Perbandingan Pemberian Tehnik Rebozo dan Pijat Oksitosin terhadap Lama Persalinan di Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat

Authors

  • Rina Martiana Rahayu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantara, Indonesia
  • Rahmadyanti Rahmadyanti Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantara, Indonesia

Keywords:

Teknik Rebozo, Pijat oksitosin, Lama persalinan, Ibu bersalin

Abstract

Background: Complications in the length of time of delivery can cause the mother's blood flow through the placenta to decrease so that it has an impact on the occurrence of asfexia in newborns. One way to accelerate the progress of labor is by giving the rebozo technique and oxytocin massage. The results of the data report from the Sukatani Health Center, Bekasi Regency, West Java, in 2022, out of 264 mothers who gave birth, 167 cases were found with prolonged labor so that sometimes referrals were made, while the rebozo technique and oxytocin massage had not been carried out at that location. Purpose of Writing: Knowing the comparison of giving the rebozo technique and oxytocin massage to the length of labor at the Sukatani Health Center, Bekasi Regency, West Java in 2023. Research Method: quasy experiment with posttest only design with control group design. The sample is 60 mothers giving birth with total sampling technique. Intervention for 5-10 minutes and repeated 3 times. Bivariate analysis using the Mann Whiteney test. Results: The results of the univariate study showed that the average length of labor by administering the rebozo technique was 185.50 minutes for the first stage and 30.93 minutes for the second stage. The average length of labor by giving oxytocin massage in the first stage was 231.07 minutes and the second stage was 44.90 minutes. The results of the Mann Whiteney bivariate test in stage I was 0.000 and stage II was 0.000. Conclusions and Suggestions: There are differences in giving the rebozo technique and oxytocin massage to the duration of the first and second stage of labor. Midwives are expected to speed up the delivery process. It would be nice if the rebozo technique and oxytocin massage were given simultaneously so that the progress of labor would go faster.

PENDAHULUAN

Persalinan merupakan hal yang fisiologis yang dialami oleh setiaporang, akan tetapi kondisi fisiologis tersebut dapat menjadi patologisapabila seorang ibu tidak mengetahui kondisi yang fisiologis dan seorangpenolong atau tenaga kesehatan tidak memahami bagaimana suatu persalinandikatakan fisiologis dan bagaimana penatalaksanaanya sehingga dapatmembantu menurunkan angka kematian ibu sesuai dengan MDGs 2015 yangberganti SDGs (Sustainable Development Goals) (Walyani, 2020).

Menurut informasi dari World Health Organization (WHO) ditemukan 99%kematian ibu terjadi di negara berkembang yaitu 239/100.000 kelahiranhidup, hal ini berbanding terbalik jika dibandingkan di negara majuyaitu 12/100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di negara majuseperti Eropa dan Amerika Utara mencapai 12 per 100.000 kelahiran hidup,di Australia dan Selandia mencapai 7 per 100.000 kelahiran hidup,sedangkan angka kematian ibu di negara berkembang yaitu sebesar 415 per100.000 kelahiran hidup.  Adapun ibu di negara – negara ASEAN masihcukup tinggi, Asia Tenggara seperti Filipina 114 per 100.000 kelahiranhidup, Vietnam 54 per 100.000 kelahiran hidup, Thailand 20 per 100.000kelahiran hidup, Brunei 23 per 100.000 kelahiran hidup, dan Malaysia 40per 100.000 kelahiran hidup (World Health Organization, 2018).

Sementara itu menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2021 secaraumum terjadi penurunan kematian ibu selama periode 390 menjadi 305 per100.000 kelahiran hidup, jika dikaitkan dengan Millenium DevelopmentGoals (MDGs) yakni menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi102/100.000 kelahiran hidup maka angka kematian ibu tidak berhasilmencapai target MDGs. Jumlah kematian ibu menurut provinsi tahun2019-2020 terdapat penurunan dari 4.226 menjadi 4.221 kematian ibu diIndonesia berdasarkan laporan, begitu juga dengan Provinsi Jawa Baratjumlah kematian ibu sebanyak 329 kematian ibu, sementara itu KabupatenBekasi ditemukan 34 angka kematian ibu. Puskesmas Sukatani tahun 2020dan 2021 tidak ditemukan angka kematian ibu, sedangkan tahun 2022ditemukan 1 kasus kematian ibu (Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia, 2021).

Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia penyebab kematianibu terbanyak pada tahun 2020 adalah perdarahan salah satunya disebabkanoleh persalinan lama mencapai 4,3% (Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia, 2021). Begitu juga dengan Provinsi Jawa Barat tahun 2020tencatat bahwa perdarahan (30,3%), hipertensi dalam kehamilan (27,5%),infeksi (4,5%), gangguan sistim peredaran darah sebesar (14,6%) danlainnya partus lama merupakan salah satu penyebab kematian ibu sebesar(22,5%). Kondisi yang sama terjadi di Kabupaten Tangerang tencatat bahwaperdarahan (31,3%), hipertensi dalam kehamilan (26,5%), infeksi (5,5%),gangguan sistim peredaran darah sebesar (13,6%) dan lainnya partus lamamerupakan salah satu penyebab kematian ibu sebesar (22,5%). Adapun diPuskesmas Sukatani pada tahun 2021 ditemukan 1 kasus kematian ibu yangdisebabkan oleh perdarahan penyebabnya yaitu karena partus lama (DinasKesehatan Provinsi Jawa Barat, 2021).

Komplikasi dalam lamanya waktu persalinan, kelelahan, stress pada ibudapat menyebabkan aliran darah ibu melalui plasenta berkurang, sehinggaaliran oksigen ke janin berkurang, akibatnya terjadi gawat janin dan halini dapat menyebabkan asfiksia. Faktor-faktor yang berhubungan denganlama persalinan kala I termasuk usia ibu, paritas, TFU, usia kehamilan,jarak dari kehamilan, aktivitas selama kehamilan dan fisioterapi(Machmudah, 2016).

Agar dapat mencegah terjadinya komplikasi dalam persalinan tersebutdiatas, maka tenaga kesehatan khususnya bidan mempunyai tanggung jawabdan tantangan dalam memberikan asuhan yang adekuat untuk membantu prosespersalinan. Namun hal tersebut bukan merupakan tugas yang mudah bagiseorang bidan karena setiap wanita memiliki dimensi biologi, psikologi,sosial, spiritual, budaya dan pendidikan yang berbeda yang berdampakpada cara mengekspresikan diri dan mempersepsikan rasa nyeri saatpersalinan yang merupakan bagian alami dari proses persalinan (Hamilton,2016). Walaupun pendekatan nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri danmempercepat kemajuan persalinan telah dipelajari secara luas, tetapipenerapan di rumah sakit masih sangat terbatas dan dalam praktiknyatidak semudah apa yang dibayangkan karena belum terdapat tuntunan yangjelas tentang cara untuk mempercepat kemajuan persalinan secara alami(Maryunani, 2016).

Salah satu cara untuk mempercepat kemajuan persalinan yaitu denganmemberikan pijat oksitosin. Pijat oksitosin adalah sentuhan ringan ataupijatan tulang belakang mulai dari costa ke 5-6 sampai scapula yangdapat menimbulkan efek relaksasi. Relaksasi yang dialami ibu merangsangotak untuk menurunkan kadar hormon adrenalin dan meningkatkan produksioksitosin yang merupakan faktor timbulnya kontraksi uterus yang adekuat(Rosemary, 2021). Dengan melakukan pijatan oksitosin dapat melancarkanperedaran darah dan meregangkan daerah otot-otot sehingga nyeri yangdialami selama proses persalinan juga semakin berkurang (Simkin,2017).

Langkah-langkah dalam melakukan pijat oksitosin harus diperhatikandengan baik agar pemijatan menghasilkan pengaruh yang optimal, salahsatu langkah yang perlu diperhatikan adalah cara pemijatan pada setiapibu dengan postur tubuh yang berbeda, seperti ibu yang gemuk harusdipijat dengan posisi telapak tangan mengepal sedangkan pada ibu dengantubuh yang kurus atau normal bisa menggunakan jempol tangan kiri dankanan atau punggung telunjuk kiri dan kanan. Selain itu, durasipemijatan oksitosin pun perlu untuk diperhatikan, waktu yang baik untukdilakukan pemijatan yaitu selama 3-5 menit di ulangi sebanyak 3 kali.Setelah selesai memijat sambil membersihkan sisa baby oil, komprespundak punggung ibu dengan handuk hangat (Susilo, 2016).

Sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Qonitunmelalui analisis data Uji Sample t-Test (Independent sample t-Test)didapatkan adanya pengaruh pijat oksitosin terhadap lama kala Ipersalinan (Qonitun, 2020). Penelitian selanjutnya dilakukan olehEkayani didapatkan ada pengaruh pemberian kombinasi teknik relaksasi danpijatan terhadap lama waktu persalinan dengan indikator pembukaanserviks (Ekayani, 2017). Wijaya dalam penelitiannya dapat dilihat bahwarata-rata nyeri setelah perlakuan pada kelompok pijat oksitosin dengankategori nyeri terbanyak adalah nyeri ringan yaitu 90,0%, sedangkankelompok tidak pijat oksitosin kategori nyeri terbanyak adalah nyerisedang yaitu 68,4%. Adanya nyeri yang berkurang maka dapat memperlancaraliran darah yang membawa oksigen ke Rahim, ketika oksigen dalam rahimtercukupi, kontraksi dapat berjalan dengan baik sehingga dapatmempercepat pembukaan pada kala I persalinan (Wijaya et al., 2018).

Menurut Ekayani (2017), teknik rebozo berasal dari Amerika Latin,rebozo adalah kain panjang yang biasa dipakai wanita Meksiko untukmelakukan kegiatan sehari-hari. Kain ini dapat digunakan untuk membantupasangan memberikan rasa nyaman selama menjelang proses persalinandengan teknik yang dapat dipelajari bersama pasangan. Metode jarikshaking the apple tree sebagai bagian dari teknik rebozo memiliki tujuanmerelaksasikan otot-otot bagian panggul dan bokong. Metode ini dapatdigunakan saat kontraksi dan antara kontraksi. Penggunaan rebozo ataujarik memberikan sensasi seperti pijatan pada punggung dan perut mereka.Kenyamanan yang muncul dengan menggoyangkan selendang pada daerahpinggul ini juga membuat otot pinggul mereka terasa rileks dannyaman.

Berdasarkan penelitian, Iversen et al. (2017) tentang teknik rebozountuk mengatasi malposisi janin berjumlah 7 responden, PROM berjumlah 3responden, penurunan janin berjumlah 3 responden, pereda nyeri berjumlah1 responden, dan memperkuat kontraksi 2 responden. Teknik rebozo dapatdilakukan dengan posisi berdiri, tangan dan lutut, serta berbaring sertaefektif untuk mengatasi nyeri secara keseluruhan dan dapat meningkatkanrasa kenyamanan selama persalinan.

Hasil penelitian Nurpratiwi et al. (2020) dengan judul Teknik RebozoTerhadap Intensitas Nyeri Kala I Fase Aktif Dan Lamanya Persalinan PadaIbu Multigravida, didapatkan hasil bahwa teknik rebozo shake the applesdan rebozo sifting while lying down dapat mengalihkan nyeri persalinankala I fase aktif dan mempercepat proses persalinan pada ibumultigravida.

Hasil laporan data dari Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi JawaBarat diperoleh informasi bahwa pada tahun 2022 setiap bulannya menolongpersalinan antara 20-30 ibu bersalin yaitu sekitar 264 ibu bersalin,setiap bulan juga ditemukan 14-15 kasus (167 kasus) dengan partus lamasehingga terkadang ada yang dilakukan rujukan. Kondisi ini menggambarkanlama persalinan kala I dan kala II kadang terjadi pada ibu bersalin, halini dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi baru lahir. Menurutinformasi yang didapat sejauh ini metode pijat oksitosin seringdilakukan, akan tetapi tidak seluruhnya dilaksanakan, tergantung adanyawaktu yang tersedia. Selama ini di tempat tersebut belum dilakukanpenelitian apakah pijat oksitosin berpengaruh terhadap lama persalinankala I fase aktif atau tidak. Sementara untuk tehnik rebozo belum pernahdilakukan, akan tetapi melihat hasil penelitian sebelumnya ternyatatehnik rebozo dapat mempercepat kala I dan Kala II persalinan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merasa tertarikuntuk melakukan penelitian mengenai “Perbandingan Pemberian TehnikRebozo dan Pijat Oksitosin terhadap Lama Persalinan di PuskesmasSukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat tahun 2023”.

METODE

Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang menggunakandesain quasi eksperiment dengan rancangan posttest only with controlgroup design yakni rancangan eksperimen yang dilakukan pada dua kelompokberbeda yang mendapatkan intervensi yang berbeda. Desain ini menggunakan2 kelompok eksperimen pemberian tehnik rebozo dan kelompok pemberianpijat oksitosin. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalahseluruh ibu bersalin yang melahirkan di Puskesmas Sukatani KabupatenBekasi Jawa Barat pada bulan April-Mei tahun 2023 sebanyak 60 responden.Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian atau mewakili dari populasiyang diteliti. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakanteknik total sampling. Sumber data didapatkan dari hasil observasi danwawancara tentang Lama persalinan kala I dan II. Variable independentdalam penelitian ini adalah pemberian tehnik rebozo dan pijat oksitosin.Variabel dependen dalam penelitian ini adalah lama persalinan kala I danII. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembarobservasi untuk melihat lama persalinan kala I dan II pada dua kelompok.Adapun tehnik rebozo dan pijat oksitosin dilakukan sesuai dengan SOPdengan durasi selama 3-5 menit dan diulangi sebanyak 3 kali. Data yangtelah dikumpulkan pada penelitian ini selanjutnya diolah denganmenggunakan program komputer dengan beberapa tahapan yaitumerekapitulasi hasil jawaban kuesioner yang diisi oleh respondenkemudian dilakukan Editing, Coding, Processing, Cleaning, danTabulating. Data dianalisis menggunakan analisis univariat nilai meandan analisis bivariat Mann Whiteney.

HASIL

Lama Persalinan Rata-rata Std. Deviasi Max Min
Kala I 185,50 20,441 225 160
Kala II 30,93 10,349 55 20
Table 1. Nilai Rata-Rata Lama Persalinan Kala I dan Kala II pada Ibu Bersalinpada Pemberian Tehnik Rebozo di Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi JawaBarat Tahun 2023

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 1 diketahui bahwa lamapersalinan kala I pada ibu bersalin dengan teknik rebozo rata-rata =185,50 menit std. deviasi = 20,441 menit maximum = 225 menit dan minimum= 160 menit. Sedangkan lama persalinan kala II pada ibu bersalin denganteknik rebozo rata-rata = 30,93 menit std. deviasi = 10,349 menitmaximum = 55 menit dan minimum = 20 menit.

Lama Persalinan Rata-rata Std. Deviasi Max Min
Kala I 231,07 6,063 240 220
Kala II 44,90 14,597 70 30
Table 2. Nilai Rata-Rata Lama Persalinan Kala I dan Kala II pada Ibu Bersalinpada Pemberian Pijat Oksitosin di Puskesmas Sukatani Kabupaten BekasiJawa Barat Tahun 2023

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 2 diketahui bahwa lamapersalinan kala I pada ibu bersalin dengan pijat oksitosin rata-rata =231,07 menit std. deviasi = 6,063 menit maximum = 240 menit dan minimum= 220 menit. Sedangkan lama persalinan kala II pada ibu bersalin denganpijat oksitosin rata-rata = 44,90 menit std. deviasi = 14,597 menitmaximum = 70 menit dan minimum = 30 menit.

Lama Persalinan Kala I Mean Selisih Mean pValue
Tehnik Rebozo 185,50 45,57 0,000
Pijat Oksitosin 231,07
Table 3. Perbedaan Pemberian Tehnik Rebozo dan Pijat Oksitosin terhadap LamaPersalinan Kala I pada Ibu Bersalin di Puskesmas Sukatani KabupatenBekasi Jawa Barat Tahun 2023

Hasil uji Mann Whiteney diketahui nilai signifikansi perlakuansesudah pemberian pemberian tehnik rebozo dan pijat oksitosin sebesar0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima,dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pemberiantehnik rebozo dan pijat oksitosin terhadap lama persalinan kala I padaibu bersalin di Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat Tahun2023.

Lama Persalinan Kala II Mean Selisih Mean pValue
Tehnik Rebozo 30,93 13,97 0,000
Pijat Oksitosin 44,90
Table 4. Perbedaan Pemberian Tehnik Rebozo dan Pijat Oksitosin terhadap LamaPersalinan Kala II pada Ibu Bersalin di Puskesmas Sukatani KabupatenBekasi Jawa Barat Tahun 2023

Hasil uji Mann Whiteney diketahui nilai signifikansi perlakuansesudah pemberian pemberian tehnik rebozo dan pijat oksitosin sebesar0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima,dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pemberiantehnik rebozo dan pijat oksitosin terhadap lama persalinan kala II padaibu bersalin di Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat Tahun2023.

PEMBAHASAN

Pemberian Tehnik Rebozo

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa lama persalinankala I pada ibu bersalin dengan teknik rebozo rata-rata = 185,50 menitstd. deviasi = 20,441 menit maximum = 225 menit dan minimum = 160 menit.Sedangkan lama persalinan kala II pada ibu bersalin dengan teknik rebozorata-rata = 30,93 menit std. deviasi = 10,349 menit maximum = 55 menitdan minimum = 20 menit.

Kecepatan maksimum penurunan rata-rata pada primigravida 1,6 cm perjam dan normalnya paling sedikit 1 cm perjam, sedangkan padamultigravida kecepatan penurunan rata-rata 5,4 cm per jam, dengankecepatan minimal 2,1 cm per jam (Varney, 2017). Lama kala II pada primi: 11?2 - 2 jam, pada multi 1?2 - 1 jam (Indrayani, 2016). Salah satucara untuk mempercepat kemajuan persalinan yaitu dengan memberikantehnik rebozo dan pijat oksitosin. Iversen et al. (2017) menjelaskanmelalui tehnik rebozo dapat dapat memperluas rongga panggul sehinggamemungkinkan janin untuk lebih leluasa bergerak pada proses jalan lahirtanpa hambatan dan menurunkan bagian terbawah janin serta memperbaikiposisi janin yang malposisi sehingga proses persalinan berjalancepat.

Sesuai dengan hasil penelitian Iversen et al. (2017) tentang teknikrebozo untuk mengatasi malposisi janin berjumlah 7 responden, PROMberjumlah 3 responden, penurunan janin berjumlah 3 responden, peredanyeri berjumlah 1 responden, dan memperkuat kontraksi 2 responden.Teknik rebozo dapat dilakukan dengan posisi berdiri, tangan dan lutut,serta berbaring serta efektif untuk mengatasi nyeri secara keseluruhandan dapat meningkatkan rasa kenyamanan selama persalinan.

Peneliti berasumsi terjadinya percepatan persalinan kala I dan IIpada ibu bersalin yang mendapatkan pemberian teknik rebozo, hal inidisebabkan oleh karena melalui teknik rebozo menjadikan rongga panggulpada ibu bersalin mendapatkan goyangan yang menjadikan janin dengansendirinya akan bergerak sesuai dengan goyangan yang dilakukan. Kondisiini memungkinkan janin untuk lebih leluasa bergerak pada jalanpersalinan yang mengakibatkan turunnya bagian terbawah janin, disampingitu memperbaiki posisi janin yang letaknya tidak sesuai menjadi sesuaidan mengikuti jalan lahir.

Pemberian Pijat Oksitosin

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa lama persalinankala I pada ibu bersalin dengan pijat oksitosin rata-rata = 231,07 menitstd. deviasi = 6,063 menit maximum = 240 menit dan minimum = 220 menit.Sedangkan lama persalinan kala II pada ibu bersalin dengan pijatoksitosin rata-rata = 44,90 menit std. deviasi = 14,597 menit maximum =70 menit dan minimum = 30 menit.

Komplikasi dalam lamanya waktu persalinan, kelelahan, stress pada ibudapat menyebabkan aliran darah ibu melalui plasenta berkurang, sehinggaaliran oksigen ke janin berkurang, akibatnya terjadi gawat janin dan halini dapat menyebabkan asfiksia. Faktor-faktor yang berhubungan denganlama persalinan kala I dan II diantaranya paritas, TFU dan fisioterapi(Machmudah, 2016). Satu cara untuk mempercepat kemajuan persalinan yaitudengan memberikan pijat oksitosin (Rosemary, 2021). Pijat oksitosinadalah sentuhan ringan atau pijatan tulang belakang mulai dari costa ke5 – 6 sampai scapula yang dapat menimbulkan efek relaksasi (Yuliatun,2018). Relaksasi yang dialami ibu merangsang otak untuk menurunkan kadarhormon adrenalin dan meningkatkan produksi oksitosin yang merupakanfaktor timbulnya kontraksi uterus yang adekuat (Hariani, 2015).

Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Qonitun (2020)diketahui bahwa frekuensi his pada ibu yang mendapatkan pijat oksitosinsebagian besar 53,8% mendapatkan frekuensi his 4 kali dalam 10 menitsehingga dapat mempercepat kemajuan persalinan. Penelitian selanjutnyadilakukan oleh Ekayani didapatkan hasil analisis univariat lamapersalinan kala I fase aktif kelompok pemberian pijat okstosin sebagianbesar normal 86,7%, sisanya 13,3% dengan kategori cepat (Ekayani, 2019).Rahmawati (2019) mendapatkan hasil bahwa pijat oksitosin memiliki lamapersalinan kala I rata-rata 16,85 sedangkan kelompok yang menggunakanteknik nafas dalam memiliki rata-rata 40,50.

Peneliti berasumsi adanya kemajuan persalinan kala I dan II pada ibuyang mendapatkan pijat oksitosin, hal ini disebabkan oleh karena adanyasentuhan ringan pada pijatan tulang belakang menjadikan ibu lebihrileks. Ketika ibu sudah merasa tenang dan rileks, rasa takut yangmuncul dapat teratasi sehingga pengeluaran adrenalin yang berlebih dapatdiantisipasi, zat-zat penghambat rangsang nyeri pun dapat disekresikandengan baik. Ketika oksigen dalam rahim tercukupi, kontraksi dapatberjalan dengan baik sehingga ibu mampu meneran dengan maksimal yangakan mengakibatkan kelancaran pada persalinan baik pada kala I maupunkala II.

Perbedaan Pemberian Tehnik Rebozo dan Pijat Oksitosin terhadap Lama Persalinan Kala I

Hasil uji Mann Whiteney diketahui nilai signifikansi perlakuansesudah pemberian pemberian tehnik rebozo dan pijat oksitosin sebesar0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima,dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pemberiantehnik rebozo dan pijat oksitosin terhadap lama persalinan kala I padaibu bersalin di Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat Tahun2023.

Keberhasilan pijat oksitosin tidak terlepas dari faktor-faktor yangmempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pijatoksitosin adalah persiapan psikologis, kenyamanan ibu, pelaksanaan pijatoksitosin, dukungan keluarga, dan dukungan petugas kesehatan (Tamsuri,2017). Menurut Ekayani (2017) teknik rebozo membantu pasangan memberikanrasa nyaman selama menjelang proses persalinan dengan teknik yang dapatdipelajari bersama pasangan. Teknik rebozo dapat melenturkan panggulotot dan ligamen memungkinkan janin untuk lebih leluasa bergerak padaproses jalan lahir tanpa hambatan dan menurunkan kejadian kegagalan bayibernafas secara spontan (Cohen & Thomas, 2019). Teknik rebozomenjadikan ibu memiliki pengalaman psikologis yang menyenangkan yangdapat menyebabkan sinyal stimulus-respons oleh proses berinteraksiselama menghadapi proses persalinan dengan teknik rebozo yang juga dapatberinteraksi bersama suami dan provider dengan membersamai sebagaimediator dalam manajemen rasa sakit (Iversen et al., 2017).

Sesuai dengan hasil penelitian Iversen et al. (2017) terdapatpengaruh teknik rebozo terhadap kemajuan persalinan. Teknik rebozoefektif untuk mengatasi nyeri secara keseluruhan dan dapat meningkatkanrasa kenyamanan selama persalinan berdampak pada kemajuan persalinan.Hasil penelitian Nurpratiwi et al. (2020) didapatkan hasil bahwa teknikrebozo shake the apples dan rebozo sifting while lying down dapatmengalihkan nyeri persalinan kala I fase aktif dan mempercepat prosespersalinan pada ibu multigravida.

Peneliti berasumsi adanya perbedaan pengaruh pemberian teknik rebozodan pijat oksitosin terhadap lama persalinan kala I, hal ini disebabkanoleh karena pemberian teknik rebozo lama persalinannya lebih cepatdibandingkan dengan pemberian pijat oksitosin. Terjadi demikiandisebabkan oleh karena melalui teknik rebozo menjadikan otot panggulmenjadi lentur sehingga memungkinkan janin untuk lebih leluasa bergerakpada proses Jalan lahir tanpa adanya hambatan. Di samping itu melaluiteknik rebozo menjadikan ibu merasa nyaman karena selama prosespersalinan ibu didampingi oleh suami dan tenaga kesehatan yang selalumembimbing ibu dan keluarga saat melakukan teknik rebozo. Hal inimenjadikan adanya rasa nyaman yang dialami ibu. Sementara itu melaluipijat oksitosin ibu juga akan mengalami rasa nyaman, namun apabila dalampikiran ibu mengalami kekhawatiran yang tinggi pada saat prosespersalinan maka hormon oksitosin tidak berjalan lancar menjadikan ibutidak dapat mengalami kemajuan persalinan yang optimal. Hal inilah yangmembedakan antara pemberian teknik rebozo dengan pijat oksitosinterhadap lama persalinan kala 1.

Perbedaan Pemberian Tehnik Rebozo dan Pijat Oksitosin terhadap Lama Persalinan Kala II pada Ibu Bersalin

Hasil uji Mann Whiteney diketahui nilai signifikansi perlakuansesudah pemberian pemberian tehnik rebozo dan pijat oksitosin sebesar0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima,dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pemberiantehnik rebozo dan pijat oksitosin terhadap lama persalinan kala II padaibu bersalin di Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat Tahun2023.

Keberhasilan pijat oksitosin tidak terlepas dari faktor-faktor yangmempengaruhinya. Jika ibu tidak bisa rileks dalam proses persalinandapat menimbulkan kegelisahan dan respon endokrin, hal ini dapatmenyebabkan retensi natrium, ekskresi kalium dan penurunan glukosa.Kondisi ini dapat menyebabkan sekresi epinephrine yang dapat menyebabkanpenghambatan aktifitas miometrium sehingga menyebabkan kontraki uterusterganggu. Jika dalam persalinan kontraksi uterus terganggu, persalinantidak akan berjalan dengan semestinya (Hadijatun, 2016). Melalui tehnikrebozo dapat membantu mobilisasititik tumpu lumbrosakral dan artikulasicoxofemoral sakroiliaka, dan mempertahankan tonus otot pada oblik dantransversal otot di perut, menjaga kekuatan perut dan punggung,meningkatkan kepercayaan diri dalam kemampuannya menghadapi prosespersalinan, menghilangkan rasa sakit, dan mempercepat kemajuanpersalinan Gau & Tian (2015). Selain itu dengan tehnik rebozo dapatmemperluas rongga panggul sehingga memungkinkan janin untuk lebihleluasa bergerak pada proses jalan lahir tanpa hambatan dan menurunkanbagian terbawah janin serta memperbaiki posisi janin yang malposisisehingga proses persalinan berjalan cepat (Cohen & Thomas,2019).

Hasil penelitian Nurpratiwi et al. (2020) dengan judul Teknik RebozoTerhadap Intensitas Nyeri Kala I Fase Aktif Dan Lamanya Persalinan PadaIbu Multigravida, didapatkan hasil bahwa teknik rebozo shake the applesdan rebozo sifting while lying down dapat mengalihkan nyeri persalinankala I fase aktif dan mempercepat proses persalinan pada ibumultigravida. Nurpratiwi et al. (2020) hasil penelitian ini menunjukkanbahwa terdapat perbedaan rata-rata intensitas nyeri persalinan kala Ifase aktif pada ibu multigravida sebelum dan sesudah pemberian RSTA& RSWLD (p value = 0,007).

Peneliti berasumsi adanya perbedaan pemberian teknik rebozo dan pijatoksitosin terhadap lama persalinan kala II pada ibu bersalin, hal inidisebabkan oleh karena melalui teknik rebozo ibu dapat mempertahankankekuatan otot pada bagian perut dan punggung, mampu meningkatkankepercayaan diri pada saat menghadapi proses persalinan sehingga dapatmempercepat kemajuan persalinan karena adanya tekanan yang kuat daridasar panggul yang disebabkan oleh adanya goyangan panggul saatmelakukan teknik rebozo tersebut. Sementara itu pada ibu yangmendapatkan pijat oksitosin meskipun memperkuat kontraksi uterus, namunbagian ruas panggul tidak mengalami perubahan dan jika ibu mengalamigangguan psikologis atau kecemasan yang tinggi maka proses kemajuannyatidak secepat pada ibu yang mendapatkan teknik rebozo. Sebenarnya antarapemberian tehnik rebozo dan pijat oksitosin mengalami kemajuanpersalinan, namun jika dibandingkan kemajuan persalinannya denganpemberian teknik rebozo lebih cepat dibandingkan dengan pijat oksitosin.Alangkah baiknya jika pemberian teknik rebozo dan pijat oksitosindilakukan secara bersamaan agar kemajuan persalinan akan berjalan lebihcepat.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai perbandingan pemberian tehnikrebozo dan pijat oksitosin terhadap lama persalinan di PuskesmasSukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat, maka penulis membuat kesimpulanbahwa rata-rata lama persalinan dengan pemberian teknik rebozo pada kalaI 185,50 menit dan kala II 30,93 menit pada ibu bersalin di PuskesmasSukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat tahun 2023. Rata-rata lamapersalinan dengan pemberian pijat oksitosin pada kala I 231,07 menit dankala II 44,90 menit pada ibu bersalin di Puskesmas Sukatani KabupatenBekasi Jawa Barat tahun 2023. Terdapat perbedaan pemberian tehnik rebozodan pijat oksitosin terhadap lama persalinan kala I pada ibu bersalin diPuskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat tahun 2023 dengan nilai p= 0,000. Terdapat perbedaan pemberian tehnik rebozo dan pijat oksitosinterhadap lama persalinan kala II pada ibu bersalin di Puskesmas SukataniKabupaten Bekasi Jawa Barat tahun 2023 dengan nilai p = 0,000.

SARAN

Ibu bersalin diharapkan dapat mengetahui dan menerapkan tehnik Rebozomaupun pijat oksitosin pada saat menghadapi persalinan kala I dan IIagar dapat mengurangi rasa sakit dan mempercepat proses persalinan.

Diharapkan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan pada ibubersalin dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kebidanan pada ibubersalin terutama untuk mengurangi nyeri persalinan dan mempercepatproses persalinan alangkah baiknya jika pemberian teknik rebozo danpijat oksitosin dilakukan secara bersamaan agar kemajuan persalinan akanberjalan lebih cepat.

Penelitian ini diharapkan institusi pendidikan kebidanan agar dapatmengintegrasikan dalam pembelajaran terkait yang berhubungan dengan matapelajaran maternitas pada ibu bersalin dalam mengurangi nyeri danmeningkatkan kemajuan persalinan dengan tehnik Rebozo maupun pijatoksitosin dan berlangganan jurnal.

DAFTAR PUSTAKA

Cohen, S. R., & Thomas, C. R. (2019). Rebozo Technique for FetalMalposition in Labor. Journal of Midwifery and Women’s Health, 3(2).

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. (2021). Profil KesehatanProvinsi Jawa Barat Tahun 2020.

Ekayani, K. (2017). Kombinasi Teknik Relaksasi dan Pijatan Bagi IbuBersalin Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri, Lama Persalinan dan APGARScore Bayi Baru Lahir. Jurnal Kesehatan Prima, 11(2), 93–103.

Gau, M.-L., & Tian S-H, C. C.-Y.-C. (2015). Effects of birth ballexercise on pain and self-efficacy during childbirth: a randomisedcontrolled trial in taiwan.

Hadijatun. (2016). Pengetahuan dan Sikap Bidan Jalur Khusus TerhadapPengurangan Nyeri Persalinan di AKBID Pemda Kabupaten Aceh Tengah.Universitas Sumatera Utara.

Hamilton, P. M. (2016). Pereda Nyeri dan Kenyamanan dalam Persalinan(D. M. Frasse & M. A. Cooper (eds.)). EGC.

Hariani, R. (2015). Pengaruh Metode Massage Terhadap PenguranganIntensitas Nyeri Pada Persalinan Kala I di Klinik Bersalin Fatimah Ali IMarindal Medan.

Indrayani, D. (2016). Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. CV TransInfo Media.

Iversen, M. L., Midtgaard, J., Ekelin, M., & Hegaard, H. K.(2017). Danish women’s experiences of the rebozo technique duringlabour: A qualitative explorative study. Sexual & ReproductiveHealthcare, 11, 79–85. https://doi.org/10.1016/j.srhc.2016.10.005

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Profil KesehatanIndonesia tahun 2020.

Machmudah. (2016). Pengaruh persalinan dengan komplikasi terhadapkemungkinan terjadinya postpartum blues di kota semarang. ProgramMagister Ilmu Keperawatan Depok.

Maryunani, A. (2016). Nyeri dalam Persalinan Teknik dan CaraPenanganannya. Trans Info Media.

Nurpratiwi, Y., Hadi, M., & Idriani. (2020). Teknik Rebozoterhadap Intensitas Nyeri Kala I Fase Aktif dan Lamanya Persalinan padaIbu Multigravida. Jurnal Keperawatan Silampari, 4(1).

Qonitun, U. (2020). Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Frekuensi His,Durasi His dan Lama Persalinan Kala I pada Ibu Inpartu di BPM AsriTuban. Jurnal Kesehatan Masyarakat Khatulistiwa, 7 (1), 1–5.

Rahmawati. (2019). Pengaruh Pijat Punggung Terhadap Adaptasi NyeriPersalinan Fase Aktif Lama Kala II Dan Perdarahan Persalinan PadaPrimigravida. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 8(5).

Rosemary, M. (2021). Nyeri Persalinan. EGC.

Simkin, P. (2017). Kehamilan, Melahirkan dan Bayi. Arcan.

Susilo, R. (2016). Panduan Asuhan Nifas dan Evidence Basedn Practice.Deepublish.

Tamsuri, A. (2017). Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri. EGC.

Varney, H. (2017). Buku ajar asuhan kebidanan. EGC.

Walyani, Siwi, E., & Purwastuti, E. (2019). Asuhan KebidananPersalinan dan Bayi Baru Lahir. Pustaka Baru Press.

Wijaya, M., Bewi, D. W., & Rahmiati, L. (2018). Pengaruh PijatOksitosin Terhadap Nyeri Dan Kemajuan Persalinan Pada Ibu Bersalin diPuskesmas Garuda.

World Health Organization. (2018). Maternal Mortality. In WorldHealth Organization.https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/maternal-mortality.

Yuliatun, L. (2018). Penanganan Nyeri Persalinan dengan MetodeNonfarmakologis. Jurnal Ners Lentera, 7(2), 114–126

Published

2023-09-20

How to Cite

Rahayu, R. M., & Rahmadyanti, R. (2023). Perbandingan Pemberian Tehnik Rebozo dan Pijat Oksitosin terhadap Lama Persalinan di Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), e993. Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/993

Issue

Section

Journal Supplement

Citation Check