Pemilihan Kontrasepsi Pasca Salin (KBPP) di RSUD Karawang
Keywords:
Pemilihan KBPP, Usia, Pengetahuan, Paritas, Riwayat KB, Konseling pra persalinanAbstract
The family planning program is one of the programs for population control through birth control. Post partum family planning is a service provided to postpartum patients up to 42 days after delivery. Postpartum family planning is an effort to prevent pregnancy by using contraceptive devices and drugs immediately after delivery up to 42 days/6 weeks after delivery. The purpose of this study was to determine the factors that influence the choice of KB PP at Karawang Hospital in 2023. This research is a quantitative study with a cross-sectional approach. The population in this study were all mothers giving birth at Karawang Hospital. While the number of samples is 62 respondents (using the slovin formula). The results showed that the majority of mothers aged > 35 years were 38 (61.3%), had good knowledge of 42 respondents (67.7%), parity ? 2 was 38 (61.3%), history of previous short-term family planning was 37 ( 59.7%), prenatal counseling 59 (95.1%) and husband support 60 (96.8%), statistical test results obtained p value for age (p value = 0.000), knowledge (p value = 0.000), parity (p value = 0.003), prenatal counseling (p value = 0.516) and husband's support (p value = 0.138). Based on the husband's statistical test results, it can be interpreted that there is a relationship between the factors of age, knowledge, parity and history of previous family planning with the choice of KBPP while prenatal counseling and support have no relationship with the choice of KBPP. It is hoped that the results of this study will further explore other factors that might influence the selection of KBPP.
PENDAHULUAN
Program KB sebagai salah satu program untuk pengendalian penduduk melalui pengaturan kelahiran. KB juga menjadi salah satu cara yang efektif untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi, menurunkan resiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan, penundaan usia kehamilan serta menjarangkan kehamilan dengan sasaran utama adalah pasangan usia subur (PUS) (BKKN, 2014).
Keluarga Berencana Pasca Persalinan (postpartum) adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien pasca persalinan sampai kurun waktu 42 hari menunjukkan bahwa permintaan keluarga berencana pasca melahirkan di Indonesia sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa program keluarga berencana di Indonesia telah mengakui pentingnya KB selama periode postpartum. Tingginya proporsi ibu di Indonesia yang mengadopsi kontrasepsi setelah melahirkan sebesar 75,4%, 8,7% ibu tidak menggunakan metode kontrasepsi pasca persalinan tetapi hamil dan 15,4% ibu tidak menggunakan metode kontrasepsi pasca persalinan tetapi tidak hamil (Khotimah, 2015).
Laporan Hasil Pelayanan Kontrasepsi Januari - Juli 2018 (BKKBN, 2014), cakupan KB pascasalin dan pasca keguguran sebesar 13,27%. Capaian tersebut juga masih didominasi oleh non MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yaitu suntikan (52,49%) dan pil (18,95%), sementara capaian MKJP implan (8,08%), IUD (14,06%),
MOW (3,27%) dan MOP (0,02%). Hal ini disebabkan antara lain pengetahuan calon akseptor, sikap negatif dan minat terhadap MKJP masih rendah (Rokhawati, 2018).
KB pasca persalinan merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat dan obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/ 6 minggu setelah melahirkan (BKKBN, 2017).
Berdasarkan data di RSUD Karawang angka cakupan jumlah ibu yang melakukan metode KB pascasalin sebelum pulang dari rumah sakit selama 6 bulan terakhir dari bulan Juli sebesar 54% dan pada Desember 2022 mengalami penurunan menjadi 47,32%.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi ibu dalam memanfaatkan pelayanan KB pasca salin. Pemilihan kontrasepsi pasca salin dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor predisposing/ mempermudah, enabling/ pemungkin dan reinforcing/ penguat, salah satunya adalah upaya pendidikan kesehatan. Dalam asuhan kebidanan post partum seorang bidan memanfaatkan pengetahuannya tentang kontrasepsi pasca salin, sehingga dapat memberikan pengetahuan kepada ibu dan suami sehingga mereka dapat mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang baik tentang penatalaksaan kesuburan sebelum memulai hubungan seksual.
Kunjungan nifas yang efektif berpengaruh teradap peningkatan pengetahuan ibu tentang KB dan juga pemanfaatannya.Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk meneliti terkait pemilihan KB pasca salin di RSUD karawang.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 62 responden (menggunakan rumus slovin). Untuk menentukan sebaran data dilakukan Analisis univariat dan untuk mengatahui adanya hubungan faktor yang mempengarahi pemilihan KBPP. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji chi square.
HASIL
| Karakteristik Responden | Responden | |
|---|---|---|
| n | Persentase (%) | |
| Usia | ||
| Reproduksi tidak sehat (>35 th) | 38 | 61,3 |
| Reproduksi sehat (20-35 th) | 24 | 38,7 |
| Pengatahuan | ||
| Kurang Baik | 20 | 32,3 |
| Baik | 42 | 67,7 |
| Paritas | ||
| ? 3 | 24 | 38,7 |
| ? 2 | 38 | 61,3 |
| Riwayat KB terdahulu | ||
| Belum pernah KB | 11 | 17,7 |
| KB Jangka Pendek | 37 | 59,7 |
| KB Jangka Panjang | 14 | 22,6 |
| Konseling Pra persalinan | ||
| Tidak dikonseling | 3 | 4,9 |
| Dikonseling | 59 | 95,1 |
| Dukungan Suami | ||
| Tidak Mendukung | 2 | 3,2 |
| Mendukung | 60 | 96,8 |
| Usia | Pemillihan KBPP | Total | p-Value | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tidak Bersedia | Bersedia | ||||||
| n | % | n | % | n | % | ||
| Reproduksi tidak sehat | 10 | 26,3 | 28 | 73,6 | 38 | 100 | 0.000 |
| Reproduksi Sehat | 20 | 83,3 | 4 | 16,7 | 24 | 100 | |
| Total | 30 | 48,4 | 32 | 51,6 | 62 | 100 | |
Berdasarkan Tabel 2 diketahui responden dengan katagori reproduksi tidak sehat sebanyak 38 orang, dengan responden yang bersedia menggunakan KBPP sebanyak 28 orang (73,6%) responden dan tidak bersedia sebanyak 10 orang (26,3%) responden. Diketahui responden dengan katagori reproduksi sehat sebanyak 24 orang, dengan dengan responden yang bersedia menggunakan KBPP sebanyak 4 orang (16,7%) responden dan tidak bersedia sebanyak 20 orang (83,3%) responden.
hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-Value sebesar 0.000 < 0.05 (p < ?).
| Pengatahuan | Pemillihan KBPP | p-Value | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tidak Bersedia | Bersedia | ||||||
| n | % | n | % | n | % | ||
| Kurang Baik | 18 | 90 | 2 | 10 | 20 | 100 | 0.000 |
| Baik | 12 | 28,6 | 30 | 71,4 | 42 | 100 | |
| Total | 30 | 48,4 | 32 | 51,6 | 62 | 100 | |
Berdasarkan Tabel 3 diketahui ibu yang memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 20 orang, dengan ibu yang bersedia menggunakan KBPP (10%) responden dan tidak bersedia 18 orang (90%) responden. Diketahui ibu yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 42 orang, dengan ibu yang bersedia melakukan KBPP sebanyak 30 orang (71,4%) responden dan tidak bersedia sebanyak 12 orang (28,6%) responden.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-Value sebesar 0.000 < 0.05 (p < ?).
| Paritas | Pemillihan KBPP | p-Value | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tidak Bersedia | Bersedia | ||||||
| n | % | n | % | n | % | ||
| ? 3 | 6 | 25 | 18 | 75 | 24 | 100 | 0.003 |
| ? 2 | 24 | 63,2 | 14 | 36,8 | 38 | 100 | |
| Total | 30 | 48,4 | 32 | 51,6 | 62 | 100 | |
Berdasarkan Tabel 4 diketahui ibu yang memiliki paritas ? 3 sebanyak 24 orang, dengan ibu yang bersedia menggunakan KBPP sebanyak 18 responden (75%) dan tidak bersedia 6 responden (25%). Diketahui ibu yang memiliki paritas ? 2 sebanyak 38orang, dengan ibu yang bersedia melakukan KBPP sebanyak 14 orang (36,8%) responden dan tidak bersedia sebanyak 24 orang (63,2%) responden. Hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-Value sebesar 0.003 < 0.05 (p <?).
| Riwayat KB Terdahulu | Pemillihan KBPP | p-Value | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tidak Bersedia | Bersedia | |||||||
| n | % | n | % | n | % | |||
| Belum Pernah KB | 7 | 63,6 | 4 | 36,4 | 11 | 100 | 0.014 | |
| KB Jangka Pendek | 21 | 56,8 | 16 | 43,2 | 37 | 100 | ||
| KB Jangka Panjang | 2 | 14,3 | 12 | 85,7 | 14 | 100 | ||
| Total | 30 | 48,4 | 32 | 51,6 | 62 | 100 | ||
Berdasarkan Tabel 5 diketahui ibu yang belum pernah ber KB sebanyak 11 orang, dengan ibu yang bersedia menggunakan KBPP sebanyak 7 responden (63,6%) dan tidak bersedia 4 responden (36,4%). ibu yang mempunyai riwayat menggunakan KB jangka pendek sebanyak 37 orang, dengan ibu yang bersedia melakukan KBPP sebanyak 16 orang (43,2%) responden dan tidak bersedia sebanyak 21 orang (56,8%) responden. Ibu yang mempunyai riwayat menggunakan KB jangka panjang sebanyak 14 orang dengan ibu yang bersedia melakukan KBPP sebanyak 12 orang (85,7%) dan yang tidak bersedia 2 orang (14,3%)
Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-Value sebesar 0.014 < 0.05 (p < ?).
| Konseling Pra persalinan | Pemillihan KBPP | p-Value | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tidak Bersedia | Bersedia | ||||||
| n | % | n | % | n | % | ||
| Tidak | 2 | 66,7 | 1 | 33,3 | 3 | 100 | 0.516 |
| Ya | 28 | 47,5 | 31 | 52,5 | 59 | 100 | |
| Total | 30 | 48,4 | 32 | 51,6 | 30 | 100 | |
Berdasarkan Tabel 6 diketahui ibu yang tidak mendapatkan konseling pra persalinan sebanyak 3 orang, dengan ibu yang bersedia menggunakan KBPP sebanyak 1 responden (33,3%) dan tidak bersedia 2 responden (66,7%). ibu yang mendapatkan konseling pra persalinan sebanyak 59 orang, dengan ibu yang bersedia melakukan KBPP sebanyak 31 orang (52,5%) responden dan tidak bersedia sebanyak 28 orang (47,5%) responden.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-Value sebesar 0.516 < 0.05 (p < ?).
| Dukungan Suami | Pemillihan KBPP | p-Value | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tidak Bersedia | Bersedia | ||||||
| n | % | n | % | n | % | ||
| Tidak | 2 | 100 | 0 | 0 | 2 | 100 | 0,138 |
| Ya | 28 | 46,7 | 32 | 53,3 | 60 | 100 | |
| Total | 30 | 48,4 | 32 | 51,6 | 62 | 100 | |
Berdasarkan Tabel 7 diketahui ibu yang tidak mendapat dukungan suami sebanyak 2 orang (100%) ibu yang mendapatkan dukungan suami sebanyak 60 orang, dengan ibu yang bersedia melakukan KBPP sebanyak 32 orang (53,3%) responden dan tidakbersedia sebanyak 28 orang (46,7%) responden.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-Value sebesar 0.138< 0.05 (p < ?).
PEMBAHASAN
Hubungan Usia dengan Pemilihan KBPP
Hasil uji analisis didapatkan nilai p-Value sebesar 0.000 < 0.05 (p < ?), Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara usia responden dengan pemilihan KBPP.
Usia adalah salah satu faktor yang bisa mempengaruhi seseorang untuk berperilaku termasuk dalam pemilihan alat kontrasepsi. Ibu yang memiliki usia lebih muda memiliki peluang kecil menggunakan KB jangka panjang bila dibandingkan dengan yang sudah memasuki usia dewasa, sesuai masa reproduksi sehat wanita dibagi menjadi 3 periode yaitu kurun reproduksi muda (15-19) tahun merupakan tahap menunda kehamilan, kurun reproduksi sehat (20-35) tahun merupakan tahap untuk menjarangkan kehamilan, dan kurun reproduksi tua (36-45) tahun merupakan tahap untuk mengakhiri kehamilan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Magdalene Pardosi dkk (2021) yang menyebutkan bahwa 52 % ibu yang memilih MKJP dalam katagori berusia >35 tahun.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Wulandari, Y, dkk. (2014), menyatakan ada hubungan secara signifikan antara umur ibu dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dengan p value = 0,000.
Hubungan Pengetahuan dengan Pemilihan KBPP
Hasil uji analisis didapatkan nilai p-Value sebesar 0.000 < 0.05 (p < ?), Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan responden dengan pemilihan KBPP.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian sembiring,dkk (2019) bahwa dari 51 responden sebesar 52,9 % memiliki pengetahuan baik dan bersedia menjadi akseptor KB pasca persalinan.
Penelitian lainnya seperti yang dilakukan oleh Suryanti, Y. (2019) menunjukkan nilai p value (0,000< 0,05), menunjukkan hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MJKP).
Pengetahuan tentang metode kontrasepsi pasca persalinan harus didukung dengan pemahaman yang baik. Hal ini dapat menjadi bahan pertimbangan ibu untuk menentukan perlu tidaknya pengunaan alat kontrasepsi yang menjadi salah satu metode dalam kelurga berencana yaitu upaya menghindari kelahiran yang tidak diinginkan dengan mengatur interval diantara kelahiran dan mengontrol waktu kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri sehingga dapat menentukan jumlah keluarga (Vlorisa J, 2012).
Pengetahuan tentang keluarga berencana dipengaruhi banyak faktor. Kualitas dan kuantitas informasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan. Demikian juga dengan tingkat pengetahuan ibu tentang keluarga berencana yang dipengaruhi juga oleh kualitas dan kuantitas informasi yang diperoleh ibu tersebut. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari pasien atau masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan (Saifuddin, 2003).
Hubungan Paritas dengan pemilihan KBPP
Hasil uji analisis didapatkan nilai p-Value sebesar 0.003 < 0.05 (p < ?), yang artinya dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara paritas responden dengan pemilihan KBPP.
Paritas dapat mempengaruhi responden dalam menentukan pilihan menggunakan kontrasepsi. Pernyataan ini didukung dengan teori terdapat kencenderungan pengetahuan ibu yang berparitas tinggi lebih baik dari pengetahuan ibu yang berparitas rendah, karena mereka telah memperoleh pengalaman dan informasi.
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Yunita Wulandari, dkk (2014) menyebutkan ada hubungan secara signifikan antara paritas dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), responden yang mempunyai anak hidup ? 2 orang memilih menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) yaitu 34,4 % dibandingkan responden yang mempunyai anak hidup 0-2.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitria Ramadini, 2014 ”Hubungan paritas dengan pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang di desa Ngares Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto” dimana berdasarkan uji statistik dengan menggunakan uji chi square di peroleh hasil bahwa nilai p value 0,015 (p < 0,05) dimana paritas lebih dari 4 berminat menggunakan AKDR. Hal ini menunjukkan bahwa paritas signifikan terhadap penggunaan AKDR.
Menurut Lakew et.al. (2013), jumlah anak yang hidup dari seorang wanita memiliki pengaruh secara signifikan terkait dengan penggunaan metode kontrasepsi modern. Seorang wanita yang memiliki setidaknya satu anak memiliki kemungkinan lebih tinggi menggunakan alat kontrasepsi modern dari wanita yang tidak memiliki anak.
Hubungan Riwayat KB terdahulu dengan pemilihan KBPP
Hasil Uji analisiss diperoleh nilai p-Value sebesar 0.014 < 0.05 (p < ?), Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara riwayat KB terdahulu responden dengan pemilihan KBPP.
Pengalaman memiliki sifat yang sangat berharga bagi setiap individu. Pengalaman dapat digunakan dan menjadi acuan serta pembelajaran. Riwayat pengguna KB dalam memakai alat kontrasepsi merupakan hal yang tidak bisa diabaikan, karena sebagian besar dari keseluruhan pengguna KB yang menggunakan alat kontrasepsi menginginkan hal yang terbaik dan tanpa ada efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Lilik Indahwati, dkk (2017) bahwa pada hasil penelitian membuktikan bahwa ada hubungan antara pengalaman KB dengan pemilihan metode kontrasepsi. Dibuktikan dengan hasil analisis data dengan menggunakan chi square didapatkan p value 0,010. Mayoritas akseptor KB baru lebih banyak menggunakan Non Metode kontrasepsi jangka panjang. Hal ini diasumsikan ibu masih dalam fase mencoba. Dengan demikian apabila terjadi efek samping tidak berlangsung lama. Berbeda dengan pengguna MKJP, sebagian besar merupakan akseptor KB lama, sehingga ibu telah memiliki pengalaman terkait kontrasepsi yang digunakan sebelumnya. Pengalaman ini menambah pengetahuan ibu sehingga ibu memahami kontrasepsi yang sesuai dengan kondisinya dan alasan inilah yang mendorong ibu untuk yakin menggunakan kontrasepsi jangka panjang.
Hal ini sesuai dengan teori Hartanto (2004) yang menyatakan bahwa pengalaman KB dalam menggunakan alat kontrasepsi yang lalu merupakan salah satu faktor dalam pemilihan metode kontrasepsi.
Hubungan Konseling Pra persalinan dengan Pemilihan KBPP
Hasil Uji analisiss diperoleh nilai p-Value sebesar 0.516 < 0.05 (p < ?), yang artinya tidak ada hubungan konseling pra persalinan dengan pemilihan KBPP.
Penelitian ini tidak sejalan dengan Abbas, dkk (2017) dengan hasil bahwa riwayat konseling berhubungan signifikan dengan kepesertaan KB pasca salin (p < 0,05).
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. Dengan melakukan konseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihan ibu dan pasangannya (Saifuddin, 2014).
Konseling pada hakikatnya adalah memberi pengetahuan pada ibu yang belum tahu dan mengingatkan kembali pada ibu yang sudah mengerti tentang KB. Bagi ibu yang baru mengetahui dan mengerti tentang KB, tentu pengetahuan barunya tersebut akan dicoba apalagi jika dirasakan akan bermanfaat atau memang dibutuhkan. Ibu dapat menanyakan segala sesuatu tentang KB dan akan mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan terkait KB sehingga penerimaan ibu terhadap KB tidak ada lagi mengandung unsur pemaksaan tapi berdasarkan kebutuhan ibu semata.
Penggunaan alat kontrasepsi pasca persalinan secara signifikan dikaitkan dengan konseling keluarga berencana selama ANC dan PNC. Konseling KB saat ANC merupakan waktu yang tepat bagi ibu untuk mempertimbangkan metode mana yang cocok digunakan di masa nifas dan dapat memotivasi wanita untuk menggunakan metode kontrasepsi, Zimmerman (2019).
Asumsi peneliti bahwa konseling terkait pemilihan KBPP sebaiknya dilakukan tidak hanya pada saat persalinan, sebaiknya dilakukan dari semenjak ibu hamil trimester II dan III sehingga pada saat pasca persalinan ibu lebih yakin untuk menggunakan KBPP.
Hubungan Dukungan Suami dengan Pemilihan KBPP
Hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-Value sebesar 0.138< 0.05 (p < ?), yang artinya tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemilihan KB PP.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurwita (2019). Dengan hasil p value terkait dukungan suami (0,349).
Dukungan suami merupakan salah satu variabel sosial budaya yang sangat berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi bagi kaum wanita sebagai istri secara khusus dan didalam keluarga secara umum. Partisipasi pria secara tidak langsung salah satunya dengan cara mendukung istri dalam ber-KB. Seorang istri di dalam pengambilan keputusan untuk memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi membutuhkan persetujuan dari suami.
Perempuan terutama Ibu masih menjadi objek dan sasaran program KB. Sebagian besar alat kontrasepsi ditujukan untuk ibu sehingga perhatian dan partisipasi suami dalam program KB sangatlah kurang. Hal ini tentunya menyebabkan keputusan untuk ber-KB masih tetap menjadi dominasi para ibu. Memang sudah sepatutnya masalah yang terkait dengan kesehatan reproduksi ibu dikontrol dan diputuskan sendiri oleh para ibu.
Meskipun demikian pada penelitian ini sebagian besar responden mendapat dukungan dari suami terkait penggunaan KB PP akan tetapi keputusan menggunakan KBPP kembali lagi kepada pilihan ibu.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara faktor usia (p value=0,000), pengetahuan(pvalue=0,000), paritas (p value=0,003) dan riwayat KB terdahulu (pvalue=0,014) dengan pemilihan KBPP sedangkan variabelkonseling pra persalinan ((p value=0,516) dan dukungan suami (p value=0,138) tidak ada hubungan dengan pemilihan KBPP.
DAFTAR PUSTAKA
Ati Nurwita, (2019) Hubungan Karakteristik Ibu dan Dukungan Suami dengan Rencana Metode Kotrasepsi Pasca Persalinan pada Ibu Trimester III di Puskesmas Cibeureum Kota Cimahi. Proceeding Publication of Creativity and Research Medical Laboratory Technology. Vol. 1 No.1 Maret 2019
Abbas, M., Hadijono, S., Emilia, O., & Hartono, E. (2017). Pengaruh Konseling saat Persalinan terhadap Kepesertaan Keluarga Berencana Pasca Salin di Kabupaten Kolaka. Jurnal Kesehatan Reproduksi.
A.Aziz Alimul Hidayat, 2014. Metode penelitian kebidaan dan teknik analisis data. Jakarta : Salemba Medika
Agung Widhi Kurniawan, Z. P. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif. Pandiva Buku.
BKKBN. (2014). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi 3. Jakarta: PT. Bina Pustaka BKKBN. (2019). Buku Saku Pemantauan Peserta KB Pasca Pelayanan Kotrasepsi bagi PKB/PLKB
Fitria Ramadini, (2014). Hubungan paritas dengan pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang di desa Ngares Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto
Hartanto, Hanafi. 2015. Keluarga berencana dan kontrasepsi. Jakarta: Sinar Harapan.
Khotimah, 2015” Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VII Smp Negeri 1 Terpadu Melinting Lampung Timur”
Notoatmodjo, S. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Notoatmodjo, S. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Lilik Indahwati dkk. (2017). Usia dan Pengalaman KB berhubungan dengan Pemilihan Metode kontrasepsi.. Jurnal of Issue in Midwifery.
Magdalena dkk, (2021). Faktor-faktor yang berhubungan dengan minat ibu bersalin dalam pemilihan alat kontrasepsi kb pascasalin dengan metode kontrasepsi jangka panjang di kecamatan rantau utara tahun 2021 vol 7 no 2 Jurnal Of Healyhcare Technology And Medicine Universitas Ubudiyah Indonesia
Masturoh, I., dan N. Anggita. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta
Nursalam. 2012. Manajemen keperawatan; aplikasi dalam praktik keperawatan professional. Jakarta: Salemba Medika
Semibiring, dkk, (2019). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kesediaan menjadi Akseptor KB Pasca Persalinan di RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2019. Hal 571-579 Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambu.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D. Bandung : IKAPI
Suryanti, Y. (2019). Fakto- Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang Wanita Usia Subur. Jambura Journal of Health Sciences and Research, 1(1), 20–29. https://doi.org/10.35971/jjhsr.v1i1.1795
Wulandari, Y, dkk. 2014. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Metode Kontrasepsi JangkaPanjang (MKJP) Pada PasanganUsia Subur di Kabupaten Sambas. Pontianak: Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Zimmerman, L. A., Yi, Y., Yihdego, M., Abrha, S., Shiferaw, S., Same, A., & Ahmed, S. (2019). Effect of integrating maternal health services and family planning services on postpartum family planning behavior in Ethiopia: results from a longitudinal survey. BMC Public Health.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2023 Nuraeni, Rahmadyanti (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).









