany Mariska Tahun 2022. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), e952. Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/952

Issue

Section

Journal Supplement

Citation Check