Radiografi Oss Pedis dengan Sangkaan Dislokasi Interphalangeal Proximal Digiti II di Rumah Sakit USU Medan
Keywords:
Dislokasi, Interphalangeal Proksimal, Ossa Pedis Digiti IIAbstract
The ossa pedis is part of the lower extremity which consists of the femur, ossa pedis. The lower limbs are divided into several parts including the ossa pedis (leg bones), which consists of 26 bones and is divided into 3 parts. Dislocation is the movement of the touching surface of the bone which makes up the joint or what is usually called the joint head coming out of the cup, so that the bones that form the joint are no longer connected automatically. Radiography of the ossa pedis with suspected dislocation of the proximal digit II interphalangeal is a radiographic examination to show the anatomy and abnormalities of the ossa pedis by using x-rays. This study aims to obtain an image of the fracture of the ossa pedis from the Dorso-Plantar and Oblique projections, with optimal sharpness and detail so that it can show the bone structure and abnormalities that occur in the ossa pedis. This researcher used a qualitative type of method, using a General X-ray Unit x-ray aircraft with image processing using computed radiography (CR). Data was collected through literature studies, observations, interviews and documentation. The research results were obtained from a radiographic examination of the ossa pedis with the suspicion of proximal digit II interphalangeal dislocation with the doctor's interpretation: visible proximal digit II interphalangeal dislocation.
PENDAHULUAN
Phalanx adalah tulang yang membentuk jari tangan dan jari kaki. Ada 56 falang dalam tubuh manusia, dengan empat belas di setiap tangan dan kaki (Casteleyn et al., 2023). Tiga phalanx hadir di setiap jari tangan dan kaki, dengan pengecualian ibu jari dan jempol kaki , yang hanya memiliki dua. Phalanx tengah dan jauh dari jari kaki keempat dan kelima sering menyatu (simfalangisme). Phalanx tangan umumnya dikenal sebagai tulang jari. Phalax kaki berbeda dari tangan karena mereka sering lebih pendek dan lebih padat, terutama di palanx proksimal, yang paling dekat dengan batang tubuh (d’Ovidio et al., 2020).
Dislokasi adalah pindahnya permukaan sentuh tulang yang menyusun sendi atau bisa disebut juga dengan keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi, sehingga keadaan tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara otomatis. Dislokasi disebut juga sebagai luksasi, mengacu pada keadaan dimana terjadi kesalahan letak permukaan artikulasi suatu persendian (Demircioglu & Gezer Ince, 2020).
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah penulis tuiskan diatas maka penulis ingin mengkaji lebih lanjut tentang radiografi ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II.
Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh dan hubunganbagian-bagiannya satu sama yang lain.Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi dari tubuh yang hidup,seperti ilmu anatomi ilmu fisiologi juga mencakup bidang-bidang khusus fungsi sistem organ tertentu. Ossa pedis adalah bagian dari extremitas bawah yang terdiri dari os femur, ossa cruris dan ossa pedis. (Ballinger, 1995) anggota gerak bawah di bagi dari beberapa bagian diantaranya ossa pedis (tulang-tulang kaki). Patologi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur tubuh dan perubahan yang berkaitan dengan penyakit atau cedera (Lee et al., 2023)
Sendi metatarso phalangeal disbut juga sendi condyloid dimana dapat bergerak dua arah. Rotasi tidak terjadi pada tulang sendi condyloid. Contoh tulang sendi condyloid adalah metatarso phalangel berturut-turut. Banyak terdapat kelainan – kelainan pada ossa tarsal diantaranya fraktur,dislokasi dan kelainan bawaan (Nordio et al., 2018). Dislokasi bisa di sebabkan oleh kondisi fisiologis maupun patologis. Dislokasi fisiologis terjadi karena benturan, baik itu benturan ringan maupun benturan keras, misalnya kecelakaan. Sedangkan dislokasi patologis terjadi karena penyakit yang mendasari sehingga sendi mengalami dislokasimisalnya penyakit tumor.
Menurut (Ballinger, 2003) teknik radiografi adalah ilmu yang mempelajari tata cara pemotretan dari objek yang diperiksa dengan menggunakan sinar – x untuk mendapatkan gambaran radiografi, sehingga mampu menegakkan diagnosa dengan tepat dan akurat (Purchase, 2021). Teknik Pesawat rontgen terdiri dari kata teknik yaitu tata cara dan pesawat rontgen yaitu salah satu peralatan radiologi yang dapat memproduksi sinar x dan dapat memberikan gambaran objek pada film rontgen setelah melalui proses secara kimiawi pada pencucian di kamar gelap (Lestari et al., 2018).
Secara teori pesawat rontgen jenis mobile x-ray unit adalah pesawat yang ideal untuk pemeriksaan ekstremitas tidak terkecuali ossa cruris , dikarenakan penggunaan pesawat jenis mobile x-raysudah dapat menghasilkan densitas, kontras dan ketajaman gambar yang dibutuhkan, harga pesawat lebih murah, dibandingkan jenis general x-ray, tabung rontgen mudah diarahkan kesegala arah serta pesawat bisa dibawa kemana-mana dikarenakan dilengkapi dengan roda. Teatapi di dalam praktek penulisa menggunakan pesawat rontgen jenis general x-ray (Machado et al., 2023).
Untuk memperlihatkan dislokasi interphalangeal proximal digiti II pada ossa pedis maka dilakukan pemeriksaan secara radiografi dari ossa pedis dengan menggunakan proyeksi dorso-plantar dan oblique, juga harus memperhitungkan masalah factor exposi, pesawat yang digunakan jenis mobile berkapasitas 200 keatas (Lemieux et al., 2021).
Dengan menggunakan film green sensitive dengan kecepatan rendah (low speed), dengan dikombinaskan dengan intensifying green emiting kecepatan yang rendah (slow screen), serta proses pencucian yang digunakan jenis automatic processingsehingga kelainan-kelainan khususnya dislokasi yang ada pada ossa pedis dapat diketahui dengan cepat. Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis ingin memfokuskan bahasan pemeriksaan maka penulis menetapkan batasan masalah yaitu dalam radiografi ossa pedis dengan sangkaan dislokasi phalangeal proksimal digiti II dengan tindakan proyeksi Dorso-Plantar dan Oblique (Munhoz et al., 2018).
METODE
Jenis penelitian ada 2 macam yaitu, jenis penelitain kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cendrung menggunakan analisa, sementara penelitian kuantitatif adalah penelitian yang bersifat pengolahan angka atau menggunakan penebaran kuesioner (Tanaka et al., 2022).
Namun penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif. Teknik pengambilan data berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi (Sayal et al., 2019a). Penelitian jenis kualitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian - bagian dan fenomena serta hubungan –hubungannya (Sayal et al., 2019b). Waktu penelitian 4 Juni 2021, tempat penelitian di Rumah Sakit USU Medan, di Instalasi Radiologi, Jln. dr T.Mansyur No 66.
Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini teknik pengumpulan data berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.
- Observasi: Observasi merupakan salah satu metode pengumpulan data dengan cara mengamati atau meninjau secara cermat dan langsung di lokasi penelitian untuk mengetahui kondisi yang terjadi atau membuktikan kebenaran dari sebuah penelitian yang sedang dilakukan (Meomartino et al., 2021).
- Wawancara: Wawancara adalah tanya jawab peneliti dengan narasumber atau orang yang diwawancarai. Penulis melakukan wawancara pada pasien, keluarga pasien yang bersangkutan untuk menanyakan penyakit yang di deritanya serta pihak yang terkait.
- Dokumentasi: Dokumentasi adalah suatu bentuk kegiatan atau proses dalam menyediakan berbagai dokumen dengan memanfaatkan bukti yang akurat berdasarkan pencatatan dari berbagai sumber (Rochmayanti et al., 2023).
- Kajian Literatur: Kajian literatur adalah dukungan teoritis terhadap masalah penelitian yang di pilih,maka penulis banyak membaca buku literatur,baik berupa teks (teori),hasil penelitian orang lain ,jurnal dan arahan dari dosen pengajar yang membantu penulis dalam menyusun karya ilmiah ini (Hajare et al., 2023).
Analisis Data
Analisis data adalah suatu proses atau upaya untuk mengolah data menjadi informasi yang baru. Data yang dikumpulkan diolah, kemudian dihubungkan dengan hipotesis dan selanjutnya mendapatkan sebuah kesimpulan.
HASIL
Identitas Pasien
Dalam melakukan suatu pemeriksaan perlu diketahui identitas pasien dengan jelas yang berguna untuk mengidentifikasi pasien yang satu dengan yang lain sehingga tidak terjadi kesalah pahaman (DO?AN & TAKCI, 2021).
Pada saat ini penuli menjelaskan atau menguraikan identitas pasien setelah melakukan pemeriksaan ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II di Rumah Sakit universitas Sumatra utara (USU) Medan dengan data-data sebagai berikut:
| Nama | Tn P.L |
|---|---|
| Umur | 60 tahun |
| Jenis kelamim | Laki-Laki |
| Diagnosa sementara | Dislokasi Pedis |
| Permintaan | Ossa Pedis |
| Tanggal pemeriksaan | 04 Juni 2021 |
Pelaksanaan Pemeriksan
Sebelum melakukan periksaan ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II yang harus diperhatikan radiographer adalah sebagai berikut :
- Surat permintaan foto: Berdasarkan surat permohonan untuk dilakukan pemotretan terhadap pasien yang bernama Tn.P.L oleh dokter pengirim, maka radiographer melakukan pemeriksaan dengan proyeksi Dorso-Plantar dan proyeksi oblique.
- Persiapan alat/pesawat rontgen: Pesawat rontgen yang digunakan pada saat melakukan pemeriksaan ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II adalah pesawat General X- Ray unit.
Adapun pesawat yang digunakan pada pemeriksaan ossa pedis dengan sangkaan dislokasi metatarsal digiti II di rumah sakit universitas Sumatra utara Medan adalah sebagai berikut :
Figure 1. Pesawat Rontgen Philips RS USU Medan Keterangan gambar : a. X-Ray tube, b. Bucky stand, c. Meja pemeriksaan, d. Standart kaset
| Merk pesawat | PHILIPS X-RAY TUBE |
|---|---|
| Tegangan masuk | 200-400 V |
| Kapasitas pesawat | 500 mA |
| Nomor Seri Pesawat | 59258A265522 |
| KV Range | 150 kv |
| Type pesawat | 9890-000-86102 |
| Pelayanan pesawat | Radiografi |
Aksesoris
- Kaset berisi film berukuran 24 cn x 30 cm
- Marker, marker yang digunakan sebagai identitas pasien, misalnya nama kanan dan institusi pasien, tanggal dan waktu pemeriksaan, penanda letak anatomi kiri atau rumah sakit.
Persiapan Pasien
Dalam pemeriksaan ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II pada pasien tidak dilakukan persiapan khusus, hanya pada saat pemeriksaan sepatu/sandal pasien yang yang dapat menimbulkan artefak pada gambaran ossa pedis dilepas dan menjelaskan prosedur pemeriksaan pada pasien (Tamura et al., 2019).
Teknik Radiografi
Setelah perlengkapan dan pesawat rontgen tersediaa maka radiographer melakukan pengaturan pasien yang dibuat senyaman mungkin untuk memperoleh gambaran yang optimal, dalam pemeriksaan ini proyeksi yang digunakan adalah :
Proyeksi Dorso-Plantar
| Tujuan | Untuk memperlihatkan gambaran anatomi ossa pedis dari sisi Dorso-Plantar |
|---|---|
| Posisi Pasien | Tidur telentang di atas meja pemeriksaan(supine position) lutut difleksikan dan telapak kaki menghadap meja pemeriksaan diatas kaset. |
| Posisi Objek | Telapak kaki menempel pada kaset. Kaset horizontal di atas meja pemeriksaan, kaki yang akan di foto ditengah-tengah luas lapangan penyinaran. |
| Central pint (CP) | Pada metatarsal III |
| Central Rey (CR) | Tegak lurus terhadap pertengahan kaset |
| Fokus Film Distance | 90 cm |
| Kondisi pemotretan | 24 cm x30 cm tanpa grid dibagi dua |
| Kriteria | Tampak gambaran AP dari ossa tarsalia (tulang-tulang pangkal kaki), Ossa metatarsal (tulang-tulang telapak kaki), dan Ossa phalangs (tulang-tulang kaki). |
Figure 2. Proyeksi Dorso – Plantar (Ballinger, 2003)
Figure 3. Kriteria Gambar Radiogrrafi Proyeksi Dorso – Plantar
Gambar 3. Kriteria Gambar Radiogrrafi Proyeksi Dorso – Plantar
Proyeksi Oblique (rotasi medial)
Figure 4. Proyeksi Oblique Medial (Ballinger, 1999)
Figure 5. Kriteria Gambar Radiografi Oblique Medial
Evaluasi Pemeriksaan
Evaluasi Pemeriksaan
Setelah penulis melakukan radiografi ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II terhadap pasien yang bernama Tn.P L dengan membacakan gambaran radiografi tersebut kepada Dokter Radiologi, maka penulis dapat menguraikan hasil dari evaluasi dari gambaran radiografi tersebut sebagai berikut (Tamura et al., 2018):
Evaluasi hasil pemeriksaan proyeksi Dorso-Plantar :
- Tampak gambaran anatomi ossa pedis dari posisi dorso-plantar
- Tampak gambaran dislokasi pada intrphalang proximal digiti II
- Tampak jelas tulang-tulang pada ossa pedis
Figure 6. Evaluasi hasil Proyeksi Dorso – Plantar
Evaluasi hasil pemeriksaan proyeksi oblique
- Tampak gambaran anatomi ossa pedis dari posisi Oblique.
- Tampak gambaran dislokasi pada interphalang proximal digiti II
- Tampak jelas tulang-tulang pada ossa pedis
Figure 7. Evaluasi hasil proyeksi oblique
Hasil Expertise
| Nama | Tn.PL |
|---|---|
| Umur | 60 Th |
| Laporan Pemeriksaan | Dislokasi Interphalangeal proksimal digiti II pedis kanan |
PEMBAHASAN
Rumusan Masalah
Setelah melakukan pemeriksaan radiografi ossa pedis dengan sangkaan Dislokasi interphalangeal proximal digiti II di Rumah Sakit USU Medan penulis menemukan suatu masalah yaitu (Yuan et al., 2022):
“Upaya apa yang dilakukan untuk memperoleh hasil gambaran radiografi ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II untuk melihat detail dan ketajaman gambar” (Elmore et al., 2018).
Untuk dapat mencapai hasil gambaran yang optimal pada pemeriksaan ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II ada beberapa upaya yang harus dilakukan yaitu :
Aspek radiografi
Pada pemeriksaan radiografi ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II penulis menggunakan proyeksi yaitu :
Proyeksi Dorso-Plantar
| Tujuan | Untuk memperlihatkaan gambaran anatomi dan kelainan – kelainan pada ossa pedis dari proyeksi Dorso-Plantar. |
|---|---|
| Posisi pasien | Tidur terlentang diatas meja pemeriksaan (supine position).Lutut di fleksikan dan telapak kaki menghadap meja pemeriksaan diatas kaset. |
| Arah sinar | Tegak Lurus Terhadap Pertengahan Kaset |
| Pusat sinar | Pada metatarsal III. |
Proyeksi Oblique
| Tujuan | Untuk memperlihatkan gambaran anatomi dan kelainan- kelainan pada ossa pedis dari proyeksi Oblique. |
|---|---|
| Posisi Pasien | Tidur Terlentang di atas meja pemeriksaan (supine position ). Lutut difleksikan dan telapak kaki menghadap meja pemeriksaan |
| Arah Sinar | Tegak Lurus Terhadap pertengahan kaset |
| Pusat Sinar | Pada metatarsal III |
Aspek faktor eksposi
Faktor eksposi yang digunakan pada pemeriksaan ossa pedis dengan sangkaan fraktur Dislokasi interphalangeal proximal digiti II menggunakan faktor eksposi rendah.
Aspek luas lapangan
Luas lapangan pada penyinaran pemeriksaan ossa pedis dengan sangkaan Dislokasi interphalangeal proximal digiti II hanya seluas objek yang diperiksa. Jika penggunaan luas lapangan tidak sesuai dengan kebutuhan maka akan mengakibatkan radiasi hambur yang dapat merugikan terhadap pasien, personil radiologi dan pada film rontgen (?slamo?lu et al., 2021).
Aspek grid
Pada pemeriksaan radiografi ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II tidak menggunakan grid karena faktor eksposi yang digukana sudah dapat menunjukkan ketajaman dan detail yang optimal.
Aspek proses pencucian
Proses pencucian ada 2 jenis yaitu automatic processing dan manual processing. Disini penulis menggunakan processing yang automatic karena film keluar langsung dalam keadaan kering dan waktu pengeringannya lebih cepat dibandingkan dengan processing manual (Salinas et al., 2020).
Aspek jarak focus ke film
Sinar yang akan digunakan dalam pemotretan perlu di arahkan. Secara tepat pada objek yang akan di foto.Di smping itu kekuatan sinar (Etedali et al., 2019). Serta jumlah sinar perlu diatur agar sesuai dengan besarnya obyek yang akan difoto focus film distance(FFD) 90 cm
Aspek Jenis film
Menggunakan film computer Radiografi yang disebut juga. Dengan laser imaging film atau foto thermografic yang tidak menggunakan butiran perak Halida,tapi butiran perak behenate (Ag22H4302).
Aspek Persiapan Alat
- Pesawat Rontgen: Hidupkan Saklar power suplay pada panel listrik yang terhubung ke pesawat x-ray. Tekan saklar suplay pada control table ke posisi “ON”, tunggu beberapa saat sampai semua lampu pada control table menyala
- Perlengkapan pemeriksaan yaitu kaset computer Radiografi ukuran 18 X 24 cm
- Alat Imobilisasi berupa pengganjal atau sand bag
- Alat proteksi Radiasi berupa Apron
Aspek faktor eksposi
Faktor yang digunakan dalam pemeriksaan ossa pedis adalah 40 Kv,3mAs
Aspek Detail
Pada pemeriksaan ossa pedis mampu memprlihatkan struktur yang kecil dari organ yang di foto (Ad??en & Aydo?du, 2022).
Aspek Ketajaman
Pada pemeriksaan radiografi ossa pedis mampu memperlihatka Batas yang tegas dari bagian objek yang di foto sehingga struktur. Tulang terlihat dengan jelas.
Aspek kontras
Pada pemeriksaan ossa pedis harus mampu memperlihatkan. Derajat densitas perbedaan antar hitam dan putih (Crivelli et al., 2021).
KESIMPULAN
Setelah melakukan pemeriksaan radiografi pada ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal proximal digiti II di Rumah Sakit USU Kota Medan, Maka Diambil kesimpulan sebagai berikut :
- Pada radiografi ossa pedis dengan sangkaan dislokasi interphalangeal join digunakan proyeksi Dorso – Plantar dan Oblique.
- Pemilihan kondisi pemotretan sangat dibutuhkan agar tidak terjadi pengulangan foto.
- Pencatatan gambar radiografi menggunakan Computer Radiografi.
DAFTAR PUSTAKA
Ad??en, M. Z., & Aydo?du, M. (2022). Comparison of mastoid air cell volume in patients with or without a pneumatized articular tubercle. Imaging Science in Dentistry, 52(1), 27. https://doi.org/10.5624/isd.20210153
Casteleyn, C., Robin, N., & Bakker, J. (2023). Topographical Anatomy of the Rhesus Monkey (Macaca mulatta)—Part II: Pelvic Limb. Veterinary Sciences, 10(3), 172.
Crivelli, J. J., Johnson, B. A., Steinberg, R. L., Gahan, J. C., Antonelli, J. A., Morey, A. F., Pearle, M. S., & Cadeddu, J. A. (2021). Clinical and radiographic outcomes following salvage intervention for ureteropelvic junction obstruction. International Braz j Urol, 47, 1209–1218.
d’Ovidio, D., Pirrone, F., Donnelly, T. M., Greco, A., & Meomartino, L. (2020). Ultrasound-guided percutaneous antegrade pyelography for suspected ureteral obstruction in 6 pet guinea pigs ( Cavia porcellus ). Veterinary Quarterly, 40(1), 198–204. https://doi.org/10.1080/01652176.2020.1803512
Demircioglu, I., & Gezer Ince, N. (2020). Three?dimensional modelling of computed tomography images of limb bones in gazelles (Gazella subgutturosa). Anatomia, Histologia, Embryologia, 49(6), 695–707.
DO?AN, G. K., & TAKCI, ?. (2021). A macroanatomic, morphometric and comparative investigation on skeletal system of the geese growing in Kars region II; Skeleton appendiculare. Black Sea Journal of Health Science, 4(1), 6–16.
Elmore, J. M., Cerwinka, W. H., & Kirsch, A. J. (2018). Assessment of renal obstructive disorders: ultrasound, nuclear medicine, and magnetic resonance imaging. In The Kelalis--King--Belman Textbook of Clinical Pediatric Urology (pp. 495–504). CRC Press.
Etedali, N. M., Reetz, J. A., & Foster, J. D. (2019). Complications and clinical utility of ultrasonographically guided pyelocentesis and antegrade pyelography in cats and dogs: 49 cases (2007–2015). Journal of the American Veterinary Medical Association, 254(7), 826–834. https://doi.org/10.2460/javma.254.7.826
Hajare, P. S., Jadhav, A. V, Patil, P. H., & Das, S. S. (2023). A Cadaveric Study of Anatomical and Radiological Correlation of Mastoid Air Cells System in Relation to its Morphology. Indian Journal of Otolaryngology and Head & Neck Surgery, 75(S1), 242–249. https://doi.org/10.1007/s12070-022-03341-5
?slamo?lu, Y., Ayhan, M., Bercin, S., Kalem, A. K., Kayaaslan, B., & Güner, R. (2021). Evaluation of middle ear and mastoid cells of COVID-19 patients. Journal of Ankara University Faculty of Medicine, 74(1), 130–133.
Lee, M., Nagoda, E., Strauss, D., Loecher, M., Stifelman, M., Zhao, L., & Eun, D. (2023). Role of buccal mucosa graft ureteroplasty in the surgical management of pyeloplasty failure. Asian Journal of Urology. https://doi.org/10.1016/j.ajur.2023.09.001
Lemieux, C., Vachon, C., Beauchamp, G., & Dunn, M. E. (2021). Minimal renal pelvis dilation in cats diagnosed with benign ureteral obstruction by antegrade pyelography: a retrospective study of 82 cases (2012–2018). Journal of Feline Medicine and Surgery, 23(10), 892–899. https://doi.org/10.1177/1098612X20983980
Lestari, E. P., Cahyadi, D. D., Novelina, S., & Setijanto, H. (2018). PF-30 Anatomical Characteristic of Hindlimb Skeleton of Sumatran Rhino (Dicerorhinus sumatrensis). Hemera Zoa.
Machado, F. P., Dornelles, J. E. F., Rausch, S., Oliveira, R. J., Portela, P. R., & Valente, A. L. S. (2023). Osteology of the pelvic limb of nine-banded-armadillo, dasypus novemcinctus linnaeus, 1758 applied to radiographic interpretation. Brazilian Journal of Development, 9(05), 14686–14709.
Meomartino, L., Greco, A., Di Giancamillo, M., Brunetti, A., & Gnudi, G. (2021). Imaging techniques in Veterinary Medicine. Part I: Radiography and Ultrasonography. European Journal of Radiology Open, 8, 100382. https://doi.org/10.1016/j.ejro.2021.100382
Munhoz, L., HIROSHI IIDA, C., Abdala Junior, R., Abdala, R., & Arita, E. S. (2018). Mastoid Air Cell System: Hounsfield Density by Multislice Computed Tomography. Journal of Clinical & Diagnostic Research, 12(4).
Nordio, E. G., Tumanska, N. V, & Kichangina, T. M. (2018). Radiological investigation of the urogenital system.
Purchase, S. L. (2021). Point and shoot: a radiographic analysis of mastoiditis in archaeological populations from England’s North-East. University of Sheffield.
Rochmayanti, D., Abimanyu, B., Kurniawati, A., Santi, L. P. E., Trimorti, B., Kartikasari, Y., & Indrati, R. (2023). Image Improvement and Dose Reduction on Computed Tomography Mastoid Using Interactive Reconstruction. In Journal of Big Data (Vol. 9, Issue 1, pp. 103–116). SpringerOpen. https://doi.org/10.1007/978-981-99-0248-4_8
Salinas, P., Arenas-Caro, A., Núñez-Cook, S., Moreno, L., Curihuentro, E., & Vidal, F. (2020). Estudio morfométrico, anatómico y radiográfico de los huesos del miembro pélvico del huemul patagónico en peligro de extinción (Hippocamelus bisulcus). International Journal of Morphology, 38(3), 747–754.
Sayal, N. R., Boyd, S., Zach White, G., & Farrugia, M. (2019a). Incidental mastoid effusion diagnosed on imaging: are we doing right by our patients? The Laryngoscope, 129(4), 852–857.
Sayal, N. R., Boyd, S., Zach White, G., & Farrugia, M. (2019b). Incidental mastoid effusion diagnosed on imaging: Are we doing right by our patients? The Laryngoscope, 129(4), 852–857. https://doi.org/10.1002/lary.27452
Tamura, R., Tomio, R., Mohammad, F., Toda, M., & Yoshida, K. (2018). Analysis of various tracts of mastoid air cells related to CSF leak after the anterior transpetrosal approach. Journal of Neurosurgery, 130(2), 360–367.
Tamura, R., Tomio, R., Mohammad, F., Toda, M., & Yoshida, K. (2019). Analysis of various tracts of mastoid air cells related to CSF leak after the anterior transpetrosal approach. Journal of Neurosurgery, 130(2), 360–367. https://doi.org/10.3171/2017.9.JNS171622
Tanaka, T., Shindo, T., Hashimoto, K., Kobayashi, K., & Masumori, N. (2022). Management of hydronephrosis after radical cystectomy and urinary diversion for bladder cancer: A single tertiary center experience. International Journal of Urology, 29(9), 1046–1053. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/iju.14970
Yuan, C., Li, Z., Wang, J., Zhang, P., Meng, C., Li, D., Gao, J., Guan, H., Zhu, W., & Lu, B. (2022). Ileal ureteral replacement for the management of ureteral avulsion during ureteroscopic lithotripsy: a case series. BMC Surgery, 22(1), 1–8.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Sri Nanda Sihotang, Justinus Tambunan (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









