Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta
Keywords:
Diabetes melitus, Kepatuhan, Faktor, Penyakit kronisAbstract
Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that will last a lifetime. Compliance with taking medication plays a very important role in the success of DM treatment therapy to maintain blood sugar levels within the normal range. There are various factors that can influence the level of compliance with DM treatment. This study aims to evaluate the level of compliance and analyze factors that influence treatment compliance in patients with type 2 diabetes mellitus at the Kotagede II Yogyakarta Community Health Center. This research is a type of quantitative research with a cross sectional approach. This data was obtained from primary data (questionnaire) and secondary data (medical records). The population in this study was type 2 DM patients at Puskesmas II Kotagede Yogyakarta. Samples were obtained using a purposive sampling method based on the inclusion criteria: patients diagnosed with type 2 DM outpatient at the Kotagede II Community Health Center, had received diabetes drug therapy for at least the last 3 months, had laboratory data on fasting and/or intermittent blood sugar levels, were willing to be respondents. Compliance factors evaluated in this study were level of knowledge, attainment of blood sugar levels, insurance, frequency of taking medication, therapy regimen (monotherapy or combination), and length of suffering. The level of adherence was measured using the Medication Adherence Rating Scale (MARS) questionnaire while the level of knowledge used the Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ) questionnaire. The data were analyzed descriptively and to determine the factors that influenced compliance, the chi square test and multivariate test (logistic regression) were used. Based on research results from 106 respondents, the majority, namely 79 respondents (74.5%) had a moderate level of compliance. Factors that influence the level of treatment compliance of type 2 DM patients at the Kotagede II Yogyakarta Community Health Center are blood sugar levels (p-value = 0.000; OR = 12.387) and knowledge (p-value = 0.012). Blood sugar levels are the factor that most influences the level of treatment compliance for type 2 DM patients at the Kotagede II Yogyakarta Community Health Center.
Jessica Rosalinda*, Ambar Yunita Nugraheni
*jessicarosalinda12@gmail.com
ayn122@ums.ac.id
PENDAHULUAN
Diabetes Melitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (PERKENI, 2021). DM merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting dan prevalensinya terus meningkat setiap tahunnya. Prevalensi DM sebesar 8,4% dari populasi dunia dan diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta pada tahun 2025 (Mokolomban et al., 2018). Menurut data Riskesdas 2018 prevalensi penyakit DM Indonesia meningkat dari 6,9% menjadi 8,5%. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki jumlah pasien terbanyak ketiga secara nasional (Kemenkes RI, 2018).
Diabetes melitus dapat digolongkan menjadi penyebab kematian terbanyak yang harus diwaspadai karena pengobatannya bersifat jangka panjang sehingga pasien mempunyai kecenderungan untuk tidak patuh dalam penggunaan obat (Ariani et al., 2022). Studi pada pelayanan kesehatan primer di Indonesia menunjukkan adanya hubungan antara ketidakpatuhan minum obat dan hiperkreatininemia pada pasien dengan sindrom metabolik. Ketidakpatuhan dalam pengobatan dapat meningkatkan risiko yang terkait dengan masalah kesehatan dan memperburuk penyakit yang diderita (Kurniyawati, 2020). Menurut Akrom et al (2019) kepatuhan minum obat memegang peranan yang sangat penting dalam keberhasilan terapi pengobatan DM untuk menjaga kadar gula darah agar tetap dalam rentang normal. Selain itu, pasien yang tidak patuh dalam pengobatan perlu diidentifikasi agar pengobatan yang efektif, pencegahan komplikasi dan peningkatan kualitas hidup pasien dapat diterapkan.
Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan pengobatan seseorang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Triastuti et al. (2020), disebutkan bahwa pengetahuan, sikap dan motivasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan pengobatan seseorang. Pada penelitian lain dikatakan bahwa kadar gula darah memiliki pengaruh terhadap tingkat kepatuhan pengobatan (Ratnasari et al., 2022). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Yulianti and Anggraini (2020) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan seseorang adalah penghasilan, kadar gula darah, frekuensi minum obat dan regimen terapi. Selain itu, dikatakan dalam penelitian Diantari and Sutarga (2019) bahwa lama menderita mempengaruhi tingkat kepatuhan pengobatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta, menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan serta mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta.
METODE
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini sudah disetujui oleh komite etik RSUD Dr. Moewardi (No. 1.343/VII /HREC /2023). Data penelitian diperoleh dari data primer (kuesioner) dan data sekunder (rekam medis). Populasi pada penelitian ini yaitu pasien DM tipe 2 di Puskesmas II Kotagede Yogyakarta. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah sebanyak 495 orang. Hasil perhitungan minimal sampel berdasarkan rumus Lemeshow diperoleh minimal sebanyak 97 responden.
Pada penelitian ini diperoleh sampel sebanyak 106 responden yang memenuhi kriteria inluksi. Kriteria inklusi sampel pada penelitian ini yaitu pasien dengan diagnosa DM tipe 2 rawat jalan di Puskesmas Kotagede II, pasien DM yang telah mendapatkan terapi obat diabetes minimal 3 bulan terakhir, memiliki data lengkap, memiliki data laboratorium kadar gula darah puasa dan/atau sewaktu dan bersedia menjadi responden. Faktor kepatuhan yang dievaluasi pada penelitian ini yaitu tingkat pengetahuan, ketercapaian kadar gula darah, penghasilan, frekuensi minum obat, rejimen terapi (monoterapi atau kombinasi), lama menderita, usia, jenis kelamin, dan penyakit penyerta. Variabel penelitian ini meliputi variabel bebas yaitu faktor yang mempengaruhi kepatuhan (tingkat pengetahuan, kadar gula darah, penghasilan, frekuensi minum obat, rejimen terapi lama menderita, usia, jenis kelamin, dan penyakit penyerta) dan variabel terikat yaitu tingkat kepatuhan.
| No. | Variabel | Definisi | Kategori | Skala Data |
|---|---|---|---|---|
| 4. | Penghasilan | Pendapatan yang didapatkan oleh responden setiap bulan. |
Kategori penilaian: a) ? UMP = Rp. 2.324.776 b) < UMP = < Rp. 2.324.776 (BPS Provinsi D.I. Yogyakarta, n.d.) |
Ordinal |
| 5. | Frekuensi minum obat | Jumlah frekuensi minum obat paling banyak yang diminum oleh responden dalam 1 hari selama minimal 3 bulan terakhir. |
Kategori penilaian: a) 1x sehari b) > 1x sehari (Yulianti and Anggraini, 2020). |
Ordinal |
| 6. | Rejimen terapi | Jumlah obat paling banyak yang dikonsumsi oleh responden selama minimal 3 bulan terakhir. |
Kategori penilaian: a) Monoterapi (1 obat) b) Kombinasi ( > 1 obat) (Yulianti and Anggraini, 2020). |
Ordinal |
| 7. | Lama menderita | Jarak dari saat pertama kali responden didiagnosis DM hingga tahun dilakukannya penelitian. |
Kategori penilaian: a) < 5 tahun b) ? 5 tahun (Yulianti and Anggraini, 2020) |
Ordinal |
| 8. | Usia | Usia responden ketika dilakukannya penelitian. |
Kategori penilaian: a) < 60 tahun b) ? 60 tahun (Rasdianah et al., 2016) |
Ordinal |
| 9. | Jenis kelamin | Jenis kelamin responden. |
Kategori penilaian: a) Laki-laki b) Perempuan (Rasdianah et al., 2016) |
Ordinal |
| 10. | Penyakit penyerta | Penyakit penyerta yang diderita pasien |
Kategori penilaian: a) Ada b) Tidak ada (Akrom et al., 2019) |
Ordinal |
Hasil uji validitas pada kuesioner MARS menunjukkkan valid dengan nilai R hitung > R tabel (0,296) dan reliabilitas (R hitung > R tabel ? 0,70) (Alfian and Putra, 2017). Hasil validitas dan reliabilitas kuesioner Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ) menunjukkan valid dan reliabel dengan R = 0,603 (Zakiudin et al., 2022; Larasati et al., 2019). Data dianalisis secara deskriptif analitik. Kepatuhan dan pengetahuan dianalisis secara deskriptif dengan menghitung persentase sesuai dengan kategori penilaian. Analisis untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan digunakan uji chi-square dan uji multivariat (regresi logistik).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Pasien
| Karakteristik | Jumlah | % (n=106) |
|---|---|---|
| Jenis Kelamin | ||
| Laki-laki | 40 | 37,7 |
| 2. Perempuan | 66 | 62,3 |
| Usia | ||
| < 60 tahun | 38 | 35,8 |
| 2. ? 60 tahun | 68 | 64,2 |
| Penghasilan | ||
| < UMP | 36 | 34,0 |
| 2. ? UMP | 70 | 66,0 |
| Lama Menderita | ||
| < 5 tahun | 64 | 60,4 |
| 2. ? 5 tahun | 42 | 39,6 |
| Regimen Terapi | ||
|
Monoterapi
Metformin Glimepirid Gliclazide |
49 42 6 1 |
46,2 39,6 5,7 0,9 |
|
2.
Kombinasi
Metformin + Glimepirid Gliclazide + Metformin Metformin + Pioglitazone |
57 55 1 1 |
53,8 51,9 0,9 0,9 |
| Frekuensi | ||
| 1x | 35 | 33,0 |
| 2. > 1x | 71 | 67,0 |
| Kadar Gula Darah | ||
| Terkontrol | 55 | 51,9 |
| 2. Tidak Terkontrol | 51 | 48,1 |
| Penyakit Penyerta | ||
| Tidak Ada | 8 | 7,5 |
|
2.
Ada*
Hipertensi Dislipidemia Hiperurisemia Gagal Jantung Koroner Hiperurisemia Dispepsia Post-stroke Nefropati Neuropati Hypertensive Heart Disease Osteoarthritis |
98 89 40 6 4 1 1 2 1 1 1 1 |
92,5 84,0 37,7 5,7 3,8 0,9 0,9 1,9 0,9 0,9 0,9 0,9 |
Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa jenis kelamin penderita DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta sebagian besar adalah perempuan yaitu sebanyak 66 responden (62,3%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rasdianah et al. (2016) di Puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa sebagian besar penderita DM tipe 2 berjenis kelamin perempuan. Terjadinya DM pada jenis kelamin perempuan dapat disebabkan karena premenstrual syndrome (sindrom siklus bulanan) dan pasca menopause yang menyebabkan meningkatnya distribusi jumlah lemak tubuh. Peningkatan distribusi jumlah lemak tubuh tersebut menyebabkan peluang meningkatnya indeks massa tubuh menjadi lebih besar (Ratnasari et al., 2022).
Mayoritas usia penderita DM tipe 2 pada penelitian ini usia ? 60 tahun yaitu sebanyak 68 responden (64,2%) (tabel 3). Hal tersebut menunjukkan semakin meningkatnya usia maka risiko terjadinya DM juga meningkat karena faktor degeneratif yaitu penurunan fungsi tubuh dalam memetabolisme gula (Ratnasari et al., 2022). Penuaan berpengaruh pada sensitivitas sel beta pankreas terhadap glukosa serta penundaan pengambilan glukosa yang dimediasi oleh insulin. Terjadinya resistensi insulin pada penuaan berkaitan dengan kerusakan pada post receptor (Adikusuma et al., 2014). Sebagian besar responden menderita DM tipe 2 < 5 tahun yaitu sebanyak 64 responden (60,4%) (tabel 3). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Adikusuma et al (2014) bahwa mayoritas responden memiliki lama menderita DM yaitu 1-5 tahun. Faktor yang paling berpengaruh dalam menyebabkan komplikasi pada DM adalah durasi menderita dan tingkat keparahan DM. Semakin lama seseorang menderita DM, maka semakin tinggi pula risikonya untuk mengalami komplikasi (Yulianti and Anggraini, 2020). Berdasarkan tabel 3, mayoritas penderita DM tipe 2 mendapat obat antidiabetes kombinasi yaitu sebanyak 57 responden (53,8%). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Ratnasari et al (2022) bahwa mayoritas responden mendapat obat antidiabetes kombinasi (55,6%). Apabila terapi obat antidiabetes tunggal dianggap kurang efektif maka dapat diberikan terapi kombinasi antidiabetes oral dengan golongan yang berbeda. Menurut PERKENI (2021) pasien DM tipe 2 yang memiliki nilai HbA1c ? 7,5% ketika diperiksa atau pasien yang telah mendapatkan monoterapi selama 3 bulan terakhir namun tetap tidak mencapai target yaitu nilai HbA1c < 7%, maka dapat diberikan terapi kombinasi 2 macam obat. Obat tersebut terdiri dari metformin dan ditambah dengan obat lain yang memiliki mekanisme kerja yang berbeda.
Berdasarkan peresepan diketahui frekuensi penggunaan obat antidiabetes yang paling sering adalah > 1x sehari (67,0%) (tabel 3). Hal tersebut disebabkan karena obat yang paling banyak diresepkan adalah metformin. Dosis harian metformin yang dianjurkan menurut Notes (2019) adalah 500-3000 mg/hari dan diberikan dalam 2-3 dosis terbagi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yulianti and Anggraini (2020) di RSUD Sukoharjo bahwa pasien yang memiliki frekuensi minum obat > 1x sehari lebih banyak yaitu sebanyak 53 responden (62,4%) dibandingkan pasien yang memiliki frekuensi minum obat 1x sehari yaitu sebanyak 32 responden (37,6%). Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa sebanyak 98 responden (92,5%) memiliki penyakit penyerta (tabel 3). Penyakit penyerta yang dominan diderita oleh pasien adalah hipertensi yaitu sebanyak 89 orang (84,0%) dan dislipidemia sebanyak 40 orang (37,7%). Pada individu yang mengalami DM, terjadi peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang menyebabkan resistensi cairan intravaskular. Hal ini berdampak pada peningkatan volume cairan tubuh dan kerusakan pada sistem vaskular, yang selanjutnya mengakibatkan peningkatan resistensi arteri perifer. Kedua kondisi ini menjadi dasar terjadinya hipertensi (Ayutthaya and Adnan, 2020). Sedangkan dislipidemia merupakan sebuah kondisi terganggunya metabolisme lipid yang disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, yang melibatkan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida (TG), low-density lipoprotein (LDL), dan penurunan kadar high-density lipoprotein (HDL). Kadar glukosa darah yang tinggi dapat merangsang pembentukan kolesterol dan glikogen dari glukosa. Pada individu dengan diabetes mellitus, terjadi perubahan dalam metabolisme lemak tubuh karena penurunan insulin, yang mengakibatkan peningkatan lipolisis jaringan dan penurunan efektivitas lipoprotein lipase, yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan kadar lemak dalam darah (ZA et al., 2022; Puspitasari and Aliviameita, 2018). Berdasarkan hasil penelitian, responden dengan kadar gula darah terkontrol jumlahnya lebih banyak yaitu sebanyak 55 responden (51,9%) (tabel 3). Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhasidah et al. (2019) di Puskesmas Sudiang Kota Makassar yang menyatakan bahwa terdapat 74 orang (51,7%) yang memiliki kadar gula darah terkontrol. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Yulianti and Anggraini (2020) di RSUD Sukoharjo bahwa mayoritas responden memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol (62,4%) dibandingkan responden yang memiliki kadar gula darah terkontrol (37,6%). Pada penelitian tersebut, responden dominan diberikan jenis pengobatan kombinasi (64,6%) dan frekuensi minum obat > 1x sehari (62,4%).
Penggunaan Obat Lain
| Kelas Terapi | Nama Obat | Frekuensi | % (n = 301) |
|---|---|---|---|
| Antihipertensi | Amlodipin | 71 | 23,6 |
| Hidroklorotiazid | 12 | 4,0 | |
| Captopril | 7 | 2,3 | |
| Bisoprolol | 6 | 2,0 | |
| Furosemid | 4 | 1,3 | |
| Diltiazem | 2 | 0,7 | |
| Irbesartan | 1 | 0,3 | |
| Nifedipine | 1 | 0,3 | |
| Candesartan | 1 | 0,3 | |
| Ramipril | 1 | 0,3 | |
| Antiulkus | Ranitidin | 3 | 1,0 |
| Omeprazole | 1 | 0,3 | |
| Kalsium karbonat | 1 | 0,3 | |
| Antiplatelet | Asetosal | 9 | 3,0 |
| Hipolipidemik | Simvastatin | 50 | 16,6 |
| Gemfibrozil | 30 | 10,0 | |
| Fenofibrat | 8 | 2,7 | |
| Antipirai | Allopurinol | 17 | 5,6 |
| Analgesik dan Antipiretik | Paracetamol | 12 | 6,3 |
| Meloksikam | 12 | 4,0 | |
| Asam mefenamat | 3 | 1,0 | |
| Antitusif, dekongestan, antihistamin, dan analgesik-antipiretik | Alpara | 4 | 1,3 |
| Antifungi | Mikonazole | 1 | 0,3 |
| Antialergi | Betahistin | 3 | 1,0 |
| Cetirizine | 2 | 0,7 | |
| Vitamin | Vitamin B Kompleks | 17 | 5,6 |
| Asam folat | 5 | 1,7 | |
| Vitamin B6 | 3 | 1,0 | |
| Vitamin K | 2 | 0,7 | |
| Vitamin B1 | 2 | 0,7 | |
| Vitamin B12 | 1 | 0,3 | |
| Antibiotik | Ciprofloxacin | 1 | 0,3 |
| Mukolitik | Asetilsistein | 1 | 0,3 |
| Jumlah | 301 |
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa obat yang paling banyak digunakan selain penggunaan obat DM adalah obat antihipertensi dan hipolipidemik. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar responden memiliki penyakit penyerta hipertensi dan hiperlipidemia (tabel 3). Obat yang paling banyak diresepkan dari kelas terapi antihipertensi adalah amlodipin (23,6%). Golongan CCB merupakan lini pertama terapi hipertensi dengan DM sehingga dapat digunakan untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan (Dipiro et al., 2020). Sedangkan obat yang paling banyak diresepkan dari kelas terapi hipolipidemik adalah simvastatin (16,6%). Pada individu dengan DM, disarankan untuk menggunakan obat hipolipidemik karena dianggap memiliki risiko yang sebanding dengan penderita penyakit jantung koroner (Marsellinda and Ferilda, 2022). Selain itu, Allopurinol dari kelas terapi antipirai dan vitamin B kompleks dari kelas terapi vitamin juga paling banyak diresepkan pada kelas terapinya masing-masing. Allopurinol adalah terapi lini pertama sebagai penurun asam urat (Yunita et al., 2018). Meningkatnya kadar asam urat pada diabetes mellitus tipe 2 berhubungan dengan kondisi hiperinsulinemia sehingga menyebabkan eksresi asam urat yang lebih rendah. Oleh karena itu, peningkatan kadar asam urat dapat berhubungan dengan prevalensi yang tinggi dari resistensi insulin (Pertiwi et al., 2017). Selain itu, pada sistem saraf, terjadi suatu keseimbangan antara proses degenerasi dan regenerasi. Gangguan keseimbangan ini, seperti pada penyakit kronis seperti diabetes, dapat menghambat regenerasi saraf, dan kerusakan saraf yang terjadi dapat menyebabkan neuropati. Vitamin B1, B6, dan B12 dapat dipertimbangkan sebagai pilihan untuk merangsang regenerasi sel saraf (Syahrizal et al., 2023).
Tingkat Kepatuhan
Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat kepatuhan yang sedang (74,5%). Hasil tersebut mengindikasikan bahwa perlu adanya suatu tindakan intervensi agar tingkat kepatuhan pengobatan responden dapat ditingkatkan. Pasien diabetes mellitus yang menjalani perawatan rawat jalan cenderung kurang patuh terhadap pengobatan karena kondisi klinis yang lebih baik jika dibandingkan dengan pasien yang dirawat inap di rumah sakit, sehingga mereka lebih mungkin lupa atau mengabaikan kewajiban untuk minum obat. Peningkatan kepatuhan dalam pengobatan dapat meningkatkan kemampuan pengendalian kadar gula darah sehingga dapat dipertahankan dalam batas normal dan mencapai tujuan terapi yang diharapkan (Ariani et al., 2022).
| Karakteristik | Jumlah |
Persentase (%) n = 106 |
|---|---|---|
| Kepatuhan | ||
| Sedang | 79 | 74,5 |
| 2. Tinggi | 27 | 25,5 |
Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responen memiliki tingkat pengetahuan sedang (50,0%). Hasil tersebut dapat disebabkan karena kurangnya edukasi yang didapatkan oleh responden. Menurut survey kepada tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta, sudah sejak lama di puskesmas tersebut belum pernah dilakukan kembali edukasi kepada masyarakat terkait penyakit DM termasuk pentingnya kepatuhan minum obat dan kontrol DM tiap bulan. Maka dari itu, kegiatan edukasi di puskesmas tersebut sangat diperlukan guna meningkatkan tingkat pengetahuan responden. Adapun sebaran jawaban responden pada tiap pertanyaan dapat dilihat pada tabel 7. Pertanyaan yang paling banyak dijawab dengan benar oleh responden adalah pertanyaan nomor 8 (94 orang) dan nomor 15 (94 orang). Sedangkan pertanyaan nomor 17 merupakan pertanyaan yang paling banyak dijawab responden dengan opsi jawaban tidak tahu yaitu sebanyak 40 orang (37,71%).
| Karakteristik | Jumlah |
Persentase (%) n = 106 |
|---|---|---|
| Pengetahuan | ||
| Rendah (0-9) | 17 | 16,0 |
| 2. Sedang (10-16) | 53 | 50,0 |
| 3. Tinggi (17-24) | 36 | 34,0 |
| Pertanyaan | Benar | % (n=106) | Salah | % (n=106) | Tidak Tahu | % (n=106) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 51 | 48,1 | 54 | 50,9 | 1 | 0,92 |
| 2 | 61 | 57,5 | 21 | 19,8 | 24 | 22,6 |
| 3 | 23 | 21,7 | 51 | 48,1 | 32 | 30,2 |
| 4 | 20 | 18,9 | 73 | 68,9 | 13 | 12,3 |
| 5 | 93 | 87,7 | 13 | 12,3 | 0 | 0,0 |
| 6 | 73 | 68,9 | 21 | 19,8 | 12 | 11,3 |
| 7 | 45 | 42,5 | 55 | 51,9 | 6 | 5,7 |
| 8 | 94 | 88,7 | 11 | 10,4 | 1 | 0,9 |
| 9 | 32 | 30,2 | 56 | 52,8 | 18 | 17,0 |
| 10 | 35 | 33,0 | 50 | 47,2 | 21 | 19,8 |
| 11 | 91 | 85,8 | 12 | 11,3 | 3 | 2,8 |
| 12 | 34 | 32,1 | 40 | 37,7 | 32 | 30,21 |
| 13 | 28 | 26,4 | 53 | 50,0 | 25 | 23,6 |
| 14 | 83 | 78,3 | 12 | 11,3 | 11 | 10,4 |
| 15 | 94 | 88,7 | 8 | 7,5 | 4 | 3,8 |
| 16 | 56 | 52,8 | 17 | 16,0 | 33 | 31,1 |
| 17 | 33 | 31,1 | 33 | 31,1 | 40 | 37,71 |
| 18 | 68 | 64,2 | 28 | 26,4 | 10 | 9,41 |
| 19 | 87 | 82,1 | 13 | 12,3 | 6 | 5,7 |
| 20 | 78 | 73,6 | 17 | 16,0 | 11 | 10,4 |
| 21 | 29 | 27,4 | 62 | 58,5 | 15 | 14,2 |
| 22 | 30 | 28,3 | 52 | 49,1 | 24 | 22,6 |
| 23 | 30 | 28,3 | 41 | 38,7 | 35 | 33,0 |
| 24 | 48 | 45,3 | 47 | 44,3 | 11 | 10,4 |
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan
Tingkat kepatuhan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan berdasarkan penelitian sebelumnya yaitu pengetahuan, kadar gula darah (GDS atau GDP), penghasilan, frekuensi minum obat, rejimen terapi dan lama menderita (Triastuti et al., 2020; Ratnasari et al., 2022; Yulianti and Anggraini, 2020; Diantari and Sutarga, 2019). Adapun faktor yang mempengaruhi kepatuhan dapat dilihat pada.
| Sedang | Tinggi | Nilai | IK95% | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| n | % | n | % | p | OR | Min | Max | ||
| Jenis Kelamin | Laki-laki | 29 | 72,5 | 11 | 27,5 | 0,709 | 0,844 | 0,345 | 2,062 |
| Perempuan | 50 | 75,8 | 16 | 24,2 | |||||
| Usia | < 60 tahun | 32 | 84,2 | 6 | 15,8 | 0,087 | 2,383 | 0,866 | 6,558 |
| ? 60 tahun | 47 | 69,1 | 21 | 30,9 | |||||
| Penghasilan | < UMP | 31 | 86,1 | 5 | 13,9 | 0,050 | 2,842 | 0,974 | 8,292 |
| ? UMP | 48 | 68,6 | 22 | 31,4 | |||||
| Lama Menderita | < 5 tahun | 50 | 78,1 | 14 | 21,9 | 0,294 | 1,601 | 0,662 | 3,870 |
| ? 5 tahun | 29 | 69,0 | 13 | 31,0 | |||||
| Regimen Terapi | Monoterapi | 37 | 75,5 | 12 | 24,5 | 0,830 | 1,101 | 0,458 | 2,650 |
| Kombinasi | 42 | 73,7 | 15 | 26,3 | |||||
| Frekuensi | 1x | 24 | 68,6 | 11 | 31,4 | 0,323 | 0,635 | 0,257 | 1,569 |
| > 1x | 55 | 77,5 | 16 | 22,5 | |||||
| Kadar Gula Darah | Tidak Terkontrol | 48 | 94,1 | 3 | 5,9 | 0,000* | 12,387 | 3,436 | 44,658 |
| Terkontrol | 31 | 56,4 | 24 | 43,6 | |||||
| Penyakit Penyerta | Tidak ada | 7 | 87,5 | 1 | 12,5 | 0,676 | 2,528 | 0,297 | 21,544 |
| Ada | 72 | 73,5 | 26 | 26,5 | |||||
| Pengetahuan | Rendah | 16 | 94,1 | 1 | 5,9 | 0,012* | |||
| Sedang | 42 | 79,2 | 11 | 20,8 | |||||
| Tinggi | 21 | 58,3 | 15 | 41,7 | |||||
Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa jumlah responden perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah responden laki-laki dan jenis kelamin perempuan memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi yaitu tingkat kepatuhan sedang sebanyak 50 responden (75,8%) dan tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 16 responden (24,2%). Hal tersebut dapat disebabkan karena jumlah responden perempuan yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah responden laki-laki. Adanya perbedaan dalam gaya hidup dan melakukan aktivitas seperti pola makan serta olahraga yang tidak teratur mampu mempengaruhi kepatuhan pengobatan (Dwi Larasati et al., 2023). Analisis hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan didapatkan OR 0,844 (95% Cl 0,345-2,062) dan nilai p-value = 0,709 > 0,05. Hasil tersebut bermakna pasien DM tipe 2 dengan jenis kelamin laki-laki memiliki resiko sebesar 0,844 kali untuk tidak patuh dibandingkan dengan responden dengan jenis kelamin perempuan dan secara statistik tidak bermakna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hannan (2013) di Puskesmas Bluto Sumenep bahwa jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan minum obat pasien.
Usia
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari semua kategori usia memiliki tingkat pengetahuan yang sedang dan tinggi. Tidak terdapat responden dari kategori usia manapun yang memiliki tingkat kepatuhan rendah. Hasil pengujian analisis bivariat menggunakan chi-square didapatkan bahwa nilai p-value = 0,087 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat kepatuhan pengobatan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Jasmine et al (2020) di Puskesmas Pancoran bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dengan tingkat kepatuhan minum obat karena nilai p-value nya adalah sebesar 0,275 (p > 0,05). Menurut teori, adanya peningkatan resiko terhadap intoleransi glukosa dan terjadinya penyakit DM disebabkan oleh faktor degeneratif yaitu penurunan fungsi tubuh terutama dari kemampuan sel ? untuk memproduksi insulin dalam metabolisme glukosa. Namun, hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan tingkat kepatuhan pengobatan. Hal tersebut mungkin dapat disebabkan karena pasien memiliki prioritas yang lain dalam kehidupan mereka yang menyebabkan responden tidak dapat mengonsumsi obat yang telah diresepkan tidak bisa kontrol rutin ke klinik (Jasmine et al., 2020). Menurut Natalia (2014) yang dikutip dari Agustine and Welem (2018) bahwa lansia yang tidak bisa beradaptasi dengan kondisinya tersebut maka akan merasa frustasi dan akan timbul sikap penolakan dengan kondisi yang dialaminya. Apabila kondisi ini berlanjut maka akan terjadi respon sikap tidak peduli dengan kondisinya dan menyebabkan ketidakpatuhan terhadap anjuran kesehatan terkait dengan minum obat.
Penghasilan
Hasil penelitian didapatkan bahwa faktor penghasilan memiliki nilai p-value = 0,05. Hasil tersebut memiliki makna bahwa nilai p-value tidak signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara faktor penghasilan dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rahayu et al (2022) yang menyatakan bahwa tidak memiliki hubungan yang bermakna antara penghasilan dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2. Hasil tersebut menunjukkan bahwa banyaknya penghasilan tidak berpengaruh terhadap kepatuhan penggunaan obat. Hasil serupa ditemukan pula dalam penelitian yang dilakukan oleh Arfania (2021) dengan nilai p-value sebesar 0,326 (p > 0,05) yang bermakna tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat penghasilan dengan kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2. Menurut Ulum et al (2015), bila memiliki penghasilan yang tinggi maka bisa memudahkan pasien untuk menjalankan terapi sesuai anjuran, lebih mudah untuk memeriksakan kesehatan mereka, membeli obat, dan untuk membeli alat untuk mengecek gula darah sendiri. Tetapi mereka yang berpendapatan rendah atau sedang bukan berarti tidak patuh dalam pengobatan.
Lama Menderita
Menurut hasil penelitian, didapatkan nilai p-value = 0,294 (p > 0,05), sehingga dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara lama menderita dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Triastuti et al (2020) di RSUD Kabupaten Jombang bahwa lama menderita tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pasien dengan nilai p-value = 0,177 (p > 0,05). Penelitian Kurniyawati (2020) juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara lama menderita dengan kepatuhan pengobatan. Menurut Jilao (2017) yang dikutip dari Kurniyawati (2020) tingkat kepatuhan pengobatan yang tinggi biasanya terdapat pada pasien yang baru didiagnosis karena pasien masih sangat patuh terhadap terhadap anjuran pengobatan yang diberikan, tetapi lama menderita DM tidak terlalu berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan pasien. Bagi pasien yang telah lama melakukan pengobatan tidak selalu memiliki kepatuhan yang rendah. Hal tersebut disebabkan karena kesadaran dan perilaku yang baik untuk menjaga kesehatan sehingga pasien tidak lupa untuk minum obat.
Rejimen Terapi
Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden mendapatkan terapi kombinasi dengan total 57 responden dengan kepatuhan sedang 42 responden (73,3%) dan kepatuhan tinggi sebanyak 15 responden (26,3%). Sedangkan responden yang mendapatkan monoterapi hanya berjumlah 49 responden dengan tingkat kepatuhan sedang berjumlah 37 responden (75,5%) dan tingkat kepatuhan tinggi berjumlah 12 orang (24,5%). Dari hasil pengujian didapatkan bawa nilai p-value = 0,830 (p > 0,05) sehingga hasil tersebut bermakna tidak terdapat hubungan yang signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara rejimen terapi dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ahmed et al (2017) di Saudi Arabia bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rejimen terapi dengan kepatuhan minum obat (p > 0,05). Ketidakpatuhan dapat disebabkan karena jumlah obat yang diterima oleh responden. Pada umumnya, responden yang mendapatkan obat yang banyak lebih tidak patuh terhadap pengobatannya. Menurut Bagonza et al yang dikutip dari Putri et al (2021), pasien yang mendapatkan obat DM atau bukan DM mempunyai hubungan yang baik dengan tenaga kesehatan karena pasien tersebut sudah melakukan pengobatan dalam jangka waktu yang sudah lama, sehingga mereka pun cenderung memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dalam hal menjaga kesehatannya.
Frekuensi Minum Obat
Menurut Yulianti and Anggraini (2020), frekuensi minum obat adalah salah satu faktor yang bisa mempengaruhi tingkat kepatuhan pengobatan pasien. Berdasarkan tabel 8, diketahui bahwa nilai p-value = 0,323 dan hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi minum obat dengan tingkat kepatuhan pengobatan. Hal tersebut dapat disebabkan karena terdapat kaitan dengan tingkat kesadaran pasien terhadap kepatuhan pengobatan sesuai dengan anjuran dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Apabila tidak adanya kesadaran pasien, maka berapapun jumlah obat yang diberikan tidak akan optimal dan akan menimbulkan efek yang buruk yaitu kegagalan terapi (Yulianti and Anggraini, 2020).
Kadar Gula Darah
Berdasarkan hasil penelitian, kadar gula darah memiliki nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) dan OR = 12,387. Nilai tersebut bermakna bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar gula darah dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta dan responden yang patuh memiliki kepatuhan 12x lipat daripada responden yang tidak patuh. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ratnasari et al (2022) di RSUD dr. Rubini Kabupaten Mempawah bahwa terdapat hubungan antara kadar gula darah dengan tingkat kepatuhan pengobatan DM (p-value = 0,006 < 0,05). Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Faridah et al (2022) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar gula darah dengan tingkat kepatuhan pengobatan DM (p value = 0,914 > 0,05). Adanya perbedaan hasil penelitian dapat disebabkan karena gaya hidup pasien yang berbeda sehingga menyebabkan hasil gula darah yang didapatkan pun akan beragam dan dapat mempengaruhi hasil olahan data. Kadar gula darah tergantung pada makanan yang dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh serta dipengaruhi pula oleh aktivitas sehari-hari. Kepatuhan pengobatan DM berkaitan erat dengan terkendalinya kadar gula darah (Ratnasari et al., 2022).
Penyakit Penyerta
Pada penelitian ini, mayoritas responden memiliki penyakit penyerta. Terdapat 72 responden (73,5%) dengan tingkat kepatuhan sedang dan 26 responden (26,5%) dengan tingkat kepatuhan tinggi. Faktor penyakit penyerta memiliki nilai p-value = 0,676 (p > 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit penyerta dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta. Hasil ini sejalan dengan penelitian Rasdianah et al (2016) di Puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyatakan bahwa jumlah penyakit penyerta tidak mempengaruhi kepatuhan pengobatan (p-value = 0,79 > 0,05).
Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang sedang dengan tingkat kepatuhan sedang yaitu sebanyak 42 responden (79,2%). Dari hasil penelitian diperoleh nilai p-value = 0,012 (p < 0,05). Hasil tersebut berarti terdapat ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Boyoh et al (2015) di Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan nilai p-value = 0,001 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pengobatan pengobatan DM. Pengetahuan dapat mempengaruhi kepatuhan pengobatan seseorang. Hal tersebut dapat disebabkan karena semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka akan semakin mudah untuk menerima informasi yang didapatkan.
| 95% C.I. for EXP (B) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Step 1a | B | S.E. | Wald | df | Sig. | Exp(B) | Lower | Upper | |
| Usia | -0,368 | 0,584 | 0,397 | 1 | 0,529 | 0,692 | 0,220 | 2,176 | |
| Penghasilan | -0,763 | 0,615 | 1,541 | 1 | 0,214 | 0,466 | 0,140 | 1,555 | |
| Kadar Gula Darah | -2,272 | 0,788 | 8,313 | 1 | 0,004 | 0,103 | 0,022 | 0,483 | |
| Pengetahuan | 0,122 | 2 | 0,941 | ||||||
| Pengetahuan(1) | -0,340 | 1,288 | 0,70 | 1 | 0,792 | 0,712 | 0,057 | 8,889 | |
| Pengetahuan (2) | 0,065 | 0,573 | 0,013 | 1 | 0,910 | 1,067 | 0,347 | 3,279 | |
| Step 2a | Usia | -0,347 | 0,581 | 0,357 | 1 | 0,550 | 0,707 | 0,226 | 2,208 |
| Penghasilan | 0,768 | 0,594 | 1,672 | 1 | 0,196 | 0,464 | 0,145 | 1,486 | |
| Kadar Gula Darah | 2,351 | 0,669 | 12,334 | 1 | 0,000 | 0,095 | 0,026 | 0,354 | |
| 95% C.I. for EXP (B) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| B | S.E. | Wald | df | Sig. | Exp(B) | Lower | Upper | ||
| Step 3a | Penghasilan | -0,779 | 0,593 | 1,724 | 1 | 0,189 | 0,459 | 0,144 | 1,468 |
| Kadar Gula Darah | -2,431 | 0,658 | 13,636 | 1 | 0,000 | 0,088 | 0,024 | 0,320 | |
| Step 4a | Kadar Gula Darah | -2,517 | 0,654 | 14,795 | 1 | 0,000 | 0,081 | 0,022 | 0,291 |
Variabel yang termasuk kedalam analisis multivariat adalah variabel yang memiliki nilai p-value < 0,25 pada hasil uji bivariat (chi-square). Variabel yang masuk ke dalam analisis multivariat (regresi logistik) adalah usia, penghasilan, kadar gula darah, dan pengetahuan. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor kadar gula darah memiliki nilai signifikansi atau p-value-nya sebesar 0,000 (p-value < 0,05). Hal tersebut bermakna bahwa kadar gula darah memiliki pengaruh yang paling dominan terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta dibandingkan dengan faktor usia, penghasilan, dan pengetahuan. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai sumber informasi untuk farmasis dalam menetapkan tindakan pengatasan masalah ketidakpatuhan pengobatan DM dengan dasar faktor yang berpengaruh tersebut, sehingga pasien dapat mencapai terapi yang maksimal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 79 responden (74,5%) yang memiliki tingkat kepatuhan sedang dan 27 responden (25,5%) yang memiliki tingkat kepatuhan tinggi di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta. Faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta adalah kadar gula darah dan pengetahuan. Kadar gula darah merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kotagede II Yogyakarta.
PERNYATAAN
Saya mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, kedua orang tua, keluarga, teman-teman saya, kepala serta seluruh staff dan pasien Puskesmas Kotagede II Yogyakarta yang telah membersamai dan membantu saya dalam pengambilan data penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Adikusuma W., Perwitasari D.A. and Supadmi W., 2014, Evaluasi Kepatuhan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta, Media Farmasi, 11 (2), 208–220. Terdapat di: http://www.dof.gov.my/en/c/document_library/get_file?uuid=e25cce1e-4767-4acd-afdf-67cb926cf3c5&groupId=558715.
Agrimon O.H., 2014, Exploring the Feasibility of Implementing Self-Management and Patient Empowerment through a Structured Diabetes Education Programme in Yogyakarta City Indonesia?: A Pilot Cluster Randomised Controlled Trial,.
Agustine U. and Welem L.R.R., 2018, Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Diabetes Melitus yang Berobat di Balai Pengobatan Yayasan Pelayanan Kasih A dan A Rahmat Waingapu, Jurnal Kesehatan Primer, 3 (2), 116–123. Terdapat di: https://www.ejournalwiraraja.com/index.php/FIK/article/view/72.
Ahmed N.O., Abugalambo S. and Almethen G.H., 2017, Adherence to Oral Hypoglycemic Medication Among Patients with Piabetes in Saudi Arabia, International Journal of Health Sciences, 11 (3), 45–49. Terdapat di: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28936151%0Ahttp://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=PMC5604262.
Akrom A., Sari O.M., Urbayatun S. and Saputri Z., 2019, Analisis Determinan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Tipe 2 di Pelayanan Kesehatan Primer, Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 6 (1), 54–62.
Alfian R. and Putra P.M.A., 2017, Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Medication Adherence Report Scale (Mars) Terhadap Pasien Diabetes Mellitus, Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (2), 176–183.
Arfania M., 2021, Analisis Faktor Risiko Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Mellitus Di Rumah Sakit Karawang, Jurnal Buana Farma, 1 (1), 5–9.
Ariani N., Alfian R. and Prihandiwati E., 2022, Tingkat Perilaku Pengobatan, Kepatuhan Minum Obat, Dan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus Rawat Jalan Di Rsud Brigjend. H. Hasan Basry Kandangan, Jurnal Ilmiah Manuntung, 8 (1), 156–162.
Ayutthaya S.S. and Adnan N., 2020, Faktor Risiko Hipertensi pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2, Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 9 (02), 60–71.
Boyoh M.E., Kaawoan A. and Bidjuni H., 2015, Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poliklinik Endokrin Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, Jurnal Keperawatan UNSRAT, 3 (3), 1–6.
BPS Provinsi D.I. Yogyakarta, Upah Minimum Kabupaten/Upah Minimum Provinsi di DI Yogyakarta (Rupiah), 2021-2023, Terdapat di: https://yogyakarta.bps.go.id/indicator/6/272/1/upah-minimum-kabupaten-upah-minimum-provinsi-di-di-yogyakarta.html [Diakses pada May 26, 2023].
Diantari I.A.P.M. and Sutarga I.M., 2019, Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Wilayah Kerja Puskesmas Tabanan II Tahun 2019, Archive Community Health, 6 (2), 40–50.
Dipiro J.T., Yee G.C., Posey L.M., Haines S.T., Nolin T.D. and Ellingrod V., 2020, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 11th Edition, Mc Graw Hill, New York City.
Dwi Larasati Y., Nurmainah N. and Susanti R., 2023, Kepatuhan Minum Obat Antidiabetika Oral Pasien Ulkus Diabetikum Rawat Jalan di Klinik X Pontianak Menggunakan Metode Kualitatif MMAS-8, Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 3 (1), 166–174.
Faridah I.N., Perwitasari D.A., Maer K., Octapermatasari R. and Novitasari L., 2022, Traditional Medicine and Its Impact on Patient Outcomes in Type 2 Diabetes Mellitus Therapy, Indonesian Journal of Pharmacy, 33 (4), 621–629.
Hannan M., 2013, Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Mellitus Di Puskesmas Bluto Sumenep, Jurnal Kesehatan Wiraraja Medika, 3 (2), 47–55. Terdapat di: https://www.ejournalwiraraja.com/index.php/FIK/article/view/72.
Jasmine N.S., Wahyuningsih S. and Thadeus M.S., 2020, Analisis Faktor Tingkat Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Pancoran Mas Periode Maret – April 2019, Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia, 8 (1), 61–66. Terdapat di: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jmki/article/view/24742.
Katadi S., Andayani T.M. and Endarti D., 2019, Hubungan Kepatuhan Pengobatan dengan Outcome Klinik dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2, Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi (Journal of Management and Pharmacy Practice), 9 (1), 19–26.
Kemenkes RI, 2018, Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (RISKEDAS), Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Terdapat di: https://doi.org/10.1088/1751-8113/44/8/085201.
Kurniyawati N.D., 2020, Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II, Higeia Journal of Public Health Research and Development, 4 (3), 492–505.
Larasati L.A., Andayani T.M. and Kristina S.A., 2019, Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Outcome Klinik Pasien Diabetes Melitus Tipe 2, Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi (Journal of Management and Pharmacy Practice), 9 (2), 101–108.
Marsellinda E. and Ferilda S., 2022, Evaluasi Terapi Obat Dislipidemia Pada Pasien Diabetes Melitus yang Mengalami Dislipidemia yang Dirawat di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah, Menara Ilmu, 16 (1), 15–20.
Mokolomban C., Wiyono W.I. and Mpila D.A., 2018, Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Disertai Hipertensi Dengan Menggunakan Metode Mmas-8, Pharmacon: Jurnal Ilmiah Farmasi, 7 (4), 69–78.
Muhasidah, Hasani R., Indirawaty and Majid N.W., 2019, Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Pola Makan dengan Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar, Jurnal Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar, 10 (2), 85–91.
Mutmainah N., Ayubi M. Al and Widagdo A., 2020, Kepatuhan dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit di Jawa Tengah, Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Farmasi Indonesia, 17 (2), 165–173.
Notes M.M., 2019, Basic Pharmacology & Drugs Notes, Dalam Basic Pharmacology & Drug Notes, MMN Publishing, Makassar, p. 162.
PERKENI, 2021, Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia, PB. Perkeni, Jakarta. Terdapat di: www.ginasthma.org.
Pertiwi N.M.L., Wande I.N. and Mulyantari N.K., 2017, Prevalensi Hiperurisemia pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali periode Juli-Desember 2017, Medika Udayana, 8 (10), 6–10.
Puspitasari and Aliviameita A., 2018, Hubungan Profil Lipid Dengan Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus, Journal of Medical Laboratory Science/Technology, 1 (2), 77–83.
Putri A.H., Setiani L.A. and Nurdin N.M., 2021, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Penggunaan Obat Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Rumah Sakit PMI Kota Bogor, Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, (April 2021), 41–48. Terdapat di: https://prosiding.farmasi.unmul.ac.id/index.php/mpc/article/view/441/424.
Rahayu K.P., Widiastuti T.C. and Khuluq H., 2022, Evaluation Of Compliance Of Drug Use in Type 2 Diabetes Mellitus Patients in Outpatient Departement at Purbowangi Hospital, Prosiding 16th Urecol: Seri MIPA dan Kesehatan, 16 (16), 888–897.
Rasdianah N., Martodiharjo S., Andayani T.M. and Hakim L., 2016, Gambaran Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta, Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 5 (4), 249–257.
Ratnasari D.A., Nurmainah and Andrie M., 2022, Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pasien DM Tipe 2 di Rumah Sakit, Journal Syifa Sciences and Clinical Research (JSSCR), 4 (2), 427–36.
Sammeng W. and Lestaluhu V., 2021, Status Gizi, Tekanan Darah dan Kadar Glukosa Darah Pada Peserta Majelis Taklim Di Kota Ambon, Gorontalo Journal of Nutrition Dietetic, 1 (2), 82–88.
Syahrizal, Asril A.R. and Keumala C.P., 2023, Pengaruh Vitamin B Pada Pasien Neuropati Diabetik, Rumpun Ilmu Kesehatan (JRIK), 3 (2)
Triastuti N., Irawati D.N., Levani Y. and Lestari R.D., 2020, Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Konsumsi Obat Antidiabetes Oral pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Jombang, Medica Arteriana (Med-Art), 2 (1), 27.
Ulum Z., Kusnanto and Widyawati Ik.Y., 2015, Kepatuhan Medikasi Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Berdasarkan Teori Health Belief Model (Hbm) Di Wilayah Kerja Puskesmas Mulyorejo Surabaya, Critical, Medical, and Surgical Nursing Journal, 3 (1), 1–14. Terdapat di: zahrotun.ulum@gmail.com.
Yulianti T. and Anggraini L., 2020, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pengobatan pada Pasien Diabetes Mellitus Rawat Jalan di RSUD Sukoharjo, Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia, 17 (2), 110–120.
Yunita E.P., Fitriana D.I. and Gunawan A., 2018, Hubungan antara Obesitas, Konsumsi Tinggi Purin, dan Pengobatan terhadap Kadar Asam Urat dengan Penggunaan Allopurinol pada Pasien Hiperurisemia, Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 7 (1), 1–9.
ZA M., Gayatri S.W., Pramono S.D., Hidayati P.H. and Syamsu R.F., 2022, Hubungan antara Dislipidemia dengan Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar, Fakumi Medical Journal, 2 (5), 359–367. Terdapat di: http://103.133.36.76/index.php/fmj/article/view/122%0Ahttp://103.133.36.76/index.php/fmj/article/download/122/110.
Zakiudin A., Irianto G., Badrujamaludin A., Rumahorbo H. and Susilawati S., 2022, Validation of the Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ) With an Indonesian Population, KnE Medicine, 99–108.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Jessica Rosalinda, Ambar Yunita Nugraheni (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









