Terimakasih atas kepercayaan anda kepada Penerbit Poltekkes Kemenkes Kendari. Kami menutup sementara Sistem Penerimaan Naskah (submission) hingga 03 Januari 2024. Anda dapat melakukan konsultasi penyiapan naskah anda untuk terbit pada edisi tahun 2024, melalui pos elektronik: editorial.jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi.ac.id.
Beralih ke bagian utama Beralih ke menu navigasi utama Beralih ke bagian footer website
Original Research
Diterbitkan: 2023-07-13

Efektivitas Pelatihan Asuhan Persalinan Normal terhadap Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Persalinan: Penelitian Kuasi Eksperimen

Universitas Dian Nuswantoro/Fakultas Kesehatan/D3 Rekam Medis Dan Informasi Kesehatan
Universiats Dian Nuswantoro/Fakultas Kesehatan/D3 Rekam Medis Dan Informasi Kesehatan
Angka kematian ibu Pelatihan Asuhan persalinan normal Partograf Persalinan

Lisensi

Cara Mengutip

Wibowo, S. S., & Kusumawati, N. (2023). Efektivitas Pelatihan Asuhan Persalinan Normal terhadap Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Persalinan: Penelitian Kuasi Eksperimen. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), 172–179. https://doi.org/10.36990/hijp.v15i2.836 (Original work published 3 Juli 2023)

Abstrak

Terdapat lima benang merah yang diajarkan dalam pelatihan APN dengan poin ke-4 yang merupakan pencatatan (rekam medis) asuhan persalinan yaitu lembar partograf. Salah satu keterampilan yang diajarkan selama pelatihan APN adalah pengisian lembar partograf sebagai dokumen rekam medis persalinan dengan baik dan lengkap. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah pelatihan APN efektif terhadap kelengkapan pencatatan rekam medis persalinan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen. Desain penelitian adalah kuasi eksperimen dengan melakukan pretest dan posttest. Jumlah populasi penelitian adalah 17 orang yang mengikuti pelatihan APN disalah satu lembaga pelatihan APN di Kota Semarang dan teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Alat pengumpulan data menggunakan lembar partograf yang kemudian dinilai dengan daftar tilik penilaian partograf. Analisis data menggunakan uji paired sample t-test. Hasil penelitian ini menghasilkan angka Sig. 0,008 yang menunjukkan adanya efektivitas pelatihan APN terhadap kelengkapan pencatatan rekam medis persalinan. Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan mengkaji persepsi tenaga kesehatan terhadap pelatihan APN.

PENDAHULUAN

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitas AKI dapat menggambarkan perbaikan pelayanan kesehatan secara keseluruhan yang dihitung berdasarkan setiap 1.000 kelahiran hidup. AKI di Indonesia terpantau mengalami peningkatan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, 4.221 tahun 2019, 4.627 tahun 2020, dan 7.389 tahun 2021 (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2019; Kementerian Kesehatan, 2022). Upaya menurunkan AKI salah satunya dengan konsep safe motherhood yang berlandaskan pada pilar ke-3 tentang perawatan persalinan. Pilar tersebut menjelaskan bahwa tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan harus memiliki pengetahuan, kemampuan dan alat medis yang mendukung persalinan aman (Anastasi et al., 2015). Persalinan yang aman dapat dilakukan dengan mengikuti pedoman asuhan persalinan normal yang terdiri dari 60 langkah APN. Pelatihan APN merupakan langkah yang tepat untuk menambah informasi dan melatih ketrampilan tenaga kesehatan khususnya bidan dalam menolong persalinan.

Terdapat lima benang merah yang diajarkan dalam pelatihan APN dengan poin ke-4 yang merupakan pencatatan (rekam medis) asuhan persalinan yaitu lembar partograf. Salah satu tujuan dilakukan pelatihan APN adalah agar tenaga kesehatan mengetahui cara mengisi kelengkapan pencatatan rekam medis persalinan yaitu partograf dengan benar dan lengkap. Partograf merupakan bagian terpenting dari proses pencatatan selama persalinan. Partograf adalah lembar observasi untuk memantau kemajuan persalinan. Pemantauan dengan partograf dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik dan mengevaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan (Klinik et al., 2017).

Dokumentasi dalam pelayanan kebidanan merupakan bukti kegiatan yang telah dilakukan dan dapat digunakan sebagai bahan pelaporan. Penelitian sebelumnya mengenai kelengkapan pengisian partograf disebutkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap penggunaan partograf dalam persalinan (Mendrofa et al., 2021; Yulianti et al., 2022). Disebutkan pada saran bahwa penulis merekomendasikan adanya penguatan materi pengisian partograf (Choden & Dorji, 2021). Di Indonesia penguatan materi pengisian partograf dapat diperoleh melalui pelatihan APN. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas pelatihan APN terhadap kelengkapan pengisian dokumen asuhan persalinan.

METODE

Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen kuantitatif pada 1 (satu) kelompok responden dengan prates dan pascates. Subjek penelitian adalah semua peserta pelatihan APN di salah satu pusat pelatihan APN di Kota Semarang yang dilaksanakan pada bulan November tahun 2022. Populasi berjumlah 17 orang. Subjek dipilih karena sesuai dengan kriteria inklusi penelitian yaitu berusia lebih dari 17 tahun, belum pernah mengikuti pelatihan APN dan bersedia menjadi subjek penelitian. Pretest dilakukan sebelum pelatihan dimulai, yaitu bulan November 2022. Posttest dilakukan saat peserta sudah menyelesaikan pelatihan, yaitu bulan Desember 2022. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling, sehingga total responden sebanyak 17 responden.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar partograf yang dibagikan masing-masing satu lembar kepada semua responden. Responden diminta mengisi partograf sesuai dengan kasus yang diberikan. Setelah partograf selesai diisi, maka lembar partograf dikumpulkan kembali ke peneliti. Peneliti memeriksa pertograf dengan menggunakan daftar tilik penilaian partograf sesuai standar World Health Organization (WHO). Dalam daftar tilik terdapat 2 kriteria penilaian. Nilai 0 (nol) jika poin pada partograf tidak diisi dan nilai 1 (satu) jika poin pada partograf diisi. Nilai akhir diperoleh dengan menjumlahkan poin pada partograf. Nilai maksimal pengisian partograf adalah 75 (tujuh puluh lima) poin dan poin minimalnya adalah 0 (nol). Lembar partograf kosong akan dibagikan lagi diakhir pelatihan sebagai nilai posttest. Kasus yang diberikan memiliki kesulitan yang sama dan hanya berubah pada identitas contoh pasien, pembukaan persalinan dan antopometri bayi.

Uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan hasil data berdistribusi normal (nilai Sig. >0,05). Analisis dan tabulasi data menggunakan uji paired sample t-test dengan bantuan aplikasi SPSS 22.

HASIL

Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian

Kelompok umur terbanyak adalah rentang usia 24-29 tahun yang sebanyak 10 orang. Rata-rata pendidikan responden adalah jenjang D3 Kebidanan dengan responden sebanyak 8 orang. Rata-rata responden penelitian sudah bekerja selama 0 tahun (fresh graduate) sampai 5 tahun dengan responden sebanyak 12 orang. Semua responden dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mengisi pretest pada awal pelatihan APN dan mengisi posttest setelah pelatihan APN selesai.

Tabel 2. Nilai Daftar Tilik Partograf

Uji normalitas data menggunakan metode uji statistik Kolmogorov-Smirnov (<50 data). Distribusi data normal (Sig. >0,05).

Tabel 3. Hasil Uji Statistik Paired Sample T-test

PEMBAHASAN

Partograf merupakan alat bantu yang digunakan selama ibu bersalin memasuki fase aktif persalinan. Partograf digunakan utuk mencatat hasil observasi, menilai kemajuan persalinan dan dapat digunakan untuk mendeteksi apakah persalinan berjalan normal atau terdapat penyulit. Partograf wajib diisi bagi semua ibu bersalin dalam kala 1 fase aktif, di semua tempat pelayanan kesehatan seperti di bidan praktek mandiri, puskesmas maupun rumah sakit. Partograf wajib diisi rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu bersalin. Setiap 30 menit sekali penolong persalinan wajib mencatat DJJ (Detak Jantung Janin), frekuensi dan durasi kontraksi dan pemeriksaan nadi ibu. Setiap 4 jam sekali penolong persalinan wajib mengisi pembukaan serviks, penurunan bagian terbwah janin, tekanan darah dan suhu ibu, volume urin serta apakah di dalam urin terkandung aseton atau protein urin (Yulizawati et al., 2019).

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan bahwa standar pelayanan kesehatan ibu bersalin terdiri dari formulir partograf, kartu ibu (rekam medis ibu) dan buku KIA. Partograf berfungsi sebagai instrumen pemantauan persalinan bagi ibu bersalin. Setiap ibu bersalin wajib mendapatkan pelayanan persalinan sesuai standar. Partograf wajib diisi lengkap sesuai dengan keadaan dan kemajuan persalinan saat ibu mulai masuk fase aktif. Pelatihan APN merupakan upaya penyedia tenaga kesehatan yang kompeten dalam aspek kognitif, psikomotor dan perilaku untuk asuhan persalinan yang sesuai standar sehingga dapat menjaga keselamatan dan menjaga derajat kesehatan wanita. Melalui pelatihan APN, tenaga kesehatan khususnya bidan akan diajarkan langkah-langkah persalinan normal yang sesuai standar, pengisian partograf yang lengkap dan asuhan bayi baru lahir yang sesuai standar (Klinik et al., 2017).

Hasil penelitian menunjukkan adanya efektivitas pelatihan APN terhadap kelengkapan pencatatan rekam medis persalinan. Partograf merupakan rekam medis persalinan yang paling penting untuk memantau kemajuan persalinan ibu. Saat mengikuti pelatihan APN maka peserta akan dibekali keterampilan pengisian partograf. Dalam lima benang merah asuhan persalinan dan neonatal, dituliskan di poin ke-4 mengenai pencatatan (rekam medis) asuhan persalinan. Pengisian partograf harus disesuaikan dengan kondisi ibu serta wajib menuliskan semua tindakan dan obat-obatan yang diberikan kepada ibu selama proses persalinan. Jika ada data atau tindakan yang tidak dicatat, maka asuhan dianggap tidak diberikan kepada ibu (Klinik et al., 2017). Karakteristik responden menunjukan rata-rata subjek merupakan fresh graduate dan belum bekerja. Tenaga kesehatan yang belum bekerja memilih mengikuti pelatihan APN terlebih dulu, hal ini karena adanya peraturan akreditasi tempat pelayanan kesehatan terbaru, dimana tenaga kesehatan atau pegawai wajib memiliki sertifikasi sesuai spesifikasi keilmuannya. Bagi bidan sertifikasi yang seharusnya dimiliki sebelum membantu persalinan pasien adalah sertifikat APN (Otto et al., 2015).

Penelitian sebelumnya di Bhutan tahun 2021 menunjukkan tingkat pengetahuan dan sikap yang baik terhadap pengisian partograf, tetapi penelitian ini juga menemukan bahwa pada kenyataannya pengisian partograf masih tidak lengkap. Dibutuhkan tingkat kesadaran yang tinggi akan pentingnya pengisian partograf selama masa pemantauan persalinan. Pada bagian saran penelitian dituliskan bahwa perlu adanya penguatan pengetahuan dan praktik melalui pelatihan berkala untuk pengisian partograf (Choden & Dorji, 2021). Dua penelitian lainnya juga menunjukkan hasil yang sama, dimana walaupun tingkat pengetahuan untuk mengisi partograf sudah baik tetapi di lapangan masih banyak ditemukan partograf yang tidak diisi dengan lengkap. Penelitian-penelitian ini juga menyarankan akan adanya pelatihan tambahan untuk membentuk sikap dan kesadaran yang tinggi oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk melengkapi isi partograf sebagai alat bantu memantau kemajuan persalinan (Lavender & Bernitz, 2020; Zelellw & Tegegne, 2018).

Melalui penelitian ini, maka saran yang ada di penelitian sebelumnya sudah terjawab. Hasil penelitian ini sudah menunjukkan bahwa memang terdapat efektivitas pelatihan APN terhadap kelengkapan pencatatan rekam medis persalinan. Diketahui bahwa saat pelatihan APN, tenaga kesehatan penolong persalinan dibekali pengetahuan pengisian partograf secara detail, serta terdapat praktek lapangan untuk membentuk pola perilaku serta membiasakan para peserta untuk selalu menggunakan dan mengisi partograf secara lengkap dan benar. Selain sebagai alat bantu pemantauan kemajuan persalinan, pengisian partograf dengan lengkap juga dapat membantu fasilitas pelayanan untuk dapat melakukan klaim BPJS dengan cepat. Pelayanan persalinan mencakup rawat inap masa nifas dapat dilakukan klaim asuransi Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, 2022). Kelengkapan berkas klaim pelayanan persalinan salah satunya yaitu adanya resume medis yang mencantumkan prosedur yang diberikan kepada ibu. Didalam resume medis ini terdapat partograf sebagai berkas utama yang digunakan untuk mencantumkan prosedur serta pemberian obat yang diberikan saat proses persalinan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) efektif untuk melatih dan membiasakan tenaga kesehatan penolong persalinan dalam melengkapi pencatatan rekam medis persalinan terutama pengisian partograf.

Kekurangan Penelitian

Perlu pengkajian mengenai persepsi tenaga kesehatan untuk mengikuti pelatihan APN.

Referensi

  1. Anastasi, E., Borchert, M., Campbell, O. M., Sondorp, E., Kaducu, F., Hill, O., Okeng, D., Odong, V. N., & Lange, I. L. (2015). Losing women along the path to safe motherhood: Why is there such a gap between women’s use of antenatal care and skilled birth attendance? A mixed methods study in Northern Uganda. BMC Pregnancy and Childbirth, 15(1), 1–15. https://doi.org/10.1186/s12884-015-0695-9
  2. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. (2022). Panduan Layanan Bagi Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
  3. Choden, K., & Dorji, N. (2021). Knowledge, attitude and practice of nurse-midwives on the use of partograph in health care centres of Bhutan. Bhutan Health Journal, 7(1), 10–15. https://doi.org/10.47811/bhj.114
  4. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2019). Renstra Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018-2023. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
  5. Kementerian Kesehatan. (2022). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021 (F. Sibuea, B. Hardhana, & W. Widiantini, Eds.). Kementerian Kesehatan.
  6. Klinik, J., Adriaansz, G., & Santoso, B. I. (2017). Asuhan Persalinan Normal: Asuhan Esensial Bagi Ibu Bersalin Dan Bayi Baru Lahir Serta Penatalaksanaan Komplikasi Segera Pascapersalinan Dan Nifas: Buku Acuan. Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi.
  7. Lavender, T., & Bernitz, S. (2020). Use of the partograph—Current thinking. Best Practice and Research: Clinical Obstetrics and Gynaecology, 67, 33–43. https://doi.org/10.1016/j.bpobgyn.2020.03.010
  8. Mendrofa, D., Siagian, M., Wandra, T., Silitonga, E. M., & Nababan, D. (2021). Faktor yang berhubungan dengan penggunaan partograf di Kabupaten Nias Barat. Jurnal Ilmiah Simantek, 5(2), 197–202.
  9. Otto, S., Masni, & Naiem, M. F. (2015). Hubungan pelatihan asuhan persalinan normal dengan pengetahuan dan keterampilan bidan desa dalam pertolongan persalinan di Kota Gorontalo [Master’s Thesis]. Universitas Hasanuddin.
  10. Yulianti, S., Rossita, T., & Putri, Y. (2022). Hubungan pengetahuan dengan penggunaan partograf pada bidan di wilayah Kota Bengkulu. Journal of Midwifery, 10(2), 142–146.
  11. Zelellw, D. A., & Tegegne, T. K. (2018). Level of partograph utilization and its associated factors among obstetric caregivers at public health facilities in East Gojam Zone, Northwest Ethiopia. PloS One, 13(7), e0200479. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0200479

UN/PBB SDGs

This output contributes to the following UN Sustainable Development Goals (SDGs)/Artikel ini berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB berikut

SDG 3 good-health-and-well-being

Endorse

Informasi Statistik Pemakaian

Abstrak viewed = 849 times