Hubungan Penggunaan Gadget dengan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Prasekolah di Desa Cikulur Tahun 2022

Authors

  • Rahmadyanti Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantara, Indonesia
  • Jamilah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantara, Indonesia

Keywords:

Anak usia sekolah, Perkembangan, Sosial, Emosional

Abstract

Perkembangan sosial emosional adalah salah satu aspek perkembangan yang sangat penting pada periode prasekolah. Perkembangan sosial emosional yang tidak optimal sejak usia dini akan berdampak pada kematangan sosial dan emosi di masa remaja dan dewasa. Banyak faktor yang berpengaruh dalam perkembangan sosial emosional anak. Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan gadget tidak hanya terbatas pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Penggunaan gadget yang berlebihan akan membawa dampak buruk bagi perkembangan sosial dan emosional anak.

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara penggunaan gadget dengan perkembangan sosial emosional anak prasekolah di Desa Cikulur tahun 2022.

Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2022, merupakan penelitian analitik menggunakan rancangan Cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh murid TK/PAUD yang terdapat di Desa Cikulur Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak sebanyak 84 orang. Di Desa Cikulur terdapat 1 buah TK yaitu TK Riyadul Muslimin dan 2 buah PAUD yaitu PAUD Karya Mulya dan PAUD Mutiara Kalam. Teknik sampling yang digunakan adalah Total Populasi dengan jumlah sampel sebanyak 84 responden. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square.

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara penggunaan gadget dengan perkembangan sosial emosional dengan nilai p-value 0,000 dan nilai odd ratio (OR) 13,529 yang artinya anak dengan penggunaan gadget kategori tinggi akan mempunyai risiko 13,529 kali untuk memiliki perkembangan sosial emosional kurang baik.

Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan penggunaan gadget dengan perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah.

PENDAHULUAN

Masa pra sekolah dimaknai sebagai masa persiapan anak untuk memasukikehidupan sekolah (Oktaviyani & Suri, 2019). Anak yang pada awalnyahanya memperoleh pendidikan informal dari keluarganya, akan mulaibergaul dengan lingkungan yang lebih luas yaitu teman sebaya mereka disekolah. Dalam periode ini karakter anak dibentuk. Satu di antaranyaialah karakter sosial atau pergaulan (Imron, 2018).

Perkembangan sosial emosional ialah satu dari sekian elemenperkembangan yang begitu krusial di masa prasekolah (Tusyana &Trengginas, 2019). Di mana perkembangan tersebut di masa prasekolah akanmempengaruhi kemampuan sosial emosional di masa dewasa. Tidakmaksimalnya perkembangan sosial emosional pada anak usia dini akanmemberi pengaruh yang negatif terhadap kematangan sosial emosional padamasa remaja dan dewasa. Sabintoe & Soetjiningsih (2020) dalampenelitiannya menyatakan bahwa perilaku agresif akan semakin tinggi jikakematangan emosional anak semakin rendah.

Perkembangan sosial-emosional adalah mekanisme belajar untukberadaptasi dengan lingkungan (Susilawati, 2021). Di permulaan masaprasekolah, anak-anak mulai belajar tentang nilai dan perilaku yangdapat diterima secara sosial. Proses pembelajaran pada titik inimempengaruhi perkembangan pada periode berikutnya. Tahapan perkembangananak hingga sekolah dasar merupakan landasan belajar yang paling pentinguntuk mengembangkan keterampilan sosial emosional agar anak siapmengikuti tahap perkembangan berikutnya yang lebih kompleks (Widodo,2020). Dalam tahap krusial itulah saat yang tepat untuk menanamkan dasarbagi perkembangan keterampilan sosial-emosional di masa depan.

Ndari et al. (2019) mengemukakan bahwa perkembangansosial-emosional anak prasekolah ialah elemen krusial dalam pembentukanrelasi sosial antara anak dengan kawan seusianya. Pada tahap ini,berbagai kemampuan seperti kemampuan berbahasa, kognisi, kreativitas danperkembangan sosio-emosional terbentuk dengan sangat cepat dan akanmenjadi dasar langkah-langkah perkembangan selanjutnya. Keterampilanperkembangan sosial dan emosional dasar yang dapat dipelajari anakprasekolah adalah kerja sama, pengendalian diri, dan kepedulian. Jikaanak tidak mampu mencapai perkembangan sosial emosional dengan baik,dapat menimbulkan masalah dalam hubungan dengan lingkungan sosialnyabaik keluarga, sekolah, maupun komunitas (Solichah & Syafi’i,2021).

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 5-25% anak usia dinidilaporkan memiliki gangguan perkembangan. Beberapa tahun terakhir,berbagai gangguan perkembangan anak usia dini yang meliputi terlambatnyagerak, bahasa, dan perilaku sosial kian meningkat. Angka peristiwagangguan perkembangan pada anak Indonesia adalah 13% hingga 18%.Sulastri & Rini (2022) memperkirakan bahwa setidaknya 9,5% sampai14,2% anak prasekolah memiliki permasalahan sosial dan emosional yangmemiliki dampak buruk pada perkembangan dan persiapan sekolah mereka(Narullita, 2022).

Temuan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 (RI, 2018), perkembangansosial dan emosional anak Indonesia mengalami peningkatan hingga 69,9%.Angka ini masih di bawah Vietnam 91,2%, Kazakhstan 82,1%, dan Thailand79,4%.

Ada banyak faktor yang memengaruhi perkembangan sosial emosionalanak, yakni faktor genetis/keturunan, lingkungan, interaksionisme/umumantara genetis dan lingkungan (Yulisetyaningrum, 2019).

Rahmawati (2022) mengemukakan bahwa terdapat dua faktor pokok yangmemberi pengaruh terhadap pertumbuhan sosial anak, yakni lingkunganinternal keluarga dan eksternal keluarga. Mansur & Andalas (2019)kemudian melengkapi kedua faktor tersebut dengan faktor ketiga, yaknifaktor pengalaman pertama yang didapatkan anak. Sedangkan perkembanganemosi anak menurut Fuady (2022) dipengaruhi oleh faktor kondisi dalamdiri pribadi anak, berbagai konflik dalam proses perkembangan, danberbagai faktor lainnya yang berasal dari lingkungan.

Selaras dengan berkembangnya zaman, pertumbuhan teknologi semakinmengalami perkembangan dengan pesat. Saat ini muncul beraneka ragamfitur teknologi yang merupakan media informasi dan teknologi yaitugadget. Gadget ialah piranti elektronik kecil denganfungsi tertentu, termasuk smartphone semacam iPhone danBlackberry dan netbook yang merupakan gabungan darilaptop seperti laptop dan internet.

Indonesia menduduki rangking ke-4 sebagai negara penggunagadget terbanyak, terutamasmartphone. Menurut laporan e-Marketer, jumlah penggunaaktif smartphone di Indonesia meningkat dari 55 juta di tahun 2015hingga mencapai 100 juta di tahun 2018 (Novalius, 2018). Pada saat inigadget tidak sekadar dipakai oleh orang dewasa, tapijuga oleh anak usia prasekolah sudah mampu mengoperasikan gawai layaknyaorang dewasa (Marpaung, 2018).

Temuan penelitian yang dilakukan Agustin (2019) memperlihatkan bahwaresponden yang memakai gawai berdasarkan durasi penggunaan didapatkansebanyak 79 orang (76,0%) menggunakan gadget > 60 menit/hari dari 104responden yang diteliti.

Pemakaian gadget yang berlebihan akan menyebabkan efek buruk, yaitumerusak kesehatan mata, mengganggu pola tidur, menimbulkangangguan tidur, menjadi seseorang yang tertutup, lebih senang sendiri,menimbulkan tindakan kekerasan, mengurangi daya kreatif, paparanradiasi, meningkatkan ancaman cyberbullying, meningkatkan sifat egoisdan sulit diatur,menyebabkan kecanduangadget, dan lain-lain (Anastasya, 2021).

Di sisi lain, studi yang dilakukan Kontesa (2022) menemukan bahwa adadampak pemakaian gadget atas perkembangan sosialemosional anak usia dini. Hal ini terlihat jelas dari hasil pengujianhipotesis korelasional product moment diperoleh hasilrxy sejumlah 0,381 dan rtabel nilai koefisien productmoment dari 28 ialah sejumlah 0,374 yang berarti nilainya lebihtinggi dari nilai rtabel yaitu 0,381 ? 0,374 .

Hal ini sejalan dengan temuan Imron (2018) yang menunjukkan terdapatkorelasi antara pemakaian gadget dengan perkembangansosial-emosional anak prasekolah. Hal ini dibuktikan dengan hasilpenganalisisan bivariat melalui pengujian chi squareyang memperlihatkan nilai p=0,001 (p < 0,05).

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik menggunakanrancangan penelitian Cross sectional yang mempelajarikorelasi antara pemakaian gadget dengan perkembangansosial emosional anak usia prasekolah. Pengambilan data dilakukan padabulan November 2022.

Populasi dalam riset ini ialah seluruh murid TK dan PAUD yangterdapat di Desa Cikulur Kecamatan Cikulur sebanyak 84 orang, dimana diDesa Cikulur terdapat 1 buah TK yaitu TK Riyadul Muslimin dan 2 buahPAUD yaitu PAUD Karya Mulya dan PAUD Mutiara Kalam. Sampel yangditetapkan dalam studi ini ialah semua populasi atau totalpopulasi yang memenuhi kriteria inklusi. Responden dalampenelitian ini adalah orangtua/wali murid TK Riyadul Muslimin,orangtua/wali murid PAUD Karya Mulya dan orangtua/wali murid PAUDMutiara Kalam.

Instrumen penelitian yang dipakai oleh peneliti guna memperoleh dataialah panduan angket (kuesioner) yang merupakan kumpulan pertanyaan yangdirancang untuk responden dengan bentuk pertanyaan tertutup. Kuesioneryang digunakan peneliti ini menjadi teknik pengumpulan data utama yangakan diberikan kepada responden yang kemudian hasilnya diolah dengananalisis statistik untuk menggali data tentang hubungan antara tingkatpemakaian gawai dengan perkembangan sosial emosional anak usiaprasekolah (Siregar et al., 2021).

Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara univariat danbivariat. Analisis univariat dilakukan terhadap setiap variabelpenelitian yaitu penggunaan gadget dan perkembangansosial emosional dan ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi.Sedangkan analisis bivariat dilakukan untuk melihat korelasi antarapenggunaan gadget dengan perkembangan sosial emosional.Analisis bivariat ini menggunakan uji Chi Square dengantaraf kepercayaan 95%. Hubungan bermakna bilamana pvalue berada di bawah nilai ?=0,05. Sedangkan untuk mengetahuikeeratan korelasi antara penggunaan gadget denganperkembangan sosial emosional dinilai dari nilai odd ratio (OR).Bilamana nilai OR > 1, maka hal ini mengindikasikan adanya hubunganerat dan positif, OR < 1 mempunyai dampak perlindungan, sementara OR= 1 tidak mempunyai korelasi yang berarti.

HASIL

Gambaran Lokasi Penelitian

Riset ini dilakukan di TK Riyadul Muslimin, PAUD Karya Mulya dan PAUDMutiara Kalam yang merupakan lembaga pendidikan anak usia prasekolahyang berada di Desa Cikulur Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak ProvinsiBanten. Tahun ajaran 2022/2023, TK Riyadul Muslimin memiliki 35 orangmurid, PAUD Karya Mulya memiliki 35 orang murid dan PAU Mutiara Kalammemiliki 14 orang murid.

Penggunaan Gadget

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan gambaran penggunaan gadgetsebagai berikut :

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori PenggunaanGadget

Penggunaan Gadget Jumlah Persentase
Rendah 44 52.4
Tinggi 40 47.6
Total 84 100.0
Table 1.

Tabel diatas menunjukkan bahwa anak dengan penggunaangadget kategori rendah berjumlah 44 orang atau sebesar52,4% dan penggunaan gadget kategori tinggi berjumlah40 orang atau sebesar 47,6%. Jadi dapat disimpulkan proporsi penggunaangadget kategori rendah lebih banyak dibanding denganpenggunaan gadget kategori tinggi, atau mayoritas anakmenggunakan gadget dengan kategori rendah.

Perkembangan Sosial Emosional

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan gambaran perkembangan sosialemosional anak usia prasekolah sebagai berikut :

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori PerkembanganSosial Emosional

Perkembangan Sosial & Emosional Jumlah Persentase
Baik 57 67.9
Kurang baik 27 32.1
Table 2.

Tabel diatas menunjukkan bahwa perkembangan sosial emosional baikberjumlah 57 orang atau sebesar 67,9% dan perkembangan sosial emosionalkurang baik berjumlah 27 orang atau 32,1%. Jadi dapat disimpulkan bahwaproporsi anak mempunyai perkembangan sosial emosional baik lebih banyakdibanding anak yang mempunyai perkembangan sosial emosional kurang baik,atau mayoritas responden mempunyai perkembangan sosial emosionalbaik.

Hubungan Penggunaan Gadget Dengan Perkembangan SosialEmosional

Hasil analisis bivariat mengenai hubungan penggunaan gadget denganperkembangan sosial emosional sebagai berikut :

Tabel 3. Hubungan Penggunaan Gadget DenganPerkembangan Sosial Emosional

Penggunaan Gadget Perkembangan Sosial Emosional Total OR P Value
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Rendah 40 90,9 4 9,1 44 100 13.529 (4.059-45.095) 0.000
Tinggi 17 42,5 23 57,5 40 100
Total 57 71,4 27 28,6 84 100
Table 3.

Dari tabel 3 tampak bahwa responden yang memakaigadget kategori rendah lebih banyak yang mempunyaiPerkembangan sosial emosional baik yakni sejumlah 40 orang (90,9%)dibandingkan dengan jumlah yang mempunyai perkembangan sosial emosionalkurang baik yakni sejumlah 4 orang (9,1%). Sedangkan responden yangmenggunakan gadget kategori tinggi lebih banyak yangmemiliki perkembangan sosial emosional kurang baik yaitu sebanyak 23orang (57,5%) dibandingkan dengan jumlah yang mempunyai perkembangansosial emosional baik yakni sejumlah 17 orang (42,5%).

Pengujian statistik menggunakan uji chi-squarememperlihatkan terdapat korelasi yang signifikan antara penggunaangadget dengan perkembangan sosial emosional dengannilai p-value 0,000. Sedangkan untuk keeratan hubungan didapatkan nilaiodd ratio (OR) dalam riset ini ialah 13,529 lebih dari 1, menunjukkanadanya hubungan erat positif. Artinya anak dengan penggunaangadget kategori tinggi akan mempunyai risiko 13,529kali lebih besar untuk memiliki perkembangan sosial emosional kurangbaik dibandingkan dengan penggunaan gadget kategorirendah.

PEMBAHASAN

Penggunaan Gadget Pada Anak UsiaPrasekolah

Gadget ialah piranti elektronik kecil dengan fungsi tertentu,termasuk smartphone semacam iPhone dan Blackberry dannetbook yang merupakan gabungan dari laptop sepertilaptop dan internet (Zulfahmi et al., 2022). Gadget adalah istilah yangberasal dari bahasa Inggris untuk merujuk pada perangkat atau instrumenyang memiliki tujuan dan fungsi praktis tertentu. Gadget adalah bagiandari perkembangan teknologi, suatu perangkat atau instrumen elektronikyang ukurannya relatif kecil dan memiliki fungsi khusus serta nyamandigunakan (Novianti & Garzia, 2020).

Indonesia menduduki rangking ke-4 sebagai negara penggunagadget terbanyak, terutamasmartphone. Menurut laporan e-Marketer, jumlah penggunaaktif smartphone di Indonesia meningkat dari 55 juta di tahun 2015hingga mencapai 100 juta di tahun 2018 (Novalius, 2018). Pada saat inigadget tidak sekadar dipakai oleh orang dewasa, tapijuga oleh anak usia prasekolah sudah mampu mengoperasikan gawai layaknyaorang dewasa.

Data pemakaian gawai dalam tabel 1 memperlihatkan bahwa dari 84responden anak usia prasekolah di Desa Cikulur didapatkan 40 orangresponden atau sebanyak 47,6% menggunakan gadget kategori tinggi. Angkaini cukup tinggi, dimana hal ini memberi arti bahwa 47,6% anak usiaprasekolah di Desa Cikulur cukup aktif menggunakangadget setiap harinya.

Penulis berpendapat bahwa temuan riset ini saling mendukung denganpenelitain lain, yang membuktikan adanya kecenderungan penggunaan gadgetyang berlebihan pada kelompok usia prasekolah. Dimana anak usiaprasekolah banyak yang diberikan kebebasan untuk menggunakan gadgettanpa pengawasan orang tua yang memadai dan bebas mengakses fitur yangada pada gadget seperti game.

Temuan penelitian ini selaras dengan riset yang dikerjakan Agustin(2019) yang membuktikan bahwa responden yang menggunakangadget berdasarkan durasi penggunaan didapatkansebanyak 79 orang (76,0%) menggunakan gadget > 60 menit/hari dari 104responden yang diteliti.

Survei yang dilakukan oleh Indonesian Hottest Insight menunjukkanbahwa terdapat 40% anak di Indonesia sudah dapat mengoperasikangadgetnya sendiri bahkan sebanyak 72% merupakan anak usia di bawah 8tahun telah menggunakan gadget seperti smartphone, tablet, bahkan iPad.Terlihat kecenderungan pemakaian gadget pada usia tersebut untuk bermaingame atau sekedar menonton berbagai macam video, baik film kartun maupunacara televisi (Ayuningsih et al., 2018).

Pada dasarnya, gadget berfungsi untuk membuat hidup manusia menjadilebih nyaman (Alawiyah et al., 2022). Bergantung pada jenis-jenisnya,beberapa fungsi utilitas dan manfaat gadget adalah sebagai mediakomunikasi yang memungkinkan setiap orang bisa terhubung dan salingberkomunikasi, sebagai alat untuk mengakses berbagai informasi dariinternet, sebagai media hiburan misalnya untuk mendengar musik danmembuka video, sebagai gaya hidup, gadget berpengaruhterhadap gaya hidup setiap penggunanya dan sebagai alat untuk menambahwawasan, dimana gadget akan menambah wawasan setiappenggunanya.

Di zaman serba digital, pemakaian gawai oleh anak kian sulitdihindari. Dihadapkan dengan kebutuhan untuk menguasai teknologi padamasanya, mendorong para orang tua untuk mengenalkan teknologi kepadaanaknya sejak dini. Namun di sisi lain, penggunaan gadget tanpa panduandapat menimbulkan kecanduan yang kemudian dapat berdampak negatif(Makarau & Suyadi, 2022).

Terdapat dampak positif penggunaan gadget bagi perkembangan anakyaitu antara lain berkembangnya fungsi adaptif anak, menambahpengetahuan anak, jaringan pertemanan anak yang semakin luas,mempermudah perkembangan komunikasi dan mengembangkan kreatifitas(Yannuansa et al., 2020).

Namun disisi lain gadget juga memiliki dampak negatif terutama jikadigunakan secara berlebihan. Efek buruk pemakaiangadget menurut Yannuansa et al. (2020) pada anak antalain meningkatnya ketergantungan gadget, menurunnyadaya konsentrasi, akses Informasi negatif, berkurangnya sosialisasi,paparan radiasi, gangguan fungsi PFC (Pre Frontal Cortex), dan dapatmenyebabkan sikap introvert .

Pemakaian gadget yang berlebihan akan membawa efek buruk yaitu diantaranya merusak kesehatan mata, mengalami gangguan tidur,mengganggu pola tidur, menjadi individu yang tertutup, lebih senangsendiri, memicu tindakan kekerasan, menurunkan daya kreatif, paparanradiasi, meningkatkan ancaman cyber bullying, meningkatkan sifat egoisdan sulit diatur,menyebabkan kecanduangadget, dan lain-lain (Anastasya, 2021).

Melihat efek negatif dari pemakaian gadget yang berlebihan menujukkanbetapa pentingnya peranan orang tua dalam pengawasan dan pembatasanpemakaian gadget terhadap anaknya. Anak prasekolah belum memilikikedewasaan yang memadai sehingga peranan orang tua dalam melakukanbimbingan dan pengawasan kepada anak ketika memakai gadget menjadisesuatu yang sangat penting.

Penggunaan perangkat berteknologi seperti gawai memerlukanpengendalian dan pengawasan orang tua saat anak memakai gawai. Pemakaiangawai pada masa kecil hanya untuk bermain game dan menonton youtube.Orang tua harus mamastikan fitur game yang diakses anak adalah fituryang aman bagi anak.

Ada kekhawatiran bahwa memberikan perangkat kepada anak-anak tanpapengawasan orang dewasa atau orang tua dapat menimbulkan efek buruk.Anak-anak akan mudah mengakses berbagai konten yang tidak layakditonton. Maka, tentunya meningkatkan kesadaran anak akan penggunaangadget sebagai media bermain dan berkomunikasi harus menjadi perhatianbanyak pihak. Pertama dan utama dari lingkungan keluarga, orang tuasebagai pihak pertama dalam pembentukan karakter dan perkembangananak.

Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Prasekolah

Anak prasekolah ialah anak yang umurnya antara 3 sampai 6 tahun.Dalam periode ini, anak-anak suka melakukan imajinasi dan meyakini bahwamereka mempunyai kekuatan. Selama di usia ini, anak mengembangkanpengendalian terhadap sistem tubuh, sebagai misal kemampuan menggunakantoilet, menggunakan pakaian, dan makan secara mandiri (Potts &Mandleco, 2018). Anak usia prasekolah ialah anak usianya antara 0 hingga6 tahun yang lazimnya menjalani program preshcool(Amseke et al., 2021).

Prasekolah adalah masa dimana anak mempersiapkan diri untuk memasukidunia sekolah. Anak-anak yang awalnya hanya mengenyam pendidikaninformal dari rumah mulai terhubung dengan lingkungan yang lebih luas:teman-teman sekolahnya. Pada masa ini karakter anak terbentuk salahsatunya adalah suka bergaul atau suka berteman (Imron, 2018).

Anak prasekolah biasanya mempunyai emosi yang kuat. Anak-anaktersebut bersemangat, bahagia, dan bingung pada suatu saat, lalubenar-benar frustrasi pada saat berikutnya. Anak-anak prasekolah sedangmelakukan pengembangan terhadap identitas mereka, mereka tahu merekalaki-laki atau perempuan. Anak-anak prasekolah menyukai interaksi satulawan satu dengan orang tua mereka. Selama komunikasi interaktif, merekabelajar mengungkapkan ekspresi perasaan dan pikiran mereka. Anak-anakprasekolah belajar berbicara mengenai perasaan mereka dan oranglain.

Perkembangan sosial emosional merupakan salah satu aspek perkembanganyang sangat penting pada masa prasekolah. Dimana perkembangan sosialemosional anak pada masa prasekolah akan mempengaruhi kemampuan sosialemosional di masa dewasa. Perkembangan sosial emosional yang tidakoptimal pada anak usia dini akan berdampak negatif terhadap kematangansosial emosional pada masa remaja dan dewasa. Sabintoe &Soetjiningsih (2020) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa semakinrendah kematangan emosi maka akan semakin tinggi perilaku agresi.

Data perkembangan sosial emosional dalam tabel 2 memperlihatkan bahwadari 84 responden anak usia prasekolah di Desa Cikulur tahun 2022didapatkan 57 orang responden atau sebanyak 67,94% mempunyaiperkembangan sosial emosional baik. Sedangkan 27 orang responden atausebanyak 32,1% mempunyai perkembangan sosial emosional kurang baik.

Angka responden yang mempunyai perkembangan sosial emosional kurangbaik cukup tinggi, dimana persoalan ini memberi arti bahwa 32,1%responden mempunyai perkembangan sosial emosional kurang baik. Persoalanini cukup memprihatinkan mengingat pola perkembangan pada usiaprasekolah dikhawatirkan akan mempengaruhi pola perkembanganselanjutnya.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 5-25% anak usia dinidilaporkan memiliki gangguan perkembangan. Beberapa tahun terakhir,berbagai gangguan perkembangan anak usia dini yang meliputi terlambatnyagerak, bahasa, dan perilaku sosial kian meningkat. Angka peristiwagangguan perkembangan pada anak Indonesia adalah 13% hingga 18%.Sulastri & Rini (2022) memperkirakan bahwa setidaknya 9,5% sampai14,2% anak prasekolah memiliki permasalahan sosial dan emosional yangmemiliki dampak buruk pada perkembangan dan persiapan sekolahmereka.

Penulis berkeyakinan bahwa perkembangan sosio-emosional merupakanlandasan bagi perkembangan kemampuan anak untuk berinteraksi secaralebih luas dengan lingkungan sekitarnya. Ketika berinteraksi denganorang lain, individu tidak hanya dapat berinteraksi dengan baik denganorang lain, tetapi juga dapat mengendalikan diri dengan baik.Ketidakmampuan individu untuk mengendalikan dirinya dapat menyebabkanbanyak masalah sosial dan emosional dengan orang lain. Anak denganketerampilan psikososial yang baik akan mampu beradaptasi dengan baikterhadap lingkungan, keluarga, sekolah dan teman.

Menurut Rahmawati (2022), terdapat dua faktor pokok yang memberipengaruh terhadap pertumbuhan sosial anak, yakni lingkungan internalkeluarga dan eksternal keluarga. Mansur & Andalas (2019) kemudianmelengkapi kedua faktor tersebut dengan faktor ketiga, yakni faktorpengalaman pertama yang didapatkan anak. Sedangkan perkembangan emosianak menurut Fuady (2022) dipengaruhi oleh faktor kondisi dalam diripribadi anak, berbagai pertikaian dalam prosedur pengembangannya, danberbagai faktor lainnya yang berasal dari lingkungan.

Hubungan Penggunaan Gadget dengan PerkembanganSosial Emosional

Hasil analisa data mengenai korelasi pemakaiangadget dengan perkembangan sosial emosional anak usiadini pada tabel 3 memperlihatkan adanya korelasi yang substansial antarapenggunaan gadget dengan perkembangan sosial emosionaldengan nilai p-value 0,000 <? 0,05. Sedangkan untuk keeratan hubunganantara variabel independen dan dependen nilai odd ratio (OR) padapenelitian ini adalah 13,529, yang berarti mempunyai hubungan eratpositif. Artinya anak dengan penggunaan gadget kategoritinggi akan berpeluang 13,529 kali lebih besar mengalami perkembangansosial emosional kurang baik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang memilikiperkembangan sosial emosional kurang baik lebih banyak terdapat padaresponden yang menggunakan gadget kategori tinggi(57,5%). Dan responden dengan penggunaan gadgetkategori tinggi akan berisiko lebih besar mengalami perkembangan sosialemosional kurang baik.

Temuan riset ini selaras dengan gagasan Rahmawati (2022), Mansur& Andalas (2019) dan Fuady (2022) bahwa terdapat beberapa faktoryang memberi pengaruh atas perkembangan emosi dan sosial anak, yaknifaktor internal keluarga dan eksternal keluarga, faktor pengalamanpertama yang diperolehnya, faktor kondisi dalam diri mereka sendiri,faktor pertikaian dalam mekanisme perkembangannya, dan alasan-alasanlainnya yang berasal dari lingkungan.

Studi yang dikerjakan Kontesa (2022) menemukan bahwa ada dampakpemakaian gadget atas pengembangan sosial emosionalanak usia dini. Hal ini terlihat jelas dari hasil pengujian hipotesiskorelasional product moment diperoleh hasil rxysejumlah 0,381 dan rtabel nilai koefisien productmoment dari 28 ialah sejumlah 0,374 yang berarti nilainya lebihtinggi dari nilai rtabel yaitu 0,381 ? 0,374 . Sehingga hipotesis kerja(Ha) dalam penelitian ini diterima, dan hipotesis nihil (Ho) ditolak.Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang penulis lakukan yaituterletak pada teknik pengambilan data dan cara uji korelasional, dimanapenelitian ini menggunakan teknik pengambilan data dengan caraobservasi, angket dan dokumentasi dan uji korelasional nya menggunakanrumus korelasi produk moment. Sedangkan penulis menggunakan teknikpengambilan data dengan kuesioner dan uji korelasional dengan uji chisquare.

Temuan riset ini sejalan dengan riset yang dilakukan Deotama &Lestari (2021) yang menyatakan terdapat korelasi tingkat pemakaian gawaidengan perkembangan sosial emosional anak yang dibuktikan dengan hasilpengujian Korelasi Pearson menemukan r hitung sejumlah 0.756 antaravariabel Y1 dengan Y2, serta r hitung sebesar 0.702 untuk perhitunganantara variabel X dengan variabel Y1 serta 0.666 untuk perhitunganantara variabel X dengan variabel Y2. Perbedaan penelitian ini denganpenelitian yang penulis lakukan yaitu terletak pada cara ujikorelasional, dimana penelitian ini menggunakan uji korelasi pearsonsedangkan penulis menggunakan uji chi square.

Rahmawati & Latifah (2020) dalam penelitiannya dengan menggunakanuji regresi linear berganda memperlihatkan bahwa meningkatnya tingkatketergantungan anak pada gawai dapat menurukan perkembangansosial-emosional anak. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yangpenulis lakukan yaitu terletak pada variabel yang diteliti dan cara ujikorelasional, dimana penelitian ini meneliti penggunaan gawai daninteraksi Ibu-Anak, serta cara uji regresi linear berganda sedangkanpenulis hanya meneliti penggunaan gadget dan uji korelasional dengan ujichi square.

Menggunakan gadget tanpa pengawasan orang tua berpengaruh negatifterhadap perkembangan psikososial anak. Hal ini dikarenakan waktu yangmereka habiskan untuk bermain lebih banyak daripada belajar danberinteraksi dengan orang lain dan orang tua. Berbeda dengan saat anakmenggunakan gadget di bawah pengawasan orang tua, terjadi pembagianwaktu antara penggunaan gadget dan waktu anak berinteraksi dengan oranglain di lingkungannya, sehingga perkembangan psikososial anakberkembang. Peran orang tua dan lingkungan anak sangat penting bagiperkembangan anak.

Penelitian yang dikerjakan oleh Wulandari (2020) dengan judul“Hubungan Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan EmosiAnak Prasekolah”. Desain analitik dan pendekatan cross sectionaldiaplikasikan dalam penelitian ini. temuan pengujian statistik mendapatip-value sejumlah 0,05 < ? (0.028). Ini berarti Ho tidak diterima.Temuan ini mengindikasikan bahwa terdapat korelasi antara pemakaiangawai dengan pengembangan emosi anak prasekolah. Analisis korelasi duavariabel memperlihatkan nilai OR 4,0 (95% CI: 1,13-4,18). Ini berartipemakaian gawai oleh anak prasekolah akan berisiko empat kali mengalamipermasalahan perilaku emosional ketimbang anak yang menggunakan gawaisecara normal. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang penulislakukan yaitu terletak pada variabel yang diteliti, dimana penelitianini meneliti perkembangan emosi sedangkan penulis meneliti penggunaangadget dan uji korelasional dengan uji chi square.

Melihat adanya persamaan dengan teori yang dikemukana dan adanyakesesuaian hasil penelitian ini dengan penelitian sejenis yang dilakukanpeneliti sebelumnya, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa adahubungan antara penggunaan gadget dengan perkembangan sosial emosionalanak usia prasekolah. Hal ini dapat dijelaskan dengan adanyakecenderungan perkembangan sosial emosional yang kurang baik pada anakusia para sekolah yang menggunakan gadget secaraberlebihan.

Pemberian gadget pada anak usia prasekolah tetapdiperbolehkan mengingat adanya manfaat positif dari gadget bagiperkembangan anak. Munculnya gadget sebagai bagian dari kemajuanteknologi menyebabkan anakpun harus tahu cara menggunakannya karenasalah satu fungsi adalah harus mampu mengikuti perkembangan teknologi.Sehingga, anak yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi bisadikategorikan fungsi adaptifnya tidak berkembang secara baik.

Namun mengingat adanya dampak negatif dari penggunaangadget bila digunakan secara berlebihan, makapenggunaannya harus dibatasi dan di bawah pengawasan orang tua atauorang dewasa di sekitarnya. Orang tua maupun orang dewasa di sekitaranak harus memastikan bahwa fitur ataupun aplikasi yang diakses anakadalah fitur yang aman. Selanjutnya perlu ada batasan waktu penggunaangadget oleh anak setiap harinya untuk menghindari kecanduan padagadget dan anak tetap berinteraksi sejara wajar denganlingkungan sekitarnya.

Imron (2018) menunjukkan dalam penelitiannya, terdapat korelasiantara pemakaian gadget dengan perkembangansosial-emosional anak prasekolah. Hal ini dibuktikan dengan hasilpenganalisisan bivariat melalui pengujian chi squareyang memperlihatkan nilai p=0,001 (p < 0,05).

KESIMPULAN

Proporsi responden yang menggunakan gadget kategoritinggi lebih sedikit (47,6%) dibandingkan dengan responden yangmenggunakan gadget kategori rendah (52,4%). Namun angkaini cukup tinggi mengingat penggunaan gadget secaraberlebihan pada anak usia dini bisa memberikan dampak buruk terhadapperkembangan anak.

Proporsi responden yang mempunyai perkembangan sosial emosionalkurang baik lebih sedikit (67,9%) dibandingkan dengan responden yangmempunyai perkembangan sosial emosional baik (71,4%). Namun angka inicukup tinggi mengingat perkembangan sosial emosional kurang baik padaanak usia prasekolah dapat mempengaruhi perkembanagan sosial emosionalpada tahap perkembangan selanjutnya.

Terdapat korelasi yang substansial antara penggunaan gawai denganPerkembangan sosial emosional dengan nilai p-value 0,000 <? 0,05dengan keeratan korelasi antara variabel independen dan dependen nilaiodd ratio (OR) adalah 13,529, yang berarti mempunyai hubungan eratpositif. Artinya anak dengan penggunaan gadget kategoritinggi akan berpeluang 13,529 kali lebih besar untuk memilikiperkembangan sosial emosional kurang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, R. P. (2019). Hubungan Penggunaan Gadget dengan PerkembanganEmosional pada Anak Usia Preschool. Skripsi tidak diterbitkan(Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang TuahSurabaya).

Alawiyah, D., Mulkiyan, M., & Erwin, M. (2022). Problematika danPendampingan Anak yang Mengalami Gangguan Gadget. Jurnal Mimbar:Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani,8(1), 36–53.https://doi.org/10.47435/mimbar.v8i1.890

Amseke, F. V., Wulandari, R. W., Nasution, L. R., Handayani, E. S.,Sari, N. R. S., Kep, M., Reswari, A., Purnamasari, R., Khaidir, M. A.,& Diarfah, A. D. (2021). Teori dan Aplikasi PsikologiPerkembangan. Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.

Anastasya, M. (2021). Pengertian Gadget?: Sejarah, Jenis,Manfaat, Dampak Positif dan Negatif. adammuiz.com.https://adammuiz.com/gadget/

Ayuningsih, R., Fajarini, Y. I., & Hermawati, E. (2018). PengaruhPenggunaan Gadget Dengan Aplikasi Game Edukatif Terhadap PerkembanganKognitif Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Tk Darussalam 02 KartasuraSukoharjo. Stikes Dutagama Klaten,10(2), 20–30. https://doi.org/10.5737/v10i2.428

Deotama, F. H., & Lestari, G. D. (2021). Hubungan Antara TingkatPenggunaan Gadget dengan Perkembangan Sosial Emosional Anak di PG/TK AsaCendekia Pepe, Kec. Sedati, Kab. Sidoarjo. J+Plus Unesa (JurnalMahasiswa Pendidikan Luar Sekolah), 10(1),408–418.

Fuady, A. (2022). Perkembangan Psikologis Anak: PanduanPraktis Pengasuhan dan Pendidikan Anak dari Sudut PandangPsikologi. Jakarta: PT Human Persona Indonesia.

Imron, R. (2018). Hubungan Penggunaan Gadget dengan PerkembanganSosial dan Emosional Anak Prasekolah di Kabupaten Lampung Selatan.Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik,13(2), 148–154.https://doi.org/10.26630/jkep.v13i2.922

Kontesa, F. (2022). Pengaruh Penggunaan Gadget Terhadap PerkembanganSosial Emosional Anak Usia Dini. Skripsi tidak diterbitkan(Fakultas Tarbiyah dan Tadris Universitas Islam Negeri Fatmawati SukarnoBengkulu).

Makarau, N. I., & Suyadi, S. (2022). Peran Orang Tua DalamMendampingi Kegiatan Bermain Gawai Pada Anak. Jurnal GoldenAge, 6(1), 32–40.https://doi.org/10.29408/goldenage.v6i1.4610

Mansur, A. R., & Andalas, U. (2019). Tumbuh Kembang AnakUsia Prasekolah. Padang: Andalas University Pres.

Marpaung, J. (2018). Pengaruh penggunaan gadget dalam kehidupan.KOPASTA: Journal of the Counseling Guidance StudyProgram, 5(2).https://doi.org/10.33373/kop.v5i2.1521

Narullita, D. (2022). Hubungan Penggunaan Gadget Dengan PerkembanganPersonal Sosial Anak Prasekolah di Kab. Bungo. Jurnal PustakaKeperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan),1(1), 27–33.

Ndari, S. S., Vinayastri, A., & Masykuroh, K. (2019).Metode Perkembangan Sosial Emosi Anak Usia Dini.Tasikmalaya: Edu Publisher.

Novalius, F. (2018). Indonesia Pengguna Smartphone Ke-4Dunia, Begini Tekad Menperin Dongkrak Industri Telematika.https://economy.okezone.com/read/2018/02/17/320/1860752/indonesia-pengguna-smartphone-ke-4-dunia-begini-tekad-menperin-dongkrak-industri-telematika

Novianti, R., & Garzia, M. (2020). Penggunaan Gadget pada Anak:Tantangan Baru Orang Tua Milenial. Jurnal Obsesi: JurnalPendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 1000–1010.https://doi.org/10.31004/obsesi.v4i2.490

Oktaviyani, R. D., & Suri, O. I. (2019). Pengaruh terapi bermainpuzzle terhadap perkembangan kognitif anak usia prasekolah.Jurnal Kesehatan, 10(2), 289841.https://doi.org/10.35730/jk.v10i2.406

Potts, N. L., & Mandleco, B. L. (2018). Pediatric NursingCaing for Children and Their Families (3 ed.). New York: DelmarCengage Learning.

Rahmawati, I. (2022). Pengantar Psikologi Sosial.jakarta: Bumi Aksara.

Rahmawati, M., & Latifah, M. (2020). Penggunaan Gawai, InteraksiIbu-Anak, Dan Perkembangan Sosial-Emosional Anak Prasekolah.Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen,13(1), 75–86.https://doi.org/10.24156/jikk.2020.13.1.75

RI, K. (2018). Hasil Utama Riskesdas 2018. Jakarta:Kemenkes RI.

Sabintoe, D., & Soetjiningsih, C. (2020). Hubungan antarakematangan emosi dengan perilaku agresif pada siswa smk.Psikologi Konseling, 17(2), 707–715.https://doi.org/10.24114/konseling.v17i2.22073

Siregar, M. H., Susanti, R., Indriawati, R., Panma, Y., Hanaruddin,D. Y., Adhiwijaya, A., Akbar, H., Agustiawan, D. P. N., & Renaldi,R. (2021). Metodologi Penelitian Kesehatan. In Aceh, YayasanPenerbit Muhammad Zaini. Aceh: Yayasan Penerbit MuhammadZaini.

Solichah, E. N., & Syafi’i, I. (2021). Asessmen PerkembanganSosial Emosional Anak Usia Dini Di TK Ummul Quro Talun Kidul.Jurnal Golden Age, 5(01), 83–88.https://doi.org/10.29408/goldenage.v5i01.3108

Sulastri, S., & Rini, S. H. S. (2022). Hubungan Jenis AplikasiGadget Terhadap Perkembangan Anak Usia Pra Sekolah Di Kecamatan Weleri.Jurnal Surya Muda, 4(2), 118–132.https://doi.org/10.38102/jsm.v4i2.201

Susilawati, W. O. (2021). Perkembangan Sosial AUD BerbasisKarakter. Bandung: Penerbit Media Sains Indonesia.

Tusyana, E., & Trengginas, R. (2019). Analisis PerkembanganSosial-Emosional Tercapai Siswa Usia Dasar. INVENTA: JurnalPendidikan Guru Sekolah Dasar, 3(1), 18–26.https://doi.org/10.36456/inventa.3.1.a1804

Widodo, H. (2020). Dinamika Pendidikan Anak UsiaDini. Semarang: Alprin.

Wulandari, E. (2020). Hubungan Penggunaan Gadget TerhadapPerkembangan Emosi Anak Prasekolah. Skripsi tidak diterbitkan(Prodi DIV Kebidanan Magelang: Poltekkes KemenkesSemarang).

Yannuansa, N., Mutrofin S, A., Samudra, A., Ramadhani, R., &Kurniadi W, H. (2020). Pengaruh Gadget pada Anak-anak.Jombang: LPPM UNHASY Tebuireng Jombang.

Yulisetyaningrum, Y. (2019). Perkembangan Sosial Emosional Anak UsiaPra Sekolah. Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan,10(1), 221–228.https://doi.org/10.26751/jikk.v10i1.645

Zulfahmi, Z., Putriana, D., & Haq, A. F. (2022). Upaya Orang tuadalam Pengasuhan mencegah dan menghadapi anak yang Kecanduan Gadget.Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia,2(1), 21–30. https://doi.org/10.52436/1.jishi.35

Published

2023-06-18

How to Cite

Rahmadyanti, R., & Jamilah, J. (2023). Hubungan Penggunaan Gadget dengan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Prasekolah di Desa Cikulur Tahun 2022. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(2), e951. Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/951

Issue

Section

Journal Supplement

Citation Check