Pengaruh Media Video Animasi dan Media Video Teks tentang Body Image Dan Self-Esteem Terhadap Persepsi Remaja Terhadap Indeks Massa Tubuh Di Sma Negeri 1 Limboto Kabupaten Gorontalo
Keywords:
Animasi, Citra tubuh, Harga diriAbstract
Masa remaja adalah masa yang sangat bergantung pada penampilan, yang menggiring opini remaja tentang harga diri (self esteem) dan citra tubuh (body image). Belum lagi pandangan mereka tentang menjadi kurus dan kecil itu dianggap cantik. Generasi 4.0 lebih dekat dan lebih menyukai media edukasi kesehatan yang bersifat teknologi canggih, ini dapat memudahkan tenaga kesehatan untuk mengedukasi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh video animasi dan video teks tentang body image dan self esteem terhadap persepsi remaja tentang IMT. Penelitian ini menggunakan desain Quasi-Experimental dengan desain pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 142 siswa yang diambil dari teknik total sampling, dan digunakan uji Wilcoxon dan mann whitney untuk menganalisis data. animasi body image dan self esteem mengubah persepsi remaja terhadap indeks massa tubuh dengan signifikansi p-value = 0,000 < 0,05. Oleh karena itu video animasi body image dan self esteem mengubah persepsi remaja putri tentang indeks massa tubuh di SMA Negeri 1 Limboto.
PENDAHULUAN
Remaja seringkali menyalahtafsirkan bahwa bentuk tubuh yang bagus sebagai patokan untuk konsumsi makanan dan zat-zat gizi yang masuk dalam tubuh mereka biasa kita sebut dengan status gizi, status gizi kemudian yang menggiring opini remaja tentang harga diri (self esteem) dan citra tubuh (body image). Harga diri yang rendah dapat mengakibatkan depresi, bunuh diri, anoreksia nervosa, kenakalan remaja dan masalah kejiwaan lainnya (1). Melihat faktanya, diperkirakan kelompok remaja berjumlah 1,2 miliar atau 18% dari jumlah penduduk dunia (2). Organisasi Kesehatan Dunia merilis bahwa pada tahun 2016, sekitar 4,8%-6,2% gadis remaja memutuskan untuk melakukan upaya bunuh diri yang serius (3).
Organisasi Kesehatan dunia merilis pada tahun 2016, sekitar 4,8%-6,2% remaja perempuan memutuskan untuk melakukan percobaan bunuh diri yang serius, hal ini didorong oleh pertama, gangguan perilaku pada anak, dan gangguan kecemasan pada anak (3). Namun, belum ada penelitian sebelumnya yang secara khusus berfokus pada hubungan gabungan antara kecemasan berlebihan dan Body Mass Index (BMI) pada ukuran tubuh perseptual (4).
Indonesia merupakan negara dengan usia produktif (15-64 tahun) mencapai 183.517.401 jiwa yang terdiri dari 92.188.550 laki-laki dan 91.328.851 perempuan yang menjadi sasaran program pembangunan kesehatan. Provinsi Gorontalo termasuk dalam urutan ketiga jumlah penduduknya, yaitu hanya 1.219.576 jiwa, dan termasuk dalam urutan kelima penduduk termiskin pada tahun 2020. Jumlah remaja di Provinsi Gorontalo sebanyak 18.895 jiwa, terdiri dari 7.213 laki-laki dan 11.682 perempuan pada tahun 2021.
Sikap makan yang tidak teratur meningkat pesat, perilaku yang tidak teratur ini dihasilkan dari interaksi beberapa faktor, termasuk cita-cita kecantikan (5). Namun, di sisi lain Obesitas pada masa kanak-kanak dan remaja dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular, metabolisme, dan endokrin yang lebih tinggi (6).
Menurut Siswanto, remaja putri dan sejumlah wanita percaya bahwa body image seperti tubuh kurus dan kecil dianggap cantik. Namun, mereka (umumnya wanita) perlu menyadari bahwa tubuh mereka membutuhkan nutrisi yang cukup selama masa kehamilan. Selain itu, ancaman kekurangan energi kronis (KEK) dan anemia sangat mungkin terjadi, dan juga berdampak pada janin atau bayi dengan berat badan rendah, yang dapat menyebabkan kematian dan kesakitan ibu dan bayi (7).
Body image adalah sikap individu terhadap bentuk, penampilan, dan ukuran tubuh (8). Selain itu Self esteem sering dipahami sebagai ciri kepribadian karena cenderung bertahan lama dan stabil (9). Citra tubuh yang positif dan harga diri yang tinggi berperan besar dalam menurunkan kecemasan pada remaja putri di Indonesia (10).
Pemberian pendidikan kesehatan perlu dilakukan untuk mencegah potensi kasus tersebut. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar mungkin penting bagi petugas kesehatan dalam mendidik masyarakat (11) Hampir semua bidang dan aspek kehidupan manusia menggunakan teknologi(12).
Media konvensional kurang efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan. Generasi 4.0 lebih menyukai pendekatan edukasi yang lembut melalui teknologi, seperti audiovisual, video animasi dengan karakter yang unik dan menarik (13).
Video animasi secara tidak langsung harus mengandung pesan positif melalui adegan dan dialognya (14).
Prevalensi gangguan makan di Indonesia belum diketahui secara pasti karena kurangnya penelitian yang mengkajinya. Namun, salah satu penelitian yang dilakukan oleh Tanti dan Kharoh (2019) di salah satu SMA di Bali menyatakan bahwa sebanyak 41,8% responden adalah pemakan besar, dan 32,5% responden adalah pemilih makanan. Remaja SMA (usia 15-18) biasanya sangat memperhatikan body image (15).
Sampai saat ini, belum ada penelitian sebelumnya yang secara khusus berfokus pada hubungan antara kecemasan berlebihan dan Body Mass Index (BMI) pada persepsi ukuran tubuh (4). Media pendidikan, seperti video animasi, meningkatkan pengetahuan dan persepsi siswa tentang Indeks Massa Tubuh.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang pemberian animasi body image dan self esteem terhadap persepsi indeks massa tubuh remaja di SMA Negeri 1 Limboto Kabupaten Gorontalo.
METODE
Pelaksanaan penelitian pada salah satu sekolah di kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo yaitu SMA Negeri 1 Limboto selama kurang lebih 2 bulan mulai dari bulan Januari – Maret 2023. Penelitian dilaksanakan setelah mendapatkan rekomendasi persetujuan etik dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar dengan nomor : 098/UN4.14.1/TP.01.02.2023 dan nomor protokol 261222092380.
Penelitian ini adalah penelitian R&D (reseach and development) yang dimulai dari research and information collecting, planning, develop of preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision and dessimination and implementation. Instrument yang digunakan berupa skala penilaian untuk mengetahui kelayakan video animasi dan mengetahui respon peserta didik terhadap kemenarikan media video animasi sebagai media pembelajaran tematik yaitu menggunakan skala Likert.
Hasil penelitian akan dikeluarkan dalam bentuk output spss versi 25, metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian Quasi Eksperimen dengan rancangan two group Pretest-Postest design, yang menggunakan pengambilan sampel dengan teknik quota sampling yaitu teknik non random sampling dimana partisipan dipilih berdasarkan karakteristik yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu siswi kelas X hingga XI berjumlah 142 orang. Sedangkan, untuk uji dilakukan uji Wilcoxon signed rank test. Perbedaan ujinya adalah terletak pada sumber data, di mana Uji Wilcoxon Rank Sum Test digunakan untuk menguji perbedaan antara 2 kelompok bebas atau independen, sedangkan Uji Wilcoxon Signed Rank Test digunakan untuk menguji perbedaan antara 2 kelompok berpasangan atau related. Jadi jika dianalogikan dengan uji parametris, Uji Wilcoxon Rank Sum Test identik dengan uji Independen T Test, sedangkan Uji Wilcoxon Signed Rank Test identik dengan uji T Paired.
Figure 1. Metode Borg and Gall
HASIL
Design penelitian menggunakan Pretest sebagai penilaian awal persepsi responden sebelum diberi intervensi menggunakan video animasi dan video text sebagai kontrol selama 4 kali pertemuan dalam waktu 4 minggu dengan durasi 50 menit setiap pertemuan. Setelahnya kemudian dilakukan penilain akhir Posttest. Pengaruh dari pemberian video dapat diketahui secara akurat dengan melihat hasil sebelum dan setelah diberikan video melalui kuesioner pre-post test. Kuesioner diujikan kepada 20 orang, berdasarkan hasil yang diperoleh 21 dari 40 butir nomor soal dinyatakan valid.
| Indikator Penilaian | Hal Yang Di Harapkan | Ahli 1 | Ahli 2 | Rata-rata penilaian |
|---|---|---|---|---|
| Usability | Menu-menu yang ada di dalam Website mudah dipahami | 4 | 4 | 4 |
| 2. Tulisan teks yang digunakan pada menu dalam Website mudah dipahami | 4 | 4 | ||
| 3. Menu yang dipilih dapat menampilkan halaman dengan cepat | 4 | 4 | ||
| 4. Hasil pencarian dapat ditampilkan secara cepat | 4 | 4 | ||
| 5. Website dapat diakses dengan mudah | 4 | 4 | ||
| 6. Alamat Website mudah diingat | 4 | 4 | ||
| 7. Konten dalam Website informative | 4 | 4 | ||
| 8. Informasi yang disajikan dalam website up to date | 4 | 4 | ||
| 2. Functionality | 9. Menu navigasi utama berfungsi dengan baik | 4 | 4 | 3,85 |
| 10. Menu forum berfungsi dengan baik | 4 | 4 | ||
| 11. Menu Contact Us berfungsi dengan baik | 3 | 3 | ||
| 12. Menu pengerjaan soal berfungsi dengan baik | 4 | 4 | ||
| 13. Hasil skor soal dapat dilihat | 4 | 4 | ||
| 14. Menu download berjalan dengan baik | 4 | 4 | ||
| 15. Link youtube berfungsi dengan baik | 4 | 4 | ||
| 3. Komunikasi Visual | 16. Penggunaan bahasa dalam media sudah baik | 4 | 4 | 3,85 |
| 17. Teks/tulisan dalam media pembelajaran mudah dipahami | 4 | 4 | ||
| 18. Desain tampilan media pembelajaran sederhana atau mudah dipahami | 4 | 4 | ||
| 19. Pemilihan warna web secara umum sudah baik | 3 | 3 | ||
| 20. Pemilihan warna menu atau navigasi sudah baik | 4 | 4 | ||
| 21. Pemilihan tata letak menu navigasi dalam web sudah baik | 4 | 4 | ||
| 22. Penggunaan tata letak (layout) web sudah konsisten | 4 | 4 | ||
| Rata-rata | 3,9 (sangat baik) | |||
Kelayakan media pembelajaran berbentuk video animasi 2D ditinjau dari 2 orang ahli media dengan menggunakan skala likert dengan skala 1-4. Aspek yang menjadi indikator dalam penilaian kelayakan ada 3 aspek, yaitu komunikasi visual, aspek penggunaan dan aspek manfaat. Validasi dilakukan oleh 2 ahli media, serta uji coba terbatas dan uji kelayakan pada pengguna. 2 orang ahli media atas nama Dr. Andi Agussalim, M.Hum. dan Ir. Lukman Syafie, S.Si. M.Si., MTA pada video animasi berbasis web pada remaja putri, dari ke 3 aspek yang dinilai berjumlah 22 pernyataan rata-rata nilai yang didapatkan adalah 3,9 yang berarti web sangat layak untuk digunakan.
| Indikator Penilaian | Butir Penilaian | Ahli 1 | Ahli 2 | Rata-rata penilaian |
|---|---|---|---|---|
| Aspek Kelayakan Isi | 3,75 | 3,66 | 3,70 | |
| Kesesuaian Materi dengan Kompetensi Dasar | Kelengkapan Materi | 4 | 4 | |
| 2. Keluasan Materi | 3 | 4 | ||
| 3. Kedalaman Materi | 4 | 4 | ||
| 2. Keakuratan Materi | 4. Keakuratan konsep dan definisi | 4 | 3 | |
| 5. Kekauratan data dan fakta | 4 | 3 | ||
| 6. Keakuratan kasus dan contoh | 4 | 3 | ||
| 7. Keakuratan gambar, diagram dan ilustrasi | 3 | 4 | ||
| 8. Keakuratan istilah-istilah | 4 | 4 | ||
| 3. Kemutakhiran Materi | 9. Gambar dan ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari | 4 | 4 | |
| 10. Menggunakan contoh dan kasus yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari | 4 | 4 | ||
| 4. Mendorong Keingintahuan | 11. Mendorong rasa ingin tahu | 4 | 4 | |
| 12. Menciptakan kemampuan bertanya | 3 | 3 | ||
| 2. Aspek Kelayakan Penyajian | 3,5 | 3,33 | 3,41 | |
| Teknik Penyajian | 13. Keruntutan konsep | 4 | 3 | |
| 2. Pendukung Penyajian | 14. Pengantar | 3 | 4 | |
| 15. Daftar Pustaka | 4 | 4 | ||
| 16. Keterlibatan Peserta | 3 | 3 | ||
| 3. Penyajian Pembelajaran | 17. Ketertautan antar kegiatan belajar | 3 | 3 | |
| 4. Koherensidan Keruntutan Alur Pikir | 18. Keutuhan makna dalam kegiatan belajar | 4 | 3 | |
| 3. Aspek Kelayakan Bahasa | 3,62 | 3 | 3,31 | |
| Lugas | 19. Ketetapan struktur kalimat | 4 | 3 | |
| 20. Keefektifan kalimat | 4 | 3 | ||
| 21. Kebakuan Istilah | 4 | 3 | ||
| 2. Komunikatif | 22. Pemahaman terhadap pesan dan informasi | 4 | 3 | |
| 3. Diagnosis dan Interaktif | 23. Kemampuan memotivasi | 4 | 3 | |
| 4. Kesesuaian dengan perkembangan remaja putri | 24. Kesesuaian dengan perkembangan intelektual remaja putri | 3 | 3 | |
| 5. Kesesuaian dengan kaidah bahasa | 25. Ketepatan Bahasa | 3 | 3 | |
| 26. Ketepatan Ejaan | 3 | 3 | ||
| 4. Aspek Kelayakan Konstektual | 3,14 | 3,14 | 3,14 | |
| Hakikat Intelektual | 27. Keterkaitan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata | 3 | 3 | |
| 28. Kemampuan mendorong agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari | 3 | 3 | ||
| 2. Komponen Kontekstual | 29. kontruktivisme | 3 | 3 | |
| 30. Menemukan | 3 | 4 | ||
| 31. Bertanya | 3 | 3 | ||
| 32. Pemodelan | 4 | 3 | ||
| 33. Refleksi | 3 | 3 | ||
| Rata-rata | 3,50 | 3,28 | 3,39 (sangat baik) | |
Media pembelajaran berbentuk video animasi 2 dimensi ditinjau dari 2 orang ahli materi dengan menggunakan skala likert dengan skala 1-4. Aspek yang menjadi indikator dalam penilaian kelayakan materi meliputi 4 aspek, yaitu Aspek Kelayakan Isi, Aspek Kelayakan Penyajian, Aspek Kelayakan Bahasa, Aspek Kelayakan Konstektual. Validasi dilakukan oleh 2 ahli materi, serta uji coba terbatas dan uji kelayakan pada pengguna. 2 orang ahli materi atas nama Dr. Muh. Tamar, M.Psi dan Prof. dr. Veny Hadju, M. Sc. Ph. D. video animasi berbasis web pada remaja putri mendapatkan nilai 3,39 atau web berisi materi yang layak disebar untuk khalayak.
| Aspek | Min | Max | Mean | SD |
|---|---|---|---|---|
| Kemudahan Pengguna | 3 | 5 | 4,83 | 0,577 |
| Manfaat Aplikasi | 3 | 5 | 4,55 | 0,889 |
| Kepercayaan | 3 | 5 | 4,78 | 0,667 |
| Kesadaran Pengguna | 3 | 5 | 4,67 | 0,816 |
Berdasarkan tabel uji satu-satu diatas, menunjukkan bahwa mean atau nilai rata-rata pada 3 orang responden di atas pada variabel kemudahan pengguna adalah sebesar 4,83 > 4, variabel manfaat aplikasi sebesar 4,55 > 4, variabel kepercayaan 4,78 > 4, dan variabel kesadaran pengguna 4,67>4.
Jika dilihat dari secara keseluruhan ketiga responden memiliki jawaban yang hampir mirip dan ketiganya memperoleh angka lebih dari 4 yang artinya web peduli tubuhmu “sangat baik” digunakan.
| Aspek | Min | Max | Mean | SD |
|---|---|---|---|---|
| Kemudahan Pengguna | 3 | 5 | 4.32 | 0.616 |
| Manfaat Aplikasi | 3 | 5 | 4.57 | 0.568 |
| Kepercayaan | 3 | 5 | 4.5 | 0.63 |
| Kesadaran Pengguna | 4 | 5 | 4,60 | 0.503 |
Berdasarkan tabel uji kelompok kecil diatas, menunjukkan bahwa mean atau nilai rata-rata pada 10 orang responden di atas pada variabel kemudahan pengguna adalah sebesar 4,32 > 4, variabel manfaat aplikasi sebesar 4,57 > 4, variabel kepercayaan 4,5 > 4, dan variabel kesadaran pengguna 4,60>4. ke 4 variabel tersebut dapat diartikan bahwa web peduli tubuhmu “sangat baik” digunakan.
Uji coba kemudian dilakukan pada sampel yang lebih banyak yang terdiri dari 10 orang responden, dimana hasil dari 4 variabel diatas memiliki nilai lebih dari 4, yang sebelumnya juga hasil tersebut diperoleh dari uji coba satu-satu dan mengartikan bahwa web sangat baik untuk digunakan.
| Aspek | Min | Max | Mean | SD |
|---|---|---|---|---|
| Kemudahan Pengguna | 2 | 5 | 4,42 | 0,773 |
| Manfaat Aplikasi | 4 | 5 | 4,46 | 0,501 |
| Kepercayaan | 3 | 5 | 4,37 | 0,570 |
| Kesadaran Pengguna | 3 | 5 | 4,60 | 0,558 |
Berdasarkan tabel uji kelompok kecil diatas, menunjukkan bahwa mean atau nilai rata-rata pada 30 orang responden di atas pada variabel kemudahan pengguna adalah sebesar 4,42 > 4, variabel manfaat aplikasi sebesar 4,46 > 4, variabel kepercayaan 4,37 > 4, dan variabel kesadaran pengguna 4,60>4. ke 4 variabel tersebut dapat diartikan bahwa web peduli tubuhmu “sangat baik” digunakan.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa 30 responden memiliki penilaian yang hampir sama dengan aspek dari aplikasi. Ketiga kelompok diatas menyatakan setuju bahwa aplikasi mudah digunakan, bermanfaat, dapat dipercaya dan bersikap setuju terhadap kemanfaatan aplikasi bagi masyarakat luas.
Pada penelitian ini 142 mahasiswa yang menjadi responden dibagi dalam dua kelompok yaitu 71 siswa dalam kelompok video animasi body image dan self esteem dan 71 siswa lainya dalam kelompok video teks body image dan self esteem. Penelitian dilakukan menggunakan dua kali pengukuran yaitu sebelum dan sesudah.
| Kelompok | ||||
|---|---|---|---|---|
| Karakteristik | Intervensi | Control | ||
| n (71) | % | n (71) | % | |
| Umur | ||||
| 16 | 17 | 23.9 | 37 | 52.1 |
| 17 | 42 | 59.2 | 28 | 39.4 |
| 18 | 12 | 16.9 | 6 | 8.5 |
| Jarak sekolah | ||||
| Dekat | 38 | 53.5 | 46 | 64.8 |
| Jauh | 33 | 46.5 | 25 | 35.2 |
|
IMT Underweight |
38 | 53,5 | 30 | 42.3 |
| Normal | 28 | 39.4 | 29 | 40.8 |
| Overweight | 5 | 7 | 12 | 16.9 |
| Total | 71 | 100 | 71 | 100 |
Distribusi karakteristik responden berdasarkan umur, menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada kelompok intervensi (video animasi) berada pada usia 17 tahun (59,2%) dan kelompok kontrol (video text) sebagian besar berada pada umur 16 tahun (52,1%). Majunya teknologi di Indonesia dalam bidang Pendidikan, informasi hingga transportasi menawarkan sangat banyak fitur yang memudahkan penggunanya dan mengakibatkan perilaku yang monoton dan terbatas untuk melakukan aktifitas fisik pada remaja. Dilansir dari pernyataan oleh Anggelia pada tahun 2017 menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang kurang melakukan aktifitas fisik dinyatakan 4,2% yang berusia 16-18 tahun. Hal ini dapat berpotensi untuk menimbulkan penyakit dan menyebabkan kematian yang berhubungan dengan penyakit tidak menular dalam jangka waktu yang Panjang. Remaja termasuk dalam kalangan kategori umur 16-18 tahun dan termasuk dalam 84,9% kurang melakukan aktifitas fisik (16).
Remaja mengalami kekurangan gizi juga tidak kalah potensial daripada yang obesitas pada usia 16-19 tahun dan kurus 5,9% (17). Keadaan kurang gizi akan memberikan dampak buruk terhadap kondisi kesehatan fisik, mental, intelektual dan sosial anak remaja. Penelitian Desi menyatakan bahwa akibat dari kekurangan gizi dapat menyebabkan kognitif dan kemampuan belajar terganggu, serta menurunkan konsentrasi. Penelitian Florence (2017) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan gizi dengan status gizi. Selanjutnya, dijelaskan bahwa kesalahan dalam memilih makanan dan kurang cukupnya pengetahuan tentang gizi akan mengakibatkan timbulnya masalah gizi yang akhirnya mempengaruhi status gizi. Untuk itu, upaya edukasi kesehatan diperlukan dalam rangka meningkatkan perilaku remaja dalam mengatasi masalah status gizinya (17).
Ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sasmi dkk pada tahun 2023 yang mengatakan bahwa mayoritas responden yang ditelitinya sering mengkonsumsi makanan berjenis gorengan seperti, cireng, cimol, corndog, nasi goreng, dan jenis gorengan lainnya, mereka cenderung makan makanan kaki lima yang berada diluar sekolah, untuk jenis makanan yang dikonsumsi di rumah mereka bahkan masih belum seimbang, orang tua jarang menyajikan sayur, buah dan protein untuk dikonsumsi responden, jarang sarapan di rumah kerena takut terlambat datang ke sekolah, jarang melakukan olahraga dan aktivitas fisik lainnya (18).
Hal ini diperkuat dalam penelitian Ilmi dkk (2021) bahwa masalah gizi yang terjadi di Indonesia salah satunya ialah underweight. Kelompok yang rentan underweight adalah remaja putri, khususnya remaja yang tinggal jauh dari orang tua yaitu santriwati. Underweight terjadi karena kekurangan zat gizi makro dan zat gizi mikro, salah satunya ialah defisiensi zink. Dampak dari defisiensi zink ialah gangguan reproduksi, pertumbuhan terhambat, penurunan daya tahan tubuh dan penurunan nafsu makan (19).
Indeks Massa Tubuh responden paling banyak adalah underweight pada kelompok intervensi yaitu 38 siswa (53,5%) dari 71 siswa, hal ini berbanding lurus dengan kelompok control yaitu sebanyak 30 siswa (42,3%) dari jumlah siswa yang sama. Pengambilan data awal yang melibatkan 10 orang responden dapat menggambarkan bahwa pengetahuan siswa tentang diet sehat masih sangat minim, remaja dengan overweight atau kelebihan berat badan lebih memilih untuk minum kafein instant dalam bentuk botol untuk menambal nafsu makan, bahkan ketika mereka belum sarapan, setelah dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan mereka dikejutkan dengan IMT yang normal, bahkan selama ini mereka mengira telah kelebihan berat badan.
Demi mendapatkannya, remaja rela melakukan diet ketat tanpa disertai pengetahuan gizi yang cukup, sehingga muncullah perilaku makan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip gizi. Apabila hal ini diteruskan, akan berpengaruh pada kualitas kesehatan dan gizi remaja yang seharusnya disiapkan dengan matang sebagai seorang calon ibu (20).
| Persepsi pretest | Intervensi | Control | n | % | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| n | % | n | % | |||
| Baik | 8 | 11,2 | 12 | 16,9 | 20 | 14,05 |
| Cukup | 44 | 62,0 | 48 | 67,6 | 92 | 64,8 |
| Kurang | 19 | 26,8 | 11 | 15,5 | 30 | 21,15 |
| Total | 71 | 100 | 71 | 100 | 142 | 100 |
Tabel diatas menunjukkan total sampel 142 orang yang terbagi atas 2 grup yaitu grup intervensi yang terdiri dari 71 orang responden dan kontrol positif yang berjumlah sama. Pretest tentang persepsi animasi terbanyak berada pada kategori cukup yaitu 44 (62%) siswa, sama dengan Pretest tentang video text yaitu berjumlah 48 (67,6%) siswa. Dari hasil Pretest di atas menujukkan bahwa responden memiliki persepsi pada kategori cukup.
Figure 2. Pretest persepsi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di SMA Negeri 1 Limboto
| Persepsi post test | Intervensi | Control | n | % | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| n | % | n | % | |||
| Baik | 68 | 95,8 | 48 | 67,6 | 116 | 81,7 |
| Cukup | 3 | 4,2 | 19 | 26,8 | 21 | 15,5 |
| Kurang | 0 | 0 | 4 | 5,6 | 4 | 2,8 |
| Total | 71 | 100 | 71 | 100 | 142 | 100 |
Hasil persepsi Posttest, setelah dilakukan pemberian intervensi berupa video animasi dan video text, terjadi perubahan persepsi, terutama pada video animasi yaitu sebanyak 68 (95,8%) siswa dalam kategori baik, sisanya 3 (4,2%) yang dalam kategori cukup. Pada video text siswa mengalami perubahan persepsi dari yang tadinya pada saat Pretest hanya 1 orang yang masuk dalam kategori baik, tetapi setelah dilakukan pemberian video text naik menjadi 48 (67,6%) siswa.
Figure 3. Post test persepsi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di SMA Negeri 1 Limboto
Setelah dilakukan intervensi yaitu pemberian video animasi, siswa mengalami perubahan persepsi yang sangat memuaskan, hampir semua dapat menjawab dengan baik sesuai dengan penyampaian dari video, untuk video text responden sudah mendapatkan nilai yang membaik karena sebelumnya hanya 11 orang responden menjadi 48 orang responden.
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah sampel sebanyak 71 orang di setiap kategori, sebanyak 50 orang siswa mengalami perubahan postif pada video animasi, 1 orang responden mengalami perubahan persepsi yang negative dan 20 orang tetap, dalam video text terdapat 45 orang yang mengalami perubahan persepsi yang positif, 5 orang yang negative dan 21 orang tetap.
Remaja adalah salah satu dari beberapa golongan yang masuk dalam rentan gizi, siswa sekolah menengah atas termasuk remaja pertengahan yang dalam proses perkembangannya mengalami perubahan baik segi fisik maupun psikis. Kepedulian remaja akan tubuhnya juga menjadi salah satu penyebab remaja untuk mengurangi asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya, pada saat dilakukan pretest untuk seluruh responden didapati responden yang masuk dalam kelompok intervensi dominan pada kategori cukup yaitu 44 (62%) siswa, sama dengan
Pretest pada kelompok kontrol yaitu berjumlah 48 (67,6%) siswa. Dari hasil Pretest di atas menujukkan bahwa responden masuk dalam kategori persepsi yang cukup.
Hal ini berjalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wati (2019). Pada masa peralihan, remaja putri menadi lebih peka dan selalu saja merasa tidak puas terhadap penampilannya, hingga memberikan perhatian khusus pada penampilannya. Hal ini dapat dipertanyakan oleh beberapa factor yang dapat menimbulkan reaksi terhadap citra tubuh, salah satunya adalah indeks massa tubuh (IMT) yang abnormal pada individu. Pada penelitiannya didapatkan hasil yang membuktikan bahwa Sebagian besar siswa memiliki citra tubuh yang negatif yaitu sebanyak 104 (57,8%), dan sebanyak 76 (42,2%) siswi memiliki citra tubuh positif. Masil analisis chi square diperoleh nilai p value = 0,000 < (0,05) yang berarti ada hubungan indeks massa tubuh remaja putri dengan citra tubuhnya (21).
Kebanyakan remaja putri mengesampingkan untuk sarapan dengan alasan beragam yaitu takut terlambat datang ke sekolah, tidak terbiasa sarapan pagi, hingga kemungkinan untuk buang air besar di pagi hari tinggi intensitasnya. Banyak kejadian overweight dan underweight pada remaja putri berdampak pada ketidakteraturan siklus menstruasi. Dalam kesimpulannya Nugraheni dkk (2020) menyatakan bahwa status gizi remaja putri mayoritas dengan status gizi normal dan remaja putri lainnya mengalami status gizi yang bervariasi. Siklus mentruasi remaja putri sebagian besar teratur dengan beberapa gangguan dalam siklus menstruasi seperti dismenorea dan syndrome pramenstruasi (22).
| Persepsi Siswa | n | Negative ranks | Positif ranks | Ties | P value |
|---|---|---|---|---|---|
| Pretest-posttest video animasi | 71 | 1 | 50 | 20 | 0,000 |
| Mean ranks | 22,00 | 26,08 | |||
| Pretest-posttest video teks | 71 | 5 | 45 | 21 | 0,000 |
| Mean ranks | 27,00 | 25,33 | |||
| *uji wilcoxon | |||||
Mengacu pada tabel diatas dapat dikatakan dari hasil analisis menggunakan uji wilcoxon signed rank test spss versi 25 ada perbedaan persepsi siswi sebelum dan setelah diberikan video animasi pada kelompok intervensi dan pemberian video teks pada kelompok kontrol dengan jumlah sampel yang sama yaitu 71 responden masing-masing kelompok. Setelah dilakukan penelitian pada kelompok intervensi yaitu menggunakan video animasi sebanyak 50 orang siswa mengalami perubahan positif, 1 orang responden mengalami perubahan persepsi yang negative dan 20 orang tetap, dalam video text terdapat 45 orang yang mengalami perubahan persepsi yang positif, 5 orang yang negative dan 21 orang tetap. Dan di uji menggunakan uji Wilcoxon ditemukan 0,000 < 0,05 dengan artian bahwa ho diterima terdapat perubahan persepsi sebelum dan setelah dilakukannya intevensi.
Dibanding remaja laki-laki, remaja perempuan lebih rentan memiliki harga diri yang rendah dan citra tubuh yang negative, hal ini disebabkan oleh remaja perempuan terlalu berperasaan dan sering mengalami kekhawatiran serta keraguan, remaja laki-laki berindikasi untuk dapat lebih baik mengatasi lingkungan emosional daripada remaja perempuan.
Body image negative sangat umum terjadi pada masa remaja dan mempunyai dampak buruk bagi kesehatan seperti meningkatnya resiko rendah diri, depresi, gangguan aktivitas fisik dan pola makan. 3 komponen dasar untuk mencegah timbulnya body image negative pada remaja adalah melalui pendidikan tentang dampak membahayakan pengaturan berat badan yang tidak sehat, membantu mengatur penambahan berat badan yang sehat menggunakan prinsip gizi, diet dan aktivitas fisik. Pendidikan gizi adalah salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut (23).
Bimbingan spiritual kesehatan dan keselamatan reproduksi berorientasi pada penguatan moral dan nilai-nilai agama dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja dengan pendekatan pada beberapa aspek, seperti preventif, kuratif, rehabilitatif, dan perkembangan. Buklet merupakan media bimbingan/pembelajaran yang dapat menarik minat dan membantu remaja memahami materi bimbingan (24).
Selain booklet, video animasi dimaksudkan juga sebagai kontribusi untuk meningkatkan citra tubuh dan harga diri remaja muda wanita sehingga dapat meingkatkan kepercayaan diri serta cinta akan tubuhnya. Isi animasi dirancang agar tidak menyinggung isu, ras dan warna kulit terutama bentuk tubuh. Bahasan tentang body image serta self esteem masih dianggap sebagai bahasan yang sensitif karena tidak lepas dari isu sosial dalam konteks kecantikan, ras, warna kulit, gender, bentuk tubuh dan persepsi masyarakat terhadap apa yang dianggap ideal (25).
| Kelompok | n | Mean ranks | Sum of ranks | P value | |
|---|---|---|---|---|---|
| Pretest | Intervensi | 71 | 76,51 | 5432,50 | 0,086 |
| Control | 71 | 66,49 | 4720,50 |
Berdasarkan hasil summary data bahwa nilai pusat mean dan median data pretest pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol memiliki Pvalue sebesar 0,086 artinya hampir tidak terdapat perbedaan untuk hasil pretest tentang body image dan self esteem terhadap indeks massa tubuh pada remaja.
| Kelompok | n | Mean ranks | Sum of ranks | P value | |
|---|---|---|---|---|---|
| Posttest | Intervensi | 71 | 81,58 | 5792,50 | 0,000 |
| Control | 71 | 61,42 | 4360,50 | ||
| *Uji Mann Whitney (Rerata Animasi 81,58; Text 61,42) | |||||
Hasil analisis Untuk perbandingan antara 2 kelompok di atas telah diuji menggunakan uji mann whitney dari spss. Ditemukan bahwa terdapat perbedaan antara pemberian video animasi pada kelompok intervensi dan pemberian video teks pada kelompok kontrol, di lihat dari pValue 0,000 < 0,05.
Mengacu pada rerata video animasi sebesar 81,58% dan rerata video teks 61,42% terdapat perbedaan yang besar antara keduanya, sehingga dapat dikatakan bahwa video animasi lebih baik digunakan daripada video teks, video animasi sendiri bertujuan untuk menarik perhatian responden agar mereka mengikuti apa yang disampaikan dalam alur cerita animasi tersebut selain itu, video animasi sebagai teknik yang memiliki peran penting dan digunakan sebagai cara yang cerdik untuk menyampaikan pesan tanpa harus memaksa.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mustafa dkk pada tahun 2020 yang mengatakan data yang diperoleh membuktikan bahwa keterampilan mahasiswa sebelum diberikan intervensi/perawatan terdapat 28 mahasiswa kebidanan yang tidak terampil dan 3 mahasiswa kebidanan yang terampil dari 31 mahasiswa kebidanan sebelum diberikan media pembelajaran. Setelah dilakukan intervensi terjadi peningkatan yang sangat baik, dari total 31 mahasiswa kebidanan mahasiswa kebidanan dinyatakan terampil. Metode pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis android sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa kebidanan dalam mendeteksi dini perkembangan motorik halus usia 6-12 bulan. Penelitian ini menemukan bahwa ada perbedaan kemampuan deteksi dini perkembangan motorik halus usia 6-12 bulan berbasis android sebelum dan sesudah diberikan media pembelajaran (26).
DISKUSI
Wawancara dengan beberapa siswa di luar daerah Limboto dinyatakan itu mereka lebih menyukai ke makan makan siang pada sekolah . Terpencil _ lokasi dari itu sekolah membuat waktu untuk sarapan pada rumah berkurang . Makanan _ siswa mengkonsumsi lagi seperti nasi kuning , bakso , nugget , gorengan makanan , ayam burger , dan lainnya tidak sehat makanan ringan . Selain itu , kebanyakan responden non akademik berprestasi _ siswa Dan membelanjakan lagi produktif waktu pada sekolah dibandingkan pada rumah . Ini sejalan _ _ dengan riset diadakan oleh Sasmi et Al. pada tahun 2023, yang dilaporkan itu itu mayoritas dari responden mereka dipelajari sering _ mengkonsumsi makanan dibuat dari tapioka tepung kanji ( cireng atau goreng tapioka pati Dan cimol atau dikukus tapioka pati ), corndog , goreng nasi , dan lainnya jenis dari goreng makanan . Mereka cenderung ke mengkonsumsi jalan makanan di luar dari sekolah . Ini kasus adalah Juga didukung oleh itu tidak seimbang nutrisi dari itu makanan mereka mengkonsumsi pada rumah . Milik mereka orang tua jarang melayani sayuran , buah-buahan , dan protein. Responden jarang makan sarapan pada rumah Karena mereka takut makhluk terlambat untuk sekolah Dan jarang Mengerjakan olahraga atau lainnya fisik kegiatan (18).
Ini hasil adalah selaras dengan riset diadakan oleh Ilmi et Al. (2021), menyatakan itu satu masalah gizi di Indonesia adalah kurus . Yang rentan kurus kelompok adalah sebagian besar remaja cewek-cewek atau siswa WHO hidup terpisah dari orang tuanya. Ini telah terjadi dibahas sebelumnya dalam penelitian diadakan oleh Setyawati pada tahun 2018. Sejak tahun 2010 banyak terjadi “ westernisasi ” . menjadi peran model dari remaja dalam berbagai bidang , termasuk makan gaya Dan perilaku . Salah satu itu negara itu menjadi peran _ dari mode adalah Korea Selatan . Banyak remaja mendewakan itu angka dari penyanyi Dan artis dari itu negara oleh Korea Gelombang . Mereka mencari ke meniru Apa Korea seniman terpasang _ untuk : ramping tubuh . Ini kecenderungan menciptakan negatif _ definisi dari tubuh gambar di antara remaja : tubuh ideal _ adalah ramping .(19)
Untuk _ mendapatkan yang tepat tubuh gambar , remaja rela melakukan diet ketat tanpa _ makhluk ditemani oleh memadai nutrisi pengetahuan dan tidak sesuai dengan nutrisi prinsip . Ini berkelanjutan kondisi akan lebih jauh memengaruhi itu kualitas dari kesehatan Dan nutrisi dari remaja , khususnya remaja cewek-cewek WHO akan menjadi ibu (20).
Tentang tubuh gambar , remaja cewek-cewek sebagian besar mengurangi itu pemasukan dari nutrisi untuk milik mereka tubuh . Selama itu Pretest , responden ditemukan _ ke berada di _ dominan intervensi kelompok di _ memadai kategori 44 (62%) siswa . Ini hasil pergi bersama dengan itu Pretes di _ kontrol kelompok , yang adalah 48 (67,6%). Itu pretest menunjukkan itu responden tergolong cukup _ _ persepsi . Formasi _ dari tubuh citra pada individu akan membentuk harga diri yang mempengaruhi itu kemampuan ke mengeksplorasi diri (27)
Riset diadakan oleh Wati (2019) mengungkapkan itu selama itu transisional periode , remaja cewek-cewek menjadi lagi peka Dan selalu merasa tidak puas dengan milik mereka penampilan , yang membuat mereka membuat banyak dari upaya ke meningkatkan dia (21)
Selanjutnya , remaja anak perempuan lebih banyak rentan ke rendah harga diri , negatif tubuh citra , dan kecemasan. Sebaliknya , remaja _ anak laki- laki mampu ke mengatasi dengan itu dinamis lingkungan . Remaja dengan rendah tubuh gambar akan merasa dibenci , disia-siakan , dan tidak diterima oleh siapapun , rasakan lagi dihalangi , ditolak , dihina dan tidak dicintai (28)
Negatif tubuh gambar sebagian besar terjadi pada masa remaja dan memiliki merugikan kesehatan efek . Dia menciptakan rendah harga diri , depresi , fisik aktivitas , dan makan gangguan . Ketiganya _ dasar komponen ke mencegah negatif _ tubuh image pada remaja bersifat mendidik bagaimana diet ketat mungkin _ menjadi berbahaya , memelihara sehat penambahan berat badan melalui nutrisi prinsip , melakukan diet normal, dan fisik aktivitas . Pendidikan pada Nutrisi adalah satu dari itu intervensi itu Bisa menjadi Selesai ke mengatasi ini masalah (23)
Membuat animasi video adalah dianggap sebagai kontribusi ke membaik tubuh citra , harga diri , dan cinta diri . Konten _ dari itu animasi adalah dirancang untuk tidak menyinggung yakin masalah , seperti ras , kulit _ warna , dan tubuh bentuk . Tubuh gambar Dan harga diri diskusi masih _ dipertimbangkan peka sejak mereka tidak bisa menjadi terpisah dari itu konteks dari kecantikan , ras , kulit warna , jenis kelamin, tubuh bentuk , dan milik orang persepsi (25)
Melalui animasi video , 50 siswa berpengalaman positif persepsi , satu responden berpengalaman negatif persepsi , dan 20 adalah mantap . Sementara itu , teks video menciptakan 45 orang WHO berpengalaman positif persepsi , lima negatif perspektif , dan 21 mantap . Wilcoxon _ tes memperoleh bahwa 0,000 < 0,05, yang mana berarti ho adalah diterima , terbukti oleh itu mengubah persepsi sebelum Dan setelah itu intervensi . Demikian juga , intervensi kelompok Dan itu kontrol kelompok diuji melalui itu Tes Mann -Whitney di SPSS menunjukkan 0,000<0,05, artinya terdapat perbedaan hasil _ _ di antara itu dua aspek.
KESIMPULAN
Dengan melihat apa yang telah dipaparkan dan di analisis di atas. Terkhusus pada rumusan masalah dan dihubungkan dengan hasil analisis serta pembahasannya, maka secara garis besar dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Makna yang terungkap dari penelitian ini yaitu:
- Dengan menggunakan metode Borg and Gall (R&D) dapat dikatakan bahwa pengembangan video animasi dan video teks tentang body image dan self esteem layak untuk disebarkan ke khalayak luas.
- Terdapat adanya perubahan persepsi remaja setelah menonton video animasi mengenai persepsi remaja tentang indeks massa tubuh. Berdasarkan hasil observasi dan analisis mengenai body image dan self esteem dengan jumlah responden sebanyak 142 orang remaja putri dapat dikatakan bahwa terjadi perubahan persepsi sebelum dilakukannya intervensi dan setelah dilakukan intervensi yang ber nilai signifakan p Value 0,000<0,05.
- Terdapat adanya perubahan persepsi remaja setelah menonton video teks mengenai persepsi remaja tentang indeks massa tubuh. Berdasarkan hasil observasi dan analisis mengenai body image dan self esteem dengan jumlah responden sebanyak 142 orang remaja putri dapat dikatakan bahwa terjadi perubahan persepsi sebelum dilakukannya intervensi dan setelah dilakukan intervensi yang ber nilai signifakan p Value 0,000<0,05.
- Dari hasil pemberian kuisoner posttest antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan antara keduanya dengan nilai signifakan p Value 0,000<0,05.
PENGAKUAN
Terima kasih Anda ke Hasanuddin Universitas, SMA Negeri 1 Limboto 30 Makassar dari itu penulis.
REFERENSI
1. Kholifah S, Rochdiat W. Hubungan Antara Status Gizi dengan Harga Diri pada Remaja Putri. UNRIYO. 2019;1–6.
2. Rahmadani I, Agushybana F, Dharmawan Y. Hubungan Persepsi Lingkungan Tempat Tinggal Dan Pemanfaatan Smartphone Dengan Perilaku Berpacaran Yang Berisiko Pada Remaja Yang Tinggal Di Daerah Lokalisasi Gambilangu Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat [Internet]. 2018;6(1):110–20. Available from: http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm
3. Unicef. Profil Remaja 2021. 2021.
4. Paans NPG, Bot M, Brouwer IA, Visser M, Penninx BWJH. Contributions of depression and body mass index to body image. J Psychiatr Res. 2018 Aug 1;103:18–25.
5. Aparicio-Martinez P, Perea-Moreno AJ, Martinez-Jimenez MP, Redel-Macías MD, Pagliari C, Vaquero-Abellan M. Social media, thin-ideal, body dissatisfaction and disordered eating attitudes: An exploratory analysis. Int J Environ Res Public Health. 2019;16(21).
6. Kuciene R, Dulskiene V. Associations between body mass index, waist circumference, waist-to-height ratio, and high blood pressure among adolescents: a cross-sectional study. Sci Rep. 2019 Dec 1;9(1).
7. RI K. Indikator AKN dan AKB. 2018;
8. Agustiningsih N, Rohmi F, Rahayu YE, Tinggi S, Kesehatan Kepanjen I, Kepanjen IK. Hubungan Body Image Dengan Harga Diri Pada Remaja Putri Usia 16-18 Tahun (The Relationship Between Body Image And Self Esteem In Adolescent Girls Age 16-18 Years). Jurnal Ilmu Kesehatan. 2020;8(2):109.
9. Šagát P, Bartik P, Lazi? A, Toh?nean DI, Koronas V, Turcu I, et al. Self-esteem, individual versus team sports. Int J Environ Res Public Health. 2021 Dec 1;18(24).
10. Ratnasari SE. Hubungan Antara Body Image dengan Kecemasan Sosial pada Remaja Perempuan. 2017.
11. Sartika A, Siregar B, Golis E, Tobing L, Fitri NR. Developing Of Teaching Materials?: Using Animation Media To Learning English Vocabulary For Early Childhood. Indonesian Journal of Research and Educational Review [Internet]. 2021;1(1). Available from: https://doi.org/10.51574/ijrer.v1i1.44
12. Izzah L, Bahar H, Puteri G. Pengaruh Animasi dalam Powtoon terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia Materi teks Eksplanasi. Universitas Muhammadiyah Jakarta [Internet]. 2020;7(2020). Available from: http://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaslit
13. Aisah S, Ismail S, Margawati A, Doktor M, Kedokteran I, Kesehatan D, et al. Edukasi Kesehatan dengan Media Video Animasi: Scoping Review. Jurnal Perawat Indonesia. 2021;5(1):641–55.
14. Irawan DC, Rafiq A, Utami FB. Media Video Animasi Guna Meningkatkan Sikap Tanggung Jawab Pada Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha [Internet]. 2021;9(2):294–301. Available from: https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPAUD/index
15. Aristantya EK, Helmi AF. Citra Tubuh pada Remaja Pengguna Instagram. Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP). 2019 Oct 30;5(2):114.
16. Krismawati EDL, Andayani LNN, Wahyuni N. Hubungan Antara Aktivitas Fisik Dengan Indeks Massa Tubuh (Imt) Pada Remaja Usia 16-18 Tahun Di Sma Negeri 2 Denpasar. Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia. 2018;25–9.
17. Zahtamal Z, Munir SM. Edukasi Kesehatan Tentang Pola Makan dan Latihan Fisik untuk Pengelolaan Remaja Underweight. Jurnal PkM Pengabdian kepada Masyarakat. 2019 Mar 12;2(01):64.
18. Sasmi AR, Novayelinda R, Wofers R. Hubungan Perilaku Makan Terhadap Imt (Indeks Massa Tubuh) Pada Remaja. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia [Internet]. 2023;3(1):28–32. Available from: https://journal.amikveteran.ac.id/index.php/
19. Ilmi VYA, Maharani N, Dieny FF, Fitranti DY. Asupan protein, zink, dan defisiensi zink pada santriwati underweight. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. 2021 Oct 30;18(2):69.
20. Setyawati VAV, Setyowati M. Karakter Gizi Remaja Putri Urban Dan Rural Di Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2015 Sep 11;11(1):43.
21. Wati CR, Lidiawati M, Bintoro Y. Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Body Image Pada Remaja Putri Kelas I Dan Kelas II SMAN 4 Banda Aceh. Semdi Unaya [Internet]. 2019;849–58. Available from: http://jurnal.abulyatama.ac.id/index.php/semdiunaya
22. Silaban SDJ, Aruben R, Nugraheni SA. “Hubungan Status Gizi (Imt/u) Dengan Indeks Prestasi Belajar Siswa Kelas XI SMA Teuku Umar Kota Semarang 2016,” Jurnal Kesehatan Masyarakat. e-Journal. 2017;5(1):315–21.
23. Putri NA, Aminah S. Pengaruh Pendidikan Gizi dengan Video Animasi Terhadap Persepsi Body Image Remaja di SMK Al-Muhadjirin 2 Kesehatan Bekasi Timur Tahun 2022. pendidikan dan Konseling. 2022;4(4):1003–10.
24. Sitawati S, Suriah S, Syamsuddin S, Made S, Nontji W, Tamar M. The Effect of Spiritual Guidance of Reproductive Health by Booklets on The Changes of Adolescent’s sAttitudes: Dating Status In Premarital Sexual Behavior. Poltekita?: Jurnal Ilmu Kesehatan. 2021 Aug 31;15(2):128–35.
25. Indra MLV. Perancangan Concept Art Karakter Animasi 2d Sebagai Upaya Dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Pada Wanita Remaja-Dewasa Designing 2d Animation Character Concept Art As An Effort To Raise Self Confidence In Young Adult Women. e-Proceeding of Art & Design. 2018;5(1):174–83.
26. Ramadany S, Sanusi Y, Made S, Stang S, Syarif S. How to Cite Learning media applications for toddler midwifery care about android-based fine motor development in improving midwifery students skills Learning Media Applications for Toddler Midwifery Care about Android-Based Fine Motor Development in Improving Midwifery Students Skills. International Journal of Health & Medical Sciences. 2020;3(1):130–5.
27. Della W, Yudiarso A. Studi Meta-Analysis: Body Image dan Self-Esteem (Body Image And Self-Esteem: Meta-Analisys Study). Jurnal Psibernetika [Internet]. 2021;14(2):105–10. Available from: http://journal.ubm.ac.id/index.php/psibernetika
28. Yandri H, Istiqlal A. Efektivitas Dirasah Pengembangan Diri Melalui Pelayanan Konseling dalamMembentuk Kecerdasan Emosi Mahasantri Ma’had Al Jami’ah IAIN Kerinci. Tarbawi. 2017;1–10.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Sutinah Made, Asriati Septiananda Kowara, Yuliana Syam, Deviana S Riu, Mardiana Ahmad, Stang Stang (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









