Pengaruh Edukasi Pencegahan COVID-19 terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Cuci Tangan pada Siswa di SMK Muhammadiyah Kartasura
Keywords:
COVID-19, Hand wash, Education, Knowledge, Attitude, Piety, PatriotismAbstract
SARS-CoV-2 or COVID-19 is transmitted through close contact exposure or direct transmission from asymptomatic, asymptomatic, or symptomatic individuals who contain the virus. So preventive measures are needed, such as washing hands properly. Hand hygiene is a barrier to transmission through objects or materials that allows transmission with a lower risk. The research method used is quantitative with a quasi-experimental type of research. In the research, a pretest and posttest were carried out to determine the extent of knowledge and attitudes before and after being given education. There is an influence on the results of the Wilcoxon test with a p-value in the pre-test of 0.009 < 0.05 and in the post-test so that there is an influence of hand washing education using the lecture method on knowledge, Covid-19 prevention education using the lecture method which is based on national defense has an influence on increasing hand washing attitudes in Muhammadiyah Vocational School students with a p-value of 0.037 < 0.05. The results of the research showed that there was a change in the knowledge and attitude values of Muhammadiyah Kartasura Vocational School students so the education provided had an influence on the knowledge and attitudes of Kartasura Muhammadiyah Vocational School students.
PENDAHULUAN
Covid-19 berdampak pada beberapa negara dari segi ekonomi maupun kesehatan. Tahun 2020 penyakit Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 pertama kali dilaporkan di Wuhan China diikuti dengan munculnya kasus positif pertama di Indonesia dengan gejala batuk, demam dan sesak nafas pada maret 2020 akhirnya Organisasi Kesehatan Dunia memberi nama Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) (Gorbalenya et al., 2020; (Kemenkes RI, 2020)). Adanya virus SARS CoV-2(Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2) memberikan gejala yang berat pada sistem pernafasan hal yang sama terjadi pada tahun 2002 dan 2012 berasal dari hewan liar yang akhirnya dapat masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi manusia (Andersen et al., 2020).
Angka kejadian penyakit penularan utama SARS-CoV-2 adalah melalui paparan tetesan pernapasan yang membawa virus menular dari kontak dekat atau penularan langsung dari individu yang tidak menunjukkan gejala, tanpa gejala, atau bergejala yang mengandung virus (Sharma A., et al). Covid-19 di dunia pada tanggal 8 Mei 2020 mencapai 3.679.499 orang dengan angka kematian 254.199 orang di 215 negara (WHO, 2020).
Kasus Positif Covid-19 dalam unggahan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara 6.001.751 kasus konfirmasi positif, 5.724.963 kasus sembuh dan 154.774 meninggal. (Menpan, 2022) sedangkan Provinsi Jawa Tengah memiliki total kasus positif Covid-19 sebanyak 486.196 kasus, 30.287 kasus meninggal, 455.599 kasus sembuh atau selesai isolasi. Sedangkan Kabupaten Sukoharjo terdapat 11.760 kasus positif Covid-19, sebanyak 1.127 meninggal dan 10.472 kasus sembuh dan selesai isolasi mandiri (BPS Jawa Tengah, 2022). Himbauan Pemerintah kepada Masyarakat untuk melakukan berbagai langkah pencegahan, langkah tersebut meliputi melakukan physical distancing, menggunakan masker, rutin mencuci tangan, meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan.
Ada banyak orang berpikir bahwa mencuci tangan sesering mungkin akan membuang waktu. Padahal sejumlah virus dan bakteri dapat bertahan hidup di permukaan benda dalam waktu yang lama. Hal tersebut menjadikan cuci tangan penting dilakukan, terutama dalam masa pandemi Covid-19. Meskipun tangan terlihat bersih masih ada kemungkinan untuk tertular penyakit, virus, bakteri dan parasit yang merupakan organisme mikroskopis yang tak kasat mata (Shiddiq, 2021).
Sebuah penelitian QMRA juga mengevaluasi efektivitas langkah-langkah pencegahan yang mengurangi risiko penularan fomite dan menemukan bahwa kebersihan tangan dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan SARS-CoV-2 dari permukaan yang terkontaminasi, sementara disinfeksi permukaan yang dilakukan sekali atau dua kali sehari dapat mengurangi risiko penularan virus. dampaknya kecil dalam mengurangi perkiraan resiko (Pitol, 2020)
Cuci tangan adalah salah satu tindakan membersihkan tangan dengan air mengalir dan sabun yang berbasis alkohol, mencuci tangan selalu dilakukan karena kuman tersebar dimana-mana dan tak kasat mata, sakit bisa disebabkan respon tubuh dalam melawan serangan bakteri dan virus lainnya yang masuk ke dalam tubuh, maka dari itu satu-satunya cara yang efektif untuk hidup sehat dengan mencuci tangan dengan baik dan benar (Shiddiq, 2021).
Kebersihan tangan merupakan penghalang penularan melalui benda atau bahan yang memungkinkan penularan dengan risiko yang lebih rendah (Doung-Ngern.et, al 2021). Dalam penelitian yang dilakukan Wahyuni dengan responden berbagai tingkat Pendidikan, yaitu SMA, DIII dan S1 diketahui bahwa (64%) responden memiliki pengetahuan yang baik, dan masih ada (36%) responden yang memiliki pengetahuan yang buruk (Wahyuni, 2021).
Edukasi Kesehatan berpengaruh pada peningkatan pengetahuan maupun sikap dalam pencegahan Covid-19. Penelitian pendahulu Lutfi et., al. (2021) menyebutkan bahwa edukasi berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan secara signifikan. Penelitian lainnya menyebutkan edukasi menggunakan video terbukti meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa Madrasah Ibtidaiyah Kota Bengkulu oleh Ramadhan dkk. Terlebih lagi peningkatan pengetahuan hanya terdapat perubahan 5,4% (Kaim, et., al. 2020) diperkuat dengan sebanyak 31% yang memiliki sikap yang buruk mencuci tangan dari edukasi yang dilakukan Zukmadini dkk.
Negara China memiliki empati yang tinggi dan nasionalisme sebagai dasar solidaritas, biaya yang dikeluarkan untuk penanggulangan pandemi sangat besar mencapai 1000.000 yuan jika dirupiahkan kurang lebih 2 milyar yang melahirkan solidaritas nasionalisme dan rumah sakit yang dibangun dengan waktu kurang lebih satu minggu dikhususkan untuk penderita Covid-19 (Yeohphantong & Shih, 2021).
Pendidikan yang berjalan di Indonesia fokus pada pengembangan intelek atau kognitif, sebagai penyeimbang diberikan penerapan Pendidikan karakter saat ini (Riany, 2023). Penerapan ketaatan kepada tuhan dapat memberikan contoh secara langsung sehingga berdampak pada budaya dan tingkah laku siswa (Bustami, 2018).
Berdasarkan uraian yang disajikan, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh edukasi covid-19 terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap Di SMK Muhammadiyah dengan menambahkan unsur bela negara dan sikap kesalehan. Penelitian dilakukan di SMK Muhammadiyah Kartasura karena merupakan sekolah yang berada didalam wilayah sukoharjo dan merupakan sekolah muhammadiyah yang memiliki tim penggerak Covid-19.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif desain quasi experimental dengan pendekatan one group pre-test and post test untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap pengetahuan dan sikap setelah diberikan edukasi mengenai pencegahan Covid-19. Penelitian telah dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada 15 Oktober 2022. Populasi pada penelitian ini adalah kelas 11 jurusan Teknik otomotif dan tata busana. Total sampel dalam penelitian sebanyak 35 responden pada kelompok intervensi menggunakan metode ceramah dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan kebetulan, siapa saja responden yang tersedia pada tempat sesuai dengan konteks penelitian, dengan tujuan untuk menentukan jumlah minimal pengambilan responden.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah edukasi pencegahan Covid-19. Edukasi pencegahan Covid-19 dilakukan dengan menyebarkan informasi mengenai pencegahan Covid-19 pada siswa SMK Muhammadiyah Kartasura yang berisi cara, fungsi dan keuntungan cuci tangan serta akibat tidak cuci tangan. Ada 3 tahapan dalam penelitian ini, tahap pertama pengambilan pre-test, tahap kedua dilakukan intervensi edukasi pencegahan Covid-19 melalui ceramah, tahap ketiga dilakukan pengambilan data post-test dengan soal yang sama. Waktu intervensi selama ±60 menit serta kuis dan permainan mengenai intervensi yang telah diberikan.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap cuci tangan yang didasari kesalehan serta bela negara. Pengetahuan cuci tangan adalah kemampuan responden untuk mengetahui dan menjawab kuesioner meliputi cara, fungsi dan keuntungan cuci tangan serta akibat tidak cuci tangan yang terdiri dari 14 pertanyaan. Cara mengukur Tingkat pengetahuan dengan skor 1 jika jawaban benar dan skor 0 jika salah. Skor pengetahuan dibagi menjadi 3 kategori yaitu kurang (?60%), kategori cukup (60-75%), kategori baik (?76-100%).
Sikap cuci tangan adalah adanya pendapat mengenai kuesioner gizi yang meliputi kemauan cuci tangan yang didasari kesalehan dan cara cuci tangan yang baik dan benar yang didasari sikap bela negara. Pernyataan sikap sebanyak 5 soal positif sikap kesalehan dan 9 soal positif sikap bela negara. Pernyataan diberikan skor yaitu sangat setuju (SS) = 5; setuju (S) = 4; netral (N) = 3; tidak setuju (TS) = 2; sangat tidak setuju (STS) = 1. Skor Sikap dibagi menjadi 3 kategori yaitu kurang (?60%), kategori cukup (60-75%), kategori baik (?76-100%).
Analisis data dilakukan dengan uji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov dengan hasil distribusi tidak normal, selanjutnya analisis univariat dan bivariat. analisis univariat untuk mendeskripsikan masing-masing variabel dan analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah diberikan edukasi pencegahan Covid-19.
HASIL
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 35 responden yang diberikan perlakuan edukasi yang sama, karakteristik responden disajikan pada Tabel 1 dibawah ini.
| Karakteristik Responden | Variabel | |
|---|---|---|
| Jumlah | Persentase (%) | |
| Usia | ||
| 15 Tahun | 19 | 54,4% |
| 16 Tahun | 14 | 40% |
| 17 Tahun | 12 | 5,7% |
| Jenis Kelamin | ||
| Laki-laki | 15 | 43,9% |
| Perempuan | 20 | 47,1% |
Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa dari 35 Responden sebanyak 20 (57,1%) memiliki jenis kelamin Perempuan dan laki-laki 15 (43,9%), usia mayoritas responden yaitu 15 Tahun sebanyak 19 responden (54,4%) dan paling sedikit usia 17 Tahun 2 responden (5,7%).
| N | Rata-rata | Std. Deviation | Minimal | Maximal | Selisih | P -value | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pre-Test | 35 | 7,22 | 1,1311 | 5,9 | 6,60 | 1,37 | 0,009 |
| Post-Test | 35 | 8,59 | 0,8724 | 9,3 | 10,0 |
Berdasarkan hasil Tabel 2 diketahui bahwa, 35 siswa memiliki rata-rata pengetahuan sebesar 7,22 sebelum diberikan edukasi pencegahan Covid-19 dengan metode ceramah sedangkan hasil rata-rata pengetahuan siswa setelah diberikan edukasi pencegahan Covid-19 dengan metode ceramah mengalami peningkatan sebesar sebesar 1,37 menjadi 8,59. Pada penelitian ini dan hasil uji wilcoxon dengan nilai p-value pada pre-test sebesar 0,009 < 0,05 dan pada post-test sehingga terdapat pengaruh edukasi cuci tangan dengan metode ceramah terhadap pengetahuan.
| Variabel | Pre-test | Post-test | P-value | ||
|---|---|---|---|---|---|
| Jumlah (f) | Persentase (%) | Jumlah (f) | Persentase (%) | ||
| Sikap Kesalehan | 0,097 | ||||
| Baik | 9 | 25,7% | 29 | 82,9% | |
| Cukup | 26 | 74,3% | 6 | 17,1% | |
| Kurang | - | - | - | - | |
| Rata-rata | 8,19 | 8,64 | |||
| Sikap Bela Negara | 0,037 | ||||
| Baik | 11 | 31,4% | 31 | 88,6% | |
| Cukup | 24 | 68,6% | 4 | 11,4% | |
| Kurang | - | - | - | - | |
| Rata-rata | 8,35 | 8,76 | |||
Hasil uji pengaruh pada Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata sikap kesalehan dan bela negara saat sebelum (pre test) dan sesudah(post-test) diberikan edukasi pencegahan Covid-19. Pada rata-rata sikap kesalehan, sebelum dan sesudah edukasi pencegahan Covid-19 sebanyak 0,45. Rata-rata sikap bela negara, sebelum dan sesudah edukasi pencegahan Covid-19 sebanyak 0,41.
Sebanyak 9 (25,7%) responden memiliki sikap kesalehan baik sebelum (pre-test) diberikan edukasi pencegahan Covid-19, data sesudah (post-test) menunjukkan 29 (82,9%)memiliki sikap kesalehan baik. Pada Variabel bela negara sebanyak 11 (31,4%) responden yang memiliki sikap bela negara baik sebelum (pre-test) diberikan edukasi pencegahan Covid-19, setelah (post-test) diberikan edukasi pencegahan Covid-19 menjadi 31 (88,6%).
Dalam hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi pencegahan Covid-19 dengan metode ceramah yang didasari bela negara memiliki pengaruh terhadap peningkatan sikap cuci tangan pada siswa SMK Muhammadiyah dengan p-value 0,037 < 0,05. Sedangkan, pada edukasi pencegahan Covid-19 dengan metode ceramah yang didasari kesalehan dengan p-value 0,097 > 0,05 menunjukkan tidak terdapat pengaruh pada sikap cuci tangan siswa Smk Muhammadiyah Kartasura.
PEMBAHASAN
Peningkatan Pengetahuan siswa setelah diberikan edukasi pencegahan Covid-19
Berdasarkan analisis yang dilakukan pada penelitian ini, terdapat pengaruh yang signifikan dengan p-value sebesar 0,009 < 0,05. Nilai pengetahuan sebelum (pre-test) edukasi pencegahan Covid-19 dengan metode ceramah sebesar 7,22 meningkat 1,37 menjadi 8,59. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh edukasi cuci tangan dengan metode ceramah yang memasukkan nilai-nilai bela negara dan kesalehan terhadap peningkatan pengetahuan cuci tangan untuk mencegah Covid-19 pada siswa SMK Muhammadiyah Kartasura.
Penelitian ini memperkuat bukti bahwa edukasi pencegahan Covid-19 dengan metode ceramah berpengaruh dalam peningkatan pengetahuan Siswa SMK Muhammadiyah Kartasura. Ceramah merupakan metode yang tepat digunakan sebagai edukasi siswa (Jatmiko et al., 2018). Edukasi kesehatan sebagai salah satu model promosi kesehatan yang secara signifikan dapat menimbulkan perubahan perilaku kearah yang lebih sehat (Nahak et al., 2022). Sesuai dengan penelitian sebelumnya, bahwa edukasi dengan menggunakan metode ceramah dapat meningkatkan rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi menggunakan metode ceramah (Kasma, 2020)
Pemberian ceramah yang didasari dengan bela negara sebagai salah satu upaya guna pembangunan karakter bangsa yang tertuang dalam nawacita pada penanaman nilai patriotisme (Supriyono, 2021). Pengetahuan, sikap dan perilaku seseorang bela negara yang memberikan kesetiaan setinggi-tingginya kepada pancasila dan siap berkorban demi tanah air (Ermini dkk, 2022). Ceramah yang dilakukan menyangkut dengan nilai bela negara dan kesalehan dimana didalamnya dicantumkan mengenai penanaman rasa cinta tanah air dan rasa syukur atas rezeki kesehatan yang diberikan Allah. Cuci tangan seharusnya menjadi kebiasaan baik dalam perilaku hidup sehari-hari baik dalam masa pandemi maupun di luar masa pandemi karena itu merupakan salah satu bukti rasa syukur dan cinta tanah air.
Usia mayoritas responden pada penelitian yaitu 15 Tahun sebanyak 19 responden (54,4%) dan paling sedikit usia 17 Tahun 2 responden (5,7%). Usia tersebut termasuk kategori remaja awal dan remaja pertengahan, dalam masa tersebut merupakan usia rawan masuk kebiasaan dan pengaruh lingkungan (Djannah, 2023). Untuk memupuk patriotisme dan nasionalisme selama pandemi COVID-19, penting untuk mempertimbangkan usia di mana individu paling mudah menerima nilai-nilai tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa masa remaja merupakan masa kritis bagi perkembangan nasionalisme dan bela negara (Dariyo, 2018).
Masa remaja merupakan masa formatif dimana individu rentan terhadap pengaruh luar sehingga merupakan masa yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai bela negara dan nasionalisme (Dariyo, 2018). Kondisi yang ada dalam organisasi dan gerakan yang dirancang untuk remaja terbukti sesuai dengan kebutuhan spesifik usia remaja, sehingga menjamin efektivitas pendidikan bela negara (Lukina & Bulankov, 2020; Beskrovnaya et al., 2018). Selain itu, studi tentang persepsi warga negara terhadap patriotisme di berbagai generasi di Rusia modern telah menjelaskan strategi untuk memupuk patriotisme, dan menekankan pentingnya menargetkan remaja untuk inisiatif tersebut (Petrash, 2023). Penelitian ini menyoroti pengetahuan remaja yang meningkat dalam pencegahan Covid-19 melalui cuci tangan setelah dilakukan edukasi yang mengintegrasikan nilai-nilai patriotik dalam pencegahan COVID-19.
Peningkatan sikap siswa setelah diberikan edukasi pencegahan Covid-19
Edukasi pencegahan Covid-19 dengan memasukkan nilai kesalehan pada penelitian ini tidak berpengaruh terhadap sikap kesalehan siswa dalam pencegahan Covid-19 melalui ketaatan mencuci tangan dengan benar dengan nilai rata-rata sikap sebelum edukasi adalah 8,19 dan sesudah diberikan intervensi edukasi yaitu 8,64 ( p-value 0,097> 0,05). Sementara itu, sikap bela negara siswa dalam pencegahan Covid-19 ternyata meningkat setelah dilakukan edukasi memasukkan nilai-nilai bela negara dalam pencegahan Covid-19, yaitu rata-rata sikap sebelum dilakukan edukasi pencegahan Covid-19 dengan nilai 8,35 dan sesudah dengan nilai 8,76 (p-value 0,037< 0,05).
Dari pernyataan sikap kesalehan, skor sikap responden masih rendah pada pernyataan “melakukan pencegahan Covid-19 merupakan bentuk ketaatan pada perintah Tuhan dalam menjadi pemakmur bumi”. Hal ini dapat dimengerti karena datangnya Covid-19 sebagai suatu pandemi baru menimbulkan pandangan yang berbeda-beda dalam masyarakat, yaitu sebagai ujian, musibah, ataupun laknat dari Allah (Jubba, dkk., 2021) sehingga bila melakukan pencegahan Covid-19 seperti cuci tangan dapat dikatakan sebagai bentuk ibadah dan menjadi pemakmur bumi dengan turut menanggulangi wabah Covid-19. Namun sebaliknya, ada juga masyarakat yang menganggap bahwa pandemi Covid-19 adalah suatu cobaan atau ujian dari Allah yang harus dihadapi dengan sabar dan tawakal. Persepsi yang tidak tepat terhadap sabar dan tawakal membuat orang merasa tidak perlu menghindari atau mencegah penularan, pasrah saja pada Tuhan apakah akan tertular atau tidak tanpa melakukan tindakan sabar yang aktif (melakukan pencegahan). Dalam Islam, ini disebut sabar dan tawakal yang tanpa ada ikhtiar atau usaha (Setiawan dan Mufarihah, 2021).
Penelitian ini menunjukkan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai agama pada komunitasi agama seperti di sekolah-sekolah berbasis Islam (atau agama lain) untuk menumbuhkan dorongan kuat untuk melakukan pencegahan Covid-19 (atau pandemi lainnya) sebagai bentuk ibadah atau ketaatan pada Tuhan dalam menjaga diri, masyarakat, dan lingkungan. Sikap ketaatan memiliki pengaruh besar dalam perilaku sehari-hari, ketaatan kepada sang pencipta merupakan bentuk pribadi seseorang (Yanuarti, 2018).
Sementara itu, nilai-nilai bela negara dalam edukasi pencegahan Covid-19 dalam penelitian ini terbukti meningkat setelah dilakukan edukasi yang mengintegrasikan nilai-nilai bela negara dalam mencegah Covid-19 (p-value 0,037). Mudjiyanto, B., & Dunan, A. (2021) menekankan bahwa di masa pandemi Covid-19, nilai-nilai bela negara yang tercantum dalam sila-sila pada Pancasila yang paling relevan dan penting untuk diwujudkan adalah gotong royong, yaitu sikap saling membantu, bekerja sama, dan berbagi tanggung jawab dalam mengatasi masalah bersama.
Contoh konkrit dari implementasi gotong royong dalam masyarakat Indonesia di masa pandemi ini, seperti: Menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan, serta mengikuti anjuran pemerintah terkait PSBB, vaksinasi, dan lain-lain, tidak menyebarkan berita hoax, fitnah, atau provokasi yang dapat meresahkan masyarakat, melanggar hukum, atau mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa, membantu masyarakat, teman, kerabat, atau tetangga yang kesusahan, terutama yang terkena dampak Covid-19, baik secara materi, moril, maupun spiritual, menghormati dan mendukung tenaga medis, TNI/Polri, dan relawan yang berjuang di garda terdepan dalam menangani Covid-19, serta mengapresiasi kinerja pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait Covid-19, serta menjaga keseimbangan dan keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan, dengan menjalankan ajaran dan nilai-nilai agama dan etika yang dianutnya.
Cuci tangan meskipun terlihat sebagai kegiatan pribadi, namun bila semua orang taat mencuci tangan dalam rangka mencegah Covid-19 maka ini menjadi tindakan kolektif dalam membela negara, dalam menjaga negara agar tidak berlama-lama mengalami pandemi Covid-19. Hal ini didukung oleh penelitian Rupar, dkk (2021) menyelidiki peran patriotisme, khususnya patriotisme konstruktif, patriotisme konvensional, dan glorifikasi, di tengah pandemi COVID-19.
Temuan penelitian itu menyoroti pentingnya nilai-nilai patriotisme dalam meningkatkan kepatuhan terhadap tindakan COVID-19. Studi Rupar (2021) memberikan wawasan tentang sifat patriotisme yang beragam dan dampaknya terhadap respons krisis yang menunjukkan bahwa individu dengan rasa patriotisme konstruktif yang kuat lebih cenderung terlibat aktif dalam upaya memerangi krisis, termasuk mematuhi langkah-langkah pencegahan COVID-19. Bentuk patriotisme ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan solidaritas kolektif, sehingga mengarah pada kepatuhan yang lebih besar terhadap tindakan pencegahan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Karakteristik responden diketahui bahwa dari 35 Responden sebanyak 20 (57,1%) memiliki jenis kelamin Perempuan dan laki-laki 15 (43,9%), usia mayoritas responden yaitu 15 Tahun sebanyak 19 responden (54,4%) dan paling sedikit usia 17 Tahun 2 responden (5,7%).
Terdapat pengaruh edukasi pencegahan Covid-19 dengan metode ceramah yang memasukkan nilai-nilai kesalehan dan bela negara terhadap pengetahuan dan sikap bela negara secara signifikan. Secara keseluruhan, studi ini berkontribusi pada pemahaman tentang potensi memasukkan nilai-nilai patriotisme dalam pencegahan pandemi COVID-19 sebagai identitas nasional yang positif dapat mendorong kepatuhan terhadap langkah-langkah pencegahan COVID-19, yang pada akhirnya berkontribusi pada manajemen krisis, mengurangi kematian dan kesakitan akibat Covid-19, dan secara keseluruhan meningakatkan derajad kesehatan masyarakat di masa pandemi.
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengeksplorasi materi dan bentuk media yang digunakan untuk edukasi kesehatan yang memasukkan nilai-nilai kesalehan dan bela negara untuk mencegah atau mengatasi penyakit yang menuntut kerja sama kolektif (bermasyarakat/bersama-sama) dalam pencegahan maupun penanggulangannya.
DAFTAR PUSTAKA
Andersen, K. G., Rambaut, A., Lipkin, W. I., Holmes, E. C., & Garry, R. F. (2020). The proximal origin of SARS-CoV-2. Nature medicine, 26(4), 450-452.
Beskrovnaya, O. V., Ivannikov, S. V., & ???????, ?. ?. (2018). Patriotic education of youth in the social organization “dynamo”: history and modernity. Tambov University Review. Series: Humanities, (174), 135-142. https://doi.org/10.20310/1810-0201-2018-23-174-135-142
BPS Provinsi Jawa Tengah. (2022). Kasus Kumulatif Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah
Busthami, S. H. (2018). Pendidikan Berbasis Adab Menurut A. Hassan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 15(1), 1-18.
Dariyo, A. (2018). Peran pengasuhan otoritatif terhadap patriotisme remaja: dengan mediator kepuasan hidup dan nasionalisme. Jurnal Ketahanan Nasional, 24(3), 326. https://doi.org/10.22146/jkn.38715
Djannah, R., & Wisudawati, W. (2023). Pengaruh Pendidikan Gizi dan Anemia Terhadap Pengetahuan Remaja Tentang Pencegahan Anemia. Jurnal Ilmu Kesehatan Karya Bunda Husada, 9(1), 10-17.
Doung-Ngern P., Suphanchaimat R., Panjangampatthana A., Janekrongtham C., Ruampoom D., Daochaeng N., Eungkanit N., Pisitpayat N., Srisong N., Yasopa O., Plernprom P., Promduangsi P., Kumphon P., Suangtho P., Watakulsin P., Chaiya S., Kripattanapong S., Chantian T., Bloss E. Case-Control Study of Use of Personal Protective Measures and Risk for SARS-CoV 2 Infection, Thailand. Emerging Infectious Diseases. 2020;26(no. 11):2607–2616. vol. pp. [PMC free article] [PubMed] [Reference list]
Ermini, E., Suryati, S., Disurya, R., Husnulwati, S., Sardana, L., Wahyuningsih, S., & Najib, M. (2022). MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENANAMAN DAN PEMAHAMAN NILAI-NILAI PANCASILA DI SMA NEGERI 1 LEMPUING. Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat), 5(2), 236-242.
Gorbalenya, A. E., Baker, S. C., Baric, R. S., de Groot, R. J., Drosten, C., Gulyaeva, A. A., ... & Ziebuhr, J. (2020). Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus: The species and its viruses–a statement of the Coronavirus Study Group. BioRxiv.
Jatmiko, S. W., Romanda, F., & Hidayatulloh, M. A. A. (2018). Pengaruh penyuluhan metode ceramah dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit tuberkulosis. Jurnal Litbang Sukowati: Media Penelitian Dan Pengembangan, 2(1), 1-7.
Jubba, H. F. N. N. P. W. I. J. J., Ferdaus, N. N., Pratiwi, W. I., & Juhansar, J. (2021). Persepsi masyarakat terhadap pandemi COVID-19. Dialektika, 14(1), 1-16.
Kaim, A., Jaffe, E., Siman-Tov, M., Khairish, E., & Adini, B. (2020). Impact of a brief educational intervention on knowledge, perceived knowledge, perceived safety, and resilience of the public during COVID-19 crisis. International journal of environmental research and public health, 17(16), 5971.
Kasma, A. Y., & Ayumar, A. (2020). Pengaruh Permainan Simulasi Terhadap Pengetahuan Tentang Perilaku Hygiene Menstruasi Di SMAN 1 Sabbangparu Kabupaten Wajo. Jurnal Mitrasehat, 10(2), 186-192.
Kosasih, C. E., Solehati, T., & Lukman, M. (2018). Pengaruh Edukasi Kesehatan Bahaya Rokok Terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Kesehatan, 11(1), 1-8.
Lukina, A. and Bulankov, V. (2020). Detsko-youthful movement «warmia» in the system of patriotic education of children and youth. Social'naja Politika I Social'noe Partnerstvo (Social Policy and Social Partnership), (5), 67-70. https://doi.org/10.33920/pol-01-2005-11
Luthfi, A. H., Khairunnas, K., Fitri, S. M., & Zakiyuddin, Z. (2021). PENGARUH EDUKASI KESEHATAN TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN PENCEGAHAN COVID-19 PADA SISWA SDN PEUNAGA KEC. MEUREUBO KAB. ACEH BARAT. Jurnal Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (Jurmakemas), 1(2), 97-109.
Martilova, D. (2020). Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Remaja Dalam Pencegahan Hiv Aids Di Sma N 7 Kota Pekanbaru Tahun 2018. JOMIS (Journal of Midwifery Science), 4(1), 63-68.
Mudjiyanto, B., & Dunan, A. (2021). IMPLEMENTASI NILAI PANCASILA DI SAAT PANDEMI COVID-19. Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa, 2(2).
MenPan. (2022). Angka Kasus COVID-19 Terus Membaik
Nahak, M. P. M., Naibili, M. J. E., Isu, Y. K., & Loe, M. G. (2022). Pendidikan Kesehatan tentang Pencegahan Anemia melalui Kombinasi Metode Ceramah dan Leaflet pada Remaja Putri di SMAN 3 Atambua. Abdimas Galuh, 4(1), 554-562.
Petrash, E. (2023). Ociocultural factors influencing patriotic education in modern russia. ITNOU: Information Technologies in Science, Education and Management, 2(21), 34-49. https://doi.org/10.47501/itnou.2023.2.34-49
Pitol A. K., Julian T. R. Community transmission of SARS-CoV-2 by fomites: Risks and risk reduction strategies. Environmental Science and Technology Letters. 2020 [PubMed] [Reference list]
Riany, H., Hartati, Z., & Muslimah, M. (2023). Menanam Benih Kesalehan: Membentuk Karakter Islami Siswa melalui Religious Culture. ALSYS, 3(5), 517-531.
Setiawan, D., & Mufarihah, S. (2021). Tawakal dalam Al-Qur’an serta implikasinya dalam menghadapi pandemi Covid-19. Jurnal Studi Al-Qur'an, 17(1), 1-18.
Sharma A, Ahmad Farouk I, Lal SK. COVID-19: A Review on the Novel Coronavirus Disease Evolution, Transmission, Detection, Control and Prevention. Viruses. 2021 Jan 29;13(2) [PMC free article] [PubMed] [Reference list]
Shiddiq, A. F. (2021). kewajiban warga negara untuk hidup sehat dengan cuci tangan.
Supriyono, S., Prakoso, L. Y., & Sianturi, D. (2021). Pentingnya penanaman nilai-nilai kebangsaan bagi masyarakat pesisir pulau terdepan sebagai upaya keikutsertaan warga negara dalam bela negara. Jurnal Strategi Pertahanan Laut, 6(3)
Wahyuni. (2021). Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun Pada Masyarakat Kelurahan Lompo Riaja(Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Makassar).
WHO. 2020. Pertanyaan jawaban terkait COVID-19 untuk publik. (n.d.). Retrieved April 28, 2020, from https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-for-public.
Yanuarti, E. (2018). Pengaruh sikap religiusitas terhadap perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat kabupaten rejang lebong. Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Curup, 3(1).
Yeophantong, P., & Shih, C. Y. (2021). A Relational Reflection on Pandemic Nationalism. Journal of Chinese Political Science, 26(3), 549-572.
Downloads
Published
Versions
- 2023-12-10 (2)
- 2023-12-10 (1)
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Sahasika Apta Kirana, Dwi Linna Suswardany (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









